Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Ice Binggoo Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: MBC

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Ice Binggoo Episode 2 Part 1
DRAMA SELANJUTNYA || SINOPSIS Haru ga Kita

Man So menggendong Ha Da sampai kamarnya. Ia menidurkan Ha Da di tempat tidur dan akan nyari air minum. Man So mau menarik tangannya tapi nggak bisa karena Ha Da memeganginya. Man So berusaha menariknya lagi tapi Ha Da bilang jangan pergi. Ha Da malah menggenggam tangan Man So dengan sangat erat. Ia ngelarang Man So pergi dan memintanya tetap disana. Man So nggak bisa berbuat apa-apa. 


Hari udah pagi.  Ha Da terbangun dan terkejut melihat Man So tidur di sampingnya dengan keadaan penuh keringat. Ia bertanya-tanya kenapa Man So berkeringat di tengah musim dingin? Ha Da berusaha membangunkan Man So tapi man So-nya nggak bangun bangun. Apa yang harus dia lakukan? Ha Da keluar mau minta bantuan Cha Da tapi dia nggak ada. Ha Da akhirnya kembali lagi ke Man So. Ia memanggil-manggil Man So. Man So udah menggigil dan nggak sadarkan diri.


Ha Da membawa Man So kerumah sakit. Doktet menyuntik lewat selang infus. Ha Da bertanya hanya demam kecil, kan? Dokter mengiyakan dan bertanya berapa usia Man So. Usia? Ha Da menjawab sekitar 27 tahun. Dokter bertanya apa Man So sebelumnya pernah merasakan sakit di dadanya atau pingsan? Ha Da menjawab enggak. Dokter mengatakan kalo demamnya akan segera turun. Ha Da mengangguk dan berterima kasih pada dokter. Dokter pergi dan Ha Da memperhatikan Man So yang sedang tidur. 


Cha Da baru pulang tapi malah nggak mendapatkan kakaknya dimanapun. Ia bertanya-tanya kemana kakaknya pergi. Nggak sengaja Cha Da melihat ada kamus bahasa Finlandia-Korea di meja Ha Da. Disana juga ada tanda terima pembelian tiket dan jadwalnya. 


Man So udah sadar. Ia menemui dokter untuk mengetahui keadaannya. Dokter memberitahu kalo Man So nggak bernafas secara teratur, dan banyak ukuran fisik yang mendekati orang yang berusia 60 tahun. Suhu tubuhnya juga di bawah rata-rata. Hatinya hampir ungu. Secara normal, harusnya berwarna merah. Man So bertanya apakah itu nenar-benar buruk? Dokter mengatakan kalo dibandingkan dengan bagaimana Man So terlihat, kesehatannya sangatlah kurang. Dan kemungkinan hatinya menjadi lemah sangat tinggi. Man So hanya diam sambil mendengarkan penjelasan dokter. 


Ha Da langsung bangkit begitu melihat Man So keluar dari ruang dokter. Ia nanya apa yang dikatakan sama dokter? Man So mengatakan kalo kata dokter dia baik-baik aja. Ha Da nggak percaya dan meraba wajah Man So. Mereka bahkan nggak perang salju kemarin. Apa yang terjadi? Man So nggak menjawab. Ha Da nggak sempat mendengarkan penjelasan dari Man So karena harus mengangkat telpon. Entah siapa yang menelpon. Yang jelas, Ha Da sangat terkejut dan bertanya sejak kapan? 


Ha Da dan Man So naik taksi menuju cafe Mawar. Mereka tampak tergesa-gesa. Setelah sampai di dalam, mereka nyari Eun Suk tapi nggak ada. Mereka nyari di jalan tapi nggak ada juga. Ha Da bahkan sampai nyari ke toko bunga segala tapi nggak ketemu. Mereka nggak menyerah dan tetap mencari. Setelah mencari kesana kemari akhirnya mereka menemukan Eun suk di depan gedung bekas bioskop. 


Ha Da segera menghampiri ayahnya. Ia bertanya cemas gimana bisa ayahnya keluar sendirian? Gimana kalo ayah terluka? Ha Da lalu ngajak ayahnya untuk segera pergi. Ayah malah nggak ngenalin Ha Da dan nanya siapa dirinya? Apakah dia tahu di mana rumah Eun Suk? Dia harus pulang tapi nggak tau rumahnya di mana. Ha Da tertegun ayahnya melupakannya. Man So memalingkan wajahnya karena  nggak sanggup melihat Eun Suk. Ha Da sendiri juga memalingkan wajahnya. Dia hanya bisa menangis. 


Ha Da duduk di kamar rawat ayahnya. Ia udah putus asa dengan semuanya. Setelah berpikir lama, ia bangkit dan membereskan semuanya. Ia mencabuti gambar, foto semua yang ia tempel di dinding untuk membuat ingatan ayahnya membaik. Menurutnya semua sia-sia. Cha Da memanggilnya tapi Ha Da udah nggak peduli lagi. Ayah tidur sambil menggigil. Sambil menangis Ha Da bertanya apa gunanya semua itu? Semuanya mustahil sejak awal. Cha Da bertanya kenapa kakaknya seperti itu? Ha Da menyarankan untuk menyewa pengasuh aja buat merawat ayahnya. Ia rasa itu lebih baik. Ia merasa terlalu b*doh untuk percaya bahwa semua itu akan membantu ayahnya.  


Man So mengintip di pintu karena nggak berani masuk. Cha Da menghampiri kakaknya dan berusaha menenangkannya. Ia minta kakaknya untuk berhenti dan memeluknya. 


Man So berjalan meninggalkan rumah sakit. Ia pulang dan membuat boneka salju di jalan pulang menuju rumah Ha Da. Seseorang menghampirinya. Man So bangkit dan orang itu adalah direktur seni. Mereka saling menatap. 


Man So duduk bersama dengan direktur seni. Direktur seni mengatakan kalo malam itu ada telpon dari teater dari Shin Yeong. Dia mengatakan dia telah mengalami dan melewati situasi yang sangat berbahaya. Tapi nggak peduli seberapa keras dia kencari, Man So nggak pernah muncul dihadapannya. Dia mencari setiap hari. Bertahun-tahun berlalu bagaikan berhari-hari. Dia bilang kalo Man So pasti akan kembali. Lalu suatu hari dia nggak muncul. Direktur hanya mengira kalo Shin Yeong pasti udah lupa dan melanjutkan hidupnya. Itulah apa yang kita semua lakukan. Lalu, di hari dimana direktur berhenti khawatir, Shin Yeong menemukannya. "Kalo kau kebetulan ketemu Man So, katakan padanya kalo aku sangat berterima kasih". Awalnya ditektur merasa bingung. Shin Yeong berterima jasih pada pria yang membuang dan meninggalkannya. 


Man So bangkit. Ia udah nggak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Direktur menghentikannya. Direktur melanjutkan apa yang Shin Yeong katakan kala itu. " sekarang, fakta bahwa aku nasih hidup, semuanya berkat Man So". Man So mulai menagis. "Berkat Man so, sekarang aku hidup dengan bahagia. Jadi jangan khawatir" di rektur mengatakan kalo Shin Yeong memintanya untuk mengatakan itu pada Man So. 


Direktur tiba-tiba memanggil man So. Man So tampak terkejut karena direktur mengenalinya. Kau Man So, kan? Man So menoleh. Direktur bilang pada Man So. Apa Man So kira ia nggak akan mengenalinya? Ia nengaku nggak tahu apa yang terjadi, tapi ia udah belajar bahwa ada banyak hal di dunia ini yang nggak bisa ia mengerti. Man So dan Shin Yeong. Man So udah nnelakukan semua yang ia bisa. 


Direktur seni bangkit dan menggenggam tangan Man So. Ia ngajak Man So untuk tinggal di rumahnya. Sekarang Man So harus hidup juga. Man So nggak kuasa membendung kesedihannya. Ia menangis. Tanpa mereka sadari Ha Da berada di tempat yang nggak jauh dari mereka dan mendengar semuanya. Ha Da merasa sedih. Ia menoleh melihat boneka salju yang tadi di buat oleh Man So. 


Ha da pulang dan berdiam diri di kamarnya. Begitu pula dengan Man So. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. 


Esok harinya Ha Da tampak sedih setelah melihat sepasang sepatu milik Man So. Cha Da datang dan bertanya pada kakaknya, apakah dia baik-baik aja? Ha Da sama sekali nggak merespon. Cha Da melambaikan tangannya di depan wajah kakaknya. Ha Da tiba-tiba ngajak Cha Da buat pindah. Ha Da menghadap adiknya. Ayahnya udah nggak ada di sana lagi, rumah itu sepertinya terlalu besar. Ha Da ingin pindah kerumah yang lebih kecil dengan uang yang mereka miliki bulan depan, jadi mereka nggak usah khawatir dengan biaya rumah sakit untuk beberapa waktu. Cha Da menanyakan kenapa begitu tiba-tiba? Bukannya selama ini Ha Da sangat menyukai rumah itu? Ha Da menatap wajah adiknya rasanya udah hampir nangis. Ia merasa nggak bisa lagi tinggal di rumah itu. Ia nggak suka rumah itu. Ia nggak suka lingkungan di sana. Semuanya Ha Da nggak suka. Ha Da nggak suka semuanya. 


Ha Da udah nggak kuat lagi dan menangis. Cha Da mendekat dan memeluk kakaknya. Iya mengiyakan permintaan kakaknya. Mereka akan pindah. Saat nanti ia udah bebas wamil, ia janji akan membuatnya hidup dengan nyaman. Ha Da melepaskan pelukan adiknya dan berpesan yang harus dia pikirkan adalah belajar. Cha Da mengatakan kakaknya bisa berlibur dan belajar. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau. Ha Da menghapus air matanya. Seandainya saja. Ia lalu ngajak adiknya untuk makan. 


Cha Da dan kakaknya duduk di meja makan. Ha Da menyiapkan sarapan untuk adiknya. Cha Da mengaku hanya ingin kakaknya bahagia. Ia pun memakan sarapannya dengan lahap. Ha Da sendiri hanya memandanginya. 


Man So sendiri lagi di kamar Eun Suk. Ia udah berganti pakaiannya sendiri dan menyimpan pakaian Eun Suk kembali ke tempatnya semula. Ia bangkit dan melihat foto Ha Da bersama ayah dan adiknya. Man So merasa berat harus meninggalkan kamar itu. 


Man So bertemu dengana Ha Da di depan kamarnya. Ia bertanya apakah Ha Da mau berangkat bekerja? Ha Da mengiyakan. Man So menanyakan kapan Ha Da selesai hari ini. Dengan acuh tak acuh Ha Da menjawab mungkin larut malam. Ha Da memandang wajah Man So dan melarangnya untuk menunggu. Habis itu Ha Da pergi gitu aja. Man So terdiam. Ia merasa sedih. 


Ha Da berganti pakaian bersama dengan rekan-rekannya. Ia melihat sarung tangan yang ia beli tempo hari untuk Man So tapi nggak sempet ia berikan. Tapi nggak lama kemudian Ha Da menutup lokernya. 


