Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 5 Part 2

Mu Xi terlihat sedang berkirim pesan dengan teman-temannya.”Kencan?”


Alkisah di Istana Qianqing. 


Kaisar Mu Xi bercerita pada bawahannya bahwa hari ini, Liao Dan Yi mengirimkan pesan yang berbunyi ‘Kencan?’ Dia ingin tahu apa artinya itu.


Salah satu menterinya menjelaskan bahwa kencan adalah “Kegiatan yang dilakukan orang muda saat berkumpul bersama seperti makan, nonton film, berjalan-jalan dan aktifitas sensitif lainnya.”


Kaisar Mu XI tidak percaya Dan Yi menginginkan hal itu. Dia bertanya bagaimana membalas pesan itu.


Menterinya yang lain memohon izin bicara dan menyarankan agar Mu Xi membalasnya dengan pesan ‘Kencan apa?’ Menteri lainnya mengatakan itu ide yang bagus.


Kaisar Mu Xi setuju lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan itu. Dan Yi membalas dengan ‘Makan. XOXO’.


Menteri 1: “XOXO? Niat buruknya sangat jelas!”
Menteri 2: “Tidak punya rasa malu.”
Menteri 1: “Tidak perlu dibalas.”
Menteri 2: “Jangan begitu. Yang Mulia, jika Anda menyerah sekarang, itu mengurangi kebaikan Anda. Walaupun ini jebakan, Anda harus tetap pergi! Yang Mulia, katakan ya.”


Kaisar Mu Xi mengikuti nasehat Menteri 2. Dan Yi membalas ‘Tunggu saja nanti’.


Menteri 3 berkata bahwa dia punya ide. “Bagaimana jika Anda mengirimkan emoticon marah sebagai jawabannya?” Menteri 1 setuju dan Kaisar Mu Xi kembali membalas pesan Dan Yi.


Dan Yi membalasnya dengan emoticon tersenyum. Menteri 4 menyarankan agar Mu Xi mengirimkan nada yang terlihat menghina, “Katakan bahwa Anda akan pergi mandi, itu adalah cara yang baik untuk menghentikan pembicaraan.”


Dan Yi membalas lagi ‘Selamat malam, semoga bisa memimpikanmu’. Menteri 2 berkata, “Sial.. Sial.. Pembicaraan ini tidak bisa diakhiri”.


Para menteri kebingungan harus membalas, tapi tiba-tiba Menteri 1 tertawa. Ia memilik ide agar Mu Xi mengirimkan satu kata saja yaitu ‘Menarik’. Menteri yang lain menyanjungnya dan mengatakan kalau dia sangat pintar.


Pulang sekolah, Mu Xi pulang beriringan dengan Dan Yi. Mereka tidak saling bicara.


Akhirnya Dan Yi mulai bicara duluan dan mengatakan kalau hari ini Mu Xi sangat aneh. Mu XI bilang ia tidak akan takut acara makan malam nanti. Dan Yi malah bertanya, “Makan malam apa? Dengan siapa?” Mu XI bingung dan bertanya bukankah Dan Yi yang mengajaknya. “Pesan? Akunku dihack. Kau tidak tahu?” kata Dan Yi.


Mu Xi terkejut. Dan Yi juga menambahkan bahwa orang yang meng-hack akunnya juga meminta uang pada orang-orang atas nama Dan Yi. Jadi Dan Yi sudah memberitahukan pada semuanya kalau akunnya di-hack.


Mu XI lalu mengecek ponselnya dan membaca pesan agar mengirimkan uang 500 yuan bahkan 1000 yuan. “Penipuan menjijikan!” teriak Mu Xi sambil meninggalkan Dan Yi.


Mu Xi sedang menghapus papan tulis saat Xiao Dong datang dan mengatakan bahwa dia sudah mengerti. Mu Xi lalu meminta bantuan Xiao Dong untuk melanjutkan menghapus papannya. Xiao Dong merasa kasihan atas apa yang terjadi sebelumnya, jadi dia ingin minta maaf pada Mu Xi.


Mu Xi bilang ia tidak masalah dengan hal itu. Mu Xi tiba-tiba bersin. Xiao Dong menanyakan keadaannya. “Tidak apa-apa, aku merasa punggungku..”


Lalu sepasang kaki pria terlihat keluar dari suatu ruangan.


Seorang pria dengan kacamata dan poni aneh terlihat berjalan di lorong sekolah. Para siswa yang melihatnya langsung berlari dan bersembunyi.


Pria tersebut membacakan sebuah puisi dan ia menganggap dirinya pandai dalam membaca puisi.


Pria itu adalah Kepala Dinas Pendidikan, Direktur Yan.


Direktur Yan masuk ke kelas Mu Xi. Ia bilang akan memulai pelajarannya.


Tapi tidak ada yang mempedulikannya. Ia menunggu Ketua Kelas menyiapkan kelasnya, tapi tidak juga terjadi.


Dan Yi menyuruh Mu Xi menyiapkan kelasnya, tapi Mu Xi tidak mau. Akhirnya Dan Yi yang melakukannya, “Berdiri...”


