Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 5 PREVIEW

Di kamarnya, Yi Ra masih bingung karena Jaksa Park menyuruhnya bekerja ke Seoul. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian ibunya, Pimpinan Jung, masuk ke kamarnya. Yi Ra mengeluh bahwa harusnya ibu mengetuk pintu dulu baru masuk.


Pimpinan Jung bertanya apakah Yi Ra sudah mengajukan surat perintah penangkapan Kang Moon Shik. Yi Ra menjawab, “Belum. Sepertinya buktinya belum cukup.” Pimpinan Jung menyebut putrinya pintar merayu, jadi harus bisa membujuk hakimnya. “Bu, aku ingin ke Seoul.” Dan Pimpinan Jung langsung mempersilakannya, karena menyangka Yi Ra hanya ingin liburan akhir pekan.


Yi Ra: “Aku ingin bekerja di Seoul. Aku ingin menjadi jaksa yang sukses.”
Pim. Jung: “Yi Ra, ibu lebih suka kau menjadi jaksa yang hebat daripada jaksa yang sukses.”
Yi Ra: “Ibu..”
Pim. Jung: “Kita harus menangkap Kang Moon Shik. JIka tidak, semua ini salahmu.”


Pimpinan Jung keluar dan menutup pintunya. Yi Ra semakin bingung, kenapa itu malah bisa menjadi kesalahannya.


Ki Seo menelepon dengan seseorang dan mengatakan bahwa Ketua Umum Partai sudah memutuskannya, jadi dia harus mengikuti keputusannya.


Yang bicara di telepon dengan Ki Seo ternyata Tuan Goo, ayah mertuanya. Tuan Goo mencoba menenangkan Ki Seo dan mengatakan bahwa Ki Seo masih punya kesempatan di pemilihan berikutnya. Tuan Goo juga menyarankan agar Ki Seo mengakui kesalahannya, ia bilang bagaimanapun ia tidak bisa memilih calon walikota selain dari Keluarga Jang. Jadi Tuan Goo akan mencalonkan paman.


Lagi-lagi, Ki Seo hanya tersenyum. Lalu Joon Seo datang menghampirinya. Ki Seo mengira kalau Joon Seo sedang bekerja. “Aku baru saja menemui Paman Yong,” kata Joon Seo jujur. Ki Seo bertanya ada apa. “Hati-hati dengan Paman Yong. Dia punya maksud lain. Sebaiknya jaga jarak atau jangan berhubungan dengannya.”


Ki Seo bilang ia tidak pernah mempercayai orang lain, tapi baginya Joon Seo berbeda.


Ki Seo kemudian memanggil Paman Yong. Paman Yong berkata bahwa dia hanya menjalankan perintah Tuan Jang ketika masih hidup. Ki Seo bertanya apa yang diperintahkan ayahnya. “Dia memintaku menguji Joon Seo. Dia ingin tahu apa tanggapannya terhadapmu. Untungnya dia tidak ingin membuatmu kesal,” jawab Paman Yong.


Ki Seo berkata bahwa dia belum terlalu yakin. Menurutnya, Jon Seo masih menyembunyikan jati dirinya. Ki Seo lalu menanyakan surat yang dimintanya. Paman Yong lalu mengambil surat itu dan memberikannya pada Ki Seo. Ki Seo bertanya lagi apakah itu benar perintah dari ayahnya.


Paman Yong berkata, “Ya. Anda akan tahu setelah memeriksa tulisan dan tanda tangannya.” Ki seo lalu membaca surat itu dan sesekali melihat kea rah Paman Yong.


Joon Seo sedang melamun di kamarnya, ketika kakaknya masuk. Joon Seo bertanya ada keperluan apa. “Aku diusir kakak iparmu,” kata Ki Seo sambil mengangkat bantal yang dibawanya.


Mereka kemudian berbaring di ranjang yang sama. Ki Seo bilang ia iri pada Joon Seo yang bisa hidup mandiri tanpa ayah mereka. Ji Seo juga tahu kalau ayahnya lebih mempercayai Joon Seo dibanding dirinya. Ki Seo bilang ia ingin menyerahkan semuanya pada Joon Seo dan dia sendiri ingin melarikan diri.


