Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Children of a Lesser God Episode 1 Part 2
Kim Dan bertanya apakah si supir taksi mendengar suara ribut-ribut semalam seperti suara teriakan. “Tidak tahu,” jawab si supir taksi sambil membersihkan taksinya. Kim Dan lalu menunjukkan foto So Yoon dan si supir melihatnya. 


“Entahlah,” jawab supir itu lagi. Mata kiri dan bibirnya bergerak secara reflek, sepertinya ia memiliki gangguan pada syarafnya. “Memangnya ada kejadian apa?” Kim Dan bilang ada gadis yang hilang.


Kim Dan mengingat jaket yang dipakai si pelaku dalam mimpinya dan jaket itu sama persis dengan jaket yang dipakai oleh supir taksi.


Kim Dan bertanya apakah supir taksi itu bekerja shift siang ataukah malam. “Ini taksi pribadi, bisa kerja kapan saja. Kadang siang, kadang malam,” jawab si supir taksi. Kim Dan bertanya apakah kemarin malam supir taksi itu bekerja. “Tidak.” Kim Dan lalu meminta diperlihatkan blackbox taksi itu dan supir taksi itu mengizinkan.


Supir taksi itu bilang ia akan menyalakan laptopnya dulu. Ia menutup pintu taksinya dan masuk ke dalam rumah. Dari dalam rumahnya, si supir taksi itu bersiul sambil memperhatikan Kim Dan yang sedang melihat-lihat bagian dalam mobilnya. Pria itu lalu keluar lagi dan mempersilakan Kim Dan masuk untuk melihat rekaman blackbox-nya.


Kim Dan masuk dan memperhatikan kamar si supir taksi. “Silakan dilihat,” kata supir taksi. Kim Dan mengiyakan, lalu duduk di depan laptop.


Rekaman itu hanya berjalan beberapa detik, lalu berhenti. Dari layar laptop yang gelap, Kim Dan menyadari bahwa supir taksi itu sedang memakai sarung tangan berwarna putih.


Kim Dan mengingat mimpinya yang memperlihatkan sepasang tangan bersarung tangan putih sedang menjerat leher korban dengan tali.


Dengan tenang, supir taksi itu memakai sarung tangannya dan berjalan mendekati Kim Dan tanpa suara. Kim Dan ketakutan dan diam-diam mengambil pulpen yang rencananya akan digunakan untuk melawan.


Tapi mereka berdua dikejutkan dengan suara pecahan kaca jendela.


“Ah, maaf aku tidak sopan. Kau Hang Sang Goo ahjushi? Mohon ikut aku ke kantor polisi,” kata Jae In. Supir taksi alias Sang Goo menanyakan alasannya. “Do Hoon!” panggil Jae In kepada rekannya yang berada di luar rumah.


“Di sini ada kabel,” kata Do Hoon. Jae In lalu memberitahu Sang Goo bahwa dia adalah tersangka utama pembunuhan berantai di Hwanju.


Sang Goo terkejut.


Tapi Kim Dan malah merasa sangat lega. Jae In menyadari siapa Kim Dan dan melambaikan tangannya, tapi Kim Dan masih terlalu shock.


Setelah Sang Goo dibawa oleh mobil Polisi, Kim Dan menunjukkan foto So Yoon kepada Jae In. Jae In bilang tempat itu tidak masuk wilayah kantor polisi Kim Dan. “Aku merasa tempat ini menyeramkan dan intuisiku membawaku kemari,” kata Kim Dan. Jae In tidak percaya jika Kim Dan bisa kesana hanya berbekal foto itu. “Aku juga punya kemampuan menyelidiki!”


“Ap..apa? Kemampuan? Dengarkan dan jangan sedih. IQ-ku 167. 167. Aku menyelidiki kasus ini dan membutuhkan waktu 4 hari. Jadi bagaimana kau bisa...lebih cepat dariku?” kata Jae In. Kim Dan bilang Jae In tidak akan mempercayainya. “Apa kau memakai narkoba?”


Do Hoon lalu memanggil Jae In dan memberitahu kalau tim identifikasi sudah datang. “Kau... sampai nanti,” kata Jae In. Kim Dan menarik napas lega.


Jae In bilang ia hanya punya waktu 48 jam untuk menemukan buktinya atau dia harus membuat tersangka mengaku.


Ia juga bilang, jika mereka gagal maka monster itu harus mereka lepaskan lagi.


Sang Goo sudah berada di ruang interogasi dan waktu 48 jam dimulai. Ia ditanya apakah melihat So Yoon hari itu. “Tidak,” jawabnya.


Sang Goo dipasangkan alat deteksi kebohongan dan terus menjawab pertanyaan dengan tenang.


Di rumah Ho Ki bertanya darimana saja Kim Dan sampai tidak menjawab telepon darinya. “Aku lelah. Ngantuk sekali,” kata Kim Dan dan langsung berbaring di sofa. Ho Ki menyuruhnya cuci muka dan tidur di kamarnya sendiri. “Sebentar saja.”


Ho Ki akhirnya duduk di dekat Kim Dan. “Ayah... Aku ‘melihat’ lagi,” kata Kim Dan. Ho Ki ikut sedih. “Melihatnya lagi. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ayah, kalau aku menghilang apa yang akan ayah lakukan?”


Ho Ki bilang ia akan mati. Kim Dan berkata bahwa ayah gadis itu juga merasakan hal yang sama, tidak bisa tidur dan terus menunggu.


Kim Dan membalikkan tubuhnya dan berkata, “Aku tak berguna. Tak berguna.” Ho Ki menyelimuti Kim Dan dan membiarkannya tidur di sofa. Ho Ki menepuk-nepuk tubuh putrinya sambil berkata kalau putrinya pasti merasa sangat lelah.


Adik Jae In tampak serius di depan laptopnya.


Ia kemudian melihat artikel koran lama berjudul ‘Rela Memberi Kompensasi 50 Juta Won’. Sepertinya foto yang terlihat disana adalah foto Kim Dan kecil.


Keesokan harinya, Do Hoon mengeluh karena mereka tidak menemukan bukti apapun dan Sang Goo bisa lolos dari detektor kebohongan. Blackbox tidak bisa dibuka dan kabel yang ditemukan bersih dan katanya dibeli untuk memperbaiki.


Jae In: “Sidik jari di mobil?”
Do Hoon: “Tidak ada. Yang benar saja. Dia berkendara tiap hari dan makan di mobil. Sidik jarinya sendiri bahkan tak ada.”
Jae In: “Dia profesional.”


Jae In lalu masuk dan memberikan kopi kepada Sang Goo, lalu duduk di hadapannya.


Do Hoon dan beberapa Polisi lain mengawasi dari ruang kontrol.


Jae In meminum kopinya sambil terus menatap Sang Goo. Sang Goo kemudian berkata bahwa ia sudah bicara pada detektif lain dan ia tidak bersalah, tapi malah ditahan disana. Jae In menyuruhnya santai saja karena mereka pernah bertemu sebelumnya. Jae In malah menanyakan hobi Sang Goo.


Sang Goo: “Hobi... tidak punya. Hanya menonton film di rumah.”
Jae In: “Kudengar kau suka kartun. Kau suka apa? Aku suka Toy Story 3.”
Sang Goo: “Suka semua.”


Jae In bertanya apa warna kesukaan Sang Goo. “Hijau.. tapi kenapa tanya itu?” kata Sang Goo. Jae In bertanya tipe wanita idaman Sang Goo. “Ini apa maksudnya?” Jae In bilang ia hanya ingin tahu banyak tentang Sang Goo dan meminta Sang Goo agar menganggapnya sebagai teman.


Jae In malah memakai lipbalm dan membuat semua orang di ruang kontrol heboh. Do Hoon bilang Jae In hanya ingin mengorek informasi dari Sang Goo.


Do Hoon bilang kalau Jae In mengatakan padanya bahwa ia akan menemukan tombol yang menghancurkan keseimbangan tersangka.


Jae In bertanya apa hal baik yang Sang Goo lakukan terakhir kali. Sang Goo bercerita kalau dia menemukan kucing yang tertabrak mobil, lalu membawanya ke rumah sakit hewan. Jae In bertanya apa yang Sang Goo lakukan kemarin.


Sang Goo: “Bekerja, membersihkan rumah, mencuci mobil.”
Jae In: “Kau sangat bersih.”
Sang Goo: “Aku senang melihat semuanya bersih.”
Jae In: “Pantas saja bajumu sangat rapi. Kau setrika sendiri?”


Jae In lalu menumpahkan kopi ke baju Sang Goo. Ia meminta maaf dan membantu membersihkannya. Ia juga memberikan sapu tangannya pada Sang Goo untuk membersihkan noda kopinya.


Kepala Sang Goo bergerak secara reflek lagi dan Jae In menyadarinya. Jae In lalu memegang lengan Sang Goo dan bertanya, “Kapan tanganmu terluka? Sepertinya tulang lenganmu pernah patah dan banyak sekali.” Sang Goo terkejut. “Apa kena pukul? Siapa yang melakukannya?”


Mulut dan mata kiri bergerak lagi dan ia bilang tidak ingat. 


Di ruang kontrol, Do Hoon berkata, “Dari data pribadi, dia tidak punya keluarga. Pernah diadopsi 2 kali, namun ditelantarkan. Sejak itu, sudah 3 sampai 4 kali pindah panti asuhan.” Mereka mendengar Sang Goo berkata kalau dia adalah manusia samsak.


“Pasti sakit sekali. Siapa yang melakukannya? Kau tak mau mengatakannya?” tanya Jae In ramah. Kepala Sang Goo bergetar semakin sering dan cepat. “Pikirkan baik-baik. Kau ingat?” Tapi Sang Goo tetap bilang kalau ia tidak tahu.


Sang Goo mengingat saat ia masih kecil dan dipukuli.


Sang Goo mengingat dirinya yang dengan tubuh penuh luka dan menangis sendirian di sudut ruangan.


Sang Goo: “Aku.. aku mau pulang ke rumah. Aku mau pulang.”
Jae In: “Di Finding Nemo, ada kata bijak. Jangan tutup matamu, karena dengan begitu perbedaan ketakutan dan imajinasi akan bisa kau lihat dengan jelas. Siapa orang itu?”
Sang Goo: “Siapapun di luar, tolong bawa orang ini keluar! Bawa dia keluar!”


Sang Goo menunjukkan foto So Yoon dan menanyakan keberadaannya. “Kalau kukatakan yang sebenarnya, sungguh kau akan membiarkanku pergi?” tanya Sang Goo. Jae In tersenyum dan mengangguk.


Suasana di ruang kontrol sangat tegang.


“Ku.. kubunuh wanita-wanita itu,” kata Sang Goo yang membuat senyum Jae In menghilang. “Kau menunggu kata-kata itu? Bukan aku. Tak semua anak yang masa kecilnya kurang beruntung menjadi kriminal. Kurasa.. hanya prasangkamu. Dunia ini terus berputar.” Kemudian, suara Sang Goo tidak lagi gugup. Dia berkata bahwa seharusnya Jae In mencari bukti terlebih dulu.


Jae In lalu melepas paksa sepatu Sang Goo. Ia merasa aneh karena sepatu itu sangat kotor untuk ukuran orang yang suka kebersihan. Ia merasa Sang Goo punya hobi lain selain menonton film.


Jae In lalu memberikan sepatu itu kepada Do Hoon untuk diperiksa. Ia berharap bisa menemukan petunjuk tentang tubuh So Yoon dari sepatu itu.


Polisi lain keluar dari ruang kontrol dan ingin mengajak Jae In bicara. Tapi Jae In menyibukkan diri dengan membaca laporan dan pergi tanpa menghiraukan mereka. “Hei, Jae In. Hei, Chun Jae in.”