Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Secret Seven Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: GMM One

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 8 PART 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Secret Seven Episode 8 PART 3

Seseorang menoyor kepala Play dan mengatakan bahwa Play tidak cocok menjadi musisi, karena Play bermain-bermain dengan istri Bos orang tersebut. Terlihat di pipi Play juga ada bekas memar, sepertinya sebelumnya ia juga dipukul.


Play kesal dan mengatakan bahwa malah istrinya si Bos yang mendekatinya. Orang itu kembali menoyor kepala Play dan menyuruhnya pergi dan jangan kembali lagi. Play juga disuruh membawa temannya pergi.


Play berteriak bahwa dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi temannya mengajaknya pergi.


Operasi ibu Liftoil sudah selesai. Dokter keluar dan mengabarkan kalau kondisinya Ibu Liftoil sudah stabil. Tapi ia meminta agar membiarkan ibu beristirahat dulu dan mereka bisa menemuinya nanti.


Liftoil dan Padlom mengucapkan terima kasih pada dokter. Liftoil juga mengucapkan terima kasih pada Padlom karena sudah datang menemaninya. “Kau bisa menghubungiku 24 jam. Walaupun kita tidak berhubungan langsung, kau tetap keluargaku,” kata Padlom sambil menyentuh tangan Liftoil lagi.


Liftoil: “Sekarang aku menangis lagi di depanmu. Apa kau akan marah padaku?”
Padlom: “Tidak apa-apa, menangis saja. Lihat.. ibumu baik-baik saja. Jangan sampai ingusmu mengenai bajuku..”


Ibu membukakan pintu pagar untuk Padlom dan menanyakan keadaan Ibu Liftoil. Ibu lega mendengar keadaannya yang sudah stabil dan ibu akan mengunjunginya besok.  Ibu juga mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya. “Siapa?” tanya Padlom. Tapi ibu tidak mau memberitahunya.


Id: “Wah.. kau pulang terlambat. Darimana kau?”
Padlom: “Bukan urusanmu. Ada apa?”
Id: “Aku kemari untuk bertanya apa kau akan datang ke pernikahan Gun?”
Padlom: “Berapa kali aku harus bilang padamu? Aku tidak akan pergi.”
Id: “Kenapa? Kau tidak tahan melihat mereka atau apa? Kau tidak perlu berbohong padaku. Ayo pergi, aku memaksamu. Pergilah bersamaku.”


Padlom diam saja.


Padlom merekam diarinya. “Ada alasan kenapa aku tidak mau pergi ke pernikahan Gun. Aku tidak mau memakai gaun, tempatnya jauh, dan alasan lain yang Id tidak tahu.”


Spoil ada di sebuah mall. Dia mengecek dandanannya dan berkata pada dirinya sendiri, “Kau cantik, Spoil. Sangat cantik malah.” Dia lalu menutup bedaknya dan melatih dialognya. “Hello, namaku Spoil. Kau terlihat lebih tampan dari fotomu. Ah, itu terlalu palsu. Aku harus lebih santai. Hey, tampan. Aku menyukaimu. Hmm. Sepertinya itu bukan ide bagus.”


Spoil: “Hallo, siapa ini?”
Arm: “Arm.”
Spoil: “Dimana kau?”
Arm: ”Aku sedang menuju lantai atas.”


Arm lalu berkata bahwa dia sudah sampai di lantai atas dan menanyakan keberadaan Spoil. Spoil sudah melihat Arm tapi tiba-tiba dia mengatakan kalau dia ada di rumah karena perutnya sakit. Ia lalu berkata bahwa dia harus pergi dan menutup teleponnya.


Spoil terburu-buru masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah. Ternyata ia malah berada dalam satu lift bersama Arm. Arm mengenalinya dan berkata bahwa dia naik lift dan akan pulang ke rumah. Arm bertanya apa perut Spoil baik-baik saja.


Spoil baru ingat dan ia berteriak pura-pura kesakitan. Arm mengajaknya ke rumah sakit, tapi Spoil menolak. Arm menawarkan diri utnuk mengantarkannya ke rumah sakit lalu mengantar pulang ke rumah.


Spoil lalu bilang perutnya sudah sembuh dan beralasan bahwa dia hanya salah duduk. Karena Spoil sudah tidak apa-apa, Arm mengajaknya makan bersama.


Sementara itu di tempat lain, alunan musik klasik menyambut para tamu undangan.


Diantara mereka ada juga Padlom yang akhirnya datang bersama Id.


Padlom dan Id mengucapkan selamat kepada Gun. Lalu Gun memperkenalkan mereka sebagai muridnya saat masih menjadi guru magang kepada istrinya yang bernama Kaimuk yang ternyata adalah dosen di kampus Padlom.


Kaimuk mengatakan bahwa mereka tidak perlu memanggilnya Miss saat berada di luar kelas. Kaimuk juga berjanji akan mentraktir mereka snack jika nanti bertemu di kampus.


Mereka lalu berfoto bersama. Fotografer meminta agar mereka lebih dekat dan meminta Padlom lebih tersenyum lagi. 


Gun meletakkan tangannya di bahu Padlom dan Id melihatnya.