Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 1 BBAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 1 Part 2
Hari udah semakin malam. Ruxi menghampiri ayahnya yang lagi duduk di sofa. Kenapa ayah belum tidur, tanya Ruxi. Ayahnya nggak bisa tidur karena sedang memikirkan sesuatu. Ruxi menanyakan apa yang ayahnya pikirkan. Ayah jadi semangat. Ia bertanya pada Ruxi, gimana perasaannya setelah makan di restoran La Mure hari itu. Ruxi tersenyum, apa ayahnya mencoba bertanya gimana perasaannya tentang La Mure, atau gimana perasaannya pada Huo Tingen? Ayah merasa ketahuan. Sepertinya apapun yang ia lakukan, nggak bisa disembunyikan dari matanya. Tentu saja, lalu ayah dan anak itu tertawa bersama. 


Ayah menanyakan langsung pada Ruxi. Bagaimana perasaannya tentang Huo Tingen? Menurut Ruxi, sebagai seorang koki, dia memberinya nilai tinggi, tapi sebagai seorang pria... Ruxi sengaja nggak melanjutkan perkataannya dan hanya tersenyum sambil menatap sang ayah. Dia gimana? Tanya ayah penasaran. Ruxi hanya mengatakan kalo dia dibawah pengawasan. Ayah mengijinkan pengawasan, tapi setelah ia selesai meneliti, ayah ingin Ruxi segera pergi kepadanya. Ruxi mengangguk. Ia mewarisi gen itu dari ayahnya. Baiklah. Ayah merasa sudah ringan karena Ruxi berkata demikian. Tapi Ruxi jangan lupa, ia selalu bisa mengandalkan ayahnya. Jika ia butuh bantuan, jangan malu untuk mengatakannya. Ruxi tersenyum, ia tahu kok. Dan ayah menyuruhnya untuk tidur lebih awal, atau kantung matanya akan semakin besar. Ruxi meraba matanya dan merengek. Apa? Apa Ruxi menyalahkan genetik-nya lagi? Ruxi yakin ia pasti menurunkan gen dari ayahnya. (Ya iya lah, kalo nggak dari ayahnya dari siapa lagi?)


Tingen dan Xiao Bin membawa Fenqing ke luar, tepatnya ke bahan-bahan makanan yang baru aja sampai. Tingen menyuruh Fenqing memindahkan semua itu ke dapur. Satu kantung srkali jalan, bisa selesai dalam 10 menit, kan? Fenqing malah bilang nggak perlu waktu 10 menit, 5 menit aja. Tingen tersenyum. Xiao Bin malah mengira Fenqing cuman membual.


Fenqing segera melakukan pekerjaannya. Nggak tanggung-tanggung, ia langsung mengangkat dua karung sekaligus. Tingen nyuruh Xiao Bin untuk mencatat waktunya. Xiao Bin nggak pernah nyangka kalo mony*t cilik yang kurus itu sangat kuat. Tingen melarangnya terburu-buru dalam menilai, tunggu dan lihat aja dulu. Dan benar, untuk yang pertama dan yang kedua emang nggak ada masalah, tapi buat yang ketiga kali, Fenqing udah tampak lelah. Tingen berpendapat bahwa stamina adalah atribut paling mendasar untuk seorang koki. Tingen sendiri mengakui kalo Fenqing sedikit lebih baik dari pada "dasar" yang biasanya. Menurut Xiao Bin dia juga nggak nggak buruk. Sampai dengan karung yang terakhir, meski Fenqing udah lelah banget, tapi dia tetap nggak mau nyerah dan akhirnya ia benar-benar menyelesaikannya dalam 5 menit. Tingen menanyakan waktu yang lebih tepat pada Xiao Bin. Hasilnya malah lebih mencengangkan. 4 menit 53 detik. (Duh, Tingen pasti malu banget karena Fenqing bisa mebyelesaikan tantangannya. Lebih cepat, lagi)


Berikutnya. Tingen membawa Fenqing ke dapur. Tepatnya ke hadapan bubuk bumbu kari. Fenqing menatap stoples-stoples kecil itu. Xiao Bin datang membawakan air. Ia nyuruh Fenqing buat berusaha keras. Semoga berhasil! Xiao Bin pergi dan membiarkan mereka melakukan tes selanjutnya. 


