SINOPSIS Someone Like You Episode 2 PART 2

1/13/2016

Mama Chen kaget melihat Yu Xi sedang tidur di kamarnya. Ia heran bukankah Yu Xi harusnya bekerja. Mama Chen marah megetahui Zhan Cheng mengusir Yu Xi. Yu Xi menyayangkan gajinya yang besar, mereka bisa menggunakannya untuk biaya perawatan Chen Yu An, adik Yu Xi. Mama Chen menenangkan Yu Xi, bahwa operasi sumsum tulang Xiao An sukses, jadi kemungkinan tidak kambuh. Tapi Yu Xi tetap saja khawatir. Mama Chen berkata Yu Xi tak usah khawatir, dia sudah melakukan banyak untuk Xiao An, dan mulai sekarang Yu Xi harus memikirkan dirinya sendiri.


Xiao An pulang. Mama Chen senang melihat Xiao An sangat sehat. Dia bertanya apakah gereja meliburkan Xiao An hari ini? “Tidak, aku pulang untuk mengambil barang dan harus cepat kembali ke gereja.” Kata Xiao An (sepertinya Xiao An adalah pendeta di gereja tadi). Yu Xi mengajak mereka makan bersama dulu tapi Xiao An menolak karena dia sangat sibuk. Mama Chen bertanya apakah sulit jadi pendeta? Xiao An bilang tidak, karena menjadi seorang pendeta adalah impiannya. Xiao An pamit pergi ke panti asuhan dan Yu Xi pun ikut bersamanya. 


Wei Lian datang ke rumah Yu Xi. Ia memberikan hadiah untuk mama Chen dan gaji Yu Xi tapi mama Chen menolak semuanya. Wei Lian berusaha membujuknya agar Yu Xi dibolehkan bekerja kembali. Mama Chen marah, ia mau kalau Zhan Cheng yang datang dan mengakui kesalahannya. Ia mengusir Wei Lian pergi. Wei Lian terus memohon dan bilang kalau ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan menjadi seorang pengurus.

“Apakah anda pikir mungkin di dunia ini, ada dua orang yang benar-benar mirip?”
“Tentu saja, mereka adalah kembar.” Jawab mama Chen.
Itulah yang dimaksud Wei Lian. Dia memberitahu kalau dia punya teman yang mirip dengan Yu Xi. Wei Lian bertanya apakah Yu Xi punya saudara kembar? “Apakah dia punya atau tidak, haruskah kau tahu!” ucap mama Chen. Tapi Wei Lian merasa itu tetap tidak mungkin, bagaimana bisa ada orang yang sangat mirip, tapi tidak memiliki hubungan darah. Mama Chen menyuruh teman Wei Lian yang mirip Yu Xi itu datang untuk pembuktian. “Dia.. sudah meninggal.” Ucap Wei Lian. Mama Chen sedikit terkejut dan ia langsung mengusir Wei Lian. (Dari raut wajah mama Chen sepertinya dia merahasiakan sesuatu).



Di luar Wei Lian menelpon seseorang yang bernama Ah Ni. Ia menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan orang tua kandung Luo Han. Karena informasinya belum ditemukan, Wei Lian ingin Ah Ni juga memeriksa seseorang, namanya Wang Yu Zhen (nama asli mama Chen). 


Yu Xi dan Xiao An sudah sampai di panti asuhan. Kepala panti berterima kasih telah mendapatkan selimut, makanan, serta mainan dari gereja. Ia pun pamit pergi karena ada seorang pengunjung penting yang akan datang nanti. 


Ternyata pengunjung penting itu Zhan Cheng. Zhan Cheng tampak senang mendengarkan suara gembira anak-anak yang sedang bermain di depannya. Kepala panti meminta maaf pada Zhan Cheng karena belum bisa menemukan informasi tentang orang tua kandung Luo Han. Mereka akan berusaha menghubungi kepala panti sebelumnya yang sudah pindah ke Amerika dan jika ada berita mereka akan langsung menghubungi Zhan Cheng. Zhang Cheng berterima kasih pada kepala panti. 

