Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Project S The Series Episode 1
Archwin mulai mengajari Bo. Di sebelah Shan mencium aroma yang nggak sedap dari Bo. Oh iya, kan Bo belum mandi tadi pagi. Jadi dia pasti bau banget sore ini. Shan mengibas-ngibaskan tangannya gara-gara nyium bau tubuh Bo. Bo langsung mengatupkan kedua lengannya. Ia bilang ke Archwin kalo dia nggak banyak berolah raga. Archwin memintanya agar nggak khawatir karena hal itu. Busur yang mereka gunakan adalah busur untuk pemula. Bo pasti bisa memanah dengan cepat. Pertama-tama tangan kiri Bo memegang kehaluan, panah di tangan kanan. Dan bila panah nggak bisa di tarik, Archwin menyarankan agar Bo menjaga sikunya untuk lebih tinggi. 


Okey, Achwin nyuruh Bo buat memulainya. Luruskan lengan busur. Archwin akan membantunya dengan memegang busur. Jadi Bo nggak usah khawatir. Dan kemudian tarik mundur...mundur...jaga siku agar tetap tinggi, lebih tinggi, lebih tinggi.  Achwin akan menghitung sampai 3. 1, 2, 3 lepaskan! Dan panah Bo mengenai papan sasaran warna biru. 


Bo merasa sakit di lengannya. Archwin  pergi bentar dan nyuruh Bo buat nunggu dia bentar. Shan yang khawatir menghampiri Bo. Bo mengeluh kalo lengannya sakit banget. Bo melepaskan pelindung lengannya dan melihat lengannya udah memar. Archwin datang dengan membawa sebotol minuman beku. Ia langsung mengompres lengan Bo pakai air itu. 


Bo meringis kesakitan. Tapi diam-diam dia juga tersenyum bisa sedekat itu sama Archwin. Archwin ngasih tahu kalo es meredakan rasa sakit. Bo mengangguk. Archwin bertanya apa Bo masih merasa sakit? Bo mengangguk. Dia merasa udah agak mendingan. Achwin tersenyum mendengarnya. Awalnya emang gitu. Tubuh Bo nggak terbiasa melakukan hal itu. Dan tanpa kekuatan otot lengan, saat itulah lengan busur Bo membungkuk. Dan ketika membungkuk, tali busur menampar lengannya. Bo mengangguk. Dia ngerti. 


Ayah Archwin menghampiri Bo dan Archwin yang lagi mengambil anak panah dari papan sasaran. Ayah nanya sama Bo. Gimana? Apa Bo suka? Shan dan Bo mengangguk. Tapi sesaat kemudian Bo meringis sambil memperlihatkan lengannya dan ngasih tahu ayah kalo itu sakit. Archwin tersenyum lihat sikap manja Bo. Tapi Bo mengaku suka, sambil melihat Archwin (agak bingung, ya. Antara suka sama memanah atau suka sama yang ngajarin manah???). 


Ayah berpesan pada Shan agar lain  kali membawa pacarnya kesini lagi. Baik Bo dan Shan sama-sama mengelak. Bukan, mereka hanya teman. Bo bahkan menambahkan kalo dia nggak punya pacar. Ia sangat single. Ayah dan Archwin sama-sama ngangguk dengan tatapan, emang kita nanya??? Habis itu Bo juga nyesel kenapa ngomong itu segala. Tapi besok mereka akan datang lagi. Baik, kalo gitu Archwin bakal nunggu mereka. 


