High School Love On Episode 19 PART 2

6/14/2016

Seong Yeol membawakan coffee untuk Woo Hyeon dan Seul Bi, mereka pun meminum coffee bersama.
Woo Hyeon : barang gratisan memang selalu enak.
Seul Bi : bener banget!
Seong Yeol : ini untuk ddeokbokki yang kau belikan temp hari untukku.
Woo Hyeon kesal karena Seong Yeol selalu itungan dengan apa yang dia lakukan, Seong Yeol membela dirinya karena kalu dia tidak membayar taksi dan tiket masuknya kalian tidak akan bisa pergi, Seul Bi mengagumi kalau Seong yeol benar-benar pintar.
Woo Hyeon : ini bukan pintar, tapi tega namanya, kau tega! Tega!
Mereka saling beradu omongan, Seul Bi bingung kenapa manusia selalu menyebut rekannya tega kalau bertindak apapun, Woo Hyeon terus meledek Seong Yeol “Tega! Raja Tega! Tega!” Seul Bi pun ikut-ikutan Woo Hyeon meledek Seong Yeol. Walaupun sempet kesal pada Woo Hyeon tapi Seong Yeol senah melihat mereka bahagia.
Seong Yeol : Woo Hyeon, kurasa aku senang kau adalah temanku. Mungkin memiliki mama yang sama adalah takdir. Maafkan aku tak membolehkanmu memanggilnya mama, sekarang kau boleh memanggilnya mama dan tolong jaga papaku.
Seong Yeol mengetakan hal-hal itu seperti yang akan pergi jauh, Woo Hyeon dan Seul Bi mengajak Seong Yeol untuk kembali bermain bersama dan Seong Yeol pun menghapiri mereka.


Mereka pergi ke suatu tempat dimana tempat itu ada sebuah kotak surat berwarna merah dan hijau, mereka sibuk menulis surat permohonan yang akan di masukkan pada kotak post tersebut, Woo hyeon berusaha melihat permohonan yang Seul Bi tulis.
Woo Hyeon : itu artiny kau dapatkan surat ini dalam setahun, bukan secepatnya.
Seul Bi : benar-benar menarik dan romantis.
Woo Hyeon : hei! Kalau kau mau menyatakannya lakukan sekarang bukan setahun lagi. Apa maksudmu mengatakan satu tahun lagi kalau tidak sekarang?
Woo Hyeon memanggil Seong yeol yang sedang sibuk menulis surat permohonannya dan berusaha mengambil milik Seong Yeol, karena Seong Yeol cekatan memasukannya ke dalam kotak post Woo Hyeon tidak bisa meihat milik Seong Yeol, walaupun bersipat rahasia Woo Hyeon tetap ingin melihatnya. Dia juga penasaran dengan apa yang Seul BI tulis namun Seul Bi langsung melemparnya pada Seong Yeol dan Seong Yeol pun langsung memasukkannya (haha kasian Woo Hyeon tidak bisa melihat punya mereka).


Woo Hyeon dan Seong Yeol sedang menunggu Seul Bi dari toilet, Seong Yeol khawatir takut Seul Bi tertidur lagi tanpa sepengetahuannya, Woo Hyeon langsung memegang dan merasakan jantungnnya karena jantungnya tidak terasa sakit dia yakin kalau Seul Bi tidak apa-apa, Seong Yeol penasaran kenapa Woo Hyeon bisa mengetahui dan yakin akan hal itu. Woo Hyeon pun memberitahu Seong Yeol kalau Seul Bi sakit dia juga akan merasakan sakit, Seong Yeol memikirkan apa yang Woo Hyeon beritahuakn barusan.
Woo Hyeon : bukan kau saja yang merasa bersalah, aku juga bersalah padamu. Jadi jangan perlihatkan ekspresi seperti itu padaku, aku gak mau melihatnya.
Percakapan mereka terus berlangsung sampai membicarakan soal hari ulang tahun guru etika besok, Woo Hyeon meminta Seong Yeol untuk membujuk papanya agar pulang dan memberi kejutan pada guru etika.
Akhirnya Seul Bi kembali krena dia melihat orang-orang berfoto dan dia juga tidak mau kalah, Seul BI meminta mereka untuk berfoto bersama namun Woo Hyeon tidak mau karean tidak suka berfoto, Seong Yeol menariknya “ayo kita berfoto sebelum kau menyesal!” Seul Bi pun mengambil gambar mereka namun wajah Seul Bi terlihat pucat berbeda dengan yang lain entah petanda apa yang akan terjadi dengan Seul Bi.
Seong Yeol 


Joo Ah, Gi Soo dan Byung Hoo sedang menjaga kedai karena banyak pelanggan yang berdatangan, Gi Soo kangen dengan ocehan Seul BI yang selalu ngomel jika keinginannya terkabul, Gi Soo kesal karena dia tidak diajak senang-senang bersam mereka.
Gi Soo : kenapa kita ssibu sekali hati ini? Bisa gila lama-lama kalau sseperti ini terus.
Tiba-tiba Young Eun masuk kedai (ekhmmmm) Gi Soo terkejut dan langsung menanyakan keadaan adiknya, Gi Soo sangat senang mendengar adinya Young Eun sudah membaik.
Byung Hoo : bagus. Gi Soo benar-benar khawatir dengan keadaan adik-mu.
Gi Soo pura-pura tidak khawatir dengan keadaan Young Eun dan adiknya, padahal dia sangat khwatir tapi tidak mau ketahuan Young Eun. Saat ada pelanggan memesan lagi Young Eun langssung melayaninya dengan cekatan, krena melihat Gi Soo diam saja Young Eun langsung memarahinya.
Joo Ah : kurasa kau tidak bisa hidup dengan berhutang.
Young Eun : punya hutang membuatmu merasa bersalah, itu sebabnya aku berusaha membayarnya dengan melakuakn hal ini.
Joo Ah pun langsung memberikat pekerjaan pada Young Eun “mencuci handuk dengan air panas, mencuci piring dengan mesin dan mengepel lantai pakai pewangi kau harus membersihkannya lagi dengan lap kering” Gi Soo marah orang yang dicintainya disuruh-suruh begitu “Hei! Dia gak bisa melakukan semua itu sendirian”. Byung Hoo menyuruhnya untuk membatu Young Eun karena teruss berkomentar, Gi Soo pun pergi ke dapur untuk membantu Young Eun.


Guru etika sedang sibuk mencuci piring dan membereskan dapur sendirian, tiba-tiba Woo Hyeon pulang dan guru etika pun senanhg melihat putranya sudah pulang. Karena senang, khawatir pokonya campur aduk yang dia rasakan, dia pun mengeluarakan banyak pertanyaan terhadap putranya.
Guru etika : kau bersenang-senang dengan Seong Yeol? Tak ada hal spesial ayng terjadi? Apa kau sudah amkan? Kamu punya uang tidak? Apa kamu sakit?
Woo Hyeon : hal yang di dengar anak-anak lain, akhirnya saya sekarang mendengarnya
Guru etika terlihat kaku “aku hanya penasaran, maafkan aku” Woo Hyeon senang mendengar kekhawatiran mamanya.
Woo Hyeon : saya rasa anda tak perlu megkhawatirkan lagi Seong Yeol karena dia sudah kembali seperti dulu.
Selama ini guru etik berusaha merawat Seong Yeol tapi dia tidak memberikan hatiku padanya krena sebab itulah guru etika merasa bersalah apda Seong Yeol.
Guru etika : dan kamu, aku hanya memberikan hatiku tanpa mempedulikanmu, itu sebanya kau menyesal, terima kasih banyak Woo Hyeon sudah tumbuh dewasa.
Woo Hyeon : anda akan menginginkanku hidup dengan sebaik-baiknya itu sebabnya say tak punya pilihan.
Sebelum pergi ke kamar Woo Hyeon meminta guru etika untuk pergi bersama, guru etika senang sekarang putranya mau pergi bersama.


Seong Yeol menanyakan gimana bermainnya tadi, Seul Bi sangat senang karena Woo Hyeon dan Seong Yeol kembali seperti dulu, Seong Yeol merasa sukses membuat Seul BI senang, Seul Bi pun mengagumi hasil kerja kerasnya yang membuat mereka sangat bahagia.
Seong Yeol : jadi aku seperti apa?
Seul Bi : kamu suka berpayung dikala hujan, berteduh dibawah pohon rindang saat hari cerah. Akmu seperti hembusan angin sejuk di hari yang panas.
Seong Yeol : aku seting sekali mengganggumu, kamu gak benci padaku?
Seul Bi : justru kamu yang sering menderita.
Karena Seul Bi berjalan mundur dia hampir terjatuh untung Seong Yeol menahannya, Seul Bi lupa mengatakan satu hal pada Seong Yeol “kamu selalu ada disaat ku jatuh, berkat kamu aku tidak terluka” Seul Bi merasa akan sempurna jika membuat papa Seong Yeol dan guru etika kemabli bersama, Seong yeol sangat senang dan bangga dengan apa yang Seul Bi inginkan.