Wei Lian datang menghampiri mereka. Dia berkata pada Zhan Cheng kalau dia sudah menyiapkan apa yang Zhan Cheng suruh. Ternyata Zhan Cheng juga membawa pakaian dan mainan untuk anak-anak di panti. Kepala panti berterima kasih atas kebaikanZhan Cheng. “Sama-sama. Saya pikir jika Luo Han masih ada disini, dia juga akan melakukan hal yang sama.” Kata Zhan Cheng


Saat Zhan Cheng sendirian, bola anak-anak yang bermain terlempar kearahnya. “Kak Fang, tolong lempar bolanya kembali pada kami. Kami disini.” Teriak anak-anak gembira. Zhan Cheng melempar bolanya, tapi karena terlalu tinggi anak-anak tidak dapat meraihnya hingga bola itu mengenai kepala Yu Xi. Dengan pura-pura marah Yu Xi bertanya pada anak-anak siapa yang melempar. “Dia!” tunjuk anak-anak serempak kearah Zhan Cheng. Yu Xi kaget sekaligus marah mengetahui Zhan Cheng yang melakukannya.


“Fang Zhan Cheng, kau lagi. Lupakanlah jika kau menyuruhku untuk pergi. Kau bahkan mengikutiku dan melempar bolanya padaku?” Ucap Yu Xi marah-marah. Yu Xi menuduhnya datang ke panti asuhan hanya untuk mendapatkan publikasi media. “Fang Zhan Cheng berbagi tawa dengan anak-anak yatim piatu, Fang Zhan Cheng sangat antusias dalam beramal. Kegiatan filantrofinya memperoleh pujian. Harga saham Big City meroket tajam. Ini motifmu, benar?” tuduh Yu Xi.
“Apakah kau sudah cukup bicaranya?”
“Tentu saja belum, kenapa? Apa kau ingin mengusirku lagi? Biar kuberitahu, ini bukan rumahmu. Kau tidak dapat mengendalikan tindakanku disini. Kalau kau tidak senang, kau boleh pergi!” ucap Yu Xi.Zhan Cheng sangat marah dan menahan kekesalanny. Saat Yu Xi mendapat telepon dari Xiao An dia pun pergi. 


Yu Xi mencarinya kemana-mana. Saat kepala panti lewat Yu Xi bertanya apakah kepala panti mengenal seseorang yang bernama Fang Zhan Cheng? “Ya. Kau mengenalnya juga?” “Tidak.” Yu Xi berbohong. Kepala panti berkata akan bagus kalau Yu Xi mengenalnya. Kepala panti memberitahu kalau Zhan Cheng adalah orang yang baik dan selama ini dialah yang membantu panti asuhan ini. “Sejak tunangannya meninggal dunia dua tahun lalu, dia telah mengasingkan diri.” Kata kepala panti. “Tunangannya meninggal dunia?” tanya Yu Xi kaget. “Ya. Dua tahun lalu saat dia menjemput tunangannya, mereka kecelakaan dan tunangannya meninggal dunia.”


Yu Xi pun teringat apa yang dikatakannya saat dia membaca koran waktu itu. Zhan Cheng berpikir dia sengaja mengatakannya. “Pantas saja dia sangat marah hari itu. Oh tidak.” Kata Yu Xi menyesal.
Wei Lian menghampiri mereka dengan terburu-buru dan bertanya pada kepala panti apakah dia melihat Zhan Cheng? “Ada apa?” tanya kepala panti. “Aku tidak tahu kemana dia pergi. Aku tidak dapat menemukannya.” Jawab Wei Lian khawatir. Yu Xi teringat kata-kata kasar yang dikatakannya pada Zhan Cheng tadi. Yu Xi pun langsung pergi. Mereka berbagi arah untuk mencari Zhan Cheng.


Zhan Cheng berada di jalan raya hendak menyebrang. Saat lampu hijau berbunyi diapun mulai berjalan. Yu Xi yang berada diseberang jalan berlari dengan cemas mencari Zhan Cheng. Zhan Cheng berhenti di tengah jalan, bingung karena kendaraan sudah mulai jalan kembali. Ia mencoba terus meyebrang tapi tak bisa. Yu Xi pun melihatnya, tiba-tiba Zhan cheng terserempet mini truk hingga terjatuh.


Yu Xi kaget dan sangat khawatir melihat Zhan Cheng. Ia pun menyeberang tak perduli mobil yang juga hampir menabraknya. Yu Xi meminta Zhan Cheng untuk ikut dengannya, tapi Zhan Cheng yang marah tidak mau ikut. “Jangan seperti ini. Sangat berbahaya disini. Biarkan aku membawamu ke seberang jalan.” Kata Yu Xi menarik Zhan Cheng. Zhan Cheng melepaskan tangannya tidak mau. Yu Xi menahannya “Jangan begini. Maafkan aku! Maafkan aku! Ini kesalahanku. Aku minta maaf. Aku tidak peduli betapa marah dan sedihnya kau. Aku mohon, tolonglah.” Ucap Yu Xi. 


