Advertisement
Advertisement

Saat Woo Hyeon melihat sinar dari rumah Seong Yeol dia langsung berlari sambil menahan rasa sakitnya, Woo Hyeon langsung menarik Jae Seok dan menghajarnya dengan keras karena berusaha membuat Seul Bi menghilang (dalam bahaya), Woo Hyeon terus memplototi Jae Seok sampai Jae Seok pergi, setelah itu Woo Hyeon langsung menyadarkan Seul Bi dan berteriak-teriak memanggil Seong Yeol. 
Seong Yeol sangat tidak berdaya tidak bisa berbuat apa-apa karena lemas menahan rasa sakitnya, akhirnya Seong Yeol bisa membuka pintu dan Woo Hyeon pun langsung masuk, saat masuk Woo Hyeon kaget melihat Seong Yeol yang tiidak berdaya, dia bingung siapa dulu yang harus dia urus Seul Bi atau Seong Yeol.


Setelah Seul BI sadarkan diri mereka langsung membawa Seong Yeol kerumah sakit, Woo Hyeon meyakinkan keadaan Seul BI kalau dia benar-benar sudah tidak apa-apa.
Woo Hyeon : kunyuk ini pasti tertidur untuk jam tidur yang dia lewatkan, lama betul dia tertidur.
Seul BI tidak mengatakan apa-apa hanya melihat Seong Yeol yang sedang berbaring tertidur entah apa yang SeonG Yeol rasakan saat ini. Di tidurnya Seong Yeol terbayangkan saat-saat kebersamaan dengan Seul Bi dan Woo Hyeon yang begitu akur, main air bersama, pergi ke sauna bersama, bercanda bersama, main basket, berenang menyelamatkan Woo Hyeon yang tak bissa berenang, saat kebersamaan mulai terjalian semuanya terbayangkan.


Seong Yeol alhirnya sadarkan diri, Woo Hyeon pun benar-benar meyakinkan Seong Yeol yang sudah sadarkan diri, Seong Yeol belum bisa bicara dia hanya melihat ke sekelilingnya. Di samping itu guru etika sedang mencari ruangan dimana Seong yeol dirawat, dia begitu panik takut terjadi apa-apa dengan Seong Yeol, aakhirnya guru etika menemukan Seong Yeol.
Guru etika : Hwang Seong Yeol, kau baik-baik saja?
Seong Yeol pun duduk meyakinkan mama dan yang lainnya kalau dia sudah tidak apa-apa, guru etika ngomelin Seong Yeol karena dia tidak memberitahunya kalau sakit dan terjadi apa-apa, Seong Yeol melihat guru etika tidak menggunakan sepatu dimalam-malam begini dan sedang musim dingin, karena begitu khawatirnya guru etika tidak sempat memperhatikan dirinya yang dia pikirkan hanya Seong Yeol takut kenapa-kenapa.
Guru etika terus menanyakan keadaan Seong Yeol dan akhirnya Seong Yeol mengangguk kalau dirinya sudah baik-baik saja, guru etika sangat berterima kassih pada Woo Hyeon karena sudah membawa Seong Yeol ke rumah sakit, Woo Hyeon juga melihat guru etika keluar tanpa menggunakan separu, Seul Bi begitu terharu  melihat ke khawatiran guru etika terhadap Seong Yeol.
Seul Bi : bagi manusia mama adalah orang yang merasakan sakitmu, yang pertama tertawa untukmu dan yang pertama menangis untukmu. Kalau kamu punya mama artinya semua akan baik-baik saja.


Woo Hyeon membuka sepatunya dan diberikan pada guru etika agar tidak kedinginan, guru etika menolaknya karena takut Woo Hyeon yang kedinginan, dia tidak sempat memakai separu karena pikirannya sedang kacau dan terus menolak perhatian Woo Hyeon namun Woo Hyeon memakaikan sepatunya pada kaki guru etika, guru etika haru melilah putranya rela melakukan hal seperti ini padanya.
Woo Hyeon : bu guru, syukurlah anda orang yang baik.
Guru etika menangis mendengar perkataan putranya yang sangat menyentuh, tiba-tiba Seul Bi dan Seong Yeol keluar dari ruangan dan melihat percakapan antara bu guru ddan Woo Hyeon, Seong Yeol terlihat merasa bersalah atas semua yang telah dilakukannya.


Papa menemani Seong Yeol istirahat, dia tidak ingin putranya sakit dan merasa kalau bisa digantikan mending dirinya yang menahan rasa sakit itu.
Papa : Seong Yeol, hentikanlah. Ayo bangun, papa juga sendirian nak!.
Papa menangis setelah mengatakan beberapa hal pada Seong Yeol, sebelum keluar dari kamar Seong Yeol papa menyelimuti Seong Yeol agar tidak kedinginan saat tidur. Ternyata Seong Yeol belum tertidur pulas, dia mendengar semua perkataan papanya, setelah papnya keluar dia meneteskan air mata karena sedih mendengar perkataan dan permintaan papanya.


Seong Yeol massuk ke kamar papanya kemudian duduk sambil melihat poto papa dan guru etika yang dulu sangat bahagia tanpa banyak permasalahan seperti sekarang, tiba-tiba Seong Yeol melihat amplop coklat di laci papanya, Seong Yeol pun membuka isi amplop tersebut dan ternyata isinya adalah berkas “permohonan cerai” Seong Yeol tidak menyangka kalau papanya akan bertindak sejauh ini, padahal sekarang Seong Yeol sudah mulai berubah dan menerima guru etika.
Seul Bi lewat dan memberitahunya untuk banyak istirahat, dia melihat berkas ynag di pegang Seong Yeol, dia terkejut melihat isinya “apa itu ? bercerai?” Seong Yeol langsung memasukan kembali ke dalam laci papanya.
Seul BI : bu guru dan Ajussi mau bercerai?
Seong Yeol : kurasa gara-gara aku!
Seul BI : mereka begitu serasi. Kulihat di drama tapi mereka bilang kertas ini tak mempunyai kekuatan seperti cinta
Seong Yeol mulai yakin dengan apa yang Seul Bi lihat dalam drama, Seul Bi pun juga meyakinkannya dan akan mencari tahu lebih lanjut tentang masalah perceraian.
Seong Yeol : tapi kenapa kamu gak pergi padahal aku sudah mengusirmu.
Seul BI : aku ingin melihatmu tersenyum sebelum aku pergi, jadi hingga sakitmu sembuh, aku akan berada disampingmu. Kalau kamu ingin aku cepat pergi, kamu harus cepat sembuh. Kita akan cari jalan supaya kita semua bisa bahagia bersama, krena yang paling pintar kan kamu (Seong Yeol mulai tersenyum dengan perkataan Seul BI) dan itu juga hal yang paling inin Woo Hyeon dan aku lihat.
Seong Yeol mulai merenungi apa yang Seul BI dan Woo Hyeon unginkan selama ini dari dirinya, tak ada rasa dendam atau benci terhadap dirinya yang Woo Hyeon rasakan hanya kebahagiaan yang yang mereka inginkan.


Woo Hyeon menemui Jae Seok ditaman untuk menanyakan kejadian semalam yang Jae Seok lakukan terhadap Seul Bi “itukah yang kau inginkan? Seul Bi menghilang? Benarkan?” Jae Seok merasa kalau kekacauan yang menimpanya selama ini gara-gara keberadaan Seul Bi jadi dia melakukan semua itu pada Seul BI.
Woo Hyeon : kenapa kau tidak tahu bagaimana berteman dan merebut simpati teman adalah salahnya Seul Bi?
Jae Seok : aku gak butuh teman (dengan sombongnay berkata seperti itu)
Woo Hyeon : kutu kupret yang demen banget ngurusin masalah orang lain, kau tak butuh teman? Meskipun kau mengganggu anak-anak, memanganya itu bukan ingin berteman namanya?
Jae Seok : tidak (merasa takut tidak ada yang menemaninya)
Woo Hyeon : tidak ? kalau begitu hidupalah seorang diri begitu seumur hidupmu. Makan tak ada seorang pun yang tertarik menyukaimu. Seul Bi khawatir kau juga akan terluka, makanya aku menyuruhmu menjaga Seul BI, aku sungguh-sungguh minta tolong padamu!
Jae Seok mulai merenungi kesalahannya selama ini dan apa yang Woo Hyeon inginkan untuk Seul Bi, Woo Hyeon sempat terhenti dan memberitahu satu hal penting pada Jae Seok “kalau tak ada Seul Bi pun, kau akan sendirian selamanya!”.