Tingen meminta Fenqing untuk memejamkan matanya dan membuka matanya. Fenqing yang nggak ngerti maksudnya malah marah. Dia tuh mau belajar masak, bukannya bermain-main. Tingen memberi kode agar Fenqing menjahit mulutnya. Tapi... Tapi apa? Tingen mengingatkannya, apakah ia harus menandatangani kontrak dengan Fenqing hanya untuk 7 hari? Apakah Fenqing ingin melanggar janjinya? Fenqing menepuk meja. Ia akan melakukan apa aja yang Tingen katakan. Bagus! Sekali lagi Tingen nyuruh dia buat menutup matanya dan buka mulut. 


Tingen menaruh kotak kosong di tangan kiri Fenqing. Ia lalu menyuapkan sesendok bubuk kari kedalam mulut Fenqing. Fenqing mengecap-ngecapnya dan mengenali kalo itu kari. Tingen menyuruhnya untuk mengingat rasanya. Tingen nyuruh Fenqing buat mencuci mulutnya karena dia mau ngasih rasa yang selanjutnya. 


Kari mempunya banyak rasa yang berbeda. Selain itu, kari juga punya berbagai warna. Seperti yang Fenqing lihat sebelumnya. Kalo di kategorikan dari negara, ada jenis kari dari India, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Tiap negara punya kari sendiri dan masing-masing unik. Seperti kari India, penuh bumbu rempah, dan kari dari Jepang yang mengandung mentega dan buah, jadi rasanya manis. Lalu ada Sri Lanka, yang rempah-rempahnya paling unik. Tingen pribadi sangat suka rempah-rempah Sri Lanka. Fenqing mendengarkannya sambil manggut-manggut. 


Tingen ngasih tahu kalo sebenernya dia berada di sisi kanan Fenqing. Fenqing memutar tubuhnya jadi menghadap Tingen. Tingen nyuruh dia buat buka mulut. Hei! Hei! Fenqing protes, meskipun namanya Wei Fenqing, tapi nggak seharusnya Tingen memanggilnya kayak gitu. ('Wei' adalah bahasa Cina untuk hei, kayak 'yak' kalo di Korea) Tingen mengacungkan jempolnya terbalik. Fenqing mengelus dadanya sambil berkata jangan berdebat dengannya karena sekali ia berdebat, ia akan kalah. 


Tingen mempersilakan Fenqing untuk menutup matanya dan membuka mulutnya. Tingen menyuapkan satu bumbu terakhir. Setelah itu, ia nyuruh Fenqing buat membuka matanya dan menutup mulutnya. Tingen tertawa karena Fenqing malah membuka mulutnya dan menutup matanya. Tingen mengulangi perintahnya sekali lagi dan Fenqing langsung mingkem seketika. (Lihat Tingen tertawa, aku jadi ngikut ketawa, lucu banget lihat ekspresinya Fenqing)


Okey, Fenqing udah mencicipi lebih dari 10 kari yang berbeda. Sekarang Tingen memintanya untuk mengurutkan sesuai dengan urutan yang ia suapkan tadi. Mengurutkannya? Fenqing mengira Tingen menipunya. Tingen merasa nggak menipunya, ia hanya ingin melihat apakah lidahnya sebagus yang ia katakan. Baiklah, Fenqing akan mengaturnya. Tingen memberinya waktu 30 detik. 


Saat sedang mencicipi, tiba-tiba terjadi gempa bumi. Tingen mengira Fenqing hanya menghindar. Ini pertama kalinya ia dengar alasan seperti itu dari seorang karyawan. Ia sungguh berbakat. Nggak lama terjadi guncangan lagi. Semua benda yang tergantung pada bergoyang. Itu benar-benar gempa bumi. Tingen merasa itu buruk. 


Fenqing mengira Tingen takut gempa bumi. Tingen mengatakan kalo dia nggak takut gempa bumi, dia hanya takut... Tiba-tiba lampu padam. Tingen merasa sebal. Ia harus segera pergi tapi saat ia akan melangkah, ia merasakan kakinya terasa berat. Rupanya kakinya ditahan oleh Fenqing. Apa yang dia lakukan? 


Tingen jadi nggak bisa berjalan gara-gara Fenqing yang memeluk kakinya erat. Ia meminta Fenqing agar melepaskan kakinya. Apa, sih yang dia lakukan? Kenapa ia memeluk kakinya? Fenqing bangkit dan masih memeluk Tingen. Ternyata Fenqing takut gelap. Ia terus memeluk Tingen dan membuatnya merasa nggak nyaman. 


Tingen mengambil ponselnya dan menyalakan senter. Apa udah lebih baik? Fenqing mengangguk. Ia lalu memberikan ponselnya pada Fenqing. Tingen melepaskan pelukan Fenqing dan berjalan keluar. Tingen menatap Fenqing dan berjalan keluar dengan meraba-raba. 


Tingen menyalakan listrik darurat dan seketika ruangan udah jadi terang lagi. Tingen nggak habis pikir, ia hanya seorang gadis, tapi kenapa dia suka berpura-pura menjadi kuat? Tingen kembali pada Fenqing. Fenqing sendiri udah nyiapin surat perjanjian kerjasama. 


Tingen menanyakan apa itu? Fenqing mengingatkan kalo sebelumnya kan Tingen mengatakan kalo mereka harus menandatangani kontrak? Fenqing udah tandatangan disana. Tingen membaca surat itu. Fenqing memberitahu Tingen harus tandatangan di kertas yang satunya. Tingen membaca salah satu poin yang dicantumkan oleh Fenqing. 'Jangan membicarakan tentang apa yang terjadi malam ini'  Bukan itu, 'jangan memberitahu orang lain bahwa aku takut gelap.' Tingen tertawa membacanya. Fenqing mengingatkannya kalo dia kan udah bilang untuk nggak mengatakan itu. 


Tingen mentertawakan tingkah Fenqing. Apa dia bod*h? Kenapa Tingen harus menandatangani kontrak semacam itu?  Yaudah, kalo gitu Fenqing melarangnya tandatangan. Fenqing mau mengambilnya tapi Tingen nggak ngasih. Fenqing udah tahu kalo dia nggak akan menandatanganinya, namun ia masih menulisnya. Kalo Tingen mencoba, akan ada kesempatan. Tapi kalo dia nggak mencoba, ia akan menyesal. Fenqing nyuruh lupain aja. Ia akan pergi dulu. 


Fenqing udah melangkah tapi Tingen menahannya. Ia punya pertanyaan. Burger-mini rasa kari udang yang Fenqing buat, ada paprika hijau, cabe merah, keju, tomat, bumbu kari, udang putih dan apa lagi? Santan kelapa, jawab Fenqing. Tingen mengangguk sambil senyum. Dia udah tahu kalo itu pasti santan kelapa. 


Fenqing tertawa dan menepuk tangannya. Ia udah tahu. Mengatakan aku udah tahu setelah seseorang memberitahu jawabannya, Fenqing juga bisa bilang gitu. Tingen tersenyum. Ia akan memberikan saran padanya. Lain kali saat membuat itu, sebaiknya menggunakan soda kuesebanyak yang Tingen demonstrasikan. Fenqing mengangguk. Dia udah tahu itu. Apa Fenqing tahu kalo soda kue bisa melunakkan daging? Tapi apa yang Fenqing nggak tahu adalah, ia memberikannya terlalu banyak sehingga dagingnya berubah menjadi asam. 

Flashback...


Saat di pasar malam, Tingen mengatakan seberapa baik kemungkinan kari pasar malam. Bagaumanapun cara makannya, ada rasa asam. Tingen meletakkan makanan itu dan mengklaim itu nggak sebaik itu. 

Flashback end...