Ha Da duduk di mejanya. Direktur ngasih tahu pelayanan nasabah adalah nyawa dari bank mereka. Ia lalu bertanya siapa yang nyusun dokumen yang ia pegang. Manajer berdiri dan mengaku bahwa dialah yang membuatnya. Direktur memujinya yang udah melakukannya dengan baik. Direktur memintanya untuk melakukan tugas itu untuknya. Manajer menerimanya. Direktur lalu bicara pada semua karyawan bahwa selain kasus baru, ia minta tolong untuk nemperkenalkan diri masing-masing keoada tim. Ha Da tiba-tiba berdiri dan melepaskan pengenalnya. Direktur bertanya apa yang Ha Da lakukan. Ha Da mengatakan kalo dia ingin menggunakan waktu istirahatnya. Direktur mengatakan kalo ia baru aja mulai. Ha Da menantangnya untuk memecatnya kalo dia mau. Gimanapun juga ini baru dua bulan. Ha Da langsung melenggang pergi. Direktur berusaha memanggilnya tapi Ha Da udah nggak peduli lagi. Ia terus melangkah. Rekan-rekan Ha Da sampai kagum dengan apa yang ia lakukan. 


Ha Da udah berganti pakaian dan berada di luar. Ia melihat Man So tapi Man So-nya nggak denger. Ha Da mendekat dan terus manggil. Ha Da sampai manggil Man So dengan panggilan Binggoo-si. Man So yang merasa sedang dipanggil menoleh. Ha Da merasa lega. Ia ngajak Man So pergi ke suatu tempat bersamanya. Ha Da ngajakin Man So buat lari. 


Ha Da ngajak Man So naik kereta gatung. Sayangnya nggak ada orang lain lagi yang naik selain mereka. Ha Da memperkirakan mereka semua pada kerja. Man So lalu keinget Ha Da yang nggak berangkat kerja. Gimana dengan bank-nya? Ha Da bilang dia ngambil cuti. Tiba-tiba begini? Ha Da beralasan kalo biasanya cuti dilakukan secara tiba-tiba. Ha Da mengatakan ada tempat bagus yang ia temukan sebelumnya. Ia ngajakin Man So buat melihat bintang bersamanya. Apa? Man So juga berencana melihat bintang bersama Ha Da hari ini. Benarkah? Mereka saling tersenyum. 


Tiba-tiba terjadi guncangan. Ha Da mencoba menelpon petugas. Katanya mereka harus menunggu sebentar. Man So mengatakan kalo mereka bisa melihat bintang dari sana. Man So tersenyum. Mereka bisa melihatnya dengan lebih jelas. Man So melihat Ha Da yang berpegangan dengan kuat. Ia bertanya apa Ha Da baik-baik aja? Ha Da udah lemes dan jatuh. Ia bilang pada Man So kalo dia takut ketinggian. Man So terkejut karena Ha Da takut ketinggian tapi naik kereta gantung?? Ha Da beralasan kalo harus jalan kaki akan sangat melelahkan. Semua orang bilang kalo dia pemberani tapi Ha Da benci hal-hal yang melelahkan. Man So tersenyum. Ia melepaskan jas-nya dan memakaikannya pada Ha Da. 


Man So duduk disamping Ha Da. Ia nanya apa lagi yang Ha Da nggak suka? Ha Da menjawab belajar bahasa asing. Lainnya? Bangun pagi, jumlah orang di bus saat pergi kerja, melihat harga saat melihat menu makanan, manajer cabang yang berpura-pura baik padanya tapi menusuknya dari belakang, ketua Yang yang memberikan semua pekerjaan padanya. Man So nanya apa lagi? Menyesali hal-hal yang nggak ia lakukan. Berwisata, berbelanja, berkencan. Selama ini Ha Da hanya melihat orang lain dan ia merasa iri. Ha Da nggak punya kebebasan untuk melakukan semua itu. Saat ia memiliki uang, memiliki waktu, "nanti, lain kali" ia selalu berpikir seperti itu dan kesempatan lainnya nggak pernah datang. 