Seong Yeol dan Seul Bi sedang menunggu Woo Hyeon di tangga, mereka tidak berbicara sedikitpun padahal keadaan mereka sudah membaik tidak bermusuhan lagi, Woo Hyeon pun akhirnya datang dengan malu-malu dia menanyakan keadaan Seong Yeol “kau tidka apa-apa?”
Seong Yeol : aku datang karena sudah baikan.
Woo Hyeon : susah payah menyelamatkanmu, ngomong sopan dikit susahnya?
Woo Hyeon langsung menarik Seul Bi agar tidak dekat-dekat dengan Seong Yeol, Seul Bi tidak ingin ditarik-tarik Woo Hyeon tanpa alasan dan mengira kalau mereka berantem lagi, Seong Yeol menilai kelakuan Woo Hyeon yang masih kekanak-kanakan.
Woo Hyeon : kalau kau baru kekanak-kanakan, mana yang mau denganmu (sambil menunjuknya)
Seong Yeol menarik tangannya sampai Woo Hyeon kesakitan, Seul BI senang melihat mereka bisa akur kembali, Woo Hyeon mengeluarkan syal kuning dan memakainkannya pada Seong Yeol dan sekarang mereka memakai Syal itu, kebersamaan pun mulai terasa indah.
Woo Hyeon : saat semua orang mengenakannya, harusnya kau lebih peka dikit ngikutin tren (Seong Yeol hanya terdiam sambil melihat Woo Hyeon yang memakaikan syalnya begitu kencang). Kuikat kuat-kuat, kau pasti tak akan bisa melepaskannya.
Saat Seong Yeol terus memperhatikan pergelangan tangannya yang sekarang sudah memakai syal kuning Seul Bi juga memperhatikan sikap Seong Yeol sekarang ini. Seong Yeol memberitahukan kalau papa dan guru etika akan bercerai apda Woo Hyeon, Woo Hyeon kaget medengar semua itu.
Seong Yeol : aku akan yakinkan papa, kau cobalah yakinkan bu guru.
Woo Hyeon : bukankah itu yang kau inginkan? (Seul Bi marah dan langsung mencubitnya keras-keras).
Woo hyeon bercanda kalau dirinya kan melaporka Seong yeol dan Seul Bi ke kantor polisi, mereka asyik bercanda, Seong yeol meminta tolong padanya agar mengkondisikan guru etika, Woo Hyeon ingin Seong Yeol minta tolong dengan caranya yang sopan, lembut dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, ketiak dai mcontohkannya Seong Yeol malah pergi (lucu banget saat Woo Hyeon memepragakannya hihi) Woo Hyeon teriak-teriak saat Seong yeol sudah menghilang.


Di kelas anak-anak pada sibu masing-masing dengan dunianya, Ye Na dan Gi So merasa kehilangan Young Eun karena dia dirumah sakit menemani adiknya yang sedang sakit, beda lagi dengan Woo Hyeon dan Seul Bi yang sedang asyik bertatapan, Seong Yeol kesal dengan kedekatan mereka sampai dia berusaha melepaskan syal di tangannya, semua itu terhenti karena Woo Hyeon dan Seul Bi mengawasinya sambil memplototi Seong Yeol, Seul BI tersenyum karena melihat Seong Yeol tidak jdi melepaskannya sambil tersenyum.
Da Ye Ri memperhatikan Jae Seok yang tidak biasanya, dia terlihat sangat kacau dan tidak mempunyai semangat apapun, saat Jae Seok melihatnya DA Ye Ri pun langsung mengalihkan pandangannya.


Saat guru etika keluar dari kelas tiba-tiba berpapasan dengan Seong Yeol, guur etika pun menanyakan keadaan putranya “bagaimana keadaanmu?” Seong yeol sudah merasa baikan.
Gur etika : kalau kamu ssakit telpon saja, jangan ditahan seperti kemarin malam.
Seonhg yeol : papa tidak menelpon atau meminta maaf duluan? Beliau cepat marah, jadi suka bilang yang tidak-tidak kalau sedang marah, jadi bu guru tidak apa kalau anda yang menelpon papa duluan.
Setelah usahanya membujuk guru etika Seong yeol langsung pergi, guru etika heran dengan perubahan Seong yeol yang begitu drastis.


Saat pelajaran olah raga selesai pak Han memberitahu anak-anak kalau mereka sekarang mempunya sedikit waktu luang, tiba-tiba pak Han melihat tangan anak-anak memakain syal kuning, dia terkejut “hei apa-apaan? Apa kalian protes bersama? Ayo lepaskan!” anak-anak tiadka ada yang mau membukanya sampai membuat pak Han kesal, pak Han pun memanggil Seul Bi untuk kedepan, saat Seul Bi mau maju Woo Hyeon menahannya dan Woo Hyeon lah yang maju menghampiri pak Han sambil merayu pak Han untuk memakai syal yang sama.
Woo Hyeon : apk ini tren fashion terbaru! Kita adalah satu, semacam itu (Pak Han merasa kalau dirinya ketinggalan tren haha bisa aja dibohongi). Kami hanya lakukan ini khusus untuk anda jadi jangan dihilangkan.
Pak Han : benarkah? Aku tuh selalu ngikutin tren tapi kenapa aku tak tahu yang ini? Kapan tern ini mulai tenar?
Woo Hyeon : (mengalihkan pembicaraan pak Han) kami sangat mencintaimu, pak aku mencintaimu (sambil memeluk pak Han)
Pak Han merasa senang bingung aneh, perasaan pak Han begitu campur aduk saat itu, dia pun juga mengatakan bahwa mencintai semua murid-muridnya “kita adalah satu!”


Di waktu luang mereka membahas untuk mengumpulkan dana demi membantu adiknay Young Eun yang sedang di rawat di RS, saat Seong Yeol lewat Woo Hyeon langsung menghampirinya.
Woo hyeon : kau lupa yang kau minta tadi dengan tangan kosong?
Seong Yeol : kau masih akan sama seperti itu
Woo Hyeon pun akhirnya mengajak Seong yeol membahas penggalanagn dana untuk adik Young Eun.
Gi Soo : kalau mereka  masih belum bisa menyiapkan dana untuk operasi, anak kecil itu tidak akan terselamatkan.
Seul Bi : kita harus bantu
Ye Na : aku bisa bantu!
Tae Wook : aku ada 3ribu, ini bahkan tidka cukup untuk bayar taksi apalagi buat biaya operasi
Woo Hyeon : Hei ada cara agar kita bisa menggunakannya, aku akan cari caranya (sambil merangkul Seong Yeol).
Seong yeol tidak tau apa-apa dengan apa yang Woo Hyeon inginkan darinya, Woo Hyeon meyakinkan kalau SeonG yeol akan melakukannya untuk Young Eun, Saat Seul Bi melihat ke atas dia melihat Jae Seok yang memperhatikan rencana mereka untuk menggalang dana.


Ketika Jae Seok mau turun tiba-tiba Da Ye Ri datang menghampirinya dengan membawa Syal kuning yang dia sembunyikan.
Da Ye Ri : jadi kenapa kau tak hidup dengan sedikit berbaik hati? Kau hanya mengganggu orang tanpa alasan. Lihat seperti apa dirimu sekarang?
Jae Seok tidak menghiraukan perkataan Da Ye Ri dan pergi, Da Ye Ri menahannya san memakaikan syal kuning pada tangan Jae Seok seperti anak-anak yang lain.
Da Ye Ri : kalau kau takut karena berbeda dari orang lain maka kau bisa gabung dengan mereka (menepuk dada Jae Seok).
Jae Sok : Hei! Aku berbeda apanya? (Da Ye Ri tak menghiarukannya)


Saat Da YE Ri sudah pergi, Seul BI menghampiri Jae Seok dan memberitahunya kalau dia tidak akan berbeda lagi sekarang.
Seul Bi : cara terbaik berhenti menjadi peneyndiri adalah beradalah disamping seseorang. Dengan begitu kau bisa merasakan tak sendirian dan kau salah satu dari kami.
Seul Bi mengajak Jae Seok untuk tos lima, Jae Seok hanya berdiam diri tanpa bicara sedikitpun, dan sepertinya Jae Seok mulai luluh dengan perkataan-perkataan Da Ye Ri dan Seul Bi barusan


Gi Soo dan Yeon Ah sedang memasang spanduk di depan kedai, sementara Joo Ah khawatir dengan Tae Wook yang tak kunjung datang juga.
Joo Ah : lagi sibuk begini harussnya dia datangmembantu kita, dia benar-benar gak membantu.
Da Ye Ri dari tadi memperhatikan lalu mengahmpiri Joo Ah yang membersihkan meja tak beres-beres dan malah ngomel-ngomel sendirian “siapa yang kau tunggu-tunggu?” Joo Ah tidak menjawabnya dan terus membereskan meja.


Jae Seok dikepung oelh sekumpulan anak gengs sekolah lain, dia begitu ketakutan karena dikepung oelh banyak orang.
Gengs : kudengar kau ketua gengs-nya SMA Cheonguk. Kau memilih yang terbaik dari ranking pengecut? Biar kulihat kemampuanmu!
Mereka ingin melihat kemampuan Jae Seok sebagai ketua gengs sekolah-nya, mereka pun mulai mendekati Jae Seok, sebelum keduluan Jae Seok langsung menghajar mereka namun tak tertahan dan kembali mendapatkan pukulan hyang amat keras, saat Jae Seok dipukuli tiba-tiba Byung Hoo dan Tae Wook datang menyelamatkan Jae Seok “benar dia ketua geng” mereka pun menghentikan ulahnya dan langsung minggir saat Tae Wook dan Byung Hoo menghampiri Jae Seok.
Byung Hoo : ketua gengs sekarang tidak menggunakan tinju tapi menggunakan otak! (sambil menunjuk kepalanya).
Tae Wook : kami yang pake tinju harus bagimana? Bisa kita lihat kemampuannyau?
Tae Wook dan Byung Hoo mulai membuka jaket dan dasinya, mereka sudah siap untuk beradu tinju dengan mereka, mereka juga sudah siap-siap untuk adu tinju tapi mereka menyepelekan kemampuan gengs jae Seok.


Orang di kedai sedang sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan, tiba-tiba Ye Na datang sambil membawa celengan babi-nya dan meminta mereka untuk tidak memberitahu mamanya kalau Ye Na ada di kedai.
Ye Na : aku bolos les golf! Ini uang yang ditabung mama untuk beli tas.
Woo Hyeon : maksudmu, kau mencurinya?
Ye Na tetap ngeles kalau dia tidak mencuri celengannya, orang yang ditunggu-tunggu Joo Ah akhirnya datang dan membawa Jae Seok denagn menjewer telinganya.
Tae Wook : Chakkung! Kubawa kunyuk yang kuat.
Byung Hoo : gak lihat sibuknya kayak gimana? Harusnya kau ikutan bantu. Ayo bekerja
Setelah ngajak Jae Seok mereka langsung melayani pelanggan dan merapikan meja-meja yang kotor bekas makanan dan Jae Seok pun juga ikut membantu di kedai, Woo Hyeon dan Seul Bi senang melihat perubahan pada diri Jae Seok  walaupun pertamanya ada unsur paksaan.
Tiba-tiba Seong Yeol datang dengan dikerumuti banyak cewek, semua yang ada di kedai terkejut melihat Seong yeol membawa banyak pelanggan, para pelanggan yanhg dibawa Seong yeol langsung memesan Ddeokbokki dan ingin Seong Yeol yang melayaninya, Woo Hyeon semakin bangga dengan kemampuan Seong Yeol menarik perhatian para cewek.


Mereka begitu kelelahan setelah melayani banyak pelanggan, Woo Hyeon sangat berterima kasih karena teman-temannya sudah rela membantu demi adiknya Young Eun, tiba-tiba pak guru dan Bu Ahn datang ke kedai rame-rame.
Pak Han : dasar gak setia! Kenapa kalian lakukan hal baik sednirian tanpa mengajak kami!
Pak Kim langsung menghampiri anak-anak karena bangga dengan kerja keras mereka, Bu Ahn memberikan amplop pada anak-anak “ini, para guru menyumbang sedikit, kuharap bisa membantu” Seul Bi pun mengambil bantuan dari para guru dan tak lupa berterima kasih, mereka sanagt senang antara guru dan murid sekarang semakin dekat tanpa ada rasa canggung


Young Eun sedang kebingungan dengan nasib adiknya yang harus dioperasi karena dirinya tidka mempunyai biaya untuk operasi, tiba-tiba Ye Na dan Gi Soo datang memberikan uang sumbangan dan hasil kerja keras mereka selama ini.
Young Eun : kau kesini mau pamer duit mu lagi? Pergi sana!
Ye Na : enggak!
Gi Soo : duit itu dari hasil kerja keras kami, kau mau biarkan Hyeu Eun begitu ssaja?
Young Eun : kau siapa? Kenapa kau mengasihani kami? Kami gak butuh belas kasihan kalian.
YE Na : aku minta maaf, aku memang salah, jadi bisakah kau menerima ini? (sambil memberikan amplopnya) dengan ini kau tak bisa menyelamatkan adikmu dan aku? 
Young Eun : diam kau! (dengan muka yang mulai berkaca-kaca)
Ye na : aku bahkan gak tahu kalau kau punya adik  dan gak tahu bagaimana wajah adikmu. Aku juga ingin melihat wajah adikmu.
Young Eun (berteriak) : kenapa kau ingin melihat adikku?”
YE Na : (juga berteriak) karena dia adikmu!
Ye Na pun memeluk Young Eun sambil memangis karena tidak tau apa-apa soal adik dan keluarga Young Eun “maafkan aku sudah pura-pura menjauhimu” keadaan disana pun mejadi haru karean Ye Na dan Young Eun berpelukan sambil menangis, Young Eun juga menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada Ye Na. Gi Soo juga ikut-ikutan haru melihat mereka berdua.


