Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 3 BBAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 3 Part 1
Tingen mengendarai sepeda motor Fenqing. Fenqing yang lagi di bonceng mengeluh tentang helm yang ia pakai. Tingen bilang akhirnya Fenqing menyadari gimana perasaannya saat itu. Fenqing nggak terima kenapa ia yang mesti pakai helm itu? Tentu saja Fenqing yang harus memakainya. Apa dia ingin Tingen yang memakainya? Fenqing menerima telpon dari Ah Wei. Ia menanyakan pada Ah Wei gimana keadaan di sana? Tingen kayak nggak suka mendengar nama Ah Wei. Ia sengaja mempercepat laju motornya.


Ah Wei mengatakan pada Fenqing kalo ia udah melakukan apa yang Fenqing instruksikan padanya. Ia bertanya pada beberapa pemilik kios sehat, tapi sekarang semua orang di pasar malam ingin ketemu sama dia. Mereka semua setuju dengan apa yang Fenqing katakan. Meskipun bos chen bukan bagian dari pasar malam, mereka semua disini untuk menjalani hidup. Kalo ada masalah mari hadepin bersama-sama. Di belakang Ah Wei, para pedagang pasar malam udah berbaris dengan memegang alat masak seolah itu adalah senjata mereka untuk menghadapi perang. 


Fenqing beserta teman-temannya di pasar malam mendatangi sebuah tempat bilyar. Mereka teriak-teriak agar di bebaskan orang itu. Tingen yang ada di antara orang-orang itu tampak nggak ngerti sama apa yang terjadi. Fenqing dengan berani mengatakan kalo masalah yang ada di pasar malam adalah masalahnya. Kenapa mereka menculik orang-orang seperti itu. Paman Rib menambahkan kalo orang-orang di pasar malam yang hanya keluar untuk mencari nafkah. Kalo sesuatu yang buruk terjadi, mereka nggak akan berdiri dan nggak melakukan apa-apa. Sekali lagi Fenqing teriak bebaskan orang itu. Yang lain pun kompak mengikuti. Bos mafia yang lagi makan oun merasa terganggu dan melemparkan pisaunya ke kursi di bawah orang yang tengah di sekap. Seketika Fenqing dan kawan-kawan pun menghampiri bos Chen. Bos mafia mrngatakan kalo membayar hutang hanyalah harapan. Fenqing menanyakan sebenarnya berapa banyak dia berhutang padanya? Bos itu mengatakan kalo nggak banyak. Pinjaman sebenarnya di tambah bunga adalah NT $ 2.160.000. Tuan Chen yang lagi terikat protes. Itu awalnya hanya sekitar NT $ 500.000. Gimana bisa jadi lebih dari NT $ 2 juta? Anak buahnya menyuruhnya tetap tenang. Bos mafia bertanya kenapa dia mengeluh? Gimana lagi perusahaannya akan bertahan? Begitu banyak orang butuh makan juga. Selain itu, ia udah toleran dengannya selama 14 bulan, sudah. Tuan Chen pikir ia menjalankan beberapa organisasi amal? 


