Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 7 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 8 PREVIEW

Di sebuah bar, Yi Ra membaca balasan pesan dari teman-teman di media sosial yang merasa kehilangan Jung Hye. Menurut mereka Jung Hye itu seperti malaikat yang tidak dibenci oleh siapapun, seorang unnie yang baik, dan ada yang menangis ketika mengetahui kabarnya.


Yi Ra ingin membalas pesannya, namun ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih minum. Ia kemudian berpikir sejenak, lalu menelepon seseorang.


Di waktu yang bersamaan, berita menyiarkan pengukuhan Ki Seo sebagai calon Walikota Bukcheon bersama Partai Gongwha Minju. Belum selesai berita itu disiarkan, Ja Kyung sudah mematikan televisinya, kemudian pergi.


Yi Ra ternyata menghubungi Joon Seo dan memintanya datang. Ia meminta semua arsip tentang Jung Hye, bukti bahwa Moon Shik membunuhnya, dan juga barang-barang milik Jung Hye lainnya termasuk ponselnya. Joon Seo menanyakan alasannya. “Aku seorang jaksa. Aku punya tugas untuk mengungkapkan kebenaran,” jawab Yi Ra.


Tiba-tiba putra Direktur Yoon menyapa Yi Ra dan menyebutnya jaksa cantik. Yi Ra terkejut, karena seharusnya putra Direktur Yoon sedang ditahan atas kasus Ha Eun. “Aku tidak kabur dari penjara. Hakin menyuruhku pergi. Jadi aku pergi, tepat sesuai hukum,” katanya. Yi Ra mengambil tasnya dan mengajak Joon Seo pergi.

Putra Direktur Yoon berkata bahwa dunia ini kotor seperti selokan dan ia akan membuat Yi Ra seperti itu. Yi Ra mendekatinya dan berkata bahwa dia mungin tidak bisa membersihkan dunia ini, tapi Yi Ra bertekad akan menyingkirkannya dengan tangannya sendiri.


Joon Seo tersenyum kagum karena mendengar perkataan Yi Ra. Bukannya takut, putra Direktur Yoon malah tertawa dan menyebut Yi Ra seksi dan tertarik pada orang gila seperti Yi Ra.


Putra Direktur Yoon berkata bahwa Yi Ra bisa kehilangan masa depannya dan menawarinya untuk menjadi pengacara pribadinya. “Mobil, rumah, kantor… aku akan memberimu segalanya,” katanya dengan sombong. “Jika kau bosan, aku akan minum denganmu dan juga tidur denganmu.”


Yi Ra akan memukul putra Direktur Yoon, tapi Joon Seo menahan tangannya. Joon Seo lalu mendorong putra Direktur Yoon menjauh, tapi pria itu malah menyerang. Dan tentu saja Joon Seo berhasil mengalahkannya dengan mudah. Kedua teman pria itu tidak berani membantu.


Putra Direktur Yoon mengeluh sakit di tangannya. Joon Seo lalu melemparkan kartu namanya dan mengatakan bahwa dia dapat menghubungi Joon Seo kapan saja.


Joon Seo lalu menggandeng tangan Yi Ra dan membawanya pergi dari sana. Yi Ra sendiri masih belum sadar dari keterkejutannya.


Putra Direktur Yoon memberikan kartu nama itu kepada salah satu temannya dan menyuruhnya mencari tahu. Dia malah berkoar kalau dia akan membunuh Joon Seo. “Jang Joon Seo? Bukankah dia putra kedua Walikota Jang Bum Ho?” tanya temannya. Teman yang satu lagi berkata kalau dia pernah mendengar Joon Seo adalah seorang Polisi. Putra Direktur Yoon lalu berteriak dan sadar kalau dia telah berurusan dengan orang yang salah.


Joon Seo mengantar Yi Ra sampai ke dalam taksi. Ia berpesan agar Yi Ra berhati-hati. Yi Ra yang masih terpesona dengan sikap Joon Seo mengucapkan terima kasih. Dia juga mengatakan kalau Joon Seo selalu melakukan yang terbaik sebagai seorang Polisi. “Baik, Jaksa,” kata Joon Seo lalu menutup pintu taksinya.


Sambil melihat Joon Seo yang sudah berjalan pergi, Yi Ra memukuli pipinya sendiri, “Aku pasti sudah gila. Gila! Gila!” Ia menyesal telah berkata seperti tadi kepada Joon Seo. 


