Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Back to the 90's PART 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: Movie Thailand

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Back to the 90's PART 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Back to the 90's PART 3

Baik Som maupun Kong, keduanya sama-sama kaget pas Som ngebuka bukunya. Som langsung menghadiahi Kong sebuah tonjokkan. Kong jatuh dan kesempatan itu digunakan Som buat melarikan diri. Kong bangkit dan mengejar Som. Sayangnya Kong harus berhenti sebentar karena dia mesti ngeberesin buku orang yang ia tabrak.


Saat membereskan buku itulah Kong melihat buku yang menarik. Ia mengambil buku itu. Teori Relativitas dan Penjelajahan Waktu. Habis mengambil buku itu Kong lanjut lagi ngejar Som. Som terus lari nggak tahu mau kemana. Di belakangnya Kong masih ngejar.


Som masuk ke ruang latihan band-nya Tum. Ia langsung meraih lengan Tum yang lagi latihan. Tum tanya kenapa Som minta tolong padanya. Som berkata kalo dia dikejar orang mesum. Tum heran ada orang mesum, dimana? Di perpustakaan jawab Som.


Tum meminta Som agar nggak usah khawatir, dia akan mengurusnya. Teman-teman Tum langsung siaga saat Kong datang. Mereka meletakkan alat musik mereka dan menghajar Kong habis-habisan. Tum yang nggak tahu itu Kong malah nyuruh temennya buat mukul yang keras. Kong teriak-teriak kalo itu dia.


Tum ngenalin suara Kong. Ia menyuruh temennya buat berhenti mukulin Kong, tapi mereka nggak denger. Mereka malah menendangi Kong makin sering. Tum teriak kalo orang itu adalah anak buahnya di toko. Ia minta temennya buat berhenti, dia udah hampir mati.


Mereka akhirnya mendengar Tum dan berhenti mukulin Kong. Tum tanya apa Kong baik-baik aja? Kong yang udah lemah banget nggak kuat ngejawab. Dia cuman ngangkat jempolnya sambil senyum. Tum mengenalkan Kong pada Som temannya dan ia juga mengenalkan Som pada Kong, pekerja di tokonya. Kong berkata jadi kau Som? Lalu pingsan.


Kong sudah sadar. Dia lagi dipijitin sama teman-temannya Tum yang tadi mukulin dia. Kong membaca bukunya. 'Peneliti mengatakan bahwa menjelajah waktu itu bisa terjadi.' Som menjelaskan pada Tum kalo Kong tiba-tiba mengejarnya.


Tum mengatakan kalo tadi Som manggil Kong orang mesum, barangkali Kong ingin menjelaskan. Som masih menuduh kalo Kong adalah orang mesum. Kong masih membaca bukunya. 'Lalu portal antar dimensi akan terbuka' Tum bilang sama Som kalo dia tahu Kong orang mesum, dia nggak bakalan mempekerjakannya. Som meyakinkan kalo Kong benar-benar orang mesum. Ia menyuruh Tum buat ngelihat Kong baik-baik.


Kong merasa sudah mengatakannya berulang kali kalo dia bukanlah orang mesum. Dan Som sama sekali nggak percaya. Gimana Som mau percaya?? Ia mengingatkan Kong bahwa kemarin Kong melihat celana dalamnya. Kong menatap Som tajam. Som menantang, apa yang Kong lihat?? Tapi ujung-ujungnya dia malah mengadu ke Tum bahwa Kong mau menyerangnya.


Kong bangkit, bukan mau menyerang Som tapi hanya mengubah posisi duduknya jadi menghadap Som. Ia menjelaskan kalo kemarin itu dia pingsan dan ketika sadar dia udah ada dibawah rok Som. Som pikir dia ngelihat celana dalamnya?


Temannya Tum malah tanya apa warnanya. Kong bilang kalo ia nggak lihat. Temannya Tum yang satu lagi malah nyangka Som nggak pakai celana dalam. Som tambah histeris. Ia ngadu lagi ke Tum tentang kedua teman Tum itu. Kong nggak tahu.


