Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Secret Seven Episode 8 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: GMM One

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 7 PART 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 8 PART 2

Keesokan harinya di tenda perempuan, Padlom bangun lebih dulu.


Padlom melihat ada balita di depannya. Dia lalu membangunkan Spoil. “Apa kau melihatnya juga?” tanya Padlom. Mereka lalu berteriak.


Pok memperlihatkan wajahnya dari luar tenda dan tersenyum. Dia memperkenalkan balita itu sebagai adiknya, Dumbbell. ‘Karena perbedaaan umur jauh, orang suka menyangka dia adalah anakku,” kata Pok. Pok meminta bantuan Padlom untuk menjaga adiknya.


Padlom bilang ia tidak tahu bagaimana caranya, karena belum pernah melakukannya sebelumnya.


Pok menggendong adiknya, lalu menyerahkannya kepada Padlom. Pok menyuruh Padlom agar menganggapnya sebagai pelajaran dari ibu. “Gendong aku, Mama Padlom..” kata Pok.


Saat Padlom menggandengnya, Dumbbell malah menangis.”Apa yang harus aku lakukan?” tanya Padlom. Pok menduga adiknya lapar. Pok lalu menyiapkan susu untuk Dumbbell.


Pok: “Padlom, bukankah kita seperti orang tua baru?”
Padlom: “Tidak, aku tidak suka anak kecil.”
Pok: “Kau akan menjadi ibu yang hebat. Bawalah Dumbbell pulang. Ayah Pok akan menyerahkannya.”
Padlom: “Kau gila. Ah terasa hangat disini.”


Sebelumnya Pok menduga itu adalah tumpahan susu, tapi ternyata itu Dumbbell pip*s. Karena Padlom berteriak, Dumbbell pun menangis lagi.


Pok membawa Dumbbell ke ruang klub. Pok menyuapinya snack dan mengajaknya main cilukna bersama pria-pria lain. “Aku rasa dia benar anak Pok. Siapa juga yang akan memiliki adik dengan beda usia 20 tahun?” duga Spoil. Tapi Padlom bilang itu tidak mungkin. Alan lalu bilang ia ingin pergi ke toilet.


Alan masuk ke dalam toilet dan seorang berkacamata juga masuk kesana.


Pria berkacamata itu perlahan mengeluarkan ponselnya. Sepertinya ia merekam Alan yang sedang pip*s.


Alan melihatnya dan bertanya apakah orang itu mengambil fotonya, lalu dengan panik menarik resletingnya. Orang itu berusaha melarikan diri dan Alan mengejarnya.


Alan menarik pria itu sampai kacamatanya jatuh dan pecah. Alan juga mendorongnya hingga terjatuh dan menendangnya. Orang-orang mulai berdatangan.


Alan berhenti dan mengatur napasnya. Sepertinya ia sadar sudah melakukan kesalahan sebagai mahasiswa teladan.


Liftoil: “Guys, Alan terkena masalah.”
Spoil: “Kenapa?”
Liftoil: “Dia memukul orang.”
Spoil: “Alan yang mana?”
Liftoil: “Alan kita!”
Spoil: “Apa? Ayo pergi.”


Mereka meninggalkan Dumbbell bersama Neo, karena Pok juga ikut menyusul Alan. “Kau bersamaku ya...” kata Neo. Dan Dumbbell menangis lagi.


Liftoil: “Alan, kau baik-baik saja?”
Alan: “Tidak.”
Pok: “Dimana dia? Aku akan mengurusnya.”
Alan: “Dia kabur. Dia akan mati kalau aku bertemu dengannya lagi. Aku rasa kau benar Pok.”
Pok: “Tentang apa?”


Alan sepertinya keluar bersama seseorang, mungkin rektor kampus. Rektor mengingatkan bahwa kekerasan fisik itu melanggar aturan kampus. Alan mengerti. Rektor akan melepas semua atribut murid teladan yang berkaitan dengan Alan.