Zhan Cheng sudah mulai tenang. Yu Xi menggenggam tangannya dan membawanya pulang. Zhan Cheng yang masih marah pada Yu Xi melepaskan genggaman Yu Xi berulang kali. Yu Xi dengan sabar menuntunnya pulang.


Di rumah Zhan Cheng duduk melamun. Yu Xi menghampirinya, “Aku akan pergi, tapi sekarang tidak.” Kata Yu Xi. Ia kembali meminta maaf pada Zhan Cheng. Yu Xi berkata dia tidak tahu kalau tunangan Zhan Cheng sudah meninggal. Zhan Cheng benar-benar salah paham padanya. “Yang aku katakan kemarin bukan ditujukan padamu. Aku sedang membaca artikel di koran, tapi aku melukai perasaanmu. Aku tetap harus minta maaf padamu. Juga di panti asuhan, saat kau pergi sendiri itu pasti karena apa yang aku katakan. Aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku.” Ucap Yu Xi menyesal. Zhan Cheng tidak marah lagi dan menyuruh Yu Xi pergi.


Yu Xi terkejut melihat tangan Zhan Cheng terluka. Dia mengambil obat dan mengoleskannya ke luka Zhan Cheng. Zhan Cheng meringis kesakitan, Yu Xi pun meniup lukanya dengan lembut. Zhan Cheng sedikit tersentuh dengan perhatian Yu Xi. Yu Xi memperhatikan Zhan Cheng yang berjalan masuk ke kamarnya. Diapun mencoba berjalan dengan mata ditutup agar merasakan hal yang Zhan Cheng rasakan. Ia berputar-putar. Karena pusing ia menabrak tembok, menabrak kursi, menendang tangga sampai terguling ke lantai. Yu Xi menyerah, dia berpikir apa yang akan dilakukan Zhan Cheng kalau dia tidak dapat menahannya lagi?


Zhan Cheng berada di kamar memegang tangannya yang diobati Yu Xi. Sedangkan Yu Xi menonton film horror. Alhasil dia ketakutan sendiri. Dia memberanikan dirinya untuk ke kamar mandi. Lampu berkedip dan padam. Yu Xi berteriak ketakutan. Zhan Cheng datang. ”Fang Zhan Cheng, tolong aku. Aku takut!” “Berikan tanganmu.” Kata Zhan Cheng. Yu Xi tidak mau, dia sangat takut dan akan menunggu lampunya hidup. Zhan Cheng akan pergi, Yu Xi menahannya ketakutan. Ia pun mau setelah Zhan Cheng meyakinkannya.


Zhan Cheng mebawanya keluar dan mengajari Yu Xi bagaimana caranya berjalan di kegelapan dengan menghitung langkah kaki. Mereka pun sudah duduk, sadar dengan posisinya mereka berdua jadi canggung. Zhan Cheng mau pergi sebentar, tapi Yu Xi menariknya bertanya mau kemana? “Tutup terus matamu. Aku akan segera kembali.” kata Zhan Cheng. 
Zhan Cheng kembali dan meminta Yu Xi membuka matanya. Yu Xi pun kagum melihat lilin-lilin yang sangat indah. “Hei, kau sangat hebat. Aku merasa kau dapat melakukan apa saja.” “Kau salah. Aku tidak dapat melakukan apa saja. Hanya saja aku sudah sangat lama hidup dalam kegelapan sendirian. Sampai-sampai tidak membutuhkan cahaya lagi.” Ucap Zhan Cheng


“Selama 2 tahun kau tidak dapat melihat. Saat kau merasa kesepian dan tak berdaya apa yang kau lakukan?” tanya Yu Xi. Zhan Cheng berkata dia akan tetap tenang dan mendengarkan. Mendengarkan apa yang ingin ia dengar. Suara yang sangat dirindukannya, sehingga dia merasa tidak kesepian lagi. Yu Xi pun menyuruh Zhan Cheng mendengarkannya, menebak apakah seperti ini suaranya. Yu Xi bernyanyi lagu yang ia nyanyikan di kamar mandi waktu itu. Lagu yang sama dengan yang dinyanyikan Luo Han. 


Zhan Cheng tersenyum bahagia mendengarkan nyanyian Yu Xi. Mendengar suara yang sangat dirindukannya sama seperti saat Luo han menyanyikannya. 



Lampu hidup kembali. Yu Xi melihat Zhan Cheng yang menangis. Dia pun berkata akan menunggu di luar karena Wei Lian akan datang. Yu Xi berterima kasih tentang tadi. “Kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Jaga dirimu.” Kata Yu Xi beranjak pergi. “Tunggu sebentar. Bisakah kau tinggal?” pinta Zhan Cheng.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »