Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 6 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 7 Part 2

Mu Xi tampak tersipu saat semua orang terlihat begitu mengaguminya.


Mereka terus mengelu-elukan nama Mu Xi, si ketua kelas sepuluh yang sangat cantik.


Seorang supir pribadi bahkan sudah menunggu dan membukakan pintu mobil untuknya. Ponselnya bahkan dipegang oleh asistennya.


“Halo? Ya benar. Tugasku tidak ada masalah,” kata Mu Xi di telepon.


Ternyata yang menghubungi Mu Xi adalah Ultraman. Dia bekerja sama dengan Mu Xi untuk menjaga kedamaian di bumi. Ultraman bahkan merasa sangat terhormat bisa bekerja bersamanya.


Mu XI mendatangi sebuah restoran dan bertanya berapa harganya. Pelayan tertawa kecil dan mengatakan bahwa semuanya gratis untuk ketua kelas sepuluh.


Mu Xi ada di dalam lift bersama seorang wanita dan bayinya. Wanita itu meminta anaknya untuk melihat Mu Xi yang cantik dan menyuruh anaknya untuk kelak menjadi ketua kelas juga.


Mu Xi pulang ke rumah dan banyak orang yang sudah berkumpul dan memanggil-manggil namanya. Kakak juga ada disana. Dia bahkan kesulitan untuk menghampiri adiknya sendiri. Akhirnya dia berhasil menerobos.


“Hey, kalian semua! Ini saudara perempuanku!” teriak kakak bangga.


Mimpi Mu Xi buyar ketika kakak masuk ke kamar sambil memukul-mukul panci berusaha membangunkannya.


Semua siswa memperhatikan jam dinding.


“Sampai jumpa, Guru,” kemudian mereka semua berlari keluar kelas, bagaikan pelari yang sedang berkompetisi.


Mereka semua berlari ke kantin untuk mendapatkan steak ayam terbaik. Mu Xi dan Shan Qi memimpin di depan. Namun tiba-tiba, seorang murid laki-laki berlari mendahului mereka.


Xiaodong tiba-tiba berlari di samping Shan Qi. Shan Qi bertanya apakah Xiadong juga sedang mengejar steak ayam. “Tidak. Aku sedang dikejar penggemarku,” jawab Xiaodong. Shan Qi berhenti berlari dan para penggemar Xiaodong mendahuluinya.


Mu Xi masuk ke kantin dengan bahagia karena dia yang pertama datang. Namun langkahnya terhenti dan senyumnya menghilang, saat melihat ibu kantin memasang tanda ‘Sudah Habis’.


Anak laki-laki yang tadi mendahuluinya, terlihat membawa kantong plastik dan berjalan melewati Mu Xi yang masih diam terpaku.


Anak laki-laki itu memberikan makanannya kepada sekelompok murid lain. Sepertinya mereka murid yang nakal. Setelah mendapatkan makanannya, mereka menyuruh anak itu pergi.


Setelah kalah dalam mendapatkan steak ayam, Mu Xi melewatkan makan siangnya dan terus mencoret-coret bukunya. Shanqi bilang itu hanya steak ayam, jadi Mu Xi jangan terlalu berlebihan.


Huang bersaudara mengatakan bahwa itu bukan hanya steak ayam biasa. Chef Zhou memasak dengan resep rahasia dan hanya membuat 10 kentang goreng dengan steak ayam besar setiap harinya.


Mu Xi merengek dan Shanqi menyebutnya gila. Tapi kemudian Mu Xi berdiri dan berkata bahwa hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi.


Dan Yi sedang pemanasan dan bertekad akan mengeliling lapangan dalam tiga menit untuk dapat melewati rekor sekolah. Kemudian ia berlari dan berhasil menyelesaikan satu putaran dalam waktu tepat tiga menit.


Mu Xi: “Pencuri ayam steak!”
Cheng Ling: “Apa?”
Mu Xi: “Kamu Cheng Ling kan?”
Cheng Ling: “Ya, kau Ye Muxi ketua kelas kami kan?”


Cheng Ling bertanya apa yang bisa ia bantu. Mu Xi mendekatinya dan berkata kalau dia akan menceritakan tentang Dinosaurus dan Pohon Pear.


Di suatu masa, sekelompok dinosaurus menemukan setumpuk pear di hutan.


Dinosaurus kecil memilih buah pear yang terkecil.


Tapi ternyata itu bukanlah buah pear, melainkan buah kehidupan yang diturunkan dari zaman purba.


Karena memakannya, dinosaurus itu berubah menjadi t-rex.


“Jadi sejak saat itu, ia tahu untuk berbagi,” kata Mu Xi mengakhiri ceritanya. Ia bertanya apa yang Cheng Ling dapatkan dari cerita itu.


Cheng Ling lalu mengatakan bahwa sebelumnya dia sudah pernah mendengar cerita itu, tapi dengan cerita yang agak berbeda. Mu Xi lalu mengomelinya tidak jelas.


Mu Xi lalu meninggalkan Cheng Ling.


Shen Wei sedang bermain kartu, lalu memanggil Xin Yi yang melintas di depan kelasnya. Ia mengajak Xin Yi masuk dan memperkenalkan dirinya. “Aku tahu kau bukan hanya ketua kelas satu, tapi juga presiden serikat siswa yang bertanggung jawab atas masyarakat dan pendanaan. Aku ingin melamar untuk lembaga kemasyarakatan.” Ia lalu menulis di papan tulis.


Xin Yi: “Astrologi kemasyarakatan?”
Shen Wei: “Ya. Ini tentang ramalan, horoskop dan interpretasi mimpi.”
Xin Yi: “Tidak mungkin!”
Shen Wei: “Kenapa?”


Xin Yi bilang sekolah mereka adalah sekolah terkenal, jadi tidak bisa memiliki kegiatan takhayul semacam itu.


“Kau hanya percaya apa yang kau lihat bukan?” tanya Shen Wei. Ia lalu meminta Xin Yi untuk melemparkan koin.


Xin Yi masuk ke dunia ramalan Shen Wei. Shen Wei mengatakan bahwa cinta sejati Xin Yi akan segera datang dari awan yang berwarna-warni dengan cara yang sangat tidak masuk akal.


Teman Xin Yi bilang itu takhayul dan tidak masuk akal, tapi ia ingin diramal juga. Xin Yi lalu menggebrak meja.


Teman Xin Yi berbisik dan mengatakan bahwa apa yang Shen Wei lakukan tidak bertentangan dengan peraturan sekolah bahkan saat ini sedang populer. Xin Yi berkata bahwa ia akn menyetujui usual Shen Wei, jika ramalannya terbukti benar.


“Presiden! Percayalah, mungkin itu akan segera terjadi,” kata Shen Wei sebelum Xin Yi pergi.


Dan Yi sedang membantu guru membereskan buku. Kemudian Huang Nan yang menutupi diririnya dengan tirai datang dan mengagetkan mereka. Dan Yi mengejarnya agar melepaskan tirai itu.


Xin Yi masuk ke kelas sepuluh. Ia lalu melihat Dan Yi yang seperti berjalan dengan awan.


Huang Nan menabrak Xin Yi dan langsung pergi. Teman Xin Yi mengejarnya. Dan Yi membantu menahan tubuh Xin Yi agar tidak jatuh dan langsung melepaskannya lagi.


Dan Yi hanya bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Dan sudah pergi mengejar Huang Nan tanpa menunggu jawaban Xin Yi.


Sedangkan Xin Yi masih terdiam dan memegang lengannya yang tadi tersentuh oleh Dan Yi.


Mu Xi kembali merasa kecewa, karena ketika ke kantin Cheng Ling sudah membeli semua steak ayamnya. “Maaf,” kata Cheng Ling sambil berlalu.


Mu Xi marah. Ia sampai mematahkan kotak makannya.


Sekelompok siswa nakal sudah menunggu Cheng Ling. Mereka tidak mempedulikan Cheng Ling yang kelelahan. Mereka mengambil steak ayamnya, lalu pergi.


Cheng Ling berpapasan dengan Mu Xi. Ia kemudian menceritakan apa yang ia alami kepada Mu Xi. Saat mengetahui kalau Cheng Ling tidak memakan satu ayam pun, Mu Xi yakin Cheng Ling diintimidasi.


Mu Xi: “Katakan padaku, dan aku akan menghadapi mereka.”
Cheng Ling: “Tidak, ketua kelas. Mereka tidak menggertakku. Kita semua adalah teman. Aku bersedia melakukan itu.”


Guru Wu bertemu dengan Dan Yi dan mengatakan bahwa dia yakin Dan Yi dapat membuat suasana belajar yang tekun di kelas sepuluh, walaupun Guru Wu tahu benar bahwa kelas sepuluh tidak sebaik kelas satu. Dan Yi berjanji akan mencoba melakukan yang terbaik.


Xin Yi menemui Shen Wei. Ia mengakui sesuatu terjadi tapi merasa itu hanya kebetulan. Shen Wei lalu mengajaknya untuk mencoba sekali lagi. Xin Yi setuju.


Mereka kembali ke dunia ramalan Shen Wei. Setelah melakukan gerakan-gerakan ritual, Shen Wei mengatakan bahwa cinta sejati Xin Yi akan berjalan di atas roda pemadam kebakaran, dan bertemu dengan Xin Yi dengan penuh semangat.


Di bayangan mereka akan ada seorang anak laki-laki yang bermain dengan skateboard yang terbakar.


Xin Yi tetap tidak percaya, lalu pergi. Shen Wei hanya tersenyum.


Dua Huang sedang ada di laboratorium dan mengintip di jendela. Mereka langsung menutup tirainya saat melihat kedatangan Direktur Yan.


Direktur Yan sepertinya sedang ingin buang air. Ia lalu masuk ke toilet.


Dua Huang melakukan eksperimen. Mereka terus menambahkan dosis cairannya.


Setelah selesai melakukan eksperimennya, dua Huang membawa cairan itu dan berkeinginan untuk mengubah Direktur Yan menjadi abu. Mereka menunggu kedatangan Direktur Yan.


Tapi yang lewat adalah Xin Yi.


Mereka berebut untuk menyelamatkan Xin Yi, namun tiba-tiba alatnya dipakai oleh seorang murid dan berjalan ke arah Xin Yi.


Orang itu adalah Dan Yi!


Direktur Yan terkena ledakan. Ia berteriak, “Kelas 10 Tingkat 1....!”


Dan Yi menjatuhkan alatnya, lalu menghampiri Xin Yi.


Xin Yi terpesona, tapi Dan Yi hanya berkata, “Maaf. Aku akan menjelaskannya nanti.” Lalu ia pergi lagi.


“Roda api?” gumam Xin Yi. [crstl]