Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 12 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 13 Part 2

Mu Xi yang baru bangun tidur berjalan sempoyongan dan malas-malasan. Ia membuka kulkas yang hampir tidak ada isinya. Ia mengambil sesuatu lalu pergi ke meja makan, tapi tidak menemukan makanan untuk sarapan disana. Mu Xi lalu membangunkan Kak Yihan yang masih tertidur nyenyak di sofa.


“Kakak sudah berubah,” gumam Mu Xi yang terus berusaha membangunkan kakaknya. Kakak lalu membuka matanya dan mengakui kesalahannya. Ia bilang kalau ia benar-benar takut pada Mu Xi dan merasa menyesal tidak bisa menyiapkan makanan, karena harus memikirkan tentang cerita karangannya. Kakak meminta agar Mu Xi melepaskannya kali dan berterima kasih. “Aku kelaparan,” kata Mu Xi pelan. Lalu ia berteriak, “Aku kelaparan sampai mau mati!”


Kakak lalu memberikan selembar leaflet pada Mu Xi dan berkata dengan nada lemas dan mengantuk, “Pergi sejauh 2 mil, belok kiri, ada tempat kuliner yang baru saja dibuka. Tempatnya sangat bagus, toko makanannya seperti awan. Intinya adalah itu berisi makanan yang paling kau sukai.” Kakak membuka matanya dan Mu Xi sudah tidak ada disana.


Di luas tempat kuliner, beberapa pelayan menawarkan menu hotpot di restoran mereka masing-masing. Mu Xi datang kebingungan harus memilih makan dimana, jadi dia bertanya pada teman imajinasinya.


Dinosaurus merekomendasikan hotpot Sichuan yang ada di sebelah selatan, sedangkan si Kuda merekomendasikan restoran yang ada di utara yang terkenal dengan dagingnya. Dan akhirnya mereka bertengkar sendiri saling mengunggulkan utara dan selatan.


Mu Xi tidak mempedulikan 2 pelayan yang terus membujuknya untuk datag ke restoran mereka. Mu Xi berjalan masuk, tapi 2 pelayan itu terus mengikutinya.


Mereka saling menjelekkan restorannya satu sama lain, dan memuji restoran mereka sendiri. “Cukup cukup! Aku sudah selesai makan!” kata Mu Xi sambil berjalan pergi. 2 pelayan itu terus mengikuti Mu Xi dan menarik-nariknya. “Cukup!”


Tidak jauh dari tempat kuliner, Xin Yi sedang berfoto selfie di pinggir jalan sambil tersenyum-senyum sendiri.


Sedangkan Dan Yi sedang mengendarai sepedanya di jalan raya. Sayangnya, ia tidak sengaja hampir menabrak Mu Xi yang tiba-tiba muncul di depannya.


Dan Yi: “Apa kau tidak punya mata?”
Mu Xi: “Kau buta. Ayo jelaskan, kau jelaskan! Setiap saat selalu seperti itu, untuk kesalahan kecil atau besar, kau menyalahkanku sepanjang jalan. Apa yang aku lakukan?”


Suara Mu Xi cukup keras, hingga orang-orang berkumpul mengeremuninya. Xin Yi yang berada di seberang jalan pun bisa mendengarnya. Karena penasaran, Xin Yi pun pergi menuju kerumunan itu.


Dan Yi meminta Mu Xi melupakannya saja karena dia harus pergi untuk suatu urusan. Tapi Mu Xi menahannya, karena Dan Yi harus meluruskan masalah mereka terlebih dulu. Tiba-tiba terdengar suara, “Semua menyingkir!” Dan beberapa orang membiarkan Xin Yi lewat.


Xin Yi berjalan dan menatap sinis pada Mu Xi, lalu tersenyum pada Dan Yi dan menyapanya. Saat menyadari masih banyak orang disana, Xin Yi berkata lagi, “Menyingkir dari sini!” Dan kali ini semua orang pergi.


Xin Yi kemudian menyapa Mu Xi dengan sok ramah dan menanyakan apa yang mereka perdebatkan. Mu Xi menyuruh Xin Yi pergi karena itu bukan urusannya. Xin Yi lalu bertanya kemana Dan Yi akan pergi, karena supirnya ada di dekat sini dan bisa memberikan tumpangan. “Tidak terima kasih, aku akan bersepeda sendiri,” jawab Dan Yi.


“Liao Dan Yi! Kau tadi buru-buru pergi bersamaku. Bukankah kau akan maka hotpot bersamaku?” Xin Yi terkejut dan Dan Yi tidak mengerti apa maksudnya. Mu Xi lalu memberi kode dengan ekspresi wajahnya, dan Dan Yi akhirnya mengerti.


Dan Yi: “Oh ya. Ayo cepat makan.”
Mu Xi: “Ayo pergi.”
Xin Yi: “Tunggu! Kemana kalian pergi, aku juga ikut.”
Mu Xi: “Kenapa?”
Xin Yi: “Hmm.. karena kata sekolah, untuk mencegah siswa dari cinta remaja yang salah, anak laki-laki dan perempuan tidak bisa keluar dan bermain bersama. Jadi kemanapun kalian pergi, aku ikut.”


Xin Yi terlihat tidak terbiasa makan di tempat seperti itu. Mu Xi menyuruhnya pergi saja jika tidak suka makan disana. “Demi pekerjaan, aku bisa makan disini,” kata Xin Yi beralasan. Ia menemukan banyak debu di kursinya, tapi ia tetap duduk.