Ha Da nanya sama Man So, dia nggak punya penyesalan b*doh seperti itu, kan? Man So adalah laki-laki yang mempertaruhkan hidupnya untuk cinta. Man So terdiam. Ia mengatakan tidak. Ia teringat saat bersama dengan Shin Yeong. 

Flashback...


Shin Yeong ngajak Man So buat pergi nonton ke bioskop dan pergi ke kafe musik bersama. Shin Yeong juga meminta Man So untuk mengajarinya bagaimana caranya bersepeda. Man So mengangguk dan memeluk Shin Yeong. Mari melakukan semuanya. Ia memastikan akan melakukan semuanya dengan Shin Yeong. 


Di malam yang lain Man So meminta Shin Yeong untuk berjanji padanya bahwa Shin Yeong hanya akan bersamanya. Shin Yeong mengangguk. Ia akan melindungi Man So selamanya, jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya. Dan pada malam itu Man So melepaskan tangan Shin Yeong. 

Flashback end...


Man So mengatakan kalo ia menyesalinya. Ia seharusnya bilang pada Shin Yeong untuk berbahagia walaupun tanpa dirinya. Man So malah bilang pada Shin Yeong untuk berbahagia hanya bersamanya, dan Man So bilang padanya akan melindunginya selamanya. Tapi pada akhirnya Man So malah meninggalkannya seorang diri. Ia nggak bisa memegang tangannya sampai akhir. 


Ha Da mengatakan kalo dia pasti menyukainya. Yoo Shin Yeong mungkin tahu. Bahwa Man So dengan sepenuh hati mencintainya dengan sungguh-sungguh. Dia pasti bisa merasakannya. Jadi dia pasti berbahagia. 

Man So menangis dan Ha Da mengusap punggungnya untuk menenangkannya. 


Hari udah berubah malam saat Ha Da dan Man So sampai di atas. Petugas membuakakan pintu dan meminta maaf. Mereka pasti kedinginan. Mereka pasti telah menunggu lama. Cuacanya begitu dingin sehingga kabelnya membeku. Ha Da bertanya mereka bisa naik itu untuk kembali, kan? Petugas mengiyakan. Mereka bisa melakukannya. Man So menyela. Nggak usah, nggak papa. Man So tersenyum menatap Ha Da sambil mengatakan mari kita melihat bintang. 


Mereka berjalan melihat bintang. Ha Da mengatakan kalo bintang itu tampak seperti  mau jatuh. Kalo hari ini Ha Da nggak melihatnya, ia pasti akan menyesal. Ha Da tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Man So menoleh padanya. Ha Da lanjut bialng kalo dia ingin datang kesana lagi bersamanya. Ha Da ingin paling nggak punya satu aja kenangan istimewa bersama Man So. Man So malah mengatakan ia nggak usah punya hal seperti itu juga nggak papa. Ia merasa nggak perlu memiliki sebuah kenangan istimewa. Ha Da tampak kecewa mendengarnya. Bagi Man So, setiap saat bersama Ha Da adalah istimewa.


Man So mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Ha Da. Sejak saat ia bangun lagi sampai sekarang, semuanya istimewa dengannya. Jadi Jang... Ha Da nggak memberi kesempatan pada Man So untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia mencium Man So. Dan saat itu lewatlah sebuah bintang jatuh di langit. 


Ha Da dan Man So pulang dengan berjalan kaki. Man So memegangi dadanya karena merasakan sakit. Tapi saat Ha Da menengok kearahnya, ia pura-pura baik-baik aja. Ha Da menerima telpon. Ia lalu menengok ke arah Man So sambil bertanya pada orang di seberang, apakah ia benar-benar Yoo Shin Yeong? Man So udah lemas. Ia merasa dadanya semakin sakit. 


Ha Da nyuruh Man So untuk duduk dan menunggunya, ia akan memanggil taksi. Ha Da pun berlari. Man So melihat punggung Ha Da dan merasa dadanya semakin sakit. Ha Da berusaha menyetop taksi tapi nggak ada yang mau berhenti. 


