High School Love On Episode 15 PART 1

6/12/2016

Woo Hyeon datang kerumah Seong Yeol dengan membawa tas pakaian dan dia meminta pada orang tua Seong Yeol untuk menerimanya tinggal bersama mereka meskipun menurutnya itu sangat memalukan, guru etika (mama kandung Woo Hyeon) dan keluarga lainnya terkejut mendengar keinginan Woo Hyeon, Seong Yeol pun menolak permintaan Woo Hyeon dan menganggap kalau tindakannya sudah kelewatan bahkan Seong Yeol menyuruh Woo Hyeon untuk pergi dari rumahnya, mama Woo Hyeon pun angkat bicara.
Guru etika : aku disini tidak sendirian, meskipun demi tanggung jawab Seul Bi namun ini sangat sulit, kau jangan begini (meminta Woo Hyeon untuk tidak bertingkah kekanak-kanakan).
Seong Yeol : kau dengar kan? Sekali lagi kau itu dibuang.
Papa Seong Yeol mulai memanas dan membentak anaknya “Hwang Seong Yeol!” Seong Yeol pun juga semakin kesal karena Woo Hyeon tidak pergi juga, akhirnya dia berkata “jika kau tak pergi, aku yang akan pergi” (langsung ke kamarnya). 
Mama Woo Hyeon menahan Seong Yeol namun Seong Yeol tak mempedulikannya, setelah itu dia membentaknya “Woo Hyeon, kumohon!”. Karena kesal melihat sikap istrinya papa Seong Yeol memarahinya dan membiarkan Woo Hyeon tinggal dirumahnya karena terlanjur sudah datang kerumahnya (langsung pergi keluar rumah), mama Woo Hyeon duduk lemas dan bingung apa yang harus dia lakukan, begitupun dengan Woo Hyeon dan Seul Bi merasa bingung dan tidak nyaman berada dirumah Seong Yeol.


Seong Yeol dan papanya pergi makan keluar, papa bertanya “kenapa kamu tak menceritakannya pada papa terlebih dahulu?” Seong Yeol hanya diam saja dan papanya meminta dia untuk selalu bilang kalau ada masalah, papanya merasa Seong Yeol tidak bilang karena papanya ssibuk dan tidak pernah ada waktu untuknya, dan ternyata jawaban Seong Yeol tidak seperti itu, Seong Yeol tidak bilang karena tidak ingin papanya terluka. Papa Seong Yeol pun merenung dengan perkataan putranya dan akan memikirkan untuk kedepannya (sambil terus minum beer) Seong Yeol terus memperhatikan papanya yang sangat terpukul.
Menurut papanya Beer adalah obat dikala situasi seperti itu (stress dan banyak pikiran) dan meminta maaf atas semua perbutannya sehingga menyebabkan masalah sebesar itu, ketika papanya menerima telpon dari rekan kerjanya ternyata Seong Yeol memperhatikan beer yang diminum papanya (sepertinya dia penasaran dengan rasa beer dan perkataan papanya tadi) dan akhirnya dia meminum segelas beer itu sampai meler-meler (mungkin rasanya aneh dan tidak enak) dia langsung minum air, setelah papanya beres nelpon dia baru menyadari kalau putranya minum beer dan langsung memarahinya (‘karena belum cukup umur untuk minum beer).


Mama Woo Hyeon merapikan untuk tidur Woo Hyeon di lantai  kamar Seong Yeol, setelah itu dia mengecek tas Woo Hyeon karena cuaca mau dingin dia khawatir putranya tidak membawa jacket yang tebal, tiba-tiba Woo Hyeon masuk dia melihat tasnya dibuka dan langsung menarik tasnya, dia terus memperhatikan mamanya.
Mama Woo Hyeon akan membicarakan lebih lanjut dengan suaminya dan meminta Woo Hyeon untuk tidak membuat masalah dengan Seong Yeol (keluar kamar) Woo Hyeon tidak berkata sedikitpun dia hanya bengong kebingungan.


Seul Bi masih kebingungan dengan kondisinya saat ini, dia terus mondar mandir sambil meluk bantal sampaik akhirnya ponselnya nyala dan menerima pesan dari Woo Hyeon, Woo Hyeon meminta Seul Bi untuk membuka jendelanya, Seul Bi pun membuka jendelanya, mereka saling memandang seperti lama tak berjumpa padahal tiap hari mereka saling bertemu, Seul Bi meminta Woo Hyeon untuk kembali ke kedai besok karena Seul Bi merasa bersalah gara-gara dia semuanya jadi serba salah.
Woo Hyeon malah mengejek Seul Bi, dia datang kerumah Seong Yeol hanya untuk melindungi Seul Bi, Seul Bi mengira kalau Woo Hyeon keluar karena dia merasa asing dengan tempat barunya dan Seul Bi pun berencana untuk keluar, namun Woo Hyeon melarangnya karena dia tak mau dihari pertamanya langsung diomeli dan diusir.
Seul BI tak ingin Woo Hyeon flu sendirian dan ingin menemaninya dikala sedih susah senang sakit, Woo Hyeon tersanjung dengan perhatian Seul Bi dan dia pun juga memberikan perhatian yang sama pada Seul Bi “aku gak mau kamu sakit, kalau pun sakit akulah orangnya yang harus mnerasakan sakitnya” Seul Bi menyuruhnya untuk segera masuk, namun Woo Hyeon masih menunggu Seong Yeol yang belum pulang, Seul Bi memberitahukan kalau Seong Yeol pergi dengan papanya jadi jangan khawatir. Woo Hyeon menyuruh Seul BI untuk menutup jendelanya dan pergi tidur.


Setelah ngobrol dengan Seul BI lewat jendela, Woo Hyeon melihat Seong Yeol pulang dalam keadaan mabuk bersama papanya, dia pun langsung menghapiri mereka dan mencoba membantu Seong Yeol namun Seong Yeol malah mendorong Woo Hyeon, tanpa basa-basi mereka langsung masuk rumah tapi Woo Hyeon masih melamun dan memikirkan apa yang terjadi dengan Seong Yeol.


Guru etika dan suaminya masih belum berbicara, mereka masih memikirkan persoalan yang sedang mereka hadapi saat ini dan mencari solusinya, guru etika meminta maaf pada suaminya dan berjanji akan mencari solusinya. Suaminya bilang “kamu akan membuang putra kandungmu ke jalan? Atau membiarkan mereka tinggal bersama lagi?” (tinggal berdua bersama Seul Bi). Guru etika tidak menjawab pertanyaan tersebut dia malah minta jawaban dari suaminya “terus aku haruss bagaimana?”
Suami :bagaimana bisa orang yang mempercayakan putranya padamu bisa mengetahuinya? (mengambil nafas dalam-dalam) tapi ... saat kamu membuang putramu sendiri aku takut Seong Yeol terpukul karenanya.
Mendengar perkataan suaminya guru etika tak berdaya dan tak bisa menjawab sedikitpun.


Seong Yeol tidurnya sangat berantakan tidak seperti biasanya, Woo Hyeon memakaikan selimutnya kembali, ketika Woo Hyeon menyelimutinya tiba-tiba Seong Yeol memegang kepalanya (kayak yan au dicium gitu haha) sambil bilang “siapa kau?” Woo Hyeon mencium aroma bau kencur dimulut Seong Yeol dan baru menyadari kalau Seong Yeol minum, eh ternyata benar Seong Yeol mau mencium Woo Hyeon (mungkin dia mimpi lagi mau nyium seseorang kali ya haha) Woo Hyeon langsung menahannya dan merapikan tidur Seong Yeol, tapi Woo Hyeon tidak khawatir karena tangan Seong Yeol cukup hangat. Setelah itu dia malah mengomeli Seong Yeol yang sedang tidur (sekeras apapun Seong Yeol terhadapnya Woo Hyeon massih tetap saaja peduli)
Woo Hyeon : kau tuh bajingan unyu, kalau kau seunyu ini dari dulu alangkah bagusnya. Kita jangan berantem dalam mimpi, (Woo Hyeon merasa hari ini sangat melelahkan).


Seul Bi khawatir dengan Woo Hyeon yang tidur di lantai, dia pun langsung mengirim sms “tidur di lantai pasti tidak enak kan?” Woo Hyeon pun langsung membalas smsnya “karena aku dekat denganmu tak masalah” Seul Bi tersenyum dan merasa lega saat membaca balasan dari Woo Hyeon ditambah lagi dia mendengar nyanyian Woo Hyeon yang biasa dinanyanyikan untuknya tiap malam tambah adem aja perasaan Seul Bi.
Woo Hyeon merasakan kalau Seuong Yeol tidurnya guling-guling tak karuan dan berkata “ditidurmu mimpiin aku ya?” (beuukkk) Seong Yeol melempar bantal padanya dan menyuruhnya untuk diam. 
Seul Bi senang dan berterima kasih karena Woo Hyeon sudah berada disampingnya, disamping itu Woo Hyeon menyelimuti Seong Yeol kembali karena tidurnya sangat berantakan.


Seperti biasa Woo Hyeon dan Seong Yeol kalau tidur sekamar meskipun yang satu dikasur dan yang satunya lagi di lantai pasti ujung-ujungnya jadi satu kasur dan berpelukan (sungguh mesra sekali ya haha) pas Seong Yeol terbangun dan melihat Woo Hyeon memeluknya begitu erat dia langsung mendorongnya sambil berkata “apa-apaan kamu, meluk begitu erat” Woo Hyeon menjawabnya “kamu hampir membunuhku” Woo Hyeon merasa kedinginan tidur dikamar Seong Yeol (mungkin belum terbiasa kali ya). 
Ketika Seong Yeol pergi keluar Woo Hyeon merasa kesakitan dilengannya, baru bangun aja sudah berantem apalagi nanti siang, malam, besok dan seterusnya yaaa (duh kacau).


Bagun tidur Seul Bi langsung menyiapkan sarapan dan langsung menghampiri papa Seong Yeol untuk memberi minuman penghilang rasa mabuk “ini bagus setelah anda mabuk” papa Seong Yeol ragu untuk menerima minumannya entak karena hal semalam atau apa, tapi akhirnya dia meminum ramuan Seul Bi, lepas itu dia bergegas pergi namun karena melihat sepatunya kotor dia berhenti depan pintu sejenak, ternyata Seul BI mengikuti dan memperhatikannya. Melihat sepatunya kotor Seul Bi menawarkan untuk membersihkannya namun papa Seong Yeol menolaknya “jangan repot-repot melakukannya”.
Seul Bi : merasa diterima disini saya berterima kasih, saya akan berusaha lebih giat kalau anda juga menerima Woo Hyeon, sampai nanti... (nerayu kali ya biar Woo Hyeon diterima heehe).


Woo Hyeon dan Seul Bi berangkat sekolah bareng, Seul Bi membicarakan Seong Yeol berangkat sekolah duluan namun Woo Hyeon menyuruhnya untuk tidak mengkhawatirkannya, mereka membahas soal tempat tinggal barunya dan tinggal serumah dengan mama kandung dan sodara tiri, Seul Bi merasa ribet menjadi manusia. Woo Hyeon gereget karena mendengar Seul Bi mengeluarkan kata “manusia” lagi (sambil memperhatikan disekitarnya).
Woo Hyeon tidak bisa berteman dengan Seong Yeol untuk semenatara waktu ini, namun Seul Bi memintanya untuk menjadikan Seong Yeol sodara bahkan itu akan menjadi lebih baik, begitupun dengan Woo Hyeon dia meminta Seul Bi untuk tidak berbagi sodara dengan yang lain.
Seul Bi : kamu bilang keluarga selalu ada disisimu, kamu bilang tak mau berbagi tapi kamu boleh tinggal bersama mereka.
Woo Hyeon : ku katakan kata bijak itu padamu, supaya kamu punya kenangan indah.


Seong Yeol dan papanya sarapan di sebuah cafe, ternyata papanya sudah menunggu dari tadi sampai dia kelaparan karena kelamaan nunggu putranya, Seong Yeol merasa obat yang dikatakan papanya manjur (soju) papanya bilang kalau putranya mudah mabuk bahkan dia hanya minum air putih dengan gelas bekas soju dan merasa kalau putranya punya sifat yang menurun dari mamanya.
Seong Yeol : aku tak mau menuruti sifat siappun termasuk mama dan papa.
Papanya merasa benar dengan apa yang Seong Yeol katakan, dan berharap Seong Yeol tidak menuruti sifatnya, namun Seong Yeol akan berusaha menghadapi setiap masalah dengan bijak. Papa Seong Yeol mulai membahas Woo Hyeon.
Papa : Woo Hyeon pasti punya alasan, papa tahu akan sulit tapi ayo kita berusaha hidup rukun, toh Woo Hyeon itu temanmu.
Dengan polosnya Seong Yeol bilang “dia bukan temanku” tiba-tiba papa Seong Yeol melihat Seul BI dan Woo Hyeon berangkat sekolah bersama dan mereka terlihat sangat bahagia seperti tak punya beban, papanya terus memperhatikan mereka sampai Seong Yeol juga ikut memperhatikannya.


Tae Wook berangkat sekolah sendirian, ditenngah perjalanan di melihat mobil yang sedang parkir, sekalian aja dia numpang ngaca (selagi gratis kenapa tidak! Haha) dari mulai rapihin rambut pake air ludahnya (iiii jorok) sampai pake lip gloss dia depan kaca spion mobil orang, eits selagi pake lip gloss mobilnya maju (haha) dia malah teriak-teriak “hei! Hei! Bentar lagi kelar niiiii.....” orang sangar tapi dandannya kayak cewek dia.


Wakil ketua kelas diseret keluar sama yang punya toko, dia minta gajinya yang kurang tapi yang punya toko tetap tidak mau memberikan sisanya, dia terus ngomel karena gajinya selalu kurang dari ketentuan, yang punya toko memperingatinya untuk tidak datang ke tokonya lagi jika dia tidak mau gajinya segitu (5000won, seharusnya 5210won) si pemilik toko pun langsung masuk berbeda dengan wakil ketua kelas, dia sangat sedih karena uangnya tidak kembali padahal itu hasil jerih payahnya bekerja.


Wakil ketua kelas masih berdiri depan toko dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba Tae Wook menepuk pundaknya dan bersembunyi dibelakang wakil ketua kelas, namun wakil ketua kelas tidak menyadarinya dan langssung pergi, Tae Wook pun langsung berlari mengikutinya.
Tae Wook : kamu tak bisa berpura-pura bahagia, tapi kamu bisa pura-pura terkejut? Kamu selesai kerja lebih awal hari ini? (terus aja melontarkan pertanyaan tanpa melihat wakil ketua kelas)
Tae Wook aneh wakil ketua kelas tidak menjawab atau mengomelinya seperti biasa, samapi akhirnya wakil ketua kelas berhenti dan Tae Wook pun memperhatikan mimik mukanya dan menanyakan “ada apa? Apa karena boss mu tadi?” wakil ketua kelas hanya berdiam diri, Tae Wook langsung balik arah untuk meghajar pemilik toko tadi namun Wakil ketua kelas menghalanginya (langsung pergi) Tae Wook tak membiarkannya begitu saja karena itu kesempatan emas buat dia, dia mengejarnya dan bilang akan balas dendam karena dia ahli dalam hal seperti itu, akhirnya Wakil ketua kelas pun tersenyum dan melanjutkan perjalanannya. Ditengah perjalanan Tae Wook memberikan sapu tangannya untuk mengelap air mata yang bergelimang dimatanya (cie cie Tae Wook romantis hehe).


Pelajaran etika pun dimulai semua murid tidak ada yang ngobrol main ponsel dan kegiatan yang lainnya, semuanya fokus memperhatikan materi guru etika, eits Jae Seok malah asyik mainan ponselnya dia mengeirim pesan “Yo Han, Chun Shik, bilang kalau kalian baik-baik ssaja atau tidak” pada Tae Wook dan Byung Hoo, setelah membaca smsnya Byung Hoo langsung melemparkan ponselnya Si Gendut pun terkejut dan takut ketahuan guru etika kalau Byung Hoo mainin ponselnya, berbeda dengan Byung Hoo dia langsung merespon perintah Jae Seok.
Jae Seok kesal karena Byung Hoo tidak merespon sedikitpun, akhirnya dia mulai mengetik sms lagi untuk Byung Hoo, ketika jae Seok menulis pesan guru etika menghampirinya dan mengambil ponsel Jae Seok sambil memperingatkannya lagi “tidak boleh menggunakan hp saat pelajaran berlangsung, kau tahu kan?” dengan pedenya Jae Seok mengatakan.
Jae Seok : ambil saja, ssaya bisa beli hp lagi yang baru.
Guru etika kesal dan menyuruhnya untuk membuka gerai hp mulai sekarang, semua murid mentertawakan Jae Seok, guru etika pun kembali ke mejanya dan menyuruh para murid untuk mengumpulkan tugasnya.


Tiba-tiba Jae Seok menanyakan soal Seong Yeol tinggal bersama guru etika, bu guru kaget karena Jae Seok mengetahui soal itu, begitupun dengan para murid yang lain mereka sangat terkejut mendengar semua itu “Seul Bi juga tinggal bersama Seong Yeol, benarkan?”
Guru etika : bagaimana kau rajin belajar dengan rasa ingin tahu seperti itu?
Murid : seong Yeol dengan anda punya hubungan apa?
Guru etika : dia putraku! (langsung keluar kelas)
Semua murid terkejut mendengar kenyataan kalau Seong Yeol putra guru etika (guru killer) Seong Yeol langsung mengajak Jae Seok untuk mengikutinya, para murid laki-laki mengikuti mereka.


Para murid perempuan mengira kalau Seul Bi telah berbuat sesuatu sehingga dia bisa tinggal bersama guru etika danSeong Yeol.
Ye Na : tinggal dengan cowok keren apa itu keahlianmu?
Seul Bi : Tidur berssama sama seperti tinggal bersama, bukan seperti yang kalian kira, itu semua ada alasannya. (keluar kelas)
Ye Na terus ngomel-ngomel sendirian tanpa memperhatikan benar atau tidaknya apa yang dia bicarakan, Young Eun menertawakannya dan menyuruh Ye Na untuk diam “tutup mulutmu, atau akan kuhajar kau!” Ye Na mencoba menjelaskan kenapa dia ngomel-ngomel, namun Young Eun tidak mengijinkan Ye Na untuk bicara dengannya, Ye Na mencari jalan untuk membuat Young Eun tunduk.
Ye Na : aku tahu kau sedih karena Seong Yeol, kenapa kau marah padaku? Seharusnya kau marah pada Seul Bi. Bukankah itu yang aseharusnya ku lakukan supaya kau dekat dengan Seong Yeol?
Young Eun hanya menertawakan ocehan Ye Na dan mengungkit cara Ye Na untuk mendapakan Woo Hyeon dan menyuruhnya untuk bercermin diri, Ye Na mulai kesal dengan perkataan Young Eun sampai-sampai dia menyiram muka Young Eun dengan air minumnya.


