Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 3 BBAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 3 Part 2
Tingen udah hampir menjatuhkan buku resep milik ayah Fenqing tapi Fenqing melarangnya. Fenqing mengatakan kalo Huo Tingen itu tinggi dan perkasa. Ia memiliki latar belakang pendidikan Perancis Le Cordon Bleu. Juga udah makan berbagai masakan internasional kelas tinggi. Tapi dia Wei Fenqing hanya punya satu guru, yaitu ayahnya. Mendiang ayahnya. 


Melalui buku catatannya ayahnya mengajarkannya banyak hal. Ini adalah hal-hal yang nggak akan pernah ia pelajari di pasar malam. Itu sebabnya itu adalah gurunya. Sementara ia bertahan hidup di pasar malam, ada banyak bahan yang ia nggak pernah ketahui sebelumnya. Ada beberapa hal yang hanya ia dengar dan baca tapi nggak pernah punya kesempatan untuk memasaknya. Ia hanya mempelajari dari buku itu. 


Memang ia sangat miskin. Ia juga punya banyak hal yang masih belum ia pelajari jadi Tingen bisa meremehkannya. Tapi ia sama sekali nggak punya hak untuk membuang buku catatan itu. Karena selain buku itu adalah gurunya, itu juga merupakan kenangan yang di berikan oleh ayahnya padanya. Mata Fenqing udah hampir nangis. Sekali lagi ia menegaskan kalo Tingen nggak berhak untuk membuangnya. Fenqing merebut buku itu lalu pergi meninggalkan Tingen. 


Nggak lama kemudian Xiao Bin datang memanggil Fenqing. Ia menemukan anggur. Ia rasa itu nggak terlalu buruk. Tingen sendiri seperti merasa bersalah. Xiao Bin menanyakan Fenqing pada Tingen. Kemana dia pergi? Tingen bertanya kenapa Xiao Bin memegang anggur beras? Dengan semangat Xiao Bin menhelaskan kalo dia membawanya untuk Fenqing. Tadi Fenqing bilang padanya ingin mengandalkan ketrampilannya sendiri untuk menemukan anggur lain yang dapat menggantikan anggur flambe Tingen. Fenqing juga bilang kalo dia ingin mencicipi semua anggur yang ada dan mencatatnya. Sebagai murid Tingen, gimana dia bisa tega buat nggak membantunya? Tingen menggeleng. Ia udah salah paham sama Fenqing. Ia menyalahkan Xiao Bin yang nggak datang lebih awal. 


Tingen meninggalkan Xiao Bin dan memanggil Fenqing. Xiao Bin sendiri masih nggak ngerti. Emangnya apa salahnya? Tingen manggil Fenqing yang udah duduk di atas motor. Fenqing nggak denger dan menjalankan motornya. Tingen berlari dan berdiri di depan motor Fenqing. Tingen mengatakan kalo ada yang ingin ia bicarakan. Fenqing merasa nggak ada lagi yang perlu ia bicarakan pada Tingen dan nyuruh dia buat minggir. Tingen menahan motor Fenqing. Ia mengancam akan naik jika Fenqing tetap pergi. Fenqing nggak peduli. Dia nggak mau ngomong sama Tingen. Ia nyuruh Tingen buat melepaskannya. Tingen menariknya agar supaya Fenqing nggak bisa pergi. Fenqing menarik gasnya dan meminta Tingen melepaskannya. 


Tingen mengatakan kalo celananya tersangkut. Fenqing nggqk peduli dan tetap melajukan motornya. Akibatnya celana Tingen robek. Tingen nggak tahu mesti ngapain. Dia kan udah bilang jangan pergi dulu. Fenqing menoleh ke arah Tingen. Ia menertawakannya. Fenqing turun dari motor dan meminta maaf. Ia nggak melakukannya dengan sengaja. Tingen nyuruh Fenqing buat diam. Apa sih yang ia tertawakan?


