Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 14 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 15 Part 2

Seorang murid perempuan membuat murid lainnya ketakutan. Perempuan berambut pendek itu terlihat galak dan suaranya pun tegas.


Kemudian murid perempuan yang merasa tertindas itu, melapor kepada Mu Xi kalau seorang murid bernama Li Yao mengambil bedaknya. Dia bilang bedak itu baru dibelikan ibunya dan belum sempat dipakai. Ia pun mulai menangis.


Mu Xi bilang itu sudah keterlaluan. Dua Huang malah berpikir kalai Li Yao itu laki-laki. Shanqi mengatakan bahwa itu adalah keluhan yang ketiga minggu ini dan semuanya berhubungan dengan Li Yao.


Dan Yi menunjukkan foto Li Yao di ponselnya. Dia bilang kalau Li Yao adalah murid perempuan berusia 16 tahun dan meraih peringkat sepuluh di kelas satu. Dan Yi juga mengatakan kalai Li Yao terkenal sebagai pengganggu di sekolah mereka. Dan Yi bertanya apakah teman-temannya memiliki ide untuk menangani masalah itu.


Dua Huang mengusulkan agar mereka melawannya dengan kekerasan dan bertarung dengannya. Dan yi melarangnya. Karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan itu berarti mereka sama saja dengan Li Yao. Dan Yi lalu bertanya apa ide ketua kelasnya.


“Duel tatap muka,” jawab Mu Xi sambal menunjukkan gambar yang sejak tadi dibuatnya. Dna Yi bilang itu sama saja dengan kekerasan. Ia malah memarahi Mu Xi karena seharusnya ia tidak boleh mencoret-coret buku pelajarannya.


Dan Yi memiliki ide untuk mengirimkan murid yang biasa-biasa saja kepada Li Yao. Semua orang menatap Shanqi. “Kenapa kalian melihatku?” tanya Shanqi bingung.


Sambil memakan kripik pedas kesukaannya, Shanqi mengintai Li Yao bersama Cheng Ling dan Tiancheng. Ia hampir saja melarikan diri, tapi kedua temannya membujuknya agar tidak mundur dari pertempuran itu. Akhirnya Shanqi setuju.


Dengan mengendap-endap, Shanqi mengintai Li Yao yang sedang duduk sendirian di tangga taman sekolah. Dengan berhati-hati, ia menghampiri Li Yao.


Shanqi melambaikan tangannya pada Li Yao, lalu menawarkan kripik pedas yang dibawanya. “Apa yang akan kau makan jika aku memakannya?” tanya Li Yao. Shanqi meminta Li Yao menunggunya disana karena dia akan membeli kripik pedasnya lagi.


Shanqi berlari ke luar sekolah dan menghabiskan semua uang sakunya untuk membeli 4 bungkus kripik pedas. Ia kemudian berlari untuk menemui Li Yao lagi.


Shanqi: “Ini kripik pedasnya.”
Li Yao: “Mengapa kau membeli begitu banyak?”
Shanqi: “Hiks.. kenapa kau begitu galak?”


Shanqi lalu berlari menemui teman-temannya dan melihat gambar yang dibuat Ke Er. Di gambar itu terlihat kartun Mu Xi sedang menghajar Li Yao. Dan Mu Xi berhasil menang KO. Dua Huang kemudian berkata bahwa kali ini mereka harus turun tangan. Huang Nan bahkan mengatakan bahwa dia punya sepuluh ribu cara untuk mengalahkan Li Yao.


Dua Huang lalu dating ke kelas Li Yao dan dengan gagah berani mereka menunjukkan jarinya kea rah Li Yao. “Kau Li Yao, kan?” tanya mereka sambal berjalan kea rah Li Yao.


Li Yao langsung menarik tangan mereka berdua. Dan berkata bahwa menurut ayahnya, tidak sopan bagi laki-laki untuk menunjuk wanita seperti itu. Ia mengizinkan mereka berdua bicara, tapi tidak boleh mengacungkan tangannya seperti tadi.


Li Yao lalu melepaskan tangan mereka dan menanyakan keperluannya. Huang Yi bilang kalau mereka mendengar Li Yao itu cantik jadi mereka dating untuk melihatnya sendiri. “Tidak menyesal kami dating kesini, kau sangat cantik! Tidak ada yang lebih cantic!” kata Huang Nan masih dengan agak ketakutan. Mereka berdua pun pergi.


Dua Huang kembali ke kelas mereka dan membual kalau Li Yao melarikan diri. Mu Xi yang tahu kalau itu bohong menyuruh mereka berhenti bicara. Dan Yi lalu mengatakan bahwa ia sudah berbicara apda semua orang yang mengaku telah diintimidasi oleh Li Yao. Dan Dan Yi merasa kalau mereka sudah salah langkah.


Ketika Li Yao datang ke kantin, semua murid yang lain memutuskan untuk menjauh sambil membawa makanan mereka. Li Yao akhirnya duduk sendiri sambil memperhatikan sekelilingnya dengan ekspresi galak.


Li Yao baru saja ingin mulai makan, saat Dan Yi datang dan duduk di depannya. Teman-teman Dan Yi yang lain mengawasi dari balik dinding dan mengkhawatirkan keadaan Dan Yi. Dan Yi mengajak Li Yao untuk berteman, dan Li Yao terlihat seperti akan menyerang Dan Yi.


Tapi kemudian, Dan Yi dan Li Yao berjabat tangan. Teman-temannya yang lain sangat terkejut dan heran.


Mereka lalu pergi ke taman di luar sekolah. Dan Yi kemudian memberitahu teman yang lain bahwa Li Yao sebenarnya adalah murid yang baik, apalagi Dan Yi pernah melihatnya memberi makan kucing. Shanqi menyadari bahwa sebelumnya Li Yao marah padanya karena terlalu boros dalam memebeli kripik pedas.


“Ya,” jawab Li Yao tegas yang membuat teman-teman yang lain terkejut dan merasa itu masih terasa menyeramkan. Dan Yi lalu memberitahu mereka kalau ayah Li Yao adalah seorang tentara dan ibunya adalah juara tinju nasional. Dia lalu menunjukkan teknik tinju pertamanya. Ia bilang dia bersekolah di sekolah seni bela diri. Karena ayahnya khawatir nanti tidak akan ada yang mau menikahi putrinya, jadi Li Yao dikirim ke SMA Maple Leaf agar dapat mengubah sifatnya.


Li Yao bilang ia sudah berusaha berteman, namun jangankan berteman mereka saja tidak mau bicara dengannya. “Tapi aku sudah membuat kemajuan. Ada beberapa murid yang melihat ke arahku dan memberiku makanan ringan. Beberapa anak juga sangat baik. Aku mengambil barang mereka, tapi mereka tidak menyalahkanku,” kata Li Yao salah paham. “Aku juga ingin punya kehidupan SMA yang indah, tapi tidak ada yang mau berteman denganku.”


Mu Xi lalu berkata bahwa dia dan teman yang lain akan mengubah Li Yao menjadi gadis yang sangat menggemaskan dan imut, sehingga setiap orang yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. Mu Xi bilang sejak saat ini burung gereja akan berubah menjadi buruk phoenix. “Baik!” kata Li Yao tegas, yang lagi-lagi membuat teman yang lain kaget.


Li Yao dan teman-teman barunya berjalan-jalan. Mu Xi lalu memiliki ide agar Li Yao berfoto dengan badut boneka yang ada disana. Li Yao menolak, tapi Mu Xi terus membujuknya. Akhirnya, Li Yao melangkahkan kakinya menghampiri si badut.


Tapi yang ada badut itu malah berlari ketakutan. Li Yao mengejarnya. Dan teman-teman yang lain ikut mengejar Li Yao.


Dari arah yang berbeda terlihat seorang pencuri sedang dikejar warga berlari ke arah yang sama dengan si badut. Si badut akhirnya berhenti, tapi Li Yao tetap berlari mengejar pencuri itu.


Pencuri tersebut akhirnya menyerah. Ia berlutut, membuka masker, dan mengakui kesalahannya. Ia mengembalikan dompet yang dicurinya kepada Li Yao. Tak lama kemudian, orang-orang lain berhasil menyusul Li Yao.


Seorang wanita yang dicuri dompetnya berterima kasih pada Li Yao karena ia berhasil mendapatkan dompetnya kembali. Wanita itu bahkan akan mengirimkan spanduk sutra ke sekolah mereka. Tapi Mu Xi berkata bahwa itu tidak perlu. Shanqi bertanya apalagi yang akan mereka lakukan untuk Li Yao.


Shanqi lalu mengajak Li Yao ke sebuah mall. Shanqi mengatakan bahwa Li Yao terlihat sangat keren saat mengejar pencuri tadi. Li Yao bilang itu biasa saja. Mereka lalu berhenti di depan sebuah toko boneka. Shanqi memberi misi kepada Li Yao yang harus bisa membeli dua mainan berbulu. Li Yao lalu masuk ke dalam toko sendirian, sedangkan Shanqi menunggu di luar.


Li Yao berkeliling dan melihat seorang anak kecil yang sedang memainkan sebuah boneka. Li Yao terus memperhatikannya. Anak itu kemudian keluar dari toko sambil membawa bonekanya. Pelayan mengejarnya dan mengatakan kalau boneka itu harus dibayar. Li Yao menahan anak perempuan itu.


Pelayan: “Kecil-kecil kau sudah menjadi pencuri. Luar biasa. Mana orang tuamu? Hanya kau sendiri disini?”
Li Yao: “Xiaoshan, bukankah aku sudah memberitahumu? Jangan lari. Setelah kau memilih beruang, tunggu aku, aku akan membayarnya dulu.”


Li Yao membawa anak kecil itu kembali ke dalam toko dan membayar untuk boneka beruangnya.


Mu Xi berkata bahwa mereka berhasil dan bertanya-tanya apalagi yang bisa membuat Li Yao lebih santai. Huang Yi lalu menghampiri Mu Xi dan menyarankan agar mereka memberi Li Yao pasangan laki-laki. “Kalian?” tanya Mu Xi. Tapi dua Huang menolak. “Xiaodong?” Shanqi yang menolak. “Kau? Kau tidak mungkin,” kata Mu Xi sambil melihat Dan Yi yang membuat teman yang lain tertawa. Huang Yi bilang ia sudah punya kandidat yang cocok dan sudah menghubunginya.   


Tiba-tiba Cheng Ling menyapa Mu Xi. Mereka merasa aneh kenapa Cheng Ling bisa datang begitu cepat. Huang Nan lalu memanggil Li Yao yang sudah berjalan di depan mereka. Huang Nan memperkenalkan Li Yao pada Cheng Ling.


Cheng Ling menyapa dengan ceria, tapi Li Yao masih menunjukkan wajah yang dingin.