Ketiaka Woo Hyeon sedang belajar Seul Bi mengirimkan foto yang tadi siang mereka ambil “Kang Sae-i benar-benar ganteng di foto ini” Woo Hyeon juga memuji Seul Bi dan baru menyadari aklau Seul Bi cantik (selama ini kemana Woo Hyeon ? haha) Woo Hyeon tidak suka melihat Seong Yeol karena tidak tersenyum “lebih bagus lagi kalau kau tersenyum Seong Yeol”
Seperti biasa jiak ada moment yang bagus dai selalu memberi tanda di kalendernya.


Seong Yeol, papa dan Seul Bi sarapan bersama, saat yang lain sedang sarapan Seong Yeol tiba-tiba menasehati papanya “berhentilah malu-malu, bersikaplah seperti seorang pria sejati” papanya kaget mendengar nasehat Seong Yeol, namun Seong Yeol tak berhenti sampai disitu menasehati papanya.
Seong Yeol : papa bilang kalau pria sejati itu harus rela berlutut di depan keluarganya.
Papa : Seul Bi, nih anak makan makanan yang aneh ya? (sambil tetawa)
Seul Bi : aku taruh sesuatu dalam makanannya (sebelum Seul Bi selesai biacra Seong Langsung memplototinya)
Seong Yeol : apa? Apa yang kau taruh? (panik)
Seul Bi : sesendok cinta dan sesendok maaf. Sesendok permohonan maaf.
Papa Seong Yeol tertawa lepas saat Seul Bi becanda di meja makan, Seong Yeo meminta papanya untuk makan siang diluar, mereka yang menentukan tempatnya dan akan mengabari papanya kalau sudah jelas tempatnya. Papanya sangat senang dan ingin makan yang enak nanti.


Seong Yeol menemani papanya keluar rumah, papanya heran dengan tingkah putranya sekarang dan berpikiran kalau putranya membutuhkan uang dan terlibat masalah lagi.
Seong Yeol : kalau papa nawarin uang saku akan kuambil, aku belum membuat masalah ko, akan segera kulakukan sih.
Papa : masalah apa? Kalau kau memukul orang lagi papa akan mrngurungmu.
Seong Yeol : papa.... aku senang kau tak terluka saat menangkap begitu banyak penjahat. Jangan sampai terluka juga janga memaksa lari jauh. Pikirkan Umur papa.
Papa : anak ini! Papa masih kuat ko, jangan sampai melakukan hal-hal yang merugikan banyak orang lagi yak nak (sambil mengelus-ngelus kepala Seong Yeol).
Setelah papanya pergi Seong Yeol mengingat saat makan bersama papanya sambil di borgol sampai kesulitan untuk makan, minum soju untuk pertama kalinya bersama papa sampai merasakan gimana sakitnay di tampar seorang papa, ditemani saat di penjara, mendengar semua curhatannya dan menahan saat amarhnya memuncak “papa maaf kan aku!”.


Saat Joo Ah pulang dari kedai tiba-tiba papanya telpon dan meminta uang padanya, dia tidak mempunay uang dan kesal karena setiap dia memberi papanya uang selalu dipakai mabuk dan berjudi “aku tak punya uang, aku tak punya uang untuk ayah lagi!” tadinya Tae Wook mau mengagetkan Joo Ah karena Joo sedang bersedih mengagetkannya pun percuma dan tidak membuat Joo Ah kembali tersenyum. Tae Woo sangat bersalah karena mainanya kena ke kepala Joo Ah dan itu pun tidak disengaja.
Joo Ah menangis dan Tae Wook memintan Joo AH untuk memukilinya sampai puas, Tae Woo minta maaf karena membautnya tambah sakit.
Tae Wook : aaahhh, kurassa kau kuat menahan pukulanmu, boleh mmemukulku sesukamu, mau kubuatkan kupon untuk memukulku?
Akhirnya Joo Ah kembali tersenyum, Tae Woo sangat senang melihat Joo Ah kembali tersenyum “Chakkung kamu senyum!”