Barulah para siswa berdiri dan memberi salam. Direktur Yan lalu menyuruh mereka duduk kembali dan bertanya ada apa dengan Ketua Kelas.


Dan Yi berkata kalau dia bukan ketua kelasnya. Lalu dia melirik Mu Xi.


“Gadis itu, apakah kamu ketua kelasnya? Kenapa kau hanya duduk diam dan membisu? Kemari..” kata Direktur Yan. Mu Xi berjalan ke depan kelas dan Direktur Yan menanyakan namanya.


Dir. Yin: “Ketua kelas, otakmu seperti bubur ya? Sebelum belajar, ketua kelas harus mengarahkan siswa lainnya untuk mengatakan Good Morning Teacher untuk menunjukkan rasa hormat pada guru. Kamu tahu tapi kamu membisu dan pergi ke Antartika? Luar biasa! Berdirilah di luar!”
Mu Xi: “Baik. Aku sudah terbiasa dengan itu.”


Dir. Yin: “Sikap apa itu?! Apakah kamu ingin membuat masalah?”
Mu Xi: “Tidak. Aku hanya.. bersikap seperti ini kepada semua guru.”
Dir. Yin: “Bagus. Sangat bagus. Bawa kursimu dan berdirilah di luar!”


Mu Xi membawa kursinya dan Direktur Yan menambahkan pesannya agar Mu Xi meletakkan kursi itu di kepalanya. Mu Xi menurut saja. 


Xiao Dong tiba-tiba berdiri dan mengatakan bahwa hukuman seperti itu tidak pantas. Direktur Yan menyebut Xiao Dong ksatria dan menyuruhnya berdiri di luar juga. Xiao Dong mengambil kursinya dan berjalan keluar kelas.


Direktur Yan membacakan peraturan saat berada dalam kelasnya. “Pertama, siswa tidak boleh melihat-lihat ke arah lain selama di kelas. Jika melanggar keluar. Kedua, jangan berisik.”


Dia terus menyampaikan peraturannya dan selama itu pula para siswa terus keluar sambil membawa kursinya. Mereka berdiri di luar kelas sambil meletakkan kursinya di atas kepala mereka.


Saat merasa lelah, para siswa menurunkan kursinya. Tapi begitu Direktur Yan keluar, mereka akan mengangkat kursinya lagi.


Hanya Dan Yi yang tersisa di kelas. Direktur Yan memulai pelajarannya.


“Bos besar, aku butuh bantuan..”
“Aku juga, Bos Besar..”
“Tidak tahan lagi..”
“Aku sekarat..”


Xin Yi: “Apa kalian sedang kelas olahraga? Kalau tidak, kenapa kalian ada di luar?”
Mu Xi: “Karena....”
Teman XY: “Karena mereka dihukum. Ketua kelas 10, kau adalah contoh yang bagus!”


Xin Yi menengok ke dalam kelas dan melihat Dan Yi sedang belajar sendirian. Dia berkata bahwa kelas itu memang tidak cocok untuk murid yang baik seperti Dan Yi. “Apa maksudmu?” tanya Mu Xi kesal. Xin Yi bilang Mu Xi akan tahu sendiri nanti. Xin Yi lalu mengajaknya temannya pergi.


Guru Wu Heng sedang melatih cerita sejarahnya, lalu Guru Luo menghampirinya. Guru Lau menyuruh Guru Wu untuk mengecek kelasnya karena semua siswanya berdiri di luar. “Apakah kau tidak malu?” tanya Guru Luo.


Guru Wu: “Turunkan kursi kalian.”
Dir. Yan: “Siapa yang berani?”
Guru Wu: “Direktur Yan, bukankah itu tidak pantas?”
Dir. Yan: “Dari aspek mana? Siswa dari kelasmu tidak tahu cara berperilaku di kelas. Kusuruh mereka untuk merenungkan kesalahan mereka.”


Guru Wu tersenyum bahwa sekarang bukanlah pelajaran Direktur Yan, melainkan pelajarannya. Jadi dia ingin agar siswa-siswanya masuk ke dalam kelas. Mu Xi lalu menurunkan kursinya. Guru Wu menyuruh siswa lainnya untuk mengikuti Mu Xi.


Para siswa lalu masuk ke kelas. Direktur Yan mengatakan bahwa Guru Wu berani melawannya di depan umum. Dia menyuruh Guru Wu agar mengajari siswanya dengan benar.


Guru Wu: “Direktur Yan, kau membuat mereka berdiri disini selama 45 menit, tapi mereka tidak mendapat ilmu apapun.”
Dir. Yan: “Guru Wu, pikirkan sikapmu padaku.”
Guru Wu: “Bagaimanapun, aku tidak akan pernah menyetujui hukuman fisik seperti ini.”


Para Murid: “Keren. Keren sekali.”
Guru Wu: “Benarkah? Panggil aku Tuan Wu kalau begitu.”
Para Murid: “Siap, Tuan Wu.”
Guru Wu: “Ayo masuk.”


Terlihat seorang murid laki-laki menembakkan bola basketnya ke ring dan beberapa siswa perempuan bertepuk tangan untuknya. [crstl]