Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Movie Jepang One Week Friends PART 3
SINOPSIS One Week Friends BAGIAN 3

Ternyata nonton film sama nonton filmnya+nulis sinopsis itu beda. Saat kita menceritakan kembali apa yang terjadi difilmnya itu kita jadi paham detail cerita itu, ada banyak hal yang sebelumnya Cuma aku liatin aja difilm ini tanpa tau maksudnya, tapi setelah perhatian banget HAHAHAHAAHHA maksudnya memperhatikan detainya aku jadi paham, kadang aku nonton film ini sambil bilang oh gitu ternyata dan film ini itu bagussss, yamaken Cuma sebagai bonuslah ^^

Oh iya sebelumnya aku sempet denger tentang auto blog yang ngopas keseluruhan isi sinopsis atau gimana gitu, hmmmm itu beneran ngeselin banget. Nulis sinopsis itu nggak semudah waktu kalian ngebacanya, ada beberapa tahap buat satu sinopsis bisa sampai kepembaca. Nggak tau apa kadang penulisnya itu sampai stress buat Cuma nulis satu sinopsis aja, kita bisa nulis dari pagi sampai malem buat hanya  untuk satu episode bisa jadi. Beneran nulis sinopsis itu tidak semudah yang kalian bayangkan, jadi hargailah karya oeang lain.  Kalo bagi penulisnya sendiri, melihat karya mereka bisa dinikmati orang aja udah bahagia banget  kok, kalo banyak yang suka, ngasih support. Terimakasih yang sudah membaca sinopsis diwebsite-website kesayangan anda. Karena anda sinopsis itu ada.

Ok film ini udah memasuki menit 50 dan semakin menarik, yamaken semangatnya luarbiasa apalagi gantennya ^^ HAHAHAHHAHAHAHA dan Kaori, aku gagal faham sama ekspresinya. Aku hanya berharap “Jangan Friendzone.” ^^


Penulis Sinopsis: Intan Y
All images credit and content copyright: Movie Jepang

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS One Week Friends PART 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS One Week Friends PART 4

Dikantor seorang guru memperkenalkan murid pindahan baru kepada pak Inoue. Murid itu datang bersama ibunya, dia bernama Hajime Kujo, dia akan berada dikelas pak Inoue.


Kaori akhirnya pulang bersama Yuki dan yang lain. Yuki sangat pengertian, dia mengenalkan teman-temannya satu persatu, dari mulai Saki yang adalah teman masa kecilnya yang sedari Tk dan Shogo  yang sahabatnya dari SMP, meski Shogo sering tidur disaat pelajaran tapi dia pintar. 

Saki memiliki ide untuk mereka berempat pergi ke Festival menyalakan cahaya, saat Kaori tidak paham, Saki langsung menjelaskan dengan semangat 45 tentang asal –usul festival itu dibuat. Mereka semua setuju untuk datang, festival menyalakan cahaya, 9 agustus.

Yuki memastikan kalo Kaori tidak keberatan akan hal itu, dan kaori mengiyakannya, dia akan mencoba. Mendengar itu Yuki sangat senang.

Kujo didepan memperhatikan mereka berempat, tepatnya dia memperhatikan Kaori. Kaori sendiri hanya melihatnya sekilas, dan Kujo terus saja memperhatikan Kaori. Saat mereka semua sudah lewat Kujo bergumam, “Hm, begitu rupanya.”


Hari ini adalah festival menyalakan cahaya, 9 agustus. 

Yuki nampak cemas menunggu Kaori yang belum datang juga, namun saat dia berbalik dia terpesona melihat Kaori yang sedang berlari kearahnya mengenakan yukata berwarna pink, sangat cocok untuk Kaori.

Mereka berdua sama-sama tersenyum tanpa menyadari keberadaan Shogo dan Saki yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. 


Suasana sangat ramai, semua orang sangat antusias menyambut festival.  Mereka berempat berjalan bersama, karena Kaori kesulitan berjalan dia tertinggal dibelakang dan Yuki berusaha menyamakan posisi mereka. 

Kaori memberikan paper bag yang berisi buku harian, Yuki menerimanya dengan tersenyum lebar. 
Saat itu petugas lalu lintas memberitahu sebentar lagi akan lampu merah jadi menyuruh mereka untuk berlari. Saki didepan memimpin jalan agar mereka tidak terpisah, tapi Kaori tidak sengaja menyenggol orang, membuat barang bawaan orang itu jatuh jadi dia membantunya. 

Yuki dan yang lain sudah menyeberang jalan sedang Kaori masih terjebak dilampu merah, dia terlihat ketakutan berada diantara orang yang sama sekali tak dikenalnya. Saat lampu sudah hijau, dia langsung mencari teman-temannya tapi seseorang tidak sengaja menyenggolnya membuat kaori akan terjatuh.


Saat itu sebuah tangan memegangginya, membuat Kaori tidak terjatuh, tangan milik Yuki. 

Yuki menanyakan keadaan Kaori, dia bersyukur karena Kaori baik-baik saja, karena Kaori tidak memiliki ponsel jadi Yuki bingung jika mereka nanti terpisah. 

Kaori memperhatikan tangan Yuki yang terus mengenggamnya, menyadari itu Yuki langsung melepaskannya dan mengajaknya untuk segera ketempat yang sudah ditentukan.


Disebuah lapangan luas terlihat orang-orang sibuk menyalakan lampion, suasana yang gelap.
Yuki dan Kaori mencari-cari Shogo dan Saki karena tadi mereka jadi terpisah. Yuki memanggil nama mereka tapi tidak ada sahutan, saat melihat kearah kaori dia terdiam, Kaori sedang menikmati pemandangan didepannya.


“Sempat terlintas dalam benakku, untuk segera mengakhiri keseharian SMA ini. Namun sekarang sudah berbeda. Akupun tidak lagi berat menyambut datangnya hari senin. Dan, aku tak lagi takut berteman dengan orang lain.” Kata Kaori melihat suasana didepannya yang begitu meriah oleh banyaknya orang.

Yuki : Fujimiya-san….

Kaori : Hase-kum….arigatou ^^

Mereka tersenyum satu sama lain dan melihat lampion yang mulai dilepaskan satu persatu.


Ternyata Kujo dan Mayu juga datang dalam festival itu, mereka dulu adalah teman satu SMP. Mayu berterimakasih karena Kujo sudah mengajaknya untuk datang ke festival ini, dia tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan Kujo. 

Kujo : apakah teman SMP sehat semua?

Mayu : iya semua sehat kok.

Kujo : kalau dia? Yang akrab denganmu….perempuan bernama Fujimiya Kaori. 

Mayu : oh….karena dia tahun lalu pindah, aku jadi belum bertemu dengannya. Kamu penasaran?

Kujo : Enggak juga….. aku beli sesuatu dulu.

*hmmmm pertama aku nonton film ini, bahkan 2 atau 3 kali, aku masih nggak suka sama kujo ini. Tapi sejak aku nulis sinopsis film ini, apalagi bagian Kujo aku kok jadi bersimpati ya. Aku bisa ngerasaain si bagaimana terlukannya dia. HAHAHAHAAHA karena aku udah nonton sampai ending jadi ya aku tau ada apa dengan dia. Jadi dibagian ini aku sedih, nggak tega sama Kujo, pelukkk Kujo ^^ dia itu hmmmmmm


Kujo meninggalkan Mayu untuk membeli minum, tapi belum jauh langkahnya dia mendengar Saki menyebut nama depan Kaori, dia langsung menoleh kearah Saki yang berlari menuju Yuki dan Kaori. 

Saki menanyakan kemana saja mereka berdua padahal lampionnya sudah lewat, belum juga dijawab pertanyaan itu Mayu datang. Mayu menyapanya dan memperkenalkan diri, kalo dia Kundo Mayu, mereka sekelas waktu SMP. Kaori hanya diam saja, Yuki yang disampingnya nampak khawatir dengan kaori. Saki tanpa basa-basi langsung menyapa Mayu, dia senang bertemu dengan mayu, dan dia juga memperkenalkan diri kalo mereka teman sekelas Kaori. 

Perhatian Mayu terpusat pada Kaori lagi, dia mengatakan kalo dia mencemaskan kaori. Yuki yang paham situasinya langsung mengajak mereka pergi karena Shogo sudah menunggu mereka. Mereka meninggalkan Mayu, dan Saki protes karena yuki tidak sopan memotong pembicaraan mereka.


Belum juga jauh pergi dari tempat itu, Kaori yang berjalan dibelakang langkahnya dihentikan oleh Kujo, 
Kujo : dasar pengkhianat…
Lalu meninggalkan Kaori yang diam mematung.


Kaori yang mendengar kata-kata seperti itu menjadi pusing, dalam ingatannya dia melihat beberapa anak perempuan yang menghadangnya dan dia yang lari menjauhi mereka. Tidak tahan dengan ingatannya itu membuat Kaori menjadi sangat pusing, dan terjatuh pingsan. 

37
Yuki dan Saki yang berjalan didepan terkejut saat melihat Kaori yang tiba-tiba pingang, mereka langsung berlari kearah kaori.


Kaori saat itu langsung dilarikan kerumah sakit.

Diruang rawat Kaori, Yuki dengan setia menungguinya. Saat Kaori sadar dia sangat bersyukur, tadi dia sangat terkejut sekali. Tapi respon yang didapatkan Yuki tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Kaori : ano…. Kamu siapa ya?

Satu kalimat itu mampu meruntuhkan kepercayaan Yuki, dia tidak bisa mengatakan apapun, terlampau terkejut dengan apa yang didapatkannya. Kaori tidak mengingatnya (lagi)…

*Wow siapa yang nggak langsung kek gitu coba, yang selama ini berjuang mati-matian, malah dapet respon yang kaya gitu. Yuki ada, tapi tidak ada, sia-sia.


Yuki masih terlalu terluka saat Saki datang. Saki memberitau kalo orang tua Kaori sebentar lagi akan datang dan saat melihat Kaori sudah sadar dia langsung mendekat dan menyampaikan kekhawatirannya. Saki memanggil Yuki, tapi Yuki tidak langsung merespon, Yuki mengatakan kalo dia akan keluar untuk membeli minum. Saki tau ada yang aneh dengan sikap Yuki, tapi dia tidak tau penyebabnya. Dia hanya memperhatikan kepergian yuki. 

Keluar ruangan kaori, Yuki terlihat seperti orang yang kehilangan akal, dia hanya berjalan dengan tatapan kosong, bahkan dia tidak memperhatikan Shogo yang berdiri disampingnya. Melihat Yuki yang seperti itu Shogo khawatir.


Saki duduk didekat Kaori. Dia tidak paham saat tiba-tiba Kaori menyebut nama Hajime…dia menoleh ternyata disana ada seorang pria. Saki langsung berdiri dan bertanya ada keperluan apa orang itu kesini. Kujo hanya mengatakan, dia sudah sadar, toh? Dan prig meninggalkan ruangan kaori, membuat Saki bingung dan Kaori sedih atau bahkan Kaori menangis? Hehe nggak keliatan air matanya kok.


Yuki sedang duduk diluar, merenungkan apa yang baru saja terjadi. Saat itu orangtua Kaori datang dan bertanya kepada suster letak ruangan kaori. Setelah diberitau mereka akan langsung pergi namun Yuki datang menghentikan langkah mereka, dia memperkenalkan diri. Saat yuki menyebutkan nama, ayah langsung tau. Sebelum keruangan Kaori, ayah meminta untuk bicara sebentar nanti dengan Yuki. Lalu keruangan Kaori.


Yuki, Saki dan Shogo menunggu diluar. Saki mengusulkan karena orangtuanya sudah ada disini sebaiknya mereka pulang. Shogo setuju dan langsung berdiri, sedangkan Yuki, dia mengatakan kalo dia akan disana. Shogo paham akan hal itu dan langsung mengajak Saki pulang. 


Tidak lama ayah datang, ayah meminta maaf karena membuat Yuki menunggu lama, mereka lalu duduk berdua. Ayah menceritakan tentang Kaori kepada Yuki.

Ayah : saya sangat berterimakasih padamu, Hase. Belakangan ini Kaori terlihat ceria. Semua ini berkatmu. Saya sungguh berterimakasih padamu. 

Yuki : ah itu bukan apa-apa kok…

Ayah : kamu pasti sudah tau bahwa kaori tidak dapat mengingat temannya kan? Pasti penyebabnya adalah kecelakaan lalu lintas saat itu. Kata dokter karena dia berpendapat ini ada kaitannya dengan teman lamanya, maka lebih baik lingkungannya diubah, dan Fujimiyapun dipindah sekolahkan. Karena tidak tau apa yang terjadi, maka saya sangat cemas. Mengenai tukar buku catatan harian… sudah kuamati beberapa saat ini, namun menilik dari kejadian tadi, tampaknya masih terlalu cepat untuknya berteman dengan orang lain. Bisakah…kamu tidak lagi…mendekati dirinya? Kalau kamu…keterlibatanmu dengannya…hanya berdasarkan…perasaan sesaat saja kan? Tapi kami keluarganya berbeda. Kami akan selamanya terlibat dengannya. 

Mendengar apa yang ayah katakan tentu saja Yuki sangat kecewa. Dia tidak tau harus berkata apa lagi. 

Yuki : menurut Kaori sendiri, bagaimana? Kalau Kaorinya yang enggan…maka aku akan menyerah. Namun kalau bukan atas kemauannya sendiri, aku….tetaplah temannya. 


Diruangan Kaori ibu sedang menungguinya yang sedang tertidur.


Dihari yang lain, Yuki datang kerumah Kaori,  saat itu ibu yang membukakan pintu. Yuki datang untuk mencari Kaori, ibu terlihat kasihan melihat Yuki namun juga enggan memanggilkan Kaori.


Tidak lama, Kaori keluar. Yuki langsung memperkenalkan dirinya seperti biasa. Dia mengeluarkan buku harianya.

Yuki : Fujimiya-san…maukah kamu membaca ini? Karena kamu akan paham jika membacanya. 
Yuki memberikan buku itu dan pamit pulang. 


Ibu memperhatikan Kaori dengan tersenyum.


Yuki pulang dari rumah Kaori, dijalan ibu memanggilnya. Ibu meminta untuk berjalan bersama karena ada yang akan dibelinya, sekalian. Ibu dan Yuki jalan bersama, ibu menceritakan tentang Kaori kepada Yuki.

Ibu : Kaori itu…memasukkan album lamanya ke dalam kardus, dan terus saja dibiarkan. Mau bagaimana lagikan? Karena baginya…itu adalah foto dirinya dan orang sekitar yang sama sekali tidak dia tau. Namun ketika ku heran kenapa dia membuka kardusnya…ternyata dia sedang memandangi albumnya lo. Rasanya aku senang sekali. Habis, meski dia tak mempunyai ingatan akan itu, namun kenangan masihlah membekas disuatu tempat dalam dirinya. Diera manapun, yang namanya memberikan kesempatan itu…memang tugas seorang teman, kan?

Yuki mendengarkan perkataan ibu dengan seksama, dia sangat senang mendengarnya, setidaknya ada satu orang yang mendukungnya didunia ini.

Yuki : kalau anda berkata seperti itu…

Ibu : Hase-kun, saya berterimakasih untuk ide bertukar buku catatan harian itu. Terimakasih. 

“Dengan begitu, musim panaspun berakhir.” –Hase Yuki