Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 11 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 12 Part 1

Manajer Annie mengatakan pada Xiaodong bahwa konferensi pers yang mereka ada adakan tidak berjalan dengan lancar. Dia menyarankan agar Xiaodong melakukan konferensi pers lagi, namun sebelum itu Xiaodong akan melakukan serangkaian kegiatan dengan seorang idola bernama Angel dan menghasilkan berita yang bagus.


Xiaodong bilang Angel lebih tua darinya, tapi menurut Manajer Annie cinta kepada wanita yang lebih tua sedang tren. Manajer Annie juga meminta Xiadong tidak perlu khawatir dengan respon teman-teman sekelasnya.


Manajer Annie bilang dia sudah membicarakannya dengan orang tua Xiaodong dan akan menyiapkan urusan pemberhentian sekolah Xiaodong. Manajer Annie bilang beberapa tahun kemudian ia akan membantu Xiaodong agar dapat meneruskan kuliah di luar negeri.


Xin Yi kembali bersembunyi di balik dinding dan bersiap menjalankan rencana berikutnya.


Rencananya adalah ia akan berlari ke arah Dan Yi yang sudah menunggunya sambil tersenyum. Xin Yi lalu menggandeng Dan Yi dan mengajaknya melihat matahari terbenam. Mereka kemudian berlari bersama-sama.


Mereka kemudian menunggu matahari terbenam sambil bergandengan tangan dan saling menatap satu sama lain.


Xin Yi keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari ke arah Dan Yi. Sayangnya dari salahsatu ruangan terjadi ledakan dan wajah Xin Yi menjadi putih. Dua Huang keluar dari ruangan itu sambil berlari.


Direktur Yan dengan wajah putih keluar dari ruangan yang sama. “Kalian anak nakal, berhenti disana!” teriaknya, lalu mengejar dua Huang.


Xin Yi masih shock. Dan Yi menghampirinya dan berkata, “Guan Xin Yi, maaf. Teman sekelasku membuatmu menderita seperti ini.” Setelah Dan Yi pergi, Xin Yi baru bisa bernapas dan berusaha menahan emosinya.


Di suatu tempat, Xiaodong memainkan piano dengan sangat indah.


Sedangkan Mu Xi sedang sibuk dengan ponselnya di rumah.


Xiaodong mengecek ponselnya yang berdering. Ia ragu untuk mengangkatnya, karena ia teringat pesan Manajer Annie yang melarangnya untuk berdekatan dengan Mu Xi untuk sementara waktu. Manajer Annie tiba-tiba datang dan merebut ponselnya. Ia menyuruh Xiaodong agar kembali berlatih.


Mu Xi kebingungan, karena Xiaodong tidak juga mengangkat telepon darinya.


Keesokan harinya, di sebuah cafe outdoor, Mu Xi terkejut saat membaca artikel di ponselnya.


Kaisar Mu Xi kembali meminta nasihat dari para menterinya. “Xue Xiaodong akan putus sekolah. Jadi, haruskah aku menghentikannya atau tidak?”


Menurut Menteri pertama, itu semua mungkin keinginan Xiaodong sendiri dan akan membantu karis masa depannya. Dia menyarankan agar Mu Xi membiarkan hal itu terjadi, karena akan mengurangi masalahnya sendiri.


Menteri Li (yang kembali hidup setelah dipenggal haha) kembali menolak saran menteri pertama. Menurutnya, Mu Xi adalah sahabat Xiaodong, jadi Mu Xi pasti tahu kalau Xiaodong sangat senang berada di kelas sepuluh.


Mu Xi: “Siapa yang harus aku dengarkan?”
Kedua Menteri: “Dengarkan hati Yang Mulia sendiri. Lagipula Yang Mulia adalah Kaisar.”


Dengan didampingi Manajer Annie, Xiaodong melakukan konferensi pers lagi dan kali ini bersama idola bernama Angel. Manajer Annie mengingatkan agar Xiaodong terus tersenyum. 


Selain para reporter, para penggemar pun datang dengan membawa poster dan mengelu-elukan nama Xiaodong. Manajer Annie mengatakan bahwa Xiaodong dan Angel bekerja sama dalam sebuah film dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Xiaodong tersenyum dengan agak terpaksa.


Saat sesi tanya jawab, seorang reporter bertanya bagaimana pendapat Xiaodong tentang Angel. Xiaodong menjawab, “Dia gadis yang baik. Kami... teman yang sangat baik.” Orang itu bertanya lagi tentang seberapa indahnya cinta pandangan pertamanya.


Melihat Xiaodong yang ragu, jadi Angel menjawab pertanyaan tersebut. “Kami sangat pendiam. Kami sangat dekat bukan hanya di lingkungan kerja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Angel sambil pura-pura tersipu. Para hadirin bertepuk tangan. Reporter kedua kemudian mengajukan pertanyaan.


Reporter 2: “Bagaimana dengan kejadian sebelumnya dengan Ye Mu Xi?”
Xiaodong: “Itu hanya salah paham...”
Man. Annie: “Kami juga mempertimbangkan tentang putus sekolahnya.