Fenqing dengan berani menanyakan apa yang akan membuatnya membebaskan tuan Chen? Bos mafia menjawab, mudah aja. Bayar uangnya maka ia akan menbebaskannya. Tingen pikir mereka srmua hanya membuat hal itu terlalu rumit. Bukankah dia (bos mafia) udah mengatakan dengan jelas? Ketika kau berhutang, kau harus membayarnya kembali. Setelah membayar uangnya, dia akan membebaskan orang  itu. Bos mafia itu mengatakan berdasarkan cara Tingen berbicara, Tingen akan membantunya membayar uangnya? Tingen menolak. Ia sebenarnya nggak mengebal orang itu. Bos itu menculik orang, tapi dia benar-benar nggak punya uang.  kalo dia benar-benar melakukan apapun padanya, dia juga nggak akan mampu membayar kembali padanya, dan juga dia nggak mendapatkan uang sama sekali. Itu sebabnya Tingen merasa kalo mungkin ...dia behutang uang judi? Kalo gitu gimana kalo biarkan Tingen membuat taruhan dengannya. Fenqing menegur Tingen, tapi Tingen akan menyelesaikannya. Peetama-tama ia memperkenalkan dirinya. Namanya adalah Huo Tingen. Ia adalah Manajer Umum Perusahaan Yanis. Tingen pikir ia memenuhi syarat untuk bertaruh dengannya. Kalo dia menang, Tingen akan segera membayar hutangnya 2× lipat. NT $ 4.320.000. Fenqing menyebut Tingen udah gila. Tingen minta dibiarkan menyelesaikan pembicaraannya. Tapi kalo Tingen menang, ia minta tuan Chen segera di bebaskan. Seenggaknya, kenapa dia nggak menurunkan minatnya aja. Lalu biarkan tuan Chen membayar perbulan? Dia toh nggak akan kehilangan apapun. Bos mafia itu setuju. Ia rasa itu menarik. Ia akan taruhan dengan Tingen. Tingen ingin bertaruh apa? 


Tingen lupa memberitahu sebelumnya kalo dia benar-benar seorang koki. Tingen mengambil pisau yang tertancap di kursi. Karena ia seorang koki, hal yang paling baik padanya adalah benda itu. Ia ngajak bertaruh dengan pisau. Tingen membawa pisau itu dan duduk di hadapan bos mafia. Ia menancapkan pisau itu diatas meja dan meletakkan tangannya. Dalam satu menit, akan ada 30 tanda pisau di antara mading-masing jarinya. Jika di total, akan ada 180 tanda pisau pertangan. Jika Tingen melukai tangannya, bos mafia itu menang. Kalo ada 30 tanda pisau per ruang, dia masih menang. Bos mafia itu bertanya apa Tingen udah gila? 180 tanda pisau, itu berarti membuat 3 tanda pisau per detik. Apa dia seorang pesulap? Tingen tersenyum. Ia akan mencobanya. Bos mafia mempersilakan. Fenqing menghampiri Tingen. Ia bermaksud melarangnya. Tangan sangatlah penting untuk seorang koki. Apa dia udah gila? Tingen meminta pada Fenqing agar mempercayainya. Ia bisa melakukannnya jadi ia minta Fenqing menyingkir. Jika Tingen benar-benar akan melakukan itu, maka Fenqing akan menemaninya. Fenqing meletakkan tangannya di atas tangan Tingen. 


Tingen menatap mata Fenqing. Ah Wei menarik Fenqing. Apa yabg Fenqing lakukan? Fenqing mengatakan kalo pasar malam adalah milik mereka. Gimana bisa dia membiarkan Tingen bertaruh sendirian? Ah Wei bertanya apa Fenqing benar-benar harus bersikeras menjadi seperti itu? Kalo gitu biar dia aja. Ah Wei meletakkan tangannya di atas tangan Tingen menggantikan Fenqing. Kali ini giliran Fenqing yang menariknya. Bos mafia menegur mereka berdua. Berhentilah membuat keributan. Ia mempersilakan Tingen untuk memulainya. Ok.Tingen mengambil pisau itu. Fenqing memanggilnya tapi Tingen udah nggak peduli. Ia meminta Fenqing agar percaya padanya. Tingen akan segera memulai aksinya. Bos mafia tersenyum sementara Fenqing dan Ah Wei tampak cemas. Tingen mengangkat pisaunya dan mulai menancapkan pisau itu diantara sela-sela jarinya dengan sangat cepat. Semua orang pada bengong melihatnya. Sampai akhirnya waktunya habis. 


Tingen mengangkat tangannya yang nggak terluka sama sekali. Semua orang pasar malam bertepuk tangan. Bos mafia itu kagum dengan kemampuan Tingen. Mistis sekali. Ia mengangkat jempolnya. Impresif. Yang satu itu hebat. Tingen tersenyum. Bos mafia itu bangkit dan mengulurkan tangannya bermaksud menyalami Tingen. Tingen bangkit dan bersalaman dengannya. Iaberterima kasih. Bos mafia memerintahkan anak buahnya untuk membebaskan tuan Chen. 


Tingen bertanya bisakah dia pergi sekarang? Tentu saja, jawab bos mafia. Tingen mengajak Fenqing untuk pergi bersamanya. Bos mafia meminta Tingen untuk datang lagi lain kali untuk mengajarinya. Sesampainya diluar, Tingen memarahi Fenqing. Dia ini koki apa preman? Jawab! Dia koki apa preman? Seorang pemasok gas mendapat kesulitan dan Fenqing memanggil semua orang untuk pergi ke bos mafia untuk bernegoisasi. Fenqing kira dirinya bos mafia? Fenqing menjelaskan meskupun tuan Chen bukan bagian dari pasar malam, dia masih menghasilkan uang melalui pasar malam. Mereka harus membantu satu sama lain. Tingen menanyakan lalu berdasarkan itu kalo anak tetangganya nggak punya uang untuk kuliah, maka Fenqing akan membantunya membayarnya? Apa yang harus dilakukan olehnya? Dia melakukan kesalahan, maka biarkan saja dia menanggung konsekuensinya sendiri. Kenapa Fenqing pergi untuk menolongnya? Fenqing bukannya menolongnya, ia hanya merugikan dirinya sendiri. Ia nggak membiarkan dia menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Tapi nggak papa kalo Fenqing ingin membuang waktunya sendiri. Tapi keluarganya? Fenqing punya ibu, kan? Gimana dengan masa depannya? Fenqing merasa nggak bisa membiarkannya begitu aja. Nggak peduli jika meminjam uang untuk membantu bos Chen membayar hutang-hutangnya atau mengemis pada bos Long. Mereka orang dari pasar malam pasti nggak akan meninggalkan kawan-kawannya. 


Fenqing udah mau pergi tapi Tingen enarinya kembali sehingga mereka kembali berhadap-hadapan. Fenqing bilang bahwa orang-orang yang ia kenal adalah temannya?Fenqing membenarkan. Kalo suatu hari sesuatu yang buruk terjadi pada Tingen, apa Fenqing juga akan melangkah maju dengan berani untukknya? Tentu aja, jawab Fenqing dengan yakinnya. Baik. Kalo gitu Tingen meminta Fenqing berjanji padanya beritahu dia kalo hal seperti itu terjadi lagi. Karena saat ini Fenqing masih menjadi karyawannya. Fenqing mengiyakan. Ia mengerti. Dan karena masalah itu udah selesai, Tingen pikir Fenqing nggak perlu balik lagi kesana. Kembali ke restoran bersamanya. Tingen menarik Fenqing bersamanya sebentar kemudian dia berhenti lagi. Mereka harus kembali kepasar ikan dulu untuk mengambil mobilnya. 


Ah Wei memanggil Tingen. Ia bisa berjalan dengan normal, kenapa harus terus memegang tangan Fenqing nya? Tingen mengangkat tangan Fenqing lalu melepaskannya. Fenqing bilang ke Ah Wei kalo nggak papa. Tingen udah banyak membantu mereka tadi. Ah Wei mengatakan kalo itu bukanlah apa-apa. Kalo Ah Wei sekaya Tingen, dia juga akan berani untuk bermain dengan taruhan besar. Fenqing membalas kalo itu adalah Ah Wei, semua jari-jarinya akan menghilang. Bermain di taruhan tinggi seperti itu?! 


Ah Wei minta pada Tingen agar ikut dengannya sebentar. Fenqing menghadang, apa yang Ah Wei lakukan?  Ah Wei ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Tingen. Tentang apa? Tingen bilang nggak papa pada Fenqing. Ia juga ada yang ingin di bicarakan pada Ah Wei. Akhirnya Fenqing membiarkan mereka berdua


Tingen dan Ah Wei berjalan agak jauh dari Fenqing. Ah Wei mengingatkan Tingen saat ia dan Fenqing pergi ke pelabuhan pagi tadi, seseorang diam-diam mengambil gambar mereka dan memposting di web. Apakah Tingen melihat gimana orang lain bicara tentangnya? Banyak orang yang mengatakan bahwa karena Tingen, Fenqing telah berubah menjadi phoenix (orang yang berstatus lebih tinggi). Mereka bahkan mengatakan kalo Fenqing bertaruh pada harta sepertinya. Bukankah itu jelas mengatakan bahwa Fenqing-nya adalah seorang gadis matrealistis? Tingen membiarkan orang lain mengatakan hal-hal itu padanya. Apakah Tingen tahu berapa banyak hal itu akan menyakitinya? Tingen ingin bertanya pada Ah Wei. Apakah menurutnya Fenqing memiliki bakat yang berhubungan dengan keterampilan kuliner?  Ah Wei menjawab tentu aja. Tingen juga merasakan hal itu. Itu sebabnya ia berpikir adalah baik bagi Fenqing untuk belajar memasak darinya. Terus menerus bersama dengan orang seperti Ah Wei, orang pasar malam yang hanya penuh kekacauan, itu srpenuhnya membuang waktunya. 


Ah Wei jadi emosi. Ia mencengkeram pakaian Tingen, apa yang ia katakan? Apa haknya berkata begitu? Tingen melihat tangan Ah Wei dan berkata padanya kalo ia akan mendapat angka lagi. Itu sebabnya Ah Wei merasa sangatnggak aman sekarang dan berencana untuk memukul Tingen mundur. Ah Wei terdiam. Tingen melanjutkan perkataannya, sebenarnya Ah Wei bisa merasa nyaman. Selain mengajar keterampilan kuliner, Tingen nggak akan melakukan hal lain lagi pada Fenqing. Kalo Ah Wei benar-benar ingin yang terbaik untuk Fenqing, maka jangan menghalanginya. Biarkan Fenqing belajar dengannya. Fenqing akan menjadi lebih baik. Pelan-pelan Ah Wei melepaskan tangannya. 


Tingen meninggalkan Ah Wei menuju motor Fenqing. Ia memberi isyarat pada Fenqing agar mengikutinya. Fenqing pamit pada Ah Wei lalu membonceng Tingen. Ah Wei nyuruh Tingen untuk nunggu dan melihat. Orang yang akan membiarkan Fenqing sukses di masa depan pastilah dirinya. 


Tingen dan Fenqing sudah ada di dapur La Mure. Tingen menepuk tangannya dan nyuruh semua orang untuk menghentikan pekerjaannya dan berkumpul disana. Tingen meminta celemek pada Brian. Semua koki berbaris di hadapan Tingen. Sebelum buka untuk berbisnis, Tingen ingin bermain game dengan mereka semua. Ia ingin menguji mereka untuk membuat makanan penutup. Siapapun yang terbaik bisa membantu sous chef dengan layanan meja. Tema ujiannya adalah flambe buah eksotik. Selain Brian, semua harus ikut. Termasuk Fenqing. Kalo Xiaobin nggak perlu. Tingen menyuruhnya bergeser ke samping. Tingen akan memperlihatkan sekarang. Fenqing dan yang lain melihat dengan seksama. Fenqing memujinya, sangat keren. Tingen udah selesai. Gitu aja. Sangat sederhana. Tingen memperbolehkan mereka untuk mencicipinya atau memulai tes. Tanya sama Brian kalo ada yang nggak di mengerti. Kalo udah selesai, masukkan ke dalam. Satu orang yang menbuat yang terbaik bisa memiliki libur khusus. Tingen membubarkan mereka. Xiaobin menyemangati mereka untuk kembali bekerja. Ini adalah libur khusus bukan pameran. 