Joon Seo meminta kakaknya berhenti bicara omong kosong. Ki Seo lalu menggenggam tangan adiknya itu dan mengucapkan terima kasih, karena sudah membiarkannya tidur di kamarnya malam ini. “Aku lelah, selamat malam,” kata Joon Seo.


Ki Seo juga mengucapkan selamat malam dan memejamkan matanya. Tapi ia bicara lagi, “Aku juga jarang tersenyum seperti dirimu. Dan orang yang membuatku tersenyum setelah 20 tahun adalah kau.” Ia lalu tersenyum dan benar-benar tidur.


Esok harinya, para reporter sedang meliput pemberitahuan Ki Seo yang menunjukkan surat pengunduran diri ayahnya dari Partai Gongmin yang dibuatnya selagi masih hidup. “Demi Kota Bukcheon, ayahku ingin melepaskan diri dari campur tangan pemerintah pusat. Menurutnya, Balai Kota hanya boleh digunakan untuk keperluan Bukcheon. Itulah yang mendorongnya membuat keputusan ini,” jelas Ki Seo.


Ki Seo mengatakan bahwa dia ingin tetap menunjukkan surat pengunduran diri itu meskipun terlambat. Seorang reporter bertanya apa gunanya keluar dari partai padahal Tuan Jung telah meninggal. “Aku ingin memegang teguh keputusan ayahku yang keluar dari Partai Gongmin. MUlai detik ini, Bukcheon bukan bagian dari Partai Gongmin. Aku tetap menanti dan berharap Kota Bukcheon akan bisa menjadi kota yang mandiri bagi masyarakatnya.”


Di rumah, Ja Kyung menonton berita mengenai pernyataan Ki Seo tadi. Ja Kyung terlihat kesal dan berdecih.


Pim. Jung: “Mencabut dakwaan? Kau yakin tidak salah dengar?”
Det. Go: “Tidak, aku mendengarnya langsung dari Jaksa Seo tadi.”


Pimpinan Jung langsung menghubungi putrinya dan menanyakan alasannya. Yi Ra bilang bahwa tidak ada bukti untuk kasus tersebut. Yi Ra juga mengatakan bahwa saksi dari kasus lima tahun lalu juga menghilang, sehingga tidak ada alasan untuk mendakwa Moon Shik. Pimpinan Jung menduga pasti ada alasan lain yang mempengaruhi keputusan Yi Ra. “Siapa yang memrintahkanmu?! Apa Jaksa Agungmu?!” tanya Pimpinan Jung marah.


Yi Ra tetap mengelak. Ia berkata bahwa sedang sibuk dan akan membicarakannya di rumah. Ia lalu menutup lalu melempar ponselnya. “Kau puas?” tanya Yi Ra pada Joon Seo yang ada di hadapannya. Joon Seo menganggukkan kepalanya.


Moon Shik melenggang bebas sambil membersihkan hidungnya dan tersenyum puas. Pimpinan Jung berkata pada Detektif Go bahwa baru kali ini ia menyesalkan membesarkan putrinya menjadi jaksa. Detektif Go sekarang semakin yakin bahwa ada orang yang melindungi Moon Shik. “Monster yang tidak bisa kita sentuh,” ujarnya.


Gyu Ho sedang membaca artikel mengenai pernyataan Ki Seo yang berjudul ‘Partai Gongmin dalam keadaan genting’ di ponselnya.


Paman berkata pada Dewan Choi melalui ponselnya bahwa itu semua keinginan Ki Seo sendiri dan dia tidak bisa menghentikan keponakannya yang gila itu. Paman kesal karena Dewan Choi menutup teleponnya. Paman lalu bertanya dimana Ki Seo pada Ja Kyung yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Ja Kyung: “Dia baru saja pergi karena ada urusan mendadak di kantornya.”
Paman: “Kau bilang padanya kalau aku datang?”
Ja Kyung: “Ya.”
Paman: “Dia tidak punya waktu untuk menemuiku sebentar?”
Ja Kyung: “Aku permisi.”


Paman semakin kesal karena Ki Seo memandang rendah padanya. Gyu Ho bilang ayahnya sendiri yang membuatnya jadi seperti itu. Paman bilang ia hanya menutupi kesalahan Ki Seo. Gyu Ho bilang itu bukan menutupi, tetapi malah menimpakan semua kesalahan pada Ki Seo.


Gyu Ho memberitahu bahwa 12 dewan provinsi yang menyatakan keluar dari partai dan sebagian besar berasal dari dewan kota dan provinsi mereka. Gyu Ho menduga yang lainnya belum mengundurkan diri, karena belum tahu tentang berita itu.


Paman: “Apa pentingnya jika Ki Seo keluar dari partai?”
Gyu Ho: “Bukan Ki Seo, tapi Jang Bum Ho. Paman tertuaku. Pengaruhnya sangat penting.”
Paman: “Dia sudah tidak ada.”
Gyu Ho: “Nabi juga sudah tidak ada.”


Moon Shik bicara di telepon dan dia mengucapkan terima kasih serta bilang akan tinggal di luar negeri untuk sementara. Mobil mereka berhenti di lampu merah.


Dan saat mobil berjalan kembali ada mobil truk dari arah berlawanan yang terlihat berjalan ke arah mereka. Moon Shik ketakutan dan berpegangan erat pada sabuk tangannya. Tapi kedua mobil itu ternyata berhenti tepat waktu. Joon Seo kemudian terlihat turun dari mobil trukr itu dan membuka pintu mobil yang dinaiki Moon Shik lalu menarik supirnya keluar.


Moon Shik bertanya kenapa Joon Seo melakukan itu. “Ada tempat yang harus kita kunjungi,” kata Joon Seo lalu mengemudikan mobilnya. Supir tadi berusaha menghentikan Joon Seo, namun tidak berhasil. Moon Shik bertanya lagi kemana mereka akan pergi. “Mari kita temui Jung Hye dan meminta maaf padanya.”


Presiden Korea menemui Ki Seo dan meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pemakaman Tuan Jung, ayah Ki Seo. Ki Seo bilang itu bukan masalah. Presiden juga merasa sangat menyesal karena tidak bisa sering mengunjunginya ketika masih hidup.


Presiden: “Mengenai pemilihan gubernur mendatang, Partai Gongmin berada di ujung tanduk. Pemilu ini sangat penting. Untuk itu, aku datang untuk meminta beberapa bantuan darimu.”
Ki Seo: “Ya, silakan katakana.”


Seorang anak buahnya memberi hormat pada Tuan Goo yang sedang memancing, lalu membisikinya sesuatu. Kemudian ia bicara sendiri, “Meskipun kau sudah tiada, tapi aku masih belum bisa mengalahkanmu, Jang Bum Ho.”


Joon Seo ternyata  membaca Moon Shik ke sebuah tebing yang curam. Ombaknya pun sangat besar. Ia memasangkan borgol ke tangan Moon Shik dan satunya ke tangannya sendiri, lalu membuang kuncinya ke laut. “Aku tahu rencanamu, tapi percuma. Aku tidak takut hal semacam ini,” kata Moon Shik yang menduga bahwa Joon Seo hanya menggertaknya.


“Mau kau dulu yang membunuhku atau aku dulu yang membunuhmu?” tanya Joon Seo. Moon Shik lalu mengambil pistol yang berada di tangan Joon Seo dan terkejut, karena pelurunya terisi penuh. “Kau mengambil pilihan yang salah. Aku tidak akan merasakan sakit, tapi kau akan sekarat. Tembak aku,” kata Joon Seo.


Moon Shik menodongkan pistolnya tepat ke kepala Joon Seo. Moon Shik kemudian tertawa. Ia berkata, “Kini aku menyadari bhawa kau sangat mirip dengan ayahmu. Jika watakmu mirip dengan ayahmu, aku yakin kau akan terus menggertakku.”


Moon Shik lalu menghela napas panjang dan bertanya apakah dia boleh menghubungi seseorang. “Bukankah kau penasaran siapa yang melindungiku?” tanya Moon Shik.


Bawahan Yi Ra memberikan daftar penggunaan kartu kredit dan panggilan ponsel atas nama Jo Min Joo. Yi Ra berterima kasih, lalu memeriksa daftar panggilan ponsel terlebih dulu.


