Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Back to the 90's PART 4


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: Movie Thailand

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Back to the 90's PART 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Back to the 90's PART 5

Som lagi latihan sama teman-teman band-nya. Dia adalah vocalist. Kong sendiri lagi sama Tum di toko. Tum lagi main gitar. Ada pesan masuk di pagernya Kong. Dari Som cantik. Dia nanyain gimana nulis lagunya. Kong seneng banget dapat pesan dari Som. Tum merebutnya dan pengen lihat pesannya dari siapa.Kong malu. Ia merebutnya dan pergi ninggalin Tum. 


Kong dan Som mau nonton film. Som nanyain apa yang akan mereka tonton. Kong sebenernya lagi ngeluhatin fotonya Som yang dia temuin tempo hari. Ia nyembunyiin dompetnya dibalik punggungnya. Som meledek Kong yang wajahnya berubah merah. 


Kong sama Som udah ada di dalam bioskop. Film-nya udah di putar. Som seneng banget. Ketawa mulu dari tadi sementara Kong diem aja. Habis hari itu mereka jadi tambah dekat. Mereka jadi sering balas pesan, kayak orang lagi kasmaran gitu, deh. Som ngirim pesan. Kong yang nerima langsung ngehampirin telpon dan balas kirim pesan buat Som. Kong sampai harus rebutan telpon sama paman. Lucu banget, deh. Buat ngalihin paman yang lagi pakai telpon, Kong ngebohongin paman kalo dapurnya kebakar. Hal itu sukses bikin paman menyingkir dari telpon dan Kong bisa berbalas pesan lagi sama Som.


Kong pulang dari ngajarin Som bikin lagu. Paman duduk di depan ruang tamu sambil merokok. Di depan paman udah ada banyak puntung rokok tapi masih menyalakan korek untuk merokok. Dia kelihatan gugup banget kayaknya. Di ruang tamu Kong melihat ada Mam bersama orang tuanya lagi duduk bareng Tum. Kong nanya ke paman apa ada yang ulang tahun? Kok rame banget. Paman mengiyakan. Udah dua bulan terlewat. Kong malah ngira paman hamil. Ia langsung meletakkan telinganya di perut paman. Ia masih sempat melucu nanyain udah berapa bulan? Kayaknya udah mau keluar. 


Paman mukul kepala Kong. Dia nggak hamil. Kong tertawa. Kong nanyain siapa yang lagi di dalam. Papanya Mam menoleh ke Kong. Paman yang kebetulan juga nengok kedalam langsung malingin wajah pas nggak sengaja pandangan matanya ketemu sama matanya papa Mam. Dia takut banget sama papanya Mam. Kong yang ngelihat Mam langsung nangkap kalo yang hamil adalah Mam. Ia nanyain itu ke paman tapi paman malah mukul kepala Kong lagi karena Kong berisik banget dari tadi. Situasinya lagi tegang. Paman minta Kong duduk aja di deketnya. Paman minta Kong tetap diam dan jangan ngelakuin apapun. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. 


Paman membuang rokoknya dan masuk kedalam. Kong menambi dompetnya dan  melihat tanda pengenalnya. Tanggal lahirnya 16 Februari 1996. Itu artinya ia akan lahir tahun depan. Kong masuk dan duduk di bawah di samping paman. Paman manggil papanya Mam dengan pak. Papanya Mam nanya siapa bapaknya. Paman meminta maaf dan ganti memanggil dengan Kolonel. Papanya Mam nggak mau masa depan putrinya hancur karena dia (nggak tahu yang dimaksud Tum atau anak dalam perut Mam). Paman mencoba bicara lagi untuk saat ini Mam udah hamil. Papanya Mam bangkit dan ngasih solusi aborsi. Semua orang kaget karena bicaranya ngagetin.


Kong bangkit nyuruh tunggu dulu. Ia pikir itu bukan ide yang bagus. Menurutnya bayi itu bakalan kecewa kalo tahu kebenarannya. Paman nyuruh Kong diam dan duduk. Papanya Mam nanya apa yang barusan Kong bilang? Kehamilannya baru 2 bulan, menurutnya dia belum punya telinga. Itu manusia bukan belut. Kong langsung megang kedua telinganya. Ia jadi lemas. 


Tum angkat suara. Ia manggil papanya Mam dengan ayah. Ia memohon. Ia tahu apa yang ia dan Mam lakukan adalah salah. Tapi ia sangat mencintai Mam. Ia mengaku siap bertanggung jawab. Ia akan menanggung semuanya. Ia juga akan mencari kerja. Ia akan menjaga Mam dan bayinya. Papanya Mam nggak percaya. Menurutnya orang kayak Tum nggak bisa menanggung semua itu. 


Mam mengatakan kalo ia percaya sama Tum. Dan juga itu adalah bayinya bukan bayi papanya. Papanya Mam terdiam sesaat. Nggak lama kemudian ia tertawa. Ia duduk putus asa dan marah. Tum berterima kasih pada Mam karena udah mau percaya padanya. Mam mengangguk. 


Keesokan harinya Tum berpamitan pada teman-teman nge-band-nya. Ia minta teman-temannya jaga diri baik-baik. Ia juga mendoakan teman-temannya agar sukses dan terkenal. Tum meninggalkan mereka dengan langkah gontai. Pasti berat ninggalin impian. 


Tum berjalan mendekati Kong dan duduk disampingnya. Kong menanyakan apa benar Kong mau keluar dari Band? Tum mengaku kalo dia udah keluar. Kong bilang,  itu kan mimpinya Tum. Tum mengatakan ketika dia tahu dia  punya bayi, ia pikir mimpinya berubah. Mimpinya bukan cuma untuk dirinya sendiri. Ia nggak ingin Mam dan bayinya sengsara. Ia akan menjaga mereka. 


Kong yang dari tadi cuman ngedengerin aja tanpa sadar netesin air mata. Mungkin ia ingat dulu selalu ngeluh sama papa yang kerja mulu, nggak pernah ada waktu sama keluarga dan nggak pernah dirumah. Baru nyadar kalo ternyata semua kerja keras papanya, semuanya buat dia dan mamahnya. Tum nanya kenapa Kong nangis? Kong cuma menjawab kalo bayinya Tum sangat beruntung. Tum rasa Kong terlalu baper. 


Kong mendapat pesan dari Som. Ia menghapus air matanya dan membaca pesannya Som. Som meminta Kong menemuinya di bioskop. Tum nanya apa itu dari Som? Ia penasaran ada apa dengan mereka berdua. Kong bilang nggak ada apa-apa. Itu cuman tentqng lagu. Tum malah meledek Kong. Tentang lagu? Lagu cinta? Tum mengusap kepala Kong. Ia ngasih saran ke Kong agar mengatakan perasaannya pada Som. Kong segera bangkit dan ninggalin Tum. 


Som udah nunggu Kong di bioskop. Kong datang dan Som tersenyum. Ia ingin memberitahu sesuatu. Som berterima kasih pada Kong karena udah mengajarinya main gitar dan membuatkan lagu. Kong ngangguk dan nunggu kalimat Som selanjutnya tapi rupanya Som cuman mau bilang itu aja. 


Kong agak kecewa. Kalo cuman itu kan bisa bilang lewat telpon atau pager aja. Som sungguh-sungguh membuat janji hanya untuk satu kalimat aja? Apa itu nggak capek? Som berkata enggak. Ia pikir tulisan nggak bisa menjelaskan semuanya. Som lebuh suka ketemu langsung. Kong menanyakan apa bednya. Menurut Som tulisan itu bisa berbohong tapi mata nggak bisa bohong. 


Som mendekati mata Kong. Ia minta ijin melihat perasaan Kong. Kong memalingkan wajahnya. Som makin mendekat. Kong berpaling menghadap Som, boo... Som kaget. Kong tertawa puas. Btw, Som seneng karena ini adalah hari terakhir ia ketemu sama Kong. 


Som ngajak Kong bikin foto buat kenang-kenangan. Ia narik Kong ke photobox. Kong heran mesin foto itu masih populer. Som mengklaim kalo itu adalah barang baru. Ia nanya dari mana asalnya Kong sampai nggak tahu alat kayak gitu. 


Petugasnya nyuruh keduanya buat siap-siap. Mereka punya 12 kali kesempatan. Mereka mulai berpose saat mesin itu mulai memotret. Kayaknya mereka bahagia banget. Setelah hasilnya keluar, mereka melihatnya sambil ketawa-tawa. Menurut Som kong itu sangat aneh. 


