Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 2 BBAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 1 Part 3
Tingen menghubungi ponselnya pakai telpon rumah. Ia menjelaskan kalo kemarin Fenqing membawa pulang ponselnya. Tiba-tiba Fenqing teriak minta di selamatkan. Tingen mencoba manggil-manggil Fenqing tapi telponnya udah nggak tersambung. Tingen nggak peduli dan melemparkan gagang telpon ke sofa. Ia mau balik lagi ke kamar tapi terhenti gara-gara melihat fotonya bersama sang adik Tingli.

Flashback...


Tingen menerima telpon dari Tingli. Kedengarannya Tingli lagi nangis. Tingen nanya kenapa Tingli nangis? Ada apa? Bilang sesuatu!!! Tingen ingin Tingli cerita padanya kalo ada sesuatu. Tingen terus teriak nyuruh adiknya buat ngomong sesuatu. Ada apa? 


Nggak lama kemudian Tingen udah berlari di koridor rumah sakit. Ia nyari kamar rawat Tingli. Setelah menemukannya ia pun masuk. Ia bilang pada adiknya kalo ia, kakaknya udah datang. Kayaknya Tingli udah parah banget. Dia udah nggak bisa merespon saat melihat  kakaknya. Tingen berjalan mendekat dan duduk di samping adiknya. Ia udah mau nangis. Kenapa Tingli nggak mau pulang? Kalo aja dia mau pulang, Tingen pasti bisa melindunginya dan juga ibu mereka. Tingen sangat terpukul melihat kondisi adinya. Ia sampai menangis. 

Flashback end...


Tingen panik. Ia mencari surat perjanjian semalam di dalam saku celananya tapi nggak ada. Dia mencarinya sekali lagi dan ketemu. Tinge membaca alamat rumah Fenqing. 6-7 Dingxin St., Nangang Dist., Taipei. Tingen segera mengambil pakaiannya dan berangkat ke alamat itu.


Tingen mencari alamat rumah Fenqing dengan mengendarai mobil. Ia merasa itu nggak berguna. Ia udah nggak punya waktu lagi. Akhirnya Tingen memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencari dengan jalan kaki. Pertama-tama ia mencari nomor 6-7. Setelah lama mencari, akhirnya ketemu juga. Tingen mau mencari tahu lantai berapa tapi sayangnya Fenqing nggak menulis dia tinggalnya di lantai berapa. Tingen mencoba memanggil Fenqing. Nggak ada waktu lagi. Ia memutuskan untuk memanjat tembok. Ia akan datang apapun itu. 


Tingen udah mau sampai hingga seseorang memanggilnya dan bertanya apa yang ia lakukan. Tingen turun dan bertanya padanya apakah seorang gadis bernama Wei Fenqing tinggal di sana? Orang itu mengenali Fenqing sebagai jagoan Qing dan memberitahu Tingen kalo Fenqing tinggal di atap. Tingen berterima kasih dan buru-buru masuk kedalam. 


Tingen sampai di rumah Fenqing dan mencarinya tapi nggak menemukannya. Tingen melihat ada orang yang lagi menjemur pakaian. Ia memanggil nama Wei Fenqing tapi nggak ada jawaban darinya. Ia maju dan membuka selembar kain. Pada saat yabg bersamaan Fenqing juga membuka kain itu. Mereka saling berhadap-hadapan. 


Fenqing kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Tingen berniat menolongnya tapi malah membuatnya ikutan terjatuh. Fenqing berteriak minta di selamatkan. Tingen memutar tubuhnya sehingga Fenqing berada di atasnya. Mereka terjatuh di mobil bak. Mereka nggak papa, mereka selamat. Tadi itu menakutkan sekali. Mereka selamat karena jatuh di atas mobil barang. Tingen menanyakan kondisi Fenqing. Ia menjawab nggak papa dan ngajak bangun. 


Tingen mau bangun tapi nggak bisa gara-gara tangannya sakit. (Pas jatuh tadi, posisi Fenqing ada di atas tangannya) Fenqing mau membantu Tingen berdiri tapi malah membuatnya makin kesakitan. Fenqing meminta maaf. Ia nggak tahu apa yang harusnya ia lakukan. Fenqing berpikir sebaiknya ia membawa Tingen ke rumah sakit. 


Fenqing menulis pesan pada pemilik mobil. Intinya sih mereka minta meminta maaf. Mereka terjatuh dari atap dan di selamatkan oleh bak kardus di mobilnya. Mereka nggak tahu apa mereka merusak sesuatu. Karena mereka harus segera ke rumah sakit, mereka meninggalkan uang sebagai ganti jika ada kerusakan. 


Fenqing membonceng Tinen pakai motornya. Tingen melarangnya untuk ngebut. Ia merasa tangannya hanya sakit sedikit. Fenqing mengatakan kalo sepertinya di depan sana ada kemacetan. Fenqing akan mengambil jalan kecil. Tingen panik. Jalan kecil? Yang mana? Fenqing mrmintanya memberikan tangan kanannya. Fenqing merasa nggak sabar. Ia menarik tangan kanan Tingen dan menaruhnya di pinggangnya. Fenqing ngebut lagi. Tingen jadi berisik karena ia ketakutan. Fenqing mengatakan kalo tangan koki sangat penting. Ia nggak akan merasa nyaman kalo Tingen nggak pergi ke rumah sakit. Tingen memperlihatkan tangannya dan bilang kalo tangannya udah nggak papa. Fenqing melarang Tingen untuk cemas karena ia akan ke rumah sakit secepat kilat. Tingen masih berusaha bilang bahwa tangannya udah nggak sakit lagi dan juga bisa digerakkan dengan normal. Fenqing nyuruh dia untuk tenang. 


Ibu baru pulang dan mencari Fenqing tapi nggak ada. Ia menelponnya. Fenqing merasa telponnya bunyi. Ia nggak bisa mengambilnya dan meminta Tingen untuk mengambilnya untuknya. Dimana? Di saku depan. Tingen mengambilnya tapi malah menyentuh yang lain. Tingen melihat ada dua ponsel di sakunya. Milik Fenqing yang mana? Fenqing nggak tahu. Ia nyuruh Tingen untuk mengambil dan melihatnya. Tingen mengambilnya dan itu adalah ponsel Fenqing. Fenqing meminta Tingen untuk membantunya menjawab telpon. Fenqing protes, gimana ia bisa denger kalo kayak gitu? Fenqing nyuruh Tingen untuk menyelipkan ponselnya kedalam helm. Tingen pun melakukannya. 


Ibu menanyakan bukankah seharusnya Fenqing sedang menjemur pakaian? Kemana dia pergi dan meninggalkan sebagian cuciannya? Nggak papa. Fenqing melarang ibunya untuk khawatir, ia akan segera kembali. Fenqing menutup telponnya. Tingen mengatakan kalo Fenqing membuatnya gugup. Fenqing melarangnya untuk gugup. Serahkan saja padannya. Tingen makin panik dan nyuruh Fenqing untuk menghentikan motornya. Tiba-tiba ada panggilan lain. Kali ini dari ponsel Tingen. Tingen mengambilnya lagi dan menjawabnya. Ia meminta maaf karena saat ini ia nggak bisa bicara dan langsung menutup telpon. Habis itu Tingen minta di turunkan. Fenqing menyuruhnya untuk pegangan erat-erat karena ia akan ngebut lagi. 


Rupanya yang menelpon Tingen barusan adalah Ruxi. Ia mengirim pesan pada Tingen tapi Tingen nggak membalasnya. Ia menelponnya tapi Tingen malah menutup telponnya. Ruxi tersenyum sambil menatap ponselnya. 


Tingen dan Fenqing udah sampai di rumah sakit. Mereka udah ketemu dokter. Dan kini dokter tengah memberi penjelasan berdasarkan foto x-ray. Tulangnya  nggak patah. Ia sepertinya hanya tertarik atau terkilir ototnya. Dokter menyarankan agar Tingen sering-sering menompresnya pakai air hangat saat ia pulang nanti. Tingen berterima kasih. Fenqing meledeknya. Ia terjatuh dari atap tapi hanya terkilir aja. Itu karenanya maka Tingen jadi selamat seperti ini. Tapi dalam perjalanan kesana tadi ia hampir mati ketakutan gara-gara Fenqing. Dokter menanyakan apakah Tingen memiliki dkeluhan gejala yang lain? Tingen mengatakan kalo ia sedikit mual. Dokter menanyakan apakah kepalanya terbentur? Tingen bilang enggak. Ia hanya mabul kendaraan. Tingen berterima kasih kemudian pamit. 


Tingen benar-benar nggak mau dibonceng sama Fenqing lagi. Tangannya sekarang udah baik-baik aja. Kalo ia tetap naik motor sama Fenqing, ia rasa jantungnya akan bermasalah. Di tambah lagi dengan helm bod*hnya itu. Fenqing mengatakan kalo itu helmnya Zhenzhen. Meski Tingen memakainya, ia nggak akan mengijinkannya. Gimana caranya pulang? Tingen mengatakan kalo ia udah dewasa. Ia tetap ingat alamat rumahnya. Ia akan menelpon taksi. Jadi terima kasih atas perhatian Fenqing. Tingen melangkah lagi. Ia ingat sesuatu dan bertanya pada Fening apa yang terjadi padanya tadi pagi. 

Flashback...


Fenqing masih tidur saat Tingen menelpon. Fenqing ingin meraih ponselnya di meja tapi malah terjatuh, karena itulah ia mita di selamatkan. 

Flashback end...


Fenqing mengatakan kalo ia mau mengambil ponselnya lalu terjatuh dari tempat tidur. Itu saja? Fenqing mengangguk. Fenqing bertanya kenapa Tingen datang ke rumahnya pagi-pagi sekali?  Tingen mengatakan kalo dia tadi...ah lupain. Ia hanya tergesa-gesa akan menggunakan ponselnya. Fenqing merasa itu adalah salahnya yang tanpa sengaja membawa ponsel Tingen. Walaupun awalnya Tingen mengejutkannya, tapi memang benar kalo Tingen telah menyelamatkannya. Jadi Fenqing akan bertanggung jawab. 


Fenqing merasa nggak nyaman dengan rambutnya yang ada di wajahnya. Fenqing mencoba meniupnya untuk menyingkirkannya. Ia udah mencobanya berkali-kali tapi tetap rambutnya kembali kesemula. Tingen teringat adiknya yang juga sering melakukan hal itu. Ia tanpa sadar mengulurkan tangannya dan menata rambut Fenqing agar kebelajang. Ringen mengatakan kalo Fenqing mau bertanggung jawab pada orang lain, ia harus bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dulu. Jaga diri baik-baik. Jangan membuat anggota keluarganya khawatir. Ia akan belajar bagaimana membuat kari lobster. Ia berjanji akan mengajarinya. Fenqing menganngguk. 


Xiao Bin udah datang. Ia memuji hubungan guru-murid mereka pasti semakin mendalam. Ini hanya satu hari dan mereka udah ketemu satu sama lain dengan baju tidur msing-masing. Betapa menyenangkannya. Fenqing protes, siapa yang muridnya? Ia adalah saingannya dalam seni kuliner. Xiao Bin membantah, tapi adalah fakta bahwa idolanya ini mengajarkannya cara memasak kari lobster. Tingen merasa Xiao Bin terlalu banyak bicara. Kenapa ia ke sana? Xiao Bin mengatakan ia akan menjemput Tingen. Benar, kalo Xiao Bin datang untuk menjemputnya, apakah ia nggak akan menunjukkan kepeduliannya? Bukankah ada banyak pekerjajaanyang harus di selesaikan di kantor? Xiao Bin menyatakan banyak sekali. Tingen merasa sedang nggak ingin pergi ke kantor. Tingen berjalan meninggalkan Xiao Bin. Xiao Bin memohon agar Tingen mau ke kantor karena ada banyak hal yang harus ia lakukan. Mereka berjalan meninggalkan Fenqing. Fening merasa aneh. Dan ia juga pergi dari sana. 


Di perusahaan  Restoran Yanis
Tingen berangkat ke kantor dengan senyum lebar menyapa semua karyawan. Kayaknya Tingen deket banget sama bawahannya. Terbukti mereka terlihat akrab dengannya. Tingen dan Xiao Bin udah sampai di ruangan kerja Tingen. Tingen merasa udah cukup lelah menyapa semua orang setiap ia melangkah dari pintu masuk. Dan sekarang ia harus melihat semua dikumen itu, ia benar-benar merasa mual. Xiao Bin mengatakan itu karena tuan mudanya nggak datang kesana selama seminggu. Xiao Bin menyuruhnya untuk memberikan capnya. 


Tingen duduk di kursinya dan bersiap menyetempel. Tingen mengeluh, kenapa setiap kali ia datang kesana yang ia lakukan hanyalah memberi cap. Xio Bin mengatakan kalo itu adalah tanggung jawab Tingen. Sambil memberi cap Tingen berpikir ia hanya perlu fokus menangani La Mure saj dan meninggalkan perusahaan pada Tianzhi. Bukankah itu terdengar sangat sederhana? Siapa suruh dia jadi Manajer Umum? Perusahaan mempunyai prosedur sendiri. Xiao Bin melarangnya terlalu banyak mengeluh dan selesaikan saja tugasnya dan ia juga akan selesai. (Tingen membubuhkan stempel pada dokumen-dokumen itu tanpa membaca ataupun mengkajinya terlebih dahulu, loh. Apa nggak ceroboh, ya???)


Habis itu Tingen melihat sebuah grafik. 35%? Tingen lalu memanggil Helen. Xiao Bin memberitahu kalo sekretarisnya udah ganti seminggu yang lalu. Tingen terkejut. Siapa yang mengganti? Xiao Bin menjawab mungkin Wakil Manajer Umum. Tingen lalu bertanya siapa sekarang? Cassie. Xiao Bin memanggilnya untuk Tingen. Cassie langsung datang begitu namanya di panggil. Tingen menanyakan padanya siapa yang mengatur rasio keuntungan bagi rencana bisnis makan malam valentine putih untuk 2 orang? Cassie menjawab wakil Manajer Umum. Tingen merasa tenang saat tahu Tianzhi juga sudah melihatnya. 


Xiao Bin menanyakan pendapat Tingen tentang sekretaris barunya. Keren, ya? Tingen menilai kakinya cukup panjang. Cantik. Tianzhi masuk. Ia senang kakaknya datang. Ia nggak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua dokumen itu. Xiao Bin menyapa Tianzhi. Tingen memberitahu ia udah mencap semua dokumen itu sampai tangannya sakit. Tianzhi memberinya kabar bagus. Putri Presdir Meng, Meng Ruxi pergi makan du La Mure. Ia memberi Tiangen dan La Mure peringkat tertinggi yang nggak biasanya. Benarkah? Tianzhi memberikan ponselnya oada Tingen agar ia lihat. Tingen mulai menyombongkan diri. Tentu saja, itu karena mereka adalah La mure. Kalo dia nggak memberinya nilai tinggi, itu berarti ada yang salah dengan lidahnya. Xiao Bin memuji Ruxi yang juga punya lidah yang sangat baik. Mereka bertiga tertawa. 


Tingen menangkap kalo sepertinya Tianzhi lebih senang ketimbang dirinya. Ada apa? Tianzhi menolak di bilang begitu. Menurutnya ada seseorang yang lebih senang dari dirinya. Tingen menebak kao dia seorang wanita. Tianzhi mengangguk. Tingen melanjutkan orang itu pasti punya hubungan yang erat dengannya. Tianzhi mengangguk lagi. Wanita itu juga mengatur jadwal untu makan bersama. Tianzhi melarang kakaknya bicara begitu tentang ibu tirinya. Dia menkhawatirkannya. Tingen berpaling. Tianzhi menanyakan apa Tingen nggak menyukai putri presdir Meng? Menurut Tianzhi dia nggak terlalu buruk. Dia sepadan dengan Tingen. Tingen melarangnya bicara hanya tentang dirinya. Bagaimana dengan Tianzhi sendiri? Pikirkan dirinya sendiri dan bagaimana dia dengan Yuqing. Apakah orng tua kedua belah pihak udah saling ketemu? Lalu apa yang ia tunggu? Tingen menyuruhnya untuk cepat melakukan itu. (Pernikahan) Tianzhi mengaku menginginkannya. Itulah sebabnya ia ingin kakaknya menikah lebih dulu darinya. Kalo nggak, bahkan Yuqing bilang kalo mereka menikah lebih dulu, orang akan berpikiran kalo mereka menikah karena kecelakaan. Tingen menyela, tentang itu, ia nggak akan mengeluh dan nggak menuduh sama sekali. Benar, Xiao Bin juga nggak akan menuduh. Tianzhi memintanya berhenti main-main dengannya. Ruxi nggak seburuk itu. Tianzhi melarabgnya hanya memikirkan memasak sepanjang waktu. Tapi kalo mau serius, yang Tingen tahu hanya memasak saja. Walaypun ia Manajer Umum dan dia hanya wakilnya, Tingen benar-benar berharap ia bisa fokus aja di La Mure, dan di masa depan, selama Tianzhi sudah melihat semua dokumen itu, Tingen melarangnya mengirimkannya ke kantornya lagi. 


Tapi ngomong-ngomong tentang rasio keuntungan dari makan malam White Valentine untuk dua orang pada 35%, perusahaan mereka adalah pemegang saham utama. Bukankah lebih masuk akal kalo mereka menempatkan rasio laba pada 50-60%? Tapi Tingen yakin Tianzhi bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ia hanya memberikan pandangannya saja. Habis itu Tingen dan Xiao Bin pergi. Xiao Bin sampai heran pada Tingen yang hanya masuk kantor selama 5 menit saja. Tianzhi sampai geleng-geleng melihatnya.


Xiao Bin bertanya apa mereka akan langsung ke La Mure? Tingen malah nanya kenapa Xiao Bin deket-deket dengannya? Tingen bertanya apakah ia akan melakukan sesuatu nanti? Nggak jawab Xiao Bin. Baguslah, Tingen minta di temani ke suatu tempat penting. Xiao Bin menanyakan kemana mereka akan pergi? Tingen bilang untuk mengikutinya saja. Xiao Bin ngeyel seenggaknya Tingen bilang padanya mau pergi kemana? Tingen mengatakan kalo ia lapar. Kalo gitu Xiao Bin mengajaknya sarapan. 

Flashback...


Tingen melihat kebelakang dan melihat ada seorang ayah lagi jalan bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan. Kedua anak itu adalah Tingen dan Tingli semasa masih kecil. Mereka berencana mau makan. Tingli mau makan telur dadar Taiwan. Tingen mengatakan juga suka makan itu. Tingen menyarankan pergi ke toko sarapan aja. Tingli setuju. Mereka lalu lari meninggalkan sang ayah. Ayah melarangnya berlari terlalu cepat, nanti bisa jatuh. 

Flashback end...


Tingen ngajak Xiao Bin makan teur dadar Taiwan. Makan makanan itu mengingatkannya pada kenangannya bersama Tingli saat kecil dulu mereka juga suka makan itu. Xiao Bin nggak nyangka kalo pangeran kayak Tingen mau datang ke tempat seperti itu. Ia menebak untuk mendapatkan susu kedelai, kan? Tingen nggak menjawab dan hanya asik makan saja. Sesekali ia menggerakkan pergelangan tangan kirinya. Xiao Bin kesal. Ia bahkan nggak bisa menggodanya. Ia lalau menanyakan apa tangannya nggak papa setelah jatuh tadi pagi? Tingen bilang kalo dia nggak papa. 


Tingen merasa melihat dia bersama Tingli kecil di luar kedai. Tingli mengaku lapar dan ingin makan. Tingen terdiam. Ia lalu berjanji pada adiknya untuk membuatkannya nanti di rumah. Tapi Tingli ingin makan di restoran itu. Dulu ayahnya biasa membawa mereka kesana setiap saat. Tingen kecil mengusap jepala adiknya. Ia janji kalo ia punya uang, ia akan mengajaknya makan di sana. Tapi hari ini mereka pulang dulu. 


Xiao Bin menyadarkan Tingen dari lamunanya. Apa yang Tingen pikirkan? Bukan apa-apa. Tingen hanya merasa tiba-tiba benci dengan kedua tangannya. Walaupun tangannya bisa memasak makanan lezat untuk orang lain, untuk memberi mereka kekuatan, adakalanya mereka juga dapat melepaskan seseorang. Dan Tingen teringat saat melepaskan tangan Tingli saat hujan dipasar malam. 


Di dapur La Mure suasananya udah super sibuk. Brian menginstruksikan semua kokibuntuk cepat bergerak. Cuci yang perlu di cuci. Letakkan makanan segar disana dan pindahkan bahan baku lainnya di sana. Ia nyuruh semua bersiap karena pelanggan akan segera datang. Tungen datang bersama dengan Fenqing. Ia nyuruh Brian mengumpulkan semuanya sebentar. Setelah semuanya ngumpul, Tingen merasa nggak perlu melakukan perkenalan karena semua pastu udah lihat Fenqing kemarin. Tingen meberitahu kalo namanya Fenqing. Dia akan menjadi murid di restoran mereka. Dia akan melakukan apapun yang mereka lakukan jadi mereka nggak perlu sungkan padanya. Brian kebagian tugas untuk bertanggung jawab mengajari Fenqing. Habis itu Tingen nyuruh semuanya jntuk bubar. 


Tingen bermaksud meninggalkan dapur. Fenqing mengejarnya. Kenapa ia harus jadi muridnya? Bukannya Tingen yang akan mengajarinya? Tingen beralasan kalo masih ada waktu 7 hari. Kenaoa Fenqing tergesa-gesa? Kalo Tingen bilang akan mengajarinya, maka ia akan mengajarinya. Ia akan mempelajari bagaimana cara membuatnya. Nggak, Fenqing mungkin nggak akan mampu mempelajarinya. Karena itu tergantung bakatnya. Tingen main pergi gitu aja padahal Fenqing  belum selesai ngomong. Fenqing mau mengejarnya tapi Brian menghentikannya. Fenqing minta nanti saja bicaranya. Ia segera mengejar Tingen. 


Fenqing mengatakan kalo Tingen sangat payah. Tingen berbalik dan mengembalikan perkataan Fenqing tempo hari. Siapa yang bilang kalo nggak sopan mengatakan 'hei'. Tingen mengatakan kalo namanya Huo bukan hei. Tingen nyuruh Fenqing buat manggil dia Chef saat mereka di restoran. 


Seseorang datang dan menanyakan siapa yang sedang bertugas hari ini? Xiao Bin mau mengajukan diri tapi Tingen mencegahnya. Tingen mengaku sebagai orangnya dan bertanya ada apa. Orang itu memperkenalkan diri sebagai asisten khusus dari Tuan Tang Dachuan. Ia juga mengenalkan orang yang ada di belakangnya adalah para pengawal. 


Fenqing mengintip dari balik tubuh Tingen. Tang Dachuan? Salah satu orang terkaya di Taiwan, Tang Dachuan? Xiao Bin langsung paham dan bersikap sopan. Tuan dan Nyonya Tang akan melakukan makan malam di restoran mereka malam ini. Itu dia tahu. Mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-30. Tingen menatap wajah Xiao Bin. Benarkah? Benar. Asisten tuan Tang mengatakan kalo untuk tahun ini Tuan dan Nyonya Tang ingin hanya dia dan istinya sendiri. Mereka ingin memastikan pengamanan sebelumnya. Xiao Bin merasa hal itu memang harus. Jadi mereka semua kesana untuk melakukan investigasi sebelum acara untuk memastikan bahwa tempat tersebut aman. 


Mereka juga ingin memastikan jika Tingen telah siap, seperti yang di janjikan. Menu Tuan Tang minta untuk mereproduksi masakan dari pernikahannya. Dan hidangan buatan sendiri dari kepala koki 30 tahun yang lalu. Tingen meminta maaf, ia harus memotong pembicaraannya. Ia nggak mendengar dengan jelas. Ia bilang permintaan apa? Permintaan menu? Xiao Bin mencari permintaan itu dalam ponselnya. 


Fenqing menjentikkan jarinya memanggil Brian. Brian bertanya ada apa? Prinsib menu setengah matang nggak ada resepnya. Srmua makanan di sajikan sesuai dengan bahan yang paling segar dan di musim pada hari pembelian. Fenqing menangkap jadi nggak akan ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip restoran? Brian membenarkan. Tapi kenapa ia harus menjawab pertanyaannya? Fenqing hanya tersenyum.

Bersambung...

Komentar:
Sepertinya Fenqing selalu mengingatkan Tingen pada Tingli. Masih ada rasa bersalah yang menghinggapi perasaannya atas kematian adiknya, sehingga ia akan melakukan apapun pada Fenqing agar peristiwa Tingli nggak terjadi lagi. Nggak nyangka ternyata masa kecil Tingen dan adiknya Tingli sangat pedih. Dan kebiasaan Tingen yang asal  membubuhkan stempel tanpa membacanya terlebih dulu sepertinya akan membawa dampak buruk di kemudian hari. Kalo lihat wajah Tianzhi yang kayaknya menyimpan sesuatu, agak mencurigakan. Lebih-lebih setelah tahu mereka punya ibu yang berbeda.  

1 komentar: