Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 10 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 11 Part 2

Pengurus kelas sepuluh sedang berada di karaoke. Mereka berganti menyanyi dan menari bersama. Tapi Dan Yi tidak terihat berada bersama mereka.


Dalam perjalanan pulang, Xiaodong memuji suara Mu Xi yang bagus saat menyanyi lagu Bahasa Inggris di tempat karaoke tadi. Xiaodong lalu menyuruh Mu Xi merasa suara perutnya. Ia juga menyuruh Mu Xi bersuara untuk mengetahui jenis suara Mu Xi.


Xiaodong mendekat untuk mendengar suara Mu Xi agar lebih jelas. Tapi, seorang reporter diam-diam mengambil foto mereka.


Xiaodong berkata bahwa menurutnya suara Mu Xi adalah mezosopran. Mu Xi lalu berjalan sambil bersenandung asal-asalan dan tertawa.


Dua anak perempuan mengenali Mu Xi dari majalah yang mereka baca. Mu Xi bertanya apakah mereka saling mengenal. Kedua perempuan itu menggelengkan kepalanya, lalu buru-buru pergi. Mu Xi tidak mengerti.


Mu Xi berjalan dan semakin banyak orang yang mengikutinya, bahkan ada juga yang sudah menunggu kedatangannya. Setiap kali, Mu Xi menoleh ke belakang, orang-orang itu juga akan melakukan hal yang sama. 


Mu Xi berjalan lebih cepat lalu tiba-tiba menoleh ke belakang. “Kalian siapa?! Apa aku mengenal kalian?! Kenapa mengikutiku?!” tanya Mu Xi. Tapi mereka semua diam dan pura-pura tidak melihat ke arah Mu Xi. Mu Xi kemudian berlari.


Mu Xi mengintip dari balik dinding, tapi ia dikejutkan dengan kehadiran Dan Yi di belakangnya. Dan Yi memanggil Mu Xi, superstar. Mu Xi tidak mengerti. Ia menyusul Dan Yi yang sudah berjalan lebih dulu. Ia mengatakan pada Dan Yi bahwa hari itu terasa sangat aneh.


Dan Yi yang sadar bahwa Mu Xi belum tahu apa yang terjadi, memberikan ponselnya pada Mu Xi. “Hah?! Apa ini?!” teriak Mu Xi dan hampir melempar ponsel Dan Yi. Dan Yi merebut kembali ponselnya dan kembali berjalan.


Dan Yi bertanya apakah Mu Xi berkencan dengan Xiaodong. Mu Xi menjawab bahwa itu tidak benar. Setelah sadar bahwa mereka adalah paparazzi, Mu Xi berbalik dan akan menemui mereka. Tapi Dan Yi menarik tas Mu Xi dan menyuruhnya tenang. Menurut Dan Yi, Mu Xi harus berdiskusi terlebh dulu dengan Xiaodong.


Mu Xi sudah sampai di sekolah. Ia yakin kalau Shanqi akan mempercayainya. Tapi kemudian, Mu Xi menghalangi jalan Dan Yi. “Ada aura pembunuh,” kata Mu Xi waspada.


Di depan mereka sudah ada Shanqi yang membawa lap pel dengan aura api di sekelilingnya.


Dan Yi: “Shanqi, apa yang kau lakukan disini?”
Shanqi: “Menunggu.”
Dan Yi: “Menunggu apa?”
Shanqi: “Ye Mu Xi.”


Sementara itu, Mu Xi mengendap-endap masuk ke sekolah. Shanqi menanyakan pendapat Dan Yi apakah Mu Xi mengkhianatinya dan berkencan dengan Xiaodong. Dan Yi menyarankan agar Shanqi tenang dan bersikap rasional.


Shanqi menoleh ke belakang dan ia melihat Mu Xi. “Ye..Mu..XI,” kata Shanqi menyeramkan. Mu Xi melambaikan tangannya ke arah Shanqi dengan ketakutan. Dengan membaca lap pelnya, Shanqi mengejar Mu Xi yang berteriak ketakutan.


Dan Yi pasrah.


Masih dengan aura apinya, Shanqi menggeret lap pelnya mencari keberadaan Mu Xi. Mu Xi bersembunyi di balik dinding tidak jauh dari sana. Tapi tiba-tiba, dua buah tangan membaca Mu Xi pergi.


Mu Xi dibawa ke dalam mobil untuk menemui Annie, manajernya Xiaodong. Mu Xi bilang ia bisa mengatasi masalahnya sendiri dan berusaha turun, namun tidak bisa karena bodyguard terus menahannya.


