Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 1 BBAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 1 Part 1
Wei Fenqing menanyakan berapa banyak pesanan Tingen tapi Tingen-nya nggak ngejawab malah bengong. Ah Wei datang dan menanyakan apa yang terjadi. Fenqing memberitahunya kalo Tingen nggak mau bicara. Ah Wei menanyakan apakah Tingen ingin membeli? Kalo nggak ia mau Tingen minggir karena dibelakangnya ada banyak pelanggan. Tingen mengatakan ia mau dua. Fenqing memintanya nunggu sebentar sementara dia menyiapkan pesanan. Tingen nggak mengalihkan pandangannya dari Fenqing dan hal itu disadari oleh Ah Wei. 


Fenqing udah selesai membuat pesanan Tingen. Ia memberikannya pada Tingen dan Xiao Bin dan berkata semoga hari mereka menyenangkan. Mereka menerimanya dan langsung memakannya. Mereka terlihat begitu menikmati. Ah Wei berkata kalo itu memang lezat tapi nggak usah begitu tersentuh. Fenqing tertawa, ia keterlaluan. 


Tingen menanyakan sebenarnya apa yang ia harapkan. Seberapa baik kari pasar malam? Bagaumanapun ia memakannya, ada rasa asam. Tingen mengembalikan makanan itu dan berkata kalo ini nggak sehebat itu. Belum lagi Fenqing menggunakan nama orang lain untuk mengiklankan diri. Ah Wei menanyakan apa yang dibicarakan Tingen? Ah Wei berjalan mendekati Tingen. Dia pikir dia ini siapa bisa berkata begitu? Fenqing maju dan menghalangi Ah Wei. Ia menanyakan apa maksud Tingen. Tingen mengatakan nggak ada maksud. Ia bisa memahami bahwa Fenqing menggunakan bahan-bahan berkualitas rendah untuk mengurangi biaya. Tapi caranya membuat kari salah. Fenqing pasti belum pernah ke La Mure dan ia juga nggak pernah mencoba lobster kari disana sebelumnya. Fenqing marah. Apa haknya mengatakan karinya salah? Dia pikir dia siapa? Xiao Bin merasa sangat bagus Fenqing bertanya "kau ini siapa", Xiao Bin memutuskan untuk memperkenalkan pada semua orang, pria disampingnya ini adalah Manajer Umum dari La Mure yang terkenal, Huo Tingen.Tepuk tangan!!


Para pedagang teman Fenqing langsung berkumpul melihat apa yang terjadi. Fenqing nggak percaya. Kalo dia Tingen, berarti Fenqing adalah Master Ah Ji (Koki Taiwan terkenal). Mereka menjual hidangan gaya rumah. Masakan dengan harga terjangkau. Tapi menurut Fenqing, harga murah bukan berarti rasanya nggak enak. Harga rendah dapat membuat lebih banyak orang bisa makan makanan lezat. Lagipula tempat mereka udah diminati 320.000 nitizen. Orang-orang datang dari daerah tengah dan selatan untuk makan burger-mini kari udangnya. Menurut Fenqing, kari harus dibuat kayak gitu. Bukan hanya untuk dihidangkan untuk restoran kelas atas dan bahan baku kelas atas. Oke? Para pedagang yang lain nyuruh Tingen denger kata-kata Fenqing baik-baik. Mereka menyebut Fenqing sebagai jagoan Qing. 


Tingen malah tertawa. Ia merasa mereka semua meremehkan kari. Ia maju dan memberitahu Fenqing kalo dunia kari nggak sesederhana yang ia pikir. Tingen melepaskan jas-nya dan memberikannya pada Xiao Bin. Tingen melangkahkan kakinya menuju dapur mini milik Fenqing. Ia mencium semua bumbu dan memanaskan penggorengan. Tingen memasukkan bumbu serta bahan-bahan kedalam penggorengan dan tak lupa ada udang juga. Orang-orang pada melihatnya dengan serius. Dan nggak butuh waktu lama, burger-mini kari udang ala Tingen pun siap. 


Tingen mempersilakan semua orang yang ada disana untuk mencobanya. Satu persatu dari mereka mencobanya dan setelah makan segigit mata mereka pada melotot, seolah ada angin segar yang menyapa wajah mereka. Fenqing mengamati ekspresi mereka satu-satu. Kakak Yu aja sampai mengangkat jempolnya. Mereka mengatakan kalo itu enak bahkan lebih enak dari buatan Fenqing. Karena penasaran, Fenqing akhirnya mencobanya juga. Ia merasakan udangnya renyah, karinya bertekstur lembut, dan aromanya lebih tahan lama daripada punyanya. 


Tingen maju dan mendekati Fenqing. Ia menanyakan perasaan Fenqing. Apakah ia bisa merasakan perbedaan antara profesional dan amatir? Saat ini Fenqing udah merasakan kari yang sebenarnya. Jadi Tingen meminta Fenqing berhenti menggunakan namanya dan mengatakan bahwa ia adalah versi rakyat dari Huo Tingen. Jangan mengatakan kalo dia adalah versi secara ekonomi dari Huo Tingen. Gadis yang pakai topi meminta Tingen agar jangan salah paham. Sebenarnya ialah yang mengunggah itu. 


Tingen melihat Fenqing lalu berjalan meninggalkan kerumunan itu. Fenqing tampak sedih setelah Tingen pergi. Ah Wei menyuruhnya untuk mengabaikan Tingen. Siapa yang peduli kalo dia seorang koki? Ia ngajak Fenqing untuk mengurus urusan mereka sendiri. Fenqing melihat orang-orang disekitarnya dan menyatakan kalo dia baik-baik aja. Nggak papa, nggak ada yang salah. Nggak papa selama pelanggannya menyukai masalannya. Ia ngajak semuanya untuk kembali bekerja. Ia nggak papa. 


Semua orang pada bubar dan melanjutkan kegiatannya masing-masing. Fenqing juga kembali ke gerainya. Tapi ia masih penasaran. Ditatapnya lagi masakan dari Tingen tadi. Ah Wei sengaja berdiri di sebelahnya dan memanggil pelanggan agar membeli burger mini kari udangnya. Beli satu gratis satu steak ayam. Hal itu sukses membuat Fenqing tersenyum lagi. Ia bertanya apa yabg Ah Wei lakukan? Ah Wei hanya nggak ingin Fenqing sedih. Fenqing berterima kasih padanya. 


Hari sudah semakin malam. Tingen dirumahnya duduk di jendela sambil memandangi sebuah foto. 

Flashback...


Seorang gadis lagi melayani pembeli yang membeli nasi kari yang ia jual. Setelah menyerahkan nasi kari ke pembeli, gadis itu mengatakan semoga hari orang itu baik dan bahagia selalu. Tingen mendatangi gadis itu. Namanya Tingli. Tingen bertanya apa yang gadis itu lakukan sekarang? Tingen mengatakan kalo ibu menyuruhnya untuk membawa Tingli pulang. Tingen menanyakan berapa banyak yang bisa didapatkan Tingli dari berjualan makanan jalanan? Tingli pikir berapa lama ia bisa bertahan? Tingli dengan tegas mengatakan kalo dia nggak mau. Tingen nanya kenapa Tingli nggak mau pulang kerumah? Ia menduga itu semua untuk orang yang nggak ada apa-apanya itu, kan? Untuk seorang pria, apa itu benar-benar layak? Kalo Tingli ingin membuat kari, pulanglah kerumah bersamanya, ia akan mengajarinya. Tingli nggak ingin menjadi seorang anak dari pernikahan sebelumnya. Ia nggak akan mengambil apapun dari keluarga Huo. Selain itu, kari bukanlah sesuatu yang hanya milik restoran kelas atas yang dapat disajikan dengan baik. Pasar malam juga bisa. Tingen nggak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya bisa terdiam. 


Malam itu sedang hujan. Tingli membereskan dagangannya sendirian. Tiba-tiba ia terjatuh saat sedang mengangkat barang. Tingen datang membawa payung. Ia memperingatkan Tingli bahwa sedang hujan. Ia minta pada Tingli agar berhenti beres-beres dan pulang bersamanya. Pulanglah kerumah. Tingli tetap nggak mau pulang. Ia nggak mau. Ia udah bilang nggak mau. Tingen mendorong benda-benda itu dan menarik Tingli. Ia mulai hilang kesabaran. Sampai kapan ia akan keras kepala seperti itu? Tingen menanyakan dimana pacarnya. Kapanpun ia mengunjungi Tingli, dimana dia? Kenapa ia mengandalkan Tingli untuk mencari uang untuknya? Kenapa dia nggak datang dan menjualnya sendiri? Tingli mengatakan kalo ia yang nyuruh pacarnya buat nggak datang. Kenapa Tingen nggak percaya sama dia? Ia bisa mengandalkan dirinya sendiri. Tingli nggak butuh bantuannya. Tingli mendorong Tingen dan menyuruhnya pergi. Habis itu Tingli membereskan barang-barangnya kembali. Tingen hanya bisa melihatnya saja. 


Tingli udah nggak tahan lagi. Ia duduk dan menangis. Ia mengatakan kalo usahanya benar-benar buruk disana. Tingli bertanya pada Tingen apakah karena dia nggak bisa membuat kari dengan baik? Ia meminta Tingen, kakaknya untuk mencicipi kari yang ia buat. Lihat apa ada sesuatu yang salah? Tingli minta diajari bagaimana cara membuatnya. Tingli meraih tangan kakaknya dan minta di ajari. Tingen menyingkirkan tangan Tingli dari tangannya. Ia nggak mau makan atau mengajarinya. Kalo ia mengajari Tingli, ia nggak akan pernah pulang ke rumah. Tingen nyuruh Tingli jaga diri baik-baik dan pergi meninggalkannya. Tingli nggak bisa memaksa. Ia hanya bisa menangis. 

Flashback end...


Tingen memandangi foto Tingli dan bertanya kenapa dia nggak pulang kerumah? Andai Tingli pulang kerumah, ia pasti bisa melindunginya dan ibu. Kenapa dia nggak pulang kerumah? Tingen tampak sangat sedih sampai air matanya keluar. 


Fenqing dikamarnya lagi membaca buku catatan ayahnya sambil tiduran di kasur. Ia meminta maaf pada sang ayah. Ia teringat saat Tingen mengatakan kalo dia pasti nggak pernah ke La Mure dan nggak pernah mencoba lobster kari disana sebelumnya. Ia juga teringat perkataan  temannya bahwa makanan buatan Tingen lebih enak dari buatannya. Juga saat Tingen melarangnya berjualan menggunakan namanya. Fenqing mendesah. Ia menyebut nama Tingen, La Mure. Jika ada kesempatan, ia pasti akan mencoba kari lobsternya. 


Ibu Fenqing masuk kekamarnya, bertanya apa Fenqing udah tidur? Fenqing bangun dan menjawab belum. Ibu masuk dan duduk disebelah Fenqing. Ia melihat buku itu. Fenqing membaca jurnal ayahnya lagi? Bukankah ibu udah bilang agar Fenqing jangan terlalu keras pada diri sendiri. Ia berada di pasar malam, melayani pelanggan sepanjang hari, itu udah sangat melelahkan. Ketika ia pulang, ia mempelajari rasa karinya. Ibu bilang itu baik selama bisnis berjalan baik. Fenqing rasa nggak mungkin. Ia udah bilang. Ia harus mempelajari setiap bagian dari keahlian ayahnya. Dan juga, jurnal itu satu-satunya yang ayahnya tinggalkan untuknya. Ibu tersenyum. Fenqing menanyakan dimana adiknya? Gimana bisa dia nggak melihatnya. Chenyang? Ibu mengatakan kalo temannya memintanya untuk ikut perjalanan malam. Lalu dia menghilang dalam sekejab mata dan sampai sekarang masih belum kembali. Ibu menghela nafas, anak ini. Ibu udah bilang padanya untuk masuk ke jurusan seni tata boga, dia pergi. Belajar selama 2 tahun tapi ibu masih belum tahu apa yang dia pelajari. Dia masih senang bermain-main. Fenqing merangkul ibunya. Jangan seperti itu. Adiknya masih muda, dia masih belum mengerti. Fenqing meminta ibunya untuk nggak khawatir. Ia pasti akan mengembalikan gelar "Raja Kari" milik ayahnya. Ibu tersenyum dan mengusap rambut anaknya sambil memanggilnya Qingqing. Jika adiknya seperti dirinya, betapa bagusnya itu. Mereka saling senyum. Karena udah malam, ibu meminta Fenqing untuk cepat tidur dan berhenti membaca jurnal. Fenqing mengangguk. Ibu berpesan, hal yang paling penting adalah jangan sampai Fenqing terlalu tertekan. Fenqing memeluk ibunya dan mengucapkan selamat malam. 


Pagi harinya Fenqing udah nangkring diatas motornya di depan La Mure. Ia memperhatikan gedung itu. Fenqing turun dari motornya. Dua temannya dari pasar malam menghampirinya dan bertanya mereka lagi ada dimana? Fenqing ngasih tahu kalo itu restoran Huo Tingen. Mereka senang ada di La Mure, artinya mereka bisa melihat Huo Tingen lagi. Mereka bertanya kenapa kesana? Ada perlu apa? Fenqing memberikan alasannya. Kemarin Huo Tingen datang ke kios pasar malamnya, hari ini gilirannya untuk datang ke restorannya untuk menantangnya. 


Tanpa mereka sadari, Tingen bersama Xiao Bin udah ada di belakang mereka. Xiao Bin bahkan langsung menaiki motor Fenqing. Xiao Bin memuji Fenqing yang udah memberikan tantangan yang bagus. Kedengarannya seperti gertakan. Tingen bertanya pada Fenqing, ingin menantang apa? Fenqing mengatakan, kemarin Tingen udah membuat kari udang burger mini-nya, sekarang giliran Fenqing untuk membuat kari lobster. Selama itu sesuatu yang ia makan sebelumnya, ia bisa membuatnya. 


Tingen melihat Xiao Bin. Dalam arti, apakah ia hanya bicara? Cina? Maksudnya adalah selama dia sudah makan sebelumnya, dia bisa membuatnya. Xiao Bin berkata secara logika, itulah yang ia maksud. Tingen bertanya apakah ada orang di restoran? Xiao Bin menjawab nggak ada. Tingen mengangguk. Ia memberi Fenqing kesempatan untuk menantangnya. Setelah itu Tingen berjalan meninggalkan Fenqing dan teman-temannya. Xiao Bin berpesan agar Fenqing memindahlan sepeda motornya kalo dia masuk ke dalam. Kalo nggak nanti bakalan di derek. Dua teman Fenqing senang bukan main karena mereka bisa makan di La Mure. 


Fenqing dan kawan-kawannya udah ada di dalam restoran. Xiao Bin menyajikan makanan andalan di sana, kari lobster. Tingen mengucapkan selamat menikmati pada Fenqing dan kedua temannya, kari lobster. Fenqing mengambil sendok dan mulai mencicipi. Tingen menyarankan agar Fenqing menggunakan garpu. Fenqing meletakkan sendoknya dan menggantinya dengan garpu. Fenqing mencicipinya sambil memejamkan matanya. Tingen tersenyum melihat ekspresi Fenqing. Menurut Xiao Bin, ini sebenarnya bod*h untuk ditanya. Dari ekspresi mereka Tingen bisa memberitahunya kalo itu lezat. Tentu saja, itu karena kari lobster adalah resep andalan Tingen. 


Xiao Bin ngasih tahu kalo dapurnya sekarang kosong. Menurut Tingen Xiao Bin nggak perlu ngasih tahu dia, yang harusnya di kasih tahu adalah gadis yang ada di depannya. Xiao Bin memanggil Fenqing dengan sebutan gadis cilik, dapurnya sekarang kosong. Bermain-mainlah. Ayo! Tantang Fenqing. Tingen nyuruh Xiao Bin untuk ngasih celemek ke Fenqing. Secara pribadi Tingen berharap siapapun yang masak di dapurnya menggunakan celemek. 


Xiao Bin dan Tingen mengantar Fenqing dan kawan-kawan ke dapur. Biar kata tadi dapurnya kosong, nyatanya di sana masih ada beberapa koki. Mereka menatap Fenqing dengan tatapan aneh. Xiao Bin datang dan memberinya celemek. Tingen memberi kode pada seluruh koki agar meninggalkan dapur. 


