Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 5 Part 3

Di sebuah tempat gym, Detektif Go memberikan ponsel milik Moon Shik, namun seluruh pesan dan riwayat panggilan sudah dihapus. Joon Seo lalu mengambil kartu memorinya dan mengembalikan lagi ponselnya pada Detektif Go. Joon Seo pun berterima kasih.


Detektif Go berkata bahwa dia melakukan bukan untuk Joon Seo, melainkan dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang Polisi.


Yi Ra sudah melihat Joon Seo sejak tadi, namun dia turun dari tangga dan bersikap seolah-olah doa baru melihat Joon Seo. Yi Ra menyapanya dan akan memberitahu Joon Seo sesuatu tentang kasus Jung Hye. Joon Seo mengingatkan bahwa ia sudah meminta Yi Ra untuk tidak mengurus kasus itu lagi.


Yi Ra: “Benar. Aku tidak ingin memberitahumu karena aku marah padamu. Tapi kupikir kau harus tahu tentang ini.”
Joon Seo: “Apa itu?”
Yi Ra: “Tunggu sebentar.”


Yi Ra lalu mengangkat ponselnyda dan ternyata itu dari Ja Kyung. Ja Kyung meminta Yi Ra agar datang ke rumahnya hari ini jam 6 sore dan Yi Ra setuju. Ja Kyung lalu bertanya apakah Yi Ra sering bertemu Joon Seo dan mendapatkan nomornya dari Joon Seo. Yi Ra menjawab tidak. Ja Kyung lalu berkata bahwa mereka bisa menjadi teman baik.


Joon Seo berkata kalau dia sedang sibuk dan meminta Yi Ra mengatakan keperluannya.Namun kemudian Pimpinan Jung datang. Joon Seo memberi hormat padanya dan langsung pergi. Pimpinan Jung juga langsung menyuruh Yi Ra ikut ke ruangannya.


Pimpinan Jung mengingatkan tentang Moon Ha Eun, wanita yang dilecehkan oleh putra Direktur Yoon Dong Shik dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Yi Ra lah yang menangania kasus itu dan memutarbalikkan fakta dengan menjadikan korban sebagai penyerang.


Yi Ra: “Namaku hanya digunakan sebagai yang bertanggung jawab, namun sebenarnya diputuskan oleh Kantor Jaksa. Aku juga dengar kalau putra Direktur Yoon sudah berlutut dan meminta maaf. Bukankah sudah selesai?”
Pim. Jung: “Kasusnya datang lagi. Mon Ha Eun atas tuduhan kecurangan dan ayahnya atas tuduhan konspirasi melakukan kecurangan. Saat Polisi datang ke rumahnya untuk menyelidiki, dia menemukan Ha Eun overdosis obat dan membawanya ke rumah sakit. Beruntungnya dia masih hidup, tapi masih dalam kondsi kritis.”
Yi Ra: “Itu bukan salahku.”


Pimpinan Jung tahu kalau Yi Ra menolak kedatangan ayah Ha Eun di kantornya dengan alasan sibuk.  Pimpinan Jung juga mengatakan kalau saja dulu Yi Ra tidak menandatangani berkasnya, maka hal tersebut tidak akan terjadi. “Ibu, kalau aku tidak menandatanganinya, jaksa lain yang akan melakukannya. Dan aku akan menjadi lebih jauh dari Seoul,” kata Yi Ra.


Yi Ra datang ke rumah sakit, tapi ia ragu untuk masuk ke ruang rawat Ha Eun. Ayah Ha Eun ada di dalam kamar, sedang menjaga putrinya. Yi Ra mengecek jam tangannya, karena ia punya janji lain.


Yi Ra kemudian datang menemui Ja Kyung di rumahnya. Tanpa basa-basi, Ja Kyung langsung bertaya untuk apa dia membicarakan Jung Hye melalui ponselnya. “Jika itu bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan, maka orang yang bicara di telepon dengannya sebelum dia mati akan menjadi tersangka bukan?” tanya Ja Kyung.


Yi Ra bilang tidak selalu seperti itu. Ja Kyung berkata kalau dia menyukai Yi Ra dan akan memberinya hadiah. Yi Ra biang Ja Kyung tidak perlu memberinya hadiah, karena itu hanya akan membebaninya. Ja Kyung lalu mengatakan ada tempat minum kopi yang bagus di dekat sana, jadi dia akan mentraktir Yi Ra minum kopi. Kemudian Kepala Jaksa datang sambil membawa kopi dan Yi Ra menyapanya.