Fenqing bertanya pada Xiaobin apa itu libur khusus? Xiaobin menjelaskan, off dalam bahasa Inggris mengacu pada cuti. Untuk mereka itu disebut kepergian khusus. Selain nggak memasak untuk malam, Fenqing bahkan dapat berkencan dengan kepala koki. Kencan? Tanya Fenqing nggak ngerti maksudnya. Tentu aja, selain makan bersamanya, dia juga akan mengajarinya beberapa rahasia cara memasak. Untuk saat pertama sepertinya di dapur, itu adalah kebaikan yang sangat besar. Pastikan untuk dapat meraihnya. 


Oh iya, Xiaobin masih ingat selama satu libur khusus, manajer umum bahkan mengajak orang itu ke pertanian, untuk mengajari mereka bagaimana membuat keju. Dia juga mendapatkan seorang ahli dalam penelitian keahlian memasak molekuler memakan masakannya. Tingen bahkan meminta ahlinya tentang bagaimana menguji rasa molekuler keahlian memasak, dan bagaimana memahami esensi batin. Fenqing melongo mendengar penjelasan Xiaobin yang panjang lebar itu. Apa sehebat itu? Tentu aja. Kenapa lagi Restoran La Mure menjadi terkenal seperti ini? Selain ketampanan pribadi Xiaobin, itu karena keterampilan kuliner manajer umumnya dan reputasinya. Dan juga karena dia nggak menyembunyikan rahasia dari koki-nya untuk meningkatkan keterampilan mereka. Bahwa mereka tkedua mendapatkan semacam prestasi ini. Fenqing menepuk bahu Xiaobin sambil memanggilnya tampan. Xiaobin yang gr cuman membalas tentu aja. 


Fenqing dan koki lainnya lagi sibuk membuat masakan yang tadi dicontohkan oleh Tingen. Mereka terlihat sangat serius mengerjakannya. Fenqing beranjak dan memilih anggur. Ia mencium semua anggur itu dan menemukan satu yang ia rasa cocok. Ia menggunakan anggur itu untuk membuat flambe ala Fenqing. Ia membuat yang sama persis dengan yang di buat oleh Tingen barusan. 


Tibalah saatnya penilaian.Tingen mencicipinya satu persatu dan memberi penilaiannya. Masakan yang pertama, ia nilai enak. Yang kedua ia rasa terlalu manis. Gulanya mengkristal karena udah dimasak terlalu lama. Yang ketiga nggak buruk, sampai gilirannya Fenqing. Ia tersenyum menyaksikan ekspresi Tingen setelah mencicip. Tingen buka suara. Dari keempatnya, Fenqing adalah yang paling...tidak termakan. Seketika senyum Fenqing langsung menghilang. Miliknya banyak rasa dicampur bersama-sama. Tingen benar-benar nggak tahu anggur mana yang di gunakan untuk di campur. Tingen bahkan nggak akan berbicara tentang melapisi, belum terlalu bagus. Tingen ingin coba lagi. Lanjutkan. Semua koki menjawab ya, chef secara serempak. Brian ngasih tahu semua buat menunjukkan. Jangan seperti monyet. Cepat kerja!


Fenqing mengambil flambe-nya. Padahal ia udah menambahkan anggur. Ia mengambil garpu dan mencicip. Ia berpikir apa yang hilang? Itu emang terasa sedikit aneh. 


Tingen kembali ke ruangannya. Jadi Fenqing nggak tahu banyak tentang anggur? Tingen duduk di mejanya dan membaca sebuah  undangan pesta koktail anggur. Tianzhi datang. Tingen menyapanya dan bertanya ada apa? Tianzhi membawakan anggur untuknya. Itu adalah 1788 Bache brandy. Tingen menerimnya. Itu benda yang cukup mahal. Kenapa Tianzhi memberikannya untuknya? Tianzhi mengatakan kalo itu untuk Tingen bawa sebagai hadiah anggur besok. Tingen nanya itu ide nenek atau ibu tirinya? Tianzhi tersenyum. Tentu aja itu ide ibu tiri. Baiklah, Tingen akan membawanya. Srlain itu Tianzhi ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Tingen. Tianzhi mengirim karangan bunga untuk Ruxi hari ini. Tianzhi mengiriminya bunga? Kenapa? 


