Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 2 BBAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 2 Part 2
Xiaobin bersama dengan Tingen menyuguhkan hidangan yang di pesan oleh pasangan Tang. Tuan Tang bertanya apakah itu bawal asap? Tingen membenarkan. Ia menambahkan sedikit kreasi darinya. Restoran Barat dan Cina senang menggunakan bagian perut ikan. Dagingnya lembut dan nggak banyak tulang ikannya. Tapi Tingen merasa bahwa cara terbaik untuk melestarikan rasa asli adalah untuk tumis itu. Tingen menggoreng kulitnya sampai renyah kemudian ditutup dengan sedikit pasta hijau Thailand. Dan terakhir ia menambahkan sejumput garam merah Himalaya. Rasanya sangat segar dan gurih. 


Tingen memberitahu hidangan selanjutnya adalah bola-bola udang goreng pelangi. Tingen berpikir bahwa kepala koki pada waktu itu mempelajari bahwa Tuan Tang alergi terhadap udang karena hidangan ini. Maka dari itu Tingen mengganti udang dengan kerang. Kerang kering dikukus bersama-sama dengan nanas, jadi saat dimakan, akan terasa asam dan manis. Itu akan menghilangkan sifat berminyak dari dua piring sebelumnya, kaki babi rebus dan ayam goreng. Tuan dan nyonya Tang mulai menyantap hidangan mereka dan Tingen juga Xiaobin mengawasinya sambil tersenyum. Setelah makan sesuap, Tuan Tang mengatakan kalo rasanya enak. Tingen memang bagus seperti yang mereka katakan. Tuan Tang nggak pernah mengira Tingen akan dapat membuat perjamuan pernikahan Cina dan menu hidangan untuk pernikahan Cina dengan bahan dan metode memasak yang sama, semua berubah menjadi makanan ala barat. Selain itu, srmuanya begitu lezat. Tingen dan Xiaobin tersenyum mendengarnya. 


Tapi, hal yang masih paling Tuan Tang cari selama ini...masih yang satu itu, masakan rumah istimewa buatan kepala koki waktu itu. Selama bertahun-tahun, ia pergi ke berbagai tempat, mencari begitu banyak koki, tapi ia nggak menemukan rasa itu. La Mure terkenal dengan kari-nya. Tingen pasti nggak ingin mengecewakannya, kan? Nyonya Tang tersenyum menatap suaminya. Ia bilang pada Tingen kalo ia juga mengharapkan itu. Tingen mengangguk. Tentu saja. Ia mempersilakan mereka untuk menikmati hidangannya. Ia akan terus membantu persiapan hidangan berikutnya. Tingen permisi untuk kembali ke dapur.

Fenqing mengiris dagingnya sambil mengingat apa yang dulu ayahnya ajarkan padanya. Ayahnya seperti ada di dekatnya dan akan mengajarinya gimana caranya mengasinkan daging. Dalam mengasinkan, ia harus terlebih dahulu memotong daging. Ia harus memotong melawan arah serat daging. Dengan begini, ia akan mematahkan urat sarafnya. Sehingga ketika ia mengasinkannya, rasa bisa masuk dengan baik. 


Fenqing kecil bertanya, ini adalah daun bawang. Ini adalah jahe. Kenapa ada nanas disini? Ayah menjawab kalo nanas mengandung banyak enzim di dalamnya. Selama pengasinan, jika Fenqing berikan enzimnya, ia bisa melarutkan ototnya. Daging itu kemudian akan menjadi lebih lembut dan lebih lezat. Mengerti? Tingen baru sampai di dapur dan melihat apa yang di lakukan Fenqing.  


Ayah memberitahunya kalo punya racikan ajaib. Lima rempah bubuk. Nggak perlu di berikan terlalu banyak. Hanya taburkan di atasnya. Dan itu akan membuat aroma daging itu lezat setelah di asinkan. Sangat harum. Tanpa Fenqing sadari, Tingen terus mengawasinya. 


Teakhir, Fenqing meremas-remas dagingnya agar bumbunya meresap. Remas-remas sedikit. Setelah di asinkan, ia meletakkan sesuatu yang berat di atasnya. Itu akan menyebabkan daging yang di rendam dengan saus lebih cepat meresap dan rasanya lebih enak. 


Tingen menghampiri Fenqing. Ia bertanya kenapa Fenqing menggunakan sirloin daging babi dan bukannya tenderloin? Dan bahkan meminta irang untuk mengantarkan kesana. Fenqing menjawab karena sebelumnya Tuan Tang mengatakan bahwa kepala koki itu dulu menggunakan bahan-bahan sisa dari pesta. 30 tahun yang lalu, harga tenderloin lebih mahal dan sirloin lebih murah. Walaupun itu lebih keras, setelah di bersihkan jadi nggak jauh berbeda dengan tenderloin. Dan ia bisa memotong dadu, mengiris atau mencacah. Fenqing udah membaca menu tuan Tang. Kualitas tertinggi dari daging yang tersisa adalah sirloin. Dan juga dagingnya jarus di asinkan seperti yang udah ia lakukan. Ini adalah alasan utama kenapa tuan Tang belum mampu menemukan rasa tertentu itu selama bertahun-tahun. 


Fenqing menyuguhkan apa yang ia masak tadi dihadapan Tingen. Ia nyuruh Tingen buat mencicipinya. Tingen nggak mau, karena ia udah tahu hasilnya tanpa perlu memakannya. Fenqing nggak terima. Bukannya dia yang minta Fenqing menbuatnya? Sekarang dia nggak mau memakannya? Apa Tingen mau main-main dengannya? 


Tingen cuek sambil menata daging ke atas piring saji. Fenqing memanggilnya tapi Tingen sama sekali nggak merespon. Bikin Fenqing jadi kesal aja. Fenqing akhirnya memilih pergi aja. Selelah Fenqing pergi, Tingen berhenti sebentar.


Tingen menyajikan hidangan selanjutnya pada pada Tuan dan Nyonya Tang. Hidangan selanjutnya sekarang adalah hidangan buatan sendiri dari kepala koki saat itu. Tingen mempersilakan mereka untuk mencicipi. 


Di belakangnya ada Xiaobin lagi mendorong Fenqing. Fenqing nanya kenapa Xiaobin memaksanya kesana? Untuk melihat wajah Tingen yang penuh rasa bangga? Tuntut Fenqing. Fenqing melihat hidangan yang ada di meja adalah daging yang ia buat tadi. Tuan dan Nyonya Tang memasukkan makanannya ke mulut dan Fenqing menunggu respon dengan hati berdebar. 


Tuan dan nyonya Tang saling pandang setelah makan sesuap. Ini memang rasanya. Ini memang rasanya, seru Tuan Tang. Fenqing tersenyum. Nyonya Tang membenarkan. Rasa itu memang sama dengan yang 30 tahun yang lalu. Tuan Tang mengulurkan tabgannya untuk menggenggam tangan istrinya. Saat itulah Tingen menengok ke belakang. Fenqing menyunggingkan senyuman bermaksud menyombongkan diri. Tuan Tang bangkit dan menyalami Tingen. Ia berterima kasih. Tingen yang akhirnya membuatnya menemukan rasa yang ada dalam ingatannya. Tingen merendah. Itu bukan apa-apa. Itulah yang seharusnya ia lakukan. Yang penting adalah mereka berdua menyukainya. Tingen mempersilakan Tuan Tang untuk duduk dan kembali menikmati hidangannya. Tingen berjalan ke dapur melewati Fenqing. Fenqing terdenyum meski Tingen nggakmeliriknya sama sekali.


Fenqing berjalan keluar restoran dengan langkah riang. Ia tahu kalo ia benar. Tingen muncul dan duduk di sebelahnya. Tingen akhirnya setuju bahwa metode yang ia lakukan pada daging itu benar, kan? Ia kan udah bilang. Tiba-tiba Tingen nyodorin semangkuk daging ke Fenqing dan nyuruh dia buat nyicipin. Fenqing menerimanya dan langsung nyobain. Fenqing heran kok rasanya hambar? Ia rasa itu bukan yang ia asinkan.


Fenqing menoleh ke Tingen. Apa dia yang membuatnya? Tingen memuji apa yang udah Fenqing lakukan hari ini sebagai sesuatu yang sangat bagus. Tapi ada satu hal kesalahannya. Apakah semangkuk laksa malam ini enak atau enggak, bukan dia yang menilai tapi Tuan dan Nyonya Tang. Karena semua hidangan yang dimakan oleh orang yang berbeda, maka Fenqing harus memasak untuk orang yang berbeda. Ini adalah ilmu dasar seorang koki. Tapi malam ini Fenqing hanya mikirin pada rasa masa lalu. 


Tapi Fenqing tetap yakin bahwa nggak ada satu jenis rasa, bukan hanya rasa dari makanannya, ada juga rasa dari ingatan seseorang. Karena sebuah rasa, seseorang dapat memiliki kesan yang bertahan lama dari situasi tertentu. Sama seperti aroma ketika hujan jatuh diatas tanah. Fenqing ingat ketika ia masih kecil, saat berlarian di sekitar lapangan sekolah, tiba-tiba hujan turun. Lalu ia hanya bisa memikirkan berlari secepat yang ia bisa ke dalam kelasnya untuk menghindari hujan. Dan juga...ubi panggang. Ketika ia memikirkan ubi panggang, ia ingat bahwa ada satu tahun ketika ia bersama ayah dan ibunya, juga adiknya, mereka berempat duduk berdekatan. Makan ubi panggang di ruang keluarga. Begitu bahagia. 


Tingen tersenyum. Apa yang barusan dikatakan oleh Fenqing emang cukup masuk akal. Ia juga setuju. Tapi perbedaannya adalah...untuk orang yang udah meninggal, waktunya membeku. Kita masih tetap hidup. Kenangan kita akan terus bertambah. Dan bahkan akan mengalami beberapa perubahan. Sebelumnya Tingen sudah mencari tahu kalo Tuan dan Nyonya Tang menderita tekanan darah tinggi. Mereka biasa makan dengan sedikit garam, masakan berkadar lemak rendah. Rasa yang enak bagi mereka sudah berbeda dari apa yang 30 tahun lalu. Daging asin yang Fenqing buat hari ini menggunakan terlalu banyak garam. Rasa karinya juga terlalu kuat. Secara keseluruhan, akan terlalu asin bagi mereka. Tapi Fenqing terlalu keras kepala dan hanya bersikeras mencari masa lalu. Ia nggak menganggap rasa pelanggannya saat ini. Ia terjebak dalam masa lalu. Ia juga nggak membiarkan kenangannya menjadi nutrisi untuk membantunya tumbuh. Tapi secara keseluruhan, hari ini adalah momentum yang berharga. 


Tingen bangkit dan berjalan meninggalkan Fenqing. Tapi sebentar kemudian ia berhenti dan menghadap Fenqing. Dia memuji Fenqing yang sudah bekerja keras hari ini. Karena dia ingin membuat ulang hidangan ciptaan ayahnya dulu. Benar, kan? Tanya Tingen. Fenqing mengatakan itu hanya sebagian dari itu. Tingen menanyakan bagian lainnya. Fenqing bangkit dan menghadap Tingen. Sebelumnya Tingen mengatakan padanya bahwa reputasi restoran sangat penting bagi seorang koki. Jadi Fenqing juga ingin menjaga reputasi La Mure. Meskipun ia pikir ia telah melakukan hal yang benar pagi ini. 


Tingen mengangguk. Ia udah mau berbalik tapi kembali lagi. Tingen ingin bertanya sesuatu pada Fenqing. Ini semua karena orang itu, kan? Fenqing malah nggak maksud. Orang apa? Tingen memperjelas, orang yang berjualan nugget di sampingnya di pasar malam. Oh, maksudnya Ah Wei? Tingen berjalan mendekat. Terus terang Tingen ada pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan pada Fenqing. Ia bisa melihat bahwa Fenqing bek3rja keras dan ia berhasrat pada memasak. Tapi kenapa ia tetap di pasar malam? Apakah itu karena dia? Apakah dia pacarnya? Fenqing tertawa, pcar? Tingen ikutan tertawa. Apakah Fenqing nggak berpikir bahwa itu sangat bodoh untuk menyerah pada impiannya dan tetap di pasar malam? Fenqing merasa kepala koki Huo Tingen mulai terdengar lebih konyol. Tingen bilang itu bukan konyol. Tapi itu fakta.apakah Fenqing berpikir bahwa ia bisa menjadi terkenal dengan menjual kari biasa di pasar malam? Fenqing mengatakan kalo Tingen boleh meremehkannya, tapi jangan meremehkan pasar malam. Sesaat Tingen jadi teringat dengan Tingli. Ia mengangguk dan menarik kembali kata-katanya barusan. Ia berbalik dan berjalan. Fenqing menyusulnya. Fenqing menanyakan maksudnya. Tingen bilang Fenqing bisa melupakan perkataannya barusan. Ia nyuruh Fenqing masuk dan belajar mengiris. Terus latihan sampai Tingen mengatakan bahwa ia boleh pulang. Hanya saat itu Fenqing bisa pulang. Itu aja. Tingen berjalan lagi. Fenqing memanggilnya, apa Tingen udah salah minum obat? 


Tingen kembali ke dapur. Ia melihat tempat persediaan yang kacau, dan ia menggumam menyebut nama Brian yang kesulitan mengisi persediaan. Ponselnya berbunyi. Panggilan dari Meng Ruxi. Nggak lama kemudian Tingen udah berada di rumah Ruxi. Tingen memuji rumahnya yang sangat besar. Ya gitu, deh. Ruxi mempersilakan Tingen untuk masuk. Tingen mungkin belum makan apa-apa setelah sibuk sepanjang hari, kan? Ruxi berjalan menuju dapur dan mempersilakan Tingen untuk duduk. Ia akan menyiapkan. Tingen terkejut, ia pikir mereka akan makan di restoran. Ruxi mengangguk. Tingen seorang koki. Ia memintanya makan malam dan Tingen memintanya untuk memilih restoran. Bukankah Tingen mengujinya sebagai kritikus makanan? Tingen bilang nggak papa. Ruxi menambahkan ia ingin menggunakan reputasinya untuk dibandingkan dengan Tingen. Apakah Ruxi menghindari tes dengan memasak sendiri? Tanya Ruxi. Ia juga bisa mengenal Tingen dengan baik. Nantinya ia akan merekomendasikan Tingen ke restoran yang ia suka. Tingen tersenyum dan berterima kasih. Ia berterus terang Ruxi nggak perlu memasak makanan mewah. Tingen bisa makan apa aja. Ruxi mengangguk. 


Tingen bertanya jadi sekarang Ruxi merasa tertekan? Ia biasa menilai masakan orang lain. Sekarang ia membiarkan orang lain mengkritik masakannya. Lihatlah betapa menyedihkan orang-orang itu, gurau Tingen. Ruxi berbalik dan menghampiri Tingen. Ia bertanya, apakah Tingen tahu berapa lama ia berpikir sebelum ia mendapatkan ide itu yang bisa memuaskan kedua belah pihak? Oh, Tingen bertanya apa hanya ada mereka berdua di rumah Ruxi? Ruxi mrngangguk membenarkan. Ruxi kembali kedapur. 


