Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Grand Prince Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Grand Prince Episode 2 Part 3

Na Gyeom sedang minum teh bersama dengan putri. Putri  menilai kalo Na Gyeom nggak sabaran. Kalo dia mau menunggu sedikit lebih lama, maka dia bisa menjadi ratu dan bukannya tuan putri. Ini adalah posisi yang ia perjuangkan dengan kakaknya. Bukankah lebih baik menjadi istri raja daripada istri pangeran? Nagyeom hanya tersenyum dan nggak bilang apa-apa.   Putri melanjutkan, mereka mungkin akan segera mengumumkannya. Na Gyeom membalas, kalo putri tertarik, kenapa dia nggak mencobanya sendiri? Putri  meletakkan cangkirnya. Dia nggak ingin menjadi istri kedua. Na Gyeom bertanya, meskipun dia bisa jadi ratu?   Putri mengatakan kalo bukankah raja sedang sakit sejak dia masih menjadi putera mahkota? Na Gyeom tertawa kecil, dan putri pikir itu hal yang sia-sia karena Na Gyeom nggak akan menikah dengan raja yang sakit?   Putri menuang teh lagi kedalam cangkirnya. Ia mengatakan kalo keadaan Na Gyeom berbeda dengannya. Ia ingin menikahi seseorang yang tampan tapi Na Gyeom menginginkan sesuatu yang berbeda, kan? Na Gyeom menunduk. Dia mengaku nggak tertarik dengan raja. Putri  bertanya apa Na Gyeom puas hanya dengan mendapatkan pangeran? Na Gyeom memberitahu kalo saat bertemu dengan seorang pria, masa depan lebih penting daripada keadaan saat ini (setuju!)   Putri menanyakan jadi Na Gyeom melihat potensi dalam diri pangeran? Na Gyeom diam mengiyakan. 


Putri  bertanya apa Na Gyeom yakin kalo dia (pangeran) sehat nggak seperti raja? Na Gyeom mengatakan ada rumor kalo dia bisa membunuh seekor harimau dengan tangan kosong. Sebagian rumor terlalu di besar-besarkan. Na Gyeom meminum tehnya saat putri mengatakan kalo Na Gyeom bahkan sudah memeriksa latar belakangnya. Na Gyeom menatap putri lalu tersenyum.


Kang sedang berburu bersama dengan paman. Mereka dibantu oleh beberapa ekor anjing dan beberapa pengawal yang mengikuti di belakang. Sasaran mereka adalah seekor babi hutan. Kang mengambil anak panah dan menarik busurnya mengincar babi itu. Meski memanah sambil menunggang kuda, tak membuat anak panah Kang meleset. Panah Kang menancap tepat mengenai punggung si babi. 


Kang, paman dan para pengawal menghampiri babi yang udah mati itu. Paman memuji keterampilan Kang yang meningkat pesat. Keterampilan panahannya tak tertandingi. Kang dan paman tersenyum sambil melihat babi itu. 


Sementara itu di istana, para petinggi dan para menteri sedang berkumpul di hadapan raja. Mereka membahas mengenai raja yang nggak memiliki istri. Menteri kiri berpendapat kalo Raja masih muda. Sekarang waktu berkabung telah berakhir dia hanya butuh ratu lain untuk melahirkan anak laki-laki. Menteri Kanan mengatakan kalo yang mulia sudah menjadi raja selama 3 tahun tapi beliau sudah menjadi putera mahkota selama 20 tahun. Raja sudah lama menikah tapi belum memiliki anak laki-laki. Sekarang raja bahkan nggak punya istri. Mereka membutuhkan putera mahkota untuk memperkuat bangsa. 


Menteri kiri nggak sependapat. Apa yang di sampaikan oleh perwakilan menteri kanan bisa dianggap sebagai penghianatan. Menteri kanan yang tadi tersinggung. Dia pasti lebih tahu itu selaku menteri kerajaan yang terhormat. Kesetiaan nggak di tunjukkan dengan kata-kata aja. Orang-orang barbar menyerang dari penjarah utara dan Jepang dari selatan. Mereka perlu meletakkan fondasi yang kuat bagi bangsa di tengah kekacauan ini. 


Menteri kiri marah. Omong kosong apa yang mereka bicarakan? Menteri yang lain mengatakan kalo ada hal paling mendesak yang harus diatasi terlebih dahulu. Mereka memang membutuhlan fondasi yang kuat. Tapi ratu adalah prioritas mereka sekarang. 


Raja meminta agar mereka jangan bertengkar. Kenteri kanan dan kiri memiliki pemikiran yang berbeda. Itu semua demi bangsa ini. Tapi baru saja mereka menyelesaikan acara pemakaman, raja mengatakan akan berdiskusi tentang ratu baru dengan ibu suri. Raja meminta tolong agar mereka memberitahu para bangsawan. Salah satu dari menteri kiri menyampaikan kalo mereka semua sadar bahwa raja berbakti pada mantan raja. Pernikahan itu nggak bersifat pribadi, tapi urusan ketajaan. Ini adalah masalah yang mendesak jadi ia menyarankan untuk segera mencari ratu baru. Raja memotong. Ia mengaku mengerti dan akan membahasnya dengan ibu suri. Menteri kanan tersenyum sementara menteri kiri tampak kecewa. 


Rapat telah selesai. Menteri kanan dan menteri kiri menibggalkan ruangan. Dua orang dari menteri kanan melihat para menteri kiri yang berjalan di depan mereka. Mereka berpendapat kalo menteri kiri sedang berusaha keras untuk menjadikan putrinya sendiri sebagai ratu. Rekan menteri kanan memperkirakan kalo hal itu nggak akan berjalan sesuai keinginannya. Nggak ada gunanya bagi selir sakit-sakitan itu. Ibu suri nggak akan senang dengan menantu perempuan yang sakit-sakitan. Entah dia mengambil seorang gadis atau selir, tapi sebelum itu, mereka harus memutuskan pencalonan putera mahkota. 


Sementara itu, para menteri kiri menanyakan apakah kesehatan permaisuri Hyo membaik? Menteri yang di tengah mengiyakan. Ia akan segera kembali ke istana. Mereka bersyukur. Permaisuri Hyo harus segera kembali untuk membantu yang mulia. Itu benar. Tapi meski udah pulih, dia harus tetap berhati-hati. Menteri yang paling tua meminta tolong agar memberitahu ibu suri Shim agar nggak khawatir. 


Para pelayan sedang menata tempat tidur. Ibu suri Shim dan dayangnya datang memeriksa. Ibu suri bertanya bagaimana dengan yang ada disana? Dayang mengatakan mereka berusaha yang terbaik untuk melindungi garis keturunan kerajaan. Ibu suri mengatakan kalo ia menyerahkan semuanya kepada dayang. Dia harus kembali ke istana diam-diam sebelum melahirkan. Dayang mengangguk mengerti. 


Dayang ibu suri keluar dari istana dengan di tandu. Bersamaan dengan itu Hwi yang dari jalan-jalan pulang kembali ke istana. Gi Teuk memperlihatkan kartu masuk sehingga mereka langsung di ijinkan untuk masuk. 


Baru aja memasuki istana, Hwi udah di sambut sama ibu suri. Ibu suri marah mengatakan kalo pemakaman kerajaan hampir selesai. Apa Hwi menyelinap keluar dari istana? Hwi meminta maaf. Dia hanya ingin membeli Sim Jung Cheong. Ibu suri menegaskan kalo Hwi bukanlah pelukis dari biro. Dia seorang pangeran. Hwi melewatkan pelajaran untuk sesuatu yang bisa dilakukan pelayan? Hwi dan Gi Teuk hanya terdiam merasa bersalah. 


Di hutan, babi yang di panah Kang udah jadi babi panggang. Paman memotong babi itu sedikit lalu memberikannya pada Kang. Paman nyuruh Kang untuk memakannya. Kang mungkin nggak diijinkan untuk melihat daging saat berkabung. Tanpa ragu Kang langsung menyantapnya. Paman memperkirakan pasti ada pembicaraan tentang pencalonan putera mahkota di istana saat ini. Pemakaman telah berakhir sehingga mereka perlahan akan mulai menekan mereka. Kang mengatakan kalo mertuanya akan memcantunya tapi mereka nggak punya kekuatan dan jabatan. Paman memberitahu kalo itu adalah pernikahan yang diatur oleh mendiang raja. Apa yang bisa Kang lakukan? Paman nyuruh Kang menerimanya dan Kang dapat membuka jalan untuk memperkuat keluarga mertuanya. Anak mereka , Jajun, akan menjadi ramu di rumah kita. Bagi Kang dia akan menjadi kakak iparnya. Tanpa keturunan kerajaan, yang akan menduduki tahta adalah Kang. Paman mrminta Kang agar jangan khawatir. Paman mengatakan jalan Kang akan lancar kalo dia memiliki ratu. Paman melanjutkan mereka akan melakukan gyeokgu besok. Raja meninggal dan bahkan ratu meninggal. Dengan pemakaman terus menerus, seluruh negeri akan berkabung. Pertandingan gyeokgu bagus untuk meningkatkan semangat orang-orang. Paman menuangkan minuman dan memberikannya pada Kang. Paman mengajak Kang bersulang. Mari mencoba menempatkan Kang dalam posisi terbaik. Kang tersenyum mendengar rencana paman. 


Beberapa biksu datang menghampiri Kang dan paman. Para biksu itu bertanya apa yang mereka lakukan? Berani-beraninya mereka membunuh di tempat suci Budha. Apa mereka nggak takut pada dewa? Paman malah tertawa mendengarnya. Dia memberitahu kalo keponakannya adalah raja dan adiknya adalah raja. Apa yang perlu ia takuti? Biksu membentak paman. Meskipun paman memiliki hubungan dengan keluargaan kerajaan, mereka nggak boleh melakukan tindakan keji seperti itu. Biksu mengusir Kang dan paman. 


Paman yang nggak takut sama sekali kembali tertawa. Paman malah menawari tuan Monk (biksu) untuk makan daging babinya. Para pengawal tertawa. Biksu marah mendengarnya. Ia akan menyingkirkan semua iblis seperti mereka hari ini. Kepala biksu mengambil sapu dan menghampiri Kang dan juga paman. Tapi para biksu yang lain malah menghalanginya. Mereka memegangi kepala biksu dan membawanya menjauhi Kang dan paman. Kepala biksu marah minta di lepaskan. Mereka harusnya menangkap mereka dan bukannya dirinya. Paman dan Kang tertawa. 


Gi Teuk menerima hukuman karena keluar bersama dengan Hwi. Dia harus rela kakinya di pukul di saksikan oleh ibu suri dan beberapa pelayan. Ibu suri menyuruh agar Gi Teuk di pukul lebih keras. Duh, kasihan, deh. Para pelayan aja sampai nggak tega melihatnya. Ibu suri bertanya apa Gi Teuk nggak tahu seberapa buruk dia sudah melayani pangeran? Hwi yang nggak tega lalu menghampiri Gi Teuk dan melindungi kakinya. Ibu suri bertanya apa yang Hwi lakukan? Ia nyuruh Hwi minggir. Gi Teuk turun dan bersujud. Hwi mengatakan kalo Gi Teuk nggak bersalah. Ibu suri menegaskan kalo hukuman atas kesalahan kerajaan akan di lakukan terhadap anak buahnya. Hwi yang juga udah berlutut mengatakan kalo itu nggak adil. Ia lah yang bersalah. Kenapa ibu suri menyalahkan Gi Teuk untuk hal itu? Ibu suri yang teramat kesal berbalik dan pergi. 


Hwi menemui ibu suri di kamarnya. Ibu suri bertanya kenapa Hwi srlalu membolos? Hwi pasti sudah tahu kalo mendiang raja menginginkannya agar dia nggak membolos. Dengan tenangnya Hwi mengatakan kalo dia belajar dengan giat maka dia akan di curigai sebagai orang yang licik. Tapi kalo enggak, ia akan jadi lelucon. Hwi menanyakan apa sebenarnya yang harus dilakukan seorang pangeran? Ibu suri menghela nafas. Hwi kembali melanjutkan saat yang mulia masih menjadi putera mahkota, Hwi di pukul kareba ia ingin mrncoba jubah merah naga yang indah. Ia hanyalah anak kecil. Apa yang bisa ia ketahui. Alasan apa lagi yang bisa ia miliki? Semua orang dewasa itu selalu menafsirkan sesuatu. Hanya karena yang mulia lemah karena penyakitnya, banyak tekanan yang dilimpahkan pada pangeran. Hwi yakin ibu suri pasti sudah mengetahui semua itu. Ibu suri menghela nafas sekali lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. 


Kang dan pengawalnya memberikan banyak uang kepada biksu. Para biksu itu ragu-ragu menerimanya. Kang meraih tangan biksu itu dan menyerahkan uangnya. Kuil Budha dalam keadaan rusak.  Mereka harus melakukan penawaran. Saat kemarahan kepada biarawan mereda, Kang ingin membuat penawaran untuk membangun tempat tinggal bagi para biarawan. Para biksu berterima kasih pada Kang lalu pergi. Kang tersenyum atas kemenangannya. 