Ruxi sedang melakukan wawancara. Reporter berterima kasih padanya karena udah menerima wawancara hari ini. Reporter itu tahu kalo Ruxi menulis review tentang La Mure dan kokinya, Huo Tingen. Apakah Ruxi tahu tentang pasar malam versi Huo Tingen di internet? Warga sipil Huo Tingen? Tanya Ruxi seolah dia nggak tahu tentang hal itu. Ruxi merasa belum pernah mendengarnya. Siapa dia? Reporter itu mengambil ponselnya dan mau memperlihatkan gambar Tingen saat bersama dengan Fenqing di pelabuhan tadi pagi. 


Tapi hal itu belum sempat Ruxi lihat jarena ada seseorang yang mengirim bunga untuknya. Ruxi meletakkan bunga itu setelah mengambil kartu yang terselip diantara bunga. Untuk Gina. Sebuah mawar dengan nama lain, akan beraroma manis. Dari Tingen. 


What? Tingen nggak percaya Tianzhi mengirimkan bunga atas namanya. Apa dia udah gila? Jujur, menurut Tianzhi nggak mudah bagi ibu untuk membiarkannya ketemu dengan Meng Ruxi. Selama ini Tingen nggak melakukan apa-apa. Tianzhi hanya memberinya dorongan. Tingen memegangi kepalanya. Ia rasa itu bukanlah sebuah dorongan. Ia akan mengatakannya pada Tianzhi, wanita adalah makhluk yang sangat sensitif. Kalo dia mengirim bunga secara acak, akan sangat mudah bagi mereka untuk salah paham. Tianzhi bangkit dan menanyakan apa masalahnya? Mengirim bunga adlah hal yang paling dasar. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, sampai akhirnya Xiaobin datang dan ngasih tahu kalo Meng Ruxi yang unik ada di sana. Gina! Tianzhi tersenyum senang dan merangkul kakaknya. Pasti Ruxi datang untuk berterima kasih atas bunganya. Ia udah membantu Tingen dengan kesempatan ini. Nggak buruk, kakaknya terlihat tampan hari ini. Ia akan pergi sekarang. Ia nggak akan mengganggunya. Tianzhi ngajak Xiao bin untuk pergi bersamanya. Tingen berusaha memanggilnya. Apa Tianzhi benar-benar ingin mencekiknya sampai mati? Xiaobin memberitahu kalo ia nggak ada niatan untuk pergi. Bagus. Tingen merasa itu benar. Ia melarang Xiaobin pergi dan tetaplah disana bersamanya. Tianzhi kembali lagi untuk menarik Xiaobin. Tingen berusaha menariknya tapi nggak bisa. 


Ruxi masuk dan menyapa, hai. Seketika Tingen berbalik dan menyapanya. Kenapa Ruxi menemuinya? Ruxi berterus terang. Ia ingin berterima kasih atas bunganya. Itu sangat indah. Tingen asal bialng asal Ruxi menyukainya. Tingen mempersilakannya untuk duduk. Bukannya Ruxi ada wawancara hari ini? Gimana tadi? Ruxi menjawab kalo wawancaranya berjalan dengan baik. Karena di singgung perihal wawancara, Ruxi jadi ingat tentang apa yang di tanyakan oleh reporter padanya. Gimana bisa Tingen membiarkan "versi warga dari Huo Tingen" palsu untuk mendapatkan uang darinya? Ruxi bertanya tentang itu? Terus terang Tingen udah menetapkan itu. Sekarang warga sipil  Huo Tingen itu bekerja di restorannya. Tingen merasa ia membawanya di bawah kendalinya. Ruxi mengangguk dan bertanya siapa dia? Tingen ngasih tahu kalo namanya Wei Fenqing. Ruxi agak terkejut karena dia seorang wanita. Tingen tertawa. Ia menggambarkan Fenqing lebih seperti seorang pria. Ruxi tersenyum mendengarnya karena sepertinya itu bukan tipe Tingen. 