Joon Seo yang sudah duduk bersama Moon Shik bertanya pria seperti apa yang melindunginya itu. Moon Shik bilang ia juga tidak mengenalnya, karena mereka hanya bicara melalui telepon. “Tunggulah sebentar. Aku mengancam akan membeberkan semuanya ke pers jika dia tidak datang. Jadi dia pasti akan segera datang.”


Moon Shik bilang orang itu pasti akan menganggap mereka aneh jika tangannya terborgol, tapi ia ingat bahwa Joon Seo sudah membuang kuncinya. Joon Seo lalu mengeluarkan kunci dari sakunya dan melepaskan borgolnya.


Moon Shik bilang Joon Seo sangat mirip dengan ayahnya, tapi Joon Seo melarangnya mengungkit tentang ayahnya lagi. Moon Shik bertanya apakah Joon Seo mau jika ia mengungkit tentang Jung Hye. Moon Shik bilang ia pernah menemui Jung Hye beberapa kali unuk mengancam dan membujuknya.


Moon Shik berkata, “Dan kami sangat intim. Kau tahu Jung Hye punya rumah lain bukan? Kami sering bertemu disana, hanya berdua.” Joon Seo bertanya apa maksud pembicaraan Moon Shik. “Apa kau menemukan pil KB yang disembunyikannya? Dia meminumnya karena aku.”


Joon Seo marah. Ia berdiri dan menarik kerah Moon Shik. “Jangan bohong, brengsek!” Moon Shik berusaha memprovokasi Joon Seo dengan mengatakan bahwa kulit Jung Hye sebening giok dan tato di bahunya jadi seperti cacat. “Brengsek!” Joon Seo menghajar dan menendangnya sampai Moon Shik terjatuh lemas.


Joon Seo kembali menarik kerah Moon Shik, “Kau yang menatonya bukan?! Jangan berbohong dan jawab aku, brengsek!” Tapi sepertinya Moon Shik sudah pingsan. Dan terlihat mobil Polisi datang menghampiri mereka. “Hei! Hei!” Joon Seo berusaha menyadarkan Moon Shik.


“Ketua Tim Jang, apa yang terjadi?” tanya Detektif Park yang datang bersama petugas  Polisi lain. Joon Seo sadar bahwa dirinya sudah dijebak. Ia dibawa masuk ke mobil Polisi bersama Detektif Park.


Di ambulance, Moon Shik terbangun dengan santai dan bicara di ponselnya. “Itu masalah kecil. Begitu tiba di UGD, aku bisa berpura-pura pingsan.” Tapi tiba-tiba petugas ambulance menjerat leher Moon Shik dan ia mati.


Yi Ra mencoret semua nomor di daftar panggilan ponsel Jung Hye yang sudah tidak bisa dihubungi. Ia terus mencoba menghubungi nomor lainnya. Dan akhirnya ada yang mengangkat panggilannya. “Halo, ini dari Kantor Kejaksaan Bukcheon. Maaf dengan siapa saya berbicara?” sapa Yi Ra.


Ja Kyung: “Apa ini Jaksa Seo Yi Ra?”
Yi Ra: “Apa?”
Ja Kyung: “Darimana kau mendapatkan nomor ponselmu? Sepertinya kubilang aku yang akan menghubungimu.”


Yi Ra kemudian sadar bahwa yang bicara dengannya adalah Dewan Eksekutif Goo Ja Kyung. Yi Ra beralasan bahwa ia hanya ingin menyapanya dan mengatakan bahwa Ja Kyung dapat menghubunginya kapan saja. “Ya, baiklah,” kata Ja Kyung lalu menutup ponselnya.


Ki Seo kembali mengadakan konferensi pers. “Pak Presiden memintaku untuk memimpin Bukcheon. Saya, Jang Ki Seo, bersedia mengikuti perintah Presiden untuk mencalonkan diri dalam pemilihan walikota Bukcheon mendatang.”


Di rumah sakit, dokter mengecek pupil Moon Shik, lalu menggelengkan kepalanya. Detektif Park langsung memasangkan borgol ke tangan Joon Seo.