Som tanya lalu kenapa Kong ngejar dia kemarin. Kong pingin tanya sama Som. Kemarin dia kehilangan sesuatu. Apa nama bendanya.... Kong menggambarkan barangnya yang hilang. Benda itu bisa mengirim pesan. Tum dan teman-temannya langsung tanggap. Pager.


Kong mengiyakan. Ia kehilangan pager di sana. Ia ingin tanya sama Som, mungkin Som ngelihat. Som udah sewot aja, Kong yang kehilangan barangnya tapi kenapa malah tanya Som. Mesum! Som memaki Kong. Mesum se##*an.


Kong nggak terima dikatain kayak gitu. Ia bangkit, Som juga ikutan bangkit. Mereka udah sama-sama marah. Tum dan temannya menahan Som dan Kong. Tum menyuruh mereka buat tenang. Teman Tum mendudukkan Kong. Dia masih terluka. Tenang.


Tum minta buat dihentikan aja. Ia minta Som percaya padanya kalo Kong bukanlah orang mesum. Ia berani jamin. Meskipun King kelihatan sedikit aneh tapi dia bukan orang mesum. Som masih agak berat buat percaya kalo Kong bukanlah orang mesum, tapi karena Tum terus meyakinkannya, akhirnya dia mau percaya juga. Kong melihatnya nggak percaya. Dia juga bilang kayak gitu tadi, Som nggak denger?


Tum minta disudahi. Masalah udah selesai, ia mengajak teman-temannya buat latihan lagi. Tum meminta Som agar ia pulang. Som sebenarnya mendatangi tempat latihan Tum mau memberitahunya kalo besok Minggu ia akan datang ke tokonya Tum. Tum malah nggak ngerti Som mau apa ketokonya. Som mengingatkan Tum akan janjinya yang katanya mau ngajarin dia main gitar. Tum benar-benar lupa sama janjinya sendiri.


Kong nyeletuk, cuman itu doang???  Som kan bisa ngirim chat lewat Line. Jelas aja semua orang pada nggak ngerti Kong ngomong apaan. Som yang masih kesel sama Kong mengatakan sampai jumpa sambil ngangkat tasnya dan memelototi Kong.


Baru aja jalan beberapa langkah, Som udah berhenti. Dengan genitnya dia bilang kalo diluar sangat gelap dan menakutkan. Tum mengiyakan. Terlalu bahaya buat seorang gadis kalo pulang malam sendirian. Som udah ketawa-tawa aja, dikiranya Tum bakalan nganter dia seperti keinginannya, nggak tahunya malah Tum nyuruh Kong buat nganterin dia. Tau-taunya.....


Som jalannya cepet banget, diikuti Kong di belakangnya. Mereka udah sampai di halte bus. Som nengok ke arah bus yang belum juga datang. Diam-diam Kong mencuri pandang Som. Begitu Som melihatnya, ia pura-pura berpaling tapi pas Som ngelihat ke arah lain, Kong lanjut ngelihatin Som lagi.


Busnya udah datang, sampai disini aja kata Som. Ia pun mau naik bus. Kong meledeknya yang udah nggak takut lagi. Som cuman melotot, denger ledekan Kong itu. Kong keinget sama pagernya dan menanyakannya sama Som, tapi Somnya udah nggak peduli. Busnya udah jalan dan Kong cuman bisa ngelihatin doang. Kecewa.


Pagi harinya Tum ngajarin Kong tentang band-band yang kasetnya mereka jual. Kemarin Tum udah ngajarin Kong dan sekarang tinggal ngulang aja. Ini Proud, Barbie, Y Not Seven, Modern Dog, The Must. Tum ngasih ke Kong semua kaset yang udah dia sebiutin tadi. Ia tanya apa Kong ngerti?


Tum ngetes Kong. Ia mengambil satu kaset dan tanya ke Kong itu siapa. Kong agak ragu mau jawab P.. Proud. Bener kata Tum. Tum ngambil kaset yang lain lagi dan tanya ke Kong lagi. Belum juga Kong jawab tapi Tum udah mukul Kong pakai tuh kaset. Go#**k. Tum nanyain yang lain lagi, karena lama nggak ngejawab, Kong kena pukul lagi. Lemot! Kong protes, minta dikasih sedikit waktu lagi buat mikir.


Tum ngambil kaset lagi dan kali ini Kong bisa ngejawabnya. Modern Dog. Bener. Tapi pas yang selanjutnya Kong nggak bisa jawab. Dia memohon pada Tum agar nggak mukul lagi tapi Tum tetep mukul kepala Kong. Kali ini pakai semua kaset yang ditumpuk jadi satu. Tum minta sama Kong buat menghafal. Mereka penjual kaset. Biar Kong ngerti apa yang mereka cari. Tum meninggalkan Kong dengan semua kaset-kaset itu.


Tum memencet nomor telpon. Ia menghubungi layanan paclink. Operator menyapanya dengan ramah. Menanyakan apa yang ia bisa bantu dan meminta nomor yang di tuju. Tum menyebutkannya tanpa ragu. 993-399. Operator mengulangi nomornya kemudian menanyakan pesan Tum. Mam, apa kau masih marah padaku? Operator mengulangi pesan Tum sambil mengetik. Apa kita bisa ketemu? Operator mengulangi pesan Tum lagi. Sudah itu saja. Operator lagi-lagi mengulangi perkataan Tum, tapi rupanya yang terakhir bukan termasuk dalam pesan. Maksud Tum sudah cukup ia berbicara sama operatornya. Operator kaget. Ia lalu tanya pesan tadi dari siapa. Tum menyebutkan namanya. Operator berterima kasih karena Tum udah memilih layanannya. Tum mengembalikan gagang telpon ke tempatnya.


Paman yang dari tadi berdiri di belakang Tum langsung mendekat begitu Tum menutup telponnya. Ia juga mau menelpon. Tapi pas paman mau ngambil gagang telpon, Tum udah mendahuluinya. Tum nelpon layanan paclink lagi. Tum memberitahu Mam kalo dia akan ikut audisiperusahaan rekaman. Apa Mam mendukungnya? Tum ragu dan mengganti pesannya. Aku mencintaimu, Mam. Sangat mencintaimu. Habis itu Tum tanya sama operatornya apa ia bisa mengganti pesannya lagi? Aku masih ingin bersamamu, Mam. Aku sangat rindu kamu. Tapi Tum juga nggak ingin bagian itu. Nggak iperator, nggak paman, dua-duanya udah sebel banget sama ulah Tum.


Operator meminta maaf. Ia melarang Tum terlalu bingung karena itu akan membuang waktunya. Tum, sih nggak masalah, ia punya banyak waktu luang, kok. Operator hanya bisa mendesah. Sekali lagi ia tanya bagian mana yang Tum pilih, tapi Tum justru memintanya buat lupain aja. Ia nggak jadi mengirim pesan. Operator udah gedeg abis tapi masih mencoba buat ramah. Ia berterima kasih karena Tum udah mimil layanannya. Sehabis Tum menutup telpon, operator itu mengumpat Tum dengan suara laki-laki, baji##*n!


Paman duduk disebelah Tum. Sekarang gilirannya. Paman meraih telpon mau menelpon. Tapi Tum ngeduluin. Ia minta sekali lagi. Paman memperbolehkan, dua kali juga nggak apa-apa. Tapi ujung-ujungnya paman malah mukulin kepala Tum. Paman merampas gagang telpon dari tangan Tum. Bisa nggak Tum ngebiarin paman nelpon sekali aja? Paman mau nelpon tukang gas, gasnya abis. Paman udah nunggu beberapa jam. Paman nyuruh Tum buat minggir, ia mau menelpon. Akhirnya Tum ngalah dan bersedia menyingkir.


"Jika kau masih melihat langit, kau masih bisa melihatku. Jika langit tahu, apa kau mengenalku? Kau adalah mimpiku yang terindah. Jika langit cerah, aku akan tetap menunggu."  Tum ketawa-tawa sendiri membaca rancangan pesan yang mau dia kirimkan buat Mam. Keren banget. Tum memberikan kertas itu buat di baca Kong. Kong berkomentar apa harus sesusah ini kalo mau ngirim pesan? Tum mengiyakan.


