Advertisement
Advertisement

Guru etika (mama kandung Woo Hyeon) menghampiri putranya dia berusaha menjelaskan semuanya “Woo Hyeon....” Woo Hyeon keburu memotong pembicaraannya.
Woo Hyeon : aku anak anda?
Guru etika : Woo Hyeon ... (memegang tangan putanya).
Woo Hyeon : putra anda adalah Seong Yeol (menarik kembali tangannya) Seul Bi, yang barussan kudengar itu salah kan?
Guru etika berusaha menjelaskan semuanya namun Woo Hyeon tidak mau mendengar semua alasannya, Seul Bi bingung harus berpihak pada siapa di situasi genting seperti ini.
Guru etika : aku punya alasan, itu sebabnya tak bisa kukatakan padamu. Sulit untuk dipercaya tapi aku adalah mamamu.
Woo Hyeon : saya tak punya mama papa, tolong anda pergi (mendekati pohon Halmeoni) aku datang untuk ziarah pada Halmeoni, jadi tolong anda pergi.
Mama kandung Woo Hyeong (guru etika) pun memenuhi permintaan putranya untuk pergi dengan keadaan menangis, dia sangat tersiksa dengan semua yang telah terjadi.


Woo Hyeon dan Seul Bi pun berziarah ke makam Halmeoni, Woo Hyeon menanyakan kabar Halmeoni.
Woo Hyeon : Halmeoni kangen aku kan? Kenapa hal seperti ini terjadi padaku? (terus menangis dan terus minta kejelasan dari Halmeoni yang sudah mati) Halmeoni... kau adalah mama sekaligus papa bagiku.
Seul Bi menenangkan Woo Hyeon dengan memegang tangannya, ternyata mama Woo Hyeon belum pergi dia bersembunyi dibalik pohon  sambil memperhatikan putranya (Woo Hyeon) dan masih dalam keadaan menangis.


Seul Bi dan Woo Hyeon pulang dari pemakaman Halmeoni, Woo Hyeon merasa kalau cuaca hari ini sangat cerah (menangis meratapi nasibnya saat ini). Seul Bi terus memperhatikan Woo Hyeon yang tak hentinya meneteskan air mata namun dia pura-pura tersenyum di dalam kesedihannya itu.
Seul Bi : senyummu menyayat hati.


Woo Hyeon mengingat semua tingkah aneh yang terjadi pada Seong Yeol belakangan ini, saat Seong Yeol tiba-tiba masuk ke kamarnya dan marah-marah gak jelas sambil mengatakan “jangan mendekat! Apa kau tak ingin tahu mamamu?” dilapang basket “jangan mendekat! Apa kau tak ingin tahu mamamu?” dengan perkataan yang sama Seong yeol lontarkan disetiap dia mendekati Seong Yeol. Woo Hyeon berpikiran kalau Seong Yeol sudah tahu semuanya saat bertingkah aneh belakangan ini.


Woo Hyeon menunggu Sseong Yeol dilapangan basket sendirian, akhirnya Seong Yeol pun datang menemui Woo Hyeon.
Woo Hyeon : apa artinya aku untukmu? Mau berapa lama kau akan menyembunyikannya dan mencoba mencekikku? Apa aku mengacaukan kejutanmu?
Seong Yeol : sepertinya begitu.
Woo Hyeon : bagiku tak ada yang berubah, tak peduli kau anak siapa
Seong Yeol : begitulah aku! Kenapa mamamu harus jadi mamaku?
Woo Hyeon : aku gak butuh mama, ambil saja dia sebagai mamamu. Aku cuman mau bilang itu.
Seong Yeol : enteng sekali kau bilang begitu, karena dia mama kandungmu.
Woo Hyeon : dia untukmu saja. Cengeng! (pergi dengan kekesalannya).
Seong Yeol menghentikannya dengan berkata “orang bilang darah lebih kental dari air. Kau sombong sama sepertinya” Woo Hyeon makin kesal “coba katakan sekali lagi” namun Seong Yeol sekarang sudah muak untuk menghadapi Woo Hyeon lagi.


