Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 13 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 14 Part 2

Shanqi kesal karena ada satu gelembung di plastik anti gores ponselnya. Ia berusaha menghilangkan gelembung udaranya.


Shanqi kemudian terkejut ketika ada anak laki-laki dengan pakaian seragam yang sama dengannya sedang memainkan ponsel dengan banyak gelembung di layarnya. Shanqi yang penasaran kemudian mengikuti anak laki-laki dengan rambut berantakan dan berkacamata itu.


Shanqi mengikutinya sampai di depan sebuah kedai dan terkejut karena menurut internet, kedai itu hanya mendapat satu bintang. Tapi karena masih penasaran, akhirnya Shanqi masuk dan duduk di meja tamu.


Shanqi merasa malu dan berharap tidak ada yang melihatnya sedang berada disana. Tiba-tiba seorang pelayan datang sambil membawa semangkok mie. Shanqi bilang ia belum memesan, tapi pelayan itu bilang mereka hanya punya menu mie itu.


Dengan berhati-hati, Shanqi makan sedikit mie. Tapi ternyata rasa sangat enak dan dia pun melanjutkan makannya sampai habis. Setelah selesai makan, Shanqi masih mengikuti anak laki-laki tadi. Shanqi berjalan sambil berusaha menghilangkan noda kuah mie di jas blazaer seragamnya.


Saat sedang berjalan, anak laki-laki itu kemudian berbalik untuk menunjukkan arah kepada seseorang yang sedang mencari alamat. Shanqi kembali terkejut, karena kemeja anak laki-laki itu sangat kotor terkena kuah mie. Shanqi masih mengikutinya.


Anak laki-laki itu sempat berhenti sejenak. Ia membetulkan letak kacamatanya, lalu kembali berjalan lagi. Ia kemudian melihat papan informasi dan membaca salah satu leaflet yang ada disana. Ia mengeluarkan sebuah pulpen dan stabilo.


Shanqi pun mendekati papan informasi dan melihat anak laki-laki itu memperbaiki tulisan ada yang ada leaflet tersebut. Shanqi kembali merasa bingung, karena apa perlunya melakukan hal tersebut.


Kembali ke SMA Maple Leaf. Bukan kelas sepuluh namanya, jika tidak ribut. Guru Wu kemudian masuk ke kelas dan meminta muridnya kembali belajar, tapi mereka tetap bermain lempar pesawat kertas, karena Guru Wu sedang sibuk memberi nilai di lembar ujian.


Tiba-tiba Guru Wu berdiri dan mengatakan kalau esai yang dibuat murid-muridnya snagat bagus dan sampai membuatnya menangis.Tapi kemudian dia membanggakan dirinya yang lulus dari Universitas Cambridge dengan nilai yang bagus, tidak seperti seniornya yang bernama Zhimo. Tapi tidak ada mempedulikan ceritanya.


“Xiong Tiancheng, apa kau disini?” tanya Guru Wu tiba-tiba. Ke’Er langsung menutup hidungnya. Dan Huang Nan bilang tidak perlu memanggil Tiancheng, karena Tiancheng adalah sumber polusi kelas sepuluh dan tidak ada yang pernah melihatnya.


Kemudian seorang anak laki-laki dengan seragam tidak rapi keluar daro balik tumpukan dus di kursi pojok paling belakang. Ia berjalan ke depan dan otomatis membuat hampir semua siswa menutup hidungnya.


Tiancheng maju dan membacakan esainya. Ia membacakannya dengan baik dan membuat Ke Er terhanyut dengan ceritanya. Ke Er kemudian bertepuk tangan pelan, sedangkan Tiancheng kembali berjalan menuju tempat duduknya yang tersembunyi.


Guru Wu memanggil Mu Xi ke atap dan memberitahunya kalau Tiancheng adalah salah satu siswa yang berbakat dalam Bahasa China. Guru Wu juga bilang kalau Tiancheng tidak pernah bicara dan berteman dengan siswa lain. Ia meminta bantuan Mu Xi untuk mengatasi masalah tersebut.


Mu Xi kembali ke kelas dan menemui Tiancheng di mejanya terisolasi. Mu Xi berusaha menyingkirkan lalat yang ada terbang di depan wajahnya, tapi Tiancheng bilang itu adalah peliharaannya dan Mu Xi tidak boleh menyakitinya. Mu Xi meminta maaf.


Mu Xi menyebut meja belajar Tiancheng istimewa. Tiancheng berkata bahwa SMA Maple Leaf merekrutnya karena mendapat nilai tertinggi ujian Bahasa China saat SMP dan sebagai gantinya sekolah akan memberinya ruangan studio. Tapi dia cukup puas dengan ruangannya sekarang.


Tiancheng kemudian memberikan kartu namanya pada Mu Xi. Tiancheng mengira Mu Xi datang untuk meminta bantuannya membuatkan esai. “Aku disini untuk memintamu menjadi perwakilan China!” kata Mu Xi bersemangat.


Tapi Tiancheng bilang ia sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk bermalas-malasan. Mu Xi menggaruk kepalanya dan terpaksa harus pergi.


Mu XI kemudian menemui Dua Huang yang mengatakan bahwa mereka dulu satu SMP dengan Tiancheng dan sudah sejak saat itu dia terkenal sebagai raja polusi. Huang Nan bilang saat dulu ia bersih-bersih di kelas, ia pernah menemukan pisang yang sudah berusia 1 tahun di lacu Tiancheng. Dua Huang tertawa terbahak-bahak.


Huang Yi lalu bercerita bahwa saat hari pertama SMP mereka mendapatkan nasi. Tapi kemudian Huang Yi menemukan nasi gulung itu di laci Tiancheng pada hari kelulusan. Dua Huang tertawa lagi. Mu Xi tidak ikut tertawa. Apalagi ketika mendengar Tiancheng pernah dimarahi ayahnya saat hari pertemuan orang tua dan sejak saat itu Tiancheng semakin sedikit dalam berbicara.


Seorang murid laki-laki menyerahkan esainya pada Tiancheng. Tiancheng membacanya dan mengatakan bahwa esai itu tidak memiliki keindahan. Ia lalu mengatakan akan menulis ulang esai itu secara gratis.


Di rumah, Mu Xi dan Kak Yihan makan dengan hotpot. Mu Xi protes bahwa kakaknya mengambil semua daging terbaik. Kak Yihan bilang kalau adiknya itu gadis yang baik, tapi memiliki selera makan yang tinggi. Kak Yihan tiba-tiba mencium bau yang tidak enak.


Kak Yihan meminta maaf karena tidak menciptakan suasana makan yang nyaman. Tapi Mu Xi bilang itu mungkin bau dari pakaiannya karena sebelumnya ia berdekatan dengan orang yang sangat kotor dan bau. Kak Yihan bertanya apakah orang itu tidak mandi selama bertahun-tahun dan menyuruh Mu Xi menjauhinya.


Mu Xi bilang anak itu sangat berbakat dan Mu Xi berencana untuk merekrutnya sebagai pengurus kelas. “Aku punya ide,” kata Mu Xi sambil menunjukkan kartu nama Tiancheng pada Kak Yihan.


Kak Yihan mengejek nama pena Tiancheng yaitu penulis bayangan. “Dia pasti penulis online. Penulis baru bukan? Sebagai sesama penulis, nama pertamaku lebih bagus, pria rahasia,” kata Yihan terus membanggakan dirinya, tapi Mu Xi tidak meladeninya. [crstl]