Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 3 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 4 Part 1

Naoko udah duduk bersama dengan ayah dan Ji Won. Naoko bertanya apa yang terjadi? Ayah meminta maaf. Naoko pasti terkejut. Naoko tersenyum dan bertanya pada dua pria dihadapannya, ini pasti lelucon, kan? Bener, kan? Naoko tertawa. Tapi tawa itu segera sirna saat ia melihat  ekspresi ayah. 


Ji Won memanggil Naoko. Ia yakin Naoko pasti akan mengerti. Itu yang Ji Won katakan pada ayah. Ji Won membuka laptop-nya dan memperlihatkan foto yang Ji Won ambil tadi. Naoko melihatnya dan sedikit tersenyum. Ia melihat ayah tetlihat senang di foto itu. Ia merasa belum pernah melihat ayah sebagia ini di rumah. 


Ayah menunduk dan meminta maaf. Ji Won memanggil Naoko. Apa Naoko pernah mencoba renang jarak jauh? Naoko bertanya, renang jarak jauh? Ji Won mengangguk. Setiap orang perlu menahan nafas, sementara mereka sedang berenang. Naoko mengangguk membenarkan. 


Ji Won menoleh pada ayah. Ia mengatakan kalo ayah Naoko hanya...menahan nafasnya sekarang. Ji Won melarang Naoko untuk khawatir. Naoko menatap ayah. Ayah sendiri nggak mampu ngomong apa-apa dan hanya diam. Naoko dan Ji Won juga ikutan terdiam. Naoko melihat foto-foto itu sekali lagi.

Naoko pulang bersama dengan ayah. Naoko memanggil ayah. Ia mengaku mengerti gimana perasaan ayah. Naoko tersenyum, tapi cuman dikit aja. Ia ingin ayah ngasih tahu yang sebenarnya ke ibu juga. Ayah melihat Naoko. Itu... Naoko berkata  kalo menurutnya ibu udah tahu kalo ayah nyembunyiin sesuatu. Ia ngasih tahu ayah kalo ibu sakit karena itu. Tapi ibu nggak tahu gimana caranya nanya.


Naoko inget saat ibu melihat kepergian ayah dengan gelisah. Naoko bertanya ada apa dengan ibu. Ibu menghela nafas dan bilang gimana bisa pernikahan jadi nggak berharga? 


Naoko berpikir kalo selama ini ibu menderita. Ayah membelakangi Naoko dan bekata kalo selama ini ibu nggak pernah berbicara. 


Di rumah ibu lagi membersihkan bak cuci piring. Kayaknya ibu kesel banget. Ibu menggosoknya dengan keras.


 Ayah bilang kalo ibu selalu seperti itu. Dia nggak pernah membicarakan hal-hal penting. Naoko membalikkan kalo ayah juga nggak pernah berbicara. Naoko melangkah maju dan berdiri di samping ayah. Naoko tersenyum dan bertanya pada ayah kenapa ayah memilih Katherine? Ayah berkata oh... baik..ayah berjalan meninggalkan Naoko. 


Ibu membuka foto ayah. Ia tampak kebingungan. Ia menatap ayah dan Naoko secara bergantian. Ibu bertanya jadi ayah nggak selingkuh? Naoko membebarkan dan bilang kalo ayah hanya ingin jadi orang lain. Ibu menatap foto itu sekali lagi. Baginya itu malah lebih buruk dari selingkuh. Ayah diam. Ibu bertanya gimana apanya? Ayah ingin jadi orang lain? Dan meninggalkan keluarganya? Gimana bisa ayah jadi segitu egois? Ibu bangkit dan ninggalin ayah dan Naoko. 


Ibu berlari meninggalkan rumah. Ia juga ingin jadi orang lain. Bukan ibu atau istri seseorang yang melelahkan. Apa ayah nggak lihat bahwa ibu hanya bertahan dengan itu? Ibu nggak punya pilihan lain selain menerimanya. Tiba-tiba ibu berhenti berlari. Ternyata ada Ji Won dihadapannya. Ji Won tersenyum memanggil ibu. Ia berjalan menghampiri ibu. Ji Won tersenyum  sambil memperlihatkan apa yang ia bawa buat ibu. 


Ji Won membawa ibu ke taman. Ji Won membuka kotak kue-nya dan mempersilakan ibu untuk memakan apa yang ia mau. Ibu bertanya, benarkah ia boleh memilih apa yang ia mau? Ji Won mengangguk sambil tersenyum. Ibu bisa memiliki mereka semua kalo ibu mau. Ibu tersenyum dan berkata  kalo mereka semua menggoda. Tapi Naoko dan Junko akan kecewa. Ji Won tersenyum dan melarang ibu mengkhawatirkan mereka. Ia memberikan jus dan  garpu untuk ibu. 


Ibu mengambil satu kue dan memakannya. Ibu bilang kalo itu enak. Ji Won senang  mendengarnya. Ibu meminta maaf pada Ji Won. Ketika ia melihat potretnya, ibu mengaku panik. Ji Won tahu.  Ibu bertanya apa yang salah dengan keluarganya? Mereka selalu menunjukkan sisi memalukan mereka. 


Ji Won menundukkan wajahnya. Ia merasa iri pada ibu. Ibu berhenti makan dan bertanya apa? Ji Won memperjelas, keluarga ibu. Ibu termenung. Keluarganya... ibu malah menangis. Ji Won malah tersenyum menyaksikan ibu menangis. Ibu merasa ia terlalu tua untuk...


Naoko datang. Ibu menyapa Naoko dan bilang padanya kalo kue itu sangat bagus dan nyuruh Naoko buat keamari. Naoko duduk bersama dengan ibu dan Ji Won. Ibu mengatakan kalo dipilir-pikir lagi itu lebih baik dari pada perselingkuhan, kan?? Ibu membenarkan pertanyaannya sendiri. Ibu merasa setiap orang perlu curhat  


Ji Won menatap Naoko dan mengangguk. Naoko memanggil ibu. Naoko mengatakan kalo ayah menyebut dirinya sendiri sebagai Katherine. Ibu berhenti makan dan hanya bilang, hah? 

Flashback...


Malam itu ayah menanyakan apakah Naoko mengenal Katherine Hepburn. Naoko menggeleng. Ayah menjelaskan kalo dia adalah seorang aktris Hollywood yang terkenal beberapa tahun yang lalu. Naoko tersenyum pada ayah. Kata ayah, dia sangat bersemangat dan menurut ayah itulah pesonanya. Sebuah sensasi halus banding s*ks juga. Naoko bertanya apa ayah menyukainya? Ayah mengatakan kalo dia mengingatkannya pada seseorang. Naoko bertanya siapa? Ayah menjawab ibu, ketika masih muda. Naoko berhenti maelangkah. Ayah menoleh padanya. Baiklah sedikit aja. Ayah tersenyum lalu kembali berjalan. Naoko juga berjalan kembali di samping ayah. Naoko bertanya apakah ayah dan ibu pergi ke bioskop bersama? Ayah bilang enggak. Naoko meminta ayah agar nggak berbohong. Ayah melakukannya, kan? Ayah masih bilang enggak. Mereka nggak melakukannya. 

Flashback end...


Ibu berhenti makan dan menatap Naoko. Ibu lalu tertawa. Ia nggak percaya. Itu sangat menggelikan. Naoko dan Ji Won juga ikutan senyum. Ibu meletakkan kuenya. Ia akan pulang kerumah sekarang. Ji Won membungkus kue itu untuk ibu bawa pulang dan memakannya dengan ayah. Ibu menerimanya dan berterima kasih. Ibu tersenyum dan pulang. Ji Won dan Naoko menatapnya dengan perasaan lega. 


Ji Won mengantar Naoko pulang. Naoko bertanya pada Ji Won, apakah menurutnya ternyata baik-baik aja? Naoko bercerita kalo ibunya selalu seperti itu. Dia awalnya kuat tapi pada akhirnya ia selalu membuat orang lain bertahan dengan itu. Naoko bertanya-tanya apakah begitulah keluarganya tetap bersama? Naoko menatap Ji Won dan meminta maaf karena melibatkan Ji Won pada keluarga yang seperti itu. Ji Won bertanya apa maksud Naoko dengan keluarga seperti itu? Naoko menatap Ji Won. Menurutnya keluarga lain harus bergaul jauh lebih baik. Ji Won tersenyum. Naoko mengatakan kalo sebelumnya ia udah pernah bilang kalo ia nggak pernah punya mimpi, tapi sekarang ia berharap semua orang di keluarganya akan tersenyum seperti dulu. 


Ji Won tersenyum dan mengeluarkan kalung dari dalam sakunya. Sebuah hadiah untuk Naoko. Naoko bertanya untuknya? Ji Won mengangguk. Ia lalu memakaikannya ke Naoko. Habis itu ia tersenyum menatap Naoko. Seperti yang ia pikirkan, itu terlihat bagus kalo dipakai sama Naoko. 


Naoko tersenyum dan meraba kalungnya  kristal salju? Ji won mengangguk. Janji mereka. Ji Won mengingatkan Naoko pada janjinya kala malam itu. Mereka akan selalu bersama setiap kali salju pertama turun. Naoko tersenyum dan berterima kasih. 


Ji Won lalu menggenggam tangan Naoko. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan bergandengan tangan. 
" aku nggak ingin melepaskan tangan ini. Nggak peduli apa. Itu juga mimpinya".


Naoko dan Ji Won berdiri menatap kota dari kejauhan seolah-olah sedang menatap masa depan. 


Ayah menonton film di rumah. Ibu pulang. Ia memanggil ayah dan ngasih tahu kalo kue ini berasal dari Ji Won. Ayah cuman bilang iya. Ibu bangkit, ia merasa teh ayah pasti udah dingin. Ibu mengambil teh untuk ayah. Ayah sendiri masih diam dengan wajah serius.  Ayah minta maaf pada ibu karena membuatnya khawatir. Tapi itu bukan berarti ayah  ingin meninggalkan keluarga. 


Ibu memberikan segelas teh pada ayah. Ibu melihat film itu dan bilang kalo udah lama sekali ia nonton film itu ibu melihat pemeran utama dari film itu. Ada baiknya kalo beberapa hal nggak pernah berubah. Ayah juga ikutan melihatnya. 


Junko pergi berkencan lagi dengan pria yang berbeda dari yang sebelumnya. Tiba-tiba alarmnya berbunyi. Oh waktunya habis. Junko berkata kalo ia  menantikan permintaan pria itu lain kali. Apa anda bercanda? Tanya pria itu. Ia menahan tangan Junko saat Junko hendak pergi. Pria itu membentak Junko. Kenapa Junko nggak memberikannya layanan ekstra? Hentikan! Teriak Junko sambil mengangkat tangannya. Junko berlari dan pria itu mengejarnya. 


Ji Won sedang berada di studionya. Seseorang memanggilnya. Hei Ji Won! Ya. Iwama bertanya apa nggak papa jika ia ngasih Ji Won lebih banyak pekerjaan akhir pekan depan? Ji Won mengiyakan dan yang itu setelah itu. Iwama bertanya apakah Ji Won yakin? Iya. Ji Won akan melakukan apapun. Kapan aja. Habis itu Ji Won kembali pada kameranya dan asik memotret. 


Pria yang mengejar Junko meminta Junko memberikan kembali uangnya. Junko nggak mau, ia minta ditinggalkan sendiri. Orang itu bertanya kenapa Junko nggak memberikannya layanan ekstra? Apa Junko nggak tahu kalo dia memiliki keanggotaan premium. 


Pria itu berhasil menangkap Junko. Apakah Junko bisa tenang? Pria itu mendorong Junko. Junko berteriak meminta tolong pada siapapun. Pria itu membekap mulut Junko dan menyuruhnya diam. Ia membelenggu tangan Junko dan tersenyum. Junko memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya. 


Pria yang bermain basket bertanya apa yang mereka lakukan? Pria yang bersama Junko nanya balik, dia siapa? Pria yang bermain basket melompat mendekati Junko dan pria tadi. Pria tadi ketakutan dan melarikan diri meninggalkan Junko. 


Pria itu melihat Junko, ia akan menyesalinya. Betapa br#ngsek. Pria itu berbalik hendak pergi. Junko menahannya dan berterima kasih. Pria itu berbalik dan menatap Junko. Ia tahu itu bukan urusanku tapi Junko mungkin nggak bakal  beruntung lain kali. Sebaiknya Junko menganggap serius dunia ini. Apa sih yang sebenarnya ingin Junko  lakukan? Junko hanya menunduk dan nggak bilang apa-apa. Pria itu kembali bicara, ia kira nggak masalah kalo Junko nggak peduli pada apa yang terjadi. Junko melihat kepergian pria itu. 


Junko pulang dan mengobati lututnya. Naoko yang baru pulang bertanya apa yang terjadi pada Junko. Apakah dia terjatuh? Junko hanya bilang, ya...seperti itulah. Naoko menyalakan televisi. Selanjutnya mari kita lihat cuaca di wilayah Kanto. Hari itu cerah dan cerah hari ini, khas cuaca Mei untuk wilayah Kanto. 


Junko melihat kalung kakaknya. Ia merasa iri. Ini adalah misteri. Junko bertanya kenapa Ji won ingin bersamanya? Naoko bertanya apa yang membuat Junko mengatakan itu? Junko lalu ingat kalo Naoko adalah sapi perahnya. Junko bangkit. Naoko memberitahu kalo Ji Won  telah membayarnya sedikit demi sedikit. 


Junko duduk di kursi dapur. Ia rasa itu akan berakhir begitu Ji Won membayar hutangnya. Naoko berkata, ngomong-ngomong, apakah Junko kerja paruh waktu hari ini? Junko hampir nggak punya cukup waktu buat nyiapin ujian sekolah, kan?? Junko akan menyesal kalo Junko nggak belajar selagi ia bisa. Waktu benar-benar terbang, tahu??!! 


Junko malah balik nanya, gimana dengan Naoko sendiri? Naoko berbalik dan nanya, apa? Junko bertanya apa kakaknya punya penyesalan? Apakah Naoko memiliki kehidupan sekolah yang sempurna? Apakah semuanya damai tanpa ada yang terluka? 


Naoko menghadap Junko. Junko kenapa? Junko bertanya apa yang Naoko banggakan? Ini sangat bodoh, berpura-pura seperti Naoko adalah siswa kehormatan. Naoko berkata kalo itu nggak bener. Junko menyela, tentu aja Naoko udah menyesal. SMA perempuan yang nggak terlalu populer. Junior college. Dan akhirnya Naoko menjual lingerie untuk mencari nafkah. 


Junko mengatakan apapun yang ia inginkan, dan bertindak seperti Naoko membiarkannya masuk pada sebuah rahasia sama seperti orang lain. Naoko tersenyum. Junko lanjut  tapi gimana dengan Naoko sendiri? Semua orang sangat ingin keluar dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka hanya menipu diri sendiri, berpura-pura seperti semuanya baik-baik aja. Bukannya gitu? Naoko berkata kalo itu nggak bener. 


Junko mengatakan kalo dia beda. Junko bener-bener berpikir untuk dirinya sendiri. Terkadang ia terluka. Tapi ia mencoba memikirkannya sendiri. Itu karena Junko ingin keluar dari sana. Naoko bertanya kemana Junko akan pergi? Junko menjawab dimanapun tapi nggak di rumah ini. Kenapa? Tanya Naoko. Karena Junko nggak ingin hidupnya menjadi timpang dan nggak berharga seperti Naoko. 


Junko udah mau pergi tapi Naoko nyuruh tunggu bentar. Gimana cam Junko mengatakan hal-hal seperti itu pada keluarga sendiri? Kamu bener-bener nggak tahu apa-apa. Apa aja di...  Junko menyela enggak! Naoko nggak tahu apa-apa. Junko membuang-buang barang. Naoko menghampirinya Apa? Berhenti! Teriak Naoko. Junko mengamuk. Ia merasa hanya mengatakan yang sebenarnya. Naoko adalah yang terburuk. Hentikan! Pinta Naoko. Tapi Junko nggak mendengarkannya. Ia terus mukulin Naoko. Junko mendorong Naoko dan menfatakan kalo Naoko b*doh, selalu ikut campur dalam hidupnya. Naoko adalah yang terburuk. Hentikan! Teriak Naoko. 


Ji Won pulang kerumahnya. Ia meletakkan tasnya dan menatap surat yang ia bawa. Ia membuka amplopnya. Formulir perjanjian penjamin. Ingatan Ji Won melayang ke saat ia bersama dengan ibunya di tepi laut. Ibu berteriak memanggil namanya. Seorang pria mengganfeng tangan Ji Won. Saat Ji Won belajar dirumahnya. Ji Won menarik-narik ibunya yang memeluk sebuah foto. Ji Won di rumah sakit, entah siapa yang sedang sakit. Hingga pegangan itu terlepas.

Bersambung...