Rektor berkata, “Apa kau tahu bahwa status mahasiswa teladanmu akan dicopot? Aku berusaha untuk melongmu terkait pelanggaran aturan kampus ini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Alan menganggukkan kepalanya mengerti tapi tetap saja ia kecewa.


Alan melamun sendirian di ruang klub. Ia membuka dasinya dan melonggarkan kerahnya.


Padlom datang dan mengatakan pada Alan bahwa tidak lagi menjadi mahasiswa teladan bukanlah masalah besar. “Kau tetap yang terbaik di Ruang 305. Jangan pura-pura kuat. Setiap orang bisa saja berbuat kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna,” kata Padlom.


Alan menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dirinya lebih baik dari yang lain. Dia menganggap dirinya mahasiswa biasa seperti Padlom, Liftoil, Id dan yang lainnya. “Tapi kau lebih baik dari Id,” kata Padlom dan itu membuat Alan tersenyum.


Alan berkata bahwa Padlom lebih baik segalanya dari dia. Padlom menduga itu karena sebelumnya Alan tidak bisa membuka karet pembungkus. Padlom lalu memberikan sekantong snack untuk Alan yang memakai karet sebagai penutupnya. Alan lalu mencoba membukanya dan dia berhasil. Tapi kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak bisa mengikatkannya kembali. (hahaha..)


Spoil: “Dia berkelahi satu kali, dan sekarang semua posternya sudah menghilang. Aku merasa kehilangan. Tidak ada lagi yang memberi pesan padaku di jalan. Aku rindu Alan..”
Padlom: “Semua orang akan marah jika difoto ketika sedang pip*s. Aku juga.”
Spoil: “Tidak ada foto yang tersebar. Aku ingin melihatnya.”


Ghost yang ada di belakang mereka dan ikut berkata bahwa dia sudah mengecek di twitter tapi tidak ada info tentang foto itu. Spoil tertawa karena tidak menyangka Ghost akan melakukan itu.


Spoil: “Padlom, ada yang harus kukatakan padamu. Tapi kau jangan berteriak padaku.”
Padlom: “Apa? Aku tidak akan berteriak.”
Spoil: “Aku mungkin akan punya pacar sebelum dirimu.”
Padlom: “Apa? Bagaimana? Siapa?”
Padlom: “Aku bertemu seseorang di aplikasi kencan online.”


Padlom mengingatkan agar Spoil berhat-hati, tapi Spoil tampaknya snagat tergila-gila pada pria itu.  Spoil lalu menanyakan dimana Liftoil. Padlom memberitahunya kalau ibu Liftoil sedang sakit.


Seorang wanita bernama Gift menghampiri Play. Play melihat Gift membawa botol minum jadi dia khawatir Gift akan menyiramnya. Play menyuruh Gift tenang dan berkata bahwa dia tidak membawa pakaian ganti.


Gift: “Aku ingin putus darimu.”
Play: “Hah?  Putus? Kita bahkan buka pasangan kekasih.”
Gift: “Aku oikir kau mengirimkan pesan-pesan itu karena kau menyukaiku.”
Play: “Tenang, Gift.”
Gift: “Jangan sentuh aku. Harusnya aku bertanya padamu. Harusnya aku tidak menduga seperti itu.”
Play: “Kau tidak perlu melakukan itu. Sejak awal, aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu.”


Gift menangis. Dia tidak pernah mengirim pesan pada orang lain seperti pesannya pada Play. Play bertanya apakah Gift baik-baik saja. “Aku tidak baik-baik saja,” kata Gift lalu berjalan meninggalkan Play.


Padlom datang ke rumah sakit menemui Liftoil. Padlom bertanya apa yang dikatakan dokter tentang ibunya. “Dokter tidak bicara banyak. Dia hanya memintaku untuk fokus pada operasi dan menyiapkan diri menerima resiko yang mungkin terjadi,” jawab Liftoil.


Liftoil sadar bahwa setiap operasi ada resikonya, tapi ia yakin ibunya akan baik-baik saja karena ibunya adalah wanita super. “Kalian berdua sama-sama super. Aku yakin dia akan baik-baik saja,” kata Padlom.