Advertisement
Advertisement

Seul Bi bersembunyi di perpustakaan untuk membaca buku tentang “malaikat dalam bahaya” (mungkin dia takut ketahuan yang lain) tiba-tiba Jae Seok mengintipnya namun akhirnya dia menghampiri Seul Bi dan membuat Seul Bi kaget “kamu terlihat kaget, malaikat dalam bahaya” pertanyaan-pertanyaan konyol yang dia lontarka pada Seul Bi, dia semakin yankin kalo Seul Bi berbeda dengan yang lain. Wooooww tanda di tangan Seul Bi bercahaya karena ada seseorang yang curiga dan hampir mengetahui identitas yang sebenarnya, Seul Bi makin terlihat kaku Jae Seok mencoba untuk melihat cahaya yang keluar tadi namun Seul Bi menghindarinya dengan memukul kepala Jae Seok terus berlari keluar.
Jae Seok : apapun yang dia sembunyikan akan kucari tahu


Guru etika mengikuti Seong Yeol seperti ada yang ingin dia bicarakan namun ragu-ragu, akhirnya dia memberhentikan Seong Yeol “Seong Yeol bagaimana keadaanmu?” Seong Yeol tak menjawabnya dia malah melepaskan pegangan mama tirinya dengan keras sampai mama tirinya hampir terjatuh dan tasnya terjatuh, tiba-tiba Woo Hyeon melihatnya dia pun langsung membantu guru etika “ anda tidak apa-apa?”
Woo Hyeon : dia sedang mengalami puber dia suka marah. Kudengar semua anak kayak gitu pada mamanya saat puber, jangan terlalu cemas.
Guru etika berterima kasih padanya, dia pun langsung pamitan pergi.


Seul Bi buru-buru pulang tanpa menunggu Woo Hyeon untuk bareng, setibanya dirumah dia langsung ke kamar mandi melihat tanda di pergelangan tangannya yang masih bercahaya (petanda ada orang yang mencurigainya) dia terlihat sangat cemas takut nasa jadi manusianya akan segera berakkhir sebelum waktu yang telah ditentukan.


Woo Hyeon dan Seul Bi sedang belajar ditaman, namun mereka terlihat malu-malu tau entah apa yang sedang mereka arsakan yang apsti mereka ingin mengatakan sesuatu, akhirnya mereka pun bilang “mengenai Seong Yeol” secara barengan tanpa disengaja (gitu ya kalo yang udah satu hati apa-apa selalu barengan tanpa ada kode pun hehe).
Seul Bi : kamu jangan terlalu khawatirkan perkataan anak-anak
Woo Hyeon : malah kamu yang terlihat Kkhawatir.
Seul Bi : cinta segitiga terlihat begitu menyenangkan di drama, tapi tidak dikehidupan nyata.
Woo Hyoen : jadi kamu mengakui kalau ini cinta segitiga?
Seul Bi : belakangan ini Seong Yeol agak terlihat aneh 
Woo Hyeon : mungkin dia lagi puber.
Seul Bi : katanya tak bisa disembuhkan! (takut Seong Yeol terus seperti itu)
Woo Hyeon mulai menanggapi yang aneh-aneh dan gak jelas “apa kita harus menciptakan obat puber?” Seul Bi tambah semangat mendengar soal bisnis yang akhirnya menghassilkan banyak uang “kita bisa kaya raya! Kamu terlihat bakat berbisnis”
Wo Hyeon : apa aku harus membelimu saat aku punya banyak uang? Cepat jawab, satu ... dua ... tiga ...
Dengan spontan Seul Bi menjawab “hanya kamu yang kubutuhkan” Woo Hyeon senang mendengarnya dan merasa kalau Seul Bi sangat tepat mengatakan hal itu (walaupun masih terlihat malu-malu hehe) Woo Hyeon melanjutkan pembahasan yang awal namun Seul Bi tak mau melanjutkannya akhirnya Woo Hyeon bertingkah aneh lagi namun tak berhasil membuat Seul Bi tersenyum.


Ketika Seul Bi masuk kamar dia menerima sms dari Seong Yeol “ada yang ingin kukatakan, temui aku. Aku tunggu ditaman” Seul Bi pun segera masih memikirkan apa dia harus pergi pergi ke taman untuk menemui Seong Yeol atu tidak.