Som mengambil satu untuk Kong sementara sisanya untuk dia sendiri. Kong nanyain yang harus dilakuin sama benda itu. Som nyuruh Kong buat nempelin itu di buku stiker. Kong diam aja. Dikiranya Kong nggak punya, lalu dia nyuruh buat tempel di pager aja. Som mengambil pager milik Kong dan nempelin foto itu. Kong nggak pernah ngelakuin itu, ya? Selesai menempel, Som mengembalikannya pada Kong. Kong melihatnya penuh arti.


Som memanggil Kong. Ia ingin bertanya sesuatu. Besok ia akan tampil di kontes. Bisa nggak Kong ngajak Tum? Kong nanya kenapa Som membutuhkan Tum? Som janji ia bakal nyelesaiin lagunya. Jadi dia bisa ketemu Tum?  Kong terdiam tanpa mampu bilang apa-apa. Som masih nganggap Tum bakalan nepatin janjinya. Janji? Tanya Kong. Ia nggak ngerti apa yang udah dijanjiin sama Tum sampai Som seseneng itu. 


Flashback...

Som nanya sama Tum, jika Som udah mahir main gitar, ia ingin nanyain sesuatu. Tum nanya apa yang mau Som tanyakan. Som terang-terangan tanya apa Tum mau jadi pacarnya? Tum ketawa mendengarnya. Ia menantang Som pergi ikut kontes dan memenangkannya. Kalo Som menang ia janji bakalan memikirkannya. 

Flashback end...


Som memeluk Kong. Ia senang Tum bakalan jadi pacarnya. Ia sangat ingin menjadi pacarnya Tum. Kong terdiam, patah hati. Kong akhirnya ingin memberitahu Som sesuatu tapi Som malah nyuruh dia nunggu bentar karena ada pesan masuk di pager-nya. Som harus pergi karena temannya ngajakin latihan. Ia bakal nemuin Kong nanti. 


Kong menahan Som. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Som. Som nyuruh Kong megangin pager dan fotonya, ia mau mengambil pulpen dari dalam tasnya. Ia menuliskan nomornya di telapak tangan Kong. Ia meminta Kong menelponnya nanti. Habis itu Som pergi ninggalin Kong. Kong melihat nomor itu dan ia ingat kalo itu adalah nomor yang ada di dalam pesan pager di masa depan.


Langit mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan sangat lebat. Kong berlari menuju telpin umum. Ia menatap nomor Som yang hampir memudar terkena air hujan. 9482092. Kong menuliskan nomor itu di dinding bilik telpon umum. Kong mengangkat gagang telpon mau nelpon Som tapi nggak jadi. Ada pesan yang masuk untuknya. Dari Som yang berpesan agar Kong nggak lupa buat ngajak Tum besok. Kong bersandar. Ia bener-bener patah hati.


Hari untuk kontes akhirnya tiba juga. Pembawa acara menyiarkan band terakhir yang bakalan tampil. Ia minta tepuk tangan yang meriah untuk Purr. Penonton bertepuk tangan. Som maju. Ia memoerkenalkan band-nya Purr. Kong yang baru datang langsung duduk. Sebelum Som mulai, ia ingin mengucapkan terima kasih pada temannya yang telah membantunya membuat lagunya. Kong tersenyum mendengarnya. 


Dan Som juga mau ngucapin terima kasih buat saudaranya. Ia nggak tahu dia ada disana apa enggak. Tapi Som percaya dia bakal datang. Som ingin bernyanyi untuknya. Dia yang telah merubahnya. Ia disana karenanya. Kong menunduk sedih banget kayaknya. 


Som mulai memainkan lagunya. Lagu itu membawa Kong pada kenangan-kenangannya dengan Som. Sedangkan Som menyanyikan lagunya sambil mengingat Tum. Mereka asik dengan memori masing-masing. 


Akhirnya yang diharapakan Som terwujud. Band-nya menjadi juara. Som larut dalam kegembiraan bersama personil lainnya. Kong menghampiri Som. Som yang lagi bahagia memeluk Kong. Ia berhasil melakukannya. Ia menanyakan dimana Tum, kok Som nggak melihatnya. Kong mengatakan kalo Tum masih ada urusan. Dia nggak bisa datang. Som terdiam, ia kecewa. Tapi nggak papa, Som bakal ngasih tahu sendiri. Som berlari ninggalin Kong. 


