Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Movie Jepang One Week Friends PART 2
SINOPSIS One Week Friends BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Intan Y
All images credit and content copyright: Movie Jepang

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS One Week Friends PART 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS One Week Friends PART 3

HAHAHAHAHAHAHAHA kasian aku liat part 1 udah hampir 1 minggu nggak ada temen, jadi kaya sinopsis terbengkalai. Yah aku akan ngasih temen ^^ Yeay! Part 2…

Ini untuk pertama kalinya aku nulis sinopsis yang ongoing, yap aku lagi nulis Jugglers. Dan 2 episode itu sangat wow, harus ngejar waktu banget jadinya nggak sempet ngelanjutin yang ini, jadi kepending dulu. Tapi nggak papa kalo ada waktu pasti langsung tak lanjut lagi kok… 

Setelah kemarin dipart 1 Yuki tau tentang penyakit Kaori gimana ya selanjutnya, apa dia akan nyerah gitu aja, ngelepasin kaori. Aku harap sih nggak, aku juga berharap mereka nggak hanya sekedar teman HAHAHAHAHAHAAHA karna aku pengen liat Yamaken dan kaori bisa bahagia bareng dengan status yang jelas. 


Musim Panas Kelas 2 SMA


Saat jam makan siang Yuki dan Shogo sedang berada didepan kelas dia mengeluh pada Shogo tentang mereka yang masih tidak bisa berbuat apa-apa, Shogo berusaha menghibur dengan gaya dinginnya. Dia tidak mengaku saat Yuki bertanya apa dia sedang menyemangatinya.


Perhatian Yuki teralih saat mendengar suara Kaori, dia mendekat kejendela dan melihat apa yang sedang Kaori lakukan didalam kelas.

Kali ini Kaori diminta untuk mengumpulkan buku lagi, seperti biasa 2 temannya yang tidak menyukai sikap dinginnya mengerutu, membuat Kaori yang mendengarnya menjadi sedih, namun tidak bisa berbuat apa-apa dan memilih keruang guru mengumpulkan buku. 

Yuki melihat semuanya, dia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun, hanya diam memandang Kaori dari kejauhan.

Saat pelajaran sastra klasik, Yuki masih saja memperhatikan Kaori dari mejanya. Dia terus berfikir bagaimana cara membuat Kaori bisa menjadi temannya dan tidak selalu sendirian. 

Hari itu materi mereka tentang buku catatan harian tertua dijepang, perhatian Yuki terbagi menjadi dua, antara mendengarkan guru menjelaskan dan Kaori. Saat guru menjelaskan tentang penemu buku catatan itu yang putrinya meninggal, Yuki nampaknya tersentuh. 

Guru menjelaskan supaya tidak melupakan kenangan berharga yang terjadi semasa anak-anak, diantara kalian pasti pernah membuat buku catatan harian. Yuki nampak berfikir, dan dia mendapatkan ide tentang buku catatan harian dari sana, sangking senangnya dia mengucapkan apa yang ada difikirannya membuat semua yang ada dikelas mendengar semua itu. Saki langsung memberitahunya kalo dia tidak sengaja menyuarakan apa yang ada dihatinya, dan semua teman-temannya menertawakan tingkah Yuki itu. 


Jam pelajaran selesai, Yuki langsung keluar terburu-buru untuk pulang. Saat itu Saki memanggilnya, memarahi Yuki yang membuat bukunya menjadi lecek karena sering digunakan yuki untuk menyalinnya. Tapi Yuki hanya meminta maaf, saat itu dia terlalu terburu-buru. Sebelum keluar dari kelas Yuki berfikir terlebih dahulu dan akhirnya menarik Saki untuk keluar.

Mereka berdua pergi ketoko Buku dan alat tulis, disana Yuki meminta Saki untuk mencarikan buku catatan harian yang bagus untuk digunakan cewek, sayang selera Saki tidak sesuai dengan karakter Kaori, yang pada akhirnya membuat Yuki mencari sendiri. Dia melihat Buku harian yang menurutnya sangat cocok untuk Kaori, dia juga memilihkan bolpoin couple berwarna biru dan pink. Saki memuji pilihan Yuki yang sangat bagus. 

Setelah selesai membayar, Saki langsung mendekat dan meminta apa yang sudah dibeli Yuki, tapi ternyata itu bukan untuknya, dia sangat kecewa dan hanya bisa bengong memandang Yuki yang pergi meninggalkannya, Yuki hanya mengucapkan terimakasih karena sudah membantu.


Dihari berikutnya, saat Kaori sedang makan siang diatap sekolah, Yuki datang.

Yuki : Fujimiya-san….Kumohon, jadilah temanku! Jawabanmu pasti “mustahil”, kan? Maukah kamu bertukar buku catatan harian denganku? Karena akan merepotkan kalau diisi setiap hari, bagaimana bila dirangku saja selama sepekan? Tidak usah buru-buru memberikan jawaban. Tapi coba dipertimbangkan, ya. 

Yuki memberikan buku itu dan langsung pergi dengan senang karena sudah berhasil memberikannya, Kaori memandang Yuki dan berjalan menjauh dan memperhatikan buku harian yang ada disampingnya, dan sebuah bolpoin berwarna pink.


Saat pulang sekolah Kaori menunggu ibunya diujung jalan seperti biasa, tapi ibunya belum datang juga. Dia sempat membuka tasnya dan memperhatikan buku harian yang diberikan Yuki padanya. 
Kaori berjalan lagi, dan berhenti sebentar. Kaori mengeluarkan buku harian yang diberikan Yuki dan membacanya.


“Untuk Fujimiya-san, tiba-tiba bertukar buku catatan harian, pasti rasanya mengejutkan, kan? Namun terimakasih karena telah memanggilku. Namaku Hase Yuki, teman sekelasmu. Kita sekelas sejak kelas 2 SMA. Eng…. Sekarang hari senin. Senin itu hari terbitnya majalah ‘Shounen Jump’! aku akan membelinya sepulang sekolah.  Sekarang Hari Selasa. Majalah yang kubeli kemarin kuperlihatkan pada adik kelasku. Dan kamipun baca bareng. “


“Sekarang hari Rabu. Rabu itu bisa dibilang harinya pelajaran matematika, atau kerap disebut ‘neraka’. Kalau aku, setiap pelajaran matematika berlangsung aku selalu sibuk berkreasi. Bukan berarti aku bermalas-malasan dalam pelajaran. Karena itu supaya aku tidak tertidur selama pelajaran. “


Kaori tersenyum membaca buku harian itu.

Saat ibunya datang, dia langsung buru-buru menyembunyikannya.


Dijalan Kaori menanyakan pada ibunya tentang apa ibunya pernah bertukar buku catatan harinya, dan ibunya dengan santai kalo dulu sewaktu SD dia pernah melakukan itu, hingga membuat dia peka terhadap temannya yang menyukainya. 

Ibu menanyakan alasan Kaori menanyakan itu, Kaori mengatakan tidak ada apa-apa.

Saat itu teman SMP-nya lewat dan memanggilnya.


Ibu langsung pasang badan, menyapa Mayu terlebih dahulu. Mayu menanyakan kabar Kaori namun ibu memotongnya mengatakan kalo mereka sedang buru-buru. Terlihat Kaori yang sangat sedih dengan hal itu dan Mayu yang memperhatikan Kaori dengan sedih.


Ayah Kaori pulang saat ibu sedang berada didapur, dia langsung menanyakan keberadaan Kaori. Ibu menjawab kalo Kaori sedang mandi, ayah mengerti dan duduk, melihat hasil tes Kaori hari ini. 
Ibu mendekat, memberitau Kaori yang bertanya tentang buku harian padanya, sepertinya Kaori sedang berniat melakukan itu, Ayah begitu khawatir, seperti yang dokter bilang kalo Kaori lebih baik tidak terlibat dengan orang sekitar. Ayah memutuskan untuk tidak mengizinkan Kaori melakukan itu. 


Setelah mandi , dia akan langsung pergi tidur dan mematikan lampu kamarnya. Tapi sekalipun sudah mencoba untuk tidur dia masih saja teringat buku harian pemberian Yuki. 

Kaori duduk dimeja belajarnya dan mengeluarkan buku harian, dia membaca kelanjutan cerita Yuki, “Sekarang hari kamis. Ada pelajaran sastra klasik. Seraya berfikir ingin menggambar sesuatu, ide untuk bertukar buku catatan harian kudapat dari pelajaran ini pecan lalu. Sekarang hari jum’at. Saatnya memberikan buku catatan harian padamu. Jantungku berdetak sangat cepat, seperti genderang mau perang. Bersamaan dengan buku harian, aku juga menyertakan pulpen yang mudah dipakai. Tolong digunakan. Sebagai anggota klub komik, aku jamin pulpennya memang mudah. Tidak salah lagi. Bicara tentang klub, apakah sebelumnya kamu ikut klub disekolah lamamu?”

Mendapat pertanyaan seperti itu akhirnya Kaori kembali membuka barang-barang yang sudah lama ia bungkus rapi dikardus, dia kembali membuka album SMP-nya dan melihat foto-fotonya diklub basket, difoto itu juga ada Mayu. 