Tingen melambaikan tangannya nyuruh Fenqing mendekat. Tingen hanya ingin bilang kalo Fenqing udah bisa pulang. Tingen tertawa melihat wajah Fenqing yang kayaknya udah sebel banget. Ia memanggilnya hanya untuk melihat 'jika kau berusaha, akan ada kesempatan' Fenqing tertawa. Ia akan membuat Tingen berlutut dan memihon padanya suatu hari nanti. Tingen mengangguk dan mengucapkan selamat malam. Fenqing berjalan sambil sesekali menengok Tingen. 


Setelah kepergian Fenqing, Tingen membaca lagi surat perjanjian yang ditulis oleh Fenqing tadi. Ia bilang Fenqing bod*h dan nggak percaya padanya. Ia menulis kontrak hanya karena ia nggak ingin orang lain tahu. Kalo Tingen menandatanganinya, bukankah itu akan menjadi barang bukti? Tingen ingin merobeknya tapi setelah dipikir-pikir lagi akhirnya ia memutuskan untuk menyimpannya aja. 


Fenqing sampai dirumahnya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan banyak orang yang ada dirumahnya. Ah Wei menariknya untuk duduk bersama orang-orang. Ia ngucapin selamat untuk Fenqing atas kehilangan kedua hari ini dan tantangan kemarin melawan Huo Tingen. Fenqing menerima gelasnya. Ia baru tahu betapa terkenalnya dia. Meskipun ia kalah, tapi mereka tetap menyiapkan pesta untuknya. Salah seorang temannya mengatakan kalo mereka merayakannya setulus hati. Memikirkan tentang itu, Huo Tingen adalah pria yang bagaikan dewanya dunia memasak. Gadis itu mempraktekkan apa yang dilakukan Huo Tingen saat di restoran tadi. Tingen mengacungkan jempolnya terbalik.


Ah Wei melarangnya melakukan hal itu. Kakak Yu memuji betapa beruntungnya Fenqing. Walaupun dia kalah tapi sekarang ia berakhir dengan menjadi muridnya, sebenarnya itu juga yang Ah Wei pikirkan selama ini. Apakah Fenqing nggak ingin menjadi raja kari seperti ayahnya selama ini? Ah Wei pikir ini adalah kesempatan bagus untuk belajar. Kalo Fenqing khawatir dengan kios pasar malam, Ah Wei akan mengawasinya untuk Fenqing. 


Ibu mengatakan karena La Mure adalah restoran terkenal, sudah bagus Tingen mau mengajarinya. Ibu berpesan agar Fenqing belajar dengan serius. Fenqing menyetujui. Nainai bertanya apa hari ini Fenqing sengaja di mudahkan? Ia berpura-pura salah agar ia tetap disana. Fenqing mengaku kalo dia emang nggak bisa. Dan seketika semua orang langsung pasang muka aneh. 


Fenqing meminta Nainai bilang padanya apakah itu karena dia melihat betapa tampannya Huo Tingen semalam sehingga dia bilang burger-mini buatannya lebih enak? Nainai menjawab enggak sambil memalingkan wajah. Kakak Yu malah menangkap ada sesuatu yang salah dengan pilihan kata Fenqing. Apa dia pribadi berpikir kalo Tingen tampan? Ia menduga ia benar. Fenqing mengelak. Ia nggak maksud gitu. Nainai memuji Tingen sangat tinggi, kaya, tampan dan tahu seni kuliner. Dia bukan hanya bekerja di La Mure, tapi dia juga Manager Umum dari Perusahaan Restoran Yanis. Nainai merasa Tingen benar-benar sebuah sendok emas. Ah Wang terkejut dengan perkataan Nainai, sendok emas? Emangnya ada orang yang tampak persis seperti sendok emas? Dimana, sih akal sehatnya? Itu adalah lahir dengan sendok emas di mulutnya. Nainai nggak peduli. Mau apapun itu, punya porsi sendok aja udah cukup bagus. Ah Wang masih nggak terima. Kalo gitu dimana masa depannya kalo dia mengatakan kalo dia adalah Andy Lau. Mereka punya dua mata dan satu hidung. Nainai nggak mau denger dan mengajak semua orang untuk bersulang. 


