Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 3 Part 2

Hari itu sedang hujan. Semua orang berjalan dibawah lindungan payung. Ayah berjalan tanpa membawa payung. Langkahnya terasa mantap. Ayah teringat saat sedang bersama dengan teman-temannya. Mereka sedang memilih mana yang terbaik. Ayah sendiri sedang menikmati tehnya. Ayah berjalan dengan percaya diri. Pulang ke rumah. 


Sementara itu di rumah, Junko memanggil ibu. Ia akan berangkat dan  melewatkan sarapan. Naoko memintanya tunggu dulu. Naoko memanggil Ibu. Sarapannya belum siap. Naoko memanggil ibu lagi. Dia juga mau berangkat. Ibu turun dari tangga dengan penampilan yang berantakan. Naoko bertanya ada apa? Apakah ibu terserang flu? Ibu membenarkan, mungkin ia terserang flu. Naoko bertanya dimana ayah pada ibu. Ibu mengatakan kalo ayah memiliki shift malam. Naoko memberikan ibu termometer. Ia meminta ibu memeriksa suhu tubuhnya sementara ia akan memasak bubur. Ibu nyuruh Naoko buat berangkat kerja dan jangan memperdulikannya. Naoko mengatakan kalo ia akan berangkat pagi. 


Naoko ke dapur, siap untuk memasak bubur. Ayah pulang. Naoko menyapa ayahnya dan bertanya gimana hari ayah. Dan nggak butuh waktu lama, bubur Naoko siap. Ia memakannya bersama dengan ibu dan ayah. Ayah bertanya apakah ada telur? Naoko bangkit. Ia akan mengambilkannya untuk ayah. Ibu melihat ayah dalam diam. Nggak lama kemudian Naoko kembali dengan membawa telur untuk ayah. Ibu mengerti ayah perlu menjaga energinya. Apa? Tanya Naoko. Ayah memecahkan telur itu dan memasukkannya ke dalam bubur miliknya. 


Ibu melihat ayah makan dengan lahap. Ibu lalu bertanya pada Naoko, apakah tokonya menjual lingerie hitam? Naoko membenarkan. Ibu bertanya lagi, apa jenis pelanggan yang membeli bra hitam? Tiba-tiba ayah berhenti makan. Ia melihat ibu dengan tatapan curiga. Naoko bertanya kenapa ibu menanyakannya? Ibu beralasan kalo itu baru aja muncul dalam obrolan di pekerjaan paruh waktu ibu tempo hari. 


Ayah makin curiga. Ia mempercepat makannya. Naoko menjelaskan kalo setiap orang memilikinya untuk pemakaman, tapi sebenarnya nggak seperti itu. Ibu tahu? Itu berati sesuatu yang seksi. Ibu membenarkan. Seksi. Ayah sendiri semakin mencurigai ibu yang sepertinya mengetahui sesuatu. Bra renda hitam. Kontras antara bra hitam dan kulit terang terlihat sangat bagus. Ibu bertanya kulitnya ringan, ya? Naoko kembali menjelaskan jadi orang yang ingin tampil bagus untuk acara spesial atau orang yang ingin merasa percaya diri cenderung membelinya. 


Ibu pikir wanita jahat dan jahat yang hanya memikirkan pria yang akan membelinya. Seorang nyonya atau lebih tepatnya tipe jahat. Ayah mau bangkit, ia akan membawa teh. Naoko menyela dan memberikan teh untuk ayah. Sambil menang teh, Naoko menjelaskan kalo udah umum mengasosiasikan lingerie hitam dengan jenis wanita itu, tapi warna hitam juga menunjukkan betapa bangganya dan berpikiran kuat dia. Itu adalah warna untuk wanita independen. Oh, ibu ngerti. Naoko menambahi dan juga wanita yang nggak akan menyerah pada tekanan masyarakat, mereka tampaknya juga memilih warna hitam. 


Ibu memuji pengetahuan Naoko begitu profesional. Naoko merendah, ia baru aja berada di toko itu untuk sementara waktu. Ibu nggak peduli apakah dia wanita jahat atau independen, tapi pria itu pasti ceroboh jika terpikat pada wanita yang seperti itu. 


Ayah udah selesai makan. Ia bergegas bangkit dan berjalan ke kamarnya. Ibu mendesah menyaksikannya. Ayah mencari sesuatu di pakaiannya yang tergantung. Nggak ketemu. Ia lalu mencari di lemari. Ayah mengambil tasnya dan membukanya. Naoko mendatangi ayah dan bertanya apa yang sedang ayahnya cari? Ayah mengatakan ia nggak benar-benar mencari apapun. Naoko mendekat, bertanya apa itu? Ia akan membantu.  Ayah bilang kalo itu bukan masalah besar dan mengembalikan tasnya kedalam lemari. 


Ayah meninggalkan kamarnya bertepatan dengan ibu yang baru masuk. Ibu duduk. Naoko berkomentar kalo ayah bertingkah aneh hari ini. Ibu hanya melihat ayah dengan tatapan kosong. 


Ayah turun ketempat ibu melipat pakaian. Ya, ia menemukannya. Bra hitam yang waktu itu. Ayah segera menyimpannya kedalam saku celananya. 


Ayah memakai sepatunya. Ia akan berangkat kerja. Ibu turun dari  tangga. Ayah menoleh pada ibu. Ia akan bekerja shift akhir hari ini. Ibu diam aja mendengarnya. Naoko menoleh pada ayah. Semoga hari ayah menyenangkan. Ibu kembali melihat kepergian ayah dengan sedih. Naoko bertanya ada apa? Ibu menoleh pada Naoko dan bertanya gimana bisa pernikahan jadi nggak berharga? Ibu pergi meninggalkan Naoko. Naoko melihat ibu dan merasa ada yang nggak beres. 


Junko berkencan lagi. Kali ini dengan pria yang berbeda. Pria itu meminta tangan Junko. Ia ingin menggandeng tangan Junko. Alarm Junko berbunyi, waktunya habis. Junko membungkuk memberi hormat, ia akan menantikan permintaan pria itu lain kali. 


Junko pergi meninggalkan pria itu. Ia berlari menjauh. Kotor! Junko mengambil bola pria yang bermain basket yang mrnggelinding ke arahnya. Pria itu meminta maaf dan meminta bolanya. Junko melempar bola itu. Pria itu berterima kasih dan melanjutkan permainannya. Ia melemparkan bolanya ke keranjang. Junko terus menatap pria itu. Pria itu menghentikan permainannya dan bertanya pada Junko apakah ia ingin mencobanya? 


Junko menolak dan berjalan. Pria itu ingat Junko di sana tempo hari  dengan pria lain. Junko mendekat. Itu bukan urusannya. Pria itu tahu itu bukan urusannya tapi... pria itu nggak melanjutkan perkataannya dan memilih melanjutkan permainannya. 


Junko berjalan mendekatinya. Ia merasa pria itu memiliki banyak waktu luang. Pria itu mengelak. Bukan dia. Ia nggak pernah punya cukup waktu. Junko bertanya kenapa pria itu nggak terus menembak bola menuju mimpinya? Habis bilang itu Junko lalu pergi. Pria itu tersenyum. Gimana dengan Junko sendiri? Apa yang sedang ia lakukan? Junko berhenti dan melihat pria itu. 


Ayah berjalan bersama dengan teman-temannya. Mereka berjalan dengan mengaitkan tangan satu sama lain. Mereka tampak sangat percaya diri. Mereka bahkan nggak memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang. Salah satu dari mereka mengatakan pada orang yang lewat kalo mereka akan membuat debut mereka malam ini. Yang lain membenarkan. Mereka akan bersenang-senang. 


Pemotretan sedang berlangsung. Seorang model berpose memamerkan kakinya. Temannya berpendapat kalo dia memiliki kaki yang besar. Fotografer memuji Grace yang sangat seksi. Grace sendiri hanya tersenyum. Fotografer memuji kakinya yang indah. Temannya mengiyakan. Ia lalu meminta Grace untuk mencoba pose yang lain. Itu bagus juga. Grace hanya terkena pada dirinya sendiri. Yang lainnya tertawa dan memuji posenya yang bagus. Sangat seksi. 


Ayah melihatnya dan tersenyum. Grace selesai di potret. Teman ayah yang berdandan ala Marilyn Monroe bertanya siapa selanjutnya. Ia lalu menunjuk ayah yang bernama Katherine. Sekarang adalah gilirannya. Ayah menolak. Marilyn maju dan duduk disamping ayah. Ia ngajak ayah untuk membuat malam yang tak terlupakan. 


Marilyn membimbing ayah menuju tempat pemotretan. Ia berseru untuk aksi terakhir malam ini. Inilah Rookie mereka yang menjanjikan, Katherine!!! Teman-teman ayah bertepuk tangan. 


Ayah duduk di kursi dengan malu-malu. Fotografer itu ternyata adalah Ji Won. Baik ayah maupun Ji Won keduanya sama-sama terkejut satu sama lain. 


Ayah mengatakan tidak. Itu tidak... Marilyn menghampiri ayah dan bertanya apakah ayah mengenal Ji Won? Ji Won melongo melihat penampilan ayah. Ayah mengatakan enggak. Ayah bangkit dan berteriak kalo dia nggak kenal Ji Won. Marilyn aja sampai kaget melihat ayah kayak gitu. 


Ayah berlari keluar ruangan. Teman-temannya bertanya-tanya apa yang salah??? Ji Won bertanya-tanya apa yang terjadi dengan ayah. Ji Won bangkit dan memutuskan untuk mengejar ayah. 


Ji Won mengejar ayah sambil memanggil-manggilnya. Mereka berlari cukup jauh sampai akhirnya ayah terjatuh. Ji Won menghampiri ayah yang terjatuh dan menolongnya. Ji Won  bertanya apakah ayah baik-baik aja? Ji Won meminta maaf. Ia pikir ia nggak akan melihat ayah lagi kalo dia nggak mengejar ayah. Ayah menatap Ji Won sembari mengatur nafasnya. Ah, berlari sangat menyusahkan pada orang seusianya. 


Ji Won dan ayah makan di kedai oden pinggir jalan. Ji Won menuangkan minuman kedalam gelas ayah. Ayah mengajak Ji Won gonbae. Ayah memuji minuman itu yang enak sekali. Ji Wo  juga berkomentar kalo itu bagus. Ayah menuangkan minuman di gelas Ji Won. Ayah  bertanya pada Ji Won,  apakah ada yang memberitahunya sebelumnya? Bahwa Ji Won nggak di inginkan di dunia ini? Ji Won hanya menatap ayah dalam diam. 


Ayah merasa nggak papa kalo Ji Won masih muda. Ji Won masih memiliki jalan yang panjang. Jadi dia bisa terus bangun kapanpun dan dimanapun ia berada. Tapi ketika mereka berada di usia ayah, ini benar-benar sakit, tahu? Ji Won menatap ayah lalu meminum minumannya. 


Ayah bercerita kalo dia pensiun dini 3 tahun yang lalu. Hal itu cukup umum akhir-akhir ini. Ayah berpikir ia akan segera mencari pekerjaan lain. Jadi ayah nggak ngasih tahu keluarganya tentang hal itu. Ayah hanya berpakaian kerja dan meninggalkan rumah setiap pagi. Tapi ayah nggak menemukan apapun. Bukan jenis pekerjaan yang ia harapkan. 


Lalu ayah mulai kehilangan kesabarannya. Ayah berdiri di dekat sungai. Pada saat bersamaan, tindakan ayah terus bertambah lambat. Seperti tubuhnya yang terkena pukulan. Dan itu membuatnya terbakar. 


Ayah benar-benar terbakar habis. Ayah meminum minumannya kemudian mengambil botol, hendak menuang lagi. Ji Won merebutnya. Ia menuangkan minuman untuk ayah. Ayah berterima kasih lalu meminumnya. Ayah berkata kalo dia iri pada sungai. Ji Won bertanya, sungai? Ayah mengiyakan, sungai. Sungai terus mengalir menuju laut. Ayah merasa itu menelan begitu banyak dan itu di bentuk kembali oleh semen. Tapi tanpa mengeluh, itu terus mengalir. Ayah merasa alangkah baiknya kalo ayah bisa mendapatkan arus itu. Melihat ke langit. Pikiran itu terpikir oleh ayah untuk pertama kalinya. 


Ayah tersenyum lalu meneguk minumannya. Ji Won menatap ayah lalu memanggilnya "ayah". Ayah tersenyum lalu meletakkan gelasnya. Apa yang dia bercandakan? Ayah melepas antingnya dan menatapnya. Ia mengaku sangat terkejut saat menemukan dunia itu. Ayah bercerita sambil membayangkan kebersamaannya dengan teman-temannya. Ayah berhasil meningkatkan keberanian dan mencobanya sendiri. Bagi ayah itu sangat menyenangkan. Dan ayah teringat saat ia berjalan bersama teman-temannya dengan senyum bahagia. 


Ayah menatap Ji Won. Bukannya ia suka pria atau apapun. Gimana ia harus meletakkannya. Ayah merasa nyaman. Itu membuat ayah bahagia karena ayah bisa menjadi orang lain. Ayah bertanya pada Ji Won. Saat Ji Won berdiri diam, bukankah grafitasi menariknya kebawah? Karena Ji Won membawa beban di punggungnya. Seperti ia berperan dalam keluarga atau kejiwaan, tanggung jawab, tradisi, hubungan, hal-hal yang seperti itu. Ji Won mengangguk mengiyakan. Ayah meneguk minumannya lalu berkata ia nggak mengatakan bahwa ia ingin memberikan segalanya. Tapi keadaan menjadi sangat ringan saat ia berada di dunia itu. Seakan grafitasi lenyap. Tidak. Itu nggak benar-benar hilang. Tapi ayah menikmati ilusi itu. 


Pemilik kedai memberikan arak beras Korea. Ji Won bangkit dan menerimanya. Ia memberikannya pada ayah lalu menerima miliknya. Sekali lagi ayah mengajak gonbae. Ayah berkata sangat bagus. 


Ji Won tersenyum. Ia bilang ke ayah kalo dia senang. Ayah bertanya kenapa. Ji Won mengatakan kalo dia selalu ingin minum dengan ayahnya. Ayah bertanya pada Ji Won dimana ayahnya? Ji Won terdiam. Dengan raut wajah sedih dia mengatakan kalo ayahnya udah meninggal saat ia berumur 6 tahun. Ayah terdiam menatap Ji Won. Tiba-tiba suasana menjadi kaku. 


Ji Won mengatakan kalo yang harus ayah lakukan adalah berada di sini. Apa? Tanya ayah. Ji Won mengatakan kalo ia senang ayah ada bersamanya. Hal-hal nggak selalu baik dalam keluarga. Tapi kenyataannya nggak selalu baik. Fakta bahwa itu nggak selalu baik itu bagus. Ayah bertanya apa maksud Ji Won itu lebih baik daripada nggak sama sekali? Ji Won menjawab itu 100 kali lebih baik. Ayah meneguk minumannya lagi dan Ji Won hanya menatapnya. 


Ji Won mengatakan kalo dia melihat kotak makan siang yang ayah buat. Ji Won teringat saat melihat foto itu bersama dengan Naoko. Naoko tertawa. Ayahnya bahkan memotretnya. 


Ayah ingat, oh ...itu?? Ji Won mengangguk. Ayah tersenyum. Ji Won mengaku kalo ia juga ingin mencobanya. Sangat. Ji Won suka makanan cokelat. Ayah tersenyum. Ia suka goboten (pasta ikan cokelat dengan akar burdock). Ayah lalu memesan dua goboten. Pemilik kedai mengatakan akan segera datang.


Dan nggak butuh waktu lama, goboten pun datang. Punya makanan cokelat? Ayah mempersilakan Ji Won untuk memakannya pertama. Ji Won mencicip dan berkomentar kalo ini enak. Masisseoyo, kata ayah.  


Ayah pulang bersama Ji Won. Ayah berkata kalo mereka minum telalu banyak. Ayah merasa ini sangat menyenangkan. Ji Won mengiyakan sangat menyenangkan. Oke, ayah mengerti. Ayah ngajak pergi untuk putaran lain. Putaran lain? Tanya Ji Won.  Ayo pergi. Ayah bertanya Ji Won mau pergi? Ji Won setuju. Gimanapun ayah merasa harus mengatakan kalo Ji Won benar-benar bisa menahan minuman keras. 


Ji Won dan ayah berhenti berjalan dan menatap air sungai. Ji Won memanggil ayah. Ia menawari ayah untuk melakukan pemotretan sekali lagi. Ayah setuju. Mari lakukan sekali lagi. Ayah berjalan menghampiri sungai dan muntah-muntah. Ji Won menghampiri ayah. Apakah ayah baik-baik aja? Tanyanya sambil menepuk-nepuk punggung ayah. 


Dirumah udah nunjukin hampir jam 12. Junko berkata kalo Ayah terlambat. Naoko berkomentar kalo ayah nggak seharusnya bekerja shift malam hari ini. Ini nggak terbiasa baginya. Junko mengatakan kalo ayah temannya dari sekolah...  Ibu bertanya apa yang terjadi? Junko bercerita kalo dia menghilang dengan semua buku dan segel bank. 


Ibu bangkit dan memeriksa laci. Junko bilang ingin tahu apakah menghilang adalah ten akhir-akhir ini? Naoko menyela, bisa nggak Junko  berhenti berselancar di internet? Junko merasa nggak ada bedanya apakah ayah ada disini atau enggak. Naoko melarang Junko bilang gitu. Ibu merasa buku tabungannya aman. Junko mengatakan kalo Naoko selalu merajuk dan menyebarkan kegelapannya. Tahu? Ibu mengatakan kalo Itu nggak benar. Ayah diam-diam... Diam-diam apa tanya Junko. Naoko juga ikutan nanya, apa? Ibu bilang lupain aja dan nyuruh tidur. Naoko bertanya haruskah ia mencari ayah? Apa? Ibu melarang Naoko. Gadis nggak boleh keluar jam segini. Junko mengucapkan selamat malam dan pergi ke kamarnya. 


Ayah pulang. Naoko langsung bangkit. Ji Won nanya apa ayah baik-baik aja? Ayah yang udah mabuk berat menjawab kalo dia baik-baik aja. Ibu dan Junko juga menghampiri ayah. Ji Won? Naoko minta maaf karena mengganggu Ji Won.   Naoko dan ibu menghampiri ayah dan menolongnya. 


Ibu melihat Ji Won mendapat noda pada celananya. Ji Won. Ibu merasa ayah pasti telah menjatuhkan Ji Won. Ibu memukul ayah. Ibu nyuruh Ji Won masuk. Mereka akan memcucinya untuk menghilangkan nodanya. Naoko mengatakan ia akan mencucinya. Ibu melarang. Naoko nggak boleh melakukannya. Ayah punya beberapa celana olahraga, kan?? Ibu memanggil Junko untuk mengambilkannya. Naoko sekali lagi mengatakan akan mencucinya dan lagi-lagi ibu melarangnya. Ibu nyuruh Naoko mengambilkannya karena Junko nggak segera datang. Naoko dan ibu memanggil ayah, apa ayah baik-baik aja? Ayah menyahut kalo dia baik-baik aja. Ia sama sekali nggak mabuk. 