Seong Yeol membawa Jae Seok ke atas gedung sekolah, Jae Seok menanyakan “Guru etika itu mama kandung atau mama barumu?” Seong Yeol tak menjawab apapun, Jae Seok pun mulai merasa kalau perkataannya menyakiti Seong Yeo, akhirnya Seong Yeol angkat bicara.
Seong Yeol : bagus! (Jae Seok kaget dengan jawabannya)
Seong Yeol : mulai sekarang teruslah ngoceh seperti tadi, berat bagiku membicarakan mereka (pergi meninggalkan Jae Seok).


Da Ye Ri mengembalikan kembali barang pemberian Ye Na dan menyuruhnya jangan Sok peduli lagi padanya, ternyata dari tadi Ye Na menangis sendirin di taman tanpa ada yang menemaninya.
Ye Na : kau harus tetap ikut audisi kalau kau ingin jadi penyanyi, apa yang kau lakukan di temaoy karaoke itu? 
Da Ye Ru : kau gak perlu tahu
Ye Na : kau tahu kalau aku gak bisa jaga rahasia.
Tiba-tiba Young Eun datang “kau gak gunakan uang untuk mengancam karena kau tak punya teman” Da Ye Ri menghampiri Young Eun dan memberitahunya semenjak dekat Ye Na dia memngalami banyak kesulitan.
Young Eun : kalau aku diancam, passti kau sudah melakukan sesuatu hingga bisa diancam, lebih cocok denganmu daripda jadi penyanyi (pergi meninggalkan mereka)
Da Ye Ri mulai kesal dengan perkataan Young Eun, Tak lama dari Young Eun, Da Ye Ri juga pergi meninggalkan Ye Na, sementara Ye Na masih menangis sendirian.


Seul Bi menghampiri Ye Na yang sedang menangis sendirian, Seul Bi mencoba menenangkannya namun Ye Na salah paham duluan (karena dia selalu berfikiran negatif pada Seul BI) Seul BI memberitahunya kalau Young Eun mencarinya karena dia mengkhawatirkan Ye Na, Seul Bi juga menjelaskan soal Ye Na mendorongnya waktu di tangga dan Seul Bi mengetahui maksud Ye Na karena dia ingin dekat lagi dengan Young Eun.
Ye Na mencoba menjelaskan kejadian waktu itu namun keburu Seul Bi melihat air mata ye Na bercucuran dan berkata “matamu berkeringta” sambil mengussap air mata Ye Na.
Seul Bi : air mata manusia begitu hangat
Ye Na nangisnya makin kencang, karena dia merasa kalau perkataan Seul Bi hanya mengejeknya.


Jae Seok menghampiri Da ye Ri di dekat tangga, dia menanyakan ajussi yang waktu malam-malam keluar dari klub, Da Ye Ri memberitahunya kalau ajussi yang waktu manager agensinya dan dia juga menyalahkan Jae Seok karena gara-garanya audisi dia berantakan.
Dengan sombongnya Jae Seok bilang kalau dia bisa memberinya agensi yang lebih baik tapi Da Ye Ri salah paham dengan maksud Jae Seok, padahal Jae Seok benar-benar ingin membantunya menjadi penyanyi, Da Ye Ri merasa kalau dirinya direndahkan oleh Jae Seok.
Da Ye Ri : kau yang tak punya mimpi lebih menyedihkan dariku (pergi dengan menabrak bahu Jae Seok).
Jae Seok kecewa karena diperlakukan seperti itu oleh Da Ye Ri (orang yang dia sukai).


Woo Hyeon pergi keruang kesehatan dan dia konsultasi masalah kesehatannya karena punggung sebelah kirinya merasa sakit belakangan ini, guru kesehatan sudah memberinya obat dan tak lupa menasehatinya untk berhati-hati dengan tangan kirinya karena masih cidera kalau sakit yang lebih parah dia menyarankan untuk pergi di rontgen ke RS, Woo Hyeon pun berterima kasih karena sudah dibveri obat dan dinasehatinya. Tiba-tiba guru ksesehatan mengahmpirinya untuk bertanya soal Guru etika yang sudah terungkap mamanya Seong Yeol,
Guru kesehatan keasyikan membahas tentang guru etika dan Seong Yeol, dia juga sudah mengetahui kalau guru etika itu adalah mama tirinya Seong Yeol, karena Woo Hyeon mulai kesal dengan pembahasan guru kesehatan akhirnya dia melontarkan pertanyaan “apa bedanya mama tiri dan mama kandung?” setelah itu dia langsung pergi tanpa mendengar penjelasan dari guru kesehatan, guru kesehatan merasa bersalah karena gara-garanya Woo Hyeon jadi bersikap dingin seperti itu.


Pak Kim pergi ke toko tempat wakil ketua kelas kerja paruh waktu, ketika pak Kim membayar belanjaannya dia terus memperhatikan yang punya toko tersebut, karena pemilik toko itu aneh dengan sikap Pak Kim yang masih ebrdiri dihadapannya akhirnya dia menanyakan “apa ada yang kau butuhkan lagi?” pak Kim pun langsung ke tujuan utamanya datang ke toko tersebut. 
Pak Kim minta uang sebesar 31.000 won untuk gaji muridnya yang belum dibayar full, pemilik toko pun kaget namun berbeda dengan Pak Kim, dia terus memperhatikan cctv yang ada di toko itu dan menayakan kalau cctvnya masih berjalan dengan baik atau tidak.
Pak Kim : meskipun mereka seorang siswa, kalau mereka kehilangan uang hasil jerih payahnya, kau pikir mereka akan merasa senang? Apa aku perlu aku melaporkan ke depnaker?
Pemilik toko : kau siapa (ketakutan benar dilaporkan)
Pak Kim membeberkan peraturan pemberian gaji untuk sisa yang kerja paruh waktu sambil menujkuk pada kamera cctv karena percakapan mereka terekam full oleh cctv, karena ketakutan akhirnya pemilik toko memberikan sisa gaji Joo Ah (wakil ketua kelas), pak Kim akan meberikan gaji Joo Ah yang seutuhnya, pak Kim memperingati pemilik toko untuk mempekerjakan muridnya dengan baik dan dengan gaji yang sesuai peraturan.


Woo Hyeon dan Seul Bi pulang sekolah bareng, Seul Bi merasa kalau manusia dilahirkan untuk saling melukai, setelah mendengar perkataan Seul Bi, Woo Hyeon langsung berhenti dan berkata “luka?”
Seul Bi : keringan yang keluar dari mata manusia terasa hangat, karena manusia itu hangat kan?
Tiba-tiba Seong Yeol melihatnya percakapan mereka dari kejauhan, Woo Hyeon menjelaskan pada Seul BI kalau keringat yang keluar dari mata memang hangat dan kalau air mata yang keluar dingin, berarti itu makin sedih, Seul Bi mengakui kalau Woo Hyeon memang hebat dan mengetahui semuanya.
Seong Yeol pun gak tahan dengan kedekatan mereka sampai akhinya dia menghampiri mereka sambil berkata “ini bukan iklan lho!” Seul Bi meminta Seong Yeol untuk tidak memberitahu guru etika kalau dia akan membantu dulu di kedai, Seong Yeol merasa kalau Seul Bi berbohong dengan alasan membantu di kedai, Woo Hyeon pun menyuruh Seul Bi pulang kalau benar Seul Bi tidak dijinkan keluar selain sekolah.
Tapi Seul Bi khawatir kalau Woo Hyeon tidak bisa melakukannya sendirian, Woo Hyeon menyuruh Seul BI untuk tidak khawatir akrena ada Gi Soo dan Chun Shik yang membantunya di kedai dan meminta Seong Yeol untuk berhati-hati pulang bersama Seul Bi, setelah mereka pulang Woo Hyeon berkata “akulah yang membatmu terluka”.


Seul Bi dan Seong Yeol berjalan begitu dingin tanpa ada percakapan sedikitpun, Seul Bi sangat kesal dan tetap ingin membantu Woo Hyeon di kedai akhirnya Seul Bi mencari alasan agar bisa membantu Woo Hyeon di kedai,
Seul Bi : aku harus pergi ke toko buku, ada buku yang harus kubeli tadi aku kelupaan,
Seong Yeol :iya, kita bisa pergi bersama.
Namun Seul Bi menolaknya untuk pergi bersama dengan alsan dia bisa melakukannya sendiri dan akan segera kembali, tanpa mendengar diijinkan atau tidak Seul Bi langsung berlari, Seong Yeol sudah tau makssud dari Seul Bi itu.


Tae Wook pergi ke toko Joo Ah dulu kerja paruh waktu, dia mengacak-ngacak makan yang ada di toko sampai-sampai dia menumpahkan mie ramen di toko itu (parah kan?), Tae Wook pun akhirnya ke kasir untuk membayar ramen yang telah dibelinya tadi, dia membayarnya dengan lempengan koin sampai si pemilik toko mengulurkan tangannya seperti pengemis, si pemilik toko sangat kesal dengan ulah Tae Wook, namun sebaliknya dengan Tae Wook, dia sangat senang telah memberi pelajaran si pemilik toko itu.


Suami guru etika marah karena istrinya meminjam uang untuk menyelamatkan kedai Woo Hyeon tanpa sepengetahuannya, guru etika bilang kalau dia akan membayar bunga dan angsurannya dengan gajinya sendiri tanpa minta pda suaminya, suaminya semakin marah karena bukan uang yang ingin dia bahas tapi setidaknya dia di hargai sebagai kepala keluarga dan ingin ada pemberitahuan terlebih dahulu kalu ada maslah apapun.
Guru etika : aku tak bisa cari cara lain, aku tak bisa membicarakan ini denganmu, aku begitu malu bahkan hanya untuk bertanya.
Suami : bagaimana mungki aku tahu, apa lagi yang kau sembunyikan dariku? (langsung pergi)
Guru etika menahannya dan meminta maaf atas semuanya, namun suaminya tidak lagi mepercayai omongan istrinya yang selalu berbohong, tiba-tiba Seong Yeol pulang dan melihat pertengkaran orang tuanya. Saat papa Seong Yeol pergi dia berpapasan dengan putranya namun mereka tak melakukan percakapan sedikitpun bahkan saling menyapa pun tidak.


Seong Yeol kaget mendengar kalo guru etika membantu kedainya Woo Hyeon tanpa sepengetahuan dia dan papanya, guru etika mencobva mengungkit hal yang lalu tentang Seong yeol yang berusaha membantu mempertahankan kedai Woo Hyeon, Seong Yeol merasa saat ini dan dulu sudah berbeda.
Seong Yeol : uang papa hasil kerja siang malam dan susah payang mengumpulaknannya.
Guru etika : itu bukan uang papamu, saat hidup berpisah dengan anakku, aku kumpulkan dan kurabung dengan susah payah, berharap bisa untuk membeli rumah kecil.
Seong Yeol : pada akhirnya anda berpikiran membuangku dan ayah, untuk tinggal bersama putramu, saat memikirkan hal itu kenapa anda bilang kalau aku putra anda?
Guru etika membentaknya “karena kau juga putraku!” Seong Yeol merasa kalau Woo Hyeon adalah putra kandiung guru etika akan dia ungkap, gure etika tak berdaya lagi untuk menhan ulah putra tirinya, bahkan dia mengijinkan Seong Yeol menngungkap identitasnya sebagai iu kandung Woo Hyeon agar dia bissa tenang melihat putranya tanpa canggung, Seong yeol menjadi berkaca-kaca saat mendengar perkataan mama tirinya. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 15 PART 2

Artikel Terkait

Previous
Next Post »