Ruxi berterima kasih atas bunganya. Ia benar-benar menyukainya. Tapi di bandingkan dengan bunganya, Ruxi lebih suka dengan apa yang tertulis di kartu. Tingen mengangguk. Ia mencoba mengalihkan dengan menawari Ruxi secangkir kopi. Ia akan mengambilkan untuknya. Ruxi setuju dan berterima kasih. 


Tingen keluar dari ruangannya dan menelpon Tianzhi. Ia bertanya kemana dia pergi? Dasar band*t. Tianzhi mebelinap pergi. Meng Ruxi bilang padanya kalo ada kartu beserta bunga. Tingen bertanya apa yang Tianzhi tulis dalam kartu itu? Tianzhi tersenyum. Ia menilai kalo kelihatannya hasilnya nggak terlalu buruk. Tingen nggak ngerti hasil apa. Dia kan udah bilang kalo dia nggak akan bermain dalam permainan itu??!! Ia akan mengatakan pada Ruxi kalo dia nggak mengirim bunga itu dan kartu itu, bukan dia yang menulisnya. Itu aja. Tianzhi meminta Tingen mendengarkannya, hati wanita itu sangat rapuh. Kali ini ia melarang kakaknya untuk jangan terlalu jujur. Jangan mengungkapkan itu dan jangan meminta maaf. Kalo Tingen benar-benar melakukannya, ia nggak bisa membayangkan konsekuensinya. Siapa yang peduli sama konsekuensinya? Tanya Tingen. Tingen merasa dia nggak bisa melanjutkan berbincang dengan Ruxi lagi. 


Ruxi tiba-tiba keluar dan menepuk bahu Tingen. Tingen langsung mematikan telponnya. Ruxi mengatakan kalo nggak ada kopi, air juga boleh. Dan juga ia sangat suka dengan bunganya. Tingen tersenyum. Bagus kalo Ruxi menyukainya. Lain kali Tingen akan mengirim yang lainnya. Ruxi bertanya apakah Tingen bersungguh-sungguh dengan apa yang ia tulis dalam kartu? Tingen tertawa, ia nggak tahu mesti ngomong apa. Ia memalingkan wajahnya dan melihat Fenqing yang nggak sengaja lewat. Ia membatin kalo Fenqing nggak bisa seharipun hidup tanpa catatan harian ayahnya. Ruxi bertanya ada apa? Tingen bilang bukan apa-apa. Sebenarnya ia senang Ruxi udah datang. Tapi ia tetap harus minta maaf. Karena Tingen harus melayani tamu VIP dan pelanggan malam ini. Itu sebabnya ia sangat sibuk saat ini. Ruxi mengangguk. Tingen sangat sibuk, kalo gitu iaakan segera pergi. Tingen meminta maaf. Ruxi pamit.


Xiaobin memanggil Fenqing. Ia memperlihatkan beberapa jenis anggur pada Fenqing. Fenqing tampak kagum. Beruntung Xiaobin pergi ke gudang anggur untuknya. Kalo Fenqing sendiri yang kesana, ia pasti akan sangat bingung. Xiaobin kira Fenqing bercanda. Nggak sulit menemukan minuman anggur untuk irang sepertinya. Tapi...bukannya seharusnya Fenqing membuat flambe? Fenqing akan mencoba anggurnya karena ia akan membuat itu. Xiaobin ingat kalo Tingen udah mendapatkannya untuk Fenqing. Emang bener, sih, tapi Fenqing ingin mencoba anggur yang lain dari yang udah dipiih oleh chef. Ia merasa banyak anggur yang lebih cocok untuk flambe. Xiaobin memujinya yang bekerja keras. Fenqing mengatakan kalo dalam catatan ayahnya, emang sedikit catatan tentang minuman anggur. Fenqing ingin menggunakan kesempatan ini untuk membuat rekor baru dengan rasa anggur yang berbeda. Melihat betapa seriusnya Fenqing dalam bejerja keras, dan betapa manisnya dia, Xiaobin akan membantunya mencari anggur yang tepat. Fenqing berterima kasih atas kebaikan Xiaobin. 