Achwin dan ayah pergi ninggalin Bo dan Shan. Bo melambaikan tangannya. Shan menghadap Bo. Dia bilang ke Bo kalo Archwin tadi bilang yang di perlukan pemanah adalah terus berlatih. Dan Bo enggak melakukannya. Dia yakin Bo pasti bakalan nyerah. Bo bilang kalo itu nggak benar. Kali ini beda. Karena kali ini Archwin yang mengajarinya. Dan Archwin membuatnya ingin lebih banyak memanah. Shan meremehkan. Gimana dengan skateboard? Seketika Bo kehilangan senyumnya. Dia bertanya apa Shan meremehkannya? Shan tersenyum membenarkan. Baik, Bo janji kalo dia nyerah memanah, kemudian ia akan banyak memanggang daging, sambil nempeleng kepala Shan. Yes! Shan seneng banget. Ia nanya Bo beneran janji? Bo mengiyakan. Shan ngajakin salaman. Bo mengatakan kalo Shan nggak akan makan itu. Ia juga nggak akan berhenti. Shan lalu pura-pura melihat sesuatu di belakang Bo. Bo ingin tahu lalu menengok ke belakang. Saat itulah Shan memanfaatkan keadaan untuk membalas pukulan dari Bo tadi. Bo mau membalas tapi Shan udah keburu lari duluan. 


Esok harinya mereka datang lagi untuk latihan memanah. Bo tersenyum melihat Archwin yang lagi ngajarin seorang anak kecil. Ia berbisik ke Shan kalo Archwin nggak hanya ganteng tapi juga jenius. 


Shan dan Bo mulai latihan memanah. Tapi Bo tampak terganggu dengan pakaiannya. Ayah menghampirinya dan mengikat lengan baju Bo. Ayah menyarankan agar Bo memakai pakaian yang ketat dan menghindari pakaian yang longgar. Shan meledeknya dengan memegang lengan baju Bo yang di ikat oleh ayah Archwin barusan. Bo sigap mau memukulnya. Ia terus melihat Archwin yang asik ngajarin anak kecil tadi. 

Flaahback...


Saat mandi Shan juga latihan memanah. Ia menggunakan sabun seolah itu adalah busur.

Flaahback end.. 


Berkat sering latihan, kemampuan Shan sekarang semakin meningkat. Ayah bahkan memujinya. Ia melakukannya dengan baik. Bo bertanya gimana dengan dirinya? Bo... ayah melihat hasil memanah Bo di papan sasaran. Ayah menyarankannya agar banyak-banyak berlatih. Bo kecewa mendengarnya. 


Bo melihat Archwin melihatnya. Bo langsung pasang senyum termanisnya. Archwin berjalan ke arah Bo tapi dia belok pas hampir sampai. Archwin cuman mau ngambil busurnya. Bo tampak kecewa. Shan melihatnya dan menertawakannya. 


Seorang anak perempuan menghampiri Archwin dan meminta bantuannya untuk merangkai busur baru miliknya. Archwin setuju. Bo melihatnya dan memikirkan sesuatu. Anak itu menunjukkan busurnya pada Arcwin. Archwin ngajak anak itu untuk memanah bersama-sama saat selesai merangkai busur nanti. Bo jadi punya ide buat melakulan hal yang sama. Ia tersenyum penuh arti. 


Bo memperlihatkan busur barunya pada Shan. Ia ngajak Shan buat membantunya merangkai busur miliknya. Shan membaca panduannya dan Bo yang merangkainya. Pertama, ekstremitas ke atas, bagian bawah, lingkaran lebih besar di atas, lingkaran yang lebih kecil ke bagian bawah. Bow stringer...saku kecil meliputi bagian atas, saku besar meliputi bagian bawah. Tarik. Dan... selesai. Ok, Shan nyuruh Bo mengulanginya. Bo nggak mau. Dia kan udah selesai. Shan ngingetin kalo Bo harus hafal diluar kepala. Meski berat, akhirnya Bo setuju dan melakukannya sekali lagi. 


Bo unjuk kebolehan merangkai busur di depan Archwin. Archwin aja sampai tepuk tangan. Ia merasa Bo udah tampak seperti pro. Tapi ada satu item yang kurang. Ia pergi bentar buat ngambil itu. Nggak lama kemudian Archwin udah balik lagi membawa sesuatu itu. Itu adalah pelindung dada. Bo belum membeli pelindung dada, kan? Itu adalah milik Archwin dan ia memberikannya buat Bo. Bo berterima kasih padanya. 


Bo udah memakai pelindung dada milik Archwin. Archwin bertanya pasanya apakah ia mau mencoba? Bo mengangguk bersemangat. Archwin mempersilakan. Ayah menghampiri mereka dan nyuruh Archwin buat pergi latihan aja. Ayah yang akan memperhatikan Bo dan Shan. Bo langsung kehilangan senyumnya. 


Ayah tersenyum menghadap Bo. Bo tampak memaksakan senyumnya. Ia melihat Archwin yang sedang memanah di tempat yang jauh darinya. Ia dengan malu-malu bilang ke ayah kalo dia ingin memanah di sebelah sana. Boleh? Ayah tersenyum. Sebelumnya ia ingin melihat Bo memanah. Bo bertanya habis itu dia boleh kesana? Ayah bilang mungkin. 


Bo mengangguk dan memanah. Setelah itu ayah meminta Bo agar menurunkan busurnya terlebih dahulu. Ayah menjelaskan kalo Bo ingin ke tempat dengan jarak tembak jauh, panahnya harus mengenai sasaran semuanya. Kalo nggak kemungkinan akan membahayakan. Dan dengan lengan busur bengkok, panahnya nggak akan tepat. Lengan busurnya harus lurus. Jangan takut tangannya akan di tampar busur, maka panahnya akan mengenai sasaran. Dan ketika itu terjadi, ayah akan ngijinin Bo menembak di jarak jauh. Bo mengangguk setuju. Ia akan melakukannya sekali lagi. Ayah berpesan agar dia jangan takut. 


Bo mencabuti anak panahnya di papan sasaran. Shan mengeluh kalo dia lapar. Bisa nggak mereka kesana lagi nanti? Ayah menghampiri Bo. Ia lalu duduk di samping Shan. Mereka sama-sama melihat Bo. Bo membuka pelindung lengannya dan lukanya tambah parah. Bo merasa kesakitan. Ayah memanggil Bo. Apa dia nggak mau istirahat? 


Bo melihat ke depan. Shan tampak khawatir. Ia melihat Bo terus melihat Archwin. Bo lalu bilang ke ayah kalo dia akan mencoba satu set lagi. P pun bilang kalo melihat Bo yang terus menembak seperti itu mengingatkannya pada Fame. Ayah setuju. Bo bertanya siapa Fame? P. Pun meledek Archwin dengan bilang Fame siapa, ya??? Mendengar P. Pun menyebut-nyebut nama Fame membuat Archwin berhenti memanah. Ia tersenyum. Apaan sih P. Pun? Fame tuh cuman temennya. Yakin? Tanya P. Pun nggak percaya. Archwin menghampiri P. Pun dan menggelitikinya. 


Ayah ngasih tahu kalo Fame adalah atlit panah. Belum lama juga memulai latihan, tapi dia berusaha keras dan disiplin. Dan dia bisa melakukannya. Dia benar-benar menjadi pemanah nasional. P. Pun menambahi kalo dia cantik dan juga keren dalam memanah. Dan dia cukup dekat dengan Archwin. Archwin meledek P. Pun, dimana pacarnya? Ia akan mengantarkannya padanya. P. Pun menangkap Archwin mau mengubah tolik pembicaraan. Archwin mendorong kursi roda P. Pun. 


Ayah menjelaskan kalo P. Pun nyuruh Archwin kencan sama Fame jadi mereka bisa latihan sama-sama. Tapi Archwin nggak mau melakukannya. Ayah nanya sama Archwin kapan Fame datang lagi? Belum juga Archwin menjawab Fame udah datang. Fame merasa aneh karena semua orang melihat ke arahnya. Archwin awalnya memalingkan wajahnya sebelum akhirnya menyapanya. Fame membalas sapaan Archwin dan menghampirinya. 


Ayah menggampiri Fame. Fame memberi salam pada ayah. Ayah bertanya dimana ayah Fame? Fame ngasih tahu kalo ayahnya sibuk jadi dia memutuskan buat datang sendiri. Ayah memuji Fame yang belajar dengan keras dan latihan memanah juga disiplin. P. Pun menambahi seperti wanita muda yang pekerja keras. 


Bo menyapa Fame sambil melambai. Shan melihatnya yang tampak aneh. Archwin mau mengenalkan mereka ke Fame tapi keduluan sama P. Pun. Ia juga mengenalkan Fame, yang mereka bicarakan sebelumnya. Bo dan Shan melambai pada Fame. Fame juga melambaikan tangannya. Oh, Bo dan Shan yang Archwin ceritain itu, ya? Bo agak heran mendengar Archwin pernah nyeritain tentangnya ke Fame. Ia menatap Shan. Shan menggelengkan kepalanya, nggak tahu. 


Fame nanya ke Archwin, udah selesai? Archwin membenarkan. Fame nanya ke Archwin, mau duel? Archwin mengangguk. P. Pun merasa Archwin dan Fame nggak bisa di hentikan. Mereka mengambil busur masing-masing. Bo tampak sedih dan geram melihatnya. Shan berpendapat kalo mereka tampaknya cukup dekat. Bo mencoba mengambil nafas panjang. Shan memintanya untuk tenang. Ia bilang kalo mereka hanya teman. Shan menarik Bo agar latihan lagi tapi Bo nggak mau. Shan memperingatkan agar Bo nggak kayak gitu. Matanya, mereka akan tahu kalo melihat mata Bo. Akhirnya Shan menutup mata Bo dan menariknya. 


Archwin dan Fame berduel sampai malam. Fame mencetak angka yang fantastis, 10-10-10. P. Pun memujinya, keren! Shan melihatnya sangat hebat, beda banget dengan orang yang ada di sebelahnya. Bo cemburu. Dia melihat hasi memanah Fame dan membandingkan dengan miliknya. Ia merasa kalo ia juga hebat melakukannya. Tiba-tiba terdengar bunyi geluduk. 


Bo merasa panas. Ia terpacu untuk memanah juga padahal waktunya hampir habis. Bo memanah tepat saat waktu habis. Saat itu Fame hendak mengambil anak panah. Archwin yang melihat Bo langsung menarik Fame. Fame dan Archwin melihat Bo. Dengan bangganya Bo mengatakan kalo dia mrnang. Shan bertanya dimana panahnya? Nggak ada di target. Ayah tampak marah. Ia lalu nyuruh Fame buat ngambil panahnya. Suasana mendadak jadi tegang. Archwin mengambil panah dan Fame menatap Bo diiringi suara geluduk. Begitu pula dengan Bo. 


Bo dan Shan duduk dihadapan ayah. Ayah bertanya apakah Archwin nggak ngajarin Bo tentang hal ini? Jika alarm berbuyi, jangan memanah. Bo ngangguk. Ia ngajarin itu. Tapi sebelumnya Bo memanah buruk dan dia juga nggak mendengar alarm. Ia juga melihat Archwin dan Fame memanah dengan bagus jadi ia ingin melakukannya juga. Bo tampak sangat menyesal.


Ketemu! Fame menemukan panah Bo. Mereka berjalan menghampiri Bo dan yang lainnya. Ayah bersyukur mereka menemukan panahnya. Kalo nggak di temukan dan melebihi jangkauan, itu akan menjadi ancaman bagi orang lain. Lain kali kalo Bo nggak yakin tentang apa yang ia akukan, mintalah staf untuk datang membantunya. Keselamatan lebih utama. Paham? Ayah lalu pergi ninggalin mereka. 


Bo bertanya pada Archwin. Apakah ia membuat Archwin dan ayahnya kesulitan? Bo minta maaf. Archwin menghela nafas dan bilang nggak papa. Dia ingin bilang kalo setiap latihan memanah mereka mendapat aturan yang menekankan keselamatan. Tempat memanah yang melanggarnya, nggak bisa membuka tempat latihan kembali. Bo langsung pasang wajah sedih. Archwin jadi nggak enak hati. Ia mendekat dan bilang...tapi.. mereka semua disini merasa senang, Bo ingin belajar memanah. Bo mengangguk. Archwin berpesan agar Bo datang lagi besok. Bo kembali tersenyum. Archwin pergi meninggalkan mereka. Shan menyikut Bo. Bo melihat P. Pun, Archwin dan ayahnya. 


Fame menyerahkan panah Bo. Ia meletakkannya di atas meja. Fame berpesa  kalo lain kali Bo butuh bantuan, panggil dia. Shan berterima kasih. Fame mengangguk dan meninggalkan mereka. Bo menyukut Shan. Shan mengatakan kalo Fame cukup lucu. Bo berbalik melihat Fame dan Archwin. 


Bo tangannya lagi sakit tapi malah makan mulu. Habis makan dia tiduran di sofa. Shan menghampirinya. Ia ngasih tunjuk bibir Bo yang belepotan. Ia duduk di deket Bo. Shan nanya kenapa Bo banyak makan? PMS? Bo mengaku nggak tahu. Dia terus melihat ponselnya. Shan melihat tangan Bo dan bertanya apa itu sakit? Kelihatannya sangat sakit. Bo mengiyakan tapi hatinya lebih sakit. 


Bo duduk dan masih ngelihatin ponsel mulu. Ia lalu melirik Shan yang ngambil makanannya. Dia jadi punya ide. Bo meminjam ponsel Shan. Shan yang tanpa curiga memberikannya dengan sukarela. Rupanya Bo menggunakan ponsel Shan untuk melihat fb milik Fame. Shan mendekatinya dan bertanya Bo lagi apa? Ia menegur Bo kenapa nggak pakai akunnya sendiri? Bo beralasan kalo akun-nya di privasi dan Bo nggak bisa kepoin. 


Shan mencoba merebut ponselnya kembali tapi Bo nggak ngijinin. Kan Shan bilang kalo dia lucu. Bo bakalan membantunya untuk berteman dengannya. Shan menolak. Dia nggak minta bantuan Bo. Shan minta ponselnya di balikin. Bo kekeuh nggak mau. Hei, dia meng ACC permintaannya. 


Shan melihat foto Fame dan memujinya, cantik (wah, muji pacar sendiri?). Bo memperingatkan Shan nggak perlu ngomong. Bo cuman mau lihat apa mereka pacaran. Bo lalu ngambil ponselnya. Ia membandingkan akun medsos milik Archwin dan Fame. Shan heran sejak kapan Bo temenan sama Archwin? Tempat yang sama. The date satu hari yang lalu, photo couple. Bo dan Shan saling pandang. ????


Minggu pagi Bo mencoba buat memata-matai Archwin dan Fame. Shan bertanya dimana Archwin? Bo mengaku nggak tahu, makanya dia kesana. Pingin ngintip parkiran motor. Bo terus memegangi perutnya. Shan yang melihatnya jadi khawatir. Apa Bo nggak bawa obatnya? Bo bukannya baru beli kemarin? Kalo dia tahu akan kram, kenapa nggak bawa obatnya? Bo mengaku lupa. Shan menawarkan apa Bo ingin pulang aja dan istirahat? 


Bo nggak mau. Selama belum dapet konfirmasi tentang hubungan Fame dan Archwin, ia merasa masih ada kesempatan. Shan melihat penampilan Bo. Ia bertanya dengan pakaian seperti itu? Bo menyatakan kalo itu adalah pakaian olahraga. Shan akan lihat kalo Bo adalah rising star atlet. Yang lebih baik dari memanah. Shan membantahnya, nggak ada pemanah yang pakaiannya kayak gitu. 


Shan makin nggak tega lihat Bo terus kesakitan kayak gitu. Ia nyuruh Bo buat nunggu disitu sementara dia bakalan ngambil mobil di parkiran. Shan pergi meninggalkan Bo. Bo melihat motor Archwin melintas. Ia berboncengan dengan Fame. Kebetulan mobil Shan udah datang. Bo bergegas naik dan nyuruh Shan buat ngikutin mereka. 


Bo dan Shan mengintip Archwin dan Fame yang sedang melakukan pemanasan sebelum lari. Bo mengatakan kalo mereka memanah bersama-sama, dan mereka pergi olahraga bersama juga? Bo berpikir kalo Fame menyukai Archwin, jadi dia merencanakan kencan. Dan sekarang dia berusaha untuk memenangkan hati Archwin. Shan mencontohkan, seperti Bo? Bo bilang enggak (sambil mukul kepala Shan). Aduh! Teman kan emang boleh pergi berdua. Menurut Bo enggak boleh. Ia dan Shan nggak pernah jalan berdua. Shan menyangkal, Bo-nya aja yang malas terus. 


Bo makin kesakitan. Dia sampai nggak ngelihat kalo sasaran mereka udah nggak ada. Shan ngasih tahu kalo mereka udah mulai lari. Bo nyuruh Shan buat ngikutin mereka. Shan berlari ngikutin Fame dan Archwin dan meninggalkan Bo di belakang. Sesekali Shan menengok ke belakang. Ia bilang ke Bo kalo mereka udah ketinggalan jauh. Bo nyerah. Ia nggak bisa lari lagi. Ia nyuruh Shan buat terus mengejar mereka. 


Shan meledek Bo, mana yang katanya rising star atlet? Bo mengatakan kalo dia nggak mau lagi. Ia hanya akan menjadi pacar seorang atlet. Nggak perlu jadi atlet. Hanya menobton dan bersorak. Bo nggak tahan lagi. Shan  ngajak Bo buat istirahat. Bo melihat keadaan Bo dan makin khawatir. Ia nyuruh Bo buat nunggu di situ. Ia akan segera kembali. Shan pergi meninggalkan Bo. 


Agak lama kemudian Shan udah kembali. Ia ngasih obat ke Bo. Bo nggak nyangka Shan pergi buat beli obat buat dia. Bo segera meminumnya. Shan mengawasi Bo saat meminum obatnya. Selesai minum obat, Shan berpesan agar Bo menyimpan obat itu buat bulan besok kalo Bo kram perut(???). Bo mengangguk. 


Shan menghadap ke depan. Bo melihat punggung Shan. Bajunya sampai basah karena keringat. Bo lalu tersenyum melihat perjuangan Shan buat dia biar kram perutnya sembuh. 


Mereka lalu melihat Fame dan Archwin jalan sambil pegangan tangan. Bo dan  Shan langsung bangkit. Fame tersenyum pada Bo. Bo tampak memaksakan senyumnya. 

Bersambung...

Komentar :

Hhhh... seneng akhirnya bisa nulis ini lagi. Salah satu lakorn paling faforit. Ngakak mulu tiap lihat tingkah Bo. Sampai segitunya buat ngejar cinta. Sampai rela lengannya luka kayak gitu. Ah, namanya juga lagi di mabuk cinta. 
Di sini kok aku malah jadi suka sama Shan, ya??? Dia yang perhatian banget sama Bo. Sampai tahu jadwal PMS Bo segala. Ada ya temen cowok kayak gitu? Paling bikin haru pas Shan lari buat beli obat kram buat Bo, T_T. Bo, kenapa capek-capek ngejar Archwin kalo ada cowok super baik di depan mata? 

1 komentar:

Itu serius kak..yg jdi fame pacar shan asliii????jawab ya kakkk