Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 14 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 15 Part 1

Tiancheng berjalan di lorong sekolahya. Semua orang yang ada di dekatnya menghindari sambil menutup hidungnya. Tiancheng terus saja berjalan sambil terkadang menggaruk kepalanya.


Tiancheng pulang ke rumah dan terlihat beberapa pria sedang bermain mahjong. Seorang pria menyebut Tiancheng anak nakal, dan menyuruhnya tetap tinggal di rumah. Tiancheng lalu masuk ke kamarnya dan terlihat buku-buku yang berantakan. Tiancheng menghela napasnya, lalu mulai mengetik di komputernya.


Mu Xi juga sedang berada di depan komputernya dan berusaha mencari tahu apa yang Tiancheng tulis di internet.


Mu Xi seolah melihat Tiancheng dengan pakaian pendekar sedang menulis ceritanya. Banyak bekas kertas berserakan di mejanya.


Di dalam ceritanya ada ilmuwan gila, bos geng, pelayan, anak kembar yang aneh, gadis yang hilang ingatan, dan penulis naskah yang kesepian. Mereka semua direkrut untuk melalukan suatu misi oleh seorang wanita bergaun merah.


Mu Xi tersenyum, sepertinya ia menyukai cerita yang dibuat Tiancheng.


Di kamarnya yang berantakan, Tiancheng masih mengetik ceritanya sambil sesekali mengelap ingusnya. Ayahnya lalu datang dan kembali menyebutnya nakal karena Tiancheng selalu menghabiskan watunya untuk bermain internet. Tiancheng bilang harusnya ayahnya mengetuk pintu dulu. “Apa aku perlu ketuk pintu? Aku ayahmu. Pergi, ambilkan aku minum,” kata sang ayah.


Tiancheng: “Ayah, aku demam.”
Ayah: “Pergi sekarang!”
Tiancheng: “Tunggu sebentar.”


Keesokan harinya, Guru Wu datang ke tempat duduk Tiancheng, tapi orang yang dicarinya tidak ada. Guru Wu lalu mendapat informasi kalau Tiancheng izin tidak masuk sekolah karena sakit.


Guru Wu lalu memberitahu Dan Yi dan Mu Xi tentang hal tersebut. Mereka kemudian akan menengoknya, tapi Guru Wu menahan mereka. Guru Wu bilang ia yang akan menengok Tianchen, sedangkan Dan Yi dan Mu Xi melakukan tugas mereka.


Guru Wu menemui ayah Tiancheng dan berkata kalau dia datang membawa hadiah untuknya. “Ini adalah novel buatan Tiancheng. Aku mem-print-nya. Anda bisa membacanya kapan-kapan,” kata Guru Wu.


Guru Wu mengatakan bahwa tokoh utama dalam novel itu memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya. Ia juga mengatakan kalau guru pertama Tiancheng adalah ayahnya. “Kepribadianmu, kebiasaanmu, akan memainkan peranan penting dalam hidupnya,” kata Guru Wu lagi. Ia mengatakan bahwa Tiancheng adalah anak yang berbakat, dan berharap ayahnya dapat menciptakan lingkungan yang baik untuknya.


Ayah Tiancheng terus mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan Guru Wu.


Mu Xi kembali membaa cerita Tiancheng di internet.


Mu Xi datang ke ruang menulis Tiancheng. Ia bertanya kenapa Tiancheng tidak suka kebersihan.


Tiancheng: “Bersih atau tidak, tidak ada satupun yang peduli. Lalu apa artinya itu?”
Mu Xi: “Hm... kenapa kau membantu orang lain menulis esai? Kau tidak mendapatkan apapun.’
Tiancheng: “Aku hanya ingin dihargai oleh kalian, oleh semua orang. Aku sudah tidak terlihat. Kau tahu? Yang paling kusayangi tidak pernah peduli denganku.”
Mu Xi: “Tapi aku peduli.”
Tiancheng: “Benarkah?”


Mu Xi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia berkata kalau ia akan mengubah Tiancheng. Tiancheng pun ikut tersenyum.


Keesokan paginya, Tiancheng terbangun di depan komputernya dan memanggil-manggil ayahnya. Kemudian dia melihat sebuah surat di atas meja yang biasa dijadikan tempat bermain mahjong. Dalam surat itu tertulis kalau ayah sangat menyukai novel Tiancheng dan mengajaknya melakukan permainan mencari harta karun.


“Kau harus pergi ke tempat-tempat ini dan ingat kodenya. Aku disini untuk bertemu dengan gadis ajaib Yezi,” tulis ayah. Tiancheng pun bergegas pergi ke tempat yang ayah tuliskan.


Tiancheng sampai ke tempat yang pertama. “Aku.. aku disini,” dan tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuh Tiancheng.


Di tempat yang ternyata adalah salon itu, beberapa orang menangani rambut Tiancheng sekaligus. Tiancheng kebingungan, tapi ia tidak bisa menolak. Mereka memotong rambutnya dan merapikannya.


Setelah selesai, Tiancheng melihat tampilan rambut barunya di depan cermin. Ia memegang rambutnya, lalu tersenyum canggung. Penata rambut kemudian memberikan petunjuk yang kedua yang bertuliskan, “Selamat, kau pasti belum memotong rambutmu selama setahun. Itu bisa menyebabkan ketombe. Silakan pergi ke tempat berikutnya.”


Tempat yang kedua adalah Optik kacamata. Tiancheng mencoba banyak jenis model kacamata.


Pelayan: “Setelah mencoba berbagai model kacamata, yang paling cocok untukmu adalah lensa kontak.”
Tiancheng: “Sia-sia saja aku mencoba semuanya.”
Pelayan: “Ini dia petunjuk untuk tempat berikutnya.”


Tiancheng masuk ke sebuah toko pakaian. Pelayan toko yang melihatnya sangat terkejut dan langsung mengambilkan beberapa pakaian baru untuk Tiancheng. Setelah selesai, Tiancheng pun didorong keluar toko.


Tiancheng terlihat keren dengan penampilan barunya. Ia kemudian mendapat pesan dari orang yang menyebut Tiincheng sebagai penulis bayangan. Orang itu menanyakan bagaimana perasaannya tentang penampilan barunya itu. Tiancheng tersenyum, lalu membalas pesan itu.


“Terima kasih atas  permainanmu, manusia misterius. Oh bukan, bos besar Mu Xi,” tulis Tiancheng dalam pesannya.


Tiancheng masuk ke dalam rumahnya dan sudah tidak menemukan ada meja mahjong lagi disana. Ia masuk dan melihat ayahnya sedang membersihkan rumah. Ayahnya tersenyum, dan Tiancheng pun melakukan hal yang sama.


Keesokan harinya, Tiancheng masuk ke kelas dengan penampilan barunya. Ia terharu melihat teman-temannya sedang membersihkan meja belajarnya.


Mu Xi dan teman-teman lainnya terlihat membawa pergi dus-dus yang sebelumnya digunakan sebagai penghalang meja belajar Tiancheng. Dan mulai sekarang, Xiong Tiancheng sudah terlihat.