Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Back to the 90's PART 1

Cerita ini di awali dengan chatting antara Kong dan Mamahnya. Mamah meminta Kong agar cepat pulang dan jangan keluyuran karena akan ada acara ulang tahun papa dan mamah. Kong malas. Ia membalas chat mamah dengan stiker marah. Habis itu mamah juga membalas dengan stiker nangis.akhirnya Kong nurut sama mamahnya. Dia bakalan cepat pulang. Kayaknya Kong sayang banget, ya sama mamahnya.



Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: Movie Thailand

EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Back to the 90's PART 2

Di era sekarang ini kayaknya semua orang udah kecanduan sama yang namanya gadget.Nggak yang tua, nggak yang muda, semuanya pada nggak bisa lepas dari benda ini. Yang ada di cafe, di jalan, di kereta, pada asik mainin HP.



Temasuk juga Kong yang lagi asik chating di LINE. Dari mulai pulang sekolah, di jalan, di dalam kereta, sampai keluar dari kereta, mata sama jari Kong sama sekali nggak lepas dari ponselnya. Mungkin karena rutenya udah di lalui saban hari jadi bisa dilewati tanpa melihat.



Nggak jauh dari rumah Kong ada pangkalan ojek. Si gondrong lagi mempraktekkan gaya aero dinamic. Dia telungkup di atas motor sambil teriak-teriak niruin suara motor. Lama-lama tenggorokannya jadi sakit. Si gembul mengambil alih motor itu. Dan tiba-tiba motornya melaju menyerempet Kong yang sedang melintas sambil main HP. HP Kong melayang seketika. Kong dan tukang ojek itu berusaha menangkap HP itu, tapi nggak ada yang bisa. Yang ada mereka malah membuat tu HP jadi melayang tambah lama karena di oper sana sini. Hp itu sudah mau jatuh di atas si gondrong sayangnya si gondrong nggak nangkap malah teriak penuh gaya.ya udah HP itu pun akhirnya jatuh ke bumi dengan layar yang langsung retak di pojoknya.



Apesnya lagi, HP itu langsung kelindes sama motor si gembul yang baru balik. Tanpa rasa bersalah sedikitpun si gembul mengambil HP itu dan memberikannya pada Kong. Tak lupa ia berpesan agar Kong memegang HP nya kuat-kuat agar nggak jatuh lagi. Kong mengambilnya. Rasanya ia mau ngamuk tapi nggak bisa. Akhirnya Kong pergi dengan perasaan super kesal. Si gembul tanya sama temannya, kok Kong kelihatan marah banget. Teman-temannya kompak menjawab gara-gara kamu sambil memukul kepalanya. Biar gagar otak.

Kong sudah sampai di rumahnya. Anehnya ia mendengar suara yang aneh. Kong mencari sumber suara itu sampai ke gudang. Di sana Kong menemukan sebuah kotak. Kong yang penasaranpun membukanya.



Di dalamnya ada sebuah surat kabar dengan headline "terjadi kecelakaan di Bangkok - Chiang Mai bus". 16 Juli 1995. Kong meletakkan koran itu kemudian mengambil album foto yang juga ada di kotak itu. Disana Kong melihat foto-foto pernikahan papa dan mamahnya. Tanpa sadar senyum Kong mengembang melihat semua itu. Ia lalu melihat sebuah foto yang terselip di belakang foto orang tuanya. Itu juga foto papanya semasa masih muda tapi bukan dengan mamahnya. Entah dengan siapa karena gambarnya nggak jelas.





Kong membalik foto itu dan menemukan tulisan di baliknya. Tum, aku cinta kamu. Dari Som. Lalu suara yang tadi di dengar Kong, berbunyi lagi. Kong mengambil benda tersebut. Benda itu menyuruh Kong untuk menelpon balik ke nomor 948-2092. Kong mengamati benda itu. Ia tampak asing kayaknya. Pas lagi asik-asiknya tiba-tiba benda itu bunyi lagi. Kong refleks menjatuhkannya. 