Seorang pelayan yang cerewet datang membawakan daftar menu untuk mereka. Mu Xi sudah memesan dan pelayan itu pergi. Xin Yi lalu menyindir orang seperti apa yang makan disana. Dia bilang, dengan siapa mereka bergaul, maka akan menentukan akan menjadi seperti apa mereka nantinya.


Saat makan, Xin Yi mengambilkan daging domba untuk Dan Yi, tapi Dan Yi bilang tidak suka. Mu Xi iseng mengambilkan daging domba dan langsung menaruhnya di mangkok Dan Yi. “Liao Dan Yi menyukai kata-kataku. Ambil daging ini, makan semuanya sampai habis,” kata Mu Xi smabil memberi kode agar Dan Yi memakannya.


Xin Yi sangat terkejut dan sedih, karena Dan Yi mau memakan daging yang tidak dia sukai. Xin Yi lalu menatap Mu Xi dengan penuh kebencian.


Karena sudah seharian bersama Mu Xi, Dan Yi pamit pergi dengan sepedanya. Mu Xi menatap kepergian Dan Yi dengan penuh kecurigaan dan menduga kalau Dan Yi terburu-buru karena akan melakukan sesuatu yang rahasia.


Mu Xi menghentikan sebuah taksi. Kepada supirnya, ia mengatakan bahwa akan melakukan apa yang biasa ada di TV. “Ikuti sepeda itu,” kata Mu Xi.


Mu Xi sampai di sebuah panti jompo. Ia heran apa yang Dan Yi lakukan disana dan merasa hal tersebut perlu diselidiki.


Mu Xi mengintai dan tiba-tiba ada seorang nenek yang memukulnya dengan sikat kayu. Nenek itu memakai bondu di kepalanya dan juga anting berbentuk bintang. Karena nenek itu terus memukulnya, Mu Xi berlari menghindar.


“Aku tidak kenal siapa nenek dan apa alasan nenek memukulku. Tapi jika nenek memukulku lagi, aku akan melawan,” kata Mu Xi yang tidak sengaja menemukan lap pel dan menggunakannya sebagai senjata. Nenek bilang Mu Xi sudah menindas orang dan hanya pahlawan Zorro yang dapat menyelamatkan masyarakat. “Aku tidak mengerti apa maksud nenek.” Lalu nenek berusaha memukul lagi dan Mu Xi menangkisnya.


Dan Yi tiba-tiba datang melerai mereka dan bertanya apa yang sedang Mu Xi lakukan. Mu Xi mengakui dengan jujur bahwa dia mengikuti Dan Yi kesana. Mu Xi menyuruh Dan Yi agar berhati-hati terhadap nenek itu. Dan Yi menyuruh Mu Xi menutup mulutnya. Lalu ia bertanya dengan lembut kepada nenek itu, “Nenek, apa kau baik-baik saja?”


Mu Xi terkejut sampai menjatuhkan lap pelnya, karena nenek itu adalah nenek kandung Dan Yi.


Dan Yi bercerita bahwa neneknya mulai pikun beberapa tahun lalu. Nenek jadi tidak bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang khayalan. Dan Yi datang setiap minggu untuk menemui neneknya.


Dan Yi menjelaskan bahwa nenek suka menonton film Zorro klasik dan Mu Xi pasti belum pernah menontonnya. “Apa itu bagus?” tanya Mu Xi.


Mu Xi lalu ikut menonton filmnya bersama nenek dan mereka menangis bersama. Nenek menceritakan filmnya dengan emosional. Saat film sudah selesai, nenek menoleh ke arah Mu Xi, lalu mengejar dan ingin memukulnya lagi.


Dan Yi menghalau sikat yang nenek bawa dengan menggunakan handuk. “Teknik ini? Dan YI!” Dan Yi senang karena nenek sudah mengenalinya.


Mereka lalu pergi ke kamar nenek. Mu Xi merapikan pakaian dan Dan Yi memotong kuku nenek. Nenek meminta Dan Yi bicara pada ayahnya agar membiarkannya tinggal sendiri daripada di panti jompo seperti itu. Nenek juga merasa bisa menghidupi dirinya sendiri. Dan Yi hanya tersenyum.


Ia lalu menghampiri Mu Xi dan mengajarkannya cara melipat pakaian yang benar. Walaupun sudah diajari, Mu Xi tetap tidak bisa melakukannya dengan baik. Nenek menatap mereka penuh dengan kecurigaan.


Nenek lalu duduk di samping Mu Xi dan memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Nenek kemudian mulai menginterogasi Mu Xi. Ia memberikan banyak sekali pertanyaan.


Mu Xi merasa dirinya sedang berada di kursi listrik dan neneklah yang memegang kendali listriknya. Karena merasa Mu Xi tidak memberikan jawaban yang jujur, nenek menyetrumnya.


Nenek bertanya apakah selama ini Mu Xi bisa lulus ujian. Nenek bilang Dan Yi selalu menjadi juara kelas dan juga ketua kelas. “Dia bukan ketua kelas,” kata Mu Xi. Nenek tidak percaya dan bertanya siapa ketua kelasnya. “Aku.” Dan nenek semakin tidak percaya, sehingga membawa Mu Xi kembali ke kursi listrik.


Nenek kembali membanggakan Dan Yi, dan tetap tidak percaya kalau sekarang Mu Xi-lah yang menjadi ketua kelas. Nenek menyetrumnya lagi.


Nenek tertawa dan mengatakan bahwa tidak mungkin Mu Xi menjadi ketua kelas. “Karena aku lebih kuat dari cucumu,” kata Mu Xi lalu pergi. [crstl]