Saat semua orang pada asik minum, Ah Wei tiba-tiba menarik Fenqing menjauh dari mereka. Ah Wei menanyakan apakah Tingen pernah melecehkannya saat di dapur? Tentu aja enggak, emangnya Fenqing itu apa? Ah Wei memberitahu kalo Fenqing itu wanita. Fenqing tertawa, nyali Ah Wei udah semakin besar, ya??? Apapun itu, Ah Wei tetap lebih muda setahun darinya tapi sangat suka memilihnya. 


Ah Wei tersenyum, ia mengingatkan Fenqing nggak peduli apapun itu, kalo Huo Tingen melecehkannya, tinjunya akan selalu mendukung Fenqing. Ia harus memberitahunya. Fenqing tertawa. Ah Wei pikir ia ini orang seperti apa? Ah Wei mengatakan kalo Fenqing hanya seorang wanita. Lagi? Kakak Yu memanggil Ah Wei dan Fenqing untuk bersulang.


Ruxi sedang ada dikamarnya. Ia lagi menulis sesuatu. "Die Moldau" sungai Vltava adalah lagu terkenal dari musisi Smetana dari Ceko. Kari Lobster di La Mure bagaikan lantunan musik dimana rasa kesegaran dan keindahan lobster bagaikan orkestra, seperti kualitas tak terkendali dari sungai Vltava. Percikan air, aliran sungai, sungai yang berkelok-kelok dan perubahan tak terduga di bawah air, itu semua ekspresi vividly. Itu membuat orang-orang yang memakannya mempertahankan aroma yang tersisa pada gigi dan pipi mereka. Ini tak terlupakan. 


Setelah selesai menulis, Ruxi mengambil ponselnya. Ia nggak habis pikir,udah dua hari Tingen memiliki nomernya tapi nggak mengirim pesan sama sekali. Dia pasti punya harga diri yang tinggi. Ruxi tersenyum. Dia suka itu. Ia lalu mengirim pesan ke Tingen. Sekarang ia nggak yakin kalo Tingen nggak akan membalasnya. 


Ponsel Tingen menyala. Pesan dari Ruxi sudah masuk. Dapatkah kau mengajari aku cara membuat kari? Gina. Sayangnya ponsel itu nggak bersama Tingen, tapi sama Fenqing. 


Tingen terbangun keesokan harinya dan langsung mencari ponselnya tapi nggak ketemu. Ia bertanya-tanya dimana ia meletakkannya. Xiao Bin lalu menelpon dari telpon rumah karena ponsel Tingen nggak bisa dihubungi. Tingen malas, baru juga jam 7 pagi tapi Xiao Bin udah nelpon. Xiao Bin menanyakan tentang bahan baku. 


Tingen nggak ngerti bahan baku apa yang Xiao Bin maksud. Membuang waktu saja. Mereka punya pasokan bahan baku setiap hari. Hal itu saja masih bertanya padanya, lalu buat apa Tingen merekrutnya? Xiao Bin nanya kenapa Tingen nggak menjawab panggilannya. Tingen yang belum ngeh malah nanya kapan ia pernah nggak menjawab panggilannya? Bukankah sekarang ia sedang berbicara dengannya? Yang Xiao Bin maksud adalah panggilan ponsel. Ponsel? Tingen nyuruh Xiao bin buat ngurusin itu dulu sementara ia mengingat-ingat keberadaan ponselnya. 


Akhirnya Tingen ingat kalo semalam ia memberikan ponselnya pada Fenqing. Tingen mengambil gagang telpon untuk menelpon rumahnya. Fenqing mengangkatnya. Tingen baru mau menjelaskan tapi Fenqing udah teriak-teriak minta tolong. Tolong????

Bersambung...

Komentar:
Tuh, kan, baru juga episode pertama kita udah dapat kuliah tentang macam-macam jenis kari. Walaupun sama-sama kari tapi tiap negara punya rasa yang berbeda. Tapi kok negara kita nggak di sebutin, ya??? Apa kita nggak punya???

1 komentar:

Sepertinya menarik min,,,lanjut lg epsd 2 min,,,