Seong Yeol masih menunggu Seul Bi ditaman, dia terlihta belum pulang kerumah dan masih mengenakan seragam sekolahnya, dia terus melihat jam diponselnya “11:30” namun Seul Bi masih belum datang juga, sementara Seul Bi juga mencemaskan Seong yeol dia takut kalao Seong Yeol masih menunggu ditaman (kenapa gak berangkat temui dari tadi ya). Akhirnya Seul Bi menemui Seong yeol bersama Woo Hyeon, dia sudah sangat kedinginan ketika mereka menghampiri Seong yeol ternyata dia sudah tidak berdaya dan terlihat sakit demam.


Akhirnya mereka membawa Seong Yeol kerumah dan merawatnya, Seong Yeol terlihat sangat lelah dan kesakitan Seul Bi menyarankan untuk menghubungi mamanya.
Woo Hyeon : aku gak bilang pada beliau kalau dia ssakit, pasti dia kan cemas.
Seul Bi : baguslah (mengganti kompresan Seong Yeol)
Woo Hyeon : harusnya dia tak menunggu kalau tahu sms-nya nggak dibales
Seul Bi membuat kompresan yang baru, Woo Hyeon menyuruhnya untuk istirahat “biar aku saja” Seul Bi pun menyuruhnya untuk isstirahat “kamu lelah, biarkan aku yang mengompresnya” Woo yeon tak mau mendengarkan Seul Bi lalu mengompesnya “kurasa aku akan kehilangan dia”
Seul Bi : Seong Yeol mungkin sudah tahu bagaimana perasaanmu (keluar kamar namun masih memikirkan kejadian barusan).


Woo Hyeon massih mengompres Seong Yeol “kau benar-benar bajingan. Aku bahkan tak bisa marah padamu atu membencimu. Kenapa amat sakit saat melihatmu” Woo Hyeon takut kehilangan Seong Yeol cuman gara-gara percintaan.


Woo Hyeon tertidur setelah semalaman mnegompres Seong Yeol, dia terlihat sangat kelelahan samapai-sampai belum bangun padahal udah siang gini, akhirnya Seong yeol terbangun dia heran “kenapa ada dikamar Seong Yeol” dan melihat Woo Hyeon tertidur menunduk keranjangnaya.


Sementara Seul bi sedang menyiapkan makanan untuk sarapan mereka, pas lagi memotong bawang bombay Seong yeol turun dan udah siap untuk pulang. Seul Bi langsung mengecek keadaan Seong Yeol “kamu sudah tidak apa-apa?” Seul Bi minta maaf atas kejadian semalam dia merasa bersalah Seong Yeol jadi seperti ini.
Seul Bi : apa yang ingin kamu katakan tadi malam?
Seong Yeol : kamu masih ingin tahu?
Seul Bi belum mejawabnya dan tangan Seul Bi mulai bercahaya lagi karena dia ketakutan kalao Seong yeol menanyakan hal aneh yang sering timbul padaya dia pun langsung menyembunyika tangannya, Seong Yeol akhirnya melihat vahaya di tangan Seul Bi, dia ingin melihat apa yang terjadi denga Seul Bi, namun Seul Bi membentaknya “mau ngapain kamu?”
Seong Yeol : sekarang saja kamu kaget. Padahal aku cuman mau menggerakkan tanganku,
Seul Bi makin merasa bersalah pada Seong yeol apalagi barusan sudah membentaknya (karena ketakutan). 


Jae Seok dan temannya sedang asyik bermain game di warnetm, namun Jae Seok masih memikirkan yang kemarin muncul cahaya ditangan Seul Bi saat di perpustakaan “jelas sekali bersinar1” dia langsung memanggil Tae Wook “kau spesialis mencri tahu kan?”
Byung Hoo : siapa lagi kali ini?
Jae Seok kesal terhadap Byung Hoo “hentikan tindakanmu” Tae Wook siap untuk melakukannya, dia langsung menghampiri Jae Seok dan melepaskan tangannya dari kerah Byung Hoo “Siapa?” dia menyuruh Tae Wook untuk menyelidiki Seul Bi “kupikir dia memang aneh”
Tae Wook : kurasa aku salah lihat pas bilang kalau Seul Bi meluncur turun dari tangga. Sudahlah!
Jae Seok : aku yang memutuskannya. Datanglah ke sekolah malam ini (pergi sambil menepuk kepala Byung Hoo).
Byung Hoo : dia selalu mendekati apa yang kita lakukan. Apa aku harus mengakhirinya saja (mulai kesal dengan ulah Jae Seok yang seenaknya).
Tae Wook : dulunya dia mungkin yang dibuli. Tapi kuras dia sekarang nomor satu! Lihat mataku!
Byung Hoo : harusnya kau menegelak. Kau mau kena pukul tiap hari?
Tae Wook langsung terdiam saat mendengar “mau kena pukul tiap hari” (dia memikirkan apa yang Byung Hoo barusan katakan)


Woo Hyeon mengirimkan pesanan Ddeokbokki ke rumah bu guru, namun bu guru merasa tidak memesannya tapi dia menerimanya, ketika Woo Hyeon pamitan mau pulang tiba-tiba Seong Yeol datang dan menyuruh Woo Hyeon untuk masuk dulu kerumahnya. Mama tiri Seong Yeol menjamu Woo Hyeon dengan segelas air minum.
Mama Seong Yeol : apa kamu selalu memakai kalung itu?
Woo Hyeon : iya, sejak kecil selalu memakainya. Aneh rasanya kalau tidak memakai kalung ini
Mama Seong Yeol : pasti sangat spesial ya ? (seolah-olah tidak tahu apa-apa)
Woo Hyeon : mamaku yang memberikannya padaku. Saya takut. Mungkin saya lupa semuanya tanpa kalung ini.
Seong Yeol keluar dari kamarnya dan sudah mengganti bajunya, mama tiri Seong Yeol menjadi lebih gugup setelah Seong yeol menghampiri mereka.
Woo Hyeon : kamu pesan antar, karena aku bilang tak boleh datang kan?
Seong Yeol : kenapa kau datang? Seharusnya kau monta Seul Bi untuk mengantarnya.
Woo Hyeon : kau ingin Seul Bi yang datang? Bukan Ddeokbokki-nya?
Dengan gugupnya mama tiri Seong Yeol pamitan untuk mengambilkan minum Seong Yeol, Seong Yeol memotongnya pembicaraannya “bolehkan aku mengundang Woo Hyeon dan Seul Bi untuk makan mala?” Woo Hyeon membisikkan sesuatu pada Seong Yeol “jangan, kita kan ada rencana” dia menolaknya dan berterima kasih pada mama tiri Seong Yeol.
Seong Yeol : kenapa? Bukannya kau suka makanan masakan mamaku? Mungkin sudah lama sejak Seul Bi makan masakan rumahan
Mama tiri Seong Yeol terkejut kalau Woo Hyeon suka masakannya (kaget + senang) Seong Yeol bilang “ma, Woo Hyeon suka maskan mama, mama mau kan masak untuk kami?” mama tirinya memastikan lagi pada Woo Hyeon namun dia menolaknya, tapi mama tiri Seong Yeol memintanya untuk makan malam bersama Seul Bi dirumahnya. Seong Yeol terus memperhatikan lagak bicara mereka.


Makan malam pun tiba, Seul Bi dan Woo Hyeon memenuhi permintaan Seong Yeol dan mama tirinya untuk makan malam bersama, mereka terlihat kaku dan saling bertatapan satu sama lain kecuali papanya Seong Yeol yang fokus makan.
Papa : aku selalu ingin mengundang kalian untuk makan malam. Kalian sudah berbagi makanan dan tempat tinggal dengan Seong Yeol.
Woo Hyeon : tentu saja, kami kan teman.
Seul Bi : terima ksaih sudah mengundang kami. Makanannya benar-benar enak.
Seong Yeol minta tolong pada papanya untuk mencarikan mamanya Woo Hyeon, Woo Hyeon marah “kau ini kenapa?” namun berbeda dengan mama tiri Seong Yeol, dia terlihat sangat ketakutan kalo rahasianya terbongkar.
Seong Yeol : kalung itu. Kau bilang mamamu yang memberikannya, kau memakainya tiap hari itu artinya kau menunggunya.
Woo Hyeon pun terdiam setelah Seong Yeol berkata seperti itu, Seong Yeol masih terus memperhatikan mama tirinya, dia terlihat sangat kaku dengan sikap dan perkataan Seong Yeol, begitupun dengan papanya “sebetulnya apa yang kau inginkan?”.
Papa : kau masih tak ingin mencarinya ?
Woo Hyeon : mungkin mama punya alasan sendiri kenapa dia tak ingin mencariku. Mama pasti sudah mempunyai kehidupan sendiri. Bagaimana kalau aku justru membiuatnya susah. Jujur saja... aku hanya takut mama menolakku dan akan ditinggalkan lagi.
Seong Yeol melihat mama tirinya yang kaku dan berkaca-kaca mendengar perkataan anak kandungnya (Woo Hyeon). Papa Seong Yeol memujinya “kau benar-benar pria sejati” dan meminta mereka untuk melanjutkan makan malamnya. Ternyata ini yang direncanakan Seong Yeol mengundang mereka untuk makan malam, dia semakin yakin karena telah memastikannya.