Ha Da udah mendapatkan taksi. Ia kembali ke tempat ia meninggalkan Man So tadi. Tapi anehnya Man So udah nggak ada. Ha Da khawatir. Ia manggil-manggil Man So tapi Man So-nya nggak ada. 


Ha Da pulang pulang dengan berjalan kaki seorang diri. Ia sampai rumah dan berpapasan dengan Cha Da yang mau buang sampah. Cha Da berhenti saat melihat wajah kakaknya penuh dengan air mata. Ia bertanya pada kakaknya tentang apa yang terjadi. Dengan berurai air mata Ha Da berkata kalo ia nggak ingin melarikan diri. Sejujurnya ia suka di Korea dari pada di Finlandia. Ada Cha Da, ada ayah, dan Bing goo...juga ada. Ha Da nggak sanggup bilang apa-apa lagi. Ia sakit. Cha Da mendekat dan memeluk kakaknya. Ia melarang kakaknya untuk pergi. Ia nggak perlu pergi. Tinggallah bersamanya di sini. Ha Da menangis semakin sedih...(aku juga ikut nangis)


Man So mendatangi rumah Shin Yeong. Ia menatap dari jauh. Shin Yeong masih tampak cantik dengan rambut pendeknya. Sebuah mobil berhenti di depan rumah Shin Yeong. Ia udah jadi nenek. Seorang anak keluar dari mobil sambil memanggilnya nenek. Shin Yeong tersenyum menatap anak itu sambil manggilnya In Chae. Shin Yeong menggendongnya. Man So melihat itu semua dari jauh. Ia menangis terharu melihat Shin Yeong bahagia tanpanya. Shin Yeong masuk bersama cucu dan anaknya. Tapi ia berhenti karena merasa sedang di amati. Ia melihat sekitar tapi nggak ada siapapun. Anaknya memanggilnya untuk segera masuk. Shin Yeong mengiyakan dan segera masuk. 


Ha Da ada di kamarnya. Ia mengambil sarung tangan yang mau ia hadiahkan ke Man So. Dengan mata yang udah bengakak ia memandangi sarung tangan itu. 


Salju mulai turun tapi Man So masih tetap berada di tempatnya. Ia berbalik dan mulai melangkah. Dadanya mulai terasa sakit. Langkah Man So kian berat. 


Shin Yeong mengantar anak dan cucunya sampai pintu depan. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan. Saat ia akan kembali kerumah, tanpa sengaja ia melihat ada setangkai mawar dan sebuah buku kecil di atas kotak surat. Shin Yeong mengambilnya. Ia melihat ke sekitar tapi nggak ada siapapun. 


Shin Yeong membuka buku itu dan kenangannya terbabg ke beberapa tahun yang lalu. 

Flashback...


Man So menemui Shin Yeong di rumah sakit. Man So asik menggambar Shin Yeong. Shin Yeong ingin melihat apa yang di gambar oleh Man So tapi nggak di ijinin sama Man So. Man So mengatakan kalo yang ia gambar sangat cantik sehingga ia akan melihatnya sendiri. Shin Yeong tersenyum. Ia lalu bertanya kapan Man So akan memperlihatkan padanya? Man So menjawab nanti saat cinta mereka menjadi kenangan. 

Flashback end...


Shin Yeong menangis melihat gambar itu. 


Man So berjalan dengan terhuyung-huyung. Ia sampai di depan rumah direktur seni dan pingsan. Kebetukan direktur seni mau keluar dan melihat Man So pingsan. Ia segera mendekat dan menolongnya. Man So sempat sadar dan melihat direktur seni memanggil namanya. Tapi kemudian ia pingsan lagi. 


