Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

DRAMA SEBELUMNYA || SINOPSIS Borg Mom
Bo berdiri di atas papan skate. Shan memegang ponsel siap untuk memotret. Ia meminta Shan membuatnya tampak kurus dan profesional. Setelah selesai, Bo berlari ke arah Shan. Ia melihat hasil fotonya dan merasa kurang puas karena ia tampak bod*h. Dan di foto yang lain malah terlihat betisnya yang besar. Ia mengatakan kalo Shan sangat buruk. Shan nggak terima di salahin sama Bo. Bo tuh nggak sebagus karakter yang di serial tv. Ia meledek Bo "Mulai sekarang, panggil aku Bo, si skateboarder"


Bo kesel. Ia ngasih papan skate-nya ke Shan. Kalo dia bisa memainkannya, Bo akan membiarkan Shan mukul kepalanya. Shan menerima tantangan itu dan dia dengan mudahnya menaikinya. Bo aja sampai heran. Kok bisa? Itu...udahan. Shan kembali ke Bo. Hmm itulah yang ia pikirin. Apa? Maksud Bo, udahan untuk hari ini, besok main lagi. Beneran gitu? Bo mengangguk. Shan mengayunkan tangannya mau mukul kepala Bo tapi Bo-nya berhasil menghindar, nggak kena, deh! Bo menyuruhnya coba lagi lain kali. Shan melarangnya menghindar. Ia mendekat dan Bo dengan entengnya nyuruh dia berhenti. Saat Shan lengah itulah Bo langsung ngambil langkah seribu, lari!!!! Shan mengejarnya sambil teriak berhenti, Bo! Ia melarang Bo ingkar janji. 


Bo sampai di kamarnya. Ia melemprkan papan skate-nya ke atas kasur lalu berlari ke meja makan. Makan!!! Bo duduk disebelah Shan. Mereka mendekatkan piring mereka. Bo memindahkan sayuran di piringnya ke piring Shan. Dan Shan memindahkan daging di piringnya ke piring Bo. Habis itu mereka berlomba, siapa yang paling dulu menghabiskan makanannya. Ibu Bo datang dari dapur. Ia bertanya-tanya kapan mereka akan berhenti lomba makan. Ibu meletakkan sup di atas meja dan berpesan pada mereka agar makan dengan pelan-pelan. 


Ayah Bo nanyain gimana skateboard? Berapa kali dia jatuh? Shan mewakili Bo menjawabnya. Ia mengatakan kalo Bo menyerah. Bo mengelak. Ia bilang besok akan latihan lagi. Ayah memberikan sebuah kartu pada Bo. Itu adalah kartu asuransi. Buat persiapan kalo-kalo Bo sakit atau jatuh. Ayah menyuruh Bo untuk menyimpannya. Bo menerimanya dan berterima kasih pada ayahnya. 


Ayah pikir, dalam hidup seenggaknya harus ada satu hal yang dapat kita lakukan dengan baik. Ayah nyuruh Bo buat terus mencoba. Bo ngangguk. Ibu bertanya gimana dengan pelajaran? Bo, Shan, dan ayah langsung melihat ke arah wajah ibu. Bo merengek. Bagi ibu, yang terpenting adalah ia dan Shan tumbuh bersama dan belajar bersama-sama. Selama ini kalo Bo nggak ada Shan, dia nggak akan berhasil. 


Bo mengangkat kedua tangannya sambil teriak kalo dia menang. Ayah menegur Bo, bilang kalo Bo berisik. Bo mengembalikan piringnya ke dapur. Ibu nyuruh Bo buat ngambil tas makanan disana buat Shan. Bo mengambilnya dan meletakkannya di hadapan Shan kemudian mengacak-acak rambutnya sambil bilang pecund*ng. 


Bo beralih untuk bermain game. Ibu mengatakan kalo itu untuk Shan bawa pulang. Makanlah kalo ia lapar. Ibu juga membungkus satu untuk ibu Shan ketika ibunya kembali dari penerbangannya. Shan sangat berterima kasih dan menerimanya. Sebelum pulang Shan melihat Bo yang sedang bermain. Shan ngajak Bo buat ketemu di bawah besok. Bo yang lagi asik main game nggak bilang apa-apa. Shan pulang dan tak lupa berterima kasih pada ayah dan ibu Bo. 


Shan sampai di rumahnya. Ia meletakkan makanannya di kulkas setelah menempelkan note dari ibunya Bo. Habis itu Shan masuk kekamarnya. Sepertinya Shan dan Bo udah deket banget dari kecil. Keluarga mereka juga udah saling mengenal. 