Mereka bertiga berada di kamar Seong Yeol tanpa adanya perbincangan sedikit pun, mereka hanya berdiam tak ada yang memulai pembicaraan sampai minuman Seul Bi habis, dia mau membawa gelas ke dapur namun Woo Hyeon menghalanginya “biar aku saja” ketika Woo Hyeon keluar kamar Seong Yeol hanya melihatnya tak bicara apapun (sepertinya masih memperhatikan Woo Hyeon).


Mama tiri Seong Yeol sedang mencuci piring sambil melamun (entah apa yang dia pikirkan) karena sambil melamun akhirnya piring pecah, tiba-tiba Woo Hyeon datang membawa gelas kotor tadi dan langsung membantu membersihkan percak piring yang berteteran dimana-mana, Seul Bi juga datang membantunya namun Woo Hyeon menghalanginya karena takut Seul Bi terluka, tangan Woo Hyeon terluka, mama tiri Seong Yeol sangat khawatir “kubilang nanti kau bisa terluka”
Seul Bi : kamu tak apa? Aku kan sudah bilang biar aku saja.
Woo Hyeon : kamu bisa terluka nanti
Seong Yeol langsung keluar ketika mendengar piring pecah dan melihat betapa perhatiannya seorang mama pada anaknya. Mama tiri Seong Yeol meniup lukanya dengan penuh kasih sayang dan ke khawatiran, dia melihat Seong Yeol sedang berdiri di belakang Seul Bi dan langsung menyuruhnya untuk membawakan kotak P3K, Seong Yeol langsung pergi mama dan Seul Bi pun bengong melihat tingkah Seong Yeol seperti itu.


Seul Bi dan Woo Hyeon pun pulang karena sudah larut malam, Seul Bi memulai pembicaraan mengenai Seong Yeol “Seong Yeol bertingkah aneh, tapi aku senang dia masih peduli padamu”
Seul Bi : apa tak terlalu cepat papanya mencarikan mamamu?
Woo Hyeon : tak akan bedampak baik, meski cepat menemukannya. Lebih baik bagiku kalau mama bukanlah orang yang bisa kulihat. Namun seseorang yaang bisa kulihat kapanpun kumau, itu sudah cukup bagiku.
Woo Hyeon hanya membutuhkan simpati dari Seul Bi, Seul Bi terus melihat Woo Hyeon yang sedang bicara dan berkata “aku melihatmu karena kamu keren banget” sambil memegang tangan Woo Hyeon.
Woo Hyeon : sudah kubilangkan tanganku mahal.
Seul Bi : aku ingin memegang tangan mahal itu dan jadi bahagia.
Mereka melihat bintang-bintang cantik yang bertebaran di langit sambil berjalan pulang.


Mama tiri Seong Yeol mencari kalungnya ke semua tempat bahkan sampai ke tempat sampah dia mencarinya, tiba-tiba Seong Yeol datang dan bertanya “sedang cari apa?” dengan gugupnya dia menjawab “tidak mencari apa-apa” Seong Yeol terus memperhatikannya. Seong Yeol memberitahu kalau dia tadi membersihkan sampah dan langsung membuangnya, Seong Yeol penasaran apa yang akan dilakukan mama tirinya untuk mencari kalungnya tersebut.