Tum menyuruh Kong buat ngelihat sajaknya. Kong tanya apa itu sajak? Alay banget. Kong ketawa geli membacanya. Alay banget, komentarnya. Tum tanya kenapa kong ketawavkayak gitu? Kong tanya apa ini dari generasi nenek moyang? Tum mengira itu kurang puitis. Tum mau puitis? Biar Kong tunjukin. Kong merebut pulpen Tum.


Tum menelpon layanan paclink dari telpon umum. Ia ingin mengirim pesan buat Mam dengan catatan yang dituliskan oleh Kong tadi. Kali ini operatornya udah ganti.'Untuk boneka imutku'. Operator rada kurang ngerti. Dia ngertinya untuk boneka lucuku. Tum membenarkan, bukan lucu tapi imut. Operator yang nggak ngerti-ngerti juga nyuruh Tum buat ngeja. Tum dengan senang hati mengejanya.


'Aku rindu senyummu'. Operator mengulangi pesan Tum, aku rindu setrum... Bukan setrum tapi senyum ralat Tum. Operator minta Tum buat ngeja. Tum pun mengejanya. 'Apa kau rindu padaku? Aku sangat rindu kamu' sekarang giliran operator ngulang, aku sangat .... Rindu kamu, Tum melanjutkan. Ronda? Tanyanya. Rindu, r-i-n-du. Terima kasih dari Tum. Operatornya udah kesel maksimal kayaknya. Duh, mau kirim pesan aja kok susah amat, ya.


Di kamarnya Tum ngelihatin pager-nya melulu. Kong menghampirinya. Masih nunggu pesan dari Mam, ya?? Tum mengangguk. Nggak lama pager Tum berbunyi. Sebuah pesan dari Mam masuk. 'Arus sungai Chaopraya sangat kuat' Tum meletakkan pager-nya di atas meja. Baru aja di taruh, pagernya bunyi lagi. Pesan dari Mam lagi. 'Tapi tak sekuat cintamu padaku' Tum geleng-geleng. Ini semua omong kosong. Ia akan membatalkan pesannya.


Tum meraih gagang telpon lalu menekan nomornya. Kong tanya Tum mau nelpon siapa? Tum mau nelpon Mam. Di rumahnya Mam lagi baca buku di sebelah mamahnya yang lagi nonton TV. Telpon berdering. Mam bangkit mau ngangkat telpon tapi keduluan sama papanya.


Tum buru-buru nutup telponnya begitu denger suara papanya Mam. Kong yang melihat Tum kayak ketakutan tanya sama Tum kenapa. Tum menjawab kalo tadi ayahnya Mam. Dia sangat galak. Kong ngasih tahu kalo kakek sangat baik. Biar dia aja yang bicara. Tum bingung kakek siapa? Tanyanya. Kong meraih gagang telpon tanpa ragu. Ia minta Tum buat menekan nomornya.


Papa Mam yang udah mau duduk jadi nggak jadi gara-gara telpon berdering lagi. Terpaksa deh ngangkat telpon dulu. Halo.' Kediaman Kittimanan, ada yang bisa saya bantu?' Nyali Kong juga jadi ciut pas denger suara kakeknya. Ia langsung menutup telpon. Tum nyalahin Kong. Dia kan udah bilang kalo dia galak.


Tum berpikir, tiba-tiba dia punya ide. Papanya Mam sudah mau duduk sama anak dan istrinya tapi nggak jadi lagi karena telponnya berdering lagi. Kali ini papanya Mam udah nggak bisa sabar lagi. Suaranya udah meninggi. Tum memalsukan suaranya menjadi suara perempuan. Ia mengaku sebagai May dan ingin bicara sama Mam. Papanya Mam yang udah marah tadi jadi agak nyesel. Dia bilang sama May buat tunggu sebentar. Ia memberikan telpon pada Mam. Dari May.


Mam yang nggak tahu kalo itu Tum, senyum-senyum sambil ngangkat telpon. Mam, ini Tum. Tum tanya Mam sedang apa. Mam langsung nutup telpon tanpa ba-bi-bu lagi. Ia kesal. Papa sama mamahnyayan melihat wajah marah Mam bertanya kenapa. Dengan ketusnya Mam menjawab kalo telponnya terputus lalu mengambil bukunya dan beranjak ke kamar.


Tum frustasi. Mam masih marah. Kong menanyakan pada Tum apakah Som adalah mantan pacarnya? Tum menjawab kalo ia dan Som nggak pernah punya hubungan. Kong menduga teman tapi mesra. Tum menanyakan apa itu teman tapi mesra dan King menjelaskan lebih dari teman tapi.... Kong bertepuk tangan pelan, bukan pacar. Tum ngerti, mungkin maksud Kong friend zone.


Kong membenarkan. Tapi ia dan Som nggak seperti itu. Ia dan Som udah kenal sejak kecil. Mereka sangat dekat kayak saudara. Tum nggak ngerti kenapa Mam cemburu. Kong memperkirakan Mam cemburu karena dia tahu sesuatu. Som...sepertinya menganggap Tum lebih dari itu. Tum membantah. Nggak mungkin Som punya perasaan padanya.


Kong meminta Tum percaya padanya, karena ini akan menjadi masalah di masa depan. Tum cuma geleng-geleng sambil menepuk lengan Kong yang ia rasa sangat berlebihan. Tum bangkit dan meninggalkan Kong. Ia mau ke toilet.


Pagi harinya Kong naik motor ke rumah Mam. Ia melihat rumah itu sambil tersenyum. Ia memeriksa papan nama kakeknya yang kini tertutup dedaunan. 'Kolonel Buncha Kittimanan' Kong memanggil sopir yang lagi ngelap mobil. Kong menanyakan apakah ini rumahnya Mam. Sopir itu nyuruh Kong buat tunggu sebentar, ia akan memanggil Mam.


Tak lama kemudian Mam mendatangi Kong. Kong memberi salam. Ia mengatupkan tangannya dan bilang 'sawat dii kha?' Mam juga membalas salam Kong. Kong memperkenalkan diri. Dia Kong, temannya Tum. Iya Mam tahu. Mam tanya gimana Kong bisa tahu rumahnya. Apa Tum yang ngasih tahu? Nggak kok, Kong tahu sendiri. (Secara itu kan rumah kakeknya, mana mungkin Kong nggak tahu)


Mam terus tanya mau ngapain Kong kerumahnya. Apa yang Kong inginkan? Kong ingin membicarakan tentang Tum. Mam yang udah gedeg banget nggak mau denger nama Tum lagi dan menutup pintu pagar. Kong bilang tunggu dulu, Biar ia jelaskan dulu. Mam nggak mau tahu dan tetap mau nutup pagar. Kong menahannya dan akhirnya ia kejepit. Mam yang khawatir dengan jari Kong mendekat dan memeriksa tangan Kong. Sepertinya memar.


Mam meminta maaf. Ia nggak sengaja. Pasti rasanya sakit. Kong memandangi Mam sambil senyum. Melihat Kong tersenyum membuat Mam jadi cuek lagi. Kenapa Kong tertawa? Kong menghapus senyumnya. Nggak papa. Ia hanya merasa kalo Mam mirip sama mamahnya. Mam tambah marah. Maksudnya dia tua? Nggak gitu maksud Kong sifatnya.


Mam ngangguk, terserahlah. Kong mulai dengan memberitahu Mam kalo Tum masih mencintainya. Ia minta Mam mau kembali sama Tum. Mam terdiam. Ia lalu berkata kalo pas mereka putus, Mam bilang pada Tum buat ngejauhin Som. Tum bilang nggak bisa. Kalo dia nggak bisa, lebih baik mereka putus aja.


Kong mencoba mencari solusi. Menurut Kong, Mam nggak harus pergi ninggalin Tum. Yang harusnya pergi itu Som. Tapi Mam nggak perlu khawatir. Kong akan membuat Som pergi dari hidup Tum. Mam menatap Kong seolah nggak percaya dengan rencananya.