Xiaodong menengok dari kursi depan dan meminta maaf pada Mu Xi. “Ini cerita yang dibuat paparazzi. Ini semua salahku. Kalau kau marah, pukul saja aku,” kata Xiaodong. Manajer Annie menyuruh Xiaodong tenang, karena sekarang ini bukan hanya masalah pribadi Xiaodong, melainkan sudah terkait dengan kepentingan perusahaan.


Manajer Annie lalu bertanya apa yang bisa mereka lakukan agar Mu Xi menjauh dari Xiaodong. Mu Xi berkata bahwa disini dialah yang menjadi korban. Manajer Annie menuduh Mu Xi mengambil keuntungan dari pemberitaan itu. Mu Xi tentu tidak terima dan tetap bertekad akan menyelesaikan masalahnya sendiri. 


Manajer Annie mengatakan bahwa Mu Xi harus mengklarifikasi masalah ini pada acara konferensi pers esok hari. Manajer Annie juga menyuruh mereka agar tidak berdekatan dan tetap diam di rumah. Setelah itu dia baru mengizinkan Mu Xi pergi.


Mu Xi sudah mulai belajar di kelas. Saking kesalnya, ia kemudian berimajinasi.


Kaisar Mu Xi mengumpulkan para menterinya dan bertanya apa yang harus ia lakukan untuk kasus Xiaodong. “Perang atau damai?” tanya Mu Xi.


Seorang menteri mengatakan bahwa Mu Xi harus mengakhiri semuanya. Ia meminta sepuluh ribu pasukan berkuda untuk membunuh semua keluarga dan klan para paparazzi itu.


Menteri Li tidak setuju dengan usulan tersebut, namun ia memberikan alasan yang tidak jelas. Menteri pertama meralat ucapannya dan hanya meminta 200 pasukan. Tapi Menteri Li kembali menolak, menurutnya Mu Xi tidak boleh melakukan hal buruk yang sama seperti mereka.


Menteri Li lalu bersujud dan mengatakan bahwa apapun yang terjadi ia akan setia pada Mu Xi. Ia kemudian mulai membaca puisi yang sangat panjang. Selama ia membacakan puisi itu, angin berhembus sepoi-sepoi.


Kaisar Mu Xi: “Apa yang kau katakan apakah ada kaitannya dengan apa yang aku derita sekarang?”
Menteri Li: “Tidak, Yang Mulia. Saya hanya ingin memerkan bakat saya. (Wkkkk si Mu Xi udah nunggu-nunggu ternyata ngga berguna)
Kaisar Mu Xi: “Penggal kepalanya!”
Menteri Li: “Yang, aku hanya ingin pamer.”


Menteri lain lalu membawa pergi Menteri Li.


Mu Xi menghentikan imajinasinya dan tampak berpikir dengan serius.


Saat istirahat, Xin Yi mengintip dari balik dinding dan memperhatikan Dan Yi yang sedang berjalan sambil membaca buku. Ketika Dan Yi semakin dekat, Xin Yi menyembunyikan dirinya.


Xin Yi berimajinasi bahwa dia dengan tiba-tiba datang ke hadapan Dan Yi dan tidak sengaja membuat buku yang ia   dan Dan Yi bawa jatuh berserakan, lalu mereka mengambilnya bersama-sama. Mereka saling tersenyum. Dan Yi meminta maaf, karena ia tidak memperhatikan jalan.


Tanpa sengaja, tangan Dan Yi dan Xin Yi bersentuhan, saat mereka sedang mengambil buku dan kertas yang terjatuh sebelumnya.


Mereka kemudian saling bertatapan.


Xin Yi tersenyum membayangkan imajinasinya yang indah. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sengaja berjalan ke hadapan Dan Yi dan melemparkan buku-buku yang ia bawa. Sayangnya, buku itu malah mengenai kepalanya sendiri.


“Nona Xin Yi! Aku disini!” teriak teman Xin Yi yang berlari ke arahnya. Setelah sampai di hadapan Xin Yi, ia berkata bahwa ia bisa mendengar suara Xin Yi walaupun jauhnya ratusan meter. Teman Xin Yi lalu menyuruh Dan Yi pergi.


“Maaf,” kata Dan Yi lalu pergi meninggalkan Xin Yi.


Xin Yi sangat kesal sampai-sampai ia memukul kepala temannya dengan buku. Padahal temannya itu sedang mengkhawatirkannya dan menasehatinya agar lebih berhati-hati. [crstl]