Mama tiri Seong Yeol benar-benar mencari kalungnya ke tempat pembuangan sampah namun tak dia temukan, tiba-tiba Seong Yeol datang menunjukkan kalungnya “anda cari ini?” mama tirinya terkejut dan merasa aneh kenapa kalungnya bisa ada ditangan Seong Yeol, dia terlihat sangat kaku bicaranya pun jadi gelagapan tak karuan.
Seong Yeol : kudengar putramu seumuran denganku. Kapan dia kembali dari amerika? Shin... Woo... Hyeon.
Mama tiri : akan kujelaskan, berikan padaku (mencoba merebut kalungnya) kamu mau dengar apa?
Seong Yeol : anda mau bilang apa dulu? Kalau Woo Hyeon adalah putramu? Berarti anda membohoni papaku?
Mama tiri : aku mau menjelaskannya! Kamu lebih cepat dariku! 
Seong Yeol : anda masih saja ... (makin kesal pada mama tirinya)
Mama tiri : tolong jangan beritahu Woo Hyeon, cukup aku dan kamu saja yang terluka (sambil menangis)
Seong Yeol : anda akan melindungi putra anda hingga akhir?
Mama tiri : aku melinduingimu! Aku tinggal bersamamu meski putraku ada didekatku. Kualifikasi apa yang kumiliki sebagai seorang mama, saat aku tak bissa memanggilnya “anakku” ? akan lebih baik bagi Woo Hyeon kalau menganggapku tak ada.
Seong Yeol : kalau begitu keluarlah dari keluargaku. Aku juga tak membutuhkanmu.
Mama tiri Seong Yeol terlihat sangat lemas sampai-sampai dia terjatuh saat Seong Yeol telah pergi.


Seong Yeol melampiaskan kekesalannya dengan bermain basket di sekolah sendirian, dia terus bermain basket namun tak ada satupun bola yang dia masukkan sampai akhirnya dia kelelahan dan terbaring dilapang basket. Jae Seok diam-diam mengambil ponsel Seong Yeol dan mengirim pesan entah siapa yang dia tuju dan sms apa yang dia tulis (pasti dia mengirim pesan pada Seul Bi dan akan menjahilinya).


Ketika Seul Bi sedang membersihkan barang-barang yang ada di dapur Woo Hyeon menghampirinya dan menyuruh Seul Bi untuk cepat bersiap-siap untuk berangkat bareng. Seul Bi pun terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya pas Seul Bi kelar eh Woo Hyeon udah berangkat duluan. Tiba-tiba Seul Bi menerima pesan dari Seong Yeol (benerkan tebakkanku hehe) dan langsung membaca pesan tersebut.


Seong Yeol telah selesai bermain basketnya dan bersiap-siap pulang, dia juga menerima pesan (entah apa yang dia terima) dia langsung berlari, eh ternyata semua ini ulah Jae Seok. Seong yeol pergi ke gudang gym mencari Seul Bi tiba-tiba Seul Bi juga datang ke gudang mencari Seong Yeol “kukira kau terkunci di gudang” Seong Yeol langsung melihat kembali pesan yang dia terima tadi “Lee Seul Bi terkunci digudang gym” Seong Yeol langsung berpikiran kalau ini semua ulah Jae Seok. Ketika Seul Bi mengajaknya untuk keluar tiba-tiba Jae Seok mengunci pintu gudang, Seong yeol dan Seul Bi langsung panik “Jae Seok buka pintunya!”
Jae Seok : Seong Yeol. Lee Seul Bi punya kekuatan super. Kau bisa menyuruhnya menggunakan kekuatan supernya untuk keluar. Kuharap didalam sana nyaman. Aku harus pergi!
Seul Bi : Jae Seok! Kau ini apa-apaan sih? Terus menggedor-gedor pintu gudang
Jae Seok : lebih baik kau cepat keluar, sebelum ketahuan pacarmu.


Seul Bi terus mendobrak-dobrak pintunya berharap ada orang yang menolongnya, namun Seong Yeol menghentikannya “kamu tak bisa membukanya dengan kekuatanmu?”
Seul Bi : Woo Hyeon akan khawatir. Minggir!
Seong Yeol : kalau memang ini rencana Jae Seok! Dia akan menghubungi Woo Hyeon, Jae Seok tadi ngomong apa? Yang dilihat di tangga?
Seul Bi : kalau aku punya kekuatan, aku pasti sudah keluar dari sini.
Seong Yeol ; kamu gak mau bersamaku? Mungkin harusnya kamu dikunci bersama Woo Hyeon
Seul Bi merasa aneh dengan Seong Yeol yang sekarang dia tampak jauh berbeda dengan Seong Yeol yang dulu, Seong Yeol mengatakan kalau Seong Yeol yang Seul Bi kenal tak ada lagi. Namun perasaan Seul bi tak akan berubah meski banyak hal yang Seol lakukan untuk mendapatkannya.
Seong Yeol : aku tak berencana meminta, namun aku akan mencuri hatimu!
Seul Bi menegaskan “kenapa kau seperti ini? Woo Hyeon sangat peduli padamu” Seong Yeol juga mengatakan “aku juga sangat peduli!” Seul Bi merasa bersalah karena semua ini karenanay dan entah apa yang ahrus dia lakukan.