“Xue Xiaodong!” teriak Mu Xi yang tiba-tiba datang bersama teman kelas sepuluh lainnya.Para reporter langsung mengambil foto Mu Xi. “Ada yang ingin kukatakan! Katanya kau mau putus sekolah, benarkah?” Manajer Annie ingin ikut bicara. “Diam! Biarkan dia bicara!” kata Mu Xi lagi.


Xiaodong terdiam. Tak lama kemudian, ia mulai bicara, “Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan sekolah ini. Aku tidak ingin meninggalkan teman sekelasku. Aku juga tidak ingin ambil bagian dalam film ini. Aku dan Angel pun belum terbiasa.”


Manajer Annie bertambah bingung saat ia melihat Angel meninggalkan kursinya. Xiaodong kembali melanjutkan jawabannya. Ia berkata bahwa ia hanya akan bekerja setelah jam sekolahnya selesai. “Aku sangat mencintai teman sekelasku di kelas sepuluh. Karena aku sangat mencintai belajar.”


Shanqi dan dua Huang mengangkat tangannya dan berteriak bahwa mereka juga suka belajar. “Aku.. aku tidak suka belajar,” gumam Mu Xi. Shanqi membisikinya bahwa Mu Xi juga harus mengatakan itu. Akhirnya Mu Xi mengangkat tangannya dan berteriak, “Aku suka belajar!”


Manajer Annie berusaha mengatasi keadaan. Ia lalu mengatakan bahwa mereka disana sebenarnya bukan untuk peluncuran film. Manajer Annie bilang kalau Xiaodong sangat mencintai teman-temannya dan bagi mereka yang mencoba merusak nama baik Xiaodong, maka mereka akan mengambil langkah hukum.


Manajer Annie menyuruh Xiaodong pergi bersama teman-temannya dan dia sendiri yang akan mengatasi para reporter.


Keesokan harinya, Mu Xi masuk ke dalam kelas dan menyapa Xiaodong dengan memukul bahunya. Mu Xi mengobrol bersama Xiaodong sebentar, lalu duduk di kursinya sendiri. Shanqi sepertinya cemburu melihat keakraban mereka.


Shanqi lalu menulis sesuatu dan memberikan kertasnya pada Mu Xi. “Makan siang dengan Xue?” baca Mu Xi dengan keras. Mu Xi lalu menanyakannya pada Xiaodong dan dia setuju. Shanqi hanya bisa menutupi wajahnya.


Masih di area sekolah, Xin Yi tampak memainkan rambutnya. Ia kembali berimajinasi.


Dengan sengaja, Xin Yi memainkan rambutnya di dekat Dan Yi. Perlahan, Dan Yi yang mencium aroma harum rambut Xin Yi menghampirinya. Dan Yi mengambil rambut Xin Yi dan mencium keharumannya lebih dekat.


Namun pada kenyataannya, ketika Xin Yi mengibaskan rambut, Dan Yi bukannya terpesona, tetapi malah ia terbatuk karena asap yang tiba-tiba datang.


Ternyata asap itu berasal dari hotpot milik Mu Xi yang sedang makan siang bersama Xiaodong dan Shanqi. Dan Yi dan Xin Yi menghampiri mereka. Xin Yi ingin menegur mereka, namun Mu Xi bilang apa yang mereka lakukan itu tidak melanggar peraturan sekolah. Xiaodong mengajak Dan Yi untuk bergabung bersama mereka, namun Dan Yi bilang dia ada keperluan lain.


Xin Yi memanggil Dan Yi, tapi tidak dihiraukan. Akhirnya Xin Yi menghalanginya. Dan Yi berusaha menghindar, namun Xin Yi menghalanginya. Xin Yi menanyakan sesuatu, tapi Dan Yi minta maaf karena ia harus melakukan sesuatu.


Lagi-lagi Xin Yi kecewa dan hanya bisa melihat kepergian Dan Yi begitu saja.


Saat perjalanan pulang sekolah, Xin Yi kembali mengejar Dan Yi dan memanggilnya. Xin Yi berjalan mendekat dan berkata bahwa dia harus mengatakan sesuatu saat itu juga walaupun Dan Yi tidak mau mendengarnya.


Xin Yi membulatkan tekadnya, “Aku harus memberitahumu, Liao Dan Yi.” Tiba-tiba dua buah mobil datang dari arah berlawanan tepat di depan Xin Yi dan Dan Yi. “Liao Dan Yi, aku...” Kedua mobil itu membunyikan klaksonnya. “Liao Dan Yi, aku...” Klakson berbunyi lagi.


Xin Yi yang kesal kemudian meletakkan tasnya dan berjalan ke tengah dua mobil itu. “Diam!’ teriaknya. Dia kemudian memarkir kedua mobil itu, hingga akhirnya kedua mobil dapat lewat dengan lancar.


Xin Yi mengatur napasnya dan mengungkapkan perasaannya. Dan Yi tidak menjawab apa-apa. Dia langsung pergi begitu saja.


Xin Yi terlihat sedih.