Advertisement
Advertisement

- Rabu 3.30 – Kau Harus Benar-Benar Mengatakannya


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS Plus

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Wednesday 3:30 PM Episode 6
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wednesday 3:30 PM Episode 8

Eun Woo pulang ke rumah dan merasa ada yang aneh dengan perabotan rumahnya.


Eun Woo membuka pintu kamar Jae Won. Sudah tidak ada satu barang pun di sana. Ia terlihat sedih dan menutup lagi pintunya.


Jae Won sendiri sedang bersih-bersih di cafe. Ia dikejutkan dengan kehadiran Eun Woo yang seperti hantu.


Mereka mengobrol di depan mini market. Eun Wo bertanya kenapa Jae Won pergi tanpa memberitahunya terlebih dulu. Jae Won bilang proyeknya sudah selesai.


Jae Won lalu melihat cincin di jari Eun Woo, “Dan pria yang ditakdirkan itu kembali. Tentu aku harus pindah.” Ia berusaha untuk selalu tersenyum.



Eun Woo mengucapkan terima kasih untuk beberapa Hari Rabu yang telah mereka jalani bersama.


“Aku juga menikmatinya, “ kata Jae Won sambil mengajak Eun Woo bersulang. Mereka tersenyum , tapi matanya tampak berkaca-kaca.


Saat pulang, mereka mengambil jalan berbeda karena sekarang sudah tidak tinggal bersama lagi. Jae Won menengok sedikit ke belakang, tapi menguatkan hatinya dan terus berjalan.


Keesokan harinya, Eun Woo rapat bersama timnya tentang produk baru mereka. Eun Woo lalu menceritakan tentang Rabu 3.30 saat dimana para wanita dianggap terlihat tua dan jelek. Dan mereka sepakat dengan konsep promosi bahwa dengan sabun baru mereka, wajah mereka akan selalu menjadi yang tercantik.


Saat Eun Woo sedang membersihkan rumah, ia melihat catatan aturan hidup bersama yang dulu dibuat bersama Jae Won. Dia tersenyum mengingatnya. Lalu bel rumah berbunyi. 


Eun Woo kecewa saat yang datang adalah Seung Kyu. Ia harap yang memencet bel adalah Jae Won, Seung Kyu bertanya apakah ia boleh masuk. Eun Woo belum menjawab, tapi Seung Kyu sudah langsung masuk.


Seung Kyu: “Apa kau suka sandal jenis ini?”
Eun Woo: “Akhir-akhir ini kakiku terasa dingin.”


“Sandal beruangku!” teriak Jae Won di cafe. Pelayan sampai terkejut dan bertanya sandal apa yang dimaksud. “Aku lupa membawa sandal beruangku,” kata Jae Won lagi.


Seung Kyu mengeluarkan belanjaan yang dibawanya. Ia lalu menemukan celemek bergambar beruang. Seung Kyu berkata bahwa Eun Woo jadi menyukai hal-hal baru seperti itu. Kali ini Eun Woo beralasan bahwa ia mulai menyukai hal-hal yang menarik di dapur.


Pelayan kembali dikejutkan dengan teriakan Jae Won, “Celemekku! Aku juga lupa celemekku.”
Pelayan: “Kenapa tiba-tiba kau lupa celemek dan sandalmu? Aku terus punya imajinasi aneh, kurasa ini bukan hanya aku.”
Jae Won: “Itu hanya barang-barang biasa.”


Seung Kyu memasak di dapur. Eun Woo sekilas melihatnya.


Lalu perhatiannya berganti ke barang-barang Jae Won yang tertinggal, bahkan ia merasa Jae Won masih ada di sana.


Jae Won tampak mencari sesuatu di dapur cafe.


Sementara itu di, pelayan membantu Seon Ah membereskan meja.
Seon Ah: “Oppa, apa kau mau mengantarku pulang lagi hari ini?”
Pelayan: “Tentu saja.”
Seon Ah: “Daripada pulang ke rumah, apa kau mau makan ramen?”


Jae Won yang ada di dekatnya, tidak dapat menahan tawanya. Ia lalu menunjukkan wajahnya dan berkata, “Aku cemburu.”


Pelayan yang tadinya diam terpaku karena ajakan Seon Ah, jadi sangat terkejut. Tapi dia sangat senang.


Seung Kyu bertanya apakah masakannya lezat dan Eun Woo menjawabnya iya.
Seung Kyu: “Haruskah kita menikah? Mari kita menjadi tua bersama seperti ini. Dengan bahagia. Aku sangat tak tahu malu ya?”
Eun Woo: “Ya.”
Seung Kyu: “Meski tak tahu malu, aku tulus tentang hal itu.”
Eun Woo: “Aku mengerti. Ayo makan.”


Setelah makan, Seung Kyu memeluk Eun Woo dari belakang dan bertanya apakah ia harus meningap saja malam ini, karena besok Hari Minggu jadi mereka bisa belanja bersama. Eun Woo meminta Seung Kyu memberikan waktu.


Jae Won sedang dalam perjalanan di bus, ketika seorang pria masuk sambil berbicara di telepon. Pria itu berkata bahwa dia baru saja bertemu pacarnya, dan temannya di telepon mengajaknya bertemu. “Eh, aku tidak akan datang jika tidak ada wanita. Siapa? Dia cukup baik. Dia memakai pakaian tipis. Ini sangat dingin. Mungkin dia berdarah panas. Oke, aku akan ke sana dalam 30 menit.”


“Ini adalah salah satu brengsek busuk,” kata Jae Won dalam hati. Jae Won lalu berdiri karena ia akan bersiap-siap turun.


Jae Won lalu melihat bahwa pria yang ia sebut brengsek busuk itu adalah Seung Kyu.


Eun Woo berbaring di lantai dan merasa pikirannya tidak enak, ia berpikir mungkin itu bagian dari gangguan pencernaan.


Jae Won sudah turun dari bus. Dia berusaha mengabaikan Eun Woo, tapi kemudian ia merasa bersalah karena dialah yang menyatukan Seung Kyu dan Eun Woo kembali. “Ah benar. Aku harus pergi mengambil celemek dan sandalku.”


Jae Won masuk ke dalam rumah dan melihat Eun Woo. “Apa ini? Jika kau di rumah mengapa kau tidak membukakan pintu?” tanya Eun Woo.


Jae Won langsung menghampiri Eun Woo sata melihat banyak berkeringat. Eun Woo bercerita bahwa sepertinya pencernaannya terganggu, ia sudah minum obat tapi tidak bekerja. 


Jae Won lalu mengambil jarum dan akan menusuk jari Eun Woo untuk mengobati sakitnya. Eun Woo tidak mau dan berusaha melepaskan tangannya. Jae Won tetap menusuknya dan ketika darahnya keluar, Jae Won menghisapnya. Tiba-tiba Eun Woo bersendawa, sehingga memecah kecanggungan mereka berdua.


Eun Woo bertanya apa yang Jae Won lakukan di sini. Jae Won lalu menunjuk sandal beruang dan celemeknya, ia bilang itu adalah barang kesayangannya sehingga tidak bisa fokus bekerja jika mereka tidak ada.


Eun Woo lalu melepaskan sandal beruang yang sedang dipakainya, “Yang ini kan? Ambillah.”
Jae Won: “Aku menyelamatkan hidupumu, dan kau mengusirku?”
Eun Woo: “Jadi kau tidak mau pergi?”
Jae Won: “Hah?”
Eun Woo: “Kalau kau tidak ingin pergi, maka kau tidak perlu pergi.”


Jae Won berkata ia akan pergi setelah memberi makan Huchu. (hehe.. selalu alasan..) Huchu langsung menghampiri piring makannya yang sudah terisi makanan dan vitamin. “Makanlah makanan dan vitamin yang baik untukmu.Huchu-ku harus kuat. Jika kau sakit, aku juga sakit,” kata Jae Won yang s pertinya dimaksudkan untuk Eun Woo.


Setelah itu, Eun Woo beralih bicara pada Eun Woo agar ia jangan sakit dan bertanya apakah Eun Woo bahagia. Eun Woo diam saja, jadi Jae Won mengulangi pertanyaannya, barulah Eun Woo menganggukkan kepalanya. Dia balik bertanya apakah Jae Won bahagia. “Aku sedang melakukannya. Aku pergi..” Jae Won lalu pergi tanpa membawa barang-barang kesayangannya.


Esoknya Hari Rabu pukul 3.30, Eun Woo sudah tidak mendapatkan panggilan proyek lagi dari Jae Won.


Jae Won sendiri menyibukkan diirnya di cafe. Ia ikut membereskan meja, walaupun pelayan dan Seon Ah melarangnya. “Jika aku tidak melakukan apapun, aku tidak tahan. Ini tidak nyaman,” kata Jae Won sambil meninggalkan mereka.


Eun Woo dan timnya sangat senang karena sampel produk mereka sudah jadi.


Pelayan Tae Kyung pamit pulang duluan. Lalu Seon Ah duduk di samping Jae Won dan menceritakan apa yang terjadi pada mereka.
Flashback..


Sesuai ajakan Seon Ah, kemarin mereka makan ramen bersama di rumah Seon Aj. Setelah makan, mereka berdua canggung mau bicara apa. Akhirnya keduanya berbicara bersamaan, dan Seon Ah menyuruh Tae Kyung bicara duluan.

Tae Kyung: “A..a.. aku pergi.”
Seon Ah: “Kau mau pergi? Baiklah. Oppa.. kau harus membawa tasmu.”
Tae Kyung lalu kembali untuk mengambil tasnya, tapi Seon tidak mau melepaskan tas itu. Wajah mereka semakin dekat, lalu Seon Ah memejamkan matanya begitu juga Tae Kyung walaupun ia sangat gugup. Ciuman itu batal terjadi, karena di luar ada orang bertengkar yang berteriak, “Apa kau tidak mau pergi?” Tae Kyung lalu pulang.


Seon Ah menangis dan Jae Won malah mentertawakannya. Jae Won bilang harusnya Seon Ah sudah tidak canggung lagi karena dia sudah sering berkencan. “Aku belum pernah berkencan. Aku merasa malu jadi aku bilang kalau aku sudah sering berkencan sebelumnya,” Seon Ah mengaku.


“Harusnya kau melarangnya pergi. Meski ramennya sudah habis, bagaimana dia bisa pergi seperti itu.Ramen itu hanyalah sebuah alasan. Kau seharusnya mengatakan dengan jujur bahwa kau ingin tinggal bersamanya. Katakan itu pada Tae Kyung, secara jujur,” nasehat Jae Won pada Seon Ah.


Malam harinya saat sendirian, Jae Won memikirkan nasehatnya pada Seon Ah. Ia sepertinya berusaha menasehati dirinya sendiri.
Flashback..


Saat Jae Won membuat proyek terakhir bersama Eun Woo dia ternyata juga ada di sana dan melihat Eun Woo bertemu dengan Seung Kyu.


Ponsel Eun Woo berdering, ia mencoba mengatur suaranya, tapi menjawab seolah tidak peduli.
Eun Woo: “Ya, kenapa?”
Jae Won: “Kau ada dimana?”
Eun Woo: “Di rumah.”
Jae Won: “Aku akan kesana. Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.”


Eun Woo: “Sekarang juga?”
Jae Won: “Ya. Aku akan memberitahumu sekarang juga. Tunggu sebentar.”


Jae Won berlari keluar dari cafenya. Langkah Jae Won tiba-tiba terhenti.


Seorang wanita menyapanya, “Lama tidak bertemu.”


Eun Woo masih tersambung di telepon, “Hallo..”