Malam harinya Kong mendengarkan radio di kamarnya. Penyiar memberitakan bahwa di facebook banyak orang membicarakan badai yang akan terjadi. Tetap waspada dan berhati-hati. Ia kemudian memutar lagu dari Polycat. Kong sendiri masih penasaran dengan benda yang ia temukan di gudang. Ia terus menatapnya. Karena makin penasaran, Kong akhirnya mengetik paclink di mesin pencari. Lalu muncullah gambar pager dengan berbagai model, lengkap dengan penjelasannya. 



Samar-samar Kong mendengar suara apa dan mamahnya yang sedang bertengkar. Mamah mempermasalahkan papa yang baru pulang jam segini. Papa beralasan kalo lagi sibuk. Mama marah. Setiap tahun selalu sibuk. Kalo gitu kapan mereka bisa merayakan hari pernikahan? Papa meminta maaf bertepatan dengan Kong yang menuruni anak tangga dan duduk di tangga melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Mama mengatakan kalo mereka sudah menikah selama 20 tahun tapi papa sama sekali nggak bisa melupakan Som. Papa pikir mereka sudah menyelesaikan masalah itu, kenapa mamah melibatkan Som. Mendengar nama Som membuat Kong terungat dengan foto yang ia temukan di gudang. Kong melihatnya sekali lagi. Mama makin naik pitam. Ia bahkan nggak pernah membicarakannya. Saat itulah mereka menyadari ada Kong yang duduk di tangga menyaksikan pertengkaran mereka. 



Mamah udah nggak peduli lagi. Ia meninggalkan papa begitu saja dan naik ke lantai atas melewati Kong. Papa berusaha memanggil mamah hingga akhirnya ia memilih duduk kembali. Kong menghampiri papa. Ini bukan pertama kalinya. Papa ingin membuat ia dan ibunya bahagia? Papa mengatakan kalo ini urusan orang tua dan melarang Kong ikut campur.



Kong menjatuhkan foto yang dari tadi ia genggam di piring makan papa. Apa itu juga urusan orang tua? Kong meninggalkan papa sendirian. Di luar Kong menelpon temannya. Ia minta temannya menjemputnya karena ia sedang bertengkar dengan papa. Temannya mengerti dan ia meminta Kong menunggunya. Ia akan segera ke sana. 



Hujan tiba-tiba turun. Orang-orang yang sedang dijalan berlarian mencari tempat berteduh. Mereka menuju ke pos ojek. Hanya Kong saja yang berteduh di telpon umum. Kong masih mau bicara sama temannya tapi mendadak HP nya mati. Kong kesal dan bersandar. Tiba-tiba pagernya berbunyi lagi. Masih menyuruhnya buat telpon balik ke nomor 948-2092. Kong mengambil koin dan memasukkannya ke telpon umum itu. Perlahan-lahan ia memencet nomor 9-4-8-2-0-9-2.




Belum juga telponnya terhubung, Kong di kagetkan dengan suara petir. Suara petir itu mengagetkan Kong sehingga ia terjatuh. Tiba-tiba ada seorang perempuan di telpon umum itu. Perempuan itu menelpon layanan paclink. Ia mengirim pesan untuk Tum. Tum, apa yang sedang kamu lakukan? Aku pengen ketemu kamu di rooftop. Selamat malam. Dari Som. Operator berterima kasih karena telah memilih layanannya. Som menutup telpon. Ia tak berhenti tersenyum. Kayaknya dia lagi di mabuk cinta. 


Kong yang terduduk di bawah perempuan tadi cuma bisa bengong saat sebuah mobil melintas dan membuat rok Som tersibak. Som yang melihat Kong duduk di bawahnya langsung memukul kong. Kong bangkit hendak mengejar Som tapi nggak jadi begitu dia melihat sekitarnya. Itu emang lingkungan rumahnya, tapi rasanya agak berbeda. 



Kong mendatangi sebuah toko. Ia memanggil abang penjaga toko. Kong tanya pada abang itu, apakah ini toko belakang universitas Rachasart? Si abang membenarkan. Kong memperhatikan toko itu. Masa iya Seven Eleven kayak gini? Abangnya malah nggak ngerti Kong ngomong apaan. Seven Eleven? Dia nggak pernah dengar. Kong tampak kebingungan. Ia lalu mengambil surat kabar. 3 Juli 1995. Kong tanya ke abangnya kenapa menjual koran lama? Si abang protes. Itu bukannya koran lama tapi koran paling baru. Kong terkejut. 1995? Si abang membenarkan. Kong kira abangnya bercanda. Si abang menegaskan kalo dia nggak bercanda.



Kong meletakkan koran itu dan berjalan menjauh. Si abang menanyakan bukannya Kong murid sana? Kong nggak mendengarkan. Ia terus berjalan sampai di depan rumahnya. Mamahnya tanya apa itu, Tum? Papa menjawab pager. Mama tanya lagi kenapa Som mengirim pesan sama papa. Kenapa Som bilang mimpi indah? Papa malah bercanda, apa sebaiknya ia mimpi buruk saja?  Mama marah, kenapa Som pengen ketemu sama papa di rooftop? Bukannya dia juga punya atap di rumahnya? Ini bukan pesan biasa. Som mengirimkan pesan seperti ini setiap malam. Papa beralasan kalo ia menganggap Som seperti adik sendiri. Ada apa dengan, Mam? Adik? Mama menggaris bawahi. Ia minta papa berhenti menganggapnya seperti itu. Papa membantah. Apa Som melakukan kesalahan? Mama nggak terima papa ngebelain Som. Jadi apa ia yang salah?


Kong mengetuk-ngetuk pagar. Papa emosi. Kenapa Kong menggedor pintunya. Papa menyuruhnya buat datang lagi besok. Tokonya sudah tutup. Mulut Kong menganga. Yang barusan membuka pagar memang papa, tapi papa versi muda. Spontan Kong memanggilnya papa. Papa nggak terima. Dia bukan papanya Kong. Habis itu mamah mau keluar. Tentu saja mamah versi muda. Kong memegang kepalanya. Pusing. Bangun! Bangun!


Papa mencoba menahan mama. Mamah menolak. Nggak ada lagi yang mau ia bicarakan. Ia ingin putus. Kong berbalik dan memanggil mah. Mamah nggak peduli dan terus berjalan. Dua pria itu memanggil mama. Yang satu manggil "Mam" yang satu manggil "Mah". Kocak banget, deh. Papa marah. Dari tadi Kong manggil mamah terus. Mamah dari mana? Kong menatap papa. Ia shock. Ia memanggil papa lalu pingsan. 



Beberapa saat kemudian Kong sudah setengah sadar. Samar-samar ia mendengar papa memanggil namanya. Tapi kali ini papa yang memanggilnya adalah papa masa kini. Sayangnya itu hanyalah mimpi Kong. Kenyataannya papa yang ia lihat saat ia membuka mata adalah papa masa lalu. Papa menyuruh Kong untuk segera pergi. Kong masih memanggil papa. Papa malah tanya dimana papanya Kong. Kenapa dari tadi Kong terus memanggilnya papa.





Seseorang menanyakan Kong yang sudah bangun. Kong melihat orang itu. Spontan Kong bangun dan menjauh. Setan! Setan! Paman mengaku kalo dia manusia tapi Kong terus memanggilnya setan. Kong mengambil kaleng di meja dan menggunakannya untuk memukul kepalanya. Papa bercerita sama pamannya kalo Kong terus memanggilnya papanya di depan toko kemudian pingsan. Mereka melihat Kong yang memukul kepalanya sendiri dengan kaleng minum.



Paman tanya siapa nama Kong dan dimana rumahnya. Kong menjawab kalo namanya Kong. Rumahnya.... disini. Paman berpikir kalo Kong sedang mabuk. Sebaiknya papa segera memanggil polisi. Papa mengiyakan. Ia mengangkat gagang telpon, siap menelpon polisi. Kong menahannya. Ia mengatakan yang sebenarnya kalo ia datang dari masa depan.

Paman melarang papa memanggil  polisi. Panggil psikiater saja. Papa menurut. Ia mengangkat gagang telpon,siap menghubungi psikiater. Kong menahannya lagi. Ia melihat sekeliling dan melihat pengumuman lowongan pekerjaan yang mencari asisten sales. Kong jadi punya ide. Ia mengatakan kalo ia lagi mencari pekerjaan. Papa bertanya Kong sedang cari kerja apa dari masa depan? Kong mengarang kalo ia di terima kerja, itu akan berguna byat masa depannya nanti. Kong mengaku kalo ia sedang bermasalah dengan ayahnya. Kong kabur dari rumah dan nggak tahu harus pergi kemana. Kong memohon pada papa dan paman. Ia berlutut.



