Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 1 Part 2

Ji Won menggulung lengan bajunya dan akan mulai memasak. Naoko berdiri di sampingnya, siap untuk membantu. Ibu menata pakaian pada gantungan baju untuk di jemur. Junko pulang dan bertanya pada ibu apa yang kakaknya lakukan bersama Ji won. Ibu ngasih tahu Junko kalo mereka lagi memasak untuk makan siang mereka. Tapi kenapa? Tanya Junko. Ibu mengatakan kalo Ji Won ingin mengecek kaki Naoko dan membawa suvenir. Suvenir? Ji Won pulang dari perjalanan bisnis, jadi dia nggak bisa menghubunginya. Dia memiliki rasa yang aneh. Junko juga berpikir begitu? Tanya ibu. Maksudnya ibu adalah berhenti menjadi menyebalkan. Ibu tersenyum. Junko kesal dan pergi ninggalin ibu. 


Junko memotong ikan dan memasaknya. Ji Won mencicipi supnya dan tersenyum setelahnya. Naoko, dan ibunya duduk di meja makan. Ji Won menghidangkan sup hasil masakannya. Ibu nggak percaya Ji Won membuat itu dengan sisa makanan dari lemari es. Ayah yang baru datang bertanya apa yang terjadi. Ji Won bangkit. Ia membungkuk minta maaf karena berkunjung saat ayah sedang keluar. 


Ayah akhirnya bergabung bersama Naoko dan ibu. Mereka makan dengan lahap. Ji Won menanyakan bagaimana rasanya. Naoko menjawab kalo sup cutlassfish-nya lezat. Ibu membenarkan. Rasanya sangat enak dan lembut. Ji Won tersenyum, senang mendengarnya. Ini adalah hidangan terkenal kampung halamannya. Ayah, ibu dan Naoko mengangguk. Ibu mengerti. Ji Won berterima kasih atas makanan hari ini lalu memakan kamanannya.

Ji Won bilang masisseoyo. Apa? Shisso? Ibu ayah dan Naoko menatap Ji Won secara bersamaan. (Dalam bahasa Jepang, Shisso artinya polos). Ji Won kembali mengulangi perkataannya, masisseoyo, ini enak. Ibu dan Naoko tertawa. Mereka baru tahu kalo masisseoyo berarti lezat dalam bahasa Korea.  Ayah juga ikutan mengatakannya, masisseoyo. Ji Won tersenyum. Ia hanya memuji dirinya sendiri. Ayah, ibu dan Naoko tertawa. Nggak papa, itu benar. 


Ji Won meletakkan mangkuknya. Ia teringat sesuatu dan mengambil tasnya. Ji Won mengambil sebotol anggur beras. Ia meletakkannya di hadapan ayah sambil ngasih tahu kalo itu adalah anggur beras Korea. Ayah berterima kasih lalu nyuruh ibu untuk mengambil gelas. Ibu udah mau bangkit tapi Ji Won mencegahnya. Ia akan mengambilnya. 


Ji Won pun bangkit dan mengambil beberapa gelas dari meja belakang. Ia membagikan gelas itu pada ayah, ibu dan juga Naoko. Ji Won juga menuangkan anggur beras ke gelas mereka. Dan saat hendak menuang ke dalam gelasnya sendiri, tiba-tiba Naoko merebutnya. Ia akan menuangkannya untuk Ji Won. 


Mereka lalu mengangkat gelas mereka. Tiba-tiba Ji Won mengatakan geonbae. Ayah dan Naoko tampak heran mendengarnya. Ibu menebak kalo geonbae artinya sorak sorai. Kedengarannya seperti kata dalam bahasa Jepang. Ayah dan Naoko mengangguk. Mereka pun bersulang dengan berseru, geonbae!


Ibu bertanya gimana cara Ji Won mengucapkan chibi-nabe (kimchi stew) dalam bahasa Korea? Sama saja, jawab Ji Won. Ibu lalu tertawa. Junko mendengarkan itu semua dari dalam kamarnya. Ia merasa kesal lalu bangkit dan menutup pintu.


Ibu bertanya pada Ji Won, apakah ia boleh menambahkan nasi kedalam sup? Ji Won mempersilakan. Ibu menuangkan sepiring nasi kedalam sup buatan Ji Won. Ia merasa itu akan sangat bagus.

"Itu hampir seperti pertunjukan sulap"

Ibu mengaduk-aduk sup agar bercampur dengan nasi. Naoko menyodorkan mangkuknya pada ibu untuk di isi dengan nasi dan sup. Ibu pun mengisinya dengan nasi dan sup.

"Rasanya seperti setiap hal yang nggak berwarna telah kembali hidup, sepenuhnya mekar lagi". 


Ayah memperlihatkan kamera tuanya pada Ji Won. Ayah betcerita kalo ia kagum pada kamera itu pada saat itu, saat Junko lahir. Ji Won mengatakan tipe kamera itu, OM-1. Ayah merasa sekarang ini nggak ada yang menggunakan kamera seperti itu. Ji Won mengatakan kalo ia menyukainya. Sangat menyukainya. Itu memiliki nuansa hangat dan nostalgia. Ayah membenarkan. Itu memiliki gayanya tersendiri, bukan? Ji Won membenarkan. 


Ayah tiba-tiba memberikannya pada Ji Won. Apa? Kameranya? Untuk Ji Won. Ayah mengatakan kalo makan siang tadi benar-benar lezat. Tapi... Ji Won tampak ragu ketika hendak menerimanya. Ia menoleh pada Naoko seolah bertanya, boehkah jika ia menerimanya? Naoko bertanya pada ibunya, bolehkah? Ibu mengangguk. Ibu rasa nggak papa. Mereka toh nggak menggunakannya juga. Ayah meminta Ji Won mengambilnya. 


Ji Won merubah posisi duduknya dan menerimanya. Ia sangat berterima kasih. Ayah! (What? Ayah? Jadi Ji Won udah nganggep ayah Naoko sebagai ayahnya?). Ayah jadi malu. Ia melarang Ji Won menyebutkannya. Ayah lalu meminum minumannya. Naoko nggak percaya Ji Won memanggilnya ayah. Ayah menoleh, menatap Naoko. Ibu menggoda Naoko yang jadi malu. Naoko mengelal, ia nggak malu. Bukan itu. Ayah tersenyum.


Naoko mengantar Ji Won pulang. Ji Won menanyakan kalo melodi itu terdengar sangat bagus. Naoko bertanya lagu itu? Naoko ngasih tahu kalo  itu disebut aka-tonbo (capung merah). Ji Won mengulangi, aka-tonbo? Naoko menyanyikannya, 'capung merah dibawah matahari terbenam. Aku ingat melihat mereka dari punggung pengasuhku. Aku bertanya-tanya beberapa waktu yang lalu' 


Naoko menjelaskan itu adalah lagu yang memungkinkan anak-anak tahu bahwa udah waktunya pulang. Oh, Ji Won mengerti. Entah kenapa Naoko merasa sedih saat melodi itu di putar. Tapi ia juga berpikir untuk makan malam atau mandi dulu setelah pulang. Dan itu membuatnya bahagia juga. Naoko merasa masih merasakannya saat mendengarkannya. Ji Won mengerti. Itu karena rumah Naoko terasa sangat hangat. Apa? Ji Won nggak menjawab dan hanya terus berjalan. 


Naoko berhenti. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tadinya Naoko berpikir ia nggak akan ketemu dengan Ji Won lagi. Ji Won berhenti dan berbalik menghadap Naoko. Ia bertanya kenapa? Naoko mengaku sok. Ji Won menangkap Naoko megah. Ji Won  mengaku ia  tahu. Naoko terkejut Ji Won mengetahuinya. Ji Won kembali melanjutkan kata-katanya. Kebohongan kecil yang di ceritakan wanita. Kecil...mungil...kebohongan lucu. Ji Won tersenyum. Naoko ikut tersenyum tapi sebentar kemudian dia malah menggeleng. 


Ada satu lagi. Sebenarnya...Naoko berumur 31 tahun. Naoko minta maaf. Naoko membungkuk. Ia benar-benar minta maaf. Ji Won terkejut, nggak mungkin! Naoko spontan meminta maaf lagi. Ia sampai mundur beberapa langkah. Ia memegang kedua pipinya. 