Pagi harinya di depan rumah. Shan menelpon Bo dan memberitahu Bo kalo hari ini ada Statistik dan Pemasaran. Mereka nggak bisa absen. Bo di seberang hanya bilang hmm. Shn nyuruh dia buat bangun. Shan memutuskan untuk berangkat dulu. Ia nyuruh Bo buat naik taksi atau motor biar sampai tepat waktu. Shan menutup telpon dan masuk ke mobil. Ia memakai sabuk pengaman kemudian menjalankan mobilnya. 


Tiba-tiba Bo datang dan menghadang mobilnya. Bo main masuk ke mobil gitu aja dan meletakkan skateboard-nya di kursi belakang. Shan cuman ngelihatin aja. Bo membawa papan skate-nya tapi nggak sempet mandi. Bo beralasan seperti yang ia katakan, Bo, pro skateboarder. Shan meledek, bawa kemana-mana tapi nggak bisa menaikinya. Bo menatapnya tajam dan memasukkan makanan ke mulut Shan agar dia diam. Bo juga memakannya setelah menambahkan mayones. Bo nyuruh Shan untuk menjalankan mobilnya kalo nggka mereka bisa telat.


Mereka udah ada di kampus. Bo langsung menaiki papan skate-nya dan nyuruh Shan buat pegang tangannya. Ia pengen tahu apa dia bisa jalan sendiri. Shan memegang tangan Bo sambil membawakan tasnya. Baru juga bergerak sedikit tapi Bi udah teriak-teriak. Dan begitulah Bo berjalan karena berpegangan pada Shan. Awalnya sih baik-baik aja tapi nggak lama kemudian Bo malah jatuh. Shan nyuruh udahan aja. Ia membantu Bo bangun dan mengembalikan tasnya. 


Shan melihat papan skate Bo dan berjalan mendekatinya. Bo nanya Shan mau kemana? Shan hanya bilang ngambil skateboard-nya Bo. Papan skate Bo udah ketemu di dekat tempat latihan memanah. Bo sampai heran ternyata di universitasnya ada klub memanah. Bo ngajak Shan buat lihat mereka bermain. Shan mengambil papan skate Bi dan berjlan mengikutinya. 


Bo melihat Archwin lagi memanah dan langsung terpesona. Ia merasa seperti di Hunger games. Ia ingin memcobanya. Ia ngajak Shan buat bicara sama mereka. Pelatih mendekati mereka dan menanyakan apa yang mereka cari. Bo bilang nggak ada, dia cuma ingin mencoba memanah. Ia bertanya pada pelatih apakah mencari penanah baru? 


Pelatih meminta maaf karena mereka akan tutup untuk seamanya. Hari ini adalah hari terakhir mereka. Tempat latihan mereka akan diubah jadi lapangan parkir. Olahraga memanah nggak terkenal orang banyak yang nggak tahu. Dan mereka hanya punya beberapa pemanah. Archwin datang kesana untuk memanah di klub untuk terakhir kalinya. 


Bo kecewa, terlalu buruk. Shan malah bilang terlalu baik, karena kalo Bo mencoba dan nggak bisa melakukannya, dia akan nyerah lagi. Tapi kalo Bo benar-benar ingin mencoba, ia bisa kerumah Archwin. Disana ada tempat latihan memanah. Bo bertanya rumah Achwin? 


Archwin datang dan Bo langsung terpesona. Pelatih memperkenalkan Achwin. Bo langsung nanya dibrumahnya ada panahan? Archwin ngangguk. Ia menyarankan kalo mereka tertarik, mereka bisa datang kerumahnya. Bo langsung mengangguk senang. Archwin mengatakan kalo di rumahnya mereka punya pelatih yang juga seorang pemanah nasional. Tempat pemain pemanah nasional? Archwin mengaku kalo dia bukan pemanah nasional. Tapi ayahnya. 


Bo langsung bilang ingin mulai sore ini juga. Shan kaget. Bo ingin buru-buru? Bo ngangguk. Kalo dia mau melakukannya, lakukan segera karena kalo dia udah nggak mau melakukannya, dia nggak akan ngelakuinnya. Bo tersenyum menghadap Archwin. Ia memperkenalkan namanya, Bo dan dia Shan. Archwin juga memperkenalkan namanya. 


Bo menanyakan barang bawaan Archwin. Archwin ngangguk. Bo menawarkan diri untuk membawakannya. Ia ngajak semuanya untuk pergi. Ia dan Shan nunggu di luar. Bo langsung keluar dan Shan menyusulnya. Archwin hanya tersenyum. (Duh senyumnya manis banget, deh. Bikin naik kadar gula dalam darah.)


Nggak lama kemudian mereka udah sampai di rumah Archwin. Arcwin ngajak mereka masuk. Mereka tampak sangat kagum dengan rumah sekaligus tempat latihan memanah Archwin. Achwin menghampiri ayahnya dan memperkenalkan Bo dan juga Shan. Ayah, Bo, dan Shan saling memberi salam. Archwin mengatakan kalo mereka ingin belajar memanah. 


Bo manggil ayahnya Archwin bapak. Bapak apa? Panggil aja Kak Mart, jangan bapak. P Pun mengatakan kalo udah setahun Archwin belajar memanah di kampusnya, baru kali ini ia bawa teman untuk memanah di rumah. Archwin bilang kalo ini Shan dan Bo ingin mencoba memanah. 


Ayah lagi ngajar, jadi ayah minta Aaraw buat ngajarin dasar-dasar memanah pada Bo dan juga Shan. Archwin minta Bo dan Shan buat nunggu di sana srmentara dia mempersiapkan peralatannya untuk mereka. Dan ia juga akan menyimpan tasnya. 


Bo tersenyum-senyum selepas kepergian Archwin, ia merasa ia dan Archwin sangat cocok satu sama lain. Bo busur, Arraw panah. Busur dan panah? Tanya Shan. Bo mengangguk. Bo bilang itu tandanya tembakan panah malaikat cinta menembus jantung dan menjadi miliknya. Piw piw piw piw. 


Bo melihat P. Pun ngajarin seorang anak kecil. Dia makin senang lagi membayangkan Archwin akan mengajarinya seperti itu. Dan mereka akan berdekatan kayak serial TV. Bo udah nggak sabar. Shan mengingatkan kalo Bo belum mndi. Bo panik dan nyari parfum di dalam tas. 


Archwin udah datang tapi Bo masih belum menemukan parfumnya. Archwin memanggil Bo dan Shan. Ia akan mulai ngajarin mereka. Bo nyuruh Shan duluan tapi Archwin bilang barengan juga nggak papa. Archwin harus nunjukin pada mereka berdua. Juga menjelaskan dasar-dasar memanah. Bo terpaksa meninggalkan tasnya dan berjalan bersama Shan ke arah Arcwin. 


Shan mencoba lebih dulu dan mengenai sasaran warna biru. Arcwin bertepuk tangan untuk itu. Jantung memanah adalah presisi. Dan presisi berasal dari bentuk panahan yang tepat, yang membutuhkan latihan konstan. Shan mengangguk. Arcwin nyuruh dia untuk menyimpan gambar dan bersenang-senang melakukannya saat pertama kali. Ia nyuruh Shan buat lanjut latihan. 


Kalo dia kehabisan anak panah, archwin melarangnya ngambil anak panah yan udah menancap tadi. Yang lain masih memanah. Itu sangat berbahaya. Archwin menunjukkan waktu disana yang melakukan penghitungan mundur. Dan ketika menunjukkan angka nol, alarm akan berbunyi. Itu sinyal bagi semua orang untuk berhenti memanah. Maka saat itulah ia diperbolehkan melewati batas garis memanah dan mengumpulkan panah. Shan mengangguk mengerti. 


Sekarang giliran Bo. Bo mengangguk. Archwin akan mulai ngajarin dia. Archwin ngasih tahu Bo buat ngambil sasaran nomor 5. Bo ngangguk. Bo nanyain Arraw ngambil fakultas apa? Archwin kaget Bo manggil dia Arraw. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan Bo. Terknik. Archwin mengatakan pada Bo kalo sepertinya manggil Archwin lebih enak. Biasanya hanya ayahnya yang manggil dia seperti itu. Ia nggak terbiasa dengan orang lain memanggil nama itu. Bo Ngerti, Archwin. Archwin ngangguk. 

Bersambung...

Komentar:
Bo tuh orangnya bosanan. Just like me. Mudah berpaling kalo nemuin kesulitan. Tapi kalo udah kadung suka, walaupun apa juga rintangannya pasti di adepin sekuat tenaga. Tapi kalo udah ngggak mood...hmm??? Paling suka sama drama Thailand. Apalagi yang ada comedy-nya...bikin ketawa mulu, deh. Salah satu kelebihan drama Thailand adalah kelebihan iklan. Tapi udah kadung suka gimana lagi? 

Awalnya aku kira Bo dan Shan itu sodaraan, loh taunya nggak. Habisnya dimana ada Bo pasti ada Shan. Sampai Bo mau pdkt Shan ngikut juga. Hadeuh...tepok jidad.