Sementara itu, Ki Seo yang baru sampai rumah, berjalan dengan tergesa-gesa, melepas dasinya dan membantingnya ke meja makan. Ia marah pada Ja Kyung yang tidak hadir dalam konvensi nasional yang menyatakan Ki Seo sebagai calon walikota.


Ja Kyung: “Aku sedang makan sekarang.”
Ki Seo: “Hei, Goo Ja Kyung! Kau berjanji padaku untuk memainkan peran sebagai istriku selama pemilihan.”
Ja Kyung: “Aku tidak pernah menjanjikan hal itu.”


Ki Seo bertanya apa alasan Ja Kyung ada di rumah itu. Ia kemudian melihat Joon Seo yang baru saja datang. “Apa kau bertanya padaku kenapa aku ada disini?” tanya Ja Kyung lalu melihat ke arah Joon Seo. Ia lalu melihat Ki Seo lagi dan berkata, “Karena Jang Joon Seo. Aku pernah memanggil Joon Seo sebelum menikahimu. Aku bertanya padanya, apakah tidak apa-apa jika aku menikahi kakaknya. Dia bilang aku bisa melakukannya. Itulah sebabnya aku ada disini. Di rumah ini.”


Joon Seo terkejut.


“Terima kasih atas izinmu untuk pernikahanku,” kata Ki Seo pada Joon Seo. Joon Seo menghela napas dari mulutnya. Ki Seo lalu meninggalkan meja makan, sedangkan Joon Seo menghampiri Ja Kyung.


Joon Seo bertanya kenapa Ja Kyung melakukan itu. Ja kyung tersenyum dan Joon Seo bertanya bagaimana Ja Kyung bisa tersenyum seperti itu. “Situasi ini lucu untukku. Sepertinya ini tidak lucu untukmu, Adik Ipar,” kata Ja Kyung lalu tersenyum lagi.


Joon Seo menundukkan kepalanya bingung, setelah Ja Kyung pergi tanpa menjelaskan apapun.


Ki Seo datang ke kamar hotel dan mencari Yoo Na Na. Karena Na Na tidak ada, Ki Seo keluar lagi dan berusaha menghubungi ponsel Na Na, namun nomornya tidak aktif.


Ki Seo baru menarik napas lega, ketika melihat Na Na sedang duduk di lobby lantai bawah. Ki Seo berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya. “Apa kau mencoba untuk melarikan diri?” tanya Ki Seo. Na Na menganggukkan kepalanya dan terlihat murung.


Ki Seo: “Tapi kenapa kau disini seperti ini?”
Na Na: “Aku tidak punya tempat untuk pergi. Jangan bunuh aku. Bukankah kau membuat tato ini sebelum membunuh seseorang? Kau akan membunuhku suatu hari seperti wanita yang lainnya.”
Ki Seo: “Darimana kau mendengar itu?”
Na Na: “Jangan bunuh aku. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya melakukan apapun yang diperintahkan.”
Ki Seo: “Apa yang mereka perintahkan? Siapa?”
Flashback..


Na Na lalu mengingat saat Ki Seo meninggalkannya di kamar hotel. Sebelum pergi Ki Seo berkata, ”Aku pikir aku akan rindu padamu.”


Baru saja Na Na selesai mandi, Ja Kyung datang ke kamar itu. Na Na bertanya siapa Ja Kyung. Bukannya menjawab, Ja Kyung langsung menamparnya.


Na Na: “Kenapa kau melakukan ini?”
Ja Kyung: “Menurutmu siapa aku?”
Na Na: “Oh.. aku.. aku.. maafkan aku.”


Ja Kyung lalu menghubungi pihak hotel dan minta dibawakan anggur dan makanan. Na Na masih berdiri ketakutan.


Manajer hotel ketakutan saat Ja Kyung bertanya apakah Ki Seo sering datang kesana tanpa sepengetahuannya.Manajer lalu melihat ke arah Na Na dan berkata bahwa mereka tidak menyembunyikan hal itu dengan sengaja dan meminta maaf. Ja Kyung lalu menyuruh mereka pergi.