Ibu datang, dan Kaori langsung memasukkan barang-barangnya kembali. Ibu datang untuk memberitau kecemasan ayah jika kaori memiliki niat untuk bertukar buku harian, Kaori langsung faham maksudnya, dia mengatakan kalo dia tidak berniat seperti itu dan mengatakan kalo dia akan tidur. Ibu mengerti dan meninggalkan Kaori, sebelum menutup pintu, ibu melihat kardus barang-barang Kaori terbuka.


Diklub komik Yuki sedang tersenyum memperhatikan gambar yang ada dibuku tebalnya, Yamada penasaran dan ingin melihatnya tapi Yuki tidak mau dan buru-buru menutupnya. Dan berkemas pulang, pamit dengan yang lainnya.

Saat keluar dari pintu dia bertemu Kaori yang memintanya datang keatap. Yuki langsung mengiyakannya dengan semangat.


Diatap Kaori menjelaskan tentang penyakitnya kepada Yuki, bahkan dia mungkin akan melupakan Yuki saat senin berikutnya tiba, dia mereka tidak mungkin bisa berteman.

Yuki : kalau aku berkata padamu bahwa aku tidak keberatan bagaimana?

Kaori : karena kamu tidak paham, makanya hal itu dianggap enteng. 

Yuki : Demo…. (namun)

Kaori : Watashi Wa…..(aku ini) bisa menyebabkan perasaan sungkan pada orang yang menjadi temanku. Bahkan hal baru terjadi, atau yang pernah dibicarakan kuharus diberitahu secara rinci. Harus berulang kali diberitahu, bahkan untuk hal yang sama. Siapa saja pasti enggan melakukannya kan? Disekolahku seblumnya rasanya teman-temanku seperti tercerai-berai. Bahkan akupun pasti akan merepotkanmu. Maka berteman denganku adalah hal yang tidak mungkin. 

Kaori mengembalikan buku harian Yuki, dan berjalan meninggalkannya. Namun Yuki tidak mau menyerah lagi, dia berlari mengejar Kaori, dia kembali memohon agar Kaori mau menjadi temannya dan menyerahkan buku harian itu, dia pasti tidak akan merasa sungkan atau direpotkan karena Kaori. Disetiap hari senin berikutnya Yuki pasti akan mengatakan hal itu lagi.

Kaori nampak sungkan dengan hal itu…


Hari berikutnya Yuki masuk kedalam kelas dan terus memperhatikan Kaori dengan tersenyum, dia duduk dimejanya, saat meletakkan tas dia melihat buku catatan harian sudah ada dilacinya, dia tidak menyangka hal itu dan tersenyum kearah Kaori.


Disenin berikutnya, Yuki benar melakukan apa yang dia katakan. Dilorong kelas Yuki mengejar Kaori dan kembali memintanya menjadi temannya. Karena ada beberapa anak yang lewat mereka berdua langsung menepi seolah tidak terjadi apa-apa. Dan Kaori langsung pergi, Yuki memanggilnya dan akan mengejar, tapi Pak Inoue yang melihat itu langsung memanggilnya.


Yuki mengatakan dia tidak suka kalo begini terus. Dia akan melakukan hal yang ada sebisanya. Daripada hanya berdiam diri saja, dia lebih memilih untuk melakukan sesuatu, lalu pamit kepada pak Inoue. 

Pak Inoue menghela nafas melihat perjuangan Yuki.


saat hari hujan, sepulang sekolah Yuki melihat Kaori yang menunggu hujan reda didepan sekolah. Dia menghampiri Kaori, mengatakan kalo dia masih punya satu payung diruang klub dan meminta Kaori memakai payungnya saja. 

Kaori tidak enak tapi Yuki memaksa, dia memasukkan buku harian yang tadi sengaja ia keluarkan sebelum menemui Kaori dan membukakan payungnya, menyerahkannya pada Kaori. 


Malam harinya Kaori kembali membaca apa yang ditulis Yuki dibuku harian, “Maaf karena berulang kali menuliskannya. Sekarang aku akan menulis tentang pecan pertama awal pertemuanku denganmu. Itu terjadi pada hari sabtu pecan terakhir liburan musim semi. Aku dipergokimu saat diperpustakaan dan saat itu aku cemas kalau disangka mesum olehmu. Lalu setelah itu, kita satu kereta saat pulang. Pada saat itu, kumerasa ada sesuatu yang bergejolak didalam hatiku. Pada madding pengumuman pembagian kelas, aku menemukan namamu sekelas denganku. Bahkan setelah pelajaran matematikapun, dan saat membawa buku catatan, kamu tetap menolak ajakkanku. Saat itu akupun tau tentang ingatanmu yang hilang setelah sepekan. Bahkan hal mengenai kamu yang tercerai-berai dari teman sekolah lamamu. Serta tentangmu yang menganggap aku memandang enteng masalah ini. Setiap hari aku memikirkan hal itu. Akan tetapi, perasaanku tidaklah berubah. Fujimiya-san…kumohon jadilah temanku.”