Saat guru etika sedang melihat surat permohonan cerai dari suaminya tiba-tiba Woo Hyeon datang  menghampirinya dan menanyakan soal papa kandungnya, guru etika pun mengatakan kalau papanya orang yang sangat baik, Woo Hyeon heran kenapa bisa berpisah kalau papanya benar orang yang baik, guru etika pun mulai menjekaskan kisah bersama papa Woo Hyeon.
Guru etika : dulunya aku tak tahu, aku hanya melihat sisi buruknya bukan dari sisi baiknya, dia ingin mengandalkanku tapi kurasa aku juga meengandalkannya.
Woo Hyeon : akan lebih bagus kalau kalian berdua saling mengandalkan.
Dulu guru etika tidak berpikiran sejauh itu, Woo Yeon menegaskannya untuk tidak menyesal yang kedua kalinya dalam menjalani rumah tangga.
Woo Hyeon : ajussi punya pekerjaan yang luar biasa, kadang kalau ngomong suka blak-blakan juga kadang mudah marah. Hal itulah yang menggangguku tapi dia tinggi dan ganteng. Dia terlihat pria baik yang bisa bu guru andalkan.
Setelah selesai membujuk mamanya Woo Hyeon langsung berdiri untuk pergi tidur namun guru etika menahannya “Woo Hyeon?” lalu dia memberikan kalung gembok miliknya pada Woo Hyeon.
Guru etika : ambilah! Sekarang aku bertemu denganmu. Aku bissa melihat kau kapan saja, aku bahagia dengan hal itu. Berikan saja pada orang yang kamu sayangi, ini akan membuat keajaiban, kamu pasti bertemu dengan oarng yang kamu sayang meskipun jarak kalian jauh.
Woo Hyeon merenungi perkataan mamanya dan mengingat waktu dulu mamanya memakaikan kalungnya di kereta sebelum perpisahan itu terjadi, meskipun kalung itu sudah hialng kemanapun tetap saja bisa kembali lagi pada orang yang memilikinya walaupun dengan cara apapun melalui siapapun kalung itu bisa ketemu.


Seong Yeol khawatir kalau Seul BI sakit lagi karena kecapean namun Seul Bi tidak merasakan hal itu, dia senang melakukan hal-hal baik untuk membantu orang apalagi melakukannya dengan orang dia sukai, Seong Yeol langsung kepikiran lagi mengenai Seul Bi “kamu benar malaikat kan?” karena aneh dengan perasaan Seul Bi yang seperti manusia pada umumnya.
Seul BI membuat rencana agar papa Seong Yeol bisa pulang saat gur etika ulahng tahun, Seong Yeol malas merencanakan sesuatu dimalam-malam seperti itu karena capek seharina bekerja.
Seul Bi : kamu ssakit?perlu minum obat?
Seong Yeol : kurasa jalan-jalan sebentar mungkin bisa membantu, besok ayo pergi jalan-jalan dan merencanakan sesuatu bersama kutu kupret itu.
Seul Bi senang sekarang Seong Yeol membolehkan bermain bersama Woo Hyeon lagi dan kembali seperti dulu, Seul BI sudah tidak sabar menunggui hari esok.


Waktu jalan-jalan pun tiba, setelah sampai di tempat permainan mereka mulai bermain bersama, mereka mencoba semua permainan yang ada disana, mereka sangat senang dengan kebersamaannya sekarang seperti tak ada beban yang mereka pikul.
Setelah selesai mencoba semua permainan disana merekaberistirahat sambil melihat orang-orang yang bermain dan mondar-mandir di depan mereka, Woo Hyeon dan Seul Bi ketawa melihat keanehan orang-orang disekitarnya sambil becandaan, karena SeonG Yeol iri dengan kedekatan mereka akhirnya dia membuat situasi mereka terhenti dengan melakukan pereganagn (aaaahhhhh), Seul BI dan Woo Hyeon pun ikut-ikutan melakukan peregangan.
Seul Bi mulai beraksi setelah melihat sepatu Woo Hyeon dan Seong Yeol dan langsung mengikat tali sepatu mereka, Woo Hyeon baru menyadarinya dan menyuruhSeul Bi untuk melepaskan ikatan itu, Seul Bi langsung berlari dan menyuruh mereka untuk mengejarnya.
Seong Yeol : kenapa? Kau mau menciumnya atau apa?
Woo Hyeon : lumayan pintar kau, sini sini ... (pura-pura mau mencium Seong Yeol)
Saat Woo HYeon mau beraksi mereka ma;ah terjatuh karena tidak sadar kalau tali sepatunya diikat bersamaan, menurut Woo Hyeon itu tidak memalukan karena bukan di kamar mandi tapi berbeda dengan Seong Yeol dia berpikir kalau kekonyolannya sekarang sangat memalukan, setelah melepas ikatan sepatunya mereka kembali menyusul Seul Bi. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 19 PART 2