Kong memberitahu Mam kalo band-nya Tum akan mengikuti audisi. Mam tahu, kan kalo itu adalah mimpinya. Ia bertanya apakah Mam mau mendukungnya? Kong memohon. Mam terlihat berpikir.


Esok harinya Tum sedang bersiap-siap hendak ikut audisi. Ia menata barang-barangnya di bagasi. Semuanya sudah siap. Tum meminta Kong membantu paman. kong sama sekali nggak konsen. Ia lagi cemas menunggu Mam yang nggak kunjung datang. Tum melarang Kong berdebat dengan pelanggan.


Tum menegur Kong. Dia denger nggak Tum ngomong. Kong tersenyum saat ia melihat Mam sudah berdiri di belakang Tum. Ia menepuk pundak Tum. Ini adalah hari yang indah. Tum mengangguk. King lanjut lagi. Ia tahu Tum butuh dukungan. Tum ngangguk lagi. Dan dukungan yang Tum butuhkan adalah dari....dari dia bukan???


Tum! Panggil Som dari arah depan. Seketika hilanglah senyum di wajah Kong dan Mam. Som berlari menghampiri Tum. Ia mendorong Kong agar menyingkir dari sebelah Tum. Tum mengira Kong yang mendatangkan Som. Kong menjawab enggak sambil melihat Mam. Ia nggak enak sama Mam. Rencananya kacau, dan itu semua....gara-gara Som.Mam langsung berbalik dan pergi gitu aja.


Som meraih tangan Tum. Ia menyemangati Tum agar melakukan yang terbaik dan jangan lupa padanya kalo udah terkenal nanti. Tum melepaskan tangannya. Lihat saja nanti. Som meraih tangan Tum kembali. Ia bilang lagi sama Tum buat melakukan yang terbaik. Tum mengiyakan ia mengusap-usap kepala Som yang langsung ngebuat Som jadi ke-gr-an.


Teman Tum menanyakan apa Tum udah siap. Tum mengangguk. Mereka akan berangkat. Som teriak pada Tum agar melakukan yang terbaik. Semangat! Kong menatap Som dengan perasaan dongkol. Som nggak enak dapat tatapan kayak gitu. Ia tanya kenapa? Kong marah. Kalo itu yang Som ingin katakan, lewat telpon kan bisa! Som....tukang tikung! Som bingung. Tukang tikung itu apa? Paman yang lihat Kong marah-marah juga bertanya-tanya kong tuh kenapa? Tukang tikung??


Kong lagi melayani pembeli. Kali ini dia udah lebih baik. Lebih ramah dan nggak melakukan kesalahan. Di bawah tumpukan kaset, Kong menemukan foto Tum dan Mam semasa masih bersama. Ia tersenyum menatapnya. Di sebelahnya Kong melihat foto Som yang pamer medali. Kong juga tersenyum melihatnya. Ia membalik foto itu. Ada tulisannya, untuk Tum, ❤ Som. Kong jadi manyun lagi habis baca itu.


Paman lagi baca koran di atap. Dia kelihatannya seneng banget. Ini dia, paman nggak perlu rebutan telpon lagi dengan Tum. Rupanya paman lagi lihat artikel telpon genggam. Kong mendekatinya. Ia nggak ngerti kenapa Som begitu tertarik sama Tum. Som udah tahu kalo Tum udah sama Mam. Tapi Som tetap seperti itu sampai mereka putus.


Paman menjelaskan kalo Som adalah anak kesayangan. Dia nggak punya banyak teman. Kemanapun dia pergi, dia selalu bersama kakaknya. Tum adalah sahabat kakaknya.


Flashback...

Tum dan kakaknya Som mengantar Som ke sekolah. Mereka kelihatan deket banget. Di lain kesempatan, Tum dan kakaknya Som mencuci motor bersama-sama. Som yang melihatnya tersenyum sambil bermain gitar. 
Flashback end...

Suatu hari kakak Som meninggal. Dia nggak punya orang yang bisa menjaganya. Sejak saat itu Tum mengambil posisi kakaknya Som.

Flashback...