Fenqing mendekat. Apasih yang ingin Tingen bicarakan dengannya? Tingen hanya...tadi Xiao Bin mengatakan padanya bahwa Fenqing ingin memahami lebih banyak anggur. Maka ia pikir itu bagus. Itu artinya Fenqing nggak hanya melihat catatan ayahnya aja. Itu yang ingin ia katalan tadi. Fenqing tertawa. Hanya itu? Tingen tersinggung. Ia minta agar Fenqing berhenti tertawa. Fenqing mengatakan kalo dia ingin Tingen mengatakan sekali lagi. Tingen mengatakan kalo dia udah salah paham. Fenqing mencoba mempelajari anggur seperti itu adalah sesuatu yang bagus. Fenqing memperjelas, jadi karena itu Tingen meminta maaf padanya? Tingen keberatan. Hal itu emang mirip dengan meminta maaf, tapi sebenarnya masih belum mencapai tingkat itu. Fenqing meledek, bisa nggak Tingen mengatakan yang ia maksud dengan lebih jelas sebagai seorang...laki-laki? Tingen udah nggak nyaman tapi ia tetap menjawab pertanyaan Fenqing. Ia mengakui kalo itu salahnya. Ia udah salah paham dalam satu hal. Tapi...bisa nggak Fenqing berhenti melihatnya? Jangan melihat...ah, seharusnya Tingen nggak mengatakan itu. Maaf (suaranya pelan banget). Fenqing tersenyum. Melihat gimana Tingen menolong bos Chen pagi tadi, di tambah fakta bahwa setengah dari tubuh bagian bawahnya sekarang agak dingin, Fenqing mutusin buat jadi orang yang murah hati dan memaafkannya. Tingen menanyakan apa maksud Fenqing barusan? Apa yang ia maksud adalah bahwa dia orang rendahan? Fenqing mengelak. Dia nggak bilang gitu. Tingen bertanya, jadi Fenqing udah nggak marah lagi? Kalo Fenqing udah nggak marah lagi, maka kembalilah bekerja. Tingen akan pergi dan...mengganti celananya. Tingen berusaha menutupi kakinya. Ia lalu pergi. Fenqing meledek kalo pakaian dalamnya terlihat bagus. Motifnya sangat lucu. Fenqing bertepuk tangan. Ia suka itu. Itu benar-benar tersingkap. 


Tingen memandangi foto keluarganya. Ia lalu teringat apa yang dikatakan oleh Fenqing saat di dapur tadi. Ia bertanya-tanya sendiri. Benarkah? Ternyata ia benar-benar memiliki kesempatan dan lingkungan yang lebih baik daripada yang lain. Tingen tiba-tiba merasa sedih. Nggak ada yang tahu kalo sepuluh tahun yang lalu. Ia sebenarnya menjalani hidup yang sangat sulit. Nggak bahagia sama sekali. Tingen menatap foto itu lalu membenamkan wajahnya. 


Fenqing bekerja kembali. Ia menyerahkan sekotak gula pada rekannya. Tiba-tiba Brian datanv dengan paniknya. Ia menanyakan siapa yang pergi ke lemari makanan hari ini? Semua orang menunjuk Fenqing. Brian menanyakan kenapa Fenqing memecahkan telur-telur itu? Fenqing mengatakan kalo bukan dia. 


Xiao Bin datang dan memperkeruh keadaan. Ia menanyakan siapa pelakunya. Kenapa telur yang akan di gunakan malam ini rusak? Brian keberatan Xiao Bin menanyakannya padanya. Brian tahunya telur itu udah rusak. Brian menyalahkan Fenqing sebagai orang yang pergi ke tempat penyimpanan makanan. Xiao Bin lalu melihat Fenqing. Fenqing mengatakan kalo bukan dia pelakunya. Xiao Bin berusaha tenang. Ia mengatakan kalo jangan terganggu akan hal itu dulu tapi apa yang harus mereka lakukan sekarang. Brian keberatan Xiao Bin menanyakan hal itu padanya. Seharusnya kan dia yang nanya sama Xiao Bin. Mereka lalu saling lempar tanggung jawab. 


Fenqing menghentikan mereka. Itu hanya dua dus telur. Fenqing yang akan membelinya sekarang juga. Xiao Bin dan Brian tersenyum menatap Fenqing. Dia itu sungguh sangat b*doh dan lugu. Itu bukanlah telur biasa. Itu adalah telur organik produk terbatas dari Lingzhi. Bahkan kalo Fenqing ingin membelinya, mungkin nggak akan ada karena mereka harus memesan terlebih dahulu. 


Fenqing menatap Xiao Bin dan Brian secara bergantian. Bukannya itu hanya telur? Xiao Bin bertanya kenapa custard telur di restoran mereka sangat terkenal? Itu karena mereka memakai telur lingzhi itu. Tanpa telur itu mereka nggak akan mendapatkan rasa yang spesial itu. Apa Fenqing ngerti? Xiao Bin dan Brian jadi kesal banget sama Fenqing. 


Apa se-spesifik itu? Tingen muncul dari belakang Xiao Bin dan Brian. Ia membenarkan. Itu sangat spesifik. Tingen bertanya apakah Fenqing tahu kenapa telur itu dinamakan telur Lingzhi? Itu karena ayamnya diberi makan dengan biji-bijian yang di campur dengan jamur Lingzhi. Tingen mengaku udah makan banyak telur tapi hanya kue tart yang di buat dengan telur Lingzhi yang dapat menghasilkan rasa yang indah. 


Xiao Bin minta agar nggak main-main sore ini. Tamu VIP walikota hari ini datang terutama untuk tanda tangan custard Lingzhi mereka. Fenqing meminta semuanya agar nggak khawatir. Ia pasti akan memikirkan cara untuk mendapatkan telur yang sangat istimewa itu. Tingen menahan Fenqing. Apa Fenqing tahu pertanian mana yang menghasilkan telur Lingzhi? Fenqing mengaku nggak tahu. Tingen nanya Fenqing mau beli dimana? Selain itu apa Fenqing udah menyelesaikan latihan flambe untuk malam ini? Fenqing nanya kenapa Tingen yakin banget kalo dia nggak akan mendapatkannya. Fenqing memintanya nggak khawatir. Ia nggak hanya mampu membeli telur itu, ia juga akan membuat flambe yang enak. 


Fenqing mau pergi tapi Tingen masih menahannya. Ia nggak mengijinkan Fenqing untuk pergi. Ia nyuruh Fenqing untuk tetap di dapur. Tapi... Tingen bilang nggak ada tapi-tapi. Mereka udah membuat kesepakatan bahwa selama 7 hari ini, Fenqing berada dibawah kendalinya. 


Tingen bilang ke Brian kalo dia akan pergi bentar. Ia minta Brian ngasih tahu semua orang untuk terus untuk terus mempersiapkan bahan-bahan. Fenqing juga. 


Tingen pergi. Xiao Bin memanggil Tingen dan menyusulnya. Tingen berbalik dan nanya apa? Xiao Bin mengaku udah manggil Tingen berkali-kali tapi dia masih nggak dengar. Tingen nanya apa status Xiao Bin? Apa harus dia menjawab hanya karena dia teriak? Xiao Bin hanya ingin bilang kalo Tingen bisa nanya sama Meng Ruxi. Dia pasti bisa membantu untuk menemukan telur Lingzhi karena keluarga Meng berada dalam bisnis bahan mentah. Tanyakanlah padanya. Tingen bertanya apakah ia masih harus di kasih tahu Xiao Bin? Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia lalu menyarankan agar Xiao Bin mengganti dasinya dengan yang lain? Warna itu nggak sesuai dengannya. 


Fenqing merasa nggak tenang di dapur. Semua orang menatapnya seolah menyalahkannya. Ia merasa nggak bisa tinggal diam. Kalo dia nggak menemukan jamur Lingzhi, memenangkan ujian malam ini nggak ada artinya. Ia harus pergi keluar untuk mencarinya. Fenqing melepaskan celemeknya dan pergi. 


Ah Wei mendapat telpon dari Fenqing yang menanyakan tentang telur Lingzhi. Ah Wei mengaku ia tahu telur Lingzhi. Fenqing bertanya apa Ah Wei juga tahu dimana dia bisa mendapatkannya? Ah Wei tahu tapi dia nggak yakin. Ia akan menanyakan pada orang di sekitar dulu. Dari apa yang ia ingat, mereka tampaknya dari peternakan ayam yang berada di atas gunung di daerah yang sangat terpencil. Emangnya kenapa Fenqing menanyakannya? Fenqing menceritakan kalo ia secara acak di persalahkan karena merusak telur Lingzhi, tapi ada kompetisi yang sangat penting malam ini. Kalo dia memenangkan kompetisi ia akan mendapat satu langkah lebih dekat dengan mimpinya. Tapi ia malah harus menghadapi nasib buruk seperti itu. Fenqing perlu telur-telur itu. Kalo nggak ia nggak akan mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kompetisi. Baik, Ah Wei minta Fenqing agar jangan khawatir. Ia pasti akan membantunya untuk mendapatkannya. Jadi...tunggu aja sebentar. Ia akan menanyakan pada beberapa orang tentang itu. Ia akan nelpon lagi nanti. Fenqing senang. Ia tahu Ah Wei emang yang terbaik. Ia akan menunggu telpon dari Ah Wei. Ia harus bisa mendapatkan mereka. Fenqing menutup telponnya. Ia bilang pada ponselnya seolah masih bicara pada Ah Wei. Ia harus mendapatkannya. 


Tingen udah ke peternakan dan mendapatkan telur yang di maksud. Pemilik peternakan sampai heran. Gimana bisa ia begitu ceroboh dan memecahkan telur berharga seperti itu. Bukankah Tingen tahu sendiri kalo nggak mudah mendapatkan telur-telur itu. Tingen tersenyum. Ia tahu. Itu sebabnya ia khusus naik ke gunung untuk menemuinya. Pemilik peternakan mengatakan kalo sebelumnya ada restoran yang asal-asalan sehingga memecahkan telur itu. Ia lalu nggak memberi mereka lebih banyak telur. Kalo bukan untuk nona Meng yang khusus meminta itu, dan fakta bahwa koki besar seperti Tingen secara pribadi untuk mendapatkannya, ia nggak bisa menolak untuk memberikan satu kotak. Tingen ngerti. Ia benar-benar merasa bersyukur untuk hari ini. Tingen pamit. Tingen terdiam. Sekali lagi ia berhutang pada Meng Ruxi. 


Fenqing juga naik gunung dan ingin mendapatkan telur Lingzhi. Ia naik motor lalu tiba-tiba turun hujan. Fenqing berhenti dan berteduh. Ia merasa itu nasib buruk untuk pergi ke laut. Tadi matahari bersinar cerah tapi kenapa sekarang turun hujan? Ia menghela nafas. Kenapa begitu sulit menangani telur Lingzhi? Fenqing memakai jas hujannya dan melanjutkan perjalanannya. 


Tingen sendiri sedang mengendarai mobilnya dalam perjalanan pulang ke restoran. Ia merasa lega karena udah mendapatkan telur Lingzhi. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada sepeda motor. Tingen berusaha menghindar dan malah kenabrak batu. Tingen mau melanjutkan perjalanannya tapi mobilnya nggak mau nyala. Ia kesal. Ia akan menjual mobilnya. 


Tingen memutuskan untuk keluar dari mobil. Ia mau menelpon tapi nggak ada signal. Tingen akhirnya mengambil payung, kunci mobil dan telur Lingzhi. Tingen berjalan kaki untuk turun gunung. Ia bertanya-tanya gimana bisa nggak ada satupun mobil. 


Tingen melihat ada motor dari arah depan. Tingen meminta orang itu untuk menghentikan motornya. Orang itu ternyata adalah Fenqing. Ia jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tingen heran kenapa kemampuan mengemudinya jelek sekali? Tingen membantunya bangkit. Tingen terkejut. Wei Fenqing? Fenqing melepaskan kacamatanya dan nanya apa sih yang Tingen lakukan tadi? Tingen bertanya kenapa harus dia? Kenapa dia ada disini? Fenqing mengaku ke gunung untuk mendapatkan ...telur Lingzhi. 


Tingen kesal. Dia kan udah bilang kalo Fenqing harus tetap tinggal di restoran dan nggak pergi kemanapun. Itu karena Fenqing udah janji pada semua orang kalo dia akan melakukan apa yang udah ia katakan. Tingen ngasih tahu kalo ia udah mendapatkannya. Gimana dengan Fenqing? Apa dia terluka? Fenqing mengaku nggak papa. Anggota badan dan tubuhnya utuh. Tingen memastikan, nggak ada yang sakit? Fenqing merasa enggak sakit. Tingen lalu mau mengambil motor Fenqing tapi nggak bisa. Fenqing meremehkannya. Tingen bisa melakukannya apa enggak? Tingen mengatakan kalo rodanya jadi datar. Tingen lalu melihat ponsel Fenqing dan mengambilnya. Ia senang ponsel Fenqing berfungsi. Fenqing memeriksanya tapi nggak  ada layanan. 


Tingen mengambil payung dan telurnya. Ia nyuruh Fenqing untuk mengambil kuncinya. Fenqing bertanya apa mereka akan berjalan kaki? Tingen akan manggil mobil derek besok untuk menderek motor Fenqing bersama-sama dengan mobilnya. Fenqing mennghela nafas. Tingen berjalan lebih dulu. Ia nyuruh Fenqing untuk bergegas. Fenqing mengeluh hujannya sangat deras. Fenqing kan udah pakai jas hujan?! Fenqing mengeluh lagi, ia nggak bisa membuka matanya. Apa yang harus mereka lakukan?  


Fenqing bertanya apakah mereka akan terus berjalan seperti ini? Tingen santai mengatakan, mau gimana lagi? Fenqing berkata kalo mungkin mereka bisa menrmukan mobil yang akan bersedia untuk membawa mereka menuruni gunung. Tingen menyahut kalo dia udah berjalan lama dan satu-satunya kendaraan yang ia lihat adalah sepeda motor Fenqing. 


Tiba-tiba angin berhembus kencang dan membuat payung Tingen jadi terbalik. Ia meminta Fenqing membantunya untuk mendorongnya kembali. Angin berhembus lagi dan membuat payungnya kembali seperti semula. Tingen lalu nyuruh Fenqing untuk menjaga telurnya. Fenqing menurut dan menjaga telurnya. Itu terasa akan jatuh. Fenqing mengatakan kalo ia udah memegangnya  fenqing mengeluh. Tingen menyuruhnya untuk memayunginya. Apa dia b*doh? Tingen memintanya berjalan pelan-pelan. Fenqing mengeluh mereka sial banget. Ia merasa mereka nggak akan bisa kembali lagi dengan cara itu. Gimana mereka akan membuat kue tart tanpa telur Lingzhi? Tingen memintanya jangan khawatir dan jalan aja. 


Tingen merasa ada yang aneh dengan cara jalan Fenqing. Ada apa dengan kakinya? Sepatunya rusak. Dan dia pincang. Apa kakinya sakit? Fenqing bilang enggak. Hanya sepatunya aja yanv sedikit rusak. Nggak papa. Ia ngajak Tingen untuk segera pergi. Mereka udah terlambat. 


Tingen minta Fenqing berhenti dan jangan jalan lagi. Ia nyuruh Fenqing buat megang payungnya baik-baik. Tingen jongkok di depan Fenqing. Ia akan menggendong Fenqing. 

Bersambung...

Komentar :
Butuh waktu yang lama buat kembali. Nggak tahu kenapa jadi ikutan swdih pas lihat Fenqing ngomong tentang ayahnya. Atau emang dasar cengeng aja? 
Kali ini ceritanya emang seputar telur. Emang penting banget ya? Tapi gara-gara telur juga mereka jadi punya kesempatan untuk berdua aja. ^_^

1 komentar:

Semangat mbak, buat lanjut nulis sinopsisnya pasti banyak yg nunggu2