Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 6 Part 2

Setelah tersenyum pada orang yang tersembunyi di ruang pengawas, Joon Seo mengeluarkan sebuah surat otopsi yang menyatakan bahwa Moon Shik memang menderita luka luar di wajah dan bagian belakang kepala yang dilakukan oleh Joon Seo. Dan penyebab kematian Moon Shik yang sesungguhnya adalah karena cekikan.


Joon Seo bilang ia melakukan otopsi secara diam-diam sebelum jasad Moon Shik dikremasi. Bekas cekikan itu disembunyikan saat  Moon Shik dibawa ke rumah sakit pertama kali.


Detektif Choi mengeluh, karena Joon Seo harusnya sudah memberikan hasil otopsi itu agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti itu. Joon Seo bertanya darimana mereka mendapatkan rekaman CCTV itu. Detektif yang satu lagi mengatakan bahwa ia tidak tahu, karena diberikan orang tak dikenal.


“Alasan aku menyembunyikan hasil otopsi adalah karena aku penasaran dengan orang tak dikenal itu,” kata Joon Seo.


Di ruang pengawas, Tuan Goo tampak kecewa karena tidak berhasil menjeblokskan Joon Seo ke penjara. Ia mendengar Joon Seo berkata, “Siapakah itu? Orang yang bersembunyi di balik ini semua?”


Detektif Go memberikan hasil otopsi Moon Shik kepada Pimpinan Jung. “Aku tahu Jang Joon Seo bisa saja membunuh Kang Moon Shik. Tapi siapa yang memfitnah Joon Seo sebagai pembunuhnya? Apa ini berarti pembunuh Jung Hye tidak terkait dengan Keluarga Jang?” tanya Pimpinan Jung heran.


Detektif Go bilang dia juga belum tahu, tapi dia menduga kalau musuh yang mereka kejar bisa saja sama dengan musuh Joon Seo. Tapi Pimpinan Jung berpendapat berbeda, “Hanya karena kita punya musuh yang sama, bukan berarti kita di pihak yang sama”.


Di luar Kantor Polisi, Detektif Choi memberitahukan bahwa dugaan Joon Seo benar tentang ada orang yang datang dan mengawasi jalannya investigasi. Joon Seo bertanya siapa orang itu. “Hyung, jika aku katakan padamu, kita semua bisa dipecat satu persatu,” kata Detektif Choi. Joon Seo bilang orang itu merasa terancam karena ia mencari tahu tentang Joo Tae Sub, dia menduga kalau itu adalah keluarganya. 


Kepala Jaksa meminta maaf pada Tuan Goo karena ia tidka teliti dalam menjalankan tugasnya. Tuan Goo sekarang menyadari kenapa Tuan Jang memilih Joon Seo sebagai pewarisnya, bukannya Ki Seo.


Kasat Park melapor pada Paman Yong, bahwa Joon Seo berpura-pura ada di pihak mereka, tapi kemudian berkhianat. Ia bertanya apa yang harus mereka lakukan, tapi Paman Yong berkata bahwa ia juga belum tahu apa yang harus dilakukan.


Kasat Park berkata bahwa dia akan membuat perangkap yang lebih hebat untuk Joon Seo dan menyebutnya bedebah. Tapi Paman Yong langsung menghajarnya, karena bicara tidak sopan tentang Joon Seo. Paman Yong bilang Kasat Park harus tahu siapa yang memberinya makan.


Paman Yong: “Jang Joon Seo adalah putra Walikota Jang Bum Ho. Ingat itu di kepalamu, atau alasan  keberadaanmu akan lenyap. Jadi Jang Joon Seo adalah?”
Kasat Park: “Putra Walikota Jang Bum Ho.”


Joon Seo membawakan kopi latte untuk Detektif Goo. Detektif Goo protes karena hanya itu imbalannya, padahal sangat sulit baginya untuk menyelinap ke dalam Kantor Kasat Park dan mengakses komputernya. Ternyata Detektif Goo adalah benar-benar Polisi bersih.


Joon Seo: “Uang di dalam tas itu termasuk aset Perusahaan Kelautan Bukcheon.”
Det. Goo: “Di masa mendatang, jangan pernah berpikir untuk membuka toko serba ada saat kau pensiun. Sudah jelas kau akan menjadi bos mengerikan yang meipu uang pekerja paruh waktunya.”
Joon Seo: “Perusahaan Kelautan Bukcheon adalah milik keluargaku. Itu artinya aku bisa menggunakan uangnya. Kau sudah bekerja keras.”


Detektif Goo sangat senang karena dapat memiliki uang itu. Ia bilang bahwa mimpinya selama ini bukanlah anjing, melainkan babi yang di Korea merupakan pembawa keberuntungan. Ia kemudian menari bahagia.