Kaori membaca itu seolah berfikir sesuatu.


Pagi harinya, Yuki mengecek lacinya dan mendapatkan buku harian itu ada disana tidak lupa payungnya juga ada, dia tersenyum dan melihat kearah Kaori yang sedang sibuk membaca.


Terlihat Yamada yang berjalan terburu-buru, dia masuk kedalam kelas Yuki dan memohon Yuki untuk meminjamkan majalah Jump, saat mengambil majalah yang dilacinya tidak sengaja dia menjatuhkan beberapa barang, salah satunya buku hariannya yang terbuka dilantai. Dia melihat buku harian itu terkejut karena terdapat tulisan dari Kaori. Dia langsung menutupnya dan berlari menuju ruangan kosong.

Dia sangat girang mendapatkan catatan dari Kaori, dia loncat-loncat karena gembira. Lalu duduk disalah satu kursi, membaca catatan Kaori, “Hase-kun, maafkan diriku yang berulang kali mengatakan ’mustahil’. Bahkan sampai kini aku terus cemas mengenai apakah aku akan menimbulkan perasaan sungkan atau merepotkan orang yang menjadi temanku. Akan tetapi, karena ada kamu yang selalu berupaya menjadi temanku, sesungguhnya aku merasa agak senang, aku ingin mengajukan saran. Bolehkah aku membawa pulang bukunya setiap hari jum’at? Karena kurasa itu akan membantu disaat senin pagi. Dan kurasa, aku bisa langsung mengenalimu.”


Seperti yang dikatakan Kaori, disenin berikutnya Kaori langsung bisa mengenali Yuki saat Yuki menyapanya diloker sepatu. Mereka tersenyum bersama.

Kaori memberikan buku hariannya pada Yuki tapi saat itu terdengar suara anak-anak lain berdatangan, membuat mereka cepat-cepat bersembunyi. 


Pun sama, dihari-hari berikutnya saat mereka sedang bertukar buku catatan dan ada orang lain yang datang mereka langsung pura-pura tidak mengenal.


Saat pulang sekolah, dikelas Yuki anak-anak yang sedang mendapatkan jatah piket menentukan siapa yang akan membuang sampah dengan melakukan suit, dan kali ini giliran Shogo dan Saki yang kena apes ^^

Disana ada 2 teman Kaori yang tidak menyukainya, saat itu Kaori akan pulang dan tidak sengaja menyenggol salah satunya, dan dengan canggung meminta maaf lalu pergi. 


Saat diloker sepatu Kaori membuka tasnya dan mencari sesuatu tapi tidak ada, dia akhirnya kembali kekelas untuk mengambilnya.

Langkahnya terhenti didepan pintu kelas, saat mendengar dua teman sekelasnya sedang bergosip tentang dirinya yang belakangan ini aneh karena terus tersenyum membaca buku harian. Mereka lalu mendekati meja Kaori dan menemukan buku harian itu ada disana.


Shogo dan Saki yang akan kembali kekelas merasa aneh melihat Kaori yang hanya berdiri mematung didepan pintu.

Saat dua temannya itu akan mengambil buku harian itu dia akan menerobos masuk, tapi Shogo yang faham situasi langsung mendahului kaori dan menyindir dua cewek itu, lalu meminta buku harian itu kembali. Setelah memarahi mereka dan mendapatkannya, Shogo langsung menyerahkan itu pada Kaori, “Ini sesuatu yang berharga bagimu, kan? Jangan dilupakan.” 

Menerima buku itu, Kaori langsung mendekapnya erat.


Dua teman kelasnya itu mendekatinya dan salah mengira kalo Kaori dan Shogo bertukar buku harian, mereka mengira kalo Kaori berpacaran dengan Shogo, mereka memperingatkan Kaori agar tidak menikung mereka.

Mendengar ancaman itu Kaori sangat terkejut, takut. Bayangan tentang seseorang mengatakan hal yang sama terus berulang dikepalanya, membuatnya pusing. 


Melihat kondisi Kaori, Saki langsung mendekat menanyakan keadaannya, apa perlu dibawa ke UKS. Dua temannya ketakutan, mereka tidak berbuat apa-apa dan memilih untuk pulang. Saat melewati Shogo mereka merasa malu, karena berbuat seperti itu didepan orang yang mereka suka (Shogo}.


Kaori berterimakasih dan langsung pamit pulang, saat itu dari belakang Yuki datang melihat Shogo yang belum pulang. Secara bersamaan dengan Saki, Yuki mengatakan “Pulang bareng, yuk!” membuat Kaori yang mendengarnya menoleh kebelakang.