Som menggantung foto kakaknya di dinding sambil menangis sedih. Di sebelahnya berdirilah Tum dengan tangan yang di sayut. Ia mencoba menenangkan Som yang tengah bersedih.


Kong terdiam mendengarkan cerita paman. Ia nggak nyangka ternyata itulah yang menjadi alasan Tum selama ini nggak bisa meninggalkan Som. Paman bertanya, seandainya Kong berada pada posisi Tum, apa Kong akan meninggalkan Som?


Kong menjawab iya. Paman nggak nyangka Kong bisa bilang begitu. Kong menambahkan kalo ia mencintai Mam. Ia berada di pihaknya. Paman bangkit, minta Kong jangan bercanda. Apa Mam ibunya Kong? Kenapa Kong sayang banget sama Mam? Kong hanya terdiam. Paman merasa percuma menjelaskan ke Kong. Paman nggak mau bicara dengan Kong lagi.


Paman mau turun bertepatan dengan Tum yang baru datang. Tum memberi salam. Paman tanya kalo Tum kesini siapa yang jaga toko? Tum bilang kalo ia menutup tokonya. Tutup? Paman ketawa. Ia bakal bangkrut kalo tutup secepat itu. Paman mau membukanya kembali.


Tum menghampiri Kong. Kong menyapa Tum, apa audisinya lancar? Ya gitu, deh. Kong mengerti. Tum tanya apa besok Kong bisa membantu paman? Kong balik tanya emangnya Tum mau kemana? Tum mau mengajari Som main gitar.

Kong cerita kalo paman memberitahunya semua tentang Som. Apa ini nggak berlebihan buat Som? Mungkin hal ini bakalan bertambah buruk. Tum malah nanya apa yang dilakukan Som salah? Nggak ada yang salah, selama Som hanya menganggapnya sebagai saudara.

Tum meneguk minumannya. Kong melanjutkan kalo Tum peduli pada Som, Tum harus membiarkannya pergi. Tum menayakan Kong ingin ia melakukan apa?


Tum menemui Som di taman. Tum bilang ia harus latihan buat audisi. Ia nggak punya banyak waktu buat ngajarin Som. Som kecewa tapi sebelum ia sempat berkata-kata, Tum udah bilang lagi untuk nggak khawatir, ia punya pengganti.


Tiba-tiba Kong keluar dari belakang Tum. Som protes, apa Tum bercanda? Ia bakalan pergi ke festival musik sekolah dan Tum membiarkan si mesum mengajarinya? Som ragu Kong bisa main gitar. Kong unjuk gigi. Ia memainkan gitarnya dengan sangat apik. Dan ternyata Kong kidal (aku suka sama cowok kidal, curcol) Tum menanyakan pendapat Som. Kong ini gitaris kidal, seperti Kurt Cobain. Kong bilang ia lebih baik dari yang Som pikirkan.


Baiklah karena semua udah beres, Tum mau pegi dulu. Som masih mau protes, ia terus memanggil Tum tapi Tum-nya udah nggak peduli. Ia terus berjalan menjauhi Som dan Kong. Kong berdiri dihadapan Som. Som malas melihatnya. Ia berpaling dan duduk. Kong duduk di samping Som. Ia nggak akan meminta bayaran. Ia bakal membantu Som buat menulis lagu yang ia pingin. Tapi dengan satu syarat. Som menatap Kong sebal.

Bersambung...

Komentar:
Nggak nyangka itu alasan Tum nggak bisa ninggalin Som. Mungkin Tum terlibat dalam sebuah kecelakaan bersama kakaknya Som. Kakaknya Som meninggal dan Tum mengalami cidera. Hal itulah yang mengikat Tum nggak bisa lepas dari Som.

Nggak nyangka juga Kong pandai main gitar. Buah emang jatuh nggak jauh dari pohonnya. Salut banget sama dia yang udah gerak cepat buat nyatuin Mam sama Tum kembali. Rada penadaran apa, ya syarat yang bakal Kong ajuin? Kira-kira Som mau nggak terima tuh syarat? Kong, lanjutkan perjuanganmu!

1 komentar:

lumayan seru.. lanjut