Di meja makan, Ki Seo meminta Ja Kyung untuk mengatur pertemuan dengan semua guru SMA Bukcheon. Ja Kyung menolak dan menyuruh Ki Seo agar menghubungi kepala sekolahnya sendiri. Ki Seo memintanya lagi, tapi Ja Kyung tetap menolak dan meminta pelayan untuk memisahkan makan siangnya.


Ki Seo menariknya sehingga Ja Kyung duduk lagi. Ia menyuruh Ja Kyung menghabiskan makanannya,tapi Ja Kyung bilang tidak ingin makan. “Jika kau tidak mau makan, tunggu aku sampai selesai makan!” kata Ki Seo, tapi Ja Kyung kembali berdiri. “Aku mohon,” dan akhirnya Ja Kyung duduk lagi.


Joon Seo menatap rumah lama Jung Hye dari depan kedai.


Ia seperti melihat Jung Hye duduk disana menunggu kedatangan ayahnya sampai malam.


Joon Seo kemudian duduk di tempat yang sama.


Yi Ra berusaha meminta atasannya agar tidak memindahkannya ke Pulau Jeju, karena kulitnya kering dan jika terkena angin akan mengkerut. Ia meminta agar dipindahkan ke tempat yang lebih dekat ke daratan dengan angin yang lebih sedikit daripada di Pulau Jeju.Tapi atasannya menutup teleponnya begitu saja.


Kemudian ia mendapat telepon dari Joon Seo. Ia mengomel, “Ini semua karenamu! Tak peduli berapa kali kau menelepon, aku tidak akan pernah bertemu orang sepertimu!” Ia lalu menolak panggilannya.


Tapi kemudian ia berakhir menemui Joon Seo di kedai depan rumah Jung Hye. Joon Seo merasa tidak enak karena ia bersikap kasar kepada Yi Ra. Yi Ra bilang tidak masalah dan sebagai gantinya ia akan bersikap kasar dan mulai sekarang akan bicara tidak formal.


Joon Seo: “Terima kasih karena memberitahuku tentang Jung Hye. Itu banyak membantuku. Terima kasih juga karena membawaku kesini.”
Yi Ra: “Jadi begitu.”
Joon Seo: “Kenyataan bahwa Goo Ja Kyung ada di riwayat panggilan Jung Hye, dia pasti telah mengetahuinya. Mereka menamaknmu bukan? Dan sesuatu yang sulit pasti sedang terjadi padamu.”
Yi Ra: “Kau tahu sumpah jaksa ketika mengambil delegasi?”


Yi Ra lalu berdiri dan membacakan sumpahnya yang berisi bahwa ia akan melayani negara dan rakyatnya sebagai jaksa. Ia kemudian berteriak kesal karena ada jaksa yang mengabaikan kebenaran demi mendapatkan promosi. Joon Seo bertanya kenapa Yi Ra tidak melakukan hal yang sama dengan mereka.


Yi Ra menatap rumah lama Jung Hye dan berkata bahwa dia melakukan itu untuk mendapat pengakuan dari Joon Seo, melainkan untuk Jung Hye.


Ki Seo: Kenapa mertuaku membuat masalah dengan Joon Seo?”
Paman Yong: “Joo Tae Sub sudah dibebaskan.”
Ki Seo: “Ah, benar. Orang yang membersihkan piring kotor mertuaku. Dia keluar?”
Paman Yong: “Ya.”


Di ruang pertemuan keluarganya, Joon Seo berkata bahwa dia sedang memikirkan Ja Kyung dan mungkin akan curiga pada Ja Kyung seumur hidupnya. Joon Seo lalu meminta Ja Kyung mengatakan yang sejujurnya tentang hubungan Ja Kyung dengan Jung Hye.


Ja Kyung bilang ia tidak bisa memberitahukannya pada Joon Seo karena akan memalukan baginya. Ja Kyung berkata bahwa menurutnya Joon Seo dulu pergi bukan karena tidak suka padanya. Tapi saat mendengar kabar kalau Joon Seo menemukan seorang yang dicintainya, Ja Kyung merasa lebih benci pada wanita itu dibanding pada Joon Seo,


Joon Seo: “Goo Ja Kyung, kau...”
Ja Kyung: “Jika aku membunuh wanita itu, tidak ada alasan lain. Hanya ada satu alasan. Pria itu mencintai wanita itu.”


Ki Seo kemudian masuk ke ruang pertemuan dan bertanya pembicaraan rahasia apa yang mereka lakukan. Ja Kyung langsung berjalan pergi. “Kalian hidup di rumah yang sama selama 3 tahun,pasti ada sesuatu yang aku tidak tahu,” kata Ki Seo. Langkah Ja Kyung terhenti. “Joon Seo, jangan memancing iparmu terlalu banyak, dia dari keluarga presiden. Dia adalah istri yang dicintai kakakmu.” Ja Kyung berdecih lalu pergi.