Guru etika sekarang demam, suaminya segera pulang karena khawatir dengan istrinya yang sedang sakit. Guru etika masih sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya dan takut kalo suaminya tau dan marah mengenai hal tersebut (Woo Hyeon adalah anak kandungnya) karena tidak terus terang dari awal.


Seong Yeol tiba dirumah, sementara papanya harus patroli malam ini, dia pun meminta Seong Yeol untuk menjaga mamanya, Seong Yeol terlihat pucat dan dia tidak menjawab perkataan papanya.
Papa : kamu sakit? Kamu juga kelihatan gak enak badan.
Seong Yeol : sakit. Sakit sekali!
Papanya langsung mengecek keadaan putranya “kamu gak demam. Mungkin karena pancaroba” Seong Yeol mau menjelaskan apa yang terjadi dengannya, namun papanya menyuruh dia untuk minum obat karena sudah ada yang menghubungi papanya untuk patroli.
Seong Yeol melihat poto keluarga bersama mama tirinya “kenapa harus dia?” “kenapa mamanya Woo Hyeon?” sambil menangis terus melontarkan kata-kata tersebut.


Seong Yeol sangat terpukul dengan kenyataan bahwa guru etika adalah mamanya, dia terus memikirkan hal itu duduk, berdiri dan banyak hal yang dia lakukan namun masih tetap terpikirkan. Akhirnya Woo Hyeon melepas kalung pemberian mamanya “hanya kalung ini yang mama berikan, jadi kalung ini yang harus kubuang” dia pun membuang kalungnya ke tempat samaph yang ada di kamarnya.


Woo Hyeon dan Seul BI berangkat sekolah, namun Woo Hyeon terlihat sangat berat melangkahkan kakinya tapi Seul Bi terus memperhatikan perjalanan Woo Hyeon sampai akhirnya Seul Bi mengulurkan tangan pada Woo Hyeon.
Woo Hyeon : mau ngapain?
Seul Bi : saat hidupmu terasa sulit, aku akan datang padamu mengulurkan tangan (tersenyum).
Woo Hyeon mengatakan ”tak akan kuraih” Seul Bi terkejut dengan ucapan Woo Hyeon seperti itu.
Woo Hyeon : karena nanti kita berdua bisa jauh.
Seul Bi : apa yang slaah dengan hal itu? Toh malunya cuman sedikit dan kita bisa bangkit bersama-sama.
Woo Hyeon : oh ya?  Kalau begitu aku tak boleh terjatuh katena kamu akan terluka nanti.
Seul Bi tidak menyukai kata-kata Woo Hyeon, namun Woo Hyeon langsung mengalihkan pembicaraannya “ayo berangkat, bisa terlambat kita!” Seul Bi pun kembali tersenyum karena Woo Hyeon semangat lagi berangkat sekolah.


Jae Seok sedang memarahi Tae Wook dan Byung Hoo karena mereka tak mengangkat telponnya tadi malam. Mereka hanya terdiam dan tak melakukan perlawanan.
Jae Seok : kau gak mau melakukannya kan?
Tae Wook : bukannya ku gak mau, tapi aku gak bisa. Papaku ada dirumah saat keluar, nanti papa bisa memukulku (beuk)
Jae Seok bisa mengerti dengan alasan Tae Wook, dia mengintrogasi Byung hoo karena dia tak berbicara sedikitpun dari tadi “kau?” dengan polosnya dan tanpa ada rasa takut dia menjawab “aku tidur, karena aku lelah” Jae Seok mulai kesal dengan alasan Byung Hoo yang tak masuk akal.
Jae Seok : brutal, yang benar saja? Tinjuku juga bisa brutal.
Tae Wook : kau main game semalam suntuk? pantas saja kau enggak menjawab.
Jae Seok Seok membiarkan mereka untuk sekarang ini, karena siapa saja bisa melakukan kesalahan. Toba-tiba si gendut memanggil Byung Hoo karena bu guru ingin bertemu dengannya. Mereka terarah pada si gendut, eits tiba-tiba si gendut terjatuh ketika mau menghampiri Byung Hoo, Jae Seok memperingati Byung Hoo “awas kau!” Byung Hoo pun membantu si gendut membereskan makanannya yang berceceran dimana-mana, Byung Hoo memberitahu si gendut bahwa ada noda dimukanya. Si Gendut pun ke geeran karena mendapat perhatian dari Byung Hoo.
Si Gendut : kau gak perlu menemui bu guru, semuanya sudah kuselesaikan.