Kang memberitahu pengawalnya kalo merela nggak akan bisa menghentikan penyebaran berita. Itulah yang paman harapkan. Kang bertanya pada pengawalnya  apakah dia berhasil membeli harimau? Oengawal mengatakan kalo para pemburu harimau tertangkap setelah mengintai selama dua minggu. Kang tersenyum mendengarnya. 


Ibu suri mengatakan meski Hwi nggak mau, Hwi harus meninggalkan istana setelah ia menikah. Keluarga kerajaan dalam keadaan buruk sekarang. Hwi dan kakaknya harus bersikap baik dan menahan diri. Hwi hanya diam. Ibu suri bertanya apa Hwi mengerti? Hwi mengatakan karena nggak ada ratu, ia yakin mereka akan mulai mencarinya. Ibu suri menghela nafas. Sebenarnya ada permausuri yang mengandung anak raja. Hwi terkejut dan bertanya siapa itu? Kenapa ibu suri nggak memberitahunya? Ibu suri ngasih tahu kalo dia adalah permaisuri Hyo yang sangat subur. Raja nggak mengatakan apa-apa karena dalam suasana berkabung. Ibu suri takut kalo itu akan jadi masalah lain jadi saat ratu meninggal saat melahirkan ibu suri sudah mengirimnya ke tempat dimana dia bisa memulihkan kesehatannya. Hwi tersenyum dan mengatakan kalo itu adalah kabar baik. Ibu suri berkata kalo ini semua akan tetap menjadi rahasia. Ibu suri mengaku masih nggak tenang dengan hal itu. Pernikahan raja akan di tunda dan pernikahan Jinyang akan di lakukan lebih dulu. Kalo gitu Hwi meminta tolong agar dibiarkan memilih mempelai wanitanya sendiri. Hwi menatap ibu suri penuh harap. Ibu suri memberitahu kalo pernikahan kerajaan bulanlah sesuatu yang busa ia putuskan sendiri. Hwi mengatakan kalo ia bahkan nggak bisa ikut camput masalah politik atau membuat dunia jadi lebih baik. Inilah nasibnya sebagai pangeran. Hwi meminta tolong agar seenggaknya di ijinkan untuk menemukan seseorang yang ia cintai. Ibu suri berpikir sejenak. 


Ja Hyeon kembali dari pasar. Kkeutdan terkejut melihat ada banyak sepatu di luar. Ternyata di kamar Ja Hyeon ada ibu dan beberapa temannya. Mereka terkejut melihat Ja Hyeon begitupun sebaliknya. Ja Hyeon bertanya apa yang mereka lakukan di kamarnya? Para teman ibu segera memakai pakaiannnya kembali. Mereka sudah bersenang-senang hari ini. Sekali lagi Ja Hyeon bertanya apa yang mereka lakukan di kamarnya. Ibu bertanya apa lagi yang bisa ia lakukan? Tentu saja bersosialisasi. Ja Hyeon menanyakan kenapa nggak di ruang utama? Kenapa mesti di kamarnya? Emangnya kenapa? Ibu mengatakan tentu saja untuk bersembunyi dari orang-orang di rumah ini. Ibu melarang teman-temannya untuk pergi dan nyuruh mereka untuk duduk lagi. Mereka kan belum selesai. Putrinya baik, kok. Jangan khawatir. 


Ja Hyeon hanya bisa menghela nafas melihat tingkah ibunya. Ia memberitahu kalo ayah akan segera pulang. Teman-teman ibu makin takut dan pada bubar. Ibu bangkit dan memanggil mereka untuk menyelesaikan permainan itu srbelum pergi. Ia hampir aja menang. Ja Hyeon menegur ibunya agar berpakaian. Ibu membanting kartunya kesal.

Bersambung...

Komentar : 
Selalu aja sebel kalo lihat paman sama Kang. Kang juga nurut banget sama pamannya. Walaupun udah gede tapi masih belum bisa membedakan baik dan buruk. Nggak sopan  banget sama biksu. Dikiranya semua bisa di selesaikan pakai uang. 
Tapi jadi ketawa-ketawa di akhir lihat tingkahnya ibu Ka Hyeon. Hadeuh... tepok jidad.