Advertisement
Advertisement
Episode 8 Part 2.


Seul Bi sedang melihat baju hitamnya (yang dikenakan sewaktu jadi malaikat) Halmeoni masuk dan bertanya “sedang apa?” Seul Bi bilang sedang menata baju, Halmeoni malah meledeknya “baju seuprit pake ditata” lalu menghmapirinya dan mengambil sebuah buku catatan memberikan pada Seul Bi tenyata buku itu (Resep Rahasia Ddeokbokki) Halmeoni menulisnya untuk jaga-jaga kalau dia lupa, Seul Bi berterima kasih pada Halmeoni, Halmeoni memberi amanat “kamu harus memikirkan mereka yang makan kalau masak”.


Halmeoni melihat jam dinding yang telah rusak dan berkata “akan lebih bagus kalau waktu akan berhenti sekarang ini” sementara Seul Bi dan Woo hyeon sedang menyiapkan makanan dan barang-barang yana akan dibawa untuk piknik, Halmeoni mengecek apa ada barang yang ketinggaland dan semuanya sudah siap yup siap berangkat, Woo Hyeon dan Seul Bi berjalan duluan sementara Halmeoni penyakitnya kambuh lagi dan akhirnya menyusul mereka walaupun kondisinya tidak sehat.
Setiba di tempat piknik Woo Hyeon dan Seul Bi langsung bersepedaan dan Halmeoni menunggu sambil menjaga makanan yang mereka bawa, setelah selesai bersepeda mereka menghampiri Halmeoni.
Woo Hyeon : tunggu ya, aku akan dapatkan banyak uang dan memberi Halmeoni mobil convertible.
Halmeoni : Sungguh?
Woo Hyeon : aku akan berikan gaji pertamaku dan ngajak Miss Gong naik mobil pertamaku.
Halmeoni nanti akan menagihnya, Woo Hyeon mengatakan “kedengarannya kejam sekali!” (terus memperbincangkan masalah mobil dengan Halmeoni).
Seul Bi : sifat ragu Woo Hyeon menurun dari Halmeoni (terus menceritakan keraguan Woo Hyeon).
Woo Hyeon mengajaknya untuk bercanda dan menyuruh Seul Bi untuk mengejarnya, Seul Bi bilang “mampus kamu kalau tertangkap olehku! Aku sangat cepat loh!” mereka pun kejar-kejaran” sementara Halmeoni kambuh lagi penyakitnya dan berusaha memanggil mereka namun suaranya tak terdengar oleh mereka. Akhirnya mereka mendengar seruan Halmeoni dan langsung menolongnya.


Mereka membawa Halmeoni ke Rumah Sakit, Woo Hyeon dan Seul Bi cemas menunggu Halmeoni yang sedang ditangani dokter takut terjadi apa-apa dengan Halmeoni, dokter akhirnya keluar dari ruang tindakan dan menanyakan “ada orang dewasa disini ”Woo Hyeon bilang “bicara saja dengan saya, saya walinya!” dokter memberitahukan keadaan Halmeoni “kankernya sudah stadium akhir saat kontrol, penyebaran sel kankernya sudah melampaui yang diobati, kamu harus siap” Woo Hyeon dengan rasa cemas berkata “siap untuk apa? Apa yang harus kupersiapkan? (teriak)” Seul Bi menenangkannya, dokter masuk ke ruang tindakan lagi Woo Hyeon memaksa dokter untuk menyelamatkan Halmeoni, Woo Hyeon tak henti menangis namun Seul Bi tak bisa berbuat apa-apa.


Woo Hyeon masuk ke ruangan dan menemani Halmeoni yang sedang terbaring dan berkata “kamu bertingkah aneh, Miss Gong belakangan ini tingkahmu aneh. Halmeoni harusnya bilang kalau sakit! Kenapa gak bilang padaku?” akhirnya Halmeoni pun sadarkan diri Woo Hyeon menanyakan keadaan Halmeoni.
Halmeoni : aku sakit. Kamu ini ngomel mulu.
Woo Hyeon : kenapa tak bilang padaku?
Halmeoni : pasti akan membuatmu sedih. Halmeoni tak ingin kamu sedih.
Woo Hyeon : siapa yang bilang hal semacam itu, aku penjaganya Halmeoni, aku harus tahu. Halmeoni aku akan menyelamatkanmu, jadi jangan cemas ya?
Halmeoni : aku tak akan mati, antar Seul Bi pulang, kamu kan benci bau rumah sakit. Seul Bi ... pulanglah bersama Woo Hyeon.
Woo Hyeon terus menangis dan tetap mau menemani Halmeoni, Halmeoni menyuruhnya untuk mengambilkan tas dan untuk memastikan kuncinya, Woo Hyeon pun langsung berlari untuk mengambil tas Halmeoni, dan Seul Bi saja yang menemani Halmeoni saat ini.
Halmeoni : Seul Bi, tahu gak, kamu terlihat makin cantik saat tersenyum? Selalu tersenyum lah untuk Woo Hyeon, kamu mengerti?
Seul Bi mengerti perkataan Halmeoni ia pun duduk disampingnya dengan memegang tangan Halmeoni, Halmeoni bilang dia ingin tidur.


