Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: QQLive
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 9 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Big Boss Episode 10 Part 1

Keesokan harinya di sekolah, Mu Xi sudah berjaga di depan gerbang sekolahnya. Penjaga bertanya apa yang sedang Mu Xi lakukan. “Jika aku berhasil menemukannya, aku akan menjadi pahlawan Maple Leaf,” jawab Mu Xi. Penjaganya menyuruh Mu Xi agar kembali tidur dan melanjutkan mimpinya.


Mu Xi melihat Dua Huang yang masuk ke gerbang sekolah sambil tertawa. Sepertinya mereka sedang membaca komik yang lucu.Karena Mu Xi memanggil, mereka malah melarikan diri dan masuk ke toilet pria.


“Aku tahu kalian ada ada di dalam!” kata Mu Xi. Dia tetap masuk ke dalam toilet. Dia mengetuk semua pintu toilet. Dan di depan pintu toilet yang terakhir, Mu Xi mulai menghitung, “Tiga..dua..satu..”


Dua Huang menyerah dan keluar dengan sukarela. Mu Xi bertanya mengapa mereka bersembunyi dna menyuruh mereka mengeluarkan apa yang mereka sembunyikan di belakang tubuh mereka.


Mu Xi bertanya, “Bukankah ini hanya sebuah komik?” Dua Huang mengiyakan, tapi kemudian mereka menjerit saat Mu Xi akan membuka komiknya. Mereka berkata bahwa ceritanya tentang anak kecil yang mengalahkan alien dan ceritanya membosankan.

Mu Xi lalu melemparkan kembali komik itu pada Dua Huang dan pergi. Setelah Mu Xi keluar, 3 pintu toilet lainnya terbuka dan orang yang ada di dalamnya memastikan kalau Mu Xi sudah pergi.


Mu XI kembali berimajinasi bersama Naga dan Kuda. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Dua Huang bukanlah pelakunya. Sekarang mereka harus membuat pemikiran baru. Mereka kemudian mengatakan bahwa orang yang patut dicurigai selanjutnya adalah Xiaodong, karena graffity yang dibuat sangat modis.


Kemudian, Mu Xi mendatangi Xiaodong yang sedang mendengarkan musik melalui earphone-nya. Mu Xi bertanya apakah Xiaodong menyembunyikan sesuatu darinya. “Sejujurnya, aku, kamu....” kata Xiaodong.


Shanqi tiba-tiba masuk ke kelas sambil berteriak dan meloto pada Mu Xi. “Aku merasa tidak enak, jadi aku ingin bergabung bersamamu,” kata Shani pada Mu Xi. Karena ada Shanqi, Xiaodong tidak jadi bicara. Mu Xi lalu bertanya apa yang dilakukan Xiaodong.


Xiaodong dan Shanqi sama-sama menunjukkan ponselnya dan memberitahu Mu Xi bahwa semalam Xiaodong menghadiri acara jumpa fans. “Jadi siapa penjahat itu?” kata Mu Xi kesal.


Tiba-tiba seorang murid perempuan lewat di belakang Mu Xi dan tidak sengaja menjatuhkan tasnya yang berisi kaleng cat semprot. Tanpa curiga apa-apa, Mu Xi membantu mengambilkan kaleng cat itu dan meminta maaf karena sudah menabraknya.


Mu Xi kemudian mendatangi Dan Yi. “Di film-film, orang yang melakukan kesalahan tidak berani menatap orang di depannya.” Dan Yi menatapnya dengan heran. “Kaulah penjahatnya! Orang yang paling tidak mungkin adalah penjahatnya!” kata Mu Xi lagi. “Kalau bukan kau, bantu aku mencari penjahatnya.”


Dan Yi lalu menggandeng Mu Xi dan membawanya ke depan murid perempuan yang tadi menjatuhkan kaleng cat.


Dan Yi berkata, “Hanya dua orang gadis di kelas ini yang menyukai kartun. Kau dan Yuan Ke Er, yang suka duduk di pojok. Dia satu-satunya murid yang berbakat dalam seni.” Mu Xi diam saja. “Hanya dia yang bisa menggambar seindah itu.” Mu Xi bilang Dan Yi tidak punya bukti.


Dan Yi lalu mengatakan bahwa gambar yang ada di meja Ke Er sama persis dengan yang ada di dinding, belum lagi kaleng cat yang sudah ada di mejanya selama beberapa hari.


Mu Xi masih tidak mau kalah. Dan Yi bilang hanya orang idiot yang tidak menyadarinya. Mu Xi lalu bertanya pada Ke Er apakah benar dia yang melakukannya.


Ke Er: “Aku harap kau tidak mengetahuinya.”
Mu Xi: “Kenapa?”


Ke Er lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Mu Xi. Dan Yi melarang Mu Xi mengejar Ke Er, karena menurutnya Ke Er tidak mau berbicara dengan mereka.


Saat jam belajar dimulai, Mu Xi tidak melihat Ke Er di mejanya.


Ketika pelajaran berakhir, Xin Yi mengambil gambar Dan Yi yang sedang menghapus papan tulis. “Liao Dan Yi, cepat atau lambat, kau akan menjadi bagian dari kelas kami,” gumam Xin Yi.


Mu Xi memergoki Xin Yi dan menepuk pundaknya. Ia bertanya apa yang Xin Yi lakukan dengan kamera ponselnya. Xin Yi bilang kalau dia adalah pengawas sanitasi kelas pekan tersebut dan ditugaskan untuk mencatat beberapa pekerjaan. Xin Yi bilang kelas Mu Xi sangat berantakan.


Mu Xi berkata bahwa Xin Yi bisa menyalakan kameranya lagi, dan dia sendiri yang akan merapikan kelasnya. “Lebih baik aku mengambil video Liao Dan Yi,” kata Xin Yi yang kemudian terkejut karena Dan Yi sudah tidak ada disana. Mu Xi lalu menduga kalau Dan Yi sudah menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke perpustakaan.


Mu Xi meminta Xin Yi agar merekamnya saja. Ia berlari ke depan dan berakting menghapus papan tulis. Tapi Xin Yi yang kecewa, sudah pergi meninggalkan kelas Mu Xi. “Heh...” teriak Mu Xi.


Malam harinya, orang berhoodie kembali beraksi membuat graffity.


Ia melakukannya sambil tersenyum senang. Dan dia benar Yuan Ke Er. Setelah menyelesaikan gambarnya, ia pergi begitu saja.


Xin Yi terburu-buru menyembunyikan foto Dan Yi saat ayahnya tiba-tiba masuk ke kamarnya. Ayahnya bertanya apa yang akhir-akhir ini Xin Yi lakukan, karena ia terlihat lelah. Xin Yi lalu mengatakan bahwa serikat siswa memintanya untuk melakukan penelitian angka. Ayah Xin Yi kemudian keluar setelah menyemangati putrinya agar bekerja keras.


Xin Yi kembali mengingat ramalan yang dibuat Shenwei tentang cinta sejatinya dan setelah itu Dan Yi selalu muncul. “Sejak itu, aku akan memberimu kesempatan untuk mencintaiku,” kata Xin Yi dalam hati.


Lelucon Dingin


Wang Liangchen dan Meijing saling membuat lelucon dan tertawa bersama. Lalu mereka pergi ke perpustakaan.


Seorang teman laki-laki yang melihat mereka, mencoba mengajak murid perempuan di depannya bermain lelucon juga. Tapi gadis itu malah pergi begitu saja.


Murid laki-laki itu kecewa dan melanjutkan memakan bakpaonya. [crstl]