Jae Seok menghampiri Seong Yeol di loket dan mengatakan “enak ya berduaan bersama Lee Seul Bi? Apa dia menggunakan kekuatan supernya? Teleportasi? Kubiarkan kau bersama Lee Seul Bi. Aku kesal pada Woo Hyeon. Harusnya kau berterima kasih padaku” Seong Yeol tak berkomentar apapun dengan apa yang Jae Seok katakan, tiba-tiba Woo Hyeon sudah ada dibelakang Seong Yeol. Woo Hyeon mengira kalau kejadian kemarin rencana Seong Yeol bersama Jae Seok, Seong Yeol tak mempedulikannya dan langsung pergi, namun Woo Hyeon menghalanginya.
Woo Hyeon : kau pikir bisa melukaiku, dan kau tak terluka? Kalau begitu silakan saja. Jangan libatkan Seul Bi dalam masakah ini (pergi meninggalkan mereka).
Jae Seok : kurasa hal menyenangkan akan terjadi pada kalian berdua.
Seong Yeol : teman-teman mengira lebih menarik antara kau dan aku.


Jae Seok masih penasaran dan belum puas dengan ulahnya membuli Lee Seul Bi, Woo Heyon dan Seong Yeol “ada hal yang harus kuselidiki”. (beuk) kena timpuk pak Han dia.
Pak Han : selidiki apa? Hidungmu? Baca buku sana sebelu aku menggali liang lahatmu menjadi sumur minyak. Jae Seok! (pak han makin kesal aja dengan ulah Jae Seok yang tak ada hentinya).


Ye Na dan Da Ye Ri sedang memperbincangkan ulang tahunnya, namun itu bukan acara ulang tahun Ye Na, dia hanya ingin membuat pesta dan menyuruh Da Ye Ri untuk mengundang semua teman-temannya kecuali Young Eun.
Da Ye Ri : kau lupa kalau dia peringkat satu?
Ye Na : aku bisa mengurusnya. Kau tinggal bawa teman-teman saja.
Da Ye Ri dekat dengan Ye Na terpaksa karena Ye Na mengetahui rahasianya selalu datang ke club malam sendirian. 


Youg Eun menghampiri Da Ye Ri dan menanyakan kedekatannya dengan Ye Na “sejak kapan kalian jadi sahabat? Kalian berdua terlihat sangat akrab”
Da Ye Ri : kenapa kalian berdua menyulitkanku? (marah-marah terus pergi)
Young Eun heran dengan sikap aneh Da Ye Ri sekarang ini.


Woo Hyeon, Seul Bi, Seong Yeol dan Ye Na sedang kerja kelompok dikelas, namun mereka sibuk dengan aktivitasnya masing masing, Woo Hyeon merasa suasananya tidak enak karena pada sibuk masing-masing “kerja kelompok” Seong Yeol asyik memotret buku pelajaran dan memberi tanda di foto tersebut “penting” dan lanjut merapikan buku-bukunya. Tiba-tiba Seul Bi menerima pesan dari Seong Yeol yang berisi gambar yang tadi Seong Yeol tandai dan yang menurutnya penting. Seul bi pun langsung melihat Seong Yeol.
Seong Yeol : aku sudah menandai semua yang penting. Bagianku sudah, kerjakan bagianmu. (langsung pulang duluan).