Fenqing kembali melihat-lihat anggur yang tadi di bawain Xiaobin. Ia mengambil satu, Pinot noir. Fenqing menuangnya sedikit ke dalam gelas dan mencobanya. Fenqing menilai pinot noir, punya aroma buah. Benar-benar enak. Fenqing menulisnya pada buku catatanya. 


Tingen tiba-tiba datang dan mengambil buku catatan milik ayah Fenqing. Ia bertanya apa yang Fenqing lakukan. Fenqing ngasih tahu kalo dia lagi mencicipi anggur. Tingen mengaku sangat bingung. Tingenemberiya lingkungan dan bahan-bahan yang baik tapi Fenqing tetap membawa catatan ayahnya dan ia juga terus melihatnya. Kenapa Fenqing datang ke La Mure-nya? Hanya dengan melihat catatan itu, apakah Fenqing bisa mempelajari gimana membuat kari lobster? Fenqing... Tingen bicara lagi kalo seorang koki yang bagus nggak hanya perlu mengerti bahan bakunya, tahu tentang rasa, tapi dia juga harus menjadi ahli dalam hal anggur mana yang cocok untuk hidangannya. Ayahnya udah lama meninggal. Hanya dengan membaca bukunya, apakah Fenqing benar-benar akan mampu membuat hidangan yang memenuhi standarnya? 


Fenqing menjawab enggak. Ia memakai catatan ayahnya karena ia... Tingen memotong, nggak ada hidangan di restorannya untuk Fenqing mengenang ayahnya. Pernahkah Fenqing berpikir tentang harapan untuk hidangan?  Orang-orang yang akan memakan masakannya? Nggak pernah? Fenqing hanya terus melihat pada buku catatan itu. Tapi untuk Tingen, buku catatan itu hanyalah sebuah buku resep kuno. Kalo Fenqing sangat menyukai buku itu, Tingen bisa pergi ke toko buku dan membelikan buku resep untuk Fenqing. Apakah ia nggak punya gagasannya sendiri dan opini tentang masakannya? Nggak punya? Fenqing nggak akan bisa membuat masakan yang baik, nggak peduli apapun yang ia lakukan. Apakah Fenqing benar-benar ingin belajar darinya? Fenqing menatap wajah Tingen dengan mata yang berkaca-kaca. Tingen sekali lagi bertanya apakah Fenqing ingin meningkatkan itu? Biar Tingen membantunya. Mulai hari ini , buku catatan itu akan menghilang. Maka Fenqing akan lebih baik. Tingen akan membuangnya. Tingen udah mau melepaskan buku itu di tenpat sampah tapi Fenqing melarangnya.

Bersambung...

Komentar:
Aku rada takut pas Tingen bertaruh dengan bos mafia. Saat ia menancapkan pisau diantara sela-sela jarinya. Untuk apa coba? Toh dia juga nggak kenal sama tuan Chen. Apa untuk Fenqing???

Ah, tapi rada sebel juga pas di akhir. Jahat banget Tingen marah-marahin Fenqing. Emang, sih maksudnya baik, tapi asal membuang barang milik orang lain, apalagi itu peninggalan orang terkasih yang udah nggak ada, bukanlah tindakan yang bagus. 

1 komentar:

Mbak...lanjutt donkk..
Semangatt...