Ji Won mengatakan kalo itu mengerikan. Ia nggak bisa percaya. Naoko minta maaf. Ia nggak bermaksud untuk sengaja berbohong, itu keluar begitu saja. Naoko menundukkan wajahnya. Ia sangat malu sekaligus merasa bersalah. 
Ji Won melirik Naoko. Mengintip raut wajahnya. Ia lalu tersenyum sambil bilang kalo dia bercanda. Naoko menatapnya nggak percaya. Ji Won mengulanginya, dia hanya bercanda. Sambil tersenyum Ji Won berjalan mendekati Naoko. 


Ji Won kembali berdiri di samping Naoko. Naoko ikut tersenyum. Dan mereka pun melanjutkan langkahnya.

"Rasanya seolah matahari terbenam, melukis bagian belakang kelopak mataku yang merah"

Sepanjang perjalanan, mereka terus tersenyum sambil menatap satu sama lain.

Tanpa mereka sadari, Junko menyaksikan semua itu dari jembatan. Junko dan ak kesal. Ia lalu pergi. 


Ibu membereskan piring sisa makan siang tadi. Ayah tiduran di dekatnya. Ibu bertanya pada ayah. Apakah menurut ayah mereka berdua berkencan? Ibu tersenyum. Menurutnya Ji Won nggak terlalu buruk. Ayah diam. Ibu kesal. Kenapa ayah nggak menjawab? Ayah menoleh. Siapa yang ibu maksud? Ayah adalah satu-satunya yang ada di sana. Oh, ya? Ibu merasa ayah harus benar-benar menyatukan mereka berdua. Sebagai ayah dari dua anak perempuan yang belum menikah. Ayah bertanya dimana Junko? Ibu mengatakan kalo Junko bekerja paruh waktu di toko serba ada. Ayah menanyakan apakah dia boleh bekerja paruh waktu? Menurut ibu, Junko harus berpikir untuk mendapatkan uang kuliahnya sendiri. 


Tiba-tiba ibu merasa sedih. Udah 3 tahun sejak ayah meninggalkan perusahaan itu. Atau lebih tepatnya karena ayah di pecat. Ayah melarang ibu bilang begitu. Menurut ayah, dialah yang berhenti. Ibu memperjelas dengan istilah pensiun dini. Ibu sangat terkejut tatkala itu.  Ayah menoleh pada ibu. Ayah  kan udah bilang sebelumnya??? Nggak ada gunanya menyesalinya! 


Ayah yang nggak tahan gara-gara diomelin terus sama ibu, akhirnya memilih buat keluar aja. Ibu masih aja ngingetin ayah  buat jangan lupa pergi cari kerja besok. Pekerjaan honorer ayah hanya bisa membawa keluarganya sampai sejauh ini aja. Ayah tahu? Ayah udah nggak mau denger lagi dan cepet-cepet pergi. Ibu tampak kecewa, tapi dia juga nggak bisa maksain ayah terus menerus. 


Di depan rumah, ayah berpapasan dengan Naoko. Naoko bertanya ayah mau pergi kemana? Ayah hanya bilang mau kesekitar situ aja. Naoko bilang sampai jumpa dan masuk ke rumah. Setelah sampai di kamar, Naoko langsung melompat ke tempat tidur sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya. Naoko bahagia banget. 


Ia lalu teringat sesuatu. Naoko mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Ji Won. Naoko mengetik, dari Naoko, terima kasih banyak untuk hari ini. 💜💜💜💜💜. Naoko jadi ketawa sendiri. Ia menghapus tanda hatinya dan hanya bilang terima kasih saja. 


Ji Won sendiri lagi memperbaiki kamera saat pesan dari Naoko masuk. Dari Naoko, terima kasih untuk hari ini. Ji Won tersenyum setelah membacanya. Ji Won lalu membalasnya. Naoko langsung membacanya saat pesan balasan itu sampai. Dari Lee Ji Won, terima kasih kembali. Naoko senang sekali. Dia nggak berhenti tersenyum. Ia meletakkan ponselnya di dadanya. 


Naoko me-make up wajahnya di depan cermin. Junko yang baru aja pulang mengatakan kalo itu nggak cocok buat kakak. Naoko berbalik dan menanyakan maksud Junko. Junko melongok di pintu dan bilang kalo wajah dan kepribadiannya (Ji Won) bagus. Dia bahkan memiliki pekerjaan yang keren. Junko nanya apa  kakak benar-benar berpikir dia akan serius sama kakak? Naoko bertanya pada Junko, Junko pikir dia siapa? Junko memotong, mengatakan kalo 5 tahun lebih tua itu nggak bagus sama sekali. Selain itu, kakak juga hampir nggak pernah berkencan. Apakah dia nyata? Pertanyaan Junko barusan membuat Naoko jadi murung. Ia berbalik dan melihat wajahnya di cermin. 


Ponsel Ji Won berdering. Ia mengangkatnya. Orang yang menelpon Ji Won adalah Iwama. Ia mengatakan kalo mereka harus berhenti mencetak brosur untuk Monique Martin. Apa? Ji Won kaget. Ia sampai langsung berdiri. Iwama mengatakan kalo itu belum resmi, tapi Ji Won harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.


Ji Won serasa nggak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Ia kesal. Ia marah. Ia melempar ponselnya, melepas bajunya dan melemparnya. Ia mengguyur badannya dengan air, seolah ingin mendinginkan emosinya. 


Ada beberapa masalah. 
Naoko berlari dia antara orang-orang yang berlalu lalang. 


Iwama menjatuhkan foto yang di hasilkan oleh Ji Won ke atas meja. Menurutnya nggak akan ada yang berubah. Bahkan sekalipun Ji Won kesana. Ji Won berusaha membantahnya. Tapi...ji Won hendak menerobos Iwama namun Iwama sigap menahannya dan mendorongnya untuk duduk kembali. Ia menegaskan kalo kesepakatannya dengan Monique Martin udah berakhir. Jadi nggak ada gunanya membagi-bagikan brosur mereka. Ji Won patah semangat. Itu nggak bisa. Iwama mengaku tahu tentang hal itu. Ia sangat tahu kalo itu adalah proyek solo pertama Ji Won. Iwama merasakan apa yang Ji Won rasakan. Tapi brosur itu akan di parut. Membelah, udah di putuskan. Iwama sekali lagi menegaskan udah. 


Ji Won berpikir. Dan dia merasa nggak bisa nyerah gitu aja. Sekali lagi ia bangkit hendak melewati Iwama. Dan saat itu juga Iwama kembali mendorongnya untuk duduk. Hal itu disaksikan juga oleh Naoko. Iwama mengatakan kalo itu cukup. Iwama meninggalkan Ji Won. Naoko terdiam cukup lama di tempatnya, di dekat tangga. Pelan-pelan ia berjalan mendekati Ji Won. 


Naoko duduk di samping Ji Won. Ji won berusaha memalingkan wajahnya saat ia tahu Naoko datang dan berada di dekatnya. Seolah-olah Ji Won nggak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Naoko. Tapi sesaat kemudian Ji Won memberanikan diri untuk menatap wajah Naoko dan menampakkan senyumnya sambil mengatakan kalo dia baik-baik aja. Itu bukanlah masalah besar untuknya. Ji Won sekali lagi tersenyum tapi Naoko merasa senyum itu palsu. Ji Won nggak baik-baik aja. Ji Won merasa nggak kuat lagi. Ia memalingkan wajahnya dan meneteskan air mata. 


Naoko mengambil brosur itu. Foto itu...Naoko sangat menyukainya. Mereka sangat indah. Begitu indahnya sampai seperti dalam mimpi. Ya, itulah yang ia jual. Penuh dengan kebahagiaan seperti itu. Itu membuat Naoko menyadari untuk pertama kalinya. Itu karena Ji Won yang mengambil foto itu. Seperti Naoko, setiap hari ...Naoko hanya mencoba untuk nggak membuat kesalahan. Naoko mencoba untuk nggak jatuh terlalu sakit. Hanya itu yang Naoko pikirkan. Tapi selama pemotretan itu Ji won nggak takut sama sekali. Ji Won memberikan semua yang ia miliki dan berjuang sekuat tenaga. Seperti tampilan penuh gairah. Naoko merasa belum pernah melihat itu sebelumnya. Mereka...membuat Naoko berpikir bahwa dia juga ingin melihat itu. Untuk pertama kalinya. Kedengarannya aneh, bukan? Tapi pembatalan itu membuat Naoko menjadi marah juga. 


Tanpa sadar Naoko meneteskan air matanya. Ji Won mengulurkan tangannya untuk menghapusnya. Ji Won tersenyum dan mendekat (sstt..ini drama Jepang, ya! Bukan drama Korea. Jadi jangan mengharapkan kiss scene setelah Ji Won mendekat) Ji Won memeluk Naoko. Ia tersenyum. Rasanya seperti ia menemukan tembok untuk bersandar. 


Ji Won mengantar Naoko pulang. Rasanya sama seperti saat Naoko minum air panas di pagi yang dingin. Perasaan hangat dan manis dari dada turun ke perut. Abadi selamanya. Ji Won dan Naoko berpisah di tepi sungai. Keduanya berjalan kearah yang berlawanan. Ji Won berbalik dan melambaikan tangannya sambil mengatakan hati-hati. Naoko sendiri hanya mengangguk. 


Junko berjalan dengan santai. Ia masuk ke ...klub. Junko menyapa gadis-gadis yang ada di ruangan itu. Junko memilih baju. Lalu berganti pakaian. (Lha, Junko ngapain, ya?? Bukannya kata ibu dia kerja paruh waktu di toserba???)


Ji Won di serang oleh beberapa orang. Orang itu nyuruh Ji Won untuk membayar hutangnya. Mereka menendangi Ji Won dan juga memukulinya. Seseorang menarik Ji Won dan mengatakan kalo Ji Won nggak akan bisa lolos. Orang itu mendorong Ji Won. Ia dan temannya bersama-sama menendangi Ji Won tanpa ampun. Mereka juga memukuli wajah Ji Won. Mereka mengatakan kalo lain kali mereka nggak akan membiarkan Ji Won pergi dengan mudah. 


Naoko sampai di rumah. Ia membuka pintu dan berseru kalo dia udah di rumah. Ibu bertanya bagaimana hari Naoko? Naoko tersenyum saat melepaskan sepatunya. 


Orang-orang yang memukuli Ji Won pergi setelah puas memukulinya. Ji Won yang udah babak belur hanya bisa terdiam menatap langit. 


"Aku nggak tahu apapun saat itu.  Capung merah di matahari terbenam... 


Tentang rahasia yang dimiliki setiap anggota keluargaku". 


"Aku bertanya-tanya beberapa waktu yang lalu".


Junko keluar dari ruang ganti. Seseorang memanggilnya Runa. Orang itu mengatakan kalo Junko telah diminta. Junko mengangguk. 


"Tentang pria macam apa Lee Ji Won itu. Aku sama sekali nggak tahu apa-apa"
Ji Won berdiam diri di kamarnya.

Bersambung...

Preview...


Ji Won duduk dihadapan Naoko dan mengatakan bogosipo...aitakatta


Ji Won datang lagi ke rumah Naoko. Ibu menyuguhkan banyak makanan untuknya. Ji won mengatakan kalo ada banyak cinta ibu di dalam makanan itu. Ibu senang Ji Won memanggilnya ibu. Ia menutup wajahnya karena malu. 


Ji Won hendak membayar tapi kartu kreditnya nggak bisa di pakai. 


Naoko meminta Ji Won membetitahunya kalo lagi dalam masalah. Itu nggak seperti Ji Won yang ia kenal. Naoko menanyakan apa yang terjadi. 


Ji Won memeluk Naoko yang sedang menangis. (Apa yang terjadi???)


Naoko mengatakan pada ayah dan ibu kalo ia akan menikah dengan Ji Won. Tapi kayaknya Junko nggak suka dengernya.


Kayaknya Ji Won dan Naoko jadi menikah. Mereka tampak kikuk saat tidur bersama.


Ibu yang mencuci dan menemukan pakaian dalam wanita ditumpukan pakaian. 


Junko yang jalan sama om om. 


Ji won makan bareng gadis lain dan Naoko menyaksikannya dari luar. 

Komentar :
Ji Won adalah anak semata wayang yang kehilangan ayahnya saat berumur 6 tahun dan tinggal terpisah dengan ibunya jadi nggak heran kalo dia merasa sangat nyaman berada di rumah Naoko. Sebuah keluarga utuh yang anggota keluarganya dekat satu sama lain. 

Episode satu ini, bikin emosi naik turun. Sebentar senang sebentar sedih. Untuk episode mendatang... mungkin agak lama karena dramanya tayang seminggu sekali jadi musti sabar....

Padahal penasaran banget. 

Ini adalah sinopsis doramaku yang pertama. Mohon maaf kalo masih ada yang salah-salah.... baru belajar ♡♡♡♡

1 komentar:

Bagus kak!!!
Gak sabar nungguin eps selanjutnya!!!