Advertisement
Advertisement
SINOPSIS That Man Oh Soo Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Anysti
All images credit and content copyright: OCN
Supported by: oppasinopsis.com

LINK SINOPSIS || SINOPSIS That Man Oh Soo
Pagi datang. Jalanan mulai ramai dengan kendaraan. Lalu kita mendengar seorang pria bernarasi. 
"Layaknya cahaya dalam gelap, kotapun memimpikan cinta"
"Bagiku, cinta itu adalah ...hanya sebuah ilusi"
Seorang pria tengah menyetir. Lampu merah menyala. Seketika ia dan pengendara lainnya berhenti. Pria ini melihat iklan. Oh Soo: Orang pertama yang menemukan Al untuk membaca emosi manusia. Dan rupanya dia adalah Oh Soo, orang yang di maksud dalam iklan. Ia mendapat panggilan dari kakek. Tanpa ragu dia langsung menolak panggilannya. Nggak lama kemudian ada panggilan lagi. Kali ini dari CEO Nam. Oh Soo menerimanya. CEO langsung teriak-teriak. Ia ngasih tahu kalo dia dapat tawaran dari Amerika dan Jerman. Bagus deh. CEO nggak terima, reaksi apa itu? Ia nanya Oh Soo lagi di mana? Oh Soo bilang kalo dia ada janji ketemuan. Ia bakal nelpon lagi nanti. CEO Nam masih mau ngomong tapi malah langsung di putus sama Oh Soo. 


Oh Soo lalu melihat seorang pelajar menyeberang jalan sambil berlari karena sedang terburu-buru. Anehnya, dari tubuh siswa itu keluar warna. Begitupun dengan orang lain di sekitarnya. Emosi yang di sebut "cinta" memiliki warna. Yang ironis adalah kalo seseorang sepertinya yang nggak percaya cinta punya kekuatan buat melihat cinta. Seperti keajaiban. 


Sementara itu di tempat gym, seorang wanita sedang menarik beban. Ia menarik beban itu dengan tenang. Ia adalah Seo Yoo Ri. Instruktur menghampirinya dan mengingatkan kalo terlalu bersemangat nanti dia akan kesulitan bekerja. Yoo Ri malah merasa enggak. Ia harus melampiaskan kekuatannya seperti itu. Yoo Ri bahkan minta supaya beratnya di tambah 10 kg lagi.

Ponsel Yoo Ri bunyi. Itu dari Min  Ho, pacarnya. Min Ho ngajakin Yoo Ri makan siang. Ok, sampai ketemu nanti. Yoo Ri seneng banget kayaknya. Dia senyum mulu. 


Yoo Ri ke tempat perbaikan sepatu untuk memperbaiki sepatunya. Waktunya makin mepet tapi sepatunya bahkan belum apa-apa. Dia yang udah nggak sabar merebut sepatu itu dari tukangnya. Yoo Ri meniupnya, niatnya sih biar lem-nya cepat kering. Tukang sol-nya ngasih tahu kalo Yoo Ri nggak bisa memperbaikinya meski udah di tempel lagi. Tukangnya bilang dia harus mengganti bagian depannya juga. Yoo Ri bukannya mengabaikan sarannya. Jadi jangan tersinggung. Yoo Ri mengetuk-ketukkan sepatunya dan... sepatunya udah jadi. 


Oh So lagi jalan tapi tiba-tiba Oh Ga Na menariknya. Oh So nanya dia kenapa? Tapi Ga Na nggak mau menjawab dan nyuruh dia ikut aja. Oh Soo dibawa di tempat yang sepi. Ga Na menyerahkan kotak yang dibawanya pada Oh Soo. Ga Na nanya, Oh So tahu Ji Sook, kan? Ga Na minta supaya Oh So nemuin dia sekali aja. 


Oh So keberatan. Kenapa juga dia harus nemuin pacarnya Ga Na? Oh So mengambil ponselnya. Kenapa Ga Na membuang waktunya? Ga Na merengek. Ia benar-benar minta tolong, Dokter Oh Soo. Sekali... aja! Ga Na pasang wajah manis dan naruh telunjuknya di bibir. Oh Soo melarangnya melakukan itu. Nanti dia malah nggak mau loh! 


Ga Na mau berbalik tapi nggak jadi. Ia menawarkan akan kencan buta buat Oh Soo selama seminggu penuh. Ia juga akan memastikan kalo kakek nggak akan pernah tahu. Gimana? Bukankah tawarannya menggoda? Masih nggak mau? Oh Soo tampak memikirkannya. Sepertinya ia tertarik. Dia bertanya apa itu? Ga Na bilang kalo itu ...hadiahlah, emang apa lagi? 