Woo Hyeon terburu-buru masuk ke kamar halmeoni, dia pun langsung mengecek tasnya Halmeoni, ketika dia mau berangkat tiba-tiba ponselnya bunyi dia menerima kabar tentang Halmeoni, Woo Hyeon langsung berlari menuju rumah sakit.


Woo Hyeon tiba di Rumah Sakit dan langsung masuk ke ruangan Halmeoni ketika ia melihat halmeoni sudah tidak berdaya (meninggal) dia langsung lemas tas yang dibawanya pun sampai terjatuh, disana ada Seul Bi dan Gi Soo. Woo Hyeon membangunkan Halmeoni dan berkata “Halmeoni bilang tak bisa hidup tanpa aku!” “aku belum bisa berbuat apa-apa untuk Halmeoni, mana bisa aku hidup seorang diri! Aku juga tak bisa hidup tanpa Halmeoni” Woo Hyeon terus mebangunkan Halmeoni, 


Seonbae pun datang menjemput Halmeoni Seul Bi melihat Halmeoni mengikuti Seonbae dan ia pun mengejar mereka. 
Seonbae : tak akan ada yang berubah meski kamu lakukan ini.
Seul Bi : tunggu, ambil Halmeoni nanti saja, kumohon.
Arwah Halmeoni : Seul Bi kau bisa melihatku? Kau seorang malaikat?
Seul Bi : Halmeoni ....
Seonbae : kita tak bisa mengubah takdir seseorang.
Seul Bi : manusia pasti akan mati. Kematian seseorang adalah kepastian, itu sebabnya aku sekarang menerima hukuman. Andai kutahu betapa sakitnya, andai aku... aku akan baik saat menyabut nyawa orang meninggal, setidaknya akan kuberikan waktu untuk mengucapkan perpisahan, aku akn beritahu mereka dengan ramah soal orang-orang yang ditinggalkan (terus memohon pada Seonbae)
Arwah Halmeoni : Kang Sae-i yang malang (melihat kejendela yang sedang menangisi jasadnya) Halmeoni benar-benar minta maaf.
Seonbae pun pergi membawa Halmeoni.


Seul Bi melihatn Black-Notenya dan dia mempunya sisa waktu 2 hari lagi dan berkata “kalau aku tak disini Woo Hyeon akan sebatang kara” dia bingung bagai mana mengatakan pada Woo Hyeon kalau dia akan pergi, tiba-tiba Woo Hyeon datang dan ternyata dia mendengar tentang Seul Bi mau pergi, Seul Bi kaget mendengar Woo Hyeon bertanya “kau akan pergi?” Seul Bi bilang kalau dia harus kembali, Woo Hyeon mengira kalau ingatan Seul Bi telah kembali karena dia belum mengetahui siapa Seul Bi yang sebenarnya dan menanyakan “kapan kamu mau pergi?”.
Seul Bi : secepatnya, maaf aku tak mengatakannya tadi.
Woo Hyeon : kalau begitu sekarang pergilah (dia semakin sedih orang-orang yang dia sayangi meninggalkannya).


Woo Hyeon sedang meratapi foto Almarhum Halmeoni sendirian, Seul Bi melihatnya dari pintu tak berani menghampirinya dan Seong Yeol pun datang menemani Woo Hyeon.


Gi Soo dan temannya sedang menjamu para tamu yang datang ke pemakaman sementara Woo Hyeon ditemani Seong Yeol di dalam, Seul Bi melihat para tamu undangan dan berpikiran kenapa manusia takut mati dan memaksakan diri tesenyum dipemakaman dan sekarang aku mengerti “mereka ingin saling memberi dukungan bagi yang berduka dan mengenang yang telah tiada, itu sebabnya jadi makin sedih” guru-guru Woo Hyeon datang ke pemakaman.


Tae Wook dan Byung Bo datang ke pemakaman, Gi Soo melihatnya dan mengatakan “kenapa kalian di kesini ? kalian tak diizinkan kesini” Seong Yeol melihat dan mendengar mereka, Tae Wook datang kesana karena papanya tak bisa hadir ke pemakaman karena ada acara tertentu, tapi ... beliau bilang pria sejati harusnya datang ke pemakaman, Seul Bi menghampiri mereka dan mempersilahkanya masuk, Sebelum masuk mereka malah saring sikut menyikut ntah kenapa. Ye Na melihat dari kejauhan. 


Mama Woo Hyeon juga datang ke pemakaman dia sedang berada di toilet terlihat kebingungan, dia pun menunju ke tempat pemakaman dia melihat suaminya, mama Woo Hyeon menanyakan “kenapa kau kesini?” papanya Seong Yeol baru datang karena Seong Yeol menelponnya “dia bilang harus ada orang dewasa yang mengurusnya” sayang kamu tak apa-apa?”
Mama Woo Hyeon : tak apa-apa, guru-guru akan datang kesini sebaiknya aku menhyambut mereka.


Tiba-tiba ada Seorang nenek bertanya “kau! Mamanya Woo Hyeon?” “sudah lama sekali ya? Kau kemana saja? Suaminya melihat dan mendengar dari kejauhan, mama Woo Hyeon bilang kalau anda salah orang (langsung peregi), tapi nenek itu yakin kalau dia mamanya Woo Hyeon.


Seong Yeol menerima telpon dari mama kandungnya “kamu ada waktu akhir pekan ini?” Seong Yeol manjawabnya “kenapa? Mama mau kencan denganku?” mamanya bilang dia mau menikah, Seong Yeol terkejut mendengar kalau mamanya mau menikah lagi mamanya sungguh ingin mendapatkan ucapan selamat dari putranya (Seong Yeol) “sekarang kamu sudah dewasa kupikir kamu akan mengerti.
Seong Yeol : aku masih punya waktu tumbuh dewasa, orang dewasa tak akan pernah memahami mama dan papa. Apa kebahagiaanmu saja yang mama pikirkan? Aku! Bagaimana denganku? Kenapa tak ada yang mempedulikanku? Kenapa harus melahirkanku? (ia langsung mematikan telponnya)


Mamanya terus memanggil Seong Yeol di telpon. Mama tirinya melihat Seong Yeol yang sedang telponan dengan mama kandungnya, Seong Yeol pun langsung pergi.


Mama tiri Seong Yeol sedang melamun dan mengingat sewaktu dia menenangkan Seong Yeol yang sedang sedih karena mama kandungnya akan menikah lagi, dia menanangkannya sambil menangis karena dia pernah mengalami hal tersebut “orang dewasa itu jahat, mereka pergi bukan karena tak sayang padamu, mereka pikir kamu akan mengerti karena kamu anaknya, begitulah adanya”.


Suaminya datang menghampiri dia dan menanyakan “kau ketemu seseorang dipemakaman?” namun istrinya tak mengakui hal itu “dia pasti slah orang.
Papa Seong Yeol : Seong Yeol dan Woo Hyeon kupikir dia berteman baik, mereka seperti pria sesungguhnya (sambil memikirkan Woo Hyeon) apa yang akan terjadi dengannya sementara papanya masih dalam perjalanan dari amerika kupikir mereka kehilangan kontak.
Papa Seong yeol mengusulkan untuk mencari mamanya Woo Hyeon, istrinya terkejut “kenapa harus kamu?” “anak-anak mungkin berakhir dengan terluka. Ditambah lagi dia mengalami masa sulit” suaminya berkata “benar... di pemakaman tadi kamu repot sekali” dia merasa lelah dan langsung tidur.


Seong Yeol masih menemani Woo Hyeon dipemakaman, Woo Hyoen terus melihat foto Halmeoni dan mengatakan “aku bahkan tak tahu Halmeoni sakit. Aku malah tanya apa dia punya pacar. Konyol!” almarhum Halmeoni datang ditemani Seonbae dan mengatakan “aku hanya memarahimu, maafkan aku harus meninggalkanmu seorang diri”
Woo Hyeon : terkadang aku sengaja dan marah dan bikim masalah, aku memang bajingan.
Almarhum Halmeoni : karenamu aku bahagia, Halmeoni tahu. Aku akan merindukan pijatanmu, aku akan rindu gurauanmu. Kang Sae-i aku akan sangat merindukanmu! Aku akan rindu belaianmu! (sambil menangis ingin memeluk Woo Hyeon).
Woo Hyeon : aku bahkan tak tahu beliau minum obat-obatan itu. Aku hanya berpikir Halmeoni akan selalu bersamaku, kupikir Halmeoni tak akan mati (sambil membentur-bentur kepalanya ke tembok)
Halmeoni : kamu bisa terluka Woo Hyeon. Hentikan. Bukan salahmu.
Seong Yeol menghalangi tembok tersebut dengan tangannya sampai Woo Hyeon kelelahan membenturkan kepalanya, Halmeoni tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mereka.


Seul Bi juga masih berada di tempat pemkaman, dia di tangga melihat Black-Notenya dan hari ini hari terakhirnya.


Seul Bi memberikan sesuatu pada Seong Yeol sambil berkata “harusnya aku berikan ini dari dulu” “sepertinya kamu menyukai musik” Seong merasakan keanehan Seul Bi, Seul Bi “ini meteor. Bisa membuat harapanmu jadi nyata” ternyata Seong Yeol juga suka mengumpulkannya. Seul Bi merasa kalau dia dan Seong Yeol mempunyai banyak perasaan. Seong Yeol bertanya “punya? Kenpa kalimat lampau?” Seul Bi berterima kasih dan dia harus pulang ketempat asalnya.
Seong Yeol : kalau aku tak mau menerimanya... kamu tak akan pergi?
Seul Bi : aku senang kamu jadi temanku, aku akan merindukanmu (sambil berjabatan tangan) kamu baik dalam segala hal jadi...


Eitsssss Seong Yeol menariknya dan memeluknya “aku sungguh tak tahu kenapa... semua orang bilang selamat tinggal padaku” tiba-tiba Woo Hyeon keluar dan melihat mereka sedang berpelukan dan langsung pergi dari penglihatannya.


Woo Hyeon pergi ke toilet, ia bercermin sambil merapikan dasinya dan lanjut mencuci tangan setelah itu dia terdiam melamunin sesuatu.


Seul Bi sedang menunggu Woo Hyeon di depan pintu toilet, akhirnya Woo Hyeon keluar dari toiletnya dan Seul Bi berkata “ Woo Hyeon, sekarang aku harus... “
Woo Hyeon : belum pergi juga? Pergi sana! (tanpa ekspresi dan langsung pergi)
Seul Bi sedih mendengar Woo Hyeon bilang seperti itu.


Woo Hyeon pergi ke makam Halmeoni, alhmarhum Halmeoni melihatnya ditemani Seonbae dan Seul bi pun juga melihatnya. Seonbae berkata “kita harus pergi”.
Halmeoni : aku bisa lihat Kang Sae-i lebih lama. Terima kasih. Seul Bi jaga diri baik-baik.
Woo Hyeon masih terus menangis dan memeluk foto Halmeoni, Halmeoni menyuruh Seul Bi untuk menemui Woo Hyeon dan memukulnya “pukul dia yang keras. Aku selalu mengajarinya untuk tidak menangis supaya dia tak menangis. Buat dia tak gampang menangis” “Seul Bi ku tinggalkan Woo Hyeon bersamamu” “kamu terlihat cantik saat tersenyum” Seul Bi mendengarkan ssemua perkataan Halmeoni, bunyi suara muncul dan Seonbae bilang “kita harus pergi sekarang” sebelum Halmeoni pergi dia pergi dia memuaskan melihat Woo Hyeon “Kang Sae-i aku mencintaimu!”Halmeoni pun pergi bersama Seonbae.


Woo Hyeon bersandar di pohon dan bilang “Halmeoni disini enak. Udaranya segar” “mereka bilang bunga-bunga mekar saat musim semi. Di musim gugur ada beranekaa ragam warna. Dingin sekali saat musim dingin?” sementara Seul Bi masih melihat kearah Halmeoni tadi berjalan, ia pun berbalik mau melihat Woo Hyeon eits ada Seonbae dihadapannya mengtakan “sudah saatnya kamu pergi”.
Seul Bi : aku belum bilang selamat tinggal.
Seonbae : perpisahan terbaik itu singkat dan cepat. Kamu hanya akan membuatnya makin sulit. Kamu sudah bersumpah demi semua orang kamu harus kembali.
Woo Hyeon masih merenung dan berkata “Halmeoni ... Seul Bi juga pergi, menyebaalkan sekali. Kurasa semua untuk kebaikan. Seul Bi pergi brrsama Seonbae tapi sebelum dia pergi mengatakan sesuatu “jaga diri bail-baik Woo Hyeon” sekarang woo Hyeon benar-benar sendiri “maafkan aku. Aku hanya teringat semua hal buruk yang telah kulakukan, bagaimana aku akan hidup sekarang?”.
Akankah Seul Bi pergi dan tak akan kembali? Tegakah Seul Bi Membiarkan Woo Hyeon hidup sendirian? SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 9 PART 1