Ji Won udah berganti pakaian. Naoko memberinya minum air putih dan Ji Won meminumnya. Naoko bertanya dimana Ji Won bertemu dengan ayahnya? Jo Won agak bingung harus menjawab apa. Ia akhirnya berbohong dan mengatakan ia ketemu dengan ayah di stasiun. Naoko merasa janggal, pada jam segini? Ji Won mengarang, sebelumnya di malam hari lalu mereka pergi minum. Naoko mengerti. Ia tersenyum. 


Ibu datang membawakan celana Ji Won yang udah di cuci. Ibu memperlihatkan kalo nodanya udah hilang. Sekarang ibu hanya perlu menyetrikanya. Ji Won membungkuk berterima kasih. Naoko bertanya pada ibu. Apa menurut ibu ayah baik-baik aja? Ibu menjawab kalo ia udah mengurusnya dengan benar. 


Ayah sendiri lagi tidur dikamarnya. Ia bahlan tidur sambil mendengkur. 


Ibu menata tempat tidur. Naoko bertanya apa yang ibunya lakukan? Ibu mempersilakan Ji Won untuk tinggal di sana malam ini. Apa? Tanya Naoko. Ibu memberikan alasannya kalo kereta api nggak ada sekarang. Di tambah lagi celananya yang masih belum kering. Naoko mengerti. Ibu bener. Ibu mengatakan kalo ia sangat menyesal atas masalah ini. Ji Won membungkuk. Ia berterima kasih atas keramahan yang ibu berikan padanya. Ibu merasa seharusnya ia lah yang seharusnya berterima kasih pada Ji Won. 


Naoko tidur sekamar dengan ibu. Ia nggak bisa tidur. Naoko melihat ibu yang tidur di bawah udah tidur pulas. Naoko menghela nafas dan mencoba untuk segera tidur. 


Hari udah pagi. Ji Won menonggalkan rumah bersama dengan Naoko. Ibu terburu-buru keluar membawa payung untuk Naoko. Ibu menyerahkannya sambil mengatakan untuk berjaga-jaga. Naoko mengambilnya dan pamit. Ibu berpesan agar mereka berhati-hati. Ibu keluar dan melambai. Semoga harinya menyenangkan. Setelah Naoko dan Ji Won nggak kelihatan lagi, ibu menghela nafas. Ia seperti lega udah nggak perlu bersandiwara lagi. 


Ayah terbangun dan melepaskan kacamatanya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi. Ayah memakai kacamatanya kembali sambil bertanya-tanya apa yang ia lakukan. 


Hari sedang hujan. Ji Won memegang payung untuk dia dan Naoko. Naoko bertanya apa tadi malam Ji Won tidur dengan nyenyak? Jo Won mengiyakan. Ji Won bertanya apakah ia bisa menemui Naoko besok malam? Besok sore. Naoko merasa ia bisa. Ji Won mengatakan kalo ia ingin Naoko menemui seseorang. Naoko menatap Ji Won. 


Ji Won berdiri di belakang kameranya. Ia tengah memotret. Ia mengatakan kalo itu sangat bagus, Katherine. Ayah sedang berpose di hadapan Ji Won. Ayah tersenyum menatap kamera dan Ji Won memotretnya drngam semangat. 


Naoko udah datang. Ia melihat pemotretan itu dari atas. Ia bertanya-tanya siapa dia. Naoko memuji orang itu yang kelihatan cantik. Naoko tersenyum menyaksikan pemotretan Ji Won. Naoko memperhatikan model itu dengan seksama dan melihat kalo dia adalah ayah. Naoko berkata nggak mungkin. Dari atas Naoko memanggil ayah. Ayah menoleh dan melihat Naoko ada di atas sedang melihatnya.

Bersabung...

Komentar :

Kali ini sepenuhnya hanya nyeritain tentang ayah,ya??? Padahal tadinya masih mau melihat romance antara Ji Won dan Naoko. Tapi ya udahlah.

Ibu kayaknya nyesek banget, ya. Harus berakting di depan semuanya seolah semua baik-baik aja padahal batinnya tersiksa. Dan apa pula yang bakal dia pikirin tentang ayah yang seperti itu???