Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Secret Seven Episode 4 PART 2


Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: GMM One

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 4 PART 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 4 PART 3

Padlom memuku pintunya, tapi lift tidak mau terbuka juga. Ia ketakutan. Ia lalu berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengar. Ia lalu menelepon Spoil.


Padlom lalu berdoa meminta pertolongan, “Aku tidak mau mati. Aku belum lulus. Aku belum menikmati hidupku. Aku belum pernah punya pacar. Aku akan menari jika perlu. Aku mohn.”


Dari bawah, Pok melihat Padlom yang sedang berada di dalam lift.


Pok tiba-tiba tersenyum karena yang dia lihat adalah Padlom yang sedang menari.


Ketika Padlom mulai memukul-mukul pintunya lagi, Pok baru sadar kalau Padlom terkurung di lift.


Pok berlari.


Ia berusaha membuka pintu liftnya.


“Kau sedang apa?”
“Tolong panggil petugas, temanku terjebak di dalam.”


Pok menengok, “Padlom?”


Padlom ternyata sudah ada di luar karena petugas sudah datang menolongnya.


Pok bilang ia melihat Padlom menari di lift, tapi Padlom menyangkalnya. Pok juga bilang jika hal semacam itu terjadi lagi, Padlom bisa meneleponnya. Padlom menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju ruang klub.


Sesampainya di klub, Padlom membuka lokernya dan menemukan sebuah pot tanaman di dalamnya.


“Untukmu Padlom, dari Smiling Bear.”


Padlom langsung menutup lokernya, saat Gent memanggilnya.


Gent memberikan hasil fotonya kemarin. “Hari ini adalah Hari Tersenyum Sedunia. Jadi tersenyumlah banyak. Kau terlihat sangat manis seperti di foto.


“Kau bisa memberikan ini kepada Spoil? Manis bukan?” pinta Gent.


“Aku tidak pernah mengambil foto Ghost, dia tidak pernah tersenyum,” lanjut Gent lagi.


Padlom memberikan fotonya kepada Spoil. Spoil berkata, “Kalau saja Gent hanya memberikan fotomu tidak fotoku juga, maka aku menebak dia adalah orangnya.”


Padlom: “Aku rasa bukan Gent. Dia selalu memberiku sesuatu padaku secara langsung, tapi si Bear tidak pernah. Ohya, aku juga menerima tanaman.”
Spoil: “Tanaman? Si Bear semakin aneh saja.”


Dosen akan mengajarkan tentang terapi musik, tapi sayangnya ia harus pergi, jadi ia akan memberikan tugas. “Berpasanganlah dengan teman sekelasmu dan buatlah laporan tentang hubungan antara musik dan emosi manusia.”


Play menghampiri Padlom yang sedang melamun. Ia menanyakan apa yang Padlom pikirkan.


“Tidak ada,” jawab Padlom. Play lalu memainkan gitarnya, “Jika kau ingin merasa lebih baik, datang dan lihatlah aku bermain di taman.”


Menanggapi ajakan Play, Padlom lalu memintanya untuk menjadi narasumber untuk tugas psikologinya dan Spoil. Sorenya, Liftoil ikut bersama mereka untuk menjadi kameramennya.


Spoil pergi untuk membeli minuman. Padlom membawa kipas angin pemberian Gent dan membaginya dengan Liftoil karena cuaca sedang panas. “Menyenangkan berada di sini, ada banyak pohon. Aku suka pohon. Menyejukkan,” kata Liftoil.


Sementara Padlom mengecek pesan yang masuk di ponselnya, Liftoil mengambil gambar Padlom dan mengirimkannya balik ke Padlom. Padlom protes lalu mereka berebut untuk saling memfoto satu sama lain.


Play mulai memainkan gitarnya dan orang-orang berdatangan untuk melihatnya.


“Dia terlihat keren,” kata Spoil.


Padlom memulai wawancaranya. Ia menanyakan apa pendapat Play tentang hubungan musik dan emosi manusia.


“Menurutku, mendengarkan musik seperti melihat gambar. Setiap gambar menunjukkan hal yang berbeda. Begitu juga musik. Setiap chord dan melody menunjukkan perasaan yang berbeda,” jawab Play.


Play lalu menunjukkan bahwa petikan gitar yang dihasilkan dapat membuat pendengarnya merasakan hal yang berbeda, kebahagiaan, kesedihan, kesendirian, atau mungkin rasa cinta.


Tiba-tiba Spoil memarahi Liftoil karena baterai kameranya habis.


Padlom baru tahu kalau Play juga bermain gitar di taman, bukan hanya di cafe. “Bermain musik di cafe untuk mencari uang, tapi kalau di taman untuk mendapatkan feel-nya. Aku suka warna kehijauan yang ada di taman, rasanya menyejukkan mata.” Kata Play


“Kau suka pohon?” tanya Padlom.