Suasana di bank sangat sibuk. Seorang nasabah menegur manajer. Ia marah karena yang dilakukannya itu salah. Manajer akan mengurus nasabah yang ini dulu lalu akan beralih padanya. Direktur menyuruhnya untuk cepat karena para nasabah sedang menunggu. Direktur nyuruh Dae Ri untuk membantu. Tapi Dae Ri nggak bisa. Dia sendiri juga lagi sibuk. Direktur memarahi Manajer. Ia udah nyuruh untuk membawa Ha Da kembali. Manajer mengatakan kalo telponnya nggak di angkat. Dae Ri menggerutu, seharusnya ia bersikap baik pada Ha Da saat masih disana. 


Ha Da membereskan rumahnya. Sepertinya ia akan pindahan. Ia meletakkan sebuah kardus di depan rumah dan terdiam saat melihat boneka salju di depan rumah. Tapi rupanya itu hanya halusinasinaya aja. Kenyataannya nggak ada salju sama sekali di sana.


Ha Da menemui  ayahnya dan kebetulan bertemu saat perawat membawa atahnya untuk berjalan-jalan. Ha Da memanggil ayahnya dan berlari mendekat. Perawat ayah menyapa Ha Da ramah. Lama nggak ketemu. Ha Da mengatakan kalo ia sibuk bersiap-siap untuk pindahan. Ha Da menghadap ayahnya. Sekarang ia nggak bekerja. Jadi akan sering berkunjung. Ha Da melihat buku catatan yang di pegang ayahnya dan bertanya apa itu? Perawat mengatakan kalo seorang laki-laki muda mampir dan memberikan itu padanya. Apa Ha Da tahu betapa sering ayahnya melihatnya. 


Ha Da mengambilnya dan melihat isinya. Itu adalah sketsa wajah dirinya. Air mata Ha Da mulai menetes. Ia membaliknya dan melihat tulisan namanya, Jang Ha Da. Ayah mengulurkan tangannya di atas kepala Ha Da. Ia memanggil Ha Da sebagai putrinya. Ha Da mendongak memanggil ayah. Mengenggam tangan ayahnya dan memeluknya. 


Ha Da pulang dari rumah sakit. Cha Da menariknya kedepan kulkas. Ha Da bertanya ada apa? Apa Cha Da merapikan kulkas? Cha Da membuka pintu kulkas dan memperlihatkan sesuatu. Sebuah boneka salju. Ha Da mengambilnya dan tersenyum. 


Hari ini, di hari terakhir musim gugur kau akhirnya bisa merasakan musim dingin dan hujan salju lebih awal. Semakin dekat dengan waktuku, tapi aku akan membuatnya turun salju khusus untukmu". Pengunjung ini seperti hujan salju, mengambil kesempatan untuk menghabiskan waktu hangat yang berkualitas dengan orang-orang di sekitarmu".

Itu adalah suara penyiar radio yang sedang didengarkan oleh Ha Da. Ha Da sendiri sedang duduk di dekat jendela di kafe Mawar. Ia memegang spidol dan menggambar boneka salju. Di luar sedang hujan salju. Tanpa Ha Da duga, Man So muncul dari gambar itu. Man So tersenyum pada Ha Da. 

Ha Da : Apa kau akan mrngatakan padaku sekarang? 

Man So : Apa? 

Ha Da : Alasan kau bertemu denganku. 

Man So : Kau tak tahu? Mengapa aku menemuimu? 

Ha Da : Aku tak tahu. 

Man So : kalo gitu sampai kau mengetahuinya, aku akan berada di sisimu. 
Man So menggenggam tangan Ha Da dan mereka berhalan bersama-sama. 

T A M A T

Komentar :

A....akhirnya namatin satu drama lagi. Walaupun cuman dua episode aja, sih...😊😊😊.

Akhirnya happy ending juga...Man So nemuin cinta yang lain selain Shin Yeong. Ha Da juga nggak jadi pergi. Eun Suk udah inget sama Ha Da. 

So, sampai ketemu di drama selanjutnya 😁😁😁