Mereka merayakan ulang tahun guru etika di kedai dan papa Seong Yeol pun juga datang menghadiri acara mereka, guru etika dan suaminya sangat kaku tidak ada yang mau memulai percakapan, akhirnya Woo Hyeon, Seong Yeol dan Seul Bi bicara dan menyetujui perceraian mamanya, papanya kaget kenapa tiba-tiba mereka menyetujui perceraiannya.
Woo Hyeon : bu guru merawat Ajussi dan Seong Yeol tapi Ajussi malah agk pulang
Papa : (dengan alsan yang tak masuk akal) ka... kaaa... karena aku ada tugas menyergap.
Woo Hyeon : Ajussi harusnya menyergap hatinya bu guru. Oooh kerja lebih penting ya rupanya?
Papa : aku memang ada tugas menyergap, tapi aku tak bisa menangkap penjahatnya.
Seong Yeol : aku gak suka pria yang menyerah setelah pernah kehilangan sekali. Kalau papa memikirkan hiduptua sendirian aku kasih saran, bercerailah!
Woo Hyeon meminta guru etik auntuk segera menandatangani surat perceraiannya, Seul Bi merasa tidak adil kalau orang tua selalu meminta anak-anaknya untuk tidak menyerah tapi kenyataanya orang tualah yang selalu menyerah, krena mereka serentak berpendapat yang sama kahirnya guru etika dan papa Seong Yeol kembali tersenyum bahagia.


Seul Bi, Woo Hyeon dan Seong Yeol pergi keluar bersama, mereka sangat menikmati cuacanya yang begitu cerah, Woo Hyeon meminta Seong Yeol untuk memanggilnya Hyeong, Seong Yeol tidak mau karena hanya berbeda beberapa bulan.
Woo Hyeon : kalau tidak suka harusnya kau lahir lebih awal. Seul BI bukannya sudah kubilang kalau tanganku ini mahal?
Seul BI : sambut tangannya. Dia menarikmu kalau kamu jatuh dan kamu akan bahagia begitu pula denganku.
Seong Yeol ragu untuk menyambut tangan Woo Hyeon, saat Seong Yeol mencoba menyambut tangan Woo Hyeon dia langsung menarik dan memeluk Seong Yeol, Seong Yeo melepaskan pelukannya begitu keras.
Woo Hyeon : kau pikir aku hanya memeluk Seul BI? Aku juga memluk cowok (sambil memeluk Seong Yeol lagi)
Seong Yeol : lepaskan! Kau ingi  dipukul ya?
Woo Hyeon langsung bersembunyi di belakang Seul Bi, Seul Bi pura-pura takut “kau mau memukulku?” Seong Yeol pun langsung melepaskan kepalan tangannya, disamping itu Woo Hyeon berusaha tos lima dengan Seong Yeol, Woo Hyeon malah mempermainkan Seong Yeol yang sedang kesal.


Seul Bi tenang sekarang mereka bisa hidup tenang tanpa banya permasalahan lagi, Woo Hyeon memberitahunya kalau Seong Yeol suka ngigau saat tidur.
Seul Bi : kamu bisa memeluknya saat dia tidur, seperti yang pernah kamu lakukan seblumnya
Woo Hyeon : tidak! (sambil melindungi dirinya) bagaimana sakit mu?
Seul  Bi : makin membaik, kalau kamu gimana?
Woo Hyeon : kalau kamu sembuh, aku juga pasti sembuh.
Woo Hyeon mengambil kalung pemberian mamanya dari saku jaket dan berharap kalau punyanya masih ada, Seul Bi langsung mengambil kalung Seong Yeol dari sakunya “punya mu disini taraa..” Woo Hyeon terkejut kalau Seul BI massih menyimpan kalunya yang telah dibuang.
Seul BI : sekarang aku sudah menemukan tuanmu.
Woo Hyeon langsung mengambil kalungnya dan memakaikan pada leher Seul BI, Seul Bi heran kenapa Woo Hyeon memakaikan kalungnya pada leher-nya.
Woo Hyeon : itu sebabnya kuberikan padamu, artinya kamu adalh milikku.
Woo Hyeon meminta Seul Bi untuk memakaikan kalunya, Seul BI pun memakaikan kalung pada leher Woo Hyeon, Seul Bi senang mendapatkan kalung pertamanya, menurut Woo Hyeon itui adalah kalung ajaib yang akan mempertemukannya dengan orang yang dia sayangi “kalung ini yang akan membuat kita tak akan berpisah”.


Woo Hyeon ingin mengatkan sesuatu pada mamanya tapi malu-malu begitupun dengan mamanya, akhirnya Woo Hyeon pun bicara dan mengucapkan selamat ualng tahun pada mamanya, mamanya bertanya soal kalungnya yang sudah dipakai putranya.
Woo Hyeon : anda bilang ini adalah klaung ajaib, saya ingin tahu apa yang anda katakan benar, kuberikan punyaku pada Seul BI,
Mama : katanya sudah kamu buang.
Woo Hyeon : tadinya sudah kubuang, tapi ternyata masih ada dan Seul Bi yang menemukannya.
Mama : kalian berdua lucu.
Woo Hyeon pamitan untuk beristirahat, namun mamanya menahan Woo Hyeon karena ingin menanyakan sesuatu tentang kehidupannya sekarang “benarkah kita semua bisa hidyp bersama?? Apa aku diizinkan melakukannya? Bagaimana kau bisa melakukannya setelah menyakiti kalian?
Woo Hyeon : sakit itu tolong anda sembuhkan. Saya juga ingin merasakan cint dari seorang mama
Sebelum benar0benar pergi istirahat Woo Hyeon berterima kasih karena sudah melahirkannya dan dia juga menyukai Seong Yeol, guru etika terharu dengan perkataan putranya.


Seperti biasa setelah berada di kamar Woo Hyeon selalu menciun kalung pemberian mamanya dan bilang pada Halmeoninya kalau sekarang dia benar-benar bisa tersenyum. Di samping itu Seong Yeol sedang packing pakaian entah akan pergi kemana, sebelum memasukkan barang pemberian Seul BI dia meratapinya dulu dan sebelum benar-benar pergi Seong Yeol melihat-lihat setiap sudut di kamaranya, dia juga pamitan pada Seul BI tapi tidak berani membuak pintunya dia hanya berdiri depan pintu kamar Seul BI “selamat tinggal, cinta pertamaku!”


Ternyata dikamar Seul BI sedang melamun sambil memegang kalung pemberian Woo Hyeon, Seul Bi merasa semuanya sudah bahagia dan ingin kalau Seonbae juga bahagia seperti yang lainnya, Seonbae memperhatikan Seul Bi dari luar.
Seonbae akan bahagia kalau Seul Bi kembali lagi menjadi malaikat, dai akan terus berusaha membuat manusia berubah pikiran dan membuat Seul Bi menghilang dari kehidupan manusia, meskipun resikonya tingga Seonbae akan tetap melakukan keinginannya. Seonbae mengikuti kemana Seong Yeol pergi, entah apa yang akan dia lakukan terhadap Seong Yeol.


Saat Seul Bi mau menyimpan pakaian Seong Yeol di lemarinya, dia terkejut di lemari Seong Yeol sudah tidak ada baju satupun dan Seul Bi pun langsung pergi mencari dan tidak lupa memberitahu Woo Hyeon.
Woo Hyeon juga langsung pergi mencari Seong Yeol setelah mendapat kabar dari Seul BI, Woo Hyeon takut terjadi apa-apa dengan Seong Yeol, Seong Yeol sedang menunggu lampu hijau dan akan meneruskan perjalanannya.
Seong Yeol : kurasa aku tak bisa pergi kalau aku harus bicara langsung denganmu. Aku pergi untuk melanjutkan hidup, jadi tolong tunggu aku. Aku akan belajar lebih banyak lagi, dan akan kembali sebagai pribadi yang baru.
Ketika orang lain sudah pada nyebrang Seong Yeol baru nyebrang sendirian, Seonbae ternyata ingin mecelakakan Seong Yeol, Seonbae membuat mobil remnya blong dan maju sangat kencang, saat klakson bunyi begitu kersa (Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttt) Woo Hyeon melihat Seong Yeol akan nyebrang dan langsung berlari untuk menyelamatkannya. Woo Hyeon mendorong Seong Yeol sampai terjatuh dan dia sendiri malah berdiri sedikit lagi tertabrak.
Tiba-tiba Seul Bi datang memeluk Woo Hyeon, saat mobil hampir berhenti Seonbae datang dan mengembalikan mobil kembali, si supir berusaha mengendalikan mobilnya namun tidak bisa karena Seonbae terus mengendalikan mobil dengan kekuatannya.


Mereka berada di ruang UGD, papa dan mamanya begitu khawatir dengan putra mereka, guru etika tersu menangis dan suaminya berusaha menenangkannya walaupun dia juga sangat terpukul. Akhirnya guru etika bisa masuk ruangan, dia ketiduran saat menemani putranya.
Woo Hyeon sadarkan diri dan langsung menanyakan keadaan Seul BI dan Seong Yeol, dia tidak mengatakan apapun dan langsung membatu Woo Hyeon melihat Sseong Yeol, karena tidak tahan menahan air matanya guru etika lansgung berbailk badan. Woo Hyeon menanyakan Seul BI kembali dengan berat hati mamanya mengatakan kalau Seul BI tidak ada di tempat kejadian. Woo Hyeon sangat terpukul mendengar Seul BI sudah tidak ada, mamanya berusaha menenangkan Woo Hyeon. SELANJUTNYA || SINOPSIS High School Love On Episode 20 PART 1

Artikel Terkait

Previous
Next Post »