Som mengetuk-ngetuk pintu pagar rumah Tum sambil manggil Tum. Tum membukakannya. Som yang melihat Tum tampil rapi menanyakan Tum mau kemana. Tapi nggak masalah. Som memperlihatkan pialanya. Ia ngasih tahu Tum kalo ia berhasil memenangkan kontes. Dan Som mengingatkan janji mereka. Tum malah balik nanya janji apa yang Som maksud. Kong yang sudah sampai nggak bisa berbuat apa-apa. 


Som mencoba mengingatkan Tum. Tum berjanji kalo Som udah seperti Tum nanti, Tum mau kencan dengannya. Sekarang ia sudah berhasil melakukannya. Ia berhasil karena ia mencintai Tum. Ia mencintai Tum dari dulu. Som langsung meluk Tum. Dia sangat senang. 


Tum melepaskan pelukan Som. Ia meminta Som buat mendengarkannya. Sebentar lagi ia akan menikah dengan Mam. Seketika itu juga senyuman Som sirna berganti dengan air mata yang mulai menetes. Tum meminta maaf. Ia nggak bisa menganggap Som lebih. Som shock dan ia pun pergi dengan perasaan terluka. Ia berlari meninggalkan rumah Tum.


Tum juga sedih sepertinya. Ia inget sama kenangannya sama Mam dan dia nggak mau membuat Mam kecewa lagi. Som menangis di suatu tempat. Kong berlari mencari Som. 


Proses pernikahan antara Tum dan Mam berlangsung secara sederhana. Tum menyerahkan persembahan untuk papanya Mam. Kayaknya papanya Mam masih belum bisa nerima Tum. Ia terus memasang wajah masam. Mam menggenggam tangan Tum dan tersenyum. 


Kong masih nyari Som kemana-mana tapi nggak ketemu. Kong nggakputus asa, ia terus nyari Som di tempat yang lain. Akhirnya Kong nemuin Som lagi duduk di taman. Kong menghampirinya, ia duduk di tanah di hadapan Som. Som mengatakan saat ia bersama Tum, ia merasa nyaman. Suatu hari Som ingin bersamanya. Tapi ketika Tum bersama Mam, Som selalu yakin kalo mereka bakalan putus suatu hari nanti. Dan yang akan berada di sampingnya adalah dia. Som menatap Kong. Ia nggak mau nyerah, tapi sekarang ia harus menyerah. Ia udah kalah. 


Kong menanyakanpada Som apa ia mengingat hari itu? Hari saat Som membawanya ke konser. Saat itu Som memberitahunya meski alternative udah nggak ada, itu nggak penting. Karena kita masih mempunyai kenangan indah bersamanya. 


Som menggeleng. Kong berkata begitu karena Kong nggak pernah merasakan cinta. Kong terdiam dibilang nggak pernah ngerasain cinta. Som udah lelah. Ia mengambil pialanya dan mau pergi. Kong ikutan bangkit. Ia menarik tangan Som yang udah jalan dihadapannya sehingga kini mereka kembali berhadap-hadapan. Kong menyuruh Som melihat matanya dan Som akan tahu apa yang Kong rasain. Som menatap mata Kong lalu menghempaskan tangannya. Ia benar-benar pergi ninggalin Kong. Kong duduk sambil megang matanya. Cup...cup Kong, jangan sedih.

Bersambung...

Komentar:
Awalnya rada sebel tiap kali lihat Som. Dari tukang PHO jadi tukang tikung, e...sekarang jadi tukang PHP. Tapi kasihan juga pas lihat ia ditolak sama Tum. 

Yang paling bikin deg-degan adalah pas Tum negoisasi sama papanya Mam atas kelangsungan anak dalam kandungan Mam. Papanya Mam galak banget. Ikut kaget pas dia bilang aborsi aja. Itu cucumu, lho kek. Tega banget pake di samain sama belut.

Dan yang bikin trenyuh adalah pas Tum melepaskan impiannya demi Mam dan bayinya. Ia bakal kerja keras demi mereka. Karena mimpinya bukan miliknya sendiri. Pas lihat Kong nangis, tanpa sadar aku juga ngikut nangis. Inget sama ayah. Ayah sibuk kerja nyari nafkah buat keluarga tapi anaknya malah ngeluh mulu, bukannya mendukung.

1 komentar: