Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 4 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 4 Part 3

Yi Ra yang sudah berada di dalam taksi melihat ke tempatnya tadi berdiri bersama Joon Seo. Tapi ia sudah tidak melihat Joon Sei lagi disana. Karena khawatir, ia meminta supir taksi untuk menghentikan mobilnya.


Yi Ra turun dari taksi dan meneriakkan nama Joon Seo. “Ketua Tim Jang! Ketua Tim Jang!” Ia berlari mencari-cari Joon Seo.


Joon Seo yang sudah berada di dalam air berbicara dalam hatinya, “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Jung Hye.” Ia lalu menutup matanya dan pasrah atas apa yang akan segera terjadi pada dirinya.


Yi Ra terjun ke laut, tapi ia sendiri malah kehabisan napas dan kembali memunculkan kepalanya ke permukaan. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak tenggelam. 


Yang terjadi kemudian, malah Joon Seo juga naik ke permukaan dan menarik Yi Ra ke darat.


Joon Seo: “Kenapa kau melompat?”
Yi Ra: “Apa kau melompat untuk bunuh diri?”
Joon Seo: “Aku tidak jadi mati, karena harus menyelamatkanmu. Aku melompat untuk meredakan pengar. Dan aku tidak bisa mati, meskipun aku menginginkannya. Aku menjuarai kompetisi renang 3 tahun berturut-turut. Aku juga bisa berenang ke Tiongkok darisini.”


Yi Ra kemudian menanyakan alasan Joon Seo menjadi Polisi, padahal dia berasal dari keluarga terpandang. “Aku bukan keluarga Jang. Hanya namaku saja yang berakhiran Jang, tapi aku hanya hantu. Hantu yang gentayangan tanpa raga,” jawab Joon Seo. Joon Seo juga mengatakan bahwa dia bicara santai pada Yi Ra yang seorang Jaksa karena dia sedang mabuk. “Aku akan bicara formal setelah sadar,” kata Joon Seo lagi.


“Aku tahu kau sadar,” kata Yi Ra yang kemudian semakin mendekatkan dirinya ke api.


Ja Kyung melihat Joon Seo pulang ke rumah. Ki Seo yang berpapasan dengannya menduga kalau Joon Seo sedang mengerjakan sesuatu yang berat karena wajahnya sangat pucat. Joon Seo hanya bilang kalau ia akan masuk ke kamarnya dan Ki Seo mempersilakannya untuk beristirahat. Ki Seo lalu duduk di ruang tamu bersama Ja Kyung.


Ki Seo: “Joon Seo pasti sangat mencintai Jung Hye. Sepertinya otaknya dipenuhi segala hal tentangnya. Dia tidak tertarik pada wanita sejak kecil. Bagaimana dia sewaktu SMA? Kalian besar bersama.”
Ja Kyung: “Sebaiknya jangan membahas tentang masa lalu. Ketika aku mengingat masa-masa bahagiaku, kusadari betapa menyedihkannya aku sekarang ini.”


Melihat Ja Kyung pergi begitu saja, Ki Seo hanya tertawa.


Ja Kyung dan ayahnya pergi ke kampung halaman mereka dan terdapat monument tempat kelahiran ayahnya. Tuan Goo Yong Chan bertekad untuk membangun beberapa rumah dan kembali kesana. Menurut Ja Kyung, tempat tersebut sangat terpencil.


“Tidak lama lagi tempat ini akan menjadi pusat Kota Bukcheon. Kemudian kediaman Keluarga Jang yang kau tempati akan menjadi terisolasi,” kata Tuan Goo. Ja Kyung bertanya nantinya dia akan masuk ke keluarga yang mana. Tuan Goo bilang Ja Kyung hanya perlu menjalaninya saja.


Ja Kyung: “Bagaimana jika aku menolak?”
Tuan Goo: “Pernahkah aku mengecewakanmu?”
Ja Kyung: “Tidak, hanya saja… ini membosankan. Aku menyesalinya. Kenapa aku harus menjalani kehidupan yang membosankan?”


Ki Seo dan beberapa orang penting makan bersama. Mereka mengatakan bahwa kematian Walikota Jang akan berpengaruh pada pemilihan gubernur. Paman Bum Shik, adik walikota Jang meyakinkan mereka bahwa elektabilitasnya masih yang paling tinggi selama pemilihan walikota terakhir.


Dewan Kim mengatakan bahwa itu 4 tahun lalu dan saat itu paman berhasil karena mendapat bantuan dari Tuan Jang. Ia juga mengatakan bahwa sekarang pengaruh Tuan Jang sudah banyak berkurang. Paman marah, “Dewan Kim!.” 


Ki Seo membenarkan dugaan Dewan Kim. Tapi ia mengingatkan bahwa Dewan Kim juga lahir dan besar di Bukcheon, jadi Dewan Kim pasti tahu tentang pengaruh ayahnya dan pendapat masyarakat tentangnya, jadi Dewan Kim tidak boleh bicara seperti tadi.  


Ki Seo hanya tertawa ketika Dewan Kim mengatakan bahwa dia tidak mengerti politik. Dewan Kim lalu menjelaskan bahwa politik saat ini adalah politik visi yaitu berwawasan masa depan. “Masa pemilihan yang dikarenakan anak atau adik dari orang berpengaruh sudah berakhir,” kata Dewan Kim.


Paman marah karena ia merasa tersindir dengan ucapan Dewan Kim. “Hanya karena kau mendapat lencana emas, kau jadi tidak takut?!” tanya paman. Salah satu rekan mencoba menenangkan Dewan Kim, tapi Dewan Kim malah berdiri sambil membawa jasnya.


“Jangan terjun ke politik tanpa wawasan,” kata Dewan Kim sambil pergi. Ia tidak mengjiraukan perintah paman yang menyuruhnya duduk. Ia pergi. Rekan tadi mencoba menenangkan paman, dan menjelaskan bahwa Dewan Kim baru saja terpilih jadi itu hal yang biasa. 


Ki Seo berkata, “Aku bisa memakluminya. Selama tidak kelewat batas.” Tapi dari ekspresinya wajahnya, ia kelihatan benar-benar tidak suka sudah diremehkan seperti itu.


Ki Seo menyusul Dewan Kim ke toilet. Ki Seo mengakui bahwa ia tidak mengerti politik, jadi dia meminta Dewan Kim membimbingnya. “Jangan hanya berkutat di Bukcheon. Pergilah ke Yeuido dan bertemu banyak orang. Dan rasakan realita politik yang sesungguhnya. Lalu Anda akan mengerti apa yang kukatakan,” kata Dewan Kim.


Ki Seo mengikuti Dewan Kim yang sedang mencuci tangannya di wastafel. Ia mengucapkan terima kasih atas sarannya. “Tapi kenapa kau begitu angkuh?’ Tanya Ki Seo yang kemudian menjambak rambut Dewan Kim lalu membenturkan kepalanya ke keramik wastafel beberapa kali sampai bercucuran darah.


Dewan Kim berusaha melepaskan dirinya, namun tidak berhasil. Ki Seo kemudian membenamkan wajahnya ke dalam air. “Kau lupa siapa yang menyematkan lencana emas itu padamu? Kaulah yang harus enyah dari dunia politik!” kata Ki Seo.


“Ayahku dan aku yang memberikan lencana itu, brengsek!” kata Ki Seo kemudian menghajar Dewan Kim sampai jatuh lalu menendangnya  “Inilah realitas politik di Bukcheon. Orang lemah yang angkuh akan diinjak oleh orang kuat. Inilah politik yang sebenarnya. Kau mengerti?” Ki Seo lalu meninggalkan Dewan Kim begitu saja.


Detektif Go memberitahu Moon Shik bahwa Jung Hye adalah putri seniornya, dan itu berarti Moon Shik telah mencelakai keluarga petugas Kepolisian. Moon Shik bilang bahwa sekarang sudah bukan zamannya mengancam dengan kata-kata. “Ancamlah dengan bukti,” kata Moon Shik percaya diri. Detektif Go menjanjikan akan menemukan bukti itu, apapun yang terjadi.


Detektif Go melapor pada Pimpinan Jung bahwa Moon Shik tidak akan mengaku, jadi ia menyarankan agar mereka melakukan investigasi tambahan untuk menemukan bukti. Pimpinan Jung ingat bahwa Detektif Go memiliki bukti percobaan pembunuhan Jung Hye tiga tahun lalu. Ia bertanya siapa jaksa yang menangani kasusnya. “Jaksa Seo Yi Ra,” jawab Detektif Go.


Jaksa Park mengatakan bahwa masyarakat dan alumni SMA Bukcheon menaruh perhatian khusus pada kasus itu, jadi dia meminta Yi Ra menangani kasusnya dengan baik. Setelah Jaksa Park pergi, Yi Ra menghela napasnya dan merasa sangat bingung.


Pimpinan Jung memerintahkan agar Detektif Go meminta surat perintah penangkapan untuk percobaan pembunuhan. Kemudian Joon Seo datang sambil membawa daftar pekerja Industri Kelautan Bukcheon tiga tahun lalu. Ia sudah mengkonfirmasi bahwa Jung Hye bekerja disana dan dia yakin dia sudah menggunakan nama Jo Min Joo sejak saat itu.


Pimpinan Jung membaca daftar itu dan mengingatkan bahwa dia sudah melarang Joon Seo ikut campur dalam kasus itu. Joon Seo mengatakan bahwa di kantor Polisi itu ada mata-mata dan Moon Shik mengandalkan orang tersebut.


Pimp. Jung: “Ketua Tim Jang, di Bukcheon, bukan hanya di instansi Kepolisian, tapi di instansi pemerintah kota juga ada mata-mata yang bekerja untuk mereka. Ini busuk sampai ked aging. Kita harus mencabut dari akarnya. Barulah bisa tuntas.”
Det. Go: “Artinya, Ketua Tim Jang bisa mengurusnya. Ini keluargamu.”


Joon Seo memikirkannya dengan serius. (Pasti dilematis banget ni Joon Seo)


Paman menemui Tuan Goo, yang sedang memancing di tepi laut, membicarakan Ki Seo yang melakukan pemukulan terhadap Dewan Kim. Paman menduga bahwa hal tersebut pasti sudah diketahui oleh Ketua Partai dan ia mengkhawatirkan elektablitasnya.


Tuan Goo mengatakan bahwa Keluarga Kang lebih memilih Ki Seo sebagai calon walikota berikutnya. Paman bilang Ki Seo tidak tahu apa-apa, karena masih baru dalam politik. Tuan Goo mengatakan bahwa walaupun Ki Seo adalah menantunya, ia tidak bisa mempercayakan Kota Bukcheon yang berpenduduk lebih dari satu juta orang padanya.


Tuan Goo meminta agar paman tidak terlalu khawatir, karena Tuan Goo juga adalah anggota Partai Gongmin, yang walaupun tidak sekuat presiden sekarang, dia masih sangat berpengaruh. Paman menyetujui hal tersebut, tapi ia juga mengkhawatirkan Dewan Kim yang dipukuli oleh Ki Seo.


Paman: “Bagaimana jika dia dendam dan membuat onar?”
Tuan Goo: “Dewan Kim Won Se dulu adalah ajudanku.”
Paman: “Ah, benar! Itu benar! Astaga, hahaha. Aku tidak perlu mencemaskan itu lagi.”


Mereka lalu bertambah senang saat kailnya mereka bergerak. Mereka tertawa dan berusaha menarik pancingnya.


Malam harinya, Ki Seo makan dengan menu ikan. Ia mengajak Joon Seo yang pulang lebih awal untuk makan bersama, tapi Joon Seo bilang ia sudah makan. Joon Seo terus menatap kakaknya, sepertinya perkataan Pimpinan Jung dan Detektif Go sangat mempengaruhinya.


Karena Joon Seo tidak mau makan, Ki Seo lalu menuangkan wine untuk Joon Seo. Itu adalah wine pemberian dari Yi Ra, dan Ki Seo memuji selera wine-nya yang bagus. “Tanyakan dimana dia mendapatkan anggur itu. Cocok dengan ikannya,” kata Ki Seo tanpa menghiraukan tatapan Joon Seo.


Joon Seo: “Hyung..”
Ki Seo: Kudengar Seo Yi ra meminta daftar pekerja Industri Kelautan Bukcheon. Mungkin dia sudah melihat nama Jo Min Joo tercantum disana. Kau tahu siapa Jo Min Joo bukan?”
Joon Seo: “Ya. Aku lebih mengenalnya dari siapapun. Hyung, kau tahu Jo Min Joo sejak awal bukan?”
Ki Seo: “Awalnya tidak. Aku tidak mungkin memperhatikan siapa saja karyawanku.”


Ki Seo lalu mengatakan bahwa dia menerima laporan dari Pak Yong bahwa ada seorang wanita yang membocorkan rahasia perusahaan. Ki Seo bilang ia menyuruh Pak Yong agar memecat wanita itu baik-baik, karena akan bahaya jika dia melapor ke Polisi. “Apa kau sungguh hanya memecatnya?” tanya Joon Seo.


Ki Seo memecahkan gelasnya. “Aku tidak bisa memaafkannya! Membocorkan rahasia perusahaan tidak masalah! Yang membuatku sangat marah dan tidak bisa memaafkannya adalah… wanita itu menikahi dan tinggal bersama adikku. Bahkan dengan nama palsu, bukan nama asli. Aku ingin membunuhnya.”
Flashback..


Dari dalam mobilnya, Ki Seo memperhatikan Joon Seo yang baru saja pulang dan Jung Hye menunggunya di depan sebuah warung.


Joon Seo meminta maaf karena ia membuat Jung Hye harus menunggu lagi. Jung Hye langsung memeluknya dengan erat. Jung Hye bilang ia sangat cemas. “Tidak perlu meneleponku, cukup kirimkan aku pesan bahwa kau baik-baik saja,” pinta Jung Hye dengan mata berkaca-kaca.


“Baiklah. Tapi ini agak memalukan,” kata Joon Seo. Tapi Jung Hye tidak peduli, ia ingin tetap seperti itu sebagai hukuman bagi Joon Seo. Joon Seo hanya tersenyum dan membiarkannya.


Ki Seo bilang itu adalah pertama kali dia melihat Jung Hye dan pertama kalinya dia melihat Joon Seo tersenyum setelah 20 tahun. “Kau meninggalkan ayah. Kau menghancurkan dirimu sendiri. Aku tidak bisa membunuh wanita yang membuatmu tersenyum. Jadi, aku pulang dan memaafkan wanita itu.” Ki Seo memperhatikan pecahan gelasnya. “Aku menjadi bersemangat lagi seperti orang gila. Kurasa aku menjadi seperti ayah. Pria yang sangat kau benci,” ujarnya lalu pergi meninggalkan meja makan.


Joon Seo kemudian mengangkat ponselnya, “Ya, Pak Yong.” Pak Yong bertanya keberadaan Joon Seo dan memintanya keluar, karena ia ingin menunjukkan sesuatu pada Joon Seo. “Baiklah. Dimana?”


Joon Seo kemudian terlihat membuka pintu sebuah bangunan besar. Ia mengingat perkataan kakaknya bahwa yang melaporkan Jung Hye adalah Pak Yong. Joon Seo masuk dan bertanya tempat apa itu.  


Pak Yong menyambutnya bahwa tempat itu adalah gudang dan kadang digunakan untuk melakukan hal yang lain juga. Joon Seo lalu menanyakan keperluan Pak Yong memanggilnya.


“Anda lupa yang kukatakan tempo hari? Ayahmu telah memilihmu,” kata Pak Yong. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kursi lipat. Ia menggunakan pisau membuka bungkus peti kayu yang ada di sampingnya.


Isi peti itu adalah uang dengan jumlah yang sangat banyak. Pak Yong bilang Tuan Jang memintanya untuk menyimpan uang itu dan mengizinkannya untuk menggunakannya semaunya. “Mengikuti keinginan ayahmu, rencananya akan kuinvestasikan kepadamu,” kata Pak Yong yang juga bilang bahwa Joon Seo membutuhkan uang untuk menjadi orang seperti yang diinginkan ayahnya. Pak Yong juga bilang kalau Ki Seo sudah punya banyak uang.


Joon Seo berkata, “Aku tidak ingin menjadi orang seperti yang diinginkan ayahku. Dulu dan sekarang aku tetap sama. Tapi aku tidak akan pernah melupakan ayahku. Bukan berarti karena kematiannya, seluruh masa lalunya menghilang. Mungkin ada yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang-orang yang ditinggalkannya.” Ia lalu pergi.


Pak Yong hanya tersenyum. Ia sepertinya sudah menduga kalau Joon Seo akan merespon seperti itu. Dan mungkin dia sudah punya rencana lain.


Gudang yang Joon Seo datangi ternyata ada di area Industri Kelautan Bukcheon. Joon Seo lalu membawa mobilnya pergi dari sana.