Tingen melepaskan jas-nya, rompinya, dasinya dan berjalan menghampiri Ruxi. Karena nggak ada siapapun di rumahnya sekarang, dan hanya ada mereka berdua. Tingen berpikir bahwa ini bukan pilihan yang bijaksana untuk membiarkan seorang koki terkenal membuat Ruxi memasak dari belakang. Lebih baik kalo Tingen yang melakukannya. Ruxi tersenyum. Dan berpindah. Tingen mulai mengiris sayuran sementara Ruxi menuang anggur kedalam gelas. Tingen ingat sesuatu, atau untuk mengatakan, Tingen udah datang dengan ide untuk membuatnya memasak untuk Ruxi. Ruxi berbalik dan mengangkat kedua gelas anggur, apapun gagasannya, ia udah mendapatkan yang ia mau. Ruxi memberikan gelas yang satunya pada Tingen. Mereka bersulang. Tingen memujinya yang sangat jujur. Nggak heran kalo Tingen harus mengatakan kalo Ruxi adalah orang yang sangat pintar. Ruxi meminum anggurnya lalu tersenyum dan balas memuji kalo Tingen juga. Lalu kita di perlihatkan pada Fenqing yang masih sibuk berlatih mengiris di dapur La Mure. 


Ruxi dan Tingen udah selesai memakan makanan mereka. Ruxi menawarkan anggur yang lain. Tingen kagum dan bertanya sebenarnya berapa banyak minuman anggur yang Ruxi ounya di rumah? Ruxi berbalik dan menjawab cukup untuk Tingen minum. Tingen memuji anggur yang barusan ia minum, Spanyol, bagus. Ruxi mengangguk. Tepat sekali tebakan Tingen. Ia yang memilihnya. Tingen melihat ponselnya dan melihat Fenqing masih sibuk di dapur. Hal itu membuat Tingen tersenyum. Ruxi menanyakan apakah masih ada hal yang harus Tingen lakukan di tempat kerjanya? Tingen bilang nggak ada. Hanya saja ia masih harus kembali ke kantor nanti. Ruxi menanyakan apakah itu enak? Tingen balik nanya apakah Ruxi ingin ia berkata jujur? Ruxi mengangguk. Tingen sungguh-sungguh berpikir bahwa menjadi kritikus makanan adalah yang terbaik untuknya. Mereka tertawa dan Ruxi mengajaknay bersulang lagi. Ruxi mengatakan kalo Tingen kejam. 


Tingen kembali ke La Mure dan mendapati Fenqing masih sibuk melakukan yang ia perintahkan. Fenqing mengangkat apa yang ia iris dan mengatakan sempurna. Ia bertanya seolah-olah ia adalah Tingen, "Wei Fenqing, apakah kau berlatih memotong? Kepandaianmu mengiris belum mencapai standar." Fenqing membalas sebagai dirinya sendiri bahwa Tingen lah yang belum mencapai standarnya. Wajahnya di bawah standar, paman Huo. Tingen tersenyum melihat tingkahnya. 


Tingen sengaja mematikan lampu untuk mengerjai Fenqing. Begitu lampu mati, Fenqing langsung ketakutan dan merangkak keluar. Tingen masuk kedapur dan mencari Fenqing sambil menanggil namanya. Tapi Fenqing udah nggak ada di tempatnya. Tingen terus mencari dan menemukan Fenqing meringkuk diantara meja tamu sambil menangis. Tingen mendekatinya dan menepuk pundaknya. Fenqing langsung memeluk erat kaki Tingen, seolah mencari perlindungan. Tingen melarangnya untuk takut. Ini dia, Tingen. Fenqing melihatnya. Tingen merunduk dan memeluk Fenqing, bermaksud menenangkan. 

Bersambung...

Komentar:
Wah, Huo Tingen agak keterlaluan, ya, pas di akhir. Udah tahu Fenqing phobia gelap, eh malah sengaja matiin lampu. Sadis. 

Akhirnya Ruxi punya alasan agar Tingen bisa dekat sama dia yaitu membayar hutang atas semua pertolongan yang udah dia kasih sebelum-sebelumnya. Seolah-olah pertolongan yang dia kasih itu dengan pamrih. 

2 komentar

Dtggu klnjutannya...

Semangattt nulisnya
Selalu ditunggu kelanjutannya :)