Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 15 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 16 Part 1

Li Yao lalu mengajak Cheng Ling berbicara tentang pertandingan beladiri kick boxing dan beladiri tradisional China. Tampaknya Cheng Ling tidak paham, tapi ia tetap mendengarkan Li Yao. Sementara itu, teman-teman yang lainnya mengikuti mereka dari belakang. Mereka ternyata ada di taman hiburan.


Li Yao kemudian naik komidi putar bersama Cheng Ling. Li yao berpegangan dengan erat. Dia sepertinye ketakutan, tapi ekpresi wajahnya masih tetap dingin. Sementara itu teman-teman yang lain juga ikut naik komidi putar yang sama dan terus mengawasi mereka berdua. “Lia Yao, apa kau baik-baik saja?” tanya Cheng Ling. Li Yao menganggukkan kepalanya dengan ragu.


Mu Xi berharap kudanya berjalan lebih cepat agar bisa mendengar pembicaraan Li Yao dan Cheng Ling. (haha bos besar kita memang luar biasa pemikirannya )


Setelah turun dari komidi putar, Mu Xi mengatakan bahwa mereka harus mencoba permainan paling klasik di taman hiburan yang disebut roda langit.


Cheng Ling bertanya apakah Li Yao sudah pernah naik roda langi. “Belum!” jawab Li Yao. Dua Huang merasa sepasang anak perempuan dan laki-laki berada di roda langit bersama akan menarik.


Dua Huang terlihat sudah berada di dalam roda langit. Mereka kesal karena mereka tidak berpasangan dengan gadis tapi malah dengan saudara laki-lakinya sendiri. Mereka frustasi. Huang Nan merasa dunianya gelap.


Sesuai rencana, Li Yao tetap berpasangan dengan Cheng Ling. Cheng Ling bertanya bagaimana perasaan Li Yao naik roda langit untuk pertama kali, karena menurut Cheng Ling mereka bisa melihat pemandangan yang bagus. Tapi Li Yao malah terlihat cemas. Ia ketakutan sampai tidak berani menengok ke arah lain.


Cheng Ling berusaha menenangkan Li Yao dengan menyuruhnya menarik napasnya, tapi Li Yao malah berteriak dan meminta agar roda langit itu dihentikan. Li Yao berkata bahwa kungfunya tidak akan berguna, karena tempat itu terlalu tinggi baginya.


Ia lalu meminta Cheng Ling agar memegang tangannya. “Tidak apa-apa, Li Yao. Bernapaslah perlahan,” kata Cheng Ling.


Mu Xi ternyata berpasangan dengan Dan Yi. Mu Xi berteriak senang karena pemandangannya indah. Ia memprotes Dan Yi yang terus saja sibuk dengan ponselnya. Mu Xi bilang melihat pemandangan indah seperti itu adalah kesempatan yang langka, tapi Dan Yi terus saja belajar.


Mu Xi: “Dulu kau sangat suka naik ini melebihi aku. Sejak kapan kau menjadi seperti ini?”
Dan Yi: “Karena kita sudah dewasa.”
Mu Xi: “Jika orang dewasa seperti ini, aku berharap bisa menjadi anak kecil selamanya.”


Dan pasangan terakhir tentu saja  Mu Xi dan Xiaodong. Mereka sedang menyaksikan matahari tenggelam. Xiaodong lalu berkata agar Shanqi membuat permohonan saat roda mereka mencapai puncak.


Mereka lalu membuat permohonannya bersama.


Mu Xi: “Awan itu sangat indah. Tapi aku malah menikmatinya bersamamu.”
Dan Yi: “Tidak ada yang menyuruhmu berada di tempat yang sama denganku.”
Mu Xi: “Tapi kita selalu berakhir bersama. Tidak peduli saat kita masih anak-anak, atau sekarang.”


Cheng Ling sudah memegang tangannya, tapi Li Yao masih menutup matanya ketakutan. Cheng Ling lalu berkata kalau Li Yao sama sekali tidak terlihat galak. Li Yao mulai membuka matanya. Cheng Ling berkata bahwa Li Yao adalah gadis yang sangat imut. “Apa yang kau bicarakan?!” tanya Li Yao sambil menarik tangannya. Tapi kemudian dia meminta Cheng Ling memegang tangannya lagi.


Dua Huang merasa bosan dan kesal.


Mu Xi merasa mereka sudah melakukan sesuatu yang menyenangkan. Shanqi lalu memeluk Mu Xi dan berterima kasih karena Mu Xi sudah memberikannya sebuah hari yang paling indah dalam hidupnya. Mu Xi lalu bertanya apa yang terjadi dengan dua Huang. “Jangan tanya, kami tidak mau jawab,” kata Huang Nan. Shanqi penasaran apa yang sedang Li Yao dan Cheng Ling lakukan sekarang.


Li Yao dan Cheng Ling terlihat keluar dari area  roda langit. Mu Xi menanyakan bagaimana perasaan Li Yao. “Tidak buruk,” jawabnya. Mu Xi dan Shanqi bersorak kegirangan, karena mereka berhasil. Mu Xi mengajak mereka mencoba permainan yang lainnya.


Li Yao tersenyum bahagia, saat teman-temannya mengajaknya ikut bersama mereka.


Keesokan harinya, Li Yao datang ke kelas sepuluh dan menyatakan keinginannya untuk pindah kelas kesana dan menjadi bagian dari pengurus kelas. Mu Xi heran menanyakan alasannya.


Li Yao: “Saat kembali dari taman hiburan, aku mulai mengikuti saranmu untuk selalu tersenyum. Dan hasilnya..”
Mu Xi: “Sesuai yang diharapkan?”
Li Yao: “Beberapa mengerti bahwa aku tidak menggertak mereka, tapi sebagian lagi…”
Shanqi: “Tentu saja. Jika seseorang muncul dan terus tersenyum padamu, itu benar-benar menyeramkan.”
Li Yao: “Tidak apa-apa. Selama ada beberapa yang mengerti, aku sudah bahagia.”


Li Yao berkata bahwa dia ingin terus mengubah dirinya dengan lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka. Dia bahkan akan memberikan semua keberanian dan seni bela dirinya untuk membantu mereka. Mu Xi setuju untuk memberikan jabatan komisi tenaga kerja, tapi sebagai gantinya Li Yao harus mengajarinya tinju.


Li Yao setuju dan akan langsung mengajarkan tinju kepalan tangannya pada Mu Xi. Dan Yi menggebrak mejanya dan menyuruh mereka pergi ke taman bermain saja, karena kelas adalah tempat belajar. Mereka semua lalu pergi keluar.


Dan Yi heran melihat mereka benar-benar melakukan itu. Tapi ia tidak peduli dan melanjutkan belajarnya.


Di sebuah café, terlihat Xin Yi sedang duduk sendirian. Ia melamun dan tiba-tiba merasa mengantuk. Ia lalu tidur di atas meja.


Bersetting zaman dahulu, terlihat Xin Yi sedang berjalan di tengah kota bersama Dan Yi. Xin Yi berkata bahwa dirinya sudah berubah demi Dan Yi.


Dan Yi memegang bahu Xin Yi dan berkata bahwa dia menghargai semua pengorbanan Xin Yi. “Tapi dua orang yang mencintai, perlu saling memahami,” kata Dan Yi.


Mereka kemudian saling tersenyum dan kembali berjalan. Dan mimpi Xin Yi pun berpindah lokasi.


Xin Yi: “Aku tidak pandai membersihkan rumah.”
Dan Yi: “Aku tidak mencari asisten rumah tangga.”
Xin Yi: “Aku tidak pandai memasak.”
Dan Yi: “Aku tidak butuh koki.”


Xin Yi: “Aku tidak pandai berhubungan sosial.”
Dan Yi: “Aku tidak menginginkan seorang diplomat.”
Xin Yi: “Apa yang kau inginkan?”
Dan Yi: “Kau. Aku hanya menginginkan dirimu.”


Xin Yi terus menyebutkan sifat-sifat buruknya, tapi Dan Yi terus berkata bahwa dia akan menerima segala kekurangan Xin Yi. “Tidak.. tidak..” kata Xin Yi dan akan pergi, tapi kepalanya malah terbentur tiang. Dan Yi kemudian menanyakan keadaannya.


Xin Yi meminta Dan Yi mengulangi perkataannya. “Aku berkata, aku akan memberimu segalanya, mendengarkanmu,” ucap Dan Yi yang membuat Xin Yi tersenyum.


Lokasi kembali lagi ke tengah kota. Keadannya berbeda dari sebelumnya. Mereka bertengkar. Tapi kemudian Dan Yi berusaha meyakinkan Xin Yi bahwa ia ingin sehidup semati bersama Xin Yi. Dan Yi memutuskan untuk pergi.


“Dan Yi!” panggil Xin Yi histeris. Ia menangis dengan dramatis.  


Xin Yi terbangun dari mimpinya dan buru-buru pergi dengan sedih.


Kembali ke area sekolah. (Masih ada yang ingat ketika Shanqi dengan sengaja memecahkan gelas Xiaodong dan bersikeras untuk menggantinya agar lebih dekat dengan Xiaodong?)


Ternyata saat kejadian itu berlangsung, Li Yao memperhatikan mereka.


Li Yao lalu berjalan ke meja Cheng Ling dan memecahkan gelasnya, lalu pergi begitu saja. Cheng Ling sangat terkejut.


Selepas pelajaran berakhir, Cheng Ling tampak diwawancara oleh seseorang. Ia merasa mungkin ia sudah melakukan kesalahan pada Li Yao. Karena pagi tadi Li Yao berhenti di samping mejanya dan memabnting dan memecahkan gelasnya. Cheng Ling sedang berusaha menenangkan dirinya dan berharap ia segera menemukan alasan mengapa dia membuat Li Yao kesal.


“Aku tidak memecahkannya dengan sengaja! Siapa bilang aku memecahkannya dengan sengaja?! Kau?!” tanya Li Yao.