Kepala Jaksa: “Siapa?”
Ja Kyung: “Dia Jaksa Seo Yi Ra dan Kantor Jaksa Wilayah Bukcheon.”
Kepala Jaksa: “Hmm.. adajaksa cantik yang bersembunyi di Bukcheon. Ini, kau akan datang ke pertemuannya bukan?”
Ja Kyung: “Ya, kami akan menikmati kopinya.”


Yi Ra hampir tersedak saat Ja Kyung mengatakan bahwa dia akan mengirim Yi Ra sebagai jaksa ahli ke gedung tempat Kepala Jaksa bekerja.


Kasat Park bersama para bawahannya sedang bersenang-senang di karaoke. Dia hanya duduk bersama Joon Seo dan menyuruhnya minum. Joon Seo kemudian minum. Detektif Goo lalu naik dan merusak keceriaan. 


Detektif Goo mulai bernyanyi solo dan tidak ada yang mempedulikannya. Joon Seo hanya menahan senyumnya melihat kelakuan rekannya itu. Belum selesai Detektif Go bernyanyi, Joon Seo naik dan memilih lagu dan mengambil mikrofon. Detektif Goo kecewa.


Kasat Park memperhatikan Joon Seo yang menyanyi dan menari bersama teman-temannya. Joon Seo berusaha menunjukkan bahwa dia menikmati itu semua.


Ja Kyung membawa Yi Ra ke suatu tempat yang berisi banyak orang penting. Kemudian mereka menemui sekelompok orang dan salah satunya adalah Tuan Goo. Tuan Goo bahkan menawarkan diri menuangkan minuman untuk Yi Ra. 


Kasat Park turun dari taksi bersama Joon Seo dan turun di depan sebuah gedung. Kasat Park mengatakan bahwa itu adalah tempat yang istimewa dan dia hanya membawa orang yang ia percayai kesana. 


Joon Seo dibawa masuk ke suatu ruangan dan Paman Yong sudah ada disana. Kasat Park lalu meninggalkan mereka berdua. Joon Seo bilang ia penasaran siapa selama ini yang berada di belakang Kasat Park.


Kemudian, Ki Seo masuk ke ruangan itu dan menyapa adiknya sambil tersenyum. Joon Seo terkejut.


Direktur Yoon berkata pada Yi Ra bhawa Jaksa tidak bisa berhasil hanya dengan kemampuannya, tetapi juga perlu uang dan koneksi. Dia bertanya apa Yi Ra sudah memiliki itu. Yi Ra bilang belum. Direktur Yoon mengatakan bahwa dia akan membuatkannya untuk Yi Ra, tapi sebagai gantinya Yi Ra harus mengurusi putranya.


Putra Direktur Yoon tampak sedang bersenang-senang dengan beberapa wanita. Direktur Yoon juga berkata kalau putranya itu sebenarnya sangat baik. Yi Ra berusaha menyembunyikan ekpresi ketidaksukaannya, terutama ketika dia mengingat Ha Eun yang sedang koma di rumah sakit.


Ki Seo berkata bahwa ia sempat khawatir kalau Joon Seo akan menolak rencana yang dibuat Kasat Park, karena adiknya adalah orang yang terlalu baik. Joon Seo lalu berterima kasih karena berkat kakaknya, dia tidak menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Ki Seo menduga Joon Seo melakukan itu agar tidak menghambat dirinya yang sedang mencalonkan diri sebagai walikota.


Joon Seo lalu mengatakan bahwa dia sudah berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan Bukcheon. Ia juga bilang kalau ia sudah menyadari bahwa ia tidak berbeda dari ayahnya, yang bisa membunuh orang lain tanpa mengedipkan mata.


Mendengar Joon Seo mengakui bahwa dia adalah putra Tuan Jang, membuat Paman Yong tersenyum senang.


Orang-orang di tempat yang didatangi Yi Ra masih terus berpesta. Yi Ra berusaha mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti musik, tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya tidak suka. Putra Direktur Yoon tiba-tiba mengajaknya untuk duduk bersama dan menuangkan minuman untuknya. Putra Direktur Yoon memuji kulit Yi Ra yang bagus.


Yi Ra: “Apa?”
Putra: “Aku lemah terhadap wanita berkulit cantik. Kenapa aku jatuh cinta pada Moon Ha Eun? Kulitnya sangat putih, karena itulah aku jatuh cinta padanya. Aku tidak melakukan kesalahan.Dialah yang bersalah, karena menunjukkan kulitnya padaku.”


Yi Ra memilih pergi tapi putra Direktur Yoon menariknya duduk kembali dan dia memuji paha Yi Ra.Yi Ra menutup roknya yang sedikit terbuka, lalu akan memukul putra Direktur Yoon yang langsung melindungi kepalanya. Tapit tiaba-tiba semua lampu padam, dan hanya ada satu lampu besar yang dinyalakan.


Seorang pria mengucapkan terima kasih karena Tuan Goo dan yang lainnya sudah membeli tiket undian. “Jika terserah padaku, aku akan memberi kalian masing-masing sebatang emas. Tapi berkat Hukum Kim Young Ran (hukum anti korupsi itu hahaha.. Sebagai gantinya, salah satu dari kalian akan menjadi sangat beruntung malam ini.”


Ja Kyung menghampiri Yi Ra dan berkata bahwa Yi Ra juga harus mencobanya. Yi Ra setuju dan berjalan menuju meja roulette. Ja Kyung meminta kartu nama Yi Ra dan bertanya nomor apa yang Yi Ra sukai.


Yi Ra menoleh ke arah Putra Dirketur Yoon yang sedang tertidur karena mabuk. “Aku suka 18,” kata Yi Ra. (18 dalam Bahasa Korea terdengar seperti kata umpatan)


Ja Kyung lalu meletakkan kartu nama Yi Ra di atas nomor 18.


Baru kemudian orang-orang lain meletakkan kartu nama mereka di atas nomor yang mereka pilih.


Roulette berputar dan ternyata bolanya berhenti di angka pilihan Yi Ra yaitu 18. “Jaksa Seo Yi Ra, selamat,” kata petugas kasino sambil memberikan hadiahnya pada Yi Ra. Semua orang bertepuk tangan, kecuali Ja Kyung.


Yi Ra membuka hadiahnya dan terlihat sangat terkejut. Ja Kyung meminta Yi Ra menerimanya tanpa beban. “Keberuntungan juga adalah keterampilan,” kata Ja Kyung. Yi Ra berterima kasih.


Yi Ra membuka jendela dan kap sebuah mobil mewah. Dia terlihat cukup senang dan pergi dengan mobil barunya itu.


Ki Seo memberitahu adiknya bahwa ruangan yang sedang mereka duduki itu adalah ruangan dimana ayah mereka pingsan. “Ayah itu memisahkan kita. Begitulah dia bertahan hidup. Kedepannya, ayo kita hidup dengan impian yang sama,” ajak Ki Seo sambil mengangkat gelasnya dan kemudian minum bersama.


Ki Seo dan Joon Seo kecil melihat ayahnya memukul seseorang dengan kayu berapi. “Apa menurutmu binatang mengkhianati satu sama lain? Hanya manusia yang melakukannya!”


Joon Seo dan Ki Seo terbangun dari tidurnya, karena mimpi buruk yang sama.


Joon Seo keluar dari kamarnya dan mendengar suara dari ruang pertemuan. Ia masuk dan melihat kakaknya sedang berlatih pidato sambil mendengarkan video ayahnya yang sedang berkumpul bersama rakyatnya.


“Sangat memalukan,” kata Ki Seo. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Ini adalah siapa aku. Tidak peduli apa yang kulakukan, aku tidak bisa keluar dari bayangan ayah.” Joon Seo menanyakan alasannya. “Jika aku membuang ayah, terasa seolah aku membuang diriku sendiri. Hanya ada satu cara bagiku untuk terbebas dari genggaman ayah. Aku harus menjadi versi sempurna dari ayah,” jawab Ki Seo dan akan pergi meninggalkan ruang pertemuan.


Joon Seo: “Hyun, kau tidak boleh menjadi seperti ayah.”
Ki Seo: “Pergi dan lihatlah di cermin. Kau akan menemui ayah disana.”


Joon Seo lalu menatap dirinya di cermin. Ia mengingat perkataan kakaknya, bahwa ayah memisahkan mereka demi bertahan hidup. Ia lalu memejamkan matanya.