Advertisement
Advertisement

Penulis Sinopsis: Cyntia
All images credit and content copyright: jTBC
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 10 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Untouchable Episode 11 Part 1

Artikel tentang pencalonan Ibu Jung sebagai Walikota Bukcheon sudah tersebar luas. Gyu Ho-lah yang sedang membaca artikel itu. Sedangkan ayahnya, Paman jang sedang bicara di telepon, “Kenapa kita bertemu tanpa Ki Seo? Baiklah. Mari kita bicara saat bertemu nanti.” Paman Jang bertanya-tanya kenapa ia tidak diberitahu apa-apa.


Gyu Ho bilang dia ingin mengadakan pesta kejutan untuk Ki Seo. Ia lalu meminta ayahnya agar belajar berakting. Ia bilang ayahnya harus benar-benar menipu karakter utama agar pesta kejutan bisa berjalan.


Kepala Jaksa menerima berkas yang sama dengan Yi Ra.


Ki Seo mengantarkan Na Na kembali ke restorannya. Na Na bilang semua sudah cukup dan menyuruh Ki Seo pergi. Na Na bilang restoran itu tidak cocok untuknya. “Seorang unnie yang aku kenal membuka sebuah tempat di Seoul.Tempatnya lebih cocok denganku,” kata Na Na.


Ki Seo meraih tangan Na Na dan memintanya untuk tidak pergi. Ia meminta Na Na mengatakan apapun yang diinginkan dan Ki Seo akan melakukan segalanya asal Na Na tetap tinggal di Bukcheon. “Tidak, aku tidak bisa,” kata Na Na sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia melihat ke arah jalan raya, “Le..le..lepaskan. Tolong. Cepat.”


Melihat Ja Kyung datang, Ki Seo langsung melepaskan tangan Na Na. Ja Kyung merasa ia mendapat bantuan dari Na Na. “Kau harus menceraikanku,” kata Ja Kyung. KI Seo menarik napas dalam, tapi ia langsung setuju. Ia akan menceraikan Ja Kyung setelah pemilihan, jadi ia meminta agar Ja Kyung menunggu sedikit lebih lama. “Pengacaraku akan menemuimu besok. Tanda tangani dan kembalikan itu dengannya.” KI Seo memintanya menunggu. “Tidak. Itu akan terlalu terlambat.”


Ki Seo berkata ia tidak meminta Ja Kyung tidur di kamar yang sama dengannya dan hanya memintanya  sebagai istri di atas kertas. Ia baru akan menceraikan Ja Kyung setelah pemilihan. Ia juga tidak peduli apakah Ja Kyung akan pergi ke Joon Seo atau tidak. Ja Kyung pergi. Ki Seo mengejarnya dan bertanya alasan Ja Kyung melakukan itu semua. Ja Kyung tidak peduli dan masuk ke mobilnya, lalu pergi.


Ki Seo masuk ke mobilnta sendiri, lalu mengejar mobil  Ja Kyung tanpa sedikitpun menoleh pada Na Na yang memperhatikannya dengan khawatir.


Ki seo berhasil mensejajari mobil Ja Kyung. Dia terus mengklakson dan memnggil namanya, tapi Ja Kyung tidak peduli. Setelah beberapa lama saling berkejaran, Ki Seo bermaksud menghadang mobil Ja Kyung.


Tapi ternyata Ja Kyung memilih untuk menghindar. Ia membanting setir dan kehilangan kendali. Mobilnya menabrak mobil truk yang sedang berhenti. Ki Seo sangat terkejut dan langsung menolongnya. 


Saat sedang dipapah oleh Ki Seo keluar dari mobil, Ja Kyung mengeluh kesakitan di perutnya. Kemudian terlihat darah mengalir di antara kedua kakinya. Mereka berdua sangat terkejut.


“Ja Kyung... apa kau...?” Ki Seo tak sanggup menyelesaikan pertanyaannya.Ia membawa Ja Kyung ke rumah sakit.


Setelah pemeriksaan selesai, dokter memberitahu Ki Seo bahwa Ja Kyung keguguran dan membutuhkan istirahat. Ki Seo shock mendengarnya. Ia lalu menemui Ja Kyung di kamar rawatnya.


Ki Seo bertanya kenapa Ja Kyung tidak memberitahunya dan apakah itu alasannya ingin bercerai. Dengan tatapan kosong ke langit-langit, Ja Kyung berkata, “Haruskah aku menyesal? Karena kehilangan anak keluargamu?” KI Seo meraih tangan Ja Kyung dan meminta maaf. “Keluar.”


Ki Seo ingin meraih wajah Ja Kyung, tapi Ja Kyung malah menjerit histeris. Ki Seo pergi, lalu para perawat datang untuk menangani Ja Kyung. Mereka membantu Ja Kyung agar kembali berbaring dan memintanya beristirahat.


Ja Kyung tampak sangat depresi. “Aku akan mengambil semuanya,” gumamnya lemah.


Di rumah, Yi Ra menanyakan tentang pencalonan ibunya sebagai walikota. Ibu Jung bilang Partai Kebebasan yang memberitahu media, sedangkan dia belum memutuskan. Dia mengatakan pada Yi Ra, jika dia mengambil kesempatan itu ada satu alasan, yaitu dia ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan sebagai Kepala Polisi karena kurang kekuasaan.


Yi Ra meminta ibunya menyerahkan masalah itu padanya dan Joon Seo. “Tidak bisakah ibu hanya puas dengan gelar Pahlawan Ahjumma? Haruskah ibu memiliki gelar walikota juga?” tanya Yi Ra.Ibu Jung tersenyum. “Ibu, ada nol kemungkinan ibu akan terpilih. Jika ibu berhutang untuk pemilihan, amaka aku tidak akan memanggilmu ibu. Aku akan memanggilmu ahjumma.”


Ibu Jung tersenyum lagi dan berkata, “Aku mengerti. Aku mengerti.” Yi Ra menghela napas lega.


Ki Seo berusaha menenangan dirinya dengan duduk di depan api. Ia kemudian menggunakan kayu berapi itu untuk memukul benda-benda yang ada di ruangan itu. Setelah lelah, ia duduk lagi. Ia akan membakar ponselnya juga, tapi ia membaca pesan dari Gyu Ho, ‘Hyung, ada sesuatu yang pelru kau ketahui. Ini mendesak. Jawab teleponnya’. Ia akhirnya menjawab telepon dari Gyu Ho.


“Hyung, aku pikir Komite Bukcheon merencanakan sesuatu tanpa sepengatahuanmu. Aku di depan lokasi pertemuan mereka sekarang. Aku pikir kau harus datang dan memeriksanya,” kata Gyu Ho.


Gyu Ho lalu melihat pertemuan Joon Seo dan anggota komite di laptopnya. Tidak lama kemudian, ia melihat Ki Seo datang. Ia menarik napas dan bergumam, “Are you ready? Let’s go party”.


Kepala Jaksa mengatakan bahwa setelah Tuan Jang meninggal, Presdir Ito dari Perusahaan Kelautan Matsumoto bunuh diri. Ia juga bilang kalau Polisi Jepang menyelidiki transaksi perdagangan ilegal antara Tuan Jang dan Presdir Ito. Karena Tuan Jang sudah meninggal, kecurigaan jatuh pada Ki Seo, tapi Kepolisia Jepang dan putra Presdir Ito tidak bisa menemukan bukti apapun.


Tapi hari ini, Jaksa Park menerima bukti yang sangat penting, Ia mengatakan pada Joon Seo bahwa mereka harus memastikan agar Ki Seo menyerah atas pemilihan walikota.


Di dalam mobil Gyu Ho, Ki Seo juga menyaksikan pertemuan itu. Ki Seo penasaran kenapa bukti itu bisa ada pada Jaksa Kepala. Gyu Ho menduga itu berasal dari internal Perusahaan Kelautan Bukcheon. Ki Seo bertanya apakah orang itu adalah Gyu Ho. “Hyung, aku yang mencuci uangnya,”kata Gyu Ho mengelak. Ki Seo menanyakan siapa orangnya. Gyu Ho tidak menjawab.


Ki Seo kemudian mendengar Joon Seo berkata, “Jika bukti itu benar, maka hyung harus menyerah pada pemilihan itu.” Ki Seo salah paham. Ia mengira Joon Seo yang sekarang menjabat Direktur Pengatur Perusahaan Kelautan Bukcheon adalah pelakunya. Gyu Ho senang karena jebanakknya berhasil.


Joon Seo  bilang pertama-tama mereka harus menemukan siapa yang apa tujuan  orang itu mengirimkan buktinya kepada Jaksa Kepala. Karena jika tujuannya buruk, maka ada kemungkinan bukti itu hanya dibuat-buat. Jaksa bilang tidak ada waktu, karena jika media tahu, maka akan langsung tersebar. Jaksa bilang Ki Seo harus mundur dari pemilihan dan Joon Seo harus memimpin komte.


Gyu Ho menduga kalau Yi Ra-lah yang menyebarkan bukti itu, karena ibunya akan mengikuti pemilihan walikota. Ia bilang masalahnya adalah hubungan Joon Seo dan Yi Ra yang lumayan dekat. Ki Seo lalu mendengar kalau Joon Seo akan mengendalikannya.


“Siapa kau bedebah?!” teriak Ki Seo marah. Ia mengambil laptop dari tangan Gyu Ho, lalu menghancurkannya. “Siapa kau?! Siapa kau?! Kau pikir siapa kau itu?!” Gyu Ho bilang itu hanya pendapatnya saja. “Keluar kau, bedebah!”


Yi Ra keluar dari kamarnya dan melihat ibunya sedang bicara di ponsel. “Aku sudah memutuskannya. Aku akan mengikuti pemilihan umum walikota,” kata Ibu Jung. Yi Ra sedih.


Ki Seo masih berada di luar tempat pertemuan dan melihat Joon Seo dan anggota kimte lain keluar menuju mobilnya masing-masing.


Ki Seo mengingat saat ayahnya meremehkannya, bahkan menjelang kematiannya. Adik yang berkata akan mengendalikannya dan istri yang mencintainya adiknya.


Ki Seo melihat Joon Seo masih berdiri di pinggir jalan sendirian. Ia menjalankan mobilnya, lalu menabrak Joon Seo.


Joon Seo tidak sempat menghindar. Ia tertabrak dan terluka.


Ki Seo lalu turun dari mobil. Ia melihat Joon Seo yang sedang berusaha berdiri. Ia berteriak dan memukul-mukul mobilnya.


Ki Seo berkata, “Jangan muncul lagi di hadapanku. Aku tidak mau membunuhmu dengan tanganku.” Ia lalu pergi lagi.


Joon Seo lalu terjatuh lagi dan tidak sadarkan diri.

1 komentar:

Seru banget ya ampun,, ikut deg2an liat ki seo nabrak joon seo...
Semangat unnie...