Kong berjanji akan segera pergi kalo ia sudah mendapatkan temat lain. Paman mengerti. Ia bukanlah orang yang kejam. Paman juga punya hati. Kong udah senyum-senyum aja. Dikiranya dia bakal ketrima, tapi kenyataannya paman malah mengumpat Kong yang udah gila. Paman dan paa mengusir Kong.



Papa mengantar Kong sampai pintu pagar. Anehnya papa malah ngerasa nggak enak hati abis menutup pagar dan membiarkan Kong seorang diri di luar sana.


Kong pergi ke telpon umum. Ia mencari-cari pager di kantong celananya tapi nggak ketemu. Kong meraih gagang telpon tapi nggak tahu mau nelpon siapa. Saat kebingungan itulah ia melihat cahaya terang menyinarinya. Kong memejamkan matanya erat-erat, bersiap menuju ke masa depan. Sayangnya itu bukanlah cahaya yang akan membawanya ke masa depan tapi cahaya dari sekumpulan anak sepeda BMX yang sedang menuju ke arahnya. Kesadaran baru kembali setelah seorang anak memanggilnya. Anak itu bertanya Kong pakai telponnya apa enggak? Kenapa lama banget? Kong mengatakan kalo ia lupa nomornya. Anak itu menyarankan agar Kong pakai buku telpon.



Kong berakhir dengan luntang-lantung di jalan. Ia duduk di jembaan. Ia mengambil HP nya di kantong celana.Kong menyalakannya dan berhasil. HP itu menyala tapi cuman sebentar doang. Tiba-tiba ada sebuah bayangan yang mendatanginya. Rupanya itu adalah papa yang mencari Kong dan mengajaknya kembali. Emang benar yang namanya darah itu kental. Papa nggak tega melihat Kong pergi.






Pagi harinya kaos Kong sudah tergantung di atap rumah. Mulai ini aku akan manggil papa dengan namanya saja, karena Kong akan lama di masa lalu. Tum sedang mendengarkan kaset sambil bermain gitar. Tiba-tiba musiknya berhenti karena pita kasetnya terurai. Tum mematikan tape-nya dan mengambil kasetnya. Tum meraih pensil dan memintal kaset tersebut.





Kong menghampiri Tum. Tum lagi ngaain? Tum bilang dia lagi memutar kaset. Apa Tum nggak kuliah? Tum lagi malas. Apa Tum nggak membantu paman di toko? Tum sekali lagi bilang kalo dia lagi malas. Kong meletakkan kaleng minumnya dan duduk dihadapan Tum. Kong kira Tum itu orang yang serius, nggak bisa bercanda, nggak peduli dengan orang di sekitar, selalu membuat orang merasa nggak nyaman, ....



Tum hendak memukul Kong. Kong minta dihajar, ya. Bisa-bisanya meledek Tum. Kong cuman bercanda, kok. Ia minta di lupakan saja. Tum menyimpan gitarnya. Ia akan latihan. Kong heran ternyata Tum anak band. Tum hanya tersenyum. Kong tinggal di sekitar sana tapi nggak tahu band-nya. Tum mengambil selembar tiket konser di atas tape dan memberikannya pada Kong. Ia menyuruh Kong buat membelinya dan ia akan tahu. Kong membaca tiket itu. "Konser alternatif- akan di buka oleh TTNK band" 



Kong merasa Tum sudah membodohinya. Tum beralasan kalo album Tum udah keluar, tiketnya bakalan lebih mahal. Ia membujuk Kong agar bersedia membeli tiketnya. Kong rasa nggak perlu. Ia mengembalikan tiket itu pada Tum. Tum menolak menerimanya kembali. Ia tetap memberikannya pada Kong. Ķong bisa membayarnya kapanpun Kong punya uang. Santai saja. Kong menanyakan tempat latihan Tum. Tum akan latihan di kampus. Kong ingin ikut. Dia mau memakai internet di sana. 



Tum sedang bicara dengan paman. Paman tahu Tum pemalas. Sebenarnya Tum bisa mengurus toko sendirian. Nggak perlu bantuan orang lain. Tum hanya bisa minta maaf. Paman heran sama Kong. Apa dia berasal dari jaman es? Kong sama sekali nggak tahu lagu dan penyanyi jaman sekarang. Kong bahkan bilang kalo penyanyi yang sekarang kasetnya lagi di pegang paman adalah gay. 




Di depan Kong sedang melayani pembeli. Kong bilang pada pembeli kalo band yang kasetnya ia tunjuk, salah satu dari 4 anggotanya adalah gay. Pembeli yang semuanya perempuan itu nggak percaya. Kong menunjuk band yang lain. Kali ini band yang terdiri dari 6 orang. Kong yakin banget kalo salah satu dari mereka pasti gay. (Duh, kacau banget ya Kong ini. Bukannya mempromosikan dagangannya biar pembeli tertarik, malah menjauhkan pembeli agar nggak jadi beli). Tum mendatangi Kong dan memukul kepalanya. Ia menyyryh Kong buat menjual kaset, bukan memberitahu mereka tentang siapa yang gay. Paman mendesah. Kalo penjualan menurun, apa Tum nggak ingin pergi berlibur dengan Mam?




Tum berbalik menghadap paman. Ia bilang kalo itu nggak akan terjadi ia dan Mam sudah putus kemarin malam. Paman menyodorkan sebuah kaset pada Tum. Assanee, Nuvo, Micro, lagu gangster patah hati. Lagu-lagunya sangat enak. Tum menolak kaset itu. Dia Alter. Alternative. 




Kong ngikutin Tum ke kampus. Tum mempertemukan Kong dengan seorang karyawan yang ada di bidang komputer. Karyawan itu memperlihatkan komputernya. Itu adalah internet tercepat di kampus. Kecepatannya 64k. Ia menanyakan apa yang mau Kong lakukan. Ia meminta pada Kong agar memberitahunya. Ia tahu segalanya. Kong melongo di belakangnya. Kong ingin mengunjungi google. Si karyawan bingung. Ia nggak ngerti apa itu google. Kong mencoba menjelaskan kalo google itu sehenis web pencari informasi. Karyawan itu menjelaskan kalo disana nggak ada google. Tapi ia bisa membantu Kong.



Karyawan itu membawa Kong ke perpustakaan. Ia mempertemukan Kong dengan salah seorang pegawai di sana. Orang itu adalah orang yang Kong cari. Ia adalah seorang "pustakawan". Sumpah aku ngakak banget lihat orang yang Kong temuin. 




Kong berkeliling mencari buku. Ia mendengar seseorang yang menyebut nama Som. Kong memperhatikan orang yang di panggil dengan nama Som dari balik susunan buku. Sayang sekali wajah orang itu tertutup buku yang sedang ia baca sehingga Kong nggak bisa ngelihat wajahnya. Begitu orang itu membuka bukunya, baik Kong dan orang itu sama-sama kaget. 



Bersambung...
Agak kesel sama papa dan mamanya Kong. Kenapa musti bertengkar di hadapan anaknya. Emang sih disini Kong udah gede, udah SMA. Tapi tetep aja, bagi seorang anak ngelihat orang tuanya berantem bisa bikin perasaan mereka terluka.

Maklum juga, sih. Mungkin ini adalah puncak dari kemarahan mama. Bertahun-tahun papa selalu sibuk kerja dan nggak pernah ngeluangin waktu buat keluarga, makanya Kong heran banget pas tahu papa semasa mudanya adalah orang yang pemalas.

Balik ke masa 90-an pasti ngebuat Kong kacau banget. Salah satu kebiasaan anak jaman now, kalo nemu masalah larinya ke mbah google. Paling lucu pas lihat mukanya petugas komputer yang ngakunya tahu segalanya tapi mentok-mentoknya malah bawa Kong ke pustakawan.

Di sini Kong udah ketemu sama Som, akar dari pertengkaran papa dan mama. Kira-kira Kong bakal ngelakuin apa, ya ke Som? Dan gimana pula cara Kong buat nyatuin kembali papa sama mama yang udah putus. Kalo papa dan mama nggak jadi nyambung, artinya mereka nggak akan menikah. Kalo mereka nggak nikah, Kong bakalan hilang, dong???!!!