Advertisement
Advertisement
Episode 4 Part 1
Kita mulai yaaaa kelanjutan dari episode sebelumnya,,,
 



Seul Bi berlari menghampiri senior dan berkata “Seonbae, kenapa kau menghindariku?” sementara Woo Hyun memanggil-manggil Seul Bi, Woo Hyun berlari menghampiri Seul Bi senior itupun menghilang, Seul Bi berlari lagi mencari seniornya itu ketika Woo Hyun baru menghampirinya, Seul Bi melihat seniornya di bawah jembatan dan memanggil-manggil “Sanbae! Sanbae! Tunggu sebentar!” dan menghilang lagi sewaktu Woo Hyun menghampiri Seul Bi, Woo Hyun bertanya “apa kau melihat oranng yang kau kenal ? “ingatanmu sudah kembali?” Seul Bi terus melihat kebawah tiba-tiba ia pingsan, Woo Hyun menyaarkan Seul Bi tapi tetap tak sadarkan diri.
 



Woo Hyun menggendong Seul Bi kerumah, ketika ia mau memasukan Seul BI ke kamar nenek ia mendengar neneknya sedng batuk-batuk, akhirnya Woo Hyun membawa Seul Bi ke kamarnya dan di tidurkan di kasurnya, ia meraba jidanya Seul Bi dan berkata “sudah tahu sakit, kenapa kamu malah  keluar?” Seul Bi pun sadarkan diri dan Woo Hyun mengompresnya, Seul Bi berkata “hari ini kamu seperti dokter pribadi” sambil tersenyum, Woo Hyun menyuruh Seul Bi tidur.
 



Woo Hyun pergi membeli obat untuk Seul Bi,  Woo Hyun meberikan obatnya pada Seul Bi sampai Seul Bi tertidur dan ia berkata “harusnya aku senang ingatanmu kembali” “aku benar-benar jahat” ia terus melihat Seul Bi dan berkata “jangan sakit ya Seul Bi” ia pun tidur diluar.
 


Seul Bi terbangun, ia melihat obat di depannya dan berkata “bahkan aku minum obat sekarang” ia pun langsung mengingat kejadian kemarin sewaktu mengambil kalung Woo Hyun dia heran soal besinya yang terbuka dan ia yakin “Seonbae”



Seul Bi turun ke bawah dan melihat Woo Hyun tidur di kursi, ia pun langsung menyelimutinya sambil tersenyum melihat Woo Hyun.
 



Seul Bi berada di balkon atas sedang meregangkan tangannya sambil berjemur dibawah teriknya matahari pagi, Woo Hyun datang menjemur selimut yang tadi ia kenakan dan berkata “Sudah baikan?” Seul Bi menjawab “ iya, sudah gak apa-apa” Woo Hyun mau meraba jidatnya Seul Bi untuk memastikan apa demamnya sudah turun, tapi Seul Bi menghalanginya dan berkata “tak usah, jangan taruh tanganmu di jidatku” sambil melepaskan tangan Woo Hyun, Woo Hyun mengatakan “kenapa kamu bertingkah begini di depanku?” dia mencoba untuk menendangnya dan sudah bersiap mengangkat kakinya, Seul Bi berkata “tidak! Tidak! Jangan bergerak” dia pun menurunkan kakinya 
 



Woo Hyun menunjukkan ponsel baru buat Seul Bi sambil berkata “kalau kuberi ini gimna ?” Seul Bi langsung bertanya “apaan tuh ? punyaku ?” dia menjawab ini masih belum punyamu, dia langsung naik ke atas sambil mengangkat tangannya yang sedang pegang ponsel dan berkata “kulempar saja ya?” “model terbaru loh, mau hancur aku gak peduli” Seul BI bilang sambil membuka kedua tangannya “jangan” 
 



Woo Hyun pun memberikan ponselnya pada Seul Bi, Seul Bi berkata “ini bagus banget” “beneran buat aku ? gratis kan” Woo Hyun menjawabnya “enggak lah, kalau kamu tang angkat telponku ku ambil lagi” “mana ada gratisan” Seul Bi mengatai Woo Hyun “kamu pelitnya minta ampun” Woo Hyun “pelit? Kamu pergi dan gak nelpon sama sekali” Seul Bi melihat-lihat ponsel dan kameranya sambil berkata “jadi ini kamera yang biasa dipake manusia” ia pun mencoba memotret Woo Hyun, 
 


dia menyuruh Seul Bi untuk mneghapus fotonya, Seul Bi terus memotretnya eits ponselnya di ambil Woo Hyun dia menghapus foto-fotonya karena dia gak suka difoto, Seul Bi berkata “kalau aku pergi nanati, aku mau liat lagi sebagai kenang-kenangan” Woo Hyun pun mengajak Seul Bi tuk berfoto Seul Bi tak mau senyum Woo Hyun menarik bibirnya agar dia tersenyum.


Woo Hyun bersiap-siap berangkat ke sekolah, sebelum berangkat ia tak lupa bercermin dulu dan melihat kalungnya yang sudah ditemukan dan sekarang sudah ia kenakan lagi, dia mencium kalungnya dan pergi kesekolah.


Seul Bi dan Woo Hyun berjalan menuu sekolah, Seul Bi terus memaikan ponsel barunya, Woo Hyun pun menyuruhnya untuk di taruh di tas. Seul Bi mengataka “aneh! Panggilan cepatku dari 1-10 kamu semua” Woo Hyun bertanya “kenapa?” Seul Bi menjawabnya “aku mau tambah Halmeoni, Gi Soo juga teman yang lain” ia minta bantuan Woo Hyun untuk menghausnya, Woo Hyun tidak mau malah menyuruh dia sendiri yang harus menghapusnya. Seul Bi melihat Seong Yeol yang sedang berjalan.
 


dan ia pun menghampiri Seong Yeol kemudian langsung meminta no hapenya, Woo Hyun berkata “busyet! Dia minta no cowo lain di hape yang kuberi” Ki Soo datang merangkul Woo Hyun dan bertanya “pagi-pagi ngomel apaan sih?” Ki Soo melihat Seul Bi lalu memanggilnya “ Seul Bi” sambil teriak dan langsung menghampiri Seul Bi yang sedang minta no ponselnya Seong Yeol. Ki Soo datang dan bilang “yang bling-bling ini punyamu?” Seul Bi mengangguk dan meminta no ponselnya pada Ki Soo, KI Soo “kamu mengintip nomor-ku ya, aku jadi malu” 
 




Seul Bi menaruh no Ki Soo di peringkat #10 ia meminta Seul bI menaruh nomornya dianatara 5, karena dia mau berada di posisi 5 teratas. Woo Hyun pun menghampiri mereka dan berkata “gak minta sekalian, kamu di peingkat 5 teratas” Ki Soo menjawabnya “betul sekali, kalau kau ...” mereka pun bercanda dijalanan, tiba-tiba Woo Hyun menanyakan pada Seong Yeol “panggilan cepat nomor berapa... Lee Seul Bi?” dia menjawab “apa urusanmu? Seul Bi berkata “kalian tempatkan aku di panggilan cepat ya ?” sambil tersenyum, Woo Hyun langsung bilang “kita bisa terlambat” yang lainnya pun langsung jalan.
 


Seul Bi menarik Woo Hyun karena mau terserempet mobi, ternyata yang di dalam mobil itu guru etika anak-anak yang menanyakan keadaan Woo Hyun dan membantu membangunkannya. Mereka melihat kearah mobil, Seong Yeol mengajak Seul Bi jalan duluan, Ki Soo mengajak Woo Hyun untuk jalan dan mengatakan “ayo buruan sambil dia ngomel” Woo Hyun terus melihat kedalam mobil, mereka semua pun pergi ke kelas.
 


Para murid sedang belajar dengan tenang, pelajaran pun selsai, bu guru menyuruh murid untuk membersihkan papan tulis “dan selamat siang” para murid pun bubar ada yang keluar ada juga yang masih di dalam kelas, para siswi mengajak temannya pergi makan tapi temannya gak baklan ke kantin, anak itu hanya makan sedikit coklat, mereka terus membicarakan soal makanan, dan berkata “muka kucing sekarang lagi tern” hei kalau kau punya muka kucing kau bisa mati” Si gendut pun di ajak pergi ke kantin, Seul Bi bertanya-tanya soal muka kucing dan anjing.
 


Seul Bi, Woo Hyun dan Ki Soo makan di kantin, Seul Bi berkata “saat makan adalah waktu paling membahagiakan bagi manusia” Woo Hyun juga bicara “kebahagiaan mudah datang! Hanya kamu aja” Ki Soo juga ikit-ikutan ngomongin makan “diangetin lagi, terus makan samapi kenyang baru  namanya bahagia!” Seong Yeol juga makan dikantin dan Seul Bi mengajak dia makan bareng bersamanya, 
 


Seong Yeol pun bergabung dengan mereka Woo Hyun mengatakan “jadi hilang selera makan” tiba-tiba Seul Bi bertanya “muka kucing atau muka anjing tuuh apaan?” “muka kucing lebih familiar bagi cowok ?” Woo Hyun “kenapa? Kamu mau tahu mukamu yang mana?” iya “lihat meja ini sama-sama bikin kesal” eits Woo Hyun dan Seul Bi malah berantem, Ki Soo makannya pindah Woo Hyun memanggil manggil  KI Soo mereka pun tinggal bertiga. 
 


Guru etika melihat kebersamaan mereka dari jauh. Ternyata Guru etika makan bersama perawat dan guru musik. Perawat itu mengatakan “kelas 203 lebih gaduh saat makan siang dan guru musik pun melihatnya kebelakang plus dia sebagai wali kelas mereka, dan ia pun berkata sambil makan “kau seharusnya berbagi” menurutnya “dengan berbagi, perasaan bisa ...” eits tiba-tiba makanannya muncrat dari mulut guru musik itu karena makan sambil bicara, guru etika hanya melihat keanehan mereka, perawat itu berkata “berbagi makanan maksudmu?” guru musik benar-benar minta maaf, ia memuncratkan makanannya lagi perawat itupun berkata lagi “kau benar-benar mau memutuskan hubungan” Guru musik “apa itu artinya kita ada apa-apa?” sementara guru etika mau minum dan ternyata air yang digelasya habis, tiba-tiba guru etika batuk sambil memegang dadanya, mereka mananyakan kondisinya dan berkata “aku permisi duluan” guru etika pun pergi dan membawa makanannya.



Tiba-tiba Woo Shun keluar dari kamar mandi sambili memegang perutnya dan sepertinya ia sakit perut, ia pun membuka keran di twallet, setelah itu berkata “ada apa ini?.


Nenek sedang mengelap meja dan membersihkan restorannya, Telpon pun bunyi dan nenek mengangkatnya ia menerima kabar mengenai Woo Hyun ia pun terkejut dan langsung siap-siap pergi ke rumah sakit.
 


Gguru musik pergi kerumah sakit membawa guru etika sambil memayangnya karena keadaan guru etika sangat lemas, tiba-tiab Ki Soo keluar dari taksi dan menggendong  Woo Hyun, ia membawanya kerumah sakit yang sama dengan guru etika bersama Seul Bi mereka berlari dan mendahului guru etika dengan guru musik, guru musik dan guru etika melihat mereka. 



Woo Hyun terbaring di kasur rumah sakit, tenyata guru etika dan Woo Hyun berdampingan hanya saja terhalang oleh tirai, Guru etika membuka tirai itu sedikit sambil melihat keadaan Woo Hyun yang sedang terbaring dan belum sadarkan diri dan berkata “kamu sungguh Woo Hyeon” dan tangannya mencoba menghampiri Woo Hyeon sambil terus berkata “kamu sungguh Woo Hyeon” 
 


Seul Bi Pun datang melihat guru etika yang sedang membuka tirai dari sebelah Woo Hyeon dan berkata “ Woo Hyeon mana?” Guru etika langsung menlepaskan tirai itu lalu terdiam, Seul Bi datang bersama nenek dan berkata “cucuku sayang kamu tak apa-apa?” nenek terus berkata-kata sementara Woo Hyun belum sadarkan diri juga dan berkata “kenapa alergi menurun dari wanita itu?” Seul Bi bertanya “menurun? Dari siapa?” nenek menjawabnya “mamanya Woo Hyeon tak bisa makan ikan-ikanan laut” Seul Bi mengatakan “seorang guru dari sekolah kita juga mengalami hal yang sama dengna Woo Hyeon, dia juga di RS ini” guru etika langsung bersiap-siap pergi dari kasurnya, nenek menanyakan “benarkah? Dia masih disini?” Seul Bi mengangguk dan langsung membuka tirai eits ternyata guru itu sudah tidak ada, dan ternyata guru etika itu tidak langsung pulang dia hanya bersembunyi di tirai sebelahnya lagi Seul Bi berkata “kemana dia?” guru etika meminta perawat dan pasien lainnya tidak memberitahu keberadaan dia saekarang dan ia langsung pergi sambil menutup mukanya. 



Woo Hyeon sudah sadarkan diri nenek membantunya bangun dan berkata “kalau rasanya tidak enak gak usah dimakan, gimana kamu ini?” Woo masih lemas dan bilang “aku tak apa-apa” dan langsung menanyakan kedain Ddokibboki, si nenek berkata “kamu masih mencemaskan kedai?” dan meyakinkan kondisinya Woo Hyeon kalau ia sudah tidak apa-apa Seul Bi mengatakan “aki takut setangah mati” Woo Hyeon “takut setengah mati? Justru aku yang takut” dan ia mau pergi dari rumah sakit karena ia benci bau rumah sakit.


Mereka pun pergi dari RS sambil memegang tangannya Woo Hyeon ia berada ditengah, Guru etika itu melihat dari kejauhan sambil menangis meratapinya, karena ia tidak mau ketahuan kalau dia ada di RS yang sama.
 


Terlihat foto guru etika bersama suaminya (polisi) terpajang di meja kamarnya, suaminya membawa ia ke kamar sambil menyalakan lampu kamarnya, dan mentidurkan istrinya ke atas kasur ia pun menyelimuti istrinya yang sedang sakit, dia memegang tangan istrinya, guru etika berkata “maaf sudah membuatmu takut” suaminya berkata “aku suami yang buruk” “aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang mu” istrinya berkata “salahku karena tidak memberitahumu” dan merasa kalau dia tak berhati-hati, polisi itu memintanya mengatakan suatu hal kalau ada hal lain yang harus ia ketahui dan berharap dia bisa membantunya jika istrinya jatuh sakit” guru etika bekata “sayang, kita pindah ya?” suaminya terkejut karena istrinya tiba-tiba minta pindah dan bertanya “kenapa?” “bukannya kamu suka disini karena dekat ke sekolah?” istrinya berkata “iya juga” sambil mengangguk tersenyum, suaminya menyuruh dia untuk beristirahat” dan ia pun pergi keluar..
 



Seul Bi bersama Woo Hyeon sedang tiduran di balkon atas sambil melihat langit, Seul bI berkata “helmeoni ambil nafas dalam-dalam saat beliau tahu kita mau ikut ujian 2 hari lagi” Woo Hyeon bertanya “memangnya kenapa? Orang tua ambil nafas dalam-dalam karena paru-parunya lemah” sambil melihat ke arah Seul Bi, Seul Bi mengatakan “artinya kita harus belajar” dia menjawabnya dengan lantang “hei! Aku kan baru keluar dari rumah sakit” “sudah lupa ya?” Seul Bi bertanya lagi “Selain kepiting, ada yang kamu gak boleh makan?” dia menjawabnya “kenapa” Seul Bi bilang “aku bisa membantumu menghabiskan makanannya? Sambil tersenyum “dengan begitu kamu gak akan makan makanan yang dilarang” Woo Hyun sudah menduganya kalau Seu Bi akan berbicara seperti itu, Seul Bi berkata “jangan sakit lagi, sepertinya sakit itu jelek” Woo Hyun pun hanya tersenyum, 
   
tiba-tiba Seul Bi bangun dan menanyakan dengan tegas “kamu belum ngasih tahu, aku di panggilan cepat nomor berapa?” eits dia malah berkata “kenapa juga aku harus memasukan nomormu” Seul bi berkata “dasar pelit! Badanmu sakit masuk dan belajar sono!” Woo Hyeon berteriak “aku gak dengar si otak mesum ngomel” Seul Bi berkata sambil alri kedalam “5 menit lagi masuk!, kalau tidak kau akan dimarahi!” Woo Hyeon mebuka ponselnya dan memijat tombol 1 dan ternyata yang ada di panggilan cepat ke 1 adalah Lee Seul Bi, dan berkata ke arah pintu “kamu nomor 1! Nomor 1!”
 