Ki Seo tersenyum melihat kepergian Ja Kyung. Ia lalu bertanya apakah dia adalah satu-satunya pria yang mencintai Ja Kyung. Joon Seo tidak menjawab dan pergi meninggalkan ruang pertemuan. 


Ki Seo menundukkan tubuhnya dan ia terlihat sedih.


Di tempat berbeda, seorang wanita tampak memperhatikan tato aksara China di bahunya.


Ki Seo lalu datang dan memeluknya dari belakang. Wanita itu meminta Ki Seo melepaskannya. “Aku merindukanmu,” kata Ki Seo. Tapi wanita itu berteriak dan melepaskan dirinya. Ia meminta agar Ki Seo membunuhnya saja daripada membuatnya hidup memprihatinkan.


“Benarkah? Kau benar-benar ingin mati?” tanya Ki Seo tapi wanita itu tidak menjawab dan wajahnya tampak sangat sedih. Ki Seo kemudian memeluknya. “Setidaknya ketika denganmu, aku merasa ada kita berdua. Ketika dengan ayahku, aku tahu dia berdiri di sampingku, tapi sekarang, tidak peduli siapa yang kutemui, aku merasa sendirian. Aku tidak membenci orang lain, tapi kurasa mereka membenciku.”


Wanita: “Kenapa kau seperti ini padaku?”
Ki Seo: “Karena kau memprihatinkan. Kau memprihatinkan, jadi aku tidak tahan.”
Wanita: “Aku pikir kau lebih memprihatinkan.”


Ki Seo lalu tertawa dan berkata, “Kau bisa melihatnya melalui aku.”


Keesokan harinya, Ki Seo memimpin pertemuan bahwa mereka akan memulai kampanye untuk pemilihan walikota. Tapi Ja Kyung tampak sibuk dengan ponselnya. Ki Seo berkata bahwa ia membutuhkan bantuan mereka semua yang hadir disana. Ki Seo bertanya pada Direktur Im, karena ada artikel yang mengganggunya di Berita Harian Bukcheon.


Direktur Im tergugup. Ia menjelaskan bahwa walaupun yang terluka bukanlah karyawan tetap, tetapi orang itu merupakan ayah dari Woo Sang Chul, seorang pemain baseball unggulan dari Bukcheon. “Dia sangat terkenal di antara penduduk Bukcheon, sehingga beritanya menjadi besar. Kami tidak punya pilihan,” kata Direktur Im.


Paman lalu menyarankan agar Ki Seo mengunjungi orang itu secara pribadi di rumah sakit. Paman merasa itu akan meningkatkan citra Ki Seo sebagai Presiden Direktur yang menjenguk karyawannya. Ki Seo berterima kasih atas usul pamannya itu.


Goo Ja Kyung baru mengalihkan perhatian dari ponselnya saat mendengar Ki Seo berkata bahwa jabatan Direktur SMA yang selama ini dipegang oleh Ja Kyung akan diganti. Gyu Ho bertanya bahwa selama ini tidak ada masalah selama jabatan itu dipegang oleh Ja Kyung.


“Direktur Goo Ja Kyung adalah putri presiden sebelumnya. Dia menjadi wajah dari pemilihan ini. Selama periode pemilihan, suka atau tidak, dia harus berada di sisiku,” jelas Ki Seo lalu tersenyum penuh makna pada Ja Kyung yang sudah pasti tidak suka atas keputusan itu.


Ja Kyung memberitahukan keputusan itu pada ayahnya. Tuan Goo bilang bagian terbaiknya adalah Ja Kyung akan menjadi istri Walikota Bukcheon, tapi tetap harus bermimpi lebih besar. Ja Kyung juga memberitahu kalau Joo Tae Sub mencarinya.


Tuan Goo: “Apa?”
Ja Kyung: “Dia datang untuk mengancamku. Jika dia dan Joon Seo berhubungan, bukankah mimpi besar kita hancur?”
Tuan Goo: “Jangan khawatir. Bahkan jika dia mengungkapkan kebenarannya, dia pasti tidak punya kekuasaan untuk membuat orang percaya akan kebenaran itu. Dia hanya seorang petugas Polisi. ”


Sementara itu, Joon Seo terlihat masuk ke suatu ruangan yang terlihat seperti gudang. Disanalah dia menyimpan uang pemberian ayahnya yang ia terima melalui Paman Yong.

1 komentar:

Drama bagus, next plis jagganim..
Hwaiting...