Woo Hyeon mencari Seul Bi ke sekolah, dia mendobrak pintu gudang gym “Seul Bi!” Seul Bi pun langsung mendobrak-dobrak pintu namun Seong Yeol menghalanginya. Ketika Seong Yeol melihat cahaya ditangan Seul Bi, Woo Hyeon berhasil membuka pintunya dan langsung menghampirinya “kau tak apa-apa?” Seong Yeol penasaran ada apa sdengan Seul Bi, Seul Bi terus melihat Seong Yeol dan tak menjawab pertanyaan Woo Hyeon. Woo Hyeon langsung menghampiri Seong Yeol dan menghajarnya (beuukkk) “hari ini kau kehilangan aku” Seong Yeol tak membalas pukulan Woo Hyeon dia duduk lemas sambil meneteskan air mata “akulah yang melepaskanmu. Bego!” dia merasa kesakitan begitupun dengan hatinya dia sangat sakit hati.


Woo Hyeon melamun (sambil menangi) semua hal yang dia lakukan bersama Seong Yeol, dihukum bareng, main basket bareng, tidur bareng sampai berpelukan dan masih banyak hal lain yang dia pikirkan hal-hal yang membahagiakan saat bersama Seong yeol “kampret hanya aku teman yang kau miliki”.


Begitupun dengan Seul Bi, dia juga sedang memikirkan bagaimana Seong Yeol mengetahui identitasnya dan penasaran dengan cahaya yang di lihat Seong Yeol ditangan Seul Bi, dia terus memperhatikan tanda di tangannya tersebut.


Mama tiri Seong Yeol mendatangi pohom almarhumah Halmeoni, dia membawa bunga sambil terus memperhatikan pohonnya “maaf datang terlambat, Eommonim” dia terlihat menyesal dengan semua yang dia lakukan terhadap Halmeoni dan Woo Hyeon (putra kandungnya).


Woo Hyeon membawa bungan bersama Seul Bi, mereka mau mengunjungi pohon almarhumah Halmeoni, Seul Bi menanyakan keadaanya semalam Woo Hyeon pun semalam tidur nyenyak dan mempikan Seul Bi.
Seul Bi : Seong Yoel mungkin punya alasan yang tak bisa dibicarakan.
Woo Hyeon : tolong jangan membicarakan soal Seong yeol lagi.
Seul Bi langsung memunjinya “Kang Sae-i kau sangat imu” dia dengan pedenya menjawab “aku memang sanagt keren!”. Seul Bi merasa kalau Halmeoni akan sangat bangga pada Woo Hyeon.
Woo Hyeon : aku harus bilangv apda Miss Gong kalu aku punya pacar yang gila kerja, makannya banyak dan benar-benar berisik. Seseorang bekerja keras untuknya.
Seul Bi : aku? Aku membuat hidupmu susah.
Woo Hyeon : aku bahagia hidup bersamamu. Miss Gong tak akan khawatir padaku lagi. Ayo buruan Miss Gong sudah menunggu kita.


Mama kandung Woo Hyeon kebingungan “mana mungkin aku bilang pada Woo Hyeon, kalau aku mamanya” dia terus meminta maaf dan merasa sangat bersalah menjadi seorang mama yang membiarkan putranya dan sama sekali tak mempeduliaknnya “aku tak berhak menjadi mamanya Woo Hyeon”
Ternyata Woo Hyeon melihat dan mendengar kalau guru etika membuat pengakuaan depan pohonnya Halmeoni mengenai bahwa dia adalah mama kandungnya, Woo Hyeon terlihat ssanagt lemas mengetahui semua itu bunga yang dia bawa pun terjatuh dengan sendirinya karena dia sangat lemas dan tak berdaya, Seul Bi juga terkejut mendengar semua itu, begitupun dengan mamanya dia sangat terkejut ada Woo Hyeon dan mendengarkan semua perkataannya. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 13 PART 1