Advertisement
Advertisement
SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 BBAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: SET TV

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 3 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS The Perfect Match Episode 4 Part 2

Tingen nyuruh Fenqing naik ke punggungnya.  Ia akan menggendongnya. Fenqing merasa Tingen nggak perlu melakukannya. Ia baik-baik aja. Hanya sepatunya aja yang rusak. Ia baik-baik aja. Dia merasa masih bisa berjalan. Tingen mengingatkan bukankah tadi pagi dia mengatakan ini? Bahwa nggak peduli apa yang akan terjadi, itu nggak bener meninggalkan teman.meski merasa nggak nyaman tapi Fenqing mengikuti perintah Tingen. Tingen bangkit dengan susah payah. Fenqing ragu Tingen bisa melakukannya dengan benar. Tingen nyuruh Fenqing memegang payungnya dengan benar. Dia jadi basah. Fenqing meminta maaf. 


Mereka udah berjalan cukup jauh. Fenqqing merasa berjalan seperti ini bulanlah solusinya. Tingen ngasih tahu kalo ada paviliun di sebelah sana. Mereka akan kesana dan beristirahat sebentar. 


Tingen melipat payungnya dan duduk. Ia tampak kelelahan. Lalu Fenqing mendemgar suara motor. Ia nanya ke Tingen apalah mendengarnya juga? Fenqing bangkit dan melihatnya. Ia menghampiri motor itu dan melambaikan tangan. Rupanya itu adalah Ah Wei. Fenqing senang bukan main. Saking  senangnya ia sampai memeluknya. Tingen yang menyaksikannya hanya diam. 


Ah Wei membantu Fenqing berjalan. Ia menghentikan Fenqing dan bertanya ada apa dengan kakinya? Ia menduga Hui Tingen telah menganiayanya. Fenqing bilang kalo dia baik-baik aja. Ia nanya kenapa Ah Wei ada disini? Ah Wei bilang nggak papa. Ia hanya berpikir kalo mungkin Fenqing akan kesulitan mencari jalan di gunung. Ia takut Fenqing akan tersesat, makanya ia mencarinya. Fenqing tersenyum dan menepuk lengan Ah Wei. Ia benar-benar temannya yang baik. Saat Fenqing sedang ada masalah, ia selalu muncul. Ah Wei membenarkan. Itu di sebut "hati terikat menjadi satu". Ah Wei mengatakannya sambil melihat Tingen seolah ingin menyindirnya. 


Fenqing membenarkan. Ia melihat Tingen. Ia nyuruh Ah Wei untuk membawa Tingen turun dari gunung dan mengantar telur itu ke restoran. Membawanya turyn gunung? Kenapa? Ah Wei menolak. Dia nggak mau. Fenqing menjelaskan kalo Huo Tingen adalah kepala koki restoran dan mereka mempunyai tamu terhormat malam ini. Dia nggak boleh nggak hadir. Ah Wei masih mau membantah, tapi... bukannya Fenqing bilang akan mengikuti kompetisi malam ini? Ia juga bilang kalo itu sangat penting baginya. Fenqing mengatakan kalo tanpa kepala koki, gimana ia bisa bertanding? 


Ah Wei melihat Tingen dan akhirnya setuju. Ia berjalan menghampiri Tinhen. Ia bicara padanya kalo dia nggak menyukainya. Demi impian Fenqing, ia memberikan kunci motornya dan memintanya membawa pulang Fenqing. Tingen menerimanya dan berterima kasih. Meskipun mereka baru aja membicarakan omong kosong, tapi ia memuji kalo ini adalah rencana yang terbaik. Restoran punya tamu terhormat malam ini jadi ia harus kembali. Ah Wei mengkhawatirkan pertandingannya tapi dia juga harus kembali karena dia adalah jurinya. Karena Ah Wei benar-benar ingin menjadi orang yang baik, maka Tingen harus merepotkannya dengan memberikan kunci motornya padanya dan Tingen memberikan payungnya. Ah Wei nggak perlu mengembalikannya. Tingen berjalan melewati Ah Wei. 


Nggak lama kemudian Tingen dan  Fenqing udah sampai di restoran dengan selamat bersama dengan telur Lingzhi. Tingen dan Fenqing meletakkannya dengan saangat hati-hati. Xiao Bin yang merasa terhari sampai bertepuk tangan. Mereka akhirnya bisa menemukan telur itu. Ia udah berkali-kali mengganti celana dalamnya. Apa mereka tahu itu? Brian menegur Xiao Bin, prestasi apa itu? Ia memarahi Fenqing yang memecahkan telur-telur itu. Ia hanya membersihkan kekacauannya. Di tambah...dia membuat kepala koki pergi mencari telur bersamanya. Bukankah itu sangat keterlaluan? Fenqing menggenggam jari telunjuk Brian, bukan dia yang memecahkannya. 


Xiao Bin menatap Brian. Lihat, kan? Kalo dia nggak punya bukti, maka jangan menyalahkan orang lain. Dan tutup aja mulutnya. Tingen menegur semua orang agar beehenti berdebat. Ia nggak ingin tahu siapa yang memecahkan telur-telur itu. Yang penting adalah mereka udah memiliki telur itu sekarang. Ia menginstruksikan Brian untuk mrmindahkan telur dari kardus ke kotak yang lebih tahan lama. Jangan sampai telur itu pecah lagi. Tingen nyuruh Fenqing untuk mengganti pakaiannya  ia udah bekerja keras. Tingen meninggalkan mereka. Xiao Bin juga memuji Tingen yang udah bekerja keras. 


Xiao Bin menepuk tangannya dan mengatakan pada semua koki kalo kesenangan selalu berakhir dalam sekejab. Yang paling penting adalah mereka semua mulai mempersiapkan diri untuk kompetisi flambè, karena itu akan segera di mulai. Yang paling penting adalah pemenang dapat melakukan layanan meja di restoran. Tapi bukan itu yang penting. Fenqing nanya lalu apa yang paling penting? Yang penting adalah mereka bisa menikmati makan malam dengan idola mereka dan mempelajari keterampilan kuliner. Meskipun Xiao Bin ingin ikut. Ia ingat waktu itu kepala koki membawa semua orang untuk makan makanan yang harganya lebih dari NT$80,000. Koki-koki lainnya mulai mempersiapkan flambè-nya. Fenqing panik dan segera berganti pakaian. 


Fenqing udah berganti pakaian. Ia melepaskan sepatunya dan memijat kakinya. Tingen datang dengan membawa sepasang sepatu. Ia nyuruh Fenqing untuk mencoba sepatu itu. Fenqing heran. Kenapa Tongen punya sepasang sepatu wanita? Tingen menjelaskan kalo anggota staf yang dulu meninggalkan itu. Fenqing mencobanya dan pas. Sempurna. Itu adalah ukurannya. Tingen bangkit dan meninggalkan Fenqing. Fenqing diam-diam tersenyum dan berterima kasih. 


Kompetisi di mulai. Tingen mencicipi sajian itu satu persatu. Fenqing ada di barisan paling akhir. Fenqing berdebar-debar menantikan hasilnya. Setelah selesai, Tingen nyuruh Brian dan Xiao Bin untuk mencicipinya juga. 


Menurut Tingen, sejauh ini ada dua piring yang terbaik. Terlepas dari buah, sirup, atau bahkan wine, mempunyai kombinasi yang baik. Bisa dikatakan kalo mereka seimbang. Xiao Bin menambahi kalo keduanya nggak tertandingi. Brian membenarkan. Rasanya seperti ia nggak bisa menahan untuk berpisah dengan rasanya. Xiao Bin protes, apa sih yang Brian bicarakan? Kalo dia nggak tahu apa yang ia bicarakan... Brian memotong, kan Xiao Bin yang nyuruh dia bicara... Tingen menotong pembicaraan mereka. Menurutnya yang terbaik adalah....(jeng...jeng...jeng...) Tingen melihat Fenqing dan juga koki yang lainnya.


Ah Wei menuruni gunung dengan berjalan kaki dan berbekal sebuah payung dari Tingen. Ia teringat Fenqing dan menyebut namanya. Hal yang paling ia benci adalah, melihatnya pergi menggenggam tangan orang lain. Tapi ia tahu, itu adalah mimpinya. Ia juga menyadari bahwa hanya Huo Tingen yang dapat membantunya sekarang. Jadi, meskipun ini sangat menyakitkan, ia akan membiarkan Fenqing pergi dengan Tingen. Tapi Ah Wei percaya, nggak peduli siapa yang berada di samping Fenqing sekarang, yang berjalan dengannya sampai akhir udah pasti Ah Wei. 


Fenqing sendiri sedang menyajikan flambè-nya pada tamu. Para tamu tampak menyukainya dan hal itu membuat Fenqing senang. Tingen melihatnya dari pintu dapur dan diam-diam tersenyum.


Tingen bertanya pada Xiao Bin, bagaimana pendapatnya tentang apa yang dilakukan Fenqing hari ini? Xiao Bin jujur mengatakan kalo Fenqing cukup bekerja keras. Sepertinya dia punya banyak keahlian. Tingen setuju. Dia juga berpikir begitu. Baguslah. Ia nyuruh Xiao Bin keluar sebentar lagi dan memberitahu Fenqing kalo Tingen berencana membawanya ke pesta jamuan anggur saat ini. Xiao Bin tersenyum meremehkan. Tingen banyak bicara ternyata ia udah lama merencanakan hal ini dan dia masih aja... Tingen berusaha ngelak, apa yang ia rencanakan? Tingen melarang Xiao Bin membicarakan tentang wajah ini dan wajah itu. Itu karena pengetahuannya tentang anggur nggak memuaskan. Xiao Bin meledek, oh!!! Tingen kembali melanjutkan, jadi dia ingin Fenqing menambah wawasan anggurnya di pesta itu. Yang terpenting adalah, ia nggak ingin insiden mawar terjadi lagi. Xiao Bin yang nggak ngeh, nanya unsiden mawar? Tingen mengingatkan Xiao Bin tentang kedatangan Meng Ruxi hari ini. Itu karena adiknya mengirimkan bunga atas namanya. Tingen merasa itu pasti keputusan ibunya. Ia merasa kalo nggak menemukan pasangan dengan cepat, ia pikir ibunya pasti sedang memikirkan sesuatu dan menyuruhnya untuk bersama dengan Ruxi. Xiao Bin memotong, kalo dia tentu akan memilih Meng Ruxi. Menurut Xiao Bin dia seksi dan memiliki badan yang indah. Tingen menatap Xiao Bin. Itu kalo Xiao Bin, kalo Tingen enggak. Xiao Bin berpendapat kalo Ruxi lebih baik dari pada Fenqing. Dia adalah kritikus makanan dan sangat terkenal. Dia lebih pantas jadi pasangan Tingen. Tingen bertanya mereka ada di zaman apa? Apa mereka masih melakukan kencan buta? Jelas-jelas ini bertentangan dengan... Tingen bahkan nggak mampu menjelaskan maksudnya. Xiao Bin mencoba menerka apa yang hendak di katakan oleh Tingen, tubuh manusia? Tingen berkata bukan. Maksudnya itu bertentangan dengan kebebasan untuk mencintai. Itu bertentangan dengan kebebasannya dan Ruxi juga. Menurut Tingen itu nggak adil. 


Xiao Bin tiba-tiba melotot melihat ke satu arah. Tingen melihat arah mata Xiao Bin. Mereka sama-sama terkejut dan salibg berangkulan. Ternyata yang datang adalah Ruxi. Tingen bertanya, hari udah larut tapi Ruxi tiba-tiba datang. Ruxi mengaku datang untuk meminta bantuan Tingen. Tapi ia nggak bisa langsung ngasih tahu karena takut Tingen akan menolaknya. Xiao Bin pamit. Ia akan membiarkan pria dan wanita berduaan. Ia akan membersihkan toilet. Membersihkan toilet? Xiao Bin nggak pernah melakukannya sebelumnya. Tingen berusaha meminta Xiao Bin untuk tinggal tapi Xiao Bin tetap pergi. 


Tingen tersenyum pada Ruxi dan menyapanya. Ia berterima kasih banyak karena Ruxi telah membantunya mencari telur hari ini. Kalo bukan karena Ruxi, mereka mungkin nggak Kan bisa membeli telur itu. Jadi  Tingen sangat berterima kasih. Ruxi bertanya kenapa Tingen nggak adil padanya? Ruxi berjalan mendekati Tingen dan hal itu membuat Tingen merasa nggak nyaman. Tingen nggak ngerti. Hanya ...nggak adi mengenai....kehendak persahabatan mereka. Ruxi mengangguk. Ia menyimpulkan itu adalah kehendak Tingen. Atau...ia? 


Ruxi terus mendekat. Tingen jadi tambah gugup. Tiba-tiba Fenqing datang mencari Tingen. Tingen merasa tertolong dan menghampirinya. Ada apa? Fenqing meminta maaf karena udah mengganggu. Ia lalu berbalik dan hendak pergi. Tingen menahannya. Karena ia udah ada disana jadi ia harus mengatakan sesuatu padanya. Tingen mempersilakan. Fenqing hanta ingin mengatakan kalo dia akan pulang duluan. Ia meminta maaf. Ia nggak makaud buat mengganggu mereka berdua. Fenqing mempersilakan mereka untuk nelanjutkannya. 


Fenqing pergi. Tingen berbalik dan menghadap Ruxi. Ia meminta maaf padanya. Ruxi nggak ngerti kenapa Tingen juga minta maaf? Tingen jadi menjawab ngawur, karena mereka semua meminta maaf. Ah, enggak, karena kesalah pahaman mereka bahwa ia dan Ruxi... jadi ia minta maaf. Ruxi malah menggoda Tingen, salah paham apa yang mereka maksud? Tingen tersenyum. Ruxi membalas senyuman itu. Hanya saja... kalo Tingen ingin mengatakan terima kasih padanda, ia minta pada Tongen untuk menemaninya ke suatu tempat. Sekarang? Ruxi membenarkan, sekarang.  


Ruxi mengajak Tingen pergi ke pasar malam. Ia ingin lihat apa yang sedang dibicarakan di internet bahwa ada Huo Tingen versi pasar malam. Tingen merasa nggak ada yang istimewa untuk dilihat, karena Ruxi sudah... Ruxi mengatakan kalo dia juga ingin makan burger kari udang mini. Mereka udah sampai di depa  tempat yang dimaksud tapi ada tulisan di meja kalo burger kari udang mini sedang istirahat. Ruxi sedikit kecewa. Sepertinya ini bulan kesempatan mereka. Tingen membenarkan. Mereka sedang istirahat. Tingen mengajaknya pergi. Nggak baik berdiri terlalu lama di suatu tempat. 


Fenqing sebenarnya sedang bersama Ah Wei menjual ayam goreng. Fenqing berterima kasih pada Ah Wei untuk hari ini. Kalo Ah Wei nggak naik gunung untuk mencarinya, dia dan  kepala koki  nggak akan bisa kembali sebelum restoran buka. Ah Wei merasa itu bukanlah apa-apa, kenapa berterima kasih? Fenqing bertanya apa ayamnya udah siap? Ah Wei rasa sudah. Fenqing memberikannya pada Ah Wang. Ia berharap Ah Wang mendapatkan hari yang baik dan bahagia. Ah Wang berterima kasih dan membalas semoga dari Fenqing bahagia juga. Ah Wei ngasih tahu Ah Wang kalo dia harus membayarnya. Ah Wang setuju. Ia nyuruh Ah Wei datang ketempatnya kalo Ah Wei ada waktu. Ah Wei melihat Tingen bersama Ruxi dan langsung sembunyi. Paman Rib bertanya apakah Fenqing masih punya beberapa hari sebelum pergi? Ia nyuruh Fenqing buat ngambil banyak foto saat di La Mure. Makin banyak makin baik. Lalu ia bisa meletakannya di kedai. Ah Wang menambahkan agar orang tahu bahwa Fenqing menerima pelatihan resmi. Gimana tentang itu?


Tingen langsung berbalik mendengar suara Fenqing. Ia berjalan menghampiru Fenqing dan teman-temannya. Paman Rib mengatakan kalo mereka bisa menggunakan nama Huo Tingen dan La Mere,... Fenqing membenarkan La Mure. Ya, mereka bisa menggunakan mereka untuk nenaikkan nilai pasar malam mereka. Nai Nai dan Zhen Zhen merasa nggak heran Fenqing berkorban untuk mengemis pada Huo Tingen. Itu agar menjadi lebih dekat dengan Huo Tingen. Ia sangat iri. Ia juga ingin dekat dengan Huo Tingen. Tapi untuk melihat wajahnya aja dia nggak bisa. Fenqing meminta mereka agar berhenti bercanda. Tiba-tiba Nai Nai berteriak histeris melihat Huo Tingen. Fenqing juga terkejut melihat Tingen bersama dengan Ruxi datang ke pasar malam. Ia bertanya gimana mereka datang kesana? Tingen sendiri nggak menggubrisnya dan lebih memilih bicara dengan teman-teman Fenqing. Terungkap sudah bahwa seperti inilah apa yang di pikirkan oleh orang pasar malam. Memanfaatkan orang lain untuk keuntungan mereka. Fenqing menyangkal kalo bukan itu maksud mereka. Tingen menatap Fenqing. Memang itulah yang mereka maksud. Tingen menunjuk paman    yang mengatakan untuk menggunakan La Mure untuk mendukung pasar malam. Ah Wang, mengambil banyak foto, bibi Yu.... Bibi Yu merasa nggak mengatakan apapun. Tingen menyimpulkan bahwa intinya adalah mereka semua nggak pernah berpikir tentang apa kekurangan mereka, dan hanya tahu tentang gimana memanfaatkan orang lain untuk mengambil jalan pintas. Tingen nyuruh Fenqing untuk memikirkannya dengan baik. Apakah ia ingin tetap berbaur dengan orang-orang itu? Fenqing hanya membuang waktunya. Fenqing protes. Kalo Tingen nggak memahami mereka ya jangan mengkritik. Mereka mungkin bukan apa-apa bagi Tingen. Tapi bagi Fenqing, mereka seperti saudara. 


Beberapa orang yang lagi lewat pada bergunjing mengatakan kalo Huo Tingen versi sipil lagi beradu argumen dengan Huo Tingen versi kaya. Mereka berencana mengambil foto. Ruxi baru mengetahui kalo Fenqing adalah Huo Tingen versi sipil. Tingen bertanya pada Fenqing bisa nggak dia berhenti mendahulukan orang lain selain dirinya sendiri? 


Tingen bertanya siapa mereka bagi Fenqing? Bukannya Fenqing bilang kalo dia punya mimpi? Bukankah Fenqing ingin jadi koki yang bagus? Fenqing mengiyakan. Ia memang ingin menjadi koki yang bagus. Tapi ia juga sudah mengatakan bahwa dia nggak akan mengabaikan rekan kerjanya. Kalo Tingen ingin ia memilih antara mimpi dan keluarga, ia akan memilih menyerah pada mimpinya untuk keluarganya. Tingen tersenyum mengejek. Menyerah pada mimpinya? Jadi apa yang ingin Fenqibg katakan adalah ia lebih suka menyerahkan kesempatan untuk bekerja di La Mure dan tinggal di pasar malam? Fenqing membenarkan. Kalo Tingen memaksanya untuk memilih. Tingen bertanya apa Fenqing tahu apa yang sedang ia bicarakan? Berapa banyak orang yang ingin bekerja di La Mure. Berapa banyak orang yang ingin belajar memasak darinya tapi ia tolak. 


Fenqing menatap Tingen dengan tatapan tajam. Apa Fenqing nggak menyadari beberapa hari terakhir ini? Segala sesuatu yang telah ia pelajari di La Mure? Mungkin sesuatu yang nggak pernah bisa ia pelajari sambil menghabiskan seluruh hidupnya di pasar malam yang buruk ini. Teman-teman Fenqing melihatnya dengan prihatin. Tingen melihat Fenqing sangat menyedihkan. Itu adalah pilihannya. Tingen melangkah meninggalkan Fenqing. 


Ruxi mengikuti Tingen. Ia melihat ke arah persembunyian Ah Wei sejenak seperti mengenalinya. Tapi sesaat kemudian dia menyusul Tingen kembali. 


Teman-teman Fenqing mengatakan kalo Tingen marah. Fenqing malah merasa kalo seharusnya dia yang marah. Apa mereka nggak mendengar gimana dia berlebihan? Dia berkata begitu tentang mereka. 


Tingen meminta maaf pada Ruxi. Ia harus melihatnya bertengkar dengan seseorang. Ruxi meminta Tingen agar nggak khawatir. Ia akan menemaninya. Tapi Ruxi merasa kalo Tingen terlalu berlebihan tadi. Tingen bertanya dia berlebihan? Ruxi membenarkan. Tingen membantah. Yang berlebigan adalah Fenqing. Fenqing yang nggak berpikir bahwa belajar adalah hal penting. Dan memilih menyerah gitu aja seperti yang ia katakan. Ruxi mengoreksi bahwa Fenqing nggak bilang begitu. Fenqing, gadis itu dari awal sampai akhir , nggak pernah mengatakan kalo dia akan menyerah. Dia nhgak mengatakan itu? Tanya Tingen. Ruxi mengulangi. Fenqing memang mrngatakan kalo Tingen membuatnya harus memilih, masalahnya adalah Tingen nggak bermaksud agar dia memilih menyerah belajar darinya atau dari keluarganya, kan? Tingen membenarkan. Dia memang nggak bermaksud begitu. Tapi pada akhirnya Tingen hanya mengatakan keputusannya sendiri. Ruxi nggak tahu apakah itu meminta fenqing untuk membuat pilihan apa enggak. Tingen terdiam. Ia merasa serius tentang dia membuat pilihan. Fenqing hanya harus berpikir tentang hal itu. Ia akan mengantar Ruxi pulang. 


Mereka beranjak pergi. Diam-diam Ah Wei keluar dari persembunyiannya. Ia menatap kepergian Tingen dan Ruxi.

Bersambung...

Komentar :
Hhhh... baru aja baikan udah beramtem lagi. Gimana ya... emang dua-duanya sama-sama keras dan nggak ada yang mau ngalah (saling nyalahin, iya)
Yang aneh disini malah Ah Wei. Kenapa dia mesti sembunyi pas lihat Ruxi?