Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: MBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Haru ga Kita Episode 4 Part 2

ibu melihat Junko mengamuk dan memukuli Naoko. Ibu berusaha melerai dengan menarik Junko tapi malah di dorong oleh Junko. Akhirnya ayah datang dan melerai mereka. Junko mengaku mengetahui apa yang terjadi. Ayah menantang apa memang yang Junko ketahui? Junko mengaku tahu apa yang ayah lakukan secara rahasia. Semua orang hanya berpura-pura nggak melihatnya. Junko menatap ibu. Ibu hanya ingin hal-hal berjalan di permukaan. Tapi nggak ada yang berhasil disini. Baginya keluarganya udah berakhir. Benar-benar berakhir! Ibu membentak Junko! Junko berteriak kalo dia sangat muak. Junko lari meninggalkan ayah ibu dan Naoko.


Naoko bangkit mengejar Junko. Junko membuka pintu dan terkejut melihat ada polisi. Polisi itu menunjukkan tanda pengenalnya. Mereka menanyakan apakah junko adalah Kishikawa Junko? Junko menjawab iya. Polisi bertanya lagi apa orang tuanya ada? 


Ibu bertanya ada apa? Polisi melihat ayah dan ibu. Mereka bertanya apakah ibu ibunya? Ibu mengiyakan. Polisi bertanya pada ibu apakah ibu tahu dimana putrinya bekerja. Ibu menjawab kalo Junko bekerja di toko serba ada. 


Polisi menjawab bukan tapi pekerjaannya adalah "berjalan-jalan dengan kelinci". Ayah maju dan betanya apa? Junko sendiri hanya diam dan nggak mengatakan apa-apa. 


Junko dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi mereka menjelaskan kalo Junko bekerja paruh waktu di tempat yang mempekerjakan JK atau anak perempuan SMP. Mereka memiliki gadis-gadis yang menawarkan berbagai layanan kepada para pria. Berjalan-jalan dengan kelinci, itulah nama bisnisnya. Layanan yang mereka tawarkan adalah berjalan-jalan, berkencan, mengambil foto, berbisik manja, dan berbagi tempat tidur. Itu nggak terdaftar sebagai toko s*ks jadi bisnisnya nggak di atur oleh undang-undang. Tapi ternyata mereka juga menawarkan layanan s*ksual dalam beberapa kasus. Itu sebabnya polisi menanyakannya pada gadis-gadis yang bekerja disana. 


Keluarga Junko tampak nggak nyangka dengan apa yang dilakukan oleh Junko selama ini. Junko baru aja selesai di interogasi. Menurut hasil interogasi, Junko sepertinya baru dalam pekerjaan itu. Ayah bangkit dari tempat duduknya dan bersujud. Ayah benar-benar meminta maaf karena putrinya telah menyebabkan banyak masalah. Junko malah melihat apa yang di lakukan ayah dengan tatapan sinis. 


Junko meminta ayah untuk berhenti berlutut. Naoko sendiri bangkit dan menghampiri Junko. Tanpa ragi sedikitpun ia menampar adiknya. Naoko bertanya apa Junko masih belum mengerti? Kalo smua orang .. semua orang khawatir terhadapnya. 


Ayah, ibu , Naoko dan Junko keluar dari kantor polisi. Naoko berkata kalo ternyata udah pagi. Semua orang terdiam. Naoko mengatakan kalo seperti yang Junko pernah katakan, keluarga mereka mungkin lumpuh dan nggak berharga, kehabisan nafas dan mengambil langkah goyah. Mereka mungkin nggak begitu keren seperti orang dewasa lainnya. Tapi mereka bertahan bersama. Mereka bahkan berlutut saat anaknya mendapat masalah. Nggak masalah kalo mereka terlihat nggak keren. Tapi, meski mereka terlihat nggak keren, mereka melakukan segala yang mereka bisa. Mereka mungki  jatuh dan gagal atau merasa malu, tapi mereka akan menghadap ke depan lagi besok. Naoko tahu itu nggak keren. Tapi ia rasa itu nggak papa. 


Junko mulai menangis. Sekali lagi Naoko mengatakan kalo itu nggak keren. Ia bertanya pada Junko apa sekarang ia udah ngerti? Mereka berhenti melangkah. Junko melepaskan  tangisnya. Ibu menghampirinya dan memeluknya. Begitu pula dengan Naoko. Ayah sendiri hanea terdiam menyaksikannya. Ia berkata pada tiga wanita itu untuk pulang. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah. 


Naoko mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk. Dari Ji Won yang menanyakan apakah semua baik-baik aja? Gimana kabarnya? Ia sedang menunggu telpon dari Naoko.


Nggak lama kemudian Ji Won udah berjalan bersama Naoko. Naoko meminta maaf karena membuat Ji won khawatir. Ji Won bertanya apa Naoko baik-baik aja? Naoko mengangguk dan berkata kalo sekarang ia baik-baik aja. Ji Won tersenyum. Ia memuji Naoko yang kuat. 


Naoko menggeleng. Enggak, dia nggak gitu. Ia sebenarnya ingin kabur. Ji Won membalas kalo kenyataannya Naoko nggak akan melarikan diri. Sekalipun sulit, ia nggak akan melarikan diri. Apapun yang terjadi. Itulah sebabnya Ji Won berpikir kalo Naoko kuat. Naoko tersenyum. Ia harap itu benar.


Ji Won dan Naoko menatap ayah, ibu dan Junko dari belakang. Naoko mengatakan sebuah keluarga, aneh bukan, ia akan berharap mereka berada di pihaknya. Tapi mereka menusuk punggungnya. Atau ia pikir mereka adalah musuhnya. Tapi kemudian mereka membelanya. Meskipun ia nggak memilih mereka sendiri tapi ia nggak bisa meninggalkan mereka. Naoko rasa ia ingin meninggalkannya tapi ia nggak benar-benar ingin meninggalkan mereka. Ji Won menatap Naoko dengan perasaan kagum. Naoko tersenyum. Ia merasa nggak masuk akal. 


Ji Won terpaku di tempatnya. Bahkan ketika Naoko udah berjalan mendahuluinya. Naoko meboleh Ke Ji Won dan tersenyum padanya. Ia menghampiri Ji Won dan meraih tangannya. Ji Won seolah tersadar dari lamunannya da tersenyum pada Naoko. Mereka kembali berjalan dengan bergandengan tangan. 


Junko duduk dan meraba luka di lututnya. Ia ada di lapangan basket seorang diri. Mungkin ia ingin melihat pria pemain basket. 


Naoko sedang bekerja. Ada seorang pelanggam yang mengembalikan barang yang ia beli. Naoko mengatakan padanya kalo mereka nggak menerima pengembalian jka tag-nya udah di lepas. Pelanggan itu mengatakan kalo dia hanya nggak suka sama warnanya. Pelanggan itu bertanya gimana kalo ditukar aja? Naoko meminta maaf. Pelanggan itu mulai kesal. Kenapa Naoko nggak bisa sedikit lebih fleksibel? Naoko benar-benar nggak bisa menerimanya karena alasan higienis. Naoko berharap pelanggan itu bisa mengerti. Pelanggan itu akhirnya pergi. Naoko membungkuk dan menantikan kedatangannya lain kali. Junko melihat apa yang dilakukan kakaknya barusan. 


Junko duduk di atap. Naoko menghampirinya dan membawakannya kopi. Junko menerimanya dan mereka sama-sama meminumnya. Junko mengatakan kalo Naoko bekerja. Naoko membenarkannya. Junko bangkit dan berjalan  menuju tepi. Ia melihat kebawah. Ada banyak orang. Naoko mengiyakan. Ia berdiri di samping adiknya. Ada begitu banyak orang dibawah sana. 


Junko terdiam seperti merasa malu. Ia berkata waktu itu...Junko minta maaf karena mengatakan hal yang mengerikan. Naoko menoleh pada Junko. Apa yang ia katakan? Junko mengatakan alasan  kenapa Ji Won mau berkencan dengan Naoko. Naoko tersenyum. Junko mengaku benar-benar tahu jawabannya. 

Flashback...


Saat Junko makan siang bersama dengan Ji Won siang itu. Junko bertanya apa yang Ji Won suka dari kakaknya? Ji Won tersenyum. Ia mengatakan kalo Naoko mengerti perasaan orang lain. Benarkah? Tanya Junko nggak yakin. Ji Won mengangguk membenarkan. Menurutnya Naoko mengerti perasaan mereka dan ada untuk mereka. Junko bertanya ada untuk mereka? Ji Won mengangguk. Naoko ada untuk orang lain sebanyak yang ia bisa. Dan Naoko mencoba yang terbaik setiap  hari. Nggak terkadang tapi setiap hari. Junko merasa itu melelahkan dan nggak berguna. Ji Won rasa apa yang di katakan Junko memang benar tapi ia merasa apa yang dilakukan oleh Naoko itu mulia. Junko terdiam mendengar perkataan Ji Won.

Flashback end...


Naoko tersenyum malu. Ia nggak tahu kalo mereka berdua bicara seperti itu. Junko bilang kalo ia membenci semua orang di sekitarnya sebelumnya. Ia merasa nggak tahan dengan mereka. Tapi sebenarnya ia sangat membenci dirinya sendiri. Junko melihat kakaknya lalu tersenyum. Ia lalu berjalan meninggalkan Naoko. Naoko tersenyum melihat adiknya udah menyadari kesalahannya. 


Junko lalu duduk dan meregangkan tubuhnya seolah telah melepaskan seluruh masalahnya. Naoko tersenyum lalu duduk di sebelahnya. Ia ikutan meregangkan badan seperti Junko. Mereka tertawa bersama. 


Ayah dan Ji Won duduk berdua. Ayah berkomentar kalo cuacanya panas sekali. Apa yang membuat memakan waktu begitu lama. Berapa lama lagi mereka harus menunggu? Ibu, Naoko dan Junko udah siap. Mereka meminta maaf pada ayah dan Ji Won karena udah menunggu lama. Akhirnya...ta da! Ayah berkomentar kalo bulu halus membuat burung halus. Ibu bertanya kenapa ayah nggak jujur aja memuji mereka? Ji Won sendiri tersenyum menatap Naoko yang sanfat cantik. Ibu bertanya pada Naoko dan Junko kapan terakhir kali mereka melakukan itu? Naoko mengiyakan, mereka semua memakai yukata, (kimono kasual musim panas). Ibu mengiyakan dan mengajak mereka semua untuk pergi. 


Mereka pergi ke festifal. Setiap waktu Junko selalu mengambil gambar Naoko dan keluarganya. Ibu bertanya apa yang di inginkan Naoko. Naoko menunjuk satu dan menunjukkannya pada ibu. Ibu mengatakan masisseoyo? Ji Won lalu tertawa bersama ibu dan Naoko. 


Ibu memesan satu tusuk sate ayam dengan daun bawang.ji Won mengatakan kalo dia juga mau. Ibu menambah pesanannya menjadi dua. Naoko menyuapkan makanan ke Ji Won. Luar biasa kata Naoko. Ji Won mengiyakan, tapi itu panas. 


Mereka beralih ke tempat memancing. Tapi Naoko nggak dapet-dapet. Junko mengatakan kalo Naoko buruk dalam hal itu. Ji Won sepertinya akan berhasil. Dan Ji Won dapat. Ji Won memberikannya untuk Naoko.


Ji Won memakai bunga di telinganya. Ia tak henti-hentinya memotret. Mereka benar-benar bahagia. Tiba-tiba ibu berteriak, groper! Hah? Ibu memperjelas kalo orang tadi menyentuh p*ntatnya Ayah bertanya apa ibu yakin? Ibu merasa sangat yakin. Ibu merasa itu sangat memalukan. Ia berlari meninggalkan  keluarganya dan juga Ji Won. Ayah merasa itu mengerikan lalu memanggil ibu dengan panggilan sayang dan menyusulnya. 


Dalam perjalanan pulang ibu bercerita  kalo dia terlihat seperti orang yang baik. Dia datang dari depan dan saat mereka lewat,... ibu nggak nyangka kalo ada pria yang ingin menyentuh p*ntat wanita tua. Oh, itu sangat menggelikan menurut ibu. Junko bertanya apa ibu ingin melaporkannya ke polisi? Ibu berkata kalo itu nggak perlu. Tapi ibu penasaran kenapa ia memilih ibu saat dua gadis muda berada di dekatnya? Ibu malah merasa itu luar biasa. 


Ayah membuka pintu dengan kasar lalu masuk rumah. (Kayaknya ayah cemburu, deh) ibu yang enggak peka masih bertanya-tanea kenapa pria tadi menyentuh p*ntatnya?? Oh itu sangat menggelikan. Naoko bilang ke ibu kalo mereka ngerti. Ibu bilang kalo dia hanya berjalan-jalan dan dia datang dari depan dan...tapi ibu sangat senang karena itu bukan salah satu dari Naoko dan Junko. Mereka harus berhati-hati. Mereka nggak akan tahu apa yang akan terjadi. 


Ayah menyalakan lampu dan berteriak. Hentikan! Ia berbalik lalu meninggalkan ibu, Naoko, Junko dan Ji won. Naoko bertanya-tanya ada apa dengan ayah? Ji Won menatap kepergian ayah lalu tersenyum. 


Ji Won dan Naoko menyalakan kembang api berdua. Ji Won berkata cantiknya...(dalam bahasa Korea). Naoko menatap Ji Won lalu tersenyum sambil memegang pipinya, ia mengira pujian tadi untuknya tapi selanjutnya Ji Won mengatakan kalo kembang apinya sangat cantik. Senyum Naoko hilang. Ia lalu mengatakan kalo mereka benar-benar cantik (juga dalam bahasa Korea). Ji Won bilang ke Naoko kalo bahasa Koreanya udah jauh lebih baik. Naoko berterima kasih dalam bahasa Korea. Mereka lalu kembali tersenyum. (Aw...ini kalo di drama Korea pasti udah langsung kiss scene...ah, ngarep ^_^)


Ibu sedang membersihkan wajahnya di kamar. Ayah tiduran disamping ibu. Ibu bertanya apa ada sesuatu diwajah ibu? Karena dari tadi ayah terus melihat ibu. Ayah bilang enggak. Ibu nanya bisa nggak ayah berhenti menatapnya? Ayah berkata kalo ia melihat ibu. Apa? Tanya ibu. Ayah mengulangi kalo ia selalu melihat ibu. Ibu bilang ke ayah kalo ia udah berubah, kan? Menurut ayah itu bagus. Ada baiknya ibu berubah. 


Ayah merebahkan tubuhnya dan kembali bilang kalo dia selalu melihat ibu. Jumlah keriput di wajah ibu, jumlah bintik-bintik diwajah ibu, ... Ibu meraba wajahnya lalu tiba-tiba tertawa. 


Ibu menghampiri ayah dan bertanya gimana dengan ayah? Ayah jadi sangat lembek di sana. Ibu tidur didekat ayah sambil tertawa kecil. Ayah minta ibu berhenti. 


Ibu bangkit dan mematikan lampu. Ia kemudian tidur di kasurnya. Ayah nanya sama ibu apa menurut ibu kedua orang itu sedang ketemu sekarang? Mereka berdua? Bintang Weaver dan Bintang Cowherd (merujuk pada dongeng tentang pecinta). Ibu mengiyakan pertanyaan ayah. Sudah pasti. Langit cukup cerah malam ini. Ibu merasa mereka mungkin bosan satu sama lain sekarang. Hubungan mereka udah cukup lama. Sudah ribuan tahun, ayah tahu? Ayah mengiyakan, tqpi tetep aja mereka mungkin ingin ketemu. Karena hanya setahun  sekali (pecinta hanya bisa ketemu setahun sekali).


Ayah menoleh melihat ibu, ia lalu menarik tempat tidurnya mendekat ke ibu. Ibu bangun dan menarik tempat tidurnya menjauh dari ayah. Ayah berbalik membelakangi ibu. Ibu melihat ayah kemudian memarik tempat tidurnya kedekat ayah. Ayah melihat apa yang dilakukan ibu. Ibu bilang itu karena festifal bintang. Ayah mengiyakan. Mereka tidur dengan saling berdekatan satu sama lain. Ayah mematikan lampu kemudian tidur. 


Junko datang lagi ke lapangan basket. Ia kesal karena pria pemain basket nggak ada disana. Tiba-tiba seseorang meletakkan bola basket di dekat Junko. Junko menoleh dan ternyata dia adalah pria pemain basket. Ia menyapa Junko. Lama nggak ketemu. Junko menatapnya. Junko bangkit dan mengucapkan terima kasih atas waktu itu. Dan...Junko membungkuk. Ia meminta maaf. Melihat  Junko meminta maaf, pria itu cuman bilang oke! Ia lalu mengambil bolanya siap untuk bermain. Ia melihat Junko terus menunduk dan menawarinya untuk mencobanya. Awalnya Junko tampak ragu, tapi akhirnya ia menerima tawaran itu. Ia akan mencobanya. 


Junko mengambil bola itu dan mulai bermain. Ia mencoba masukkan bola tapi nggak masuk. Pria itu mengambil bola dan bertanya apa Junko nggak bisa lebih buruk lagi? Junko menantangnya kenapa dia nggak nunjukin ke Junko? Pria itu nyuruh Junko buat ngambil bola itu darinya. Junko menghampirinya dan berusaha untuk merebut bola. Dan mereka bermain dengan sangat gembira. 


Ji Won menunjukkan foto-fotonya saat festifal pada keluarga Naoko. Ibu berkomentar kalo itu benar-benar seperti musim panas. Ayah menambahi kalo itu benar-benar seperti musim panas untuk pertama kalinya dalam beberapa saat. Junko maju hendak melihat juga. Ibu memberinya satu lembar foto. Junko bilang itu memalukan, bola guritanya sangat lezat. Ji Won tersenyum melihat keluarga itu menyukai hasil fotonya. 


Ibu melihat Ji Won lalu bangkit. Ia lalu mengambil sesuatu di laci lemari sebelahnya ayah. Ia berkata kalo itu nggak perlu lagi. Ayah membenarkan. Mereka nggak perlu lagi menyimpannya. Ibu meletakkannya dihadapan Ji Won. Ji Won melihat paspornya. Ibu mengatakan kalo mereka percaya sama Ji Won. Ji Won menatap Naoko. Naoko mengangguk. Ji Won mengangguk dan berterima kasih. Ia lalu mengambil pasponya sementara keluarga Naoko kembali asik dengan foto mereka. 


Naoko mengaduk nasi. Ibu minta Ji Won untuk mencoba mengipasi. Junko datang membawakan makanan dan Ibu berkata kalo itu terlihat lezat. Ibu nggak nyangka Junko bisa melakukannya. Junko tersenyum berterima kasih atas pujian ibu. Naoko mengambil nasi dan meletakkannya di atas nori dan menambahkan lauk lalu memberikannya pada Ji Won. Ji Won menerimanya lalu berterima kasih. Ji Won memakannya lalu mengatakan kalo itu enak. Ah, sukurlah, kata ibu. 


Ibu terdiam sesaat lalu mengatakan kalo Ji Won seperti anggota keluarga mereka. Ji Won menatap ibu lalu tersenyum. Ibu bilang nggak papa kalo mereka berpikir begitu? Naoko bertanya apa yang ibu katakan? Ia melarang ibu bilang begitu. Ibu bilang ia sangat berharap kalo Ji Won akan bergabung dengan keluarga mereka. Naoko menatap Ji Won malu-malu lalu berkata kalo ibu benar-benar ... 


Ji Won angkat bicara, bergabung dengan keluarga ... ia lalu tersenyum. Naoko menangkap kalo Ji Won merasa nggak nyaman lalu bilang maaf. Ada apa sih dengan ibu?? Ibu nggak bisa memaksanya untuk bilang hal-hal seperti itu. Ibu membela diri, ia nggak memaksanya. 


Ayah mengangkat gelasnya, pokoknya ayo minum! Ibu mengatakan kalo ia akan melakukannya. Ia lalu mengambil botol dan mendekat kearah Ji Won. Ia menuang minuman itu ke gelas Ji Won. Ayah berkomentar kalo pasti sulit menjadi Ji Won. Ibu juga menuangkan untuk ayah. Ji Won memakannya dengan bahagia. 


Ji Won pulang dari rumah Naoko saat sore hari. Ia berhenti sejenak kemudian berbalik. Ia melihat senja dan teringat perkataan Naoko yang mengatakan kalo ia teringat pernah melihat mereka dari balik punggung pengasuhnya. Naoko bertanya-tanya berapa waktu berlalu. Itu adalah lagu yang memungkinkan anak-anak untuk tahu bahwa udah waktunya pulang.  Ji Won terdiam lalu menghela nafas. Ia kembali menatap senja lalu melanjutkan perjalanannya. 

Bersambung...

Komentar :

Lega semuanya udah kembali membaik. Baik itu Junko, ayah, ibu, Naoko dan Ji Won. Nggak terasa udah episode 4 aja. Udah mau selesai. Hiks..hiks.. sedih. Padahal perasaan baru kemarin aku mulai nulis ini, tau-tau udah hampir selesai. 

2 komentar