Pertama-tama Fenqing menuju meja anggur. Ia memilih anggur dengan cara mencium aromanya satu persatu. Tingen melihatnya dengan seksama. Dan pilihan Fenqing sama dengan anggur yang Tingen gunakan biasanya. Setelah mendapatkan anggur yang tepat, Fenqingpun mengambil penggorengan. Ia memasukkan anggur kedalam penggorengan yang udah ada lobster-nya. Yup, itu sama persis dengan cara Tingen memasak. Habis itu Fenqing menciumi seluruh bubuk kari serta rempah-rempah untuk dimasukkan kedalam nasi. Dari tempatnya Tingen terus tersenyum karena Fenqing melakukan semuanya seperti caranya. 


Fenqing udah selesai membuatnya dan mencicipinya. Dia nggak bilang apa-apa, sih hanya menatap Tingen. Ia mengaku kalo ia nggak bisa membuat kari lobster Tingen. Walaupun rasanya sangat mirip, tapi itu beda. Fenqing minta waktu 10 hari. Dalam 10 hari dia akan mampu mempelajarinya. Xiao Bin menyela, tunggu! Tunggu! Ia menganggap apa yang Fenqing katakan itu berlebihan. Orang lain perlu berlatih teknik itu 3 sampai 5 tahun. Gimana bisa Fenqing bisa belajar dalam 10 hari? Tingen juga tersenyum seolah mengejek. Fenqing membenarkan. Dalam 10 hari ia bisa mempelajarinya. Atau gimana dengan 7 hari? Dalam 7 hari dia udah bisa mempelajarinya. Tingen mengajarinya. 


Tingen tersenyum melihat semangat Fenqing. Ia teringat saat Tingli memintanya mengajari cara membuat Kari. Seolah nggak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Ia bertanya apa benar Fenqing bisa mempelajarinya dalan waktu 7 hari? Fenqing membenarkan. Ia yakin pada panca indra perasa-nya  dan juga kenampuannya. Selama Tingen membiarkannya di dalam dapur selama 7 hari ini, ia akan melakukan apapun untuk Tingen. Xiao Bin mencoba memperjelas, maksudnya Fenqing membiarkan Kepala Koki Internasional La Mure yang terkenal Huo Tingen, mengajarkan gadis cilik di pasar malam? Bagaimana cara memasak? 


Ingatan Tingen kembali melayang kesaat Tingli memintanya mincicipi kari buatannya. Tapi Tingen bersikeras nggak mau makan ataupun mengajarinya. Fenqing maju dan mengatakan kalo dia kesana bukan untuk belajar tapi untuk menantang Tingen. Xiao Bin ngasih tahu Tingen, semakin dia melihat Fenqing, semakin lucu menurutnya. Fenqing nanya gimana keputusan Tingen? Apa dia berani? Tingen mengangkat wajahnya. Ia tersenyum dan menyatakan diri setuju. Dua teman Fenqing senang dan memuji Tingen penuh cinta. 


Tapi sebelumnya Tingen menghruskan Fenqing memperlihatkan kemampuannya untuk menjadi koki yang handal. Tingen berkata pada Brian kalo tugas malamnya hari ini akan segera berakhir. Brian protes, malam iniakan ada bahan baku yang datang. Tingen melarangnya mengkhawatirkan hal itu karena Fenqing akan membantu. Dia? Brian merasa nggak masuk akal. Chef, barangnya berat dan banyak kata Brian. Tingen melarang menganggap Fenqing kecil, dia sangat kuat. Fenqing emang sangat kuat, tapi kenapa dia harus mengangkatnya? Tingen mengingatkan karena baru saja Fenqing mengatakan untuk 7 hari kedepan, ia akan membiarkan orang-orang disekitarnya menjadi atasannya. Apakah Tingen keliru? Apa Fenqing ingin menarik kembali perkataannya? Nggak! Fenqing akan melakukannya sesuai janjinya. Ia akan mengangkat apa aja, nggak masalah. Huo Tingen, Fenqing berjanji akan membuatnya menyesali keputusannya hari ini. Tingen mengangguk sambil tersrnyum, ia harap juga gitu. 

Bersambung...

Komentar:
Kalo lidah sama hidungnya koki emang beda. Mereka bisa membuat sesuatu berdasarkan dua indra itu. Tapi...7 hari? Apa aja yang bakal terjadi hanya dalam waktu 7 hari? Seminggu? Cukupkah untuk membuat Fenqing bisa menguasai ilmu Tingen? Untuk asmaranya? Duh penasaran, apa aja yang bakal kejadian selama 7 hari kedepan....