Seul Bi sedah berada di sekolah bersama Woo Hyeon, Seul Bi memilih minuman sambil menunjuk-nunjuknya Woo Hyeon menyuruhnya cepat memilih minuman dan berkata “satu! Dua! Tug1!” Seul Bi pun memijat 2 tombol sekaligus dan yang keluar hanyak 1, Woo Hyeon  mengambil minumannya dan mengatakan “kau pikir kalau pencet tombolnya 2 sekligus akan keluar 2 sekaligus juga?” “dasar bodoh!” ia merasa kalau Seul Bi tidak akan menyelesaikan apapun dalam hidup” Seul Bi mengecek minumannya lagi dan berkata  “lain kali kurasa aku bisa melakukannya” ia membuka membuka minumannya tapi dia tak bisa, Woo Hyeon pun membuka minumannya dan memberikannya pada Seul bi dan berkata “aku khawatir.
 


Si gendut dan Si gadis Headband turun dari tangga dan mendengarkan percakapan antara mereka, Seul Bi berkata “tingkah lakumu sopan sekali, keren banget” “akan lebih baik lagi kamu dapat peringkat” Woo Hyeon menyanggahnya “hei! Kalau aku pintar cewek-cewek gak akan pergi jauh dariku” Seul Bi berkata “oh! Pantesan cewek-cewek itu selalu memuji Seong Yeol” Woo Hyeon marah dan berkata “kenapa kau bawa-bawa Seong Yeol sih ?” si gadis headBand berkata sambil memperhatikan mereka “beneran mereka sepupu?” Si gendut angkat juga bilang “yang penting dia gak tepe-tepe pada Seong Yeol” mereka menghampiri Seul Bi dan Woo Hyeon dan berkata “kau tidak apa-apa? Aku mencemaskanmu” “kmau sudah boeh minum soda?” sambil menunjuk ke minumannya menjawab “iya”. Si Gadis Headband tiba-tiba merangkul Seul Bi dan berkata “sudah bawa Woo Hyeon kerumah sakit, maksaih banyak” “sono pergi sana” sambil mendorong Seul Bi , Si gendut berkata diam-diam “beri waktu buat mereka” dan membawanya pergi Woo Hyeon mencoba mengejarnya namun Si gadis HeadBand mencegahnya dan berkata “aku tahu masalahnya, akan seperti mengerjakan ujian” dan mengajak Woo Hyeon untuk melihatnya tapi Woo Hyeon tak menghiraukan dan ia pun langsung pergi. 
 



Anak-anak pengacau Sedang mempermainkan Cheon Ji dengan melemparkan buku-buku kepadanya dia harus bisa menangkapnya dengan masuk kedalam tas, pengacau yang 1nhya lagi menghitung unag yang akan di ambil dari dompetnya Cheon Ji, tiba-tiba Seul Bi datang dan mengkap buku yang di lempar oleh si pengacau itu, Si pengacau itu berkata “Lee Seul Bi kau kayaknya kaya” dan menawarkan untuk ikut pada Seul Bi, Woo Hyeon datang dan melihat mereka, Seul Bi berkata “ melempar ini bisa dapat uang” Seul Bi pun  melemparkannya pada si pengacau dengan sangat keras, pengacau 1 lagi yang tadi menghitung uang menghapiri Seul Bi dan berkata “kalau kau ikutan akan lebih seru” Woo Hyeon menyuruh Seul Bi membawa Cheon Ji keluar Seul Bi pun membawanya.
 



Seong Yeol menghampiri si penacau dan memasukkan uang kedalam sakunya sambil berkata “sudah hentikan, duit ini cukup buat ke klub malam” langsung pergi, eits Si pengacau marah sambil melemparkan uangnya dan berkata “kau pikir aku pengemis?”



Seul Bi membawa Cheon Ji ke taman sekolah, Tiba-tiba Cheon Ji melihat ke atas gedung Seul BI pun juga ikut-ikutan melihatnya dan berkata “kamu senang sekali ya?” Seul Bi “Soal apa?” dia menjawab “bisa tinggal bersama Woo Hyeon” Seul Bi pun melihat tingkah laku anehnya Cheon Ji yang tiba-tiba berkata seperti itu.
 




Seong Yeol menyimpan buku di lokernya, ketika dai mau menutup lokernya Si pengacau menghampiri dan menjepit tangannya Seong yeol dengan menekan pintu loker (ow sakit pastinya) dan berkata “kamu masih mengira aku pengecut?” dia menjawab “saat itu kau lebih buruk dari pengecut” “tapi kau perlu di bantu” dia pun berusaha membuka lokernya, tapi Si pengacau terus menekannya sambil berkata “kau pikir aku minta bantuanmu” “kenapa kau tak biarakan saja aku mati?” Seong Yeol mengatakan “kau benar! Seharusnya aku membiarkanmu mati” “toh kau akan selalu jadi pengecut” dia pun melepaskan tangannya dengan keras.


Ketika Si pengacau menendang loker di depannya, tiba-tiba guru olah raga datang dan berkata “hei! Jangan bergerak kau tertangkap basah” adn menyuruhnya datng menghampiri guru olah raga.
   




Seong Yeol sedang membasuh tangannya yang terluka karena terjepit tadi, Woo Hyeon datang dan menanyakan “kalian berdua ada apa?””serius banget” Seong Yeol berkata “kau mau tau apa “masih jadi mata-mata?” Woo Hyeon menjawab “mata-mata? Siapa? Aku? Kalian berdua sedang kuawasi” dan berkata “Choi Jae Seok tak pernah mengusikmu” (oh oh oh ternyata si pengecut itu namanya Choi Jae Seok) Seong yeol menjawabnya “itu karena dia tidak bisa” Woo Hyeon berkata “mau sok keren lagi?” dan melihat kearah tangannya dan bertanya “tanganmu kenapa?” Seong Yeol diam dan tidak menjawab pertanyaan Woo Hyeon, Woo Hyeon selesai cuci tangan langsung berkata “gak usah mempedulikan Lee Seul Bi, aku yang akan mengurusnya” dan akhirnya dia manjawab “bisa kulihat kau melakukannya” lalu pergi, Woo Hyeon berkata “tuh anak menyebalkan sekali” dan pergi.



Guru olah raga membawa Jae Sok ke ruang guru dan berkata “jae sok! Penting mana kamu atau loker?” dia menjawab “tiak tahu!  mau saya rusak sekalipun, toh itu uang orang tua saya” “jadi saya lebih berharga” guru olah raga mentetawakannya dan berkata “kunyik! Jangan asal ngomong kamu” sambil menepuk pundaknya dan berkata sangat keras “sekali mulutmu terbuka, nada-nadanya sengak” tiba-tiba telpon bunyi pak guru mengangkatnya.



Seon Hook datang keruangan guru, telpon satu lagi bunyi juga dia pun mengangkatnya ternyata yang nelpon presdir dan menyuruhnya mengahdap, guru olah raga pun menyuruh Seo Hook memberikan Flash Disk pada guru matematika dia pun perginuntuk memberikan Flash Disk, Jae sok bertanya “bolehkah saya pergi?” guru olah raga mengatakan “kalau kulihat kau nendang loker lagi kujahit kakimu jadi satu” dan menyuruhnya pergi.
 



Jae Sok melihat ponselnya ternyata ada message dai pun hanya membacanya dan memasukan ponsel lagi, tiba-tiba Jae Sok melihat Seon Hook sedang memasang Flash Disk yang tadi di ponselnya, Seon Hook pun pergi melewatinya dan Jae Sok pura-pura memaikan ponsel seolah-olah tidak melihatnya, dia pun mengikuti Seon Hook dan mengintip Seo Hook yang sedang melihat data yang dia pindahkan dari Flash Disk ke ponselnya. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 4 PART 2