Woo Hyeon melihat pesan yang dikirim Seong Yeol “cara yang bagus untuk mengerjakan” dia memberitahu Ye Na kalau dia akan mengirim point-point yang penting via sms, (berbunga-bunganya Ye Na, Woo Hyeon bicara padanya).
Ye Na : kalau begitu akan kurangkum.
Woo Hyeon : kenapa belum pergi? (oh oh oh ternyata Woo Hyeon bicara seperti itu agar Ye Na cepat-cepat pergi dan bisa berduaan dengan Seul Bi ternyata, kenapa gak langsung aja bilang ya hihi). 
Ye Na kesal mendengar perkataanya yang sekarang, dia langsung terarah pada Seul Bi dan pergi.


Seul Bi minta Woo Hyeon untuk memberikan bukunya dan akan dia kirim pada Seong Yeol. Namun Woo Hyeon malah di becandain saat Seul Bi minta bukunya dan menyuruh Seul Bi untuk memelas dulu “tolong berikan (ayo bilang seperti itu)” Seul Bi mengeluaran muka asemnya, tapi Woo Hyeon masih mepermainkannya “ayo katakan (tolong berikan)” akhirnya Seul Bi pun menuruti permintaannya sambil mengulurkan tangannya “tolong berikan”.
Woo Hyeon meminta Seul Bi untuk mengulanginya sekali lagi dengan imut, Seul Bi pun mengulanginya “tolong berikan” (sekarang sudah lumayan imut hihi) namun Woo Hyeon malah bolang “maaf sudah minta begitu” dengan wajah yang memelas. Seul Bi terus mengulanginya dengan tingkah yang lebih konyol sampai akhirnya Woo Hyeon meberikan buku tersebut dan berkata “jangan lakukan itu pada orang lain, mengerti?” Seul Bi merasa Woo Hyeon jadi marah padanya.


Seong Yeol sedang melamun ditaman, seperti biasa dia selalu memakai earphone-nya jika sedang sedih kesal dan merasa kalau dirinya tak mempunyai siapa-siapa. Seong Yeol masih memikirkan kenyataan kalau Woo Hyeon adalah saudara tirinya, namun Seong Yeol masih belum bisa menerima kenyataan itu.


Woo Hyeon membersihkan coretan yang ada dikaca, eits tiba-tiba dia melihat Seong Yeol sedang mendengarkan musik disamping kelasnya “dia mendengarkan musik seharian” eh Woo Hyeon malah memberi embun di kaca pas bagian yang tepat pada posisi Seong Yeol, dia pun kelelahan meniup kaca dan tak kunjung bertaha lama embun yang dia buat, sebenarnya Woo Hyeon tak mau kalau Seong Yeol mengalami hal sulit seperti ini. Eits dia juga terbawa suasana melamun lagi.


Seul Bi baru kelar merapikan kamar Woo Hyeon, dia pun membawa sampah dari kamar Woo Hyeon untuk dibuang, pas mau dibuang Seul Bi merasa ada suara sesuatu dari tempat sampah, Seul Bi pun melihat dan ternyata kalung Woo Hyeon yang bersuara itu karena benturan alhasil mengeluarkan suara (tak) Seul Bi heran kenapa Woo Hyeon membuang kalung pemberian mamanya padahal dulu dia bilang “ini kalung pemberian mamaku dan harus selalu kupakai” dan Seul Bi bersusah payah untuk mencari kalung itu.


Woo Hyeon menempelkan brosur ddeokbokki-nya di setiap mobil yang parkir, eits ternyata mobil yang dia tempeli brosur adalah punya papanya Seong Yeol dia pun keluar bersama temannya, papa Seong Yeol memanggilnya “Woo Hyeon” papa Seong Yeol melihat Woo Hyeon seperti ada yang ingin dia tanyakan namun Woo Hyeon mengelak dan pamitan pergi.
Papa Seong Yeol : oh ya, Seong Yeol sepertinya tertekan, apa terjadi sesuatu?
Polisi : kalian bertengkar?
Woo Hyeon masih belum menjawab pertanyan itu, papa Seong Yeol pun yakin kalo mereka sedang bertengkar, namun temannya mengatakan “wajar mereka bertengkar, karena mereka masih pada muda. Saat itulah kamu merasa hidup” Woo Hyeon pun pamitan lagi dan pergi. Temannya merasa kalau Woo Hyeon yang menang, papa Seong Yeol penasaran apa yang terjadi dengan mereka karena tak seperti biasanya mereka bertingkah seperti itu. 


Seul Bi masih memikirkan soal kalung pemberian mamanya yang Woo Hyeon buang “ini sangat menyakitkan bagi Woo Hyeon” Seul Bi pun menyimpan kalung itu dalam laci, Seul Bi mencoba menelpon Woo Hyeon namun dia mengulurkan niatnya untuk menhubungi Woo Hyeon.


Seul Bi sedang menunggu Seong Yeol di tangga depan rumahnya, akhirnya Seong Yeol pun pulang dan Seul Bi pun mencoba menjelaskan semuanya “bukan salah Woo Hyeon, juga bukan salahmu. Aku tahu ini berat bagimu juga bagi Woo Hyeon.
Seong Yeol : terus? Kau ingin aku menghiburnya atau gimana?
Seul Bi : masalah itu adalah keputusan orang dewasa, kalian berdua tak bisa berbuat apa-apa. Pikirkan lagi kalian berdua adalah sahabat baik, bahkan.... (dipotong Seong Yeol).
Seong Yeol : sekarang akmi tak berteman.
Seul Bi terus menekankan kalau Seong Yeol dan Woo Hyeon adalah teman baik, Seong Yeol merasa kalau Woo Hyeon yang selalu Seul Bi perhatikan dan dia gak tahu apa yang akan dilakukan kalau Seul Bi terus seperti itu bersikap tak adil padanya.
Seul Bi : tolong jangan, kamu menyakiti Woo Hyeon dan dirimu sendiri.
Seong Yeol benar-benar sudah tidak menganggap lagi Woo Hyeon sebagai keluarga bahkan temannya dan berpikiran kalau dia bisa mencuri Seul Bi darinya karena mereka tak mempunya ikatan lagi, Seul Bi tak mengerti apa yang Seong Yeol bicarakan. Seong Yeol menekankan pada Seul Bi kalau dia akan mengambil semuanya dari Woo Hyeon.
Seong Yeol : makin kau membuatku jengkel, justru membuatku semakin ingin mencurimu dari Woo Hyeon. Semuanya!
Seul Bi : Seong Yeol, tolonglah!
Seong Yeol : jadi kamu jangan bicara soal Woo Hyeon di depanku lagi. (pergi meninggalkan Seul Bi dan masuk rumah).
Seul Bi masih bengong depan rumah Seong Yeol sambil memikirkan perkataan Seong Yeol barusan.


Woo Hyeon menghiasi kedainya dengan berbagai macam balon dan pamplet bertulisakan “Happy BirthDay” entah siapa yang ulang tahun dan merayakannya di kedai Ddeokbokki Woo Hyeon, dia terlihat sangat lelah karena sudah membereskan kedai untuk acara besok.


Woo Hyeon pergi ke kamarnya dan melanjutkan lamunannya, dia kangen Halmeoni “Miss Gong tolong jangan biarkan siapapun terluka” sambil memeluk pakaian Halmeoni dan mencium aroma bau Halmeoni yang masih menempel dipakaiannya Halmeoni.


Semua murid menerima pesan dari Ye Na “aku menunggu semuanya ke pesta ulang tahunku! Datang lah ke kedai Miss Gong Ddeokbokki” Si gendut sangat gembira karena bisa makan gratis dan mengajak Da Ye Ri untuk datang, Jae Seok menghampiri Byung Hoo dan Tae Wook yang sedang membicarakan soal ganti hape “kau harus pergi, dasar kere!” mereka langsung bengong mendengar perkataan Jae Seok.
Byung Hoo : ash! Dasar kampret itu!
Tae Wook : papaku selalu bilang barang gratisan itu atk selalu buruk, ayo.. (kembali membahas hape baru).


Mama Woo Hyeon memberinya uang, namun Woo Hyeon meolaknya dan mengtakan “sudah tak umum, sama sekali tak lucu” mamanya bilang kalau dulu dia berika pada Halmeoni dan dengan alasan karena Halmeoni sekarang sudah tidak ada jadi dia berikan pada putranya langsung (Woo Hyeon).
Woo Hyeon : Halmeoni tak pernah menggunakan uang itu. Akhirnya kami pergunakan untuk membayar hutangnya papa.
Mama : kamu terlalu muda untuk bekerja. Kenapa Seul BI masih tinggal bersamamu?
Woo Hyeon : sama sekali bukan urussan anda (mengembalikan uangnnya)
Mama : yang paling kamu butuhkan saat ini adalah uang. Bagaimana kamu akn hidpu?
Woo Hyeon : kebanyakan orang akan membutuhkan cinta dan perhatian. Kebanyakan orang dewasa sepertiku. Saya tak akan pernah minta bantuan bu guru, jadi anda tak usah khawatir.
Mama : kuminta kau realistis
Woo Hyeon : mereka bilang orang bisa mengenali mamanya yang hilang dari baunya, meskipun mereka tak tahu wajah mamanya. Saya selalu khawatir tak mengenalinya, ingin tahu seperti apa mamaku, juga penasaran apa saya akan menangis atau tertawa saat bertemu mama.
Woo Hyeon meminta mamanya untuk melupakan jika Halmeoni memintanya untuk merawat putranya (Woo Hyeon) karena lebih baik dia meyakini anda berada disuatu tempat dan berdoa yang terbaik untuk putranya. Mamanya terus menangis tersedu-sedu mendengar semua perkataan putranya yang begitu menyakitkan baginya. Woo Hyeon merasakalau saat ini seperti neraka dan meminta mamanya untuk tetap menjadi mama Seong Yeol. Mamanya menahan “Woo Hyeon”
Woo Hyeon : jangan memanggilku begitu. Bahkan saat memanggil namaku saja sakit rasanya
Seul Bi ternyata melihat percakapan mereka, dia juga terlihat sediih saat melihat mereka ngobrol haru seperti itu. Mamanya memutuskan tak bisa lagi datang menemui Woo Hyeon dan harus melanjutkan sebagai mamanya Seong Yeol, walaupun sakit Woo Hyeon tetap mengatakan “jangan kemari lagi, pergilah” namun mamanya ingin memluk putranya satu kali saja. 
Woo Hyeon melepaskan tangannya dan menyuruh mamanya untuk pergi dan langsung meninggalkan mamanya yang sedang menangis di kedai sendirian. Seul Bi masih terus memperhatikan Woo Hyeon yang sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. 


Mamanya pun pergi dari kedai dalam keadaan menangis dan dia pun terus menangis di depan kedai tanpa mempedulikan takut ada orang yang mengenalinya melihat dia sedang menangis. 
Jae Seok lewat ke kedai Ddeokbokki dan terus memperhatikannya karena masih belum ada  yang datang “apa mereka sungguh akan datang?” tiba-tiba dia melihat guru etika menangis tersedu-sedu depan kedai, dia pun langsung bersembunyi dan terus memperhatikan guru etika.


Woo Hyeon membuat saus ddeokbokki sambil melamun, dia baru menyadari kalau dia sedang menyiapkan masakan eh melamunnya malah diteruskan, Seul Bi pun datang membawa celemek dan memakaikannya pada Woo Hyeon menggunakan teknik yang sama dengan Woo Hyeon saat memakaikan celemek padanya, Woo Hyeon terkejut saat Seul Bi menggunakan Teknik yang sama dengannya.
Seul Bi : makan ddan nikmati rasanya kalau kamu mau berharap yang terbaik saat merasakannya, Hakmeoni bilang begitu. Dengan wajah muram begitu kamu akan membuat masakannya sedih.
Woo Hyeon pun akhirnya tersenyum, dan Seul Bi langsung memujinya “kamu terlihat ganteng saat tersenyum” Seul Bi lanjut memotong bawang namun Woo Hyeon malah meperhatikan pergelangan tangan Seul Bi yang mulai bercahaya. Woo Hyeon pun memegang tangan Seul Bi.
Woo Hyeon : kamu harus sembunyikan pergelangan tanganmu, karena pergelangan tanganmu cantik (menutupinya dengan lengan baju Seul Bi) sekarang lenganmu jadi lebih panjang.
Seul bi terus melihat Woo Hyeon dengan tatapan penuh tanda tanya, Woo Hyeon pun langsung mengalihkan penglihatannya.


Ternyata Ye Na yang membuat acara di kedai Woo Hyeon, dia membawa semua teman kelasnya ke kedai ddeokbokki, Woo Hyeon terkejut melihat Ternyata Ye Na yang membuat acara tersebut, dengan polossnya Ye Na meminta Woo Hyeon untuk membuat masakan yang enak untuknya, namun Woo Hyeon langsung menguliurkan tangan dengan memegang uang Ye Na “akan ku kembalikan uangmu, berpestalah di tempat lain” Seul Bi dan Gi Soo bengeng dan bingung melihat ulah Woo Hyeon karena mereka tidak mau membuang kesempatan itu, Gi Soo pun menghalanginya untuk mengembalikan uang pada Ye Na “sudahlah! kau butuh uang” Seul Bi juga ikut-ikutan Gi Soo, dia mendorong Woo Hyeon dan berkata “Woo Hyeon akan memasak dengan sangat enak”.


Ye Na berterima kasih pada teman-temannya karena sudah berkenan datang dalam acaranya, Si Gendut menanyakan “kapan undiannya?” Ye Na menjawabnya “kau tak memberiku selamat? Kamu hanya tertarik apda umpannya saja (tteokbap)” karena mendengar salah ucap Gi Soo langsung menghampiri Ye Na “maksudmu hadiah? (jilbap)” dan menanyakan Young Eun “mana teman baikmu?”.
Ye Na : (dengan kaku dia menjawabnya) entahlah, aku sudah kirim sms. Mungkin dia sibuk.
Da Ye Ri : kau menyuruh kami untuk tak menghubungi Young Eun
Gi Soo sudah paham dengan apa yang Ye Na lakukan, Ye Na langsung menyuapi Da Ye Ri yang keceplosan bilang seperti itu karena dia tak mau Gi Soo dan yang lainnya mengetahuinya. Tiba-tiba Si Gendut mau menyuapi Byung Hoo di pun sudah mengulurkan tangannya, namun Tae Wook malah menertawakannya.
Tae Wook : harusnya kau lakukan ddeokbokki kiss, seperti di film-film.
Byung Hoo (haha) “bisa jadi film horor” dia memarahi Si Gendut dan memintanya untuk tidak tersenyum “jangan pernah!”.


Seul Bi membantu Woo Hyeon mengelap keringatnya, Ye Na melihat kemesraan Woo Hyeon dengan Seul Bi saat masak, dia mengeluarkan wajah yang aseeeeemmm karena dia merasa sakit saat melihat kebersamaan mereka.


Saat Seul Bi membawakan makanan untuk teman-temannya, tiba-tiba Ye Na sakit perut dan minta Seul Bi untuk menunjukkan toilet yang lain karena toilet yang ada dikedai penuh “boleh aku pake toilet diatas?” Seul Bi khawatir dengan Ye Na, Seul Bi pun mengijinkannya untuk menggunakan toilet pribadinya dan menunjukkan lokasinya “iya, dilantai dua” Ye Na langsung berlari saat mendapatkan ijin Seul Bi.


Ye Na pun masuk keruang atas dan ternyata dia tidak sakit perut dan itu hanya akal-akalannya saja agar dia bisa mengecek ruangan atas. Ye Na iri dengan kebersamaan mereka sepatu dua pasang buku dua pokonya semua yanga da di sana serba dua (semakin panas aja ye Na) Ye Na melihat-lihat setiap sudut yang ada diruangan atas. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 13 PART 2