Ja Kyung kemudian menyuruh Na Na duduk. Ia meminta Na Na memberitahunya kalau ada orang yang menyakitinya. “Ada banyak saksi dan aku pasti terekam di CCTV. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa aku yang memperintahkannya? Pergilah sekarang,” kata Ja Kyung. Na Na berlutut dan berkata kalau dia salah dan tidak akan melakukannya lagi. “


Na Na: “Tolong maafkan aku sekali ini saja, aku mohon.”
Ja Kyung: “Belum lama ini, Predir Jang Ki Seo menyerang istrinya secara seksual. Seorang pria yang menyerang secara seksual istrinya sendiri. Aku tidak berpikir dia akan memperlakukan orang sepertimu dengan baik. Laporkan pria itu. Katakan dia memperkosamu.”
Na Na: “A..apa? Itu..”
Ja Kyung: “Atau sesuatu akan terjadi saat kau sudah melaporkannya kepadaku.”


Ki Seo tampak kesal. Na Na bertanya apa yang akan Ki Seo lakukan dengannya. “Lakukan apapun sesukamu. Aku tidak punya alasan apapun untuk menahanmu,” kata Ki Seo lalu pergi. “Goo Ja Kyung..” gumamnya.


Di pinggir Sungai Han, Gyu Ho memuji pekerjaan anak buahnya yang berhasil menemukan Joo Tae Sub dan mereka sedang mengintainya sekarang.


Ki Seo yang sedang marah kepada Ja Kyung masuk ke kamarnya dan mengangkat tangannya untuk mencekik istrinya itu. Tiba-tiba ponsel Ja Kyung berdering. Ki Seo terkejut. “Bisakah aku menjawab teleponnya?” tanya Ja Kyung tanpa membuka matanya.


“Apa aku terlihat bodoh bagimu?” tanya Ki Seo lalu pergi dari kamar.


Ja Kyung: “Ya?”
Gyu Ho: “Kami sudah menemukan Joo Tae Sub. Haruskah kita mengurusnya seperti yang disebutkan terakhir kali?”
Ja Kyung: “Ya.”


Gyo Ho menyuruh anak buahnya untuk mempekerjakan orang luar untuk mengurus Tae Sub nanti. Tapi kemudian anak buahnya mengatakan kalau ada orang yang mendatangi Tae Sub. Gyu Ho kemudian melihatnya dari teropong.


“Hyung mencurigai adiknya. Dan adik laki-lakinya itu menggali kelemahan kakaknya. Ini menjadi perkelahian diantara tiga bersaudara, bukan antara dua. Ini menjadi lebih menarik,” kata Gyu Ho tersenyum senang.


Joon Seo memberitahu Tae Sub kalau dia ingin menangkap Kasat Park. Tae Sub bertanya apa yang bisa dia bantu. “Hubungi Park Tae Jin dan minta dia untuk menemuimu,” kata Joon Seo.


Keesokan harinya, Kasat Park menemui Ki Seo dan meminta perlindungan. Ki Seo menanyakan alasannya. “Istrimu sedang mencari Joo Tae Sub. Saat dia bergerak, ayah mertuamu, mantan Presiden Goo Yong Chan, akan membuat dampak yang lebih besar,,” kata Kasat Park. Ki Seo mengatakan kalau Goo Yong Chan dan Goo Ja Kyung adalah orang yang berbahaya.


Kasat Park: “Joo Tae Sub menghubungiku dan meminta bertemu denganku.”
Ki Seo: “Joo Tae Sub? Dimana?”
Kasat Park: “Sebelum itu…”


Ki Seo lalu menghubungi Paman Yong dan mengatakan kalau sekarang Kasat Park datang kepadanya dan mulai sekarang akan bekerja untuknya. Setelah menutup teleponnya, Ki Seo berkata lagi kepada Kasat Park, “Kau puas?”


Kasat Park membungkukkan badannya dan berterima kasih. “Kapan dan dimana kau akan menemui Joo Tae Sub?” tanya Ki Seo.


Sementara itu, Detektif Choi datang ke Kantor Kejaksaan untuk memberikan barang-barang milik Jung Hye pada Yi Ra. Yi Ra mengatakan bahwa kotak itu masih tertutup sama seperti ketika di rumah sakit. Detektif Choi menduga kalau Joon Seo sengaja tidak mau membukanya


Jung Hye bertanya kepada Detektif Choi yang pernah bertemu dengan Jung Hye bahwa apakah menurutnya Jung Hye jatuh cinta pada Joon Seo. “Apa menurutmu dia akan melakukannya jika dia mencintainya? Menurutku tidak,” jawab Detektif Choi. Yi Ra mengerti.


“Tapi Hyung berpikir berbeda. Dia akan mencoba mencari tahu tanpa menyerah sampai akhir,” kata Detektif Choi lagi. Yi Ra bertanya apa yang sedang dicari oleh Joon Seo. “Mencari tahu apakah Jung Hye benar-benar mencintainya. Dia sangat ingin mengetahuinya.” Yi Ra mengerti dan mempersilakan Detektif Choi pergi.


Yi Ra kemudian mulai mengeluarkan barang-barang Jung Hye dan mulai memotretnya satu persatu. Ada barang seperti tas, sepatu, dompet, ponsel, dan juga sebuah cincin kawin.


Yi Ra memperhatikan tulisan di cincin itu yaitu Joon Seo  Jung Hye.


Tae Sub terlihat berada di sebuah gudang yang berisi mobil-mobil bekas. Ia memakai alat komunikasi di telinganya dan menutupinya dengan hoodie-nya. Ia berkata kalau ia bisa mendengar suara Joon Seo dengan jelas.


Joon Seo mengatakan kalau semua perkataan Kasat Park akan direkam, dan dia meminta Tae Sub agar membuat Kasat Park mengakui dengan mulutnya sendiri bahwa dia yang memerintahkan pembunuhan itu. Tae Sub bertanya apa yang harus dia katakan untuk memulai pembicaraan. “Tanyakan kepada apakah dia akan membunuhmu dengan cara yang sama seperti dia membunuh Kang Moon Shik. Dan wanita yang bernama Ahn Jin Kyung dulu bekerja untuk kampanye Goo Yong Chan, juga fakta bahwa pembunuhan itu diperintahkan olehnya,” kata Joon Seo.


“Aku mengerti. Tunggu dulu. Aku pikir dia sudah datang,” kata Tae Sub sambil memperhatikan sekitar. Tim Joon Seo bersiaga.


Ki Seo: “Halo. Kau tahu siapa aku, bukan?”
Tae Sub: “Ya. Presdir Jang Ki Seo. AKu datang karena ada sesuatu yang ingin kuminta, sesuatu yang mengarah padamu.”


Sung Gyun dan yang lainnya terkejut. Mereka mendengar Ki Seo berkata, “Presdir Goo Yong Chan memerintahkanmu untuk melakukan pembunuhan, bukan? Bisakah kau memberikan kesaksian di depan media dan pengadilan?”


Tiba-tiba terlihat beberapa orang mengepung mereka. Tae Sub berteriak, “Apa ini? Siapa kalian?!”


Detektif Goo dan yang lainnya terkejut. Karena merasa ada yang tidak beres, mereka langsung melepaskan headphone-nya dan berlari menuju lokasi Tae Sub.


Ki Seo dan Tae Sub berusaha melawan orang-orang yang membawa tongkat besi itu. Ki Seo berlari dan berusaha menyelamatkan dirinya. Tae Sub juga berusaha menyelamatkan dirinya sambil terus berusaha melawan mereka.


Joon Seo dan timnya berlari menuju ke lokasi Tae Sub.


Detektif Goo berhenti berlari dan merasa ketakutan.


Saat bersembunyi bersama, Ki Seo melihat alat komunikasi di telinga Tae Sub. “Apa ini?” tanya Ki Seo. Tae Sub terkejut ketika Ki Seo melepaskan alat komunikasinya. “Perintah siapa yang kau terima?” tanya Ki Seo lagi. Ia kemudian memakai alat komunikasi itu dan bertanya, “Siapa kau?! Siapa kau ini?!”


Joon Seo melihat mereka berdua dan berteriak, “ Hyung! Berbahaya! Minggir!” Beberapa pria datang dari atas mobil dan bersiap memukul Ki Seo dan Tae Sub dengan tongkat besi. Mereka berdua berhasil menghindar. Tae Sub berkelahi lagi dengan mereka.


Joon Seo langsung melawan penjahat itu untuk menolong Ki Seo. Ia bahkan rela terluka demi menolong kakaknya. Setelah berhasil mengalahkan lawannya, Joon Seo menggandeng tangan kakaknya dan membawanya pergi.