Ji Sook membuka kotak itu. Ia kelihatan kecewa. Ga Na bahkan bilang padanya kalo sangat menyukainya. Ga Na juga bilang padanya kalo dia hampir gila karena memikirkannya. Ga Na bilang siapapun mengingatkannya padanya sehingga membuatnya g*la. Bahkan Ga Na menangis setelah putus karena dia merasa sangat kesepian. Oh So hanya diam mendengarkan. Ji Sook melanjutkan kalo hari saat Ga Na menembaknya, apa dia nggak ingat. Ga Na bilang mencintainya kemarin. Bahkan itu belum 24 jam.  Ji Sook berteriak apa itu semua bohong? 


Seketika semua orang melihat padanya. Nggak terkecuali Yoo Ri yang juga lagi nungguin pacarnya. Oh Soo menyilangkan kakinya dengan santainya. Ia menatap Ji Sook lalu nanya, udah selesai? Ji Sook nanya, apa? Oh Soo melihat jam tangannya. Ia menyampaikan kalo Ji Sook sepertinya tipe orang yang menunjukkan harga diri. Ia memberi nasehat agar Ji Sook berkencan dengan orang yang baik dan berkualitas. Ia adalah komoditas yang berharga. Nggak perlu terluka karena seorang pria yang nggak menghargainya. Ji Sook kesal dan meniup poninya. Oh Soo memperjelas maksudnya adalah jangan tertipu pada pria yang terlahir playboy. Secara statistik...cinta pria seperti itu. Dingin dan mati terlalu cepat. Oh Soo nyuruh Ji Sook untuk menganggap ini sebagai pelajaran hidup yang baik. Ia menyarankan agar Ji Sook memulai untuk berkencan dengan pria ...


Ji Sook udah nggak tahan lagi dan bangkit. Dia nyuruh Oh Soo buat menutup mulutnya. Berani-beraninya Oh Soo mengajarinya. Apa dia mau berkelahi? Oh Soo  gvak bergeming dan meminum kopinya dengan tenang. Ji Sook kembali duduk. Ia mengambil sepatu dari dalam kotak dan menciumnya. Ia memperlihatkannya pada Oh Soo. Kenapa mengembalikan sepatu bau itu padanya? Ji Sook melemparkannya ke Oh Soo. Oh Soo menghindar. 


Ji Sook mengambil dompet yang ada di kotak itu. Ia membukanya. Ia nanya ke Oh Soo. Apa dia bercanda sekarang? Ji Sook menaruh 1 juta won didompet itu. Tapi kenapa jadi kosong? Oh Soo seharusnya mengembalikannya seperti semula. Ji Sook melemparkannya lagi ke Oh Soo. Sekali lagi Oh Soo menghindar. Ji Sook yang udah geram banget hanya bisa berteriak. Argg...!!! Oh So mendekat dan meminta tolong agar Ji Sook menghentikannya. Ji Sook frustasi dan berteriak sambil mengacak-acak isi kotak itu. 


Yoo Ri sampai geleng-geleng menyaksikannya. Ponselnya berdering. Dari Min Ho. Ia mengangkatnya dan nyuruh Min Ho buat cepetan. Ada kejadian g*la disini. Min Ho nggak enak. Dia benar-benar sibuk. Yoo Ri bertanya,  Min Ho yang mengerjakan semuanya? Di meja sebelah, Oh Soo bangkit dan meninggalkan Ji Sook. Yoo Ri cerita ke Min Ho kalo dia memakai sepatu yang dia belikan dan hak-nya udah patah. Ah, lupain. Yoo Ri nyuruh Min Ho buat nelpon dia kalo udah selesai. Yoo Ri menutup telponnya lalu menghela nafas. 


Yoo Ri ke toilet. Ia mendengar seorang wanita yang lagi nangis. Yoo Ri juga melihat kotak merah milik wanita yang tadi. Yoo Ri melangkah dan mengetuk pintu. Ia mencoba menghiburnya. Jangan menangis. Nggak perlu menangis karena diperlakukan seperti itu. Dia terlihat sangat pucat, kurus dan sama sekali nggak berguna. Dia pasti dapet yang jauh lebih baik. 


Tiba-tiba pintu terbuka. Dan yang keluar bukanlah wanita yang diputusin tadi, melainkan seorang wanita paruh baya. Yoo Ri yang udah malu banget langsung masuk ke toilet. Rupanya wanita yang Yoo Ri maksud ada di sebelah. Too Ri mengetuk lagi. Sekali lagi dia bilang jangan nangis. Yoo Ri nanya apa pria tadi menipu uangnya? Ji Sook mengaku ingin sendiri dan nyuruh Yoo Ri buat pergi. Yoo Ri mengiyakan. Ia akan cepat menyelesaikannya dan segera keluar. 


Yoo Ri masuk lift dan kebetulan bertemu dengan Oh Soo. Yoo Ri melirik Oh Soo dan merasa kesal. Anak perempuan yang di srbelah Oh Soo meraih tangan Oh Soo. Dia memuji Oh Soo yang tampan banget seperti pangeran yang akan menikahi cinderella. Oh Soo tersenyum dan ngaaih tahu kalo cinderella bukanlah tipenya. Yoo Ri langsung nyinyir mendengarnya. Sang ibu menegur putrinya. Kenapa mengatakannta pada orang yang nggak ia kenal? Anak itu bilang kalo Oh Soo bukan orang yang nggak ia kenal. Dia orang yang tampan. 


Oh Soo tersenyum. Yoo Ri berdehem. Ia lalu ngomong sama anak itu. Adik kecil, emang terlihat bagus tapi semua bisa memudar seiring waktu (sambil melirik Oh Soo). Itulah kenapa daripada tampan, mending yang punya hati baik. Ngerti? Anak itu malah jadi takut dan memanggil ibunya lalu memalingkan wajahnya dari Yoo Ri. Yoo Ri lalu bangkit dan jadi kesal. Lift berhenti dan pintu terbuka. Oh Soo dan Yoo Ri keluar sama-sama. Yoo Ri sengaja menyikut Oh Soo saking kesalnya. Oh Soo jadi heran melihatnya. 


Oh Soo pulang. Ia keluar dari mobil. Ga Na menelponnya dan ngasih tahu kalo dia di kencan butanya sekarang. Ia tutup dulu. Oh Soo masih mau ngomong tapi Ga Na udah keburu menutupnya. 


Ga Na sedang bersama wanita. Kayaknya dia menikmatinya. Wanita itu ngasih tahu kalo ada sesuatu di bibir Ga Na. Ga Na menunjuk bibirnya, di sini? Wanita itu mengatakan ada wajah tampan di sana. Mereka lalu tertawa. Ga Na membalas kalo ada sesuatu jufa disana, di bibir wanita itu. Ga Na mendekat lalu bilang kalo wanita itu seksi. Wanita itu lalu menepuk lengan Ga Na dan mengajaknya minum. 


Oh Soo lagi nulis di atas kaca. Kakek datang dan memanggil-manggilnya. Kakek menghampiri Oh Soo dan mau memukulnya. Tapi nggak jadi. Kakek merasa nggak bisa lagi memukul Oh Soo karena dia udah dewasa. Kakek bertanya kenapa Oh Soo nggak mengangkat telponnya? Kenapa nggak mengangkatnya? Oh Soo mengatakan udah pernah bilang sebelumnya kalo dia nggak mau kencan buta lagi. Kakek mengatakan kalo Sabtu, Minggu nggak masalah. Tapi kalo senin jam 2 siang itu wajib. Kakek meminta agar Oh Soo nggak mempermalukannya kali ini. Kalo nggak bersiap-siap aja dengan konsekuensinya. 


Kakek berbalik mau meninggalkan Oh Soo. Oh Soo menegur kakek. Gimana bisa kakek memintanya kencan lima kali seminggu? Tempatnya sama lagi. Oh Soo meyakinkan kalo nggak akan ada yang berubah meski dia menikah. Jadi ia nyuruh kakek buat nyerah aja. Kakek berbalik lagi dan nanya kenapa nggak ada yang berubah? Oh Soo akan punya pengantin wanita. Apa Oh Soo berencana untuk mati tanpa menikah? Kalo nggak ingin, maka buatlah keturunan dan wariskan bisnis keluarga pada mereka. 


Oh Soo masih mau ngelak. Mana ada orang yang berusia 28 tahun yang udah ngebet pengen nikah? Dan bisnis keluarga... Oh Soo tersenyum dan memuji kalo kakeknya ternyata sangat baik. Kakek bisa menjalankannya sendiri. Kakek mengangkat tangannya mau mukul Oh Soo lagi. Kenapa harus dia? Ah, kakek merasa kalo seharusnya dia mati lebih cepat. Hidup selama ini nggak membawa apa-apa selain kekecewaan.


Kakek merasa kepalanya sakit dan memeganginya. Oh Soo yang khawatir mengingatkan kalo kakeknya punya tekanan darah tinggi. Oh Soo mengalah. Ia akan kencan buta jadi ia minta agar kakek tenang. Mendadak sakit kepala kakek jadi sembuh. Ia bahkan sempat-sempatnya ngingetin waktunya jam 2 siang. Jangan terlambat. Kakek lalu meninggalkan Oh Soo. Oh Soo heran sendiri melihat tingkah kakeknya. Ia kembali menulis. Tapi udah nggak bisa konsentrasi lagi. 


Oh Soo memakai sepatunya dan keluar rumah. 


Yoo Ri lagi makan di minimarket. Dia terus menatap ponselnya dia  jadi kesal karena Min Ho nggak menelponnya. Apa dia mau mati? Yoo Rii lalu melihat beberapa orang melintas di depan minimarket